cover
Contact Name
Farikha Maharani
Contact Email
farikhamaharani@unwahas.ac.id
Phone
+6281325449347
Journal Mail Official
inovasitekim@unwahas.ac.id
Editorial Address
JL. Menoreh Tengah X / 22, Sampangan, Gajahmungkur, Sampangan, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah 50232
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Inovasi Teknik Kimia
ISSN : 2527614X     EISSN : 25415891     DOI : http://dx.doi.org/10.31942/inteka
Core Subject : Engineering,
The Inovasi Teknik Kimia (INTEKA) journal focuses upon aspects of chemical engineering: chemical reaction engineering, environmental chemical engineering, material and food engineering . The INTEKA is an research journal and invites contributions of original and novel fundamental research. The journal aims to provide a forum for the presentation of original fundamental research, interpretative reviews and discussion of new developments in chemical engineering. Papers which describe novel theory and its application to practice are welcome, as are those which illustrate the transfer of techniques from other disciplines. Reports of carefully executed experimental work, which is soundly interpreted are also welcome. The overall focus is on original and rigorous research results which have generic significance.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2025)" : 10 Documents clear
EKSTRAKSI SENYAWA FLAVONOID DARI KULIT ARI BUAH DELIMA (PUNICA GRANATUM L) Nilam Sekar Ningsih; Atika Lailatul Rachmadani; Kindriari Nurma Wahyusi
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.10881

Abstract

Flavonoid adalah salah satu senyawa metabolit sekunder yang penting yang terdapat pada tumbuhan yang merupakan bagian dari turunan 2-phenyl-benzyl- γ-pyrone. Flavonoid memiliki peran penting dalam tumbuhan yaitu memberikan warna, rasa pada biji, bunga dan buah serta dapat digunakan sebagai antimikroba dan perlindungan dari paparan sinar ultra violet matahari. Salah satu sumber flavonoid adalah buah delima. Buah delima mengandung 0,2 – 1% dari berat buah delima yang didalamnya terdapat 30%  terkonsentrasi berada pada bagian kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kecepatan pengadukan dan waktu ekstraksi terhadap kandungan flavonoid dari kulit ari buah delima (Punica granatum). Proses ekstraksi flavonoid dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut aeston 80% dengan metode pengadukan. Metode tersebut dapat meningkatkan perpindahan massa dari bahan ke dalam pelarut. Dalam proses ekstraksi wakti ekstraksi memiliki pengaruh terhadap efektivitas ekstraksi. Waktu yang terbatas dapat menghasilkan ekstraksi yang kurang optimal, sementara waktu yang berlebihan bisa memengaruhi hasil ekstraksi dengan menyebabkan potensi kerusakan pada sampel.  Diperoleh hasil ekstraksi flavonid terbaik berada pada kecepatan pengadukan sebesar 500 rpm dan pada waktu ekstraksi selama 180 menit dengan kandungan flavonoid yang terekstraksi sebesar 0,7575%
POTENSI LIMBAH KULIT JAGUNG UNTUK ASAP CAIR SEBAGAI PENGAWET MAKANAN MELALUI METODE PIROLISIS Devi Indah Anwar; Lela Mukmilah Yuningsih; Nur Laila Arizal; Fitri Khairani Nasution
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.12420

