cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2022)" : 5 Documents clear
MANAJEMEN KESEHATAN KELUARGA PADA PASIEN YANG MENDERITA HIPERTENSI DI MASA PANDEMI COVID-19: STUDI KASUS Suhari, Suhari; Sulistyono, Raden Endro; Fibriansari, Rizeki Dwi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i2.352

Abstract

ABSTRAKPeningkatan penyakit tidak menular (PTM) menjadi tantangan kesehatan di dunia dan Indonesia dalam menjaga kualitas kehidupan pasien. Salah satu PTM, yaitu hipertensi telah menjadi masalah keluarga dalam melakukan perawatan dan pengelolaan kesehatan pasien di rumah serta proses penyembuhan, apalagi pada situasi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Tujuan penelitian: Menggambarkan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami hipertensi, khususnya pada aspek manajemen kesehatan keluarga melalui kunjungan rumah. Keluhan utama pasien: Ny. R (70 tahun) jarang memeriksakan kesehatan ke puskesmas karena adanya kondisi pandemi dan kesulitan transportasi. Ny. R telah menderita hipertensi sejak 10 tahun yang lalu, sering merasakan kepala terasa berat, tetapi ia tidak tahu cara mengatasinya. Ny. R juga kurang menerapkan protokol kesehatan (memakai masker) dan kurang mendapat dukungan keluarga. Masalah keperawatan manajemen kesehatan keluarga tidak efektif disebabkan oleh kompleksitas program perawatan. Hasil: Intervensi keperawatan melalui kunjungan rumah efektif mengatasi masalah keperawatan, yaitu manajemen kesehatan keluarga tidak efektif.  Diskusi: Melalui kunjungan rumah, perawat dapat memberikan intervensi, yaitu dukungan koping keluarga dalam menfasilitasi pengambilan keputusan jangka panjang, pemenuhan kebutuhan dasar, dan memberikan informasi fasilitas perawatan kesehatan yang dapat dijangkau oleh keluarga. Kesimpulan: Perawat kesehatan komunitas berperan dalam meningkatkan motivasi dan mengembangkan sikap pasien untuk menggunakan fasilitas perawatan kesehatan. Upaya promotif dan preventif yang dilakukan melalui kunjungan rumah dapat mengendalikan faktor risiko hipertensi pada lanjut usia (lansia). Kunjungan rumah yang mematuhi protokol kesehatan efektif dilakukan di masa pandemi Covid-19 karena pasien lansia merasa lebih nyaman.Kata Kunci: Covid-19, hipertensi, keluarga Family Health Management in Hypertensive Patients During the Covid-19 Pandemic: A Case Study ABSTRACTThe increase in non-communicable diseases (NCDs) is a health challenge in the world and Indonesia in maintaining patients' quality of life. Hypertension, one of the NCDs, has become a family problem in caring for and managing patients' health at home and in the healing process, especially in the Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) pandemic. Objective: To describe nursing care for hypertensive clients, especially in family health management through home visits. Primary complaint: Mrs. R (70 years old) rarely went to the Public Health Centre to have her health examined due to the pandemic and transportation difficulties. Mrs. R had been suffering from hypertension since 10 years ago and often had a heavy head feeling, but she did not know how to manage it. Mrs. R also did not apply health protocols (wearing masks) and lacked family support. Family health management nursing was ineffective due to the complexity of the care program. Results: Nursing interventions through home visit has an effect to overcome nursing probem, which was ineffective family health management.  Discussion: Through home visits, nurses can make interventions, namely family coping support in facilitating long-term decision making, meeting basic needs, and providing information on health care facilities that families can reach. Conclusion: Community health nurses play a role in increasing motivation and developing patient attitudes to use health care facilities. Promotive and preventive efforts made through home visits can control risk factors for hypertension in the elderly. Home visits that comply with health protocols are effective during the Covid-19 pandemic because elderly patients feel more comfortable.Keywords: Covid-19, Hypertension, Family
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG COVID-19 DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENULARAN COVID-19 Lestari, Ni Kadek Yuni; Saraswati, Ni Luh Gede Intan
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i2.251

