cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2018)" : 17 Documents clear
TRANSMIGRAN BALI DI DESA SIDOMAKMUR KECAMATAN BONEBONE KABUPATEN LUWU UTARA Hilda Anjarsari; Muhammad Zainuddin Badollahi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.283 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.48

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada transmigran Bali yang tinggal di desa Sidomakmur dalam kurun waktu 1970 hingga 1990. Proyek transmigrasi di Desa Sidomakmur dapat dikatakan berhasil karena Sidomakmur salah satu desa pemasok hasil pertanian di Kecamatan Bone-Bone. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses awal terbentuknya Desa Sidomakmur. Bagaimana pola-pola hubungan sosial antara transmigran Bali dengan penduduk lokal berkaitan dengan interaksi sosial yang terjadi mulai dari awal kedatangan transmigran Bali hingga kini serta mengetahui reaksi dan dampak sosial ekonomi yang terjadi dengan adanya transmigran Bali menyangkut sistem tatanan sosial yang terjadi pada transmigran Bali dan penduduk lokal di Kecamatan Bone-Bone. Penelitian ini menggunakan metode yaitu pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi dan penulisan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa desa Sidomakmur didirikan pada tahun 1970 oleh migrant dari yang berasal dari Bali. Penamaan Desa Sidomakmur diharapkan dapat memberikan kesejahteraan bagi penduduknya. Desa ini merupakan salah satu desa transmigran di kecamatan Bonebone yang berhasil melakukan swasembada beras. Interaksi sosial yang terbangun antar migran dan penduduk lokal berkaiatan dengan pertukaran informasi dalam pengolahan makanan, bahasa, dan pertanian.
NILAI DAN NORMA DALAM UPACARA ADAT PITUNG PULENG DI KOMUNITAS ADAT TO LOTANG DI KELURAHAN AMPARITA KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG Hasmah Hasmah
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.579 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.61

Abstract

Komunitas adat To Lotang yang hidup tetap mempertahankan kepercayaan leluhur mereka. Kepercayaan To Lotang tentang siklus hidup, mempercayai bahwa Upacara adat Pitung Puleng menjadi syarat agar bayi dan ibunya sehat dan dapat bersalin dengan selamat, normal, tidak cacat serta mendapat berkah dari Dewata Seuwae. Penelitian ini berupaya mengungkap sistem nilai dan norma tradisi Pitung Puleng Komunitas Adat To Lotang. Melalui pendekatan Kualitatif dengan menggunakan metode Observasi, wawancara mendalam dan studi pustaka untuk menemukan data terkait objek penelitian pada upacara adat Pitung Puleng yang kemudian disajikan dalam bentuk naratif. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa, pada nilai dan norma yang dipegang komunitas adat To Lotang, upacara Pitung Puleng dimulai dari Makkatenni Sanro (ditangani dukun), Mappanre tomangideng (menyuapi ibu hamil), Mappassili (memandikan), Terakhir adalah Maccera Wettang (mengurut perut), kesemua prosesi tersebut diatur berkaitan dengan nilai dan norma kepercayaan To Lotang pada upacara adat Pitung Puleng, dengan dasar telah diatur oleh Dewata Seaue (Tuhan YME) agar dilakukan dan mendapatkan bala jika dilanggar.
MASYARAKAT ADAT DAN KONFLIK-KONFLIK PERTAMBANGAN: KASUS PERTAMBANGAN EMAS DI MORONENE, BOMBANA, SULAWESI TENGGARA Taufik Ahmad
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.121 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.45

Abstract

Desentralisasi memberi ruang kepada pemerintah daerah untuk mengelolah sumber daya alam di wilayahnya sehingga juga membuka ruang liberalisasi sektor pertambangan. Sumber daya tambang tidak hanya menjadi magnet bagi perusahaan pertambangan, tetapi juga memicu munculnya pertambangan rakyat baik dilakukan oleh individu maupun kelompok-kelompok sosial penambang. Penelitian ini mengambil fokus penambangan emas serta konflik-konflik pertambangan yang muncul di wilayah masyarakat adat Moronene. Dengan menggunakan analisis interdisiplin (sejarah-antrologi), penelitian ini menunjukkan bahwa maraknya pertambangan di atas tanah ada suku Moronene mengakibatkan semakin terpinggirnya peran komunitas adat dalam pengelolaan sumber daya alam mereka. Keadaan ini diperparah dengan munculnya kelompokkelompok sosial penambang serta masuknya perusahaan-perusahaan pertambangan berskala nasional dan lokal. Akibat lebih jauh, terjadi saling klaim dan tumpang tindih pemilikan lahan antara perusahaan, kelompok-kelompok penambang rakyat dan masyarakat adat. Wilayah suku Moronene semakin rentan dengan konflik sosial. Sector pertambangan memperlihatkan sifatnya yang paradoksal. Di lain sisi meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dan mendorong pembangunan infrastukur, namun di sisi lain mengakibatkan munculnya masalah-masalah sosial baru dalam masyarakat Moronene. 
KARESIDENAN MANADO DALAM KANCAH PERDAGANGAN MARITIM DI HINDIA BELANDA, AWAL ABAD XIX – 1942 Jhon Rivel Purba
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.522 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.58