Abstract

Kulit jagung merupakan limbah biomassa yang mengandung bahan lignoselulosa seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin. Dengan adanya kandungan bahan lignoselulosa tersebut, kulit jagung berpotensi digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan asap cair sebagai pengawet makanan melalui metode pirolisis. Asap cair merupakan produk yang diperoleh dari kondensasi uap yang dihasilkan selama pirolisis yang mengandung senyawa organik teroksidasi, seperti keton, aldehida, fenol, dan asam karboksilat. Senyawa-senyawa tersebut berperan sebagai antioksidan dan antibakteri, serta mempunyai rasa dan bau yang khas pada asap cair. Pirolisis kulit jagung dilakukan pada temperatur 75oC dan 115oC selama 2 jam, yang akan menghasilkan asap dan selanjutnya dikondensasikan menjadi asap cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan temperatur pirolisis mempengaruhi volume dan kadar asam asap cair hasil pirolisis. Pirolisis pada suhu 75oC menghasilkan 650 mL asap cair dengan kadar asam sebesar 3,3%, sedangkan pirolisis pada suhu 115oC menghasilkan 800 mL asap cair dengan kadar asam 3,8%. Berdasarkan hasil penelitian, limbah kulit jagung melalui proses pirolisis berpotensi digunakan sebagai bahan baku asap cair untuk pengawet makanan, yaitu memenuhi SNI 8985:2021 
CHARACTERIZATION OF LIQUID SMOKE FROM CORN HUSK WASTE BY PYROLYSIS AND DISTILATION METHOD Lela Mukmilah Yuningsih; Devi Indah Anwar; Nur Laila Arizal
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.11125

Abstract

Asap cair merupakan cairan berwarna hitam maupun coklat berasal dari biomassa melalui proses pirolisis. Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui kerakteristik asap cair yang dihasilkan dari proses pirolisis dan distilasi. Bahan baku dari kulit jagung. Metode pirolisis pada temperatur 75℃ dan 115℃, dimurnikan dengan metode distilasi dengan variasi temperatur 80℃-100℃ fraksi I, 101℃-125℃ fraksi II, 126℃-150℃ fraksi III, dan 151℃-180℃ fraksi IV. Asap cair hasil pirolisis dan distilasi di uji warna, nilai pH, asam asetat dan Fenol. Berdasarkan hasil pengujian asap cair temperatur 75℃ berwarna coklat, pH 3,06, asam asetat 3,3%, Fenol 0,3173%; pada temperatur 115℃ berwarna coklat, pH 2,96, asam asetat 3,8%, Fenol 0,1564%. Asap cair temperatur 75℃ hasil distilasi berwarna kuning; pH fraksi I 2,34, fraksi II 2,25, fraksi III 2,21, fraksi IV 2,18; asam asetat fraksi I 1,9%, fraksi II 2,9%, fraksi III 3,3%, fraksi IV 4,6%; Fenol fraksi I 0,1537%, fraksi II 0,2274%, fraksi III 0,2844%, fraksi IV 0,3014%. Asap cair temperatur 115℃ hasil distilasi berwarna kuning; pH fraksi I 3,11, fraksi II 3,04, fraksi III 2,98, fraksi IV 2,74; asam asetat fraksi I 1,6%, fraksi II 1,8%, fraksi III 1,9%, fraksi IV 2,2%; Fenol fraksi I 0,1867%, fraksi II 0,1905%, fraksi III 0,2558%, fraksi IV 0,2586%. Karakteristik hasil pirolisis dan distilasi memenuhi SNI 8985:2021 dan masuk kategori grade 2. Asap cair hasil distilasi dengan urutan asam aserara dan Fenol yang paling kuat adalah fraksi IV>III>II>I . Kata kunci: Asap cair, distilasi, kulit jagung, pirolisis, Fenol.
PENGARUH KONSENTRASI KATALIS DAN SILICON RUBBER TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN DENSITAS PADA PEMBUATAN ALAT PERAGA JAHIT LUKA (SUTURE PAD) UNTUK MAHASISWA KEDOKTERAN Muhammad Abdul Wahid; Ahmad Muhyi; Gilar Pandu Annanto; Baitul Aji Rizky; Penggalih Mahardika Herlambang
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.12487

