cover
Contact Name
Dr. Masagus Ahmad Azizi, ST, MT
Contact Email
masagus.azizi@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
masagus.azizi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Komplek Rukan Crown Palace Blok D No. 9 Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH No. 231 - Tebet Jakarta Selatan 12870 email: jurnal.perhapi@gmail.com
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
INDONESIAN MINING PROFESSIONALS JOURNAL
ISSN : 27148823     EISSN : 27159035     DOI : https://doi.org/10.36986/impj.v1i1.6
Core Subject : Engineering,
This Journal is published periodically two times annually : April and October, containing papers of research and development for mineral and coal, including Mining Exploration, Surface Mine System and Operation, Underground Mine System and Operation, Geotechnical, Mine Safety and Mine Environment, Mine Management, Mine Ventilation, Mineral and Coal Economics, Coal and Mineral Processing and Smelting, Metallurgy, Coal and Mineral Trading, Mining Law and Policy, Mining CSR and Community Development, and Technology and Innovation in Mining. The editors only accept relevant papers with the substance of this publication.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2022): November" : 10 Documents clear
MEMBANGUN TOOL PREDIKSI YANG KOMPREHENSIF GUNA MENINGKATKAN AKURASI PRODUK AKHIR PENCAMPURAN KUALITAS BATUBARA MENERAPKAN PERBANDINGAN KOLABORATIF PADA ALGORITMA REGRESI HINGGA NEURAL NET Yoga P. Adiwiguna; Hario Purbaseno; Hadi Syuhara; Freddy J. Pribadi; Akhmad Sarbani; Almira D. Kusuma
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.79

Abstract

Prediksi nilai akhir pencampuran kualitas batubara sebagian besar ditentukan hanya dengan menghitung nilai rata-rata terbobot antara kualitas dan kuantitas batubara dari masing-masing konstituen, teknik perhitungan ini mengabaikan kondisi dimana variasi hasil akhir tidak hanya ditentukan oleh faktor material tetapi juga dipengaruhi oleh faktor manusia, lingkungan, mesin, dan faktor metode, yang masing-masing berkontribusi terhadap total variasi. Kami mencatat bahwa masih ada beberapa kasus di mana perbedaan antara nilai prediksi dan nilai aktual berada di luar ketetapan ISO (± 71 kcal/kg), yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar tidak hanya dari segi rangkaian operasional tetapi juga berdampak pada aspek keuangan karena menyebabkan munculnya berbagai biaya tambahan. Kami melihat bahwa hubungan antara nilai kalori akhir hasil analisa laboratorium dan kontributor variansnya dapat didekati sebagai masalah regresi. Memanfaatkan beberapa algoritma regresi akan membantu menghasilkan metode prediksi yang lebih baik daripada metode rata-rata terbobot sederhana. Dengan ribuan kumpulan data dan 60 fitur independen, kami secara bertahap menerapkan algoritma regresi sederhana seperti regresi linier hingga algoritma regresi lanjutan seperti Random Forest Regressor, XGBoost Regressor, dan Artificial Neural Networks (ANN). Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pada setiap implementasi algoritma regresi lanjutan diterapkan metode hyperparameter tuning dengan iterasi hingga 1000 kali. Mempertimbangkan metrik evaluasi regresi, validasi model terbaik ditentukan dari nilai Mean Absolute Error (MAE) dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) terkecil. Langkah terakhir adalah memilih dan menyimpan model yang terbaik sebagai pickle string untuk membuat Django application, kemudian agar memungkinkan aksesibilitas yang luas, dilakukan deployment aplikasi di Heroku. Dengan melibatkan kontributor variasi tambahan, yaitu faktor lingkungan (curah hujan & jam hujan), faktor metode (dasar pemilihan analisis laboratorium), dan faktor material (water spray dan dust suppressant treatment), kami memperoleh metrik evaluasi regresi terbaik saat menggunakan XGBoost di mana nilai MAE (37,5) dan MAPE (0.0082).Bahkan dengan lebih banyak kontributor varians, model prediksi ini dapat menawarkan process capability yang lebih baik dan rata-rata hasil yang lebih baik juga daripada kontributor varians yang lebih sedikit. Upaya preventif untuk meminimalkan kasus out-of-specification karena akurasi dapat dilakukan sedini mungkin, sehingga dapat meminimalkan kerugian secara operasional (Divert Barge, Rehandling Stock) dan secara finansial (Retest Document, Buyer Penalty). Aplikasi kolaboratif ini nantinya akan diterapkan oleh tim lintas fungsi (Coal Quality, Coal Mining Operation, Coal Dispatcher, Coal Processing Plant, Coal Laboratory) di seluruh rantai suplai batubara secara harian.
Zonasi Rawan Gerakan Massa Berbasis GIS dan Integrasi Aplikasi Manajemen Bencana Berbasis Crowdsourcing di Area Pertambangan Emas Pongkor, Jawa Barat Bagaskara Widi Nugroho; Deden Rojudin; Muhammad Chaidir Harist; Hafiidh Alfian Affandi
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.72

