Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. We publish original research papers, review articles and case studies on the latest research and developments in the field of : oral tradition; manuscript; customs; rite; traditional knowledge; traditional technology; art; language; folk games; traditional sports; and history. Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is published twice a year and uses double-blind peer review. All submitted articles should report original, previously unpublished research results, experimental or theoretical that are not published and under consideration for publication elsewhere. The publication of submitted manuscripts is subject to peer review, and both general and technical aspects of the submitted paper are reviewed before publication. Manuscripts should follow the style of the journal and are subject to both review and editing. Submissions should be made online via Pangadereng journal submission site. Accepted papers will be available on line and will not be charged a publication fee. This journal is published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Direktorat jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Dan Pendidikan.
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol 8, No 1 (2017)"
:
15 Documents
clear
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI PULAU WANGI-WANGI
Salam, Rahayu
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.109
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan kearifan lokal dalam pengelolaan hutan Kaindea dan fungsinya bagi masyarakat di Pulau Wangi-Wangi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, kajian pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan Kaindea di Pulau Wangi-Wangi menyebar pada dua adat. Fungsi ekologis, sosial-budaya dan ekonomi masih baik, sementara hutan Kaindea di wilayah adat Wanci telah berubah, dari segi pengelolaan lahan. Pengelolaanhutan Kaindea secara umum didasarkan pada aturan adat. Kesimpulan dari tulisan ini bahwa pengelolaan hutan Kaindea memiliki fungsi ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Sehingga, hal itu menunjukkan bahwa kebijakan konservasi dan transformasi hutan rakyat, terlindungi dengan adanya kearifan lokal.
SEKURITAS SOSIAL PETANI PADI SAWAH KECAMATAN TAPANGO KABUPATEN POLMAN SULAWESI BARAT
P, Fatmawati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.113
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kehidupan sosial ekonomi dan sekuritas sosial masyarakat petani di Kecamatan Tapango Kabupaten Polman Sulawesi Barat yang terjalin antara mereka. Pengumpulan data menggunakan teknikwawancara mendalam, pengamatan langsung, dan studi pustaka. Penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat petani padi sawah Tapango mewujudkan tidak hanya prilaku sekuritas sosial formal melainkan sekuritas sosial tradisional seperti tolong menolong berupa sistem pinjam-meminjam/timbal-balik, salingmemberi, saling tukar-menukar, sistem arisan, mekanisme zakat. Selain itu, terealisasinya nilai-nilai sosial budaya dimaksudkan pada hubungan-hubungan kekerabatan dan pertemanan, prinsip-prinsip timbal-balik fungsional seimbang tanpa pamrih, nilai-nilai kejujuran, ketaatan, kerajinan, tanggungjawab, kesetiakawanan yang berpedoman pada prinsip tolong-menolong.
AKTIVITAS NELAYAN DI KELURAHAN GUSUNG, KECAMATAN UJUNG TANAH, KOTA MAKASSAR
Iriani, Iriani
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.104
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aktivitas nelayan di Kelurahan Gusung, Kecamatan Ujung Tanah. Proses pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Kelurahan Gusung, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar memiliki berbagaiaktivitas yang terkait dengan kenelayanan, seperti pinggawa, pacato, nelayan penangkap ikan, dan pekerja anak-anak. Semua pihak tersebut saling bekerja sama dalam melakukan aktivitas, terutama kelompok nelayan, karena kelompok tersebut merupakan penggerak roda perekonomian di Pelelangan Ikan. Mereka beraktivitasmulai pagi sampai malam hari. Nelayan pergi menangkap ikan dan pedagang (pacato) yang menjemput dan memasarkannya di tempat pelalangan ikan, kemudian pappalele atau pagandeng yang memasarkan keluar, baik ke pasar-pasar tradisional maupun ke rumah-rumah penduduk di Kota Makassar.