Abstract

Suture pad merupakan alat peraga medis yang krusial dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa kedokteran. Alat ini dirancang untuk membantu mahasiswa mempraktikkan teknik menjahit luka dalam kondisi yang menyerupai jaringan tubuh manusia tanpa menimbulkan risiko bagi pasien. Suture pad biasanya dibuat dari silicon rubber dengan penambahan katalis. komposisi katalis bisa saja merubah sifat mekanik seperti kekerasan dan densitas Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh persentase katalis pada campuran silicon rubber terhadap nilai kekerasan dan densitas yang digunakan dalam pembuatan suture pad. Material yang digunakan berupa silicon rubber jenis RTV-48, yang dicampur dengan katalis pada konsentrasi 2% hingga 20%. Setelah proses pencampuran dan pemadatan selama 24 jam, spesimen diuji menggunakan durometer shore-A untuk mengukur kekerasan dan metode perhitungan massa per volume untuk mengukur densitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan persentase katalis meningkatkan kekerasan material secara signifikan dari 23 HA (katalis 2%) hingga 31,1 HA (katalis 20%). Namun, pada konsentrasi katalis di atas 16%, peningkatan kekerasan cenderung melambat dan mendekati nilai saturasi. Sebaliknya, nilai densitas tetap konstan pada 1,15 gr/ml, hal ini menunjukkan komposisi persentase katalis tidak memengaruhi densitas secara signifikan.Kata kunci: suture, katalis, silicon rubber, kekerasan, densitas
PENGARUH WAKTU PERENDAMAN SABUT KELAPA DALAM EKSTRAK DAUN JATI MUDA DENGAN FIKSATOR KAPUR TOHOR (CaO) TERHADAP INTENSITAS DAN TAHAN LUNTUR WARNA KAIN PADA PEWARNAAN KAIN KATUN Hanny Dian Kharisma; Vera Pangni Fahriani; Aulia Wahyuningtyas
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.11645

Abstract

“Penggunaan pewarna alami pada tekstil dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan sumber daya alam seperti daun jati muda dan sabut kelapa, sehingga juga dapat meminimalkan penggunaan pewarna sintetis yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh perendaman sabut kelapa dalam ekstrak daun jati muda terhadap intensitas warna dan ketahanan luntur warna kain katun setelah dicuci dengan sabun, serta pengaruh kapur tohor (CaO) sebagai fiksator terhadap intensitas warna dan daya tahan luntur warna kain katun yang telah dicuci dengan sabun. Penelitian ini meliputi beberapa tahapan. Pertama, daun jati muda diekstraksi dengan teknik perebusan dengan perbandingan 1 kilogram per 10 liter, menggunakan air sebagai pelarut dan memanaskan campuran pada suhu 100°C selama 30 menit. Kedua, merendam sabut kelapa selama 24 atau 48 jam pada ekstrak daun jati muda. Ketiga, cara mencelupkan kain pada ekstrak daun jati muda dengan merendamnya selama 24, 48, dan tidak direndam sama sekali. Keemepat, proses fiksasi menggunakan kapur tohor (CaO) 10gr/1liter air. Kelima, proses pengujian intensitas warna menggunakan spektrofotometer UV-Vis 2401 PC dan pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian menggunakan sabun menggunakan grey schale. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sampel tanpa perlakuan perendaman menunjukan intensitas warna yang lebih rendah dibandingkan dengan sampel pada perendaman selama 24 dan 48 jam. Pada pengujian tahan luntur warna ketiganya memiliki nilai luntur warna yang cukup baik. Pada perlakuan pemberian fiksator dapat mempengaruhi intensitas warna menjadi lebih tinggi sehingga warna yang dihasilkan menjadi lebih cerah, baik pada perendaman menggunakan sabut kelapa maupun tanpa perendaman.
KARAKTERISASI GELATIN BERBAHAN BAKU CANGKANG RAJUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ASAM FOSFAT (H₃PO₄) Ahmad Shobib; Erry Fatarina P; Vinesia Damai Yanti
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.12672

