cover
Contact Name
Moh. Zainol Kamal
Contact Email
tafhimilmi@gmail.com
Phone
+6281936427791
Journal Mail Official
tafhimilmi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
Tafhim Al-'Ilmi : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
ISSN : 22524924     EISSN : 25797182     DOI : 10.37459
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Tafhim Al-‘ilmi merupakan jurnal ilmiah dengan terbitan berkala setiap enam bulan yang diterbitkan dengan menggunakan peer review. Jurnal ini bertujuan untuk mempublikasikan hasil telaah pustaka dan penelitian yang telah dilakukan para akademisi dengan bidang kajian pendidikan dan pemikiran keislaman dalam bentuk artikel ilmiah
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016" : 9 Documents clear
Implementasi Otak Kanan Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Maida Maida
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Saat ini dapat disaksikan bersama bahwa otak kanan memiliki porsi yang tidak terlalu diperhatikan perannya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Otak kanan yang memiliki orientasi berfikir kreatif, imajenatif dan lain-lain, tidak terlalu banyak difungsikan sebagai strategi pembelajaran. Padahal, kedua belahan otak ini (otak kiri dan otak kanan) akan lebih berarti kalau mampu dioptimalkan secara bersamaan tanpa harus ada yang dilumpuhknan. Adapun urgensi otak kanan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sebagai berikut: 1) dengan pola pikir otak kanan murid tidak akan selalu bertemu dengan suasana kelas yang monoton. Karena otak kanan adalah otak yang unggul dalam kreatifitas, maka dapat di pastikan dengan pola pikir otak kanan akan selalu ada beberapa ide yang muncul untuk menciptakan sesuatu yang baru. 2) dengan pola pikir otak kanan peserta didik tidak hanya di hantarkan kepada pengetahuan saja. Karena orientasi pola pikir otak kanan kepada domain afektif. Perubahan sikap dan perilaku kepada sesuatu yang lebih baik. Di dalam beberapa buku, penulis menemukan bahwa music (baca: pola pikir otak kanan) bisa mengontrol emosi. Otak kanan memiliki fungsi membangkitkan spiritual. Adapun implementasi otak kanan dalam peningkatan kualitas pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) cerita. 2) melukis angka dan 3) parodil agu.
Mengurai Benang Kusut Kehidupan Perempuan: Studi atas Kehidupan Perempuan Madura Merumuskan Langkah Pemberdayaan Perempuan Abd. Warits
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Perempuan adalah kelompok manusia yang senantiasa tertindas disepanjang sejarahnya.[1] Mereka selalu menjadi korban, sasaran keegoisan laki-laki. Tidak dihormati, bahkan seringkali dilecehkan, dan selamanya dijadikan sebagai golongan kedua, dipinggirkan, dimarjinalkan, dan sangat sulit untuk hidup sejahtera.[2] Sederhananya, bila dihitung, mana lebih banyak antara laki dan perempuan yang menjadi tokoh pendidikan, politik, ekonomi, pejabat, penulis, dan juga sastrawan, pastinya dari beberapa tokoh terpandang tersebut, laki-laki merupakan kalangan yang dominan, sementara perempuan dapat dipastikan hanya ada dalam lingkungan kehidupan keluarga. Padahal, jumlah perempuan lebih banyak dengan laki-laki, lalu kenapa keberadaan mereka tidak “nampak” kepermukaan? Mengapa mereka lebih banyak yang harus “puas” berperan sebagai ibu rumah tangga? Benarkah mereka tidak memiliki otak secerdas laki-laki? Benarkah mereka hanya ditakdirkan sebagai golongan kedua dan tidak pantas menyamai status kaum laki-laki? Dan sederet pertanyaan lain yang menjadi bahan renungan penulis sejak dulu. [1] Telaah lebih jauh pada Alimin Mesra, M.Ag., Peran Perempuan dalam Keluarga, dalam Zubaer Ahmad, M.Ag.,(ed), Membangun Kultur Ramah Perempuan, (Jakarta: Restu Ilahi, 2002), hal. 197 [2] Ibid., hal. 207.
