cover
Contact Name
Dr. Purnama Budi Santosa
Contact Email
-
Phone
+62274520226
Journal Mail Official
jgise.ft@ugm.ac.id
Editorial Address
Jl. Grafika No.2 Kampus UGM, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JGISE-Journal of Geospatial Information Science and Engineering
ISSN : 26231182     EISSN : 26231182     DOI : https://doi.org/10.22146/jgise.51131
Core Subject : Engineering,
JGISE also accepts articles in any geospatial-related subjects using any research methodology that meet the standards established for publication in the journal. The primary, but not exclusive, audiences are academicians, graduate students, practitioners, and others interested in geospatial research.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2021): December" : 9 Documents clear
Hasil Studi Pola Kebakaran Lahan Gambut melalui Citra Satelit Sentinel-2 dengan Pengimplementasian Machine Learning Metode Random Forest : Kajian Literatur Annisa Rizky Kusuma; Fauzan Maulana Shodiq; Muhammad Faris Hazim; Dany Puguh Laksono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.60828

Abstract

Kebakaran lahan gambut merupakan peristiwa yang sulit diprediksi perilakunya. Karakteristik tanah gambut yang kompleks dan faktor-faktor alam lain seperti arah angin, status vegetasi, dan kandungan air membuat kasus ini menjadi salah satu kasus menarik yang masih menjadi objek penelitian yang belum tuntas hingga saat ini. Ketika memasuki musim kemarau kondisi kadar air di dalam tanah gambut akan semakin berkurang, maka potensi terjadinya kebakaran akan semakin tinggi. Pada studi ini dilakukan analisis faktor penyebab kebakaran dengan area cakupan yang luas melalui satelit Sentinel-2. Citra satelit yang diperoleh nantinya akan diolah oleh machine learning untuk memprediksi penyebaran api. Hasil literatur yang telah dilakukan diperoleh bahwa Ground Water Level (GWL), kematangan gambut, suhu, curah hujan dan kelembaban, serta kerapatan vegetasi dapat diidentifikasi melalui perhitungan indeks. Indeks yang digunakan diantaranya indeks Differenced Normalized Difference Vegetation Index (dNDVI) dan Normalized Difference Water Index (NDWI) yang diolah dengan algoritma machine learning metode Random Forest memilki akurasi mencapai 96%.
Klasifikasi Jenis dan Sebaran Sedimen Menggunakan Data Multibeam Echosounder Multi-Temporal di Alur Pelayaran Barat dan Timur Surabaya Fadilla Ivana Ayuningtyas; Bambang Kun Cahyono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.62741

Abstract

Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya merupakan salah satu pelabuhan utama di Indonesia yang memiliki peran penting dalam transportasi laut Indonesia. Survei batimetri rutin diperlukan untuk mengidentifikasi kedalaman alur akses pelabuhan dan kondisi sedimentasi yang terjadi. Kondisi sedimen dapat dikarakterisasi berdasarkan sifat alaminya: ukuran butir, berat jenis, kecepatan jatuh, komposisi, porositas, bentuk, dll. Kondisi sedimen juga dapat dikarakterisasi berdasarkan nilai hamburan balik sonar, menggunakan instrumen Multibeam Echosounder (MBES) . Data mentah nilai hamburan balik kemudian dikoreksi dengan mengadopsi persamaan regangan kontras linier ke kisaran tertentu. Data masukan penelitian ini diukur menggunakan ODOM MB2 dengan instrumen Applanix oleh The Surabaya Navigational District (DISNAV) pada bulan Februari 2019 (Lokasi 2) dan Oktober 2018 (Lokasi 1) untuk alur akses barat Surabaya (APBS) dan Agustus 2017 ( Lokasi 3) untuk jalur akses timur Surabaya (APTS). Uji kualitas data batimetri dilakukan dengan mengikuti IHO S-44 2008 untuk spesifikasi pesanan khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data batimetri memiliki akurasi yang baik pada lokasi 1, 2, dan 3 dengan nilai 0,0862; 0,1317; dan 0,1072. Hubungan antara tipe sedimen dan hamburan balik menunjukkan bahwa tipe sedimen pasir memberikan hamburan balik yang kuat. Semakin kecil nilai hamburan balik maka jenis sedimennya semakin lunak. Klasifikasi di APBS dan APTS menunjukkan bahwa di APBS terdiri dari empat jenis sedimen (lempung, lanau lempung, lanau berpasir, dan pasir) sedangkan di APTS hanya terdapat tiga jenis sedimen (lanau lempung, lanau berpasir, dan pasir).
Pemodelan 3D Lapisan Dasar Laut Dan Identifikasi Ketebalan Sedimen Berdasarkan Kombinasi Data Pengukuran Sub-Bottom Profiler Dan Single Beam Echosounder (Studi Kasus: Alur Akses Timur Surabaya) Windy Hapsari; Bambang Kun Cahyono
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.63756