Abstract

PT Aneka Tambang UBPE Pongkor beroperasi pada kondisi batuan vulkaniklastik berumur tersier-kuarter dan berada pada area morfologi perbukitan vulkano-tektonik dan perbukitan struktur (Milesi dkk, 1999). Kondisi ini menyebabkan UBPE Pongkor harus beradaptasi dengan banyaknya potensi bencana, salah satunya adalah bencana gerakan massa yang termasuk dalam bahaya geologi. Sebanyak 58 kejadian gerakan massa meliputi longsor, amblesan, jatuhan batuan, dan rayapan telah terjadi sejak tahun 2017 – 2022, beberapa dari kejadian tersebut menyebabkan terganggunya operasional pertambangan. Hal ini disebabkan karena minimnya informasi area rawan dan prioritas pemantauan potensi gerakan massa. UBPE Pongkor menyusun peta prioritas pemantauan bencana gerakan massa berdasarkan enam faktor pengontrol dan pemicu gerakan massa yaitu kemiringan lereng, susunan batuan, jenis tanah, jarak dari struktur geologi, tata guna lahan, dan jarak dari jalan utama. Metode weighted-overlay diterapkan dalam analisis penentuan peta rawan gerakan massa menggunakan ArcGIS Pro 2021. Hasil dari analisis didapatkan seluas 1463136,42 m2 (41%) adalah area kerawanan tinggi dan menjadi prioritas pemantauan tinggi,; 1916366,08 m2 (54%) adalah area kerawanan sedang dan menjadi prioritas pemantauan sedang, dan 174618,32 m2 (5%) adalah area kerawanan rendah dan menjadi prioritas pemantauan rendah. Dalam hal mengurangi risiko kerugian yang ditimbulkan dari bahaya geologi, CROWDIST (Sistem Manajemen Bencana Crowdsourcing) diterapkan sebagai sarana untuk melaporkan bahaya geologi secara real-time melalui satu aplikasi ponsel yang langsung terhubung dengan dashboard pemantauan yang dikontrol langsung oleh pihak berwenang. Dashboard ini juga membantu pihak berwenang dalam menindaklanjuti kejadian bahaya geologi di lapangan secara cepat dan membantu memberikan informasi curah hujan yang menjadi pemicu utama gerakan tanah.
ANALISIS PEMBENTUKAN TANAH DARI BATUAN PENUTUP OVERBURDEN PADA AREA REKLAMASI PT BORNEO INDOBARA GUNA MENDUKUNG KEBERHASILAN REKLAMASI SECARA BERKELANJUTAN Yudha HES; Kinanto Prabu; Vina Delya
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.80