Abstract

Penelitian ini mengkaji keterlibatan Karesidenan Menado dalam perdagangan maritim di Hindia Belanda pada abad XIX sampai 1942. Rumusan pertanyaan yang dijawab dalam penelitian ini yaitu, apakah letak geografis Karesidenen Menado turut memengaruhi keterlibatannya dalam jaringan perdagangan maritim di Hindia Belanda? dan bagaimana dinamika perdagangannya di bawah pemerintahan Hindia Belanda? Penulisan ini menggunakan metode kualitatif (studi pustaka). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa keterlibatan karesidenan ini dalam perdagangan maritim tidak hanya didukung oleh potensi ekonomi, tetapi juga oleh letak geografisnya yang relatif memudahkan pelaku ekonomi untuk memasuki wilayah ini. Karesidenan Menado dikelilingi beberapa perairan yang bersentuhan langsung dengan beberapa kawasan, seperti Filipina di sebelah utara, Ternate di sebelah timur, Jepang di sebelah timur laut, dan pesisir barat wilayah Amerika. Selain Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, KPM dan Cekumij-nya, aktor yang berperan dalam kegiatan ini yaitu penduduk lokal, Etnis Tionghoa, Orang Arab, dan negaranegara lain, seperti Inggris, Jepang, Jerman, Perancis, Norwegia, dan Amerika Serikat, melalui kapal-kapalnya. Potensi ekonomi dan keberadaan kapal asing mendorong pemerintah membuat sejumlah regulasi, yaitu pengangkutan komoditas perdagangan harus menggunakan kapal KPM atau Cekumij. Pemerintah juga mengalihkan rute distribusi komoditas tersebut ke Makassar. Kapal milik negara lain tidak lagi dapat menjemput komoditas secara langsung ke daerah penghasil, tetapi harus mengambilnya ke Makassar.
MODAL SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN PANCING DI KELURAHAN BONE-BONE, KOTA BAUBAU Abdul Asis; Masgaba Umar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.194 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.49

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan modal sosial bagi masyarakat nelayan pancing di Kelurahan Bone-Bone. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Penentuan lokasi dan fokus penelitian dilakukan secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan pancing di Kelurahan Bone-Bone Kota Baubau umumnya mengoperasikan kapal milik orang Flores dengan sistem bagi hasil (bagi dua) setelah dikeluarkan perongkosan selama mereka melaut. Agar tetap eksis, mereka menerapkan modal sosial, baik dalam beraktivitas melaut, maupun dalam  berinteraksi antarsesama warga Kelurahan Bone-Bone, seperti: saling percaya, solidaritas, dan membangun hubungan kerja sama atau jaringan dengan papalele, penyedia umpan, pemilik rumpon, dan pedagang sembako. Dalam satu organisasi penangkapan  terdiri atas bos, kep, boi-boi, bas, dan ABK (anak buah kapal).
KERAJAAN BALANIPA PADA MASA KEKUASAAN I MANDAWARI 1870-1906 Abdul Karim
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.117 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.54

Abstract

Kerajaan Balanipa dikuasai secara utuh oleh Belanda pada tahun 1909. Periode tersebut merupakan awal terbentuknya Afdeling Mandar. Terbentuknya Afdeling Mandar tentu mengalami proses yang cukup panjang. Artikel ini, mengkaji tentang tonggak awal dari penguasaan Mandar. Proses tersebut tidak hanya melibatkan Belanda sebagai penjajah tetapi juga elit-elit Kerajaan Balanipa. Elit-elit tersebut secara tidak langsung mendorong terjadinya penguasaan tersebut karena Elit-elit inilah menyetujui perjanjian atau kontrakkontrak politik Kerajaan Balanipa dan Belanda. Kontrak tersebut kemudian mendorong terciptanya kebijakan politik di Mandar. Pertanyaan adalah, kebijakan apa yang ditempuh oleh I Mandawari dalam periode kepimpinannya ? Bagaimana kebijakan-kebijakan itu dijalankan ? dan apa dampak dari kebijakan tersebut ? untuk menjawab pertanyaan tersebut maka artikel ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.
DINAMIKA PELAYARAN DAN PERUBAHAN PERAHU LAMBO DALAM KEBUDAYAAN MARITIM ORANG BUTON Tasrifin Tahara; Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1280.107 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i2.46

Abstract

Nilai budaya maritim menjadi ciri kebudayaan orang Buton. Oleh karena itu, perahu menjadi penopang utama kelangsungan tradisi maritim orang Buton dari waktu ke waktu dan dari satu tempat (ruang) ke tempat yang lain. Mereka berlayar melintasi ruang samudera (laut) dan dari satu pulau ke pulau lain. Perahu lambo merupakan kebudayaan yang tidak lepas dari eksistensi tradisi maritim orang Buton. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data kepustakaan, pengamatan dan wawancara di wilayah Kepulauan Buton. Hasil penelitian menarasikan dinamika pelayaran dan perubahan bentuk dan fungsi perahu lambo seiring dengan masuknya motorisasi dan perubahan struktur sosial masyarakat. Perahu lambo sebagai komponen utama kebudayaan maritim orang Buton. 

Page 2 of 2 | Total Record : 17