Abstract

Pelabuhan merupakan salah satu fasilitas umum yang memiliki peran penting dalam keselamatan navigasi pelayaran. Shipping yang aman harus didukung dengan pemantauan dan pemeliharaan secara berkala untuk mendapatkan informasi terkini tentang kedalaman, dasar laut, dan sedimentasi. Jika sedimentasi terakumulasi secara terus menerus dalam waktu singkat di alur akses (jalur pelayaran), maka dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan kapal. Kajian ini mencoba memetakan dan menganalisis kondisi batimetri dan sedimentasi untuk mendukung pemantauan dan pemeliharaan rutin alur akses Timur Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei akustik berdasarkan data pengukuran Sub-Bottom Profiler (SBP) dan Single Beam Echosounder (SBES). Data yang diperoleh kemudian dikoreksi oleh Sound Velocity Profiler (SVP), data pasang surut, dan draft transduser. Kualitas data kemudian diuji berdasarkan IHO SP-44 2008 dan uji t-studentized dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil dari penelitian ini adalah model 3 dimensi, profil kedalaman, ketebalan, dan volume lapisan sedimen dasar laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur akses Timur Surabaya memiliki empat lapisan dasar laut yaitu permukaan dan tiga lapisan sedimen di bawahnya. Kedalaman lapisan bervariasi antara 3 m sampai 16,8 m. Kualitas data kedalaman lapisan atas dikontrol oleh IHO S-44 2008 dengan nilai uji hitung 0,509 (nilai toleransi ± 0,509), sedangkan kualitas data SBP (diukur menggunakan t-studentized uji) mendapatkan nilai hitung sebesar -1,287 dengan toleransi ± 1,96. Artinya kualitas datanya bagus. Berdasarkan model 3d, rata-rata ketebalan lapisan secara berurutan adalah 5,84 m, 1,072 m, 0,758 m, dan 6.355 m, sedangkan total volume sedimen adalah 24.894.422,949 m3.
Pemetaan Transaksi Jual Beli Tanah Tahun 2015, 2017, dan 2019 di Kabupaten Sleman Rossa Purnama Dewi; Djurdjani Djurdjani
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.65848

