cover
Contact Name
Dr. Purnama Budi Santosa
Contact Email
-
Phone
+62274520226
Journal Mail Official
jgise.ft@ugm.ac.id
Editorial Address
Jl. Grafika No.2 Kampus UGM, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JGISE-Journal of Geospatial Information Science and Engineering
ISSN : 26231182     EISSN : 26231182     DOI : https://doi.org/10.22146/jgise.51131
Core Subject : Engineering,
JGISE also accepts articles in any geospatial-related subjects using any research methodology that meet the standards established for publication in the journal. The primary, but not exclusive, audiences are academicians, graduate students, practitioners, and others interested in geospatial research.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2021): June" : 8 Documents clear
Pemodelan Banjir dan Visualisasi Genangan Banjir untuk Mitigasi Bencana di Kali Kasin Kelurahan Bareng Kota Malang Zafira Nur Pratiwi; Purnama Budi Santosa
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.56525

Abstract

Wilayah Kelurahan Kali Kasin di Kota Malang merupakan wilayah padat penduduk yang rentan terhadap banjir. Wilayah ini hamper setiap tahun mengalami banjir, yang berdampak pada kerusakan lingkungan dan infrastruktur. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah melakukan pemodelan banjir yang disebabkan oleh luapan Kali Kasin serta melihat cakupan wilayah genangan banjir. Metode pemodelan banjir  menggunakan pendekatan hidrolika dalam mensimulasikan debit air pada setiap penggal sungai menggunakan perangkat lunak HEC-RAS, serta melakukan visualisasi daerah genangan banjir serta area terdampak banjir menggunakan pendekan GIS. GIS juga digunakan untuk mempersiapkan beberapa data spasial yang digunakan untuk pemodelan banjir, seperti data geometri sungai, deliniasi daerah aliran sungai, serta untuk keperluan analisis spasial lainnya. Data hidrologis didapat dari pengolahan curah hujan harian pada stasiun hujan wilayah Kali Kasin. Analisis dilakukan dengan menggunakan model SCS CN pada perangkat lunak HEC-HMS untuk memperkirakan debit puncak pada sungai. Sedangkan, sumber data geometrik didapatkan dari Model Elevasi Digital dari citra ALOS PALSAR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan banjir dapat dilakukan untuk memvisualisasikan daerah genangan banjir di wilayah Kelurahan Bareng. Wilayah yang terdampak banjir seluas 24.225,63 m2. Hasil analisis menunjukkan ada sekitar 173 rumah yang terdampak banjir.
Visualisasi Peta Skematik dan Story Map MRT dan LRT Jakarta Alun Sagara Putra; Trias Aditya
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.61009

Abstract

Keberadaan MRT dan LRT Jakarta bertujuan untuk melakukan perubahan pada pola penggunaan transportasi, dari transportasi pribadi menjadi transportasi umum. Berdasarkan data Menteri Perhubungan, hanya 32% warga Jakarta yang sehari-harinya menggunakan transportasi umum. Untuk meningkatkan minat pengguna transportasi umum, maka dibutuhkan informasi yang lengkap mengenai berbagai pilihan akses transportasi. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk menampilkan informasi peta jaringan MRT/LRT Jakarta dan peta interaktif story map hasil analisis Transit-Oriented Development (TOD) dan service area pada tiap stasiun sebagai penunjang perencanaan guna mencapai transportasi yang berkelanjutan. Peta jaringan MRT/LRT Jakarta dibuat dengan melakukan proses skematisasi, yaitu mengubah peta konvensional menjadi peta skematik yang umumnya digambar lurus dengan sudut tertentu dan banyak digunakan dalam sistem transportasi kota. Peta interaktif story map dibuat melalui platform ESRI Story Map. Visualisasi analisis indeks TOD pada stasiun MRT Jakarta menggunakan hasil perhitungan yang sudah dilakukan oleh Siburian (2020), sedangkan visualisasi analisis indeks TOD pada stasiun LRT Jakarta merupakan hasil perhitungan yang diolah oleh penulis. Nilai indeks TOD dihitung berdasarkan metode Singh (2015) dengan 8 parameter. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa dua stasiun memiliki indeks level tinggi, tiga stasiun dengan level sedang, dan satu stasiun tergolong memiliki level TOD rendah. Kegiatan ini menghasilkan sebuah website yang tersusun atas dua halaman yaitu halaman beranda dan halaman peta. Halaman beranda berisi informasi umum seperti sejarah, tarif, dan waktu perjalanan kereta. Sedangkan halaman peta merupakan halaman inti dari website yang disajikan dalam bentuk peta statik skematik dan peta interaktif story map. Data spasial terkait titik-titik penting, rute perjalanan, kependudukan, serta penggunaan lahan divisualisasikan pada peta sebagai fitur spasial. Berdasarkan hasil evaluasi dari pengguna, website yang dihasilkan mampu menyajikan informasi dengan tepat, baik, dan mudah untuk operasikan. 
Pembuatan Sistem Informasi Irigasi dan Kebutuhan Air dengan Standar dan Mekanisme Akses Berbasis Infrastruktur Data Geospasial untuk Irigasi Pertanian di Kabupaten Karanganyar Dimas Uga Perceka; Trias Aditya
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.61438

