cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Jl. Sultan Alauddin Km. 7 Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : 19073038     EISSN : 25022229     DOI : https://doi.org/10.36869/wjsb
Core Subject : Social,
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. We publish original research papers, review articles and case studies on the latest research and developments in the field of : oral tradition; manuscript; customs; rite; traditional knowledge; traditional technology; art; language; folk games; traditional sports; and history. Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is published twice a year and uses double-blind peer review. All submitted articles should report original, previously unpublished research results, experimental or theoretical that are not published and under consideration for publication elsewhere. The publication of submitted manuscripts is subject to peer review, and both general and technical aspects of the submitted paper are reviewed before publication. Manuscripts should follow the style of the journal and are subject to both review and editing. Submissions should be made online via Pangadereng journal submission site. Accepted papers will be available on line and will not be charged a publication fee. This journal is published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Direktorat jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Dan Pendidikan.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2020)" : 12 Documents clear
NASU CEMBA: MASAKAN KHAS MASYARAKAT MASSENREMPULU DI KABUPATEN ENREKANG, SULAWESI SELATAN Bahri, Syamsul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.76

Abstract

Artikel ini menampilkan sebuah hasil penelitian yang mengungkap masakan khas masyarakat Massenrengpulu di Kabupaten Enrekang, disebut nasu cemba. Masakan ini menggunakan beragam jenis rempah yang kesemuanya merupakan hasil bumi yang mudah ditemukan di daerah ini. Seperti di antaranya daun asam, bawang merah, bawang putih, ketumbar, termasuk bahan baku daging. Satu jenis rempah yang menjadikan masakan ini khas adalah daun asam, yaitu daun dari tumbuhan liar, tumbuhnya merambah, daunnya menyerupai daun asam biasa, batangnya berduri, daunnya beraroma khas sehingga berbeda dengan masakan berkuah lainnya, seperti konro, kikil, coto dan sop saudara. Masakan ini memakai bahan baku daging yang selalu diusahakan antara daging dan tulang menyatu, sehingga kalau memang terpisah, sebelum dimasak diikat jadi satu menggunakan tali rapia. Nasu cemba sudah hadir di tengah masyarakat Massenrengpulu sejak masa kehadiran Jepang di Sulawesi Selatan, di mana waktu itu orang asing (Jepang) sudah ditemukan menikmati masakan ini di warung-warung yang ada di pasar Cakke, pasar Baraka, dan pasar Sudu. Masakan ini terus berkembang, di mana dewasa ini sudah tersedia di rumah-rumah makan di Kota Enrekang, bahkan sudah merupakan masakan  pesanan terutama dalam jumlah banyak. Bagi masyarakat Massenrengpulu, nasu cemba telah dimaknainya sebagai makanan yang disakralkan, karena kehadirannya terungkap  nilai pemersatu, nilai kebesaran. Itulah sebabnya masakan khas ini dihadirkan pada setiap momen, baik pada acara ritual dan hajatan, juga pada hari raya (lebaran) banyak warga masyarakat menyiapkan sebagai hidangan keluarga.
PEMBANGUNAN KANAL DAN PERTUMBUHAN SOSIAL-EKONOMI DI BATAVIA TAHUN 1918-1933 Wati, Seni
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.65

Abstract

Banjir menjadi salah satu masalah yang sering melanda Batavia. Hampir setiap tahun Batavia mengalami banjir. Melihat kondisi Batavia yang sering mengalami banjir, Pemerintah Hindia-Belanda memperbaiki sistem drainase dengan membangun kanal dan sungai-sungai yang mengalir di Batavia. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui proses pembangunan kanal dan pertumbuhan sosial-ekonomi di Batavia. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis yang tahapannya meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Batavia merupakan daerah dengan dataran landai yang rentan terhadap banjir. Hal inilah yang menyebabkan Pemerintah Hindia-Belanda memperbaiki saluran air dan membangun kanal untuk menampung air di musim kemarau. Kanal yang dibangun oleh Pemerintah Hindia-Belanda dimulai dari pembangunan Kanal Banjir Kali Malang yang bertujuan untuk penanggulangan banjir serta saluran limbah. Pemerintah Belanda juga menormalisasi sungai dan saluran yang mampat, yaitu normalisasi Kali Angke, Kali Baru, Sentiong, serta pengerukan Kali Krukut untuk mencegah pendangkalan sungai. Berbagai perkembangan yang terjadi di Batavia membawa dampak pula dalam bidang sosial dan ekonomi. Perbaikan sungai-sungai dan kanal juga membawa pemerintah untuk memperbaiki bidang lain seperti pembuatan taman, pembangunan hunian sehat dan murah, serta perbaikan jalan raya.
NILAI BUDAYA NASKAH LA GALIGO DAN PERAHU PINISI DI MUSEUM UNTUK GENERASI MILENIAL Perdana, Andini
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.72