Abstract

Kabupaten Sleman merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi DIY memiliki luas  574,82    km2, jumlah penduduk 1,075 juta jiwa (hasil registrasi) dan pertambahan penduduk sekitar 1,12% per tahun berdasar Kabupaten Sleman dalam angka tahnun 2020. Bertambahnya jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan tanah sebagai ruang untuk usaha maupun papan yang selanjutnya berpengaruh terhadap tingkat transaksi jual beli tanah. Peta transaksi jual beli tanah yang berisi distribusi dan frekuensi transaksi jual beli serta harga pasar tanah akan dibutuhkan baik oleh pemerintah mapun investor dalam menentukan kebijakan dalam rangka memenuhi kebutuhan ruang bagi penduduk Sleman dan menganalisis arah pertumbuhan wilayah. Tulisan ini akan menyajikan dan mengevaluasi transaksi jual beli tanah di daerah Sleman untuk tahun 2015, 2017 dan 2019. Data transaksi diperoleh dari laporan PPAT tiap bulan kepada Kantor BPN Kabupaten Sleman. Analisis dilakukan dengan metode analisis deskriptif berdasar kecenderungan perubahan nilai, distribusi transaksi dan kesesuaian terhadap RTRW. Hasil yang diperoleh adalah bahwa dari tahun ke tahun jumlah transaksi jual beli tanah cenderung naik. Dari aspek luas tanah, transaksi terbesar terjadi pada tanah yang memiliki luas <200m dengan lokasi yang mendekati wilayah Kota Yogyakarta. Sebagian lokasi tanah yang dijual belikan sebgaian besar sesuai dengan RTRW Kabupaten Sleman tahun 2011-2031.
Pemanfaatan Persistent Scatterer Interferometry Synthetic Aperture Radar (PSInSAR) Untuk Mengidentifikasi Laju Deformasi Permukaan di Lapangan Panas Bumi Ulubelu I Gede Boy Darmawan; Karyanto Karyanto
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.66896

Abstract

Lapangan panas bumi Ulubelu telah diekstraksi sejak tahun 2012 dengan menghasilkan 2 x 55 MW dari PLTP unit 1 & 2 dan meningkat menjadi 4 x 55 MW sejak tahun 2016 dengan beroperasinya unit 3 dan unit 4. Peningkatan eksploitasi energi panas bumi di Ulubelu berpotensi menimbulkan perubahan kondisi geologi dan lingkungan yang salah satunya adalah subsiden. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi laju deformasi permukaan memanfaatkan metode Persistent Scatterer Interferometry Synthetic Aperture Radar (PSInSAR) di lapangan panas bumi Ulubelu. Sebanyak 49 data Sentinel-1 periode Oktober 2014 hingga Maret 2020 dengan mode descending telah diolah dan dianalisis menggunakan tiga software utama yaitu SNAP, StaMPS dan StaMPS-Visualizer. Pembentukan interferogram pada setiap pasangan data (image pair) antara master dengan seluruh slave dilakukan menggunakan SNAP. Seluruh data interferogram kemudian diexport sebagai input data StaMPS untuk mendapatkan nilai piksel yang memiliki koherensi terbaik dan persistent. Hasil pengolahan menunjukkan laju deformasi per titik persistent scatterer (PS) berkisar antara -7,3 hingga +7,5 mm/tahun relatif pada arah Line of Sight (LOS) tanpa validasi lapangan. Pola deformasi berupa penurunan muka tanah berada di sekitar area eksploitasi panas bumi, sedangkan kenaikan muka tanah (uplift) terdeteksi di luar area eksploitasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesamaan laju deformasi pada PLTP unit 1 & 2 dengan PLTP unit 3 & 4 mengindikasikan proses subsiden di area Ulubelu didominasi oleh proses ekstraksi fluida panas bumi. Temuan ini juga memperkuat penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa proses subsiden di area panas bumi Ulubelu disebabkan oleh pemadatan batuan alterasi.
Analisis Pengaruh Datum Vertikal Akibat Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Menjadi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Terhadap Penetapan Batas Wilayah Laut Luhur Moekti Prayogo; Sumaryo Sumaryo
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.67794

