Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. We publish original research papers, review articles and case studies on the latest research and developments in the field of : oral tradition; manuscript; customs; rite; traditional knowledge; traditional technology; art; language; folk games; traditional sports; and history. Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is published twice a year and uses double-blind peer review. All submitted articles should report original, previously unpublished research results, experimental or theoretical that are not published and under consideration for publication elsewhere. The publication of submitted manuscripts is subject to peer review, and both general and technical aspects of the submitted paper are reviewed before publication. Manuscripts should follow the style of the journal and are subject to both review and editing. Submissions should be made online via Pangadereng journal submission site. Accepted papers will be available on line and will not be charged a publication fee. This journal is published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Direktorat jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Dan Pendidikan.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 10, No 1 (2019)"
:
10 Documents
clear
MODAL SOSIAL MASYARAKAT MULTIETNIK DI BERINGIN JAYA
Suryaningsi, Tini
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (276.997 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.42
Artikel ini menjelaskan tentang modal sosial masyarakat multietnik di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberagaman bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk berhubungan baik satu dengan yang lain. Untuk menciptakan keharmonisan dalam masyarakat, dibutuhkan sebuah modal yang bersifat sosial dalam rangka menetralisasi risiko terjadinya konflik karena perbedaan yang ada. Modal sosial menjadi sarana menjalin hubungan; meredam ego dan kepentingan pribadi atau golongan; dan menyatukan perbedaan, sehingga keberagaman dalam suatu lingkungan masyarakat terjalin harmonis. Adanya kesepakatan bersama menjadi modal dalam berinteraksi di masyarakat. Modal tersebut merupakan sebuah jaminan untuk kelanggengan kehidupan yang multietnik agar senantiasa terjaga keharmonisan dalam keberagaman. Perbedaan itu bersifat sensitif dan diharapkan modal sosial menjadi kekuatan persatuan dalam masyarakat.
REVOLUSI HIJAU PADA PERUBAHAN SOSIAL KOMUNITAS TANI (Studi Alat Produksi di Desa Tebongeano, Kecamatan Lambai, Kabupaten Kolaka Utara)
Mukramin, Sam'un;
Sudarsono, Sudarsono
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (286.553 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.38
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif untuk memperoleh gambaran secara mendalam tentang komunitas petani dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Informan dipilih secara purposive sampling dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti, yakni kepala desa, ketua pertanian, dan enam orang dari komunitas petani yang ada di Desa Tebongeano, Kecamatan Lambai, Kabupaten Kolaka Utara. Teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara (interview), dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan sosial komunitas petani dan dampaknya terhadap budaya pada komunitas petani di Desa Tebongeano, Kec. Lambai, Kab. Kolaka Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial kehidupan komunitas petani banyak mengalami dinamisasi. Perubahan tersebut disebabkan oleh berbagai persoalan yang timbul dari luar yang memengaruhi pola perilaku dan tindakan sosial masyarakat petani; pergeseran nilai gotong royong masyarakat petani dalam kehidupan sosial digantikan oleh sistem upah; dan masuknya berbagai perangkat teknologi pertanian yang mengubah kehidupan masyarakat petani. Adapun dampak perubahan sosial terhadap budaya pada komunitas petani di Desa Tebongeano, Kecamatan Lambai, Kabupaten Kolaka Utara adalah adanya pergeseran budaya sedikit demi sedikit sebagai akibat dari keberadaan teknologi yang semakin berkembang, sehingga penduduk desa memaksa diri untuk menyesuaikan dengan keterbatasan pengetahuan dan ekonomi.
PENGGUNAAN DIKSI DALAM LAGU MANDAR
Asis, Abdul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (284.561 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.43
Lirik lagu Mandar merupakah salah satu karya sastra yang ada di Sulawesi Barat yang perlu dilestarikan. Lirik dalam lagu Mandar perlu ditelusuri melalui kajian stilistika dengan pusat perhatian pada penggunaan diksi atau pilihan kata. Pilihan kata berkaitan dengan memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu yang dipikirkan dan dirasakan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, sehingga dilaksanakan dengan teknik pengumpulan data berupa baca-simak dan pencatatan. Lirik lagu tersebut dibaca dan disimak dengan saksama, lalu dicatat pada kartu data, dan diklasifikasikan berdasarkan jenis diksinya. Dalam penelitian ini, ada empat lagu Mandar yang dianalisis penggunaan diksinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan diksi dalam lagu Mandar dapat dilakukan melalui empat bagian, yaitu autosemantis, sinsemantis, kata dasar, dan kata yang mengalami proses morfologis.