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis penyampaian informasi dua warisan budaya dunia. Keduanya adalah Naskah La Galigo dan seni pembuatan Perahu Pinisi yang didisplay di Museum La Galigo. Tahun 2020 merupakan bonus demografi bagi Indonesia yang didominasi oleh generasi milenial, salah salah satu audiens potensial museum. Oleh karenanya Museum La Galigo sudah seharusnya menyesuaikan komunikasi visualnya melalui koleksi dan informasinya untuk mengedukasi generasi milenial. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif yang pada umumnya digunakan dalam ilmu kebudayaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Museum La Galigo telah menyajikan koleksinya dengan informasi yang minim, termasuk Naskah La Galigo dan Perahu Pinisi. Selain itu diperlukan beberapa perbaikan agar dapat menjangkau audiens millenials dan menyesuaikan dengan cara mereka belajar melalui komunikasi visual.
PROSES INTEGRASI ETNIS TIONGHOA DENGAN PENDUDUK LOKAL DI KOTA PALOPO Sritimuryati, Sritimuryati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.63

Abstract

Konsep integrasi bangsa, integrasi budaya dan dinamika sosial  yang digunakan dalam kajian ini adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga tercipta keserasian dan keselarasan secara nasional. Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar baik dari kebudayaan ataupun wilayahnya. Penelitian ini dilakukan untuk memahahi sejarah migrasi etnis Tionghoa di kota Palopo dengan melihat berbagai aspek penting yang mempengaruhi proses Integrasi bangsa yang akan melahirkan terciptaya integrasi nasional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan metode pengumpulkan data melului metode kepustakaan (Library Research) dan metode lapangan (Field Research).
RITUAL MIMMALA MATAMBA BULUNG MASYARAKAT PATTAE’ KECAMATAN BINUANG KABUPATEN POLEWALI MANDAR Rahman, Abdul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.69

Abstract

Permasalahan pokok yang dikaji dalam penelitian ini ialah ritual mimmala matamba bulung sebagai bagian dari ritual masyarakat Pattae di Polewali Mandar. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui proses, nilai, fungsi dan proses pewarisan ritual mimmala matamba bulung pada masyarakat Pattae. Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian kualitatif yang berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan individu sebanyak delapan orang informan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ritual mimmala matamba bulung adalah ritual petani nenek moyang masyarakat Pattae’ yang bertujuan untuk meminta keselamatan dan kesuburan tanaman, ritual ini dilakukan setiap bulan Maret atau April setiap tahunnya ketika memasuki masa panen. (2) ritual mimmala matamba bulung memiliki fungsi sosial-ekonomi dan sebagai wujud nilai gotong royong masyarakat agar senantiasa menjaga keharmonisan dengan alam. (3) ritual mimmala matamba bulung diwariskan turun temurun oleh masyarakat dengan peran penting dari Tomatua.
MAKANAN TRADISIONAL PULU MANDOTI DI ENREKANG Hasmah, Hasmah
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.75

Abstract

Tujuan penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran sejarah Budaya Pulu Mandoti, wujud,  fungsi dan penyajian pulu dan Minat Masyarakat Enrekang terhadap Pulu Mandoti, sehingga dapat memberikan masukan bagi masyarakat Enrekang,  usahawan maupun pemerintah dalam usaha pengembangan produk kuliner tradisional dan dengan berkembangannya produk kuliner Enrekang Pulu Mandoti. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian ditetapkan dengan sengaja (purposive), di Kabupaten Enrekang. kuliner Pulu Mandoti yang merupakan representasi kebudayaan agraris di Kabupaten Enrekang. Pulu Mandoti, salah satu beras lokal jenis ketan wangi yang langka.  Beras Pulu Mandoti yang memiliki aroma yang wangi dan tekstur nasi yang pulen.
MENEGAKKAN KEKERABATAN: STRUKTUR LIMA SAODORAN PADA UPACARA PERKAWINAN ETNIK SIMALUNGUN Damanik, Erond Litno
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.67

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendiskusikan fungsi struktur segilima pada perkawinan etnik Simalungun. Masalah difokuskan pada relasi fungsi sebagai mekanisme peneguhan kekerabatan diantara struktur yang terlibat. Acuan teoritis yang dipergunakan adalah pendekatan struktural-fungsionalisme Radcliffe-Brown. Data-data dikumpulkan melalui kajian lapangan dan wawancara mendalam. Kajian lapangan mengamati 5 upacara perkawinan di 5 daerah yang berbeda; Saribudolog, Pamatangsiantar, Parapat, Sarbelawan, dan Limapuluh. Amatan difokuskan pada marfologi dan fisiologi struktur sedang wawancara mendalam (melibatkan kelima struktur dan Partuha Maujana Simalungun), difokuskan pada perkembangan struktur. Data-data dianalisis secara kualitatif-deskriftif. Kajian ini menemukan bahwa struktur pentagon adalah peradaban sungai, analogi fungsional untuk meneguhkan sistem kekerabatan. Perkawinan tidak dipahami sebagai proses regenerasi namun pelembagaan struktur sebagai pewarisan nilai dan norma yang diakui bersama. Novelty kajian bahwa perkawinan adalah mekanisme penetapan ‘ibu yang baru’ untuk mengekalkan fungsi struktur sosial. Perkawinan menjangkau kedalaman struktur yang berfungsi selama proses hidup pada dunia sosial. Kajian ini menyimpulkan bahwa unit sosial pada struktur pentagon adalah mekanisme kebudayaan yang berfungsi untuk mengekalkannya pada kehidupan sosial.
PENYELESAIAN PELANGGARAN ADAT TERHADAP PENGRUSAKAN DAN PENCURIAN DALAM HUTAN DI KAWASAN ADAT KAJANG, KABUPATEN BULUKUMBA Hafid, Abdul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.74