Abstract

Di Indonesia, aturan mengenai batas wilayah laut diatur oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan kemudian digantikan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 karena sudah tidak relevan dengan kebijakan dan penyelenggaraan pemerintah. Perbedaan kedua undang-undang tersebut salah satunya mengatur mengenai garis pantai yang digunakan sebagai acuan penarikan garis batas. Pada undang-undang yang lama, acuan penarikan garis batas berdasarkan air surut terendah (Low Water), sedangkan pada aturan perundang-undangan yang baru mengacu pada batas pasang air laut tertinggi (High Water). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh datum vertikal sebagai garis dasar dalam penegasan batas wilayah laut akibat perubahan Undang-Undang. Penelitian ini dibatasi dengan studi literatur pada dokumen diantaranya Undang-Undang dan dokumen terkait. Analisis spasial dilakukan untuk mengetahui pengaruh kelerengan terhadap pergeseran garis dasar di lapangan dan di peta. Dari kajian dan analisis spasial yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pergeseran LW ke HW dengan beberapa pendekatan kemiringan wilayah menunjukkan pergeseran-pergeseran tersebut hampir tidak terlihat atau bisa dikatakan tidak signifikan untuk dasar mengukur limit batas maritim. Penentuan garis dasar LW ke HW akan mempengaruhi luas pengelolaan wilayah laut, garis dasar dan titik dasar. Semakin rendah garis dasar maka semakin sempit wilayah pengelolaan laut. Sebaliknya, semakin tinggi garis dasar maka semakin luas wilayah pengelolaan laut. Letak garis dasar LW dan HW akan berdampak pada lokasi SDA khususnya pada wilayah yang berdampingan dekat dengan wilayah lain. Luas wilayah mempengaruhi besaran DBH pada suatu wilayah yang ditentukan dari garis dasar. 
Optimasi Geometri Jaring GNSS dan RTS untuk Pemantauan Deformasi Kontinu Saluran Induk Kalibawang di Jembatan Talang Bowong, Kabupaten Kulon Progo Ghea Ayunda Siami; Bilal Ma&#039;ruf; Dedi Atunggal
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.67795

Abstract

Kegiatan rehabilitasi dan pemeliharaan di Jembatan Talang Bowong membutuhkan pemantauan gerakan massa tanah secara real-time dan kontinu. Penelitian ini berusaha mendesain jaring kontrol pemantauan gerakan massa tanah secara geometrik dengan data simulasi yang diturunkan dari data orthophoto sebagai langkah awal untuk pembangunan jaring kontrol pemantauan. Data simulasi yang didapatkan berupa koordinat distribusi titik kontrol kemudian diturunkan menjadi vektor baseline. Nilai ketelitian pada penelitian ini didapatkan dari alat yang digunakan pada saat pemantauan berlangsung yaitu GNSS Leica seri GM30 dan RTS Leica seri TS16 1”. Jaring kontrol pemantauan didesain berdasarkan integrasi antara GNSS dan RTS. Pembuatan desain jaring kontrol GNSS dilakukan dengan membentuk jaring dengan baseline yang sederhana hingga kompleks. Sedangkan, pembuatan desain jaring kontrol RTS dilakukan berdasarkan variasi jarak antar titik prisma target. Nilai matriks varian-kovarian pengamatan dari estimasi hitung kuadrat terkecil digunakan untuk pemilihan desain geometri jaring terbaik berdasarkan hasil perhitungan kriteria presisi yang terdiri atas kriteria A-Optimality, D-Optimality, E-Optimality, S-Optimality, dan I-Optimality. Nilai matriks kofaktor residu digunakan untuk pemilihan desain geometri jaring terbaik berdasarkan kriteria kehandalan yang terdiri atas aspek redundansi individu, kehandalan dalam, dan kehandalan luar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain jaring GNSS yang paling optimal yaitu jaring DG04. Hal ini ditunjukkan dari nilai kriteria presisi dan kehandalan luar paling kecil serta nilai kriteria redundansi individu paling besar. Desain jaring RTS yang paling optimal yaitu jaring rts01. Hal ini ditunjukkan dari nilai kriteria presisi, kehandalan dalam, dan kehandalan luar paling kecil serta nilai kriteria redundansi individu paling besar.
Analisis Perbandingan Ketelitian Model 3D Menggunakan Lensa Normal dan Lensa Fisheye Adi Nurcahyo; Djurdjani Djurdjani
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.67869