PELABUHAN PALIPI DI KECAMATAN SENDANA KABUPATEN MAJENE
Sritimuryati, Sritimuryati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.114
Penelitian ini betujuan untuk mengungkap dan menjelaskan mengenai pelabuhan Palipi di Sulawesi Barat sebagai salah satu pelabuhan yang menopang kehidupan masyarakat dan menekan angka kemisikinan di Kecamatan Sendana. Metode yang digunakan ialah metode sejarah yang meliputi empat langkah sistematis. Pengumpulan data lapangan bertumpu pada studi pustaka melalui beberapa buku, studi arsip dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah penumpang di pelabuhan Palipi dari tahun ke tahun. Nelayan di Palipi melakukan difersifikasi pekerjaan dengan bekerja sebagai nelayan dan buruh angkut. Selain itu, Palipi juga dijadikan sebagai Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Meskipun begitu karena keterbatasan dana proses pembangunan pelabuhan Palipi masih tersendat pada masalah dana.
AKHIR PERSEKUTUAN BELANDA DENGAN KERAJAAN BONE ABAD XIX
Sahajuddin, Sahajuddin
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.105
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan peristiwa terjadinya perubahan pemerintahan dari Gubernur Makassar (Gouverneur van Makassar) menjadi Gubernur Celebes dan daerah taklukannya(Gouverneur van Celebes en Onderhoorigheden). Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang menjelaskan persoalan berdasarkan perspektif sejarah dengan beberapa langkah, seperti heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.Hasil kajian menunjukkan bahwa perubahan pemerintahan itu berbuntut panjang dengan berakhirnya persekutuan antara Belanda dengan Kerajaan Bone. Persekutuan itu mulai terusik ketika terjadi penyerahan Sulawesi Selatan oleh Belanda kepada Inggris. Kerajaan Bone tidak ingin lagi bekerja sama denganBelanda, terbukti denganpenolakan Kerajaan Bone untuk menandatangani Korte Verklaring1824. Perubahan status pemerintahan gubernur merupakan puncak kekecewaan Bone dengan melakukan perlawanan. Perubahan itu terkait pula dengan adanya rencana Belanda menjadikan Pelabuhan Sombaopu menjadi pelabuhan bebas sebagaimana yang dilakukan oleh Inggris di Singapura.Untuk mencapai tujuannya, Belanda harus menguasai Kerajaan Bone dengan ekspedisi militer pada 1859 sekaligus mengubah status Kerajaan Bone, dari KerajaanSekutu menjadi Kerajaan Pinjaman.
SEJARAH, PEREKAT PERBEDAAN (TRANSMIGRAN ORANG BALI DI KABUPATEN MAMUJU)
Mattulada, Thamrin
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.110
Kajian ini memberikan gambaran umum mengenai program transmigrasi di Sulawesi dengan fokus pada para transmigran Bali di Mamuju. Keuletan mereka dalam berusaha menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang berkontribusi bagi peningkatan pembangunan di Sulawesi Barat saat ini. Dalam membina hubungansosial, transmigran Bali mampu membangun hubungan yang baik dengan sesama transmigran dari daerah lain, terutama kepada penduduk asli di daerah tersebut. Persamaan dan pertalian sejarah menjadi kekuatan dari kebersamaan yang mereka bina.
RUNTUHNYA PENGARUH KEKUASAAN KERAJAAN LUWU PADA AWAL ABAD KE-20
Sritimuryati, Sritimuryati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.101
Kajian ini bertujuan untuk memberikan uraian tentang penetrasi politik kolonial Belanda pada awal abad ke-20 sekaligus menjadi latar gerakan perlawanan yang berkobar di Kerajaan Luwu hingga runtuhnya dinasti-dinasti kerajaan di Sulawesi Selatan. Kajian ini memperlihatkan aspek pentas sejarah yang berlatar politik di Sulawesi Selatan, munculnya sikap anti kolonialisme, dan proses awal penerapan undang-undang desentralisasi. Kajian ini menggunakan pendekatan kajian sejarah politik yang tidak terlepas dari kerangka metode sejarah yang sudah umum digunakan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi . Hasil dari kajian ini memberikan gambaran sikap anti kolonial di Kerajaan Luwu yang dilatari penolakan raja Luwu untuk mengakui pemerintah Hindia-Belanda sebagai pemerintah yang berdaulat di Sulawesi Selatan melalui penandatangananperjanjian pendek (korte verklaring).