Abstract

ABSTRAKPengetahuan dan pemahaman diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam upaya pencegahan penularan virus Covid-19. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang Covid-19 dengan perilaku pencegahan penularan Covid-19. Metode: Desain penelitian ini ialah kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan sampel berjumlah 82 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah valid dan reliable dan analisis data penelitian menggunakan uji rank Spearman. Hasil: sebanyak 52 responden (63,4%) mempunyai tingkat pengetahuan kategori cukup dan 47 responden (57,3%) mempunyai perilaku pencegahan kategori baik. Dari hasil uji statistik rank Spearman diperoleh p = 0,024 (< 0,05) yang berarti ada hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang Covid-19 dengan perilaku pencegahan penularan Covid-19 di lingkungan Padangtegal, Mekarsari, wilayah kerja Puskesmas Ubud 1. Diskusi: Perilaku sangat ditentukan oleh tingkat pemahaman serta pengetahuan masyarakat sehingga diperlukan upaya peningkatan pengetahuan dari berbagai aspek. Kesimpulan: Unit pelayanan kesehatan diharapkan tetap memberikan edukasi kepada masyarakat tentang penerapan protokol kesehatan di era new normal.Kata Kunci: pengetahuan, penularan Covid-19, perilaku pencegahan Correlation Between Level of Public Knowledge About Covid-19 and Preventive Behavior Towards Transmission of Covid-19ABSTRACTAll levels of society need knowledge and understanding to prevent the transmission of COVID-19. Objective: This research aims to identify the correlation between the level of knowledge about COVID-19 and the preventive behaviour towards the transmission of COVID-19. Methods: The research employed a correlational quantitative design with a cross-sectional approach. It used a sample of 82 people. The research used an instrument in the form of a valid and reliable questionnaire, and the research data were analyzed using the Spearman rank test. Results: 52 respondents (63.4%) had sufficient knowledge, and 47 respondents (57.3%) had good preventive behaviour. The Spearman rank statistical test results indicated p = 0.024 (<0.05), meaning that there was a correlation between the level of public knowledge about COVID-19 and the preventive behaviour towards the transmission of COVID-19 at Padangtegal Mekarsari under the working area of the Ubud Public Health Center 1. Discussion: Behaviour is primarily determined by the level of public understanding and knowledge, so it is necessary to enhance knowledge from various aspects. Conclusion: Health service units are expected to continue educating the public about implementing health protocols in the new normal era.Keywords: Knowledge, Transmission of COVID-19, Preventive Behavior
DUKUNGAN SOSIAL BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT STRES PEKERJA PADA MASA QUARTER LIFE CRISIS Oktaviana, Diva Aisyah; Wardani, Ice Yulia
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i2.367

Abstract

ABSTRAKPekerja dewasa muda rentan mengalami quarter life crisis ketika sulit mencapai tugas perkembangannya. Dukungan sosial rendah menjadi faktor individu untuk mengalami stres. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan tingkat stres pekerja pada masa quarter life crisis pekerja di DKI Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional pada 389 pekerja di DKI Jakarta usia 20–30 tahun yang diambil pada bulan Maret 2022. Instrumen yang digunakan ialah multidimensional scale of perceived social support untuk dukungan sosial dan job stress scale untuk mengukur tingkat stres pekerja. Analisis data chi-square dilakukan menggunakan SPSS 26. Hasil: temuan penelitian ini menggambarkan 54% pekerja memiliki tingkat dukungan sosial rendah dan 68,6% pekerja mengalami stres sedang. Hasil analisis membuktikan adanya hubungan dukungan sosial dengan tingkat stres pekerja di DKI Jakarta (p = 0,001) yang menunjukkan pekerja cenderung memiliki dukungan sosial rendah dengan tingkat stres sedang hingga tinggi. Diskusi: Perawat menyarankan perusahaan untuk memberikan anggaran tambahan bagi kesehatan jiwa pekerja dan mengajak pekerja untuk memperhatikan kesehatan jiwanya. Hasil penelitian dapat menjadi pertimbangan untuk menambah bahan pembelajaran pada mata ajar Keperawatan. Kesimpulan: Penelitian ini diharapkan memberikan informasi bagi pekerja dan perusahaan mengenai hubungan dukungan sosial dengan tingkat stres pekerja pada masa quarter life crisis. Peneliti merekomendasikan adanya skrining kesehatan jiwa pekerja secara rutin, menambahkan materi quarter life crisis bagi mahasiswa keperawatan, dan perusahaan bekerja sama dengan layanan kesehatan jiwa untuk merujuk pekerja yang membutuhkan, serta menciptakan lingkungan suportif.Kata Kunci: dukungan sosial, pekerja, quarter life crisis, stres kerja Social Support Correlated with Workers' Stress Levels During the Quarter-Life Crisis ABSTRACTYoung adult workers are vulnerable to experiencing a quarter-life crisis when it is difficult to achieve developmental tasks. Low social support becomes an individual factor in experiencing stress. Objective: This research aims to identify the correlation between social support and the stress level of workers during the quarter-life crisis of workers in DKI Jakarta. Methods: This research employed a quantitative descriptive correlation method with a cross-sectional approach to 389 workers in DKI Jakarta aged 20-30 years who were taken in March 2022. It employed instruments in the form of the multidimensional scale of perceived social support for social support and the job stress scale to measure workers’ stress levels. Chi-square data analysis was performed using SPSS 26. Results: The findings of this research indicated that 54% of workers had low levels of social support, and 68.6% of workers experienced moderate stress. The analysis results proved a correlation between social support and workers’ stress level in DKI Jakarta (p = 0.001), indicating that workers tended to have low social support with moderate to high stress levels. Discussion: Nurses suggested the company provide an additional budget for the mental health of workers and invited workers to pay attention to their mental health. The research results can be considered to add learning materials to nursing subjects. Conclusion: This research is expected to provide information for workers and companies regarding the correlation between social support and workers' stress levels during the quarter-life crisis. The researcher recommends regular mental health screening of workers, the addition of quarter-life crisis material for nursing students, companies to work with mental health services to refer workers in need, and the creation of a supportive environment.Keywords: social support, workers, quarter life crisis, work stress
EFEKTIVITAS MEDIA POSTER TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS RAWAT INAP ALABIO Maimunah, Maimunah; Tasalim, Rian; Hidayat, Ahmad
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i2.355