Abstract

Manajemen irigasi diperlukan dalam mendukung tatakelola dan penentuan kebutuhan air, khususnya pada lahan pertanian. Manajemen irigasi tersebut dapat dioptimalkan dengan melakukan inventarisasi data irigasi di dalam sebuah web map. Inventarisasi data tersebut bertujuan agar skenario tukar guna data spasial khususnya terkait manajemen irigasi dapat berjalan optimal. Skenario tukar guna data dapat optimal apabila diseminasi informasi yang ada dapat saling terintegrasi. Permasalahan utama yaitu diseminasi informasi ataupun data terkait kebutuhan air untuk lahan pertanian ada pada sumber yang terpisah sehingga sulit untuk menganalisis hasil integrasi dari data tersebut. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan menyelaraskan data (curah hujan efektif, evapotranspirasi, porositas, total kehilangan air, efisiensi irigasi, petak irigasi, saluran irigasi dan petak irigasi) sehingga data dapat diintegrasikan dan dapat dimanfaatkan oleh pengguna. Pada tulisan ini dilakukan 5 tahapan kegiatan yaitu perencanaan dan pengumpulan data, analisis, desain sistem, implementasi dan evaluasi. Hasil yang didapat yaitu berupa web map yang digunakan untuk memfasilitasi ketersediaan dan akses data spasial yang di dalamnya terdapat data irigasi dan klimatologi. Dalam web map yang dibangun terdapat fasilitas-fasilitas diantaranya pembacaan data, penambahan data, pembaruan data, penghapusan data dan pengunduhan data. Web map yang dinamakan Sistem Informasi Irigasi dan Kebutuhan Air (SIRISKA) ini merupakan sebuah web map dinamis yang menggunakan fungsi Create Read Update and Delete (CRUD) ke basis data. Web map dibangun berdasarkan integrasi antara komponen back-end yang terdiri atas PostgreSQL (basisdata), PHP (server-side scripting), Apache (web server) dan komponen front end yang terdiri atas JavaScript, HTML dan CSS. Web map SIRISKA dievaluasi dengan beberapa parameter diantaranya efektifitas, kebergunaan, konsistensi, kejelasan arsitektural dan visual, dan kemampuan data sharing. Berdasarkan evaluasi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi yang dibuat dapat memudahkan pengguna untuk melakukan tukar guna data dan mendapatkan informasi kebutuhan air irigasi untuk setiap petak irigasi.
Analisis Tingkat Ketersediaan dan Cakupan dari Continuously Operating Reference Station (CORS) di Pulau Jawa Novie Chiuman; Dedi Atunggal; Nurrohmat Widjajanti
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.63277