Pemikiran Islam Tradisional dan Dunia Modern: (Kritik Sayyid Husein Nasr Terhadap Peradaban Modern) Siti Aisyah
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Apabila seorang Barat, seorang Konfucian Cina atau seorang Hindu dari India menelaah Islam, niscaya yang mereka jumpai adalah tradisi Islam yang tunggal. Orang yang seperti itu mungkin saja akan menemukan sejumlah madzhab pemikiran, interpretasi-interpretasi hukum, teologi dan bahkan sekte-sekte yang terpisah dari tubuh utama ummat. Disadari atau tidak peradaban barat telah menggerogoti konstruk pemikiran Islam sehingga barangkali sudah lebih dari dua abad umat Islam hidup dalam bayang-bayang peradaban barat, banyak pihak yang merasa khawatir akan tercerabutnya nilai-nilai Islam itu sendiri dari pemiliknya
Tipologi Tradisi Kompolan Di Kecamatan Lenteng Syafiqurrahman Syafiqurrahman
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Kompolan merupakan salah satu tradisi yang saat ini terus mengalami perkembangan dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan ini bisa dilihat dari semakin banyak jumlah kompolan, semakin beragam, dan makin tampak kontribusinya pada kehidupan masyarakat, khususnya di Kecamatan Lenteng. Di Kecamatan Lenteng, kegiatan kompolan memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kompolan di daerah lain. Bedanya terletak pada model pengelolaan dan peranannya di masyarakat. Dari segi jenisnya, kompolan di Lenteng cukup beragam: Tahlilan, Darusan, Yasinan, Sholawatan, Muslimatan, Pengajian, RT (Rukun Tetangga), Guruh (Guru), Remas (Remaja Masjid), Sapeh (Sapi), Hadrah, Bungkot (Bonsai), Keluarga (kekerabatan), Samman, Gambus, Bellesen.
Konstruksi Kurikulum Lembaga Pendidikan Islam Dasar di Madura Ach. Khatib
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Di lembaga pendidikan Islam dasar terdapat di lembaga pendidikan mosala. Musala merupakan lembaga pendidikan tradisional yang dalam sejarahnya menjadi cikal bakal berdiri dan berkembangan lembaga pendidika Islam pesantren. Musala memang bukan satu-satunya lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dasar, tetapi musala lebih inten dan fokus dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Di musala, anak didik tidak hanya diajarkan teori-teoti dasar ajaran Islam, tetapi juga melatih anak didik memperaktikkan guna mencetak anak didik yang berkarater. Selain berbasis karakter, lembaga pendidikan musala juga menerapkan sistem pendidikan yang menyenangkan. Konten pembelajarannya, diantaranya, teknik dan cara membaca al-quran, tauhid, fiqih, dan sejarah Islam. Kata Kunci: Kurikulum, Lembaga Pendidikan Islam Dasar, Madura,
Manajemen Pengorganisasian Dalam Pendidikan Islam Masyhuri Drajat
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Pengorganisasian merupakan salah satu bagian dari beberapa fungsi manajemen yang meliputi: Planing, Organizing, Actuating, Controling dan Evaluating. Kelima fungsi manajemen tersebut memiliki pengaruh besar dan saling keterkaitan satu sama lain dalam perjalanan sebuah organisasi, khususnya dalam bidang penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Islam. Dengan kata lain, tanpa manajemen, sebuah organisasi, termasuk lembaga pendidikan, tidak akan bias berjalan. Sebaliknya, apabila kelima elemen tersebut berlangsung dengan baik, maka besar kemungkinan tujuan lembaga pendidikan Islam yang telah direncakan dapat tercapai atau terealisasi dengan baik. Kata kunci: Manajemen Pengorganisasian, Pendidikan Islam.