Abstract

ABSTRAKPenderita hipertensi akan menjalani program pengobatan yang lama dan ini memberikan dampak pada ketidakpatuhan untuk melaksanakan program terapi.  Salah satu faktor dari kepatuhan adalah pengetahuan yang dapat diberikan dengan menggunakan media poster. Penderita hipertensi akan mudah memahami materi yang disampaikan melalui media poster. Tujuan penelitian: Mengetahui efektivitas sebelum dan sesudah pemberian media poster terhadap kepatuhan minum obat pasien hipertensi di Puskesmas Rawat Inap Alabio. Metode: Penelitian ini menggunakan pra-experimental design dengan one group pretest-posttest. Sampel adalah pasien yang menderita hipertensi di Puskesmas Rawat Inap Alabio berjumlah 30 orang. Teknik pengambilan sampel ialah purposive sampling. Hasil pretest dan posttest diukur menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Sebelum diberikan poster, pengetahuan tentang kepatuhan minum obat antihipertensi responden dalam kategori pengetahuan sedang sebanyak 16 orang (53,3%). Sesudah diberikan intervensi menggunakan media poster pengetahuan responden meningkat dalam kategori pengetahuan baik sebanyak 23 orang (76,4%). Penggunaan media poster terhadap pengetahuan memberikan dampak pada kepatuhan minum obat antihipertensi di Puskesmas Rawat Inap Alabio (p-value 0,000 < 0,05). Diskusi: Peningkatan hasil penelitian dari pretest ke posttest menunjukkan bahwa pemberian media poster memberikan dampak dalam meningkatkan kepatuhan pasien minum obat antihipertensi. Artinya, jika seseorang tidak melakukan pencegahan hipertensi, itu akan memengaruhi kesehatannya. Oleh sebab itu, kepatuhan minum obat antihipertensi merupakan aspek penting yang memengaruhi kesehatan pasien hipertensi. Simpulan: Puskesmas Rawat Inap Alabio dapat menggunakan media poster yang telah dibuat saat memberikan pendidikan kesehatan. Perawat juga dapat berperan sebagai care provider, educator,dan health promotor sehingga dapat meningkatkan pengetahuan tentang kepatuhan minum obat antihipertensi pada penderita hipertensi agar dapat melakukan asuhan hipertensi secara mandiri.Kata Kunci: hipertensi, kepatuhan, pengetahuan, poster Effectiveness of Poster Media on Medication Adherence in Hypertensive Patients at Inpatient of Alabio Public Health Center ABSTRACTHypertensive patients will undergo a long treatment program, impacting non-adherence to the therapy program. One of the adherence factors is knowledge that can be extended through poster media. Hypertensive patients will easily understand the material presented through poster media. Objective: To identify the effectiveness of poster media on medication adherence in hypertensive patients at the Inpatient of Alabio Public Health Center. Methods: This research employed a pre-experimental design with one group pretest-posttest. The samples were 30 hypertensive patients at the Inpatient of Alabio Public Health Center. They were taken using purposive sampling. The pretest and posttest results were measured using a questionnaire with tested validity and reliability. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: Before the poster was given, 16 respondents (53.3%) had sufficient knowledge of adherence to taking antihypertensive medication. After being given an intervention using poster media, 23 respondents (76.4%) had good knowledge. The use of poster media on knowledge impacted adherence to antihypertensive medication at the Inpatient of Alabio Public Health Center (p-value 0.000 <0.05). Discussion: The increase of research results from pretest to posttest shows that the poster media has an impact on increasing patients’ adherence to taking antihypertensive medication. It implies that if a person does not do the prevention of hypertension, it will affect his health. Therefore, adherence to taking antihypertensive medication is an important aspect that affects the health of hypertensive patients. Conclusion: The Inpatient of Alabio Public Health Center can use poster media when providing health education. Nurses can also act as care providers, educators, and health promoters to increase knowledge about adherence to taking antihypertensive medication in hypertensive patients so they can exercise hypertension care independently.Keywords: hypertension, adherence, knowledge, poster
MOBILISASI BERTAHAP PASCA-SECTIO CAESARIA: STUDI KASUS DI RSUD dr. HARYOTO LUMAJANG Wahyuningsih, Sri; Hayati, Nurul; Fibriansari, Rizeki Dwi; Ulfa, Maria
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v7i2.351