Abstract

PT Borneo Indobara telah melakukan kegiatan reklamasi dan revegetasi sejak 2009 di area pit Batulaki, Sebamban, Kusan dan Girimulya. Permasalahan yang dihadapi adalah kegiatan penimbunan material batuan penutup (overburden) di area rencana reklamasi memiliki tantangan keterbatasan ketersediaan material tanah pucuk (topsoil) yang akan ditimbun sebagai media tanam yang akan digunakan untuk kegiatan revegetasi, sehingga membutuhkan material overburden untuk menjadi tanah guna mendukung pertumbuhan tanaman di area reklamasi PT Borneo Indobara. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembentukan tanah pada material overburden di area reklamasi tahun tanam 2013, 2015 dan 2018, guna mendukung keberhasilan reklamasi secara berkelanjutan di PT Borneo Indobara. Bagaimana hubungan antara umur tanam, pertumbuhan tanaman, morfologi serta kondisi cuaca di area penelitian dapat mempengaruhi proses pembentukan tanah. Proses pembentukan tanah pada material overburden membutuhkan bantuan material organic dari serasah . Serasah merupakan lapisan tanah bagian atas yang terdiri dari bagian tumbuhan yang telah mati seperti guguran daun, ranting dan cabang, bunga dan buah, kulit kayu serta bagian lainnya, yang menyebar di permukaan tanah di bawah hutan sebelum bahan tersebut mengalami dekomposisi (Departemen Kehutanan, 1997).Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan membandingan data parit uji dari beberapa lokasi sampel tanah di area reklamasi, kualitas tanah pada kedalaman tertentu di setiap parit uji, selain itu juga melakukan perhitungan biomassa pada daerah penelitian.  Korelasi antara beberapa variable disebut diatas dapat memberikan input bagi perusaahaan untuk dapat mempercepat proses pembentukan tanah agar keberhasilan reklamasi dapat dapat dicapai sesuai target. Hasil penelitian menunjukkan proses pembentukan tanah di batuan penutup overburden terlihat pada parit uji tahun tanam 2013, indikatornya adalah adanya akar yang sudah mampu menembus lapisan overburden pada kedalaman 40 – 60 cm. Hubungan antara tahun tanam dengan keasaman tanah (pH tanah) korelasi (a=0.001, r2 =0.6819) Hubungan tahun tanam dengan tinggi tanaman (cm) juga ada hubungan (a=0.001, r =0.677).  Hubungan dengan diameter tanaman (a=0.001, r =0.697) artinya memiliki tingkatan hubungan yang kuat. Area tanam 2013, 2015 dan 2018  memiliki bulan basah rata-rata 10 – 10,2 bulan tiap tahunnya, dengan curah hujan rata-rata  218 – 235 mm, sehingga masuk kategori sangat basah.
REAL TIME HAUL ROAD CONDITION MONITORING STUDI PT KALTIM PRIMA COAL Bustanil Arifin; Ilham Mubaroq
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.73

Abstract

Kondisi jalan tambang selalu dilakukan pemeliharaan agar operasional pengangkutan material tambang dapat berjalan optimal dan aman. Kondisi jalan tambang yang buruk dapat menurunkan produktifitas alat, menaikan biaya operasi dan pemeliharaan pada haul truck, serta menjadi potensi bahaya. Proses pemantauan kondisi jalan tambang umumnya dilakukan secara manual, melalui inspeksi fisik langsung di lapangan. Teknologi Real-time Condition Monitoring (RTCM) mampu memantau kondisi operasi truk angkut secara real-time dari jauh, termasuk parameter yang erat hubungannya dengan kondisi jalan seperti tekanan suspensi. Tekanan suspensi memiliki standar yang digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan kondisi operasi haul truck, melalui pengukuran nilai Rack, Pitch, dan Bias. Sistem RTCM dikembangkan agar mampu memantau nilai tersebut secara real-time dan memberikan notifikasi ketika terjadi nilai yang melebihi ambang batas, menandakan kondisi kelebihan beban pada rangka haul truck, yang umumnya disebabkan kondisi jalan yang buruk. Tim Condition Monitoring dapat segera memverifikasi kondisi tersebut untuk kemudian menyampaikannya ke tim pemeliharaan jalan mengenai kemungkinan segmen jalan yang kondisinya buruk. Pemantauan kondisi jalan secara remote dan real-time membantu mengetahui kondisi dan perbaikan jalan yang lebih cepat, yang membantu upaya optimalisasi operasional pertambangan.
ANALISIS RESIKO KERUNTUHAN LERENG MENGGUNAKAN DISCONTINUITY MAPPING-REMOTE SENSING DAN ANALISIS KINEMATIK DI PIT C2HS, SAMBARATA MINE OPERATION, PT BERAU COAL Yuzar Chairil Firmansyah; Dinefa Yuslima Syaumi; Lukman Hakim
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.81