PERTUNJUKAN BARONGSAI PADA CAP GO MEH OLEH MASYARAKAT TIONGHOA DI KOTA MAKASSAR
Irwan, Irwan
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (264.668 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.34
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang uraian prosesi Cap Go Meh tahun 2018 yang mempertunjukkan barongsai masyarakat Tionghoa di Kota Makassar dan uraian bentuk penyajiannya. Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan situasi tertentu berdasarkan data yang diperoleh secara terperinci melalui observasi, wawancara dengan informan yang akan memberi informasi tentang pertunjukan dan prosesi Cap Go Meh, dan dokumentasi untuk memperkuat wawancara yang dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prosesi Cap Go Meh tahun 2018 di Kota Makassar meliputi (1) ibadah Cap Go Meh, (2) Jappa Jokka, (3) wisata Kota Tua, dan (4) arak-arakan. Sementara itu, bentuk penyajian Cap Go Meh tahun 2018 di Kota Makassar meliputi: (1) gerakan yang menggunakan enam gerak dasar wushu, yaitu Mashe (kuda-kuda pertama), Pan Mashe (kudakuda kedua), Kungshe (kuda-kuda ketiga), Siashe (kuda-kuda bawah), Jien Tienfuk (kuda-kuda atas), dan Tu Lik (kuda-kuda terakhir); (2) penari yang berjumlah empat orang, dua untuk penari depan dan dua untuk penari belakang yang berjenis kelamin laki-laki dan tiada batas umur; (3) pola lantai yang digunakan adalah barongsai merah mengajak barongsai kuning untuk menghibur masyarakat yang hadir dalam acara Jappa Jokka Cap Go Meh, para barongsai mengajak warganya untuk merayakan tahun baru Imlek bersama-sama; (4) Iringan musik yang digunakan adalah tambur atau khu, ceng atau ba, dan tung atau ling; (5) tata rias dan busana pertunjukan barongsai yang digunakan adalah topeng yang menyerupai singa; (6) tempat pertunjukan barongsai adalah halaman depan Klenteng Xiang Ma; dan (7) pertunjukan barongsai tidak menggunakan properti.
KECANDUAN ONLINE ANAK USIA DINI
Junida, Dwi Surti
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (313.247 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.39
Dalam tulisan ini, peneliti menggali lebih mendalam tentang tata cara mendidik anak usia dini di era digital. Bagaimana agen pendidik, seperti keluarga, mampu meyaring budaya online dalam membentuk nilai-nilai positif saat mengakses internet? Kenapa harus di usia dini? Di usia dini secara alami akan terbentuk karakter manusia untuk menghadapi tantangan hidup ke depan, sehingga seorang anak sudah siap menghadapi berbagai tantangan dunia ketika mulai dewasa. Peneliti menggunakan metode observasi partisipan dengan ikut terlibat dalam aktifitas bermain dengan informan, yaitu anak-anak usia dini; dan menggunakan wawancara mendalam kepada seorang ibu yang anaknya dekat dengan gadget. Berdasarkan hasil penelitian, telah ditemukan beberapa kasus yang berbeda dari tiap kecanduan internet di kalangan anak usia dini dalam membentuk budaya online. Kasus pertama menimbulkan masalah psikologi seorang anak yang temperamental ke orang lain/teman-teman bermainnya, sedangkan kasus anak kedua justru sebaliknya. Sikap anak pada kasus kedua lebih menutup diri dari orang di sekitarnya dan kurang percaya diri karena tidak terbiasa bersosialisasi dengan orang lain/lingkungannya. Di kasus terakhir, anak mengalami gangguan kesehatan mata karena keseringan mengakses smartphone. Selain itu, peneliti memaparkan pula upaya orang tua mereka dalam menyaring dampak negatif penggunaan internet bagi anaknya.
DRUMBLEK, KESENIAN BARANG BEKAS DARI SALATIGA UNTUK DUNIA
Rohman, Fandy Aprianto
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (708.761 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.35
Kesenian drumblek merupakan marching band tradisional yang berasal dari Kota Salatiga. Kesenian ini dipelopori oleh seorang seniman bernama Didik Subiantoro Masruri akibat keterbatasan biaya untuk membeli alat musik marching band dalam rangka memeriahkan acara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1986. Saat ini, drumblek diterima dengan baik oleh masyarakat Salatiga, bahkan semakin populer dan rutin ditampilkan dalam berbagai acara festival kesenian di Kota Salatiga. Dalam artikel ini dipaparkan mengenai perkembangan kesenian drumblek di Kota Salatiga hingga bentuk penyajiannya. Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian mengenai kesenian tradisional bagi masyarakat, khususnya di Salatiga.