Abstract

ABSTRAKPasca-sectio caesarea (SC), pasien diharapkan melakukan mobilisasi secara bertahap untuk mencegah bahaya fisiologis dan psikologis yang mungkin dapat terjadi. Namun, masih sedikit informasi yang melaporkan tentang pelaksanaan mobilisasi dini di lapangan. Tujuan penelitian: Menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien pasca-SC, khususnya pada aspek hambatan mobilitas fisik. Keluhan utama: Pasien 1 (21 tahun) ditemani suami datang ke RS atas rujukan puskesmas. Mereka sudah memahami bahwa harus melahirkan secara SC karena panggul sempit. Selanjutnya, dilakukan operasi SC dengan anestesi lumbal, insisi melintang, luka ± 10 cm. Pasien 1 mengalami anemia sehingga dilakukan transfusi darah. Pasien 2 (32 tahun), datang ke RS ditemani suami, dirujuk karena panggul sempit dari puskesmas, kemudian dilakukan operasi SC dengan anestesi lumbal, insisi melintang, luka ± 10 cm.  Pengkajian melalui wawancara, obervasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi.  Hasil:Intervensi untuk mobilisasi dilakukan setelah tindakan operasi selesai secara bertahap selama tiga hari perawatan. Hari pertama dilakukan pemberian informasi dan ambulasi awal di tempat tidur. Hari kedua pengaturan posisi semi-fowler, membantu perpindahan, latihan keseimbangan berdiri, berjalan. Hari ketiga pasien melakukan aktivitas mandiri tanpa bantuan, penyuluhan perawatan di rumah setelah operasi. Diskusi: Peran perawat pada pasien dengan melakukan mobilisasi secara bertahap serta berkolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain dapat mendukung percepatan pasien melakukan tindakan mobilisasi secara mandiri. Simpulan: Perawat perlu meningkatkan mobilisasi pasien secara bertahap dengan memerhatikan faktor ibu dan keluarga. Perawat disarankan meningkatkan pengetahuan, misalnya mengenai ERAC dan dalam proses asuhan keperawatan menggunakan rangkaian standar pelayanan untuk penyelenggaraan praktik keperawatan di Indonesia, yaitu SDKI, SIKI, SLKI, dan SPO.Kata kunci: mobilisasi dini, sectio caesaria             Gradual Mobilization in Post Cesarean Section: A Case Study at Dr. Haryoto Hospital of Lumajang ABSTRACTAfter the caesarean section (CS), patients are expected to mobilize gradually to prevent physiological and psychological hazards. However, there is still little information reporting about the implementation of early mobilization. Objective: to describe nursing care in post-CS patients, especially regarding physical mobility barriers. Primary complaint: Patient 1 (21 years old), accompanied by her husband, came to the hospital based on the referral of the Public Health Center. They already understood that they had to give birth by cesarean section because the pelvis was narrow. Next, SC surgery was performed with lumbar anesthesia, transverse incision, and wound ± 10 cm. Patient 1 was anemic, so a blood transfusion was performed. Patient 2 (32 years) came to the hospital accompanied by her husband and was referred by the Public Health Center because of a narrow pelvis; then, an SC operation was performed with lumbar anesthesia, transverse incision, and wound ± 10 cm. Assessment through interviews, observations, physical examinations, and documentation studies.  Results: interventions for mobilization were performed after the surgery was completed in stages for 3 days of treatment. On the first day, information was given and early ambulation was performed in bed. On the second day, the activities included adjusting semi-Fowler's position, assisting the movement, exercising balanced standing, and walking. On the third day, the patient did independent activities without assistance and counseling on home care after surgery. Discussion: The nurses play a role by gradually mobilizing patients and collaborating with other health workers to support patients' acceleration to mobilize independently. Conclusion: Nurses need to increase patient mobilization gradually by paying attention to maternal and family factors. Nurses are advised to increase knowledge, for example, about ERAS and the nursing care process by using a series of service standards for implementing nursing practice in Indonesia, namely SDKI, SIKI, SLKI, dan SPO.Keywords: early mobilization, cesarean section

Page 1 of 1 | Total Record : 5