Abstract

Ketersediaan layanan dan cakupan Continuously Operating Reference Station (CORS) sangat penting untuk kegiatan yang membutuhkan ketelitian level sentimeter atau lebih baik. Penelitian ini menganalisis ketersediaan layanan CORS Indonesia berdasar data web scraping server InaCORS pada Desember 2018. Cakupan CORS diestimasi dengan asumsi performansi Real Time Kinematic (RTK) single base hingga radius 30 kilometer dan untuk RTK network base hingga 50 kilometer dari masing-masing stasiun yang kemudian dipadukan dengan data cakupan jaringan komunikasi selular Telkomsel, Indosat dan 3 dari opensignal.com. Hasil web scraping menunjukkan terdapat 51 stasiun CORS dengan ketersediaan layanan di atas 80%, empat dengan ketersediaan layanan di bawah 80%, dua dengan ketersediaan layanan di bawah 50%, dan 14 yang tidak memiliki ketersediaan layanan. Cakupan CORS untuk metode RTK single base dan network base masing-masing adalah 72,942% dan 98,299%. Luas cakupan CORS terbesar diperoleh provider Telkomsel baik untuk metode RTK single base maupun network base yaitu masing-masing sebesar 34,622% dan 45,180%. Cakupan riil dari estimasi tersebut mungkin lebih besar karena hasil uji lapangan membuktikan bahwa tingkat ketepatan data dari OpenSignal hanya sebesar 69,444% dan masih banyak area tanpa data sinyal. Hasil analisis tingkat duplikasi cakupan CORS menunjukkan bahwa luas duplikasi cakupan CORS untuk metode RTK single base dan network base masing-masing sebesar 37,076% dan 82,382% dari luas total cakupan CORS. Hasil dari penelitian juga menunjukkan setidaknya ada 20 stasiun CORS yang perlu ditingkatkan ketersediaan datanya.
Kajian Perbandingan Luas Hasil Pengukuran Bidang Tanah Menggunakan GPS RTK-Radio dan RTK-NTRIP Rizki Irianto; Farouki Dinda Rassarandi
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.63947

Abstract

Dengan berkembangnya teknologi dalam survei pemetaan seperti halnya penggunaan GPS Geodetik, maka penerapan dari teknologi untuk kebutuhan survei perlu memperhatikan faktor-faktor tertentu seperti ketersediaan alat, sumber daya manusia hingga kondisi lapangan. GPS atau biasa dikenal dengan Global Positioning System merupakan teknologi/alat atau sistem yang memberikan informasi berupa posisi kepada pengguna secara global dan real-time di permukaan bumi yang berbasis data satelit. Dengan teknologi tersebut diperoleh ketelitian yang tinggi dengan waktu yang singkat dalam penentuan sebuah posisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketelitian hasil pengukuran luas bidang tanah menggunakan teknologi GPS RTK-Radio dan GPS RTK NTRIP sebagai sikap pengambilan keputusan. Penelitian dilakukan terhadap daerah dengan obstruksi dan tanpa obstruksi fisik. Nantinya, dari penelitian ini diperoleh nilai-nilai koordinat (X,Y) dari GPS RTK-NTRIP maupun RTK-Radio, yang kemudian dihitung luasnya dan dibandingkan dari hasil pengukuran menggunakan ETS (Electronic Total Station) terhadap standar ketelitian luas dari BPN. Hasil perhitungan selisih luas lahan baik dengan obstruksi secara fisik maupun tidak, masih masuk dalam toleransi ketelitian BPN, walaupun untuk lahan yang terdapat obstruksi fisik memiliki selisih antara pengukuran menggunakan GPS dan ETS yang cukup besar yaitu hampir mencapai 5 m2.
Monitoring Land Encroachment and Land Use & Land Cover (LULC) Change in The Pachhua Dun, Dehradun District Using Landsat Images 1989 and 2020 Rahul Thapa; Vijay Bahuguna
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.64857

Abstract

Remote sensing and G.I.S help acquire information on changing land use and land cover (LULC), and it plays a pivotal role in measuring and monitoring such local and global changes. The present analysis has been executed on Landsat 5 TM, 1989 and Landsat 8 OLI/TIRS, 2020 images of Pachhua Dun, including Dehradun & Mussoorie urban agglomeration. The present study aims to detect the land encroachment or area of change; rate of change and monitoring spatio-temporal variation in LULC change between 1989-2020 using change detection technique, supervised maximum likelihood classification, and Overall accuracy & Kappa Coefficient (K) was applied as an accuracy assessment tool. The results derived from the change detection analysis exhibits that the highest growth rate was recorded in built-up areas +247.75% (110 km2) and revealed the annual rate of change of 3.55 km2. or  7.99%, the highest among all LULC class during the overall study period of 31 years. The result also found that among all LULC class, the most significant LULC conversion took place from agricultural land to built-up areas followed by open/scrubland and vegetation/forest cover; approximately 69.9km2 of the area under agricultural land was found to be converted into built-up areas. At the same time, 38.9 km2 area of vegetation/forest cover and 36.3 km2 of the area of open/scrubland have converted into agricultural land. Rising anthropogenic influence and unsustainable land-use practices in the study area have led to a large-scale human encroachment and rapid transformation of the natural landscape into the cultural landscape. This analysis provides the essential long-term Geospatial information related to LULC change for making optimum decision-making process and sustainable land-use planning in the Pachhua Dun-Dehradun District, Uttarakhand, India. 
Evaluasi Penetapan Batas Desa Terhadap Segmen Batas Daerah di Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan Joko Eddy Sukoco; Heri Sutanta
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.65171