Abstract

Kestabilan lereng merupakan salah satu kunci dalam kegiatan penambangan karena berkaitan secara langsung dengan kegiatan operasional serta keselamatan aktivitas tambang. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng seperti geometri lereng, karakteristik fisik dan mekanik material lereng, air, struktur, dan beban seismik (Irwandy, 2016).Pit C2HS adalah salah satu pit yang berada di wilayah operasional site Sambarata Mine Operation (SMO). Berdasarkan Peta Geologi Regional lembar Tanjung Redeb, Sambarata tersusun atas Formasi Berau dan Formasi Steril. Area ini juga menjadi tempat bertemunya beberapa struktur geologi, seperti Sesar Sambarata, Sesar Birang, Antiklin Sentosa, dan Antiklin Rantau Panjang. Kondisi ini menjadikan Sambarata sebagai area struktur kompleks dalam kegiatan penambangan di PT Berau Coal.Pada zona struktur kompleks, diperlukan kinematic analysis untuk mengetahui potensi longsoran yang dipicu oleh struktur. Namun demikian, tidak semua area bisa dijangkau dan aman bagi manusia. Diperlukan alat dan metode khusus untuk dapat mengambil dan memetakan area yang tidak terjangkau tersebut.Metode Discontinuity Mapping-Remote Sensing menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) digunakan untuk mengambil data diskontinuitas. Metode ini memungkinkan pengambilan data diskontinuitas yang lebih banyak dengan cara yang lebih aman. Data yang diperoleh dikelompokkan dalam beberapa zona dan dikorelasikan dengan fracture frequency dari data pemboran. Data ini diolah dan digunakan untuk melakukan analisis kinematik. Potensi longsoran yang disebabkan oleh struktur tersebut dipetakan dalam bentuk hazard map yang menggambarkan resiko keruntuhan lereng di masing-masing zona.
ANALISIS ALTERNATIF PEMILIHAN BUCKET TOOTH UNIT EXCAVATOR HITACHI EX3600 DI PT. KALTIM PRIMA COAL (KPC) DENGAN PENDEKATAN LIFE CYCLE COST Hari Sasongko Lelono
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.76

Abstract

Salah satu komponen penting pada unit excavator adalah bucket tooth yang digunakan sebagai penggali batuan penutup. Bucket tooth terpasang pada bucket excavator dengan desain tertentu agar dapat melakukan penetrasi pada batuan penutup, sehingga excavator dapat melakukan penggalian. Unit excavator yang digunakan di KPC diantaranya EX3600 dengan kapasitas bucket 18 m3. Unit ini menjadi salah satu yang terbesar di KPC dan tingkat penggunaan yang tinggi. Oleh karena itu, komponen bucket tooth dengan seri Posilok S95 pada EX3600 menjadi lebih sering dilakukan penggantian. Berdasarkan data tahun 2021, biaya untuk penggantian bucket tooth seri Posilok mencapai USD 262,256.24. Dengan adanya biaya yang cukup tinggi, perlu adanya alternatif seri bucket tooth dengan kehandalan yang tinggi, biaya kompetitif dan pemasangan yang mudah di lapangan. Pada tahun 2022, alternatif seri untuk bucket tooth EX3600 telah tersedia. Seri Nemysis N95 adalah alternatif bucket tooth yang juga cocok digunakan unit EX3600 di KPC. Seri Posilok merupakan seri bucket tooth lama yang masih menggunakan desain lock pin, sehingga perlu adanya alternatif desain terbaru tanpa lock pin. Dengan metode perhitungan life cycle cost, pengambilan data-data harga dan umur pemakaian, maka didapat bucket tooth seri Nemysis N95 lebih kompetitif dengan perbedaan potensial margin 2.00 $/hour dibanding seri Posilok. 
PREDIKSI JARAK LEMPARAN FLYROCK DENGAN METODE ANALISIS DIMENSI SERTA RICHARD DAN MOORE AKIBAT KEGIATAN PELEDAKAN PADA TAMBANG BIJIH EMAS Dea Al Zhahra; Bagus Wiyono; Anton Sudiyanto
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.74

Abstract

Peledakan merupakan salah satu metode yang digunakan untuk membongkar batuan. Kegiatan tersebut mengakibatkan timbulnya efek peledakan, salah satunya yaitu flyrock. Flyrock adalah fragmentasi batuan yang terlempar akibat hasil peledakan dan apabila terlempar melewati batas aman yang ditentukan maka dapat menimbulkan kerusakan bagi alat ataupun bangunan sekitar dan juga cedera bagi manusia. Oleh karena itu, diperlukan perhitungan dengan berorientasi pada parameter yang dapat dikontrol berupa geometri peledakan untuk memprediksi jarak lemparan flyrock. Penelitian dilakukan dengan mengukur jarak lemparan maksimum flyrock secara aktual di lapangan dan menghitung lemparan maksimum flyrock secara teoritis. Pengamatan dilakukan sebanyak 28 kali dan didapatkan jarak maksimum lemparan flyrock secara aktual adalah 35,24 m. Prediksi jarak maksimum lemparan flyrock dilakukan dengan metode Analisis Dimensi serta Richard dan Moore (faceburst dan cratering), dari metode tersebut didapatkan bahwa hasil metode Analisis Dimensi memiliki kesalahan relatif terkecil yaitu 6,0002% sedangkan penyimpangannya sebesar 2,1505 m. Sehingga metode Analisis Dimensi selanjutnya digunakan untuk menghitung prediksi jarak maksimum lemparan flyrock pada lokasi penelitian dengan persamaan  yang didapat yaitu Fd  = 0,9999(B11,4750S0,0004St-1,9149H5,8037D-0,3079(P/Q)4,6855).
KOMPARASI PENGAMBILAN DATA TOPOGRAFI STOCKPILE DI ROM MENGGUNAKAN WAHANA UNMANNED AERIAL VEHICLE DAN GPS RTK TIPE GEODETIC Ryan Nugraha
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.77