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang Tatacara penyelesaian pelanggaran adat terhadap pengrusakan dan pencurian dalam hutan keramat di kawasan adat Kajang di Kabupaten Bulukumba, yang bertujuan untuk mengungkapkan sejauh mana peranan Ammatoa dalam menyelesaikan berbagai pelanggaran adat yang terjadi dalam hutan keramat pada masyarakat adat  Kajang. Tulisan ini bersifat deskriptif  kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa;  studi pustaka, observasi, dokumentasi dan wawancara kepada pemimpin adat di Kajang yang digelar dengan sebutan Ammatoa,  dan sejumlah perangkat-perangkat adatnya serta pemerintah setempat seperti kepala desa dan sebagainya. Hasil tulisan ini menunjukkan bahwa dalam melaksanakan peranannya sebagai Ammatoa beserta sejumlah perangkat adat lainnya dibekali aturan yang merupakan pegangannya, yaitu Pasang (aturan tidak tertulis) yang telah diturunkan secara turun –temurun sejak Ammatoa Mariolo (Ammatoa pertama).  Keberadaan Pasang tersebut senantiasa dipatuhi oleh masyarakat adat Kajang, yang diimplementasikan dalam segala aktivitas kehidupan mereka. Jika masyarakat adat Kajang melanggar Pasang, maka akan menanggung sanksi, baik sanksi sosial maupun sanksi hukum adat berupa denda.  Oleh karena itu, peranan Ammatoa baik terhadap pelestarian lingkungan alam (hutan) maupun terhadap penyelesaian pelanggaran adat yang terjadi dalam borong karamaka, akan memegang peranan penting untuk terus menerus memelihara, melestarikan lingkungan alam dan mempertahankan tidak akan terjadi pelanggaran adat dalam hutan keramat (borong karamaka).            
TRADISI LISAN NATONI DALAM TUTURAN RITUAL SIUM ANA PADA MASYARAKAT BOTI DI NUSA TENGGARA TIMUR Iswanto, Iswanto
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.70

Abstract

Reportoar tradisi lisan di Indonesia merupakan sarana indentitas masyrakat dan budaya. Tulisan ini berdasarkan hasil penelitian tradisi lisan pada masyarakat Boti di Nusa Tenggara Timur. Permasalahan dalam penelitian ini ialah bagaimana tradisi lisan natoni dalam Tuturan Ritual Sium Ana pada Masyarakat Boti di Nusa Tenggara Timur? Penelitian ini akan difokuskan pada kekhasan tuturan natoni sebagai salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Dawan. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatis dengan paradigma fenemenologi. Berdasarkan data yang diperoleh memperlihatkan bahwa tuturan ritual natoni merupakan tuturan ritual resiprokal atau berbalas-balasan. Juru bicara dikenal dengan atutas dan dibalas oleh selompok masyarakat yang dikenal dengan istilah atutas. Tuturan ritual sium ana mengunakan makna figuratif lokatif yang berasosiasi dengan kepercayaan terhadap leluhur dan makna figuratif entitas kebendaan yang berasosiasi dengan gender.
DINAMIKA PEMBELAJARAN K13 SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI KOTA KENDARI (2013-2019) Sahajuddin, Sahajuddin
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.71

Abstract

Kajian ini menguraikan tentang dinamika pembelajaran kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Kendari. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang menjelaskan persoalan berdasarkan perspektif sejarah, khususnya pendekatan sejarah lisan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran K13 di tingkat SMA Kota Kendari belum terlaksana secara maksimal. Penyebabnya dapat bermacam-macam, mulai dari sosialisasi yang kurang efektif karena mementingkan penyelesaian program sosialisasi dari pada substansi proses output-nya, sistem penilaian yang terlalu banyak sehingga syarat modifikasi, kebijakan pemerintah daerah, serta persoalan lainnya yang berproses dalam dinamika pendidikan. Tetapi di lain pihak, ada inisiatif yang kreatif dari pihak sekolah dan masyarakat walaupun belum berkesinambungan dan menyeluruh setiap sekolah. Sekolah memiliki Komite Sekolah dan MGMP, dimana persoalan pengembangan pembelajaran K13 mampu diminimalisir. Dan semua itu berproses dalam dinamika yang haruskan adanya pembenahan kurikulum 2013. Selain perlunya pengembangan dan pemenuhan kompetensi guru sebelum bertugas oleh pemerintah. Kemudian dalam proses belajar-mengajar diperlukan adanya pembelajaran yang berbasis kemitraan, dan berusaha mewujudkan idealitas sistem pendidikan nasional Indonesia. 

Page 1 of 2 | Total Record : 12