Abstract

Batas wilayah merupakan informasi geospasial dasar yang penting dan berguna dalam pembangunan suatu wilayah. Kabupaten Tabalong telah melaksanakan kegiatan penetapan dan penegasan batas desa dengan mengesahkan batas desa definitif sebanyak 117 dari 131 desa/kelurahan. Terdapat 51 desa yang berbatasan dengan daerah (kabupaten/provinsi) lain. Berdasarkan hierarki peraturan perundang-undangan, segmen batas desa yang berbatasan dengan daerah lain harus sesuai dengan segmen batas daerah yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penetapan batas desa definitif yang berbatasan dengan daerah lain pada tahun 2012-2020. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis geospasial. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan studi dokumen data sekunder dari instansi terkait.  Metode analisis geospasial menggunakan sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu teknik tumpang susun terhadap data-data geospasial format digital. Teknik analisis terebut digunakan untuk menganalisis perbedaan posisi segmen batas, pergeseran segmen batas dan perbedaan luas wilayah. Hasil penelitian menunjukan terdapat 14 dari 51 desa yang mengalami perbedaan posisi segmen batas wilayah dengan pergeseran segmen maksimal batas berada pada rentang 35 – 4.300 m. Perbedaan posisi segmen batas juga mempengaruhi luas wilayah Kabupaten Tabalong, dimana terdapat perbedaan luas berdasarkan Perbup dan Permendagri sebesar 1.415,63 hektar. Penetapan lebih awal batas desa yang berbatasan dengan daerah lain dibanding penetapan batas daerah serta perbedaan sumber data  segmen batas yang digunakan berpotensi menghasilkan perbedaan posisi segmen batas dan luas wilayah. Berdasarkan hasil ini, evaluasi terhadap penetapan batas desa definitif yang berbatasan dengan daerah lain perlu dilakukan, untuk memastikan kualitas informasi batas wilayah yang handal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Perbandingan Posisi Tiga Dimensi Pengukuran GNSS Menggunakan Metode Diferensial Statik dengan Berbagai Variasi Epoch Rate Syafril Ramadhon
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 1 (2021): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.66327

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi ketelitian posisi yang dihasilkan pada pengukuran Global Navigation Satellite Syatems (GNSS) dengan metode diferensial statik yaitu epoch rate. Penelitian difokuskan dalam menganalisis seberapa besar pengaruh variasi epoch rate pada data koordinat tiga dimensi yang dihasilkan pada pengukuran GNSS dengan metode diferensial statik. Metode yang digunakan yaitu membandingkan data koordinat tiga dimensi lima titik pengamatan dari pengukuran GNSS dengan metode diferensial statik dalam moda radial dengan variasi epoch rate sebesar 1”, 5” 10”, dan 15” yang ditetapkan sama pada receiver GNSS yang ditempatkan di base dan rover. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil koordinat tiga dimensi pada setiap variasi epoch rate di setiap titik pengamatan di sumbu easting, northing, data tinggi, dan jarak datar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata sebesar 0,005 m pada sumbu easting, northing dan data tinggi pada setiap variasi epoch rate. Adapun pada perbedaan jarak, terdapat perbedaan rata-rata sebesar 0,008 m pada setiap variasi epoch rate. Adapun berdasarkan hasil uji signifikansi, tidak ada perbedaan yang signifikan pada variasi epoch rate di sumbu easting, northing, dan data tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 8