Abstract

Perkembangan teknologi di era globalisasi saat ini tidak bisa dipungkiri berkembang sangat pesat.Terutama di sektor energi (mineral, batu bara, minyak, dan gas bumi). Salah satu komparasi pengambilan data stockpile di ROM yang digunakan PT Arutmin Indonesia adalah menggunakan wahana unmanned aerial vehicle dan GPS RTK tipe Geodetic.  Pengambilan data topografi pada dasar prinsipnya adalah kegiatan menggambarkan dan memetakan bentuk/objek permukaan Bumi. Banyak metode dan wahana/peralatan yang digunakan dalam pengambilan data topografi, diantaranya: metode terestris (survey secara langsung) remote sensing (penginderaan jarak jauh), dan batimetri (survey di bawah air). Dalam makalah ini, akan mengkomparasikan dua metode pengambilan data topografi di ROM menggunakan wahana UAV tipe eBee fixed wing (metode remote sensing) dan GPS RTK tipe geodetik (metode terestris). Kegiatan ini dilakukan di salah satu area ROM (Run of Mine)/tempat penyimpanan batu bara sementara setelah ditambang dari Pit yang  bertujuan untuk menggambarkan topografi permukaan dan menghitung volume batu bara.Dalam penggunaannya, dua metode dan wahana ini berbeda. Metode remote sensing merupakan pengambilan data topografi menggunakan wahana tanpa kontak secara langsung dengan objek dan daerah yang akan diambil datanya. UAV tipe eBee fixed wing dioperasikan oleh operator (manusia). Sebelum UAV diterbangkan, dibuat perencanaan jalur terbang di area yang akan di survey terlebih dahulu (dalam hal ini area ROM). Selanjutnya UAV di instalasi sesuai dengan kebutuhan area yang akan di survey dan UAV dapat diterbangkan mengambil data topografi batu bara (stockpile). Metode terestris kebalikan dari metode remote sensing, merupakan pengambilan data topografi  menggunakan wahana yang kontak secara langsung dengan objek dan daerah yang akan diambil datanya. Metode ini melibatkan manusia secara langsung saat mengoperasikan wahana/peralatan GPS RTK tipe geodetik dalam pengambilan data topografi batu bara/stock pile. Kedua metode ini dapat menghitung dan menghasilkan volume stockpile/batu bara di ROM.
IMPLEMENTASI PROGRAM “TAKE-5” UNTUK MENGURANGI POTENSI PENGGALIAN KERAS PADA ALAT GALI MUAT DI PIT BENDILI PT KALTIM PRIMA COAL Fadli Fadli
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.75