PERTUNJUKAN TARIAN PEPE-PEPEKA RI MAKKA
Salam, Rahayu
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.115
Tulisan yang disajikan ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan; (1) asal-usul tarian Pepe-pepeka Ri Makka; (2) Fase Pertunjukan tarian Pepe-Pepeka Ri Makka ; (3) fungsi pertunjukan tarian Pepe-Pepeka Ri Makka dan (4) nilai-nilai budaya yang terdapat dalam pertunjukan tarian Pepe-pepeka Ri Makka. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, catat, dan dokumentasi. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa; (1) Tarian Pepe-Pepeka Ri Makka berasal dari dari pengaruh budaya Arab yang masuk ke wilayah Makassar dalam menyebarkan agama Islam. (2) Fase pertunjukan tarian Pepe-Pepeka Ri Makka adalah ragam ridoangnga (ragam berdoa), karenanna(religi permainan), dan ju’julu sulona-Ritongko’ (memberi cahaya api dan ucapan syukur). (3) Fungsi pertunjukan tarian Pepe-pepeka adalah sebagai ritual dalam penyebaran agama Islam pada perkembangan terakhir berfungsi sebagai hiburan. ; (4) terdapat beberapa nilai-nilai budaya yang tergambar dari tarian Pepe-Pepeka Ri Makka yaitu nilai filosofis yang terkait dengan konsep pada masyarakat Makassar yaitu salah satu mitologi appak sulapa (empat persegi) yakni , tana (tanah), jekne (air), angin (angin), dan Pepe (api). Dalam syair tari Pepe-pepeka ri Makka, makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam terkait dengan penyebaranagama Islam.
RELIGIUSITAS DAN PERILAKU EKONOMI PADA MASYARAKAT PETANI DI DESA DUAMPANUAE, SINJAI
Rahman, Abdul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.106
Pada kehidupan masyarakat petani di Desa Duampanuae, keterkaitan antara keyakinan religius dan perilaku ekonomi merupakan hal yang tidak terpisahkan. Berbicara tentang etos kerja petani di Desa Duampanuae selalu dihubungkan dengan agama yang dianut dan diyakini oleh mereka. Demikian pentingnya dominasi agama dalam menentukan aktivitas petani, sehingga agama dan kegiatan ekonomi selalu disatupaketkan. Telah menjadi kebiasaan bahwa pandangan tentang makna hidup dan arti kehidupan dalam masyarakat petani, merupakan nilai dasar dan pedoman dalam melakukan berbagai tindakan dan aktvitas. Makna hidup dalampandangan masyarakat petani di Desa Duampanuae dapat ditelusuri secara sederhana ke dalam tiga aspek yakni hidup mengabdi kepada Tuhan, hidup dan bekerja demi keluarga dan hidup untuk selaras dengan alam sekitar.
SEKURITAS SOSIAL PADA KOMUNITAS NELAYAN DI DESA MOLA NELAYAN BAKTI KECAMATAN WANGIWANGI SELATAN WAKATOBI
Masgaba, Masgaba
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v8i1.111
Mayoritas penduduk Desa Mola Nelayan Bakti bersuku bangsa Bajo dan berprofesi sebagai nelayan. Mereka pada umumnya mempergunakan alat tangkap yang sederhana, seperti pancing, jaring, dan panah dalam melakukan aktivas mencari ikan di laut. Terkadang nelayan hanya membawa hasil yang minim, bahkan tidak memperoleh hasil sama sekali. Pada saat musim ombak atau musim paceklik biasanya mereka tidak melaut. Dalam kondisi seperti itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka melakukan cara-cara tersendiri. Praktek-praktek sekuritas sosial mereka terapkan sudah menjadi tradisi turun-temurun, sepertipinjam-meminjam, situtulo (tolong-menolong) atau sipagigenna (saling berbagi). Tulisan ini merupakan hasil penelitian deskriftif kualitatif dengan menggunakan metode wawancara, pengamatan dan studi pustaka. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk sekuritas sosial pada komunitas nelayan di DesaMola Nelayan Bakti Kecamatan Wangiwangi Selatan.