Konsep Pendidikan Multikultural Moh. Nihwan
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Jika kita membuka lembar sejarah Indonesia, akan tergambar realitas konflik sosial yang terjadi dalam bentuk kekerasan di negeri ini. Pengalaman peperangan antar kerajaan sebelum masa kemerdekaan telah berhasil membentuk fanatisme kesukuan yang teramat kuat, yang tentunya mengancam terhadap persatuan dan eksistensi bangsa ini. Akibatnya, bara dendam berlangsung turun-temurun. Dendam serupa harta benda yang sangat berharga sehingga penting untuk diwariskan. Tak heran, bila konflik sosial bernuansa etnis, mewarnai permulaan reformasi yang terjadi di berbagai wilayah bangsa ini. Memang tak dapat dipungkiri, keragaman yang dimiliki oleh bangsa ini, berpotensi besar melahirkan konflik sosial. Konflik merupakan sesuatu yang normal terjadi dalam masyarakat multi-etnik, termasuk Indonesia. Untuk mengelola keberagaman sehingga tidak mengalami benturan dengan mengatasnamakan apapun, pendidikan multikultural merupakan hal yangat penting sebagai upaya memperluas wawasan anak didik tentang keberagaman. Dengan pendidikan multikultura, keberagaman tidak akan melahirkan sebuah konflik, tetapi justru menjadi sumber potensi untuk peradaban.
Peran Pondok Pesantren dalam Membentuk Karakter Masyarakat Abduh Abduh
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Ada beberapa hal yang harus menjadi bahan renungan sekaligus tantangan bagi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. yaitu; tumbuh dan berkembangnya nilai dan sistem westernisasi dan modernisasi yang berdampak negatif pada kehidupan beragama umat Islam, kolonialisme dan imperialism baru sampai pada materilisme dan globalisasi yang menghasilkan benturan keras antara kebudayaan Barat dengan ajaran Islam, hedonisem dan merebaknya falsafah profanistik di dunia Barat dan Erofa pada era globalisasi ini. Falsafah ini akan mengkikis sedikit demi sedikit sisi moralitas dan spiritualitas umat Islam sehingga lahir bentuk-bentuk penipuan, tauran antar pelajar, pergaulan bebas, pesta minuman keras, ketidak jujuran, hilangnya rasa nasionalisme, kedisiplinan sehingga pada akhirnya menggrogoti karakter bangsa yang luhur. Dengan tantangan yang cukup komples dan berat ini, mampukah pondok pesantren membentuk karakter masyarakat menjadi masyarakat yang memiliki kepribadian yang luhur (karakter yang baik)? Dalam menghadapi tantangan dan kebutuhan masyarakat yang kompleks yang berkaitan dengan kemajunan ilmu pengetahuan dan teknologi maka tidak boleh tidak lembaga pendidikan pesantren harus terus berbenah diri dan tetap mempertahankan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam dan terus menerus melakukn pembimbingan terhadap bangsa ini dalam membangun karakter yang luhur agar bangsa ini tetap menjadi bangsa yang bermartabat, bermoral dan memiliki karakter yang luhur. Sebagai salah satu upaya menjawab dari berbagai tantangan moralitas di atas, maka pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam harus selalu melakukan upaya-upaya pembaharuan dalam pendidikan pondok pesantren. Karena pendidikan itu sendiri dinilai oleh beberapa intelektual muslim sebagai sarana yang cukup strategis untuk mengatasi persoalan moral dan kepribadian bangsa, ketertinggalan, kemunduruan dan kejumudan umat yang selama ini cukup membelenggu kehidupan umat manusia khususnya umat Islam. Kata kunci: Pondok Pesantren, Karakter, Masyarakat
Jawaban Islam Atas Diskursus Pernikahan Antar Orang Beda Agama Safradji Safradji
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 8 No. 1 (2016): 18 Juli 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Mapping the Mainstreaming to Interfaith Marriage Law. This article intends observe the linkage of the implementation of interfaith marriage with the opinion of Islamic jurists’ and to political and social change in a country. Interfaith marriage law—as occurred in (former) North Yemen, Jordan, Algeria. And Iraq—is not influenced by the Islamic school of thought of the majority population. In contary, interfaith marriage in the aforementioned states is not inline with the mainstream opinion of islamic jurists that forbidding softly (makruh) Muslim man to marry a women of Ahl al-Kitab. The regulation is obviously influennced by the rise of Islamism. Such as the Muslim brotherhood in Jordan, Front Islamic Salvation in Algeria, and the growing influence of Shiite movements in Iraq and Noth Yemen in establishing relgious conservatism in matters of interfaith marriage. Thus, it can be understood why those countries prefer to refer text of the Quran that regulate interfaith marriage law. Keywords: Interfaith marriage law, islamic family law, Ahl-Kitab.

Page 1 of 1 | Total Record : 9