Abstract

PT Kaltim Prima Coal (PT KPC) merupakan perusahaan tambang batu bara yang menetapkan  target volume material hasil peledakan hingga 430 juta bcm. Untuk mencapai target produksi tersebut diperlukan sinergi antar lini. Sinergi antar lini akan menghasilkan suatu keseimbangan yang harmonis sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang optimum. Implementasi sinergi antar lini juga diterapkan pada kerjasama tim teknikal dan operasional di Drill & Blast Department PT KPC.Banyak faktor yang menyebabkan penggalian keras pada alat gali muat diantaranya adalah faktor manusia, alat, metode yang dipakai, serta faktor material. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah eksperimental, dimulai dengan melakukan langkah studi literatur, pengambilan data dan analisa data untuk menemukan solusi penyelesaian masalah. Suatu teknik manajemen operasional yang digunakan dalam menggkoordinasikan kegiatan peledakan yang melibatkan beberapa stakeholder dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi kegiatan penambangan dibuat dan disosialisasikan ke semua lini. Program ini disebut “TAKE-5”, program ini merupakan perwujudan sinergi antar lini yaitu tim teknikal dan operasional untuk menghindari potensi penggalian keras pada alat gali muat. Contoh pelaksanan Program “TAKE-5”, yaitu: pembuatan rencana pengeboran dan peledakan sudah mengikuti kaidah Kuz-Ram oleh tim Teknikal, memastikan persiapan drill pad sesuai dengan standard oleh tim Operasional Pit, memastikan batas pengeboran pada lubang terakhir tersambung dengan area/material yang sudah diledakkan sebelumnya oleh tim Pengeboran serta memastikan jumlah bahan peledak yang diisi ke dalam lubang ledak sesuai dengan rencana isian bahan peledak oleh tim Peledakan. Setelah program “TAKE-5” diimplementasikan, produktivitas alat gali yang beroperasi di area Pit Bendili Prima Sawit  mengalami kenaikan sekitar 11%, yaitu dari 1763 bcm/jam ke 1964 bcm/jam. Hasil dari digging rate alat gali yang beroperasi di area Pit Bendili Prima Sawit sekitar 17% yaitu dari 2551 bcm/jam menjadi 2994 bcm/jam. Hasil ini memberikan dampak positif dari implementasi “TAKE 5” agar dilanjutkan dan dilakukan secara berkesinambungan untuk mengoptimalkan target produksi.
STRATEGIC PLAN PENAMBANGAN BATUBARA PADA BATUAN DENGAN TSS TINGGI DI PIT C1 BLOK 8 PT BERAU COAL Saeful Aziz; Ida Wayan Supriharta; Gregorius Dante; Pandu Zea Ardiansyah; Andi Nugroho; Aprian Krisna Bhakti; Prasetya Heriyan Saputra
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.78

Abstract

Pit C1 Blok 8 Site Binungan Mine Operation Area 2 PT Berau Coal merupakan salah satu area operasional penambangan batubara dengan karakteristik multi-seam, kemiringan lapisan batubara pada interval 12 – 20 derajat, ketebalan lapisan batubara pada interval 0.5 – 7.5 meter, dan variasi ketebalan interburden pada interval 3 – 300 meter. Karakteristik batuan di area Blok 8 terpolarisasi kedalam sifat asam dan nilai total suspended solid yang tinggi. Pit C1E merupakan bagian dari Pit C1 dengan karakteristik batuan dominan bersifat PAF dengan dikelilingi pit dan disposal yang dominan bersifat NAF dengan TSS tinggi. Sistem Dewatering di Pit C1 Bermuara di WMP 41. Selama keberjalanannya kemampuan WMP 41 terkoreksi dengan tingginya TSS pada aliran yang masuk, sehingga diperkirakan pada bulan April 2022 kapasitas WMP 41 akan penuh sehingga diperlukan tambungan sementara dalam rangka normalisasi fungsi. Pit C1E menjadi salah satu opsi untuk dijadikan tampungan sementara selama proses maintenance di WMP 41 berlangsung. Disaat yang sama, Pit C1E masih menyimpan reserve sebesar 250,000 Ton dengan SR 9. Maka dilakukan alignment strategi penambangan untuk dapat mengoptimalkan pengambilan reserve batubara di Pit C1E dengan tetap menjaga baku mutu air yang keluar dari WMP 41. Setelah dilakukan alignment strategi plan penambangan dengan setiap stakeholder terkait, diputuskan Pit C1E terus diupayakan untuk dilakukan penambangan sementara aliran dialihkan menuju area In Pit Dump CM dengan konsekuensi membentuk Embankment sepanjang 600 meter dengan tinggi timbunan 16 meter, sebelum akhirnya daya dukung IPD CM dan WMP 41 mencapai batasnya dan aliran dimasukan ke Pit C1E. Dengan melakukan analisa geoteknik, hidrologi, perencanaan tambang, operasional, safety dan support tekonologi, scenario ini dapat dieksekusi dengan aman dan selamat dengan tetap menjaga baku mutu air serta memperoleh beberapa benefit diantaranya, dapat mengoptimalkan reserve batubara sebesar 90.000 Ton di Pit C1E, menurunkan biaya operasional dengan rekayasa free maintenance WMP 41 sehingga tidak memerlukan rehandling mud sebesar 3,2 million dollar / tahun dan biaya penawasan sebesar 700.000 dollar/tahun. Serta memperoleh keuntungan short distance disposal menuju IPD C1E untuk membuat embankment dengan menurunkan jarak dari 3,72 km menjadi 1,08 km sebanyak 2,6 mio BCM dan dapat menurunkan biaya operational sebesar 2,5 million dollar.

Page 1 of 1 | Total Record : 10