SEKURITAS SOSIAL PADA NELAYAN TRADISIONAL DI PENGGOLI KOTA PALOPO
Iriani, Iriani
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (287.786 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.40
Penelitian ini bertujuan mengungkap sekuritas sosial nelayan tradisional yang ada di Kota Palopo, tepatnya di Kelurahan Penggoli, Kecamatan Batu Pasi, Kota Palopo. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Hasil yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat nelayan di Kelurahan Penggoli merupakan nelayan tradisional yang berimplikasi pada terbatasnya jumlah hasil tangkapan ikan yang diperoleh. Dengan demikian, terdapat masa para nelayan tersebut mengalami masa paceklik atau tidak menghasilkan uang. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, nelayan meningkatkan rasa persaudaraan di antara mereka, yakni tolong-menolong antarnelayan yang cukup tinggi. Selain itu, mereka membentuk arisan, meminjam kredit di bank, dan membentuk kelompok kerja, sehingga kehidupan mereka bisa bertahan (survive).
PERKEMBANGAN TARI MORIRINGGO DI KABUPATEN LUWU TIMUR: KAJIAN HISTORIOGRAFI TARIAN TRADISIONAL
Sritimuryati, Sritimuryati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (394.424 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.36
Kabupaten Luwu Timur kaya dengan khazanah budaya. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Tengah, kemungkinan terdapat kesamaan budaya antara Luwu Timur dengan Sulawesi Tengah yang disebabkan oleh migrasi yang dilakukan oleh suku Padoe, salah satunya adalah tarian. Penelitian ini menggunakan metode historis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah salah satu tarian yang dimiliki oleh masyarakat adat Padoe, yakni tari Moriringgo. Tari Moriringgo merupakan tarian yang dilakukan untuk menyambut tamu-tamu agung pada masa dulu. Tarian ini memadukan antara suara tabuhan gong, teriakan-teriakan penari, suara bambu yang dipukul-pukul, hentakan kaki dari penari yang melompat, serta gerakan-gerakan yang dinamis, sehingga menimbulkan suasana yang gembira dan meriah bagi penonton yang ikut berteriak dan menari. Tarian Moriringgo ditampilkan pada acara syukuran karena panen berhasil, acara penyambutan Pongkiari yang pulang berperang karena menang, dan acara syukuran menyambut Saliwu ketika pulang dari Palopo menebang pohon Langkanae. Tarian Moriringgo merupakan tarian yang masih dilestarikan hingga kini. Tarian ini dipentaskan pada skala nasional dan provinsi.
PENGETAHUAN LOKAL PETANI DALAM TRADISI BERCOCOK TANAM PADI OLEH MASYARAKAT TAPANGO DI POLEWALI MANDAR
P, Fatmawati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (356.474 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.41
Pengetahuan lokal merupakan salah satu unsur penting dalam setiap aktivitas kehidupan manusia. Artikel ini menjelaskan tentang pengetahuan lokal petani padi di Tapango Polewali Mandar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan desain deskriptif. Tujuan penelitian ini yakni untuk mendeskripsikan pelaksanaan tradisi bercocok tanam padi pada masyarakat Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam tradisi bercocok tanam padi mayarakat Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Hasil penelitian menemukan bahwa dalam memulai bercocok tanam padi, terlebih dahulu masyarakat menjadikan tanda-tanda alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya. Selain itu, berbagai perlakuan yang diwujudkan dalam bentuk simbol merupakan hal yang bermakna dan mengandung nilai. Aktivitas bertani di masyarakat Tapango, Polewali Mandar merupakan ekspresi nilai budaya lokal seperti, nilai keyakinan, nilai kerja keras, nilai persatuan dan kerja sama, dan nilai kebersamaan.
MAKNA SIMBOLIK TRADISI RITUAL MASSORONG LOPI-LOPI OLEH MASYARAKAT MANDAR DI TAPANGO, KABUPATEN POLMAN, PROVINSI SULAWESI BARAT
Hafid, Abdul;
Raodah, Raodah
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (306.48 KB)
|
DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.37
Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang upacara massorong lopi-lopi pada masyarakat Mandar di Desa Tapango, Kabupaten Polman, Provinsi Sulawesi Barat. Tradisi ritual ini merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai penolak bala, agar kampung mereka terhindar dari mara bahaya. Di samping itu, tradisi ritual ini juga merupakan ajang silaturahmi antarmasyarakat, baik yang bertempat tinggal di Desa Topango maupun di perantauan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi ritual massorong lopi-lopi terkandung makna simbolik dari lopi-lopi yang digunakan sebagai alat ritual, begitu pula sesajen yang dihidangkan, serta peralatan yang digunakan. Masyarakat di Desa Tapango meyakini bahwa dengan melaksanakan ritual massorong lopi-lopi, segala bencana dan wabah penyakit yang akan menimpa mereka akan hanyut dan hilang terbawa arus air, sedangkan perahu-perahu tersebut dimaknai sebagai bahtera yang membawa masyarakat ke tempat yang sejahtera, selamat, dan sentosa.