Abstract

Cangkang rajungan merupakan limbah yang dihasilkan dari industri pengalengan rajungan dan menjadi limbah yang belum tertangani dengan maksimal. Oleh karena itu untuk meningkatkan nilai ekonomisnya, cangkang rajungan dijadikan sebagai bahan baku gelatin. Gelatin adalah derivat protein dari serat kolagen dari serat kolagen pada kulit, tulang, dan tulang rawan. Fungsi gelatin adalah sebagai pengemulsi (emulsifier) dan penstabil (stabilizer) dalam sistem emulsi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui variabel yang paling berpengaruh dari suhu, waktu, dan perbandingan ossein dan aquadest, mengetahui kondisi optimum dari variabel yang berpengaruh, mengetahui kondisi optimum dari variabel yang berpengaruh, mengetahui karakteristik gelatin yang diperoleh sesuai dengan standar mutu gelatin (SNI), dan mengetahui kemampuan gelatin yang dihasilkan sebagai emulsifier. Penelitian ini menggunakan metode experimental design two level untuk menguji variabel-variabel yang berpengaruh berupa suhu hidrolisis (A) 60°C dan 80°C, waktu hidrolisis (B) 4 jam dan 6 jam, dan perbandingan ossein : aquadest (C) yaitu 1 : 2 dan 1 : 4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu hidrolisis merupakan variabel yang paling berpengaruh, dengan persentase yield gelatin optimum sebesar 3,05% pada suhu 60°C. Gelatin yang dihasilkan pada suhu 60°C memiliki rendemen gelatin sebesar 1,23%, pH 6, viskositas 0,399 cPs, kadar air 16%, kadar abu 1%, dan berdasarkan FTIR gelatin cangkang rajungan, gugus fungsi yang dapat diidentifikasi adalah OH, C-H alkana, C=C alkena, C=C aromatik, dan C-N. 
PENGARUH PERBANDINGAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DAN TULANG SAPI PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK Ikbal Oktaviansyah; Rully Masriatini; Aan Sefentry; Muhrinsyah Fatimura
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.9097

Abstract

Pada penelitian ini, NaCl 60% sebagai aktivator untuk pembuatan karbon aktif dari tulang sapi dan tempurung kelapa. Karbon aktif dari tempurung kelapa mendapatkan nilai terbaik pada hasil karakteristik kandungan air 2,4% dibanding tulang sapi 2,86% sedangkan untuk karbon aktif tulang sapi mendapatkan nilai terbaik pada karakteristik kandungan abu 3,94%, kadar karbon terikat 78,6%, kandungan zat terbang 18,80%, daya serap terhadap iodium 888,08 mg/gr dibanding dengan karbon aktif dari tempurung kelapa yaitu kadar abu 6,38%, kandungan karbon terikat 61,89%, kandungan zat terbang 20,29%, daya serap terhadap iodium 769,99%. Karbon aktif dari tempurung kelapa dan tulang sapi telah memenuhi SNI-06-3730-1995 untuk karakteristik. Uji pengaruh karbon aktif tempurung kelapa dan tulang sapi direndam dengan limbah cair domestik didapat karbon aktif tulang sapi paling baik dalam menurunkan ammonia dari 28,91 ppm menjadi 7,50 ppm, total coliform dari 43520 MPN/100 ml menjadi 920 MPN/100ml, minyak lemak dari 2,33 ppm menjadi 0,70 ppm. Kata kunci: aktif karbon, karakterisasi, tempurung kelapa, tulang sapi.
Katalisis Enzim Lipase Amobil Dengan Crude Palm Oil Ditinjau Dari Pengaruh Waktu Reaksi Silmi Tsabita; martha aznury; muhammad yerizam
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.11731