Abstract

Dalam pemodelan 3D, salah satu metode yang umum digunakan adalah close range photogrammetry (CRP). Pada umumnya, metode CRP menggunakan lensa normal akibat distorsinya yang tidak terlalu besar. Lensa fisheye memiliki sudut pandang yang lebih besar dibandingkan lensa normal sehingga dapat mengurangi jumlah foto namun memiliki distorsi yang besar sehingga dapat mempengaruhi ketelitian model 3D yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian ketelitian geometrik antara lensa normal dan lensa fisheye. Penelitian dilakukan di Kawasan Candi Ratu Boko. Data yang digunakan adalah foto objek candi, 10 titik GCP dan 10 titik ICP. Hasil model 3D lensa normal dan lensa fisheye sudah dapat memvisualisasikan objek dengan baik dari tingkat kedetilan dari struktur yang dihasilkan. Uji geometrik dilakukan dengan membandingkan jarak pada kedua model dengan jarak di lapangan serta ukuran ICP pada kedua model dengan ukuran ICP hasil akuisisi mengunakan total station reflectorless. Kedua uji tersebut menggunakan uji -t dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji ketelitian jarak dan koordinat ICP menghasilkan t hitung < tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa ketelitian model 3D lensa fisheye sama dengan ketelitian model 3D lensa normal. Lensa fisheye dapat menggantikan lensa normal untuk pemodelan 3D dalam kondisi lingkungan yang sempit dan terbatas. Distorsi lensa yang besar pada lensa fisheye tidak mempengaruhi ketelitian objek secara signifikan apabila dilakukan proses kalibrasi kamera.
Identifikasi Genangan Banjir di Wilayah DKI Jakarta Menggunakan Citra Satelit Sentinel-1 Ana Mardhiyana Alawiyah; Harintaka Harintaka
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 4, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.68353

Abstract

Provinsi DKI Jakarta merupakan wilayah dengan karakteristik topografi yang berada pada kemiringan lereng relatif landai dan terletak pada dataran rendah. Hal ini menyebabkan wilayah Jakarta menjadi semakin rentan tergenang air dan banjir pada musim hujan. Pada awal tahun 2020, Jakarta mengalami banjir yang diakibatkan oleh hujan lebat yang turun sejak 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020. Untuk keperluan antisipasi dan mitigasi bencana terkait banjir tersebut diperlukan ketersediaan data tentang luas genangan banjir dan letaknya secara cepat. Salah satu teknologi yang potensial untuk diterapkan adalah menggunakan citra satelit Sentinel-1. Berdasarkan kondisi tersebut, telah dilakukan kajian untuk mendeteksi daerah terdampak genangan banjir dari citra satelit Sentinel-1. Adapun teknik yang digunakan adalah metode change detection dan thresholding. Pada kajian ini digunakan citra Sentinel-1 perekaman tahun 2019 dan 2020, DEMNAS, Global Surface Water dan batas administrasi wilayah DKI Jakarta. Adapun tahapan pelaksanaan kajian mencakup proses change detection dengan ratio image dari dua citra Sentinel-1 GRD sebelum dan saat banjir, perhitungan nilai optimum threshold untuk menentukan banjir dan tidak banjir, masking banjir, dan perhitungan luas genangan. Berdasarkan hasil kajian diperoleh luas total daerah yang terkena banjir sekitar 1.156,84 hektar, sedangkan luas area banjir dari data Pemprov DKI sekitar 12.896,35 hektar. Hasil validasi menggunakan data Pemprov DKI dengan membandingan antara citra Sentinel-1 tahun 2019 dan 2020, diperoleh hasil 61 lokasi atau sekitar 28,96% termasuk ke dalam hasil interpretasi kelas banjir dan terdapat 157 lokasi atau sekitar 71,04% termasuk ke dalam hasil interpretasi kelas tidak banjir.

Page 1 of 1 | Total Record : 9