Abstract

 Indonesia memiliki potensi energi yang beragam, termasuk minyak bumi, gas, dan minyak nabati seperti Crude Palm Oil (CPO). Meningkatnya kebutuhan energi domestik dan global, pengembangan bahan bakar terbarukan menjadi penting untuk menggantikan bahan bakar fosil yang terbatas dan merusak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi biodiesel dari CPO menggunakan katalis enzim lipase amobil dalam reaktor tangki berpengaduk. Metode yang digunakan meliputi proses esterifikasi dan transesterifikasi. Teknik katalis enzim lipase yang diimobilisasi menggunakan resin kation dengan variasi konsentrasi (1,5%-3,5%) dan waktu reaksi (6, 12, dan 18 jam), kecepatan pengadukan 350 rpm, rendemen tertinggi mencapai 89,8%, angka setana tertinggi 80, dan kadar metil ester tertinggi 97,02%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa reaksi waktu dan konsentrasi katalis berpengaruh signifikan terhadap kualitas biodiesel yang dihasilkan, dengan biodiesel memenuhi Standar kualitas nasional. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teknologi biodiesel yang ramah lingkungan dan dapat diperbarui di Indonesia.  
SINTESIS SABUN PADAT TRANSPARAN BERBAHAN DASAR MINYAK KELAPA, MINYAK KELAPA SAWIT, MINYAK ZAITUN DENGAN PENAMBAHAN ECO-ENZYME Chairul Chairul; Nurfatihayati Nurfatihayati; Anisa Mutamima; Arrafi Razzaq; M Rafki Yunaldi
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.10589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat sabun padat transparan dari minyak kelapa murni, minyak kelapa sawit, dan minyak zaitun dan menganalisis pengaruh penambahan eco-enzyme terhadap karakteristik sabun yang dihasilkan yaitu pH, kadar air, kadar asam lemak bebas, uji stabilitas busa, uji organoleptik, dan uji iritasi. Eco-enzym yang digunakan berasal dari hasil fermentasi sampah organik buah-buahan (kulit nanas, kulit jeruk, kulit mentimun, tomat, sawi dan pepaya). Penelitian ini menggunakan 5 perlakuan penambahan eco-enzyme, yaitu tanpa eco-enzyme (P1), 2 ml (P2), 4 ml (P3), 6 ml (P4), dan 8 ml (P5). Hasil uji pH menunjukkan bahwa kelima sabun berada pada range 9,44-10,41, uji kadar air sabun berada pada range 11,82-13,82%, dan uji kadar asam lemak bebas menghasilkan nilai 0,23-0,70%. Hasil uji stabilitas busa berada pada range 97,45-99,2%, Uji organoleptik dilakukan oleh 24 responden dan menilai kelima sabun transparan, bertekstur keras, beraroma apel, dan berwarna kuning bening. Kelima sabun tidak menimbulkan iritasi kulit pada 24 panelis. Berdasarkan hasil uji karakteristik kelima sabun padat transparan telah memenuhi syarat mutu sabun padat SNI 06-3532-1994.
Pengaruh Rasio Jumlah Pati Sagu Dengan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) Dan Jenis Plasticizer Terhadap Karakteristik Biodegradable Film Friska Septia; Sari Purnavita; Cyrilla Oktaviananda; Mumpuni Asih Pratiwi
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.12192

Abstract

Plastik biodegradable merupakan plastik yang ramah lingkungan. Tujuan pada penelitian ini adalah mempelajari pengaruh komposisi pati sagu dan CMC dengan jenis plasticizer dan mendapatkan kondisi optimum. Variabel bebas (75:25, 80:20, 85:15, 90:10, 95:5) (%) pada penelitian ini adalah komposisi jumlah pati sagu dengan CMC dan jenis plasticizer (gliserol dan sorbitol) terhadap karakteristik biodegradable film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CMC yang terbuat dari sabut kelapa muda memiliki sifat fisik berbentuk serabut-serabut yang pendek, berwarna kuning, larut dalam air, kental dan memiliki nilai derajat substitusi sebesar 0.033756. Hasil uji anova menunjukkan bahwa kombinasi pati sagu dan CMC dengan jenis plasticizer tidak berpengaruh terhadap karakteristik ketebalan, ketahanan air dan degradabilitas, sehingga dilihat secara deskriptif. Pada komposisi pati sagu dan CMC rasio 95:5 (%) menghasilkan morfologi, ketebalan, ketahanan air dan degradabilitas terbaik. Pada komposisi pati sagu dan CMC rasio 75:25 (%) dengan plasticizer sorbitol menghasilkan nilai tensile strength tertinggi sedangkan pada komposisi jumlah pati sagu dan CMC rasio 85:15 (%) plasticizer gliserol menghasilkan nilai elongasi tertinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 10