cover
Contact Name
Eldha Sampepana
Contact Email
editorjrti@gmail.com
Phone
+625417771364
Journal Mail Official
editorjrti@gmail.com
Editorial Address
Jl. MT. Haryono/ Banggeris No.1, Samarinda 75124 Tel.Fax: (0541) 7771364/ 745431 Whatsapp : 0821 5541 4969
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Riset Teknologi Industri
ISSN : 19786891     EISSN : 25415905     DOI : 10.26578
Jurnal Riset Teknologi Industri (JRTI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Memuat informasi bidang riset Teknologi Industri berupa hasil riset dan Ulasan Ilmiah bidang Perekayasaan Mesin, Pangan, Kimia Industri, Lingkungan dan Teknik Industri. Akreditasi Kemenristekdikti Akreditasi S2 Vol.10 No.1 Tahun 2016 samapi dengan Vol.14 No.2 tahun 2020. p-ISSN : 1978-6891, e-ISSN : 2541-5905.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 2 Desember 2015" : 10 Documents clear
Desain dan Pembuatan Perkakas untuk Proses Friction Stir Welding pada Material Aluminium 5052 Tarmizi Tarmizi; Odi Buana Hutapea
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11932.957 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1709

Abstract

Friction Stir Welding is a process of joining metals without filler and without melting the base metal. The system uses the work of the FSW tool with a rotating cylindrical indenter to heat with friction material. Making tools for FSW process includes the selection of materials, testing the chemical composition, microstructure, tool design, heat treatment process on the tool, and testing tools. Materials used tool steel AISI H13 or SKD 61. This steel has a combination of strength, wear resistance, and excellent toughness. The shape of the pin tool is to use triangles, cylinders, and cones. Tool is heated at a temperature of 1100oC on hold for 30 minutes, cooled in oil. Then the material is heated at a temperature of 450oC back on hold 30 minutes, cooled in the furnace has been turned off. Hardness test results produced after heat treatment at 52.8 HRC. The microstructure after heat treatment are carbide and martensite phase. In the experiments showed that the optimum welding on cylindrical shape with a visual tool welds excellent.ABSTRAKPengelasan aduk friksi (Friction Stir Welding) merupakan proses penyambungan logam tanpa logam pengisi dan tanpa melelehkan logam induk. Sistem  kerja dari FSW menggunakan peralatan silindris yang berputar (rotating cylindrical tool) dengan indentor untuk memanaskan material dengan gesekan. Pembuatan peralatan untuk proses FSW ini meliputi pemilihan bahan material, pengujian komposisi kimia, struktur mikro, mendesain perkakas, proses perlakuan panas pada perkakas, dan pengujian pada perkakas. Material  perkakas yang digunakan baja AISI H13 atau SKD 61. Baja ini memiliki kombinasi  kekuatan, ketahanan aus, dan ketangguhan yang sangat baik. Bentuk pin perkakas yang gunakan ialah segitiga, silinder, dan kerucut. Perkakas dipanaskan  pada temperatur 1100oC ditahan selama 30 menit, didinginkan di oli. Kemudian material dipanaskan  kembali pada temperatur 450oC ditahan 30 menit, didinginkan dalam tungku yang telah dimatikan. Hasil uji kekerasan yang dihasilkan setelah perlakuan panas sebesar 52,8 HRC. Struktur mikro setelah perlakuan panas terdapat  karbida dan fasa martensit. Pada percobaan pengelasan didapatkan hasil yang optimum  pada bentuk peralatan silinder dengan visual lasan yang sangat baik. Kata kunci : Perkakas FSW, baja perkakas AISI H13, karbida krom
Rancang Bangun Mesin Pemilah Biji Pinang Muhammad Nauval Fauzi; Mahaputra Mahaputra
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9768.196 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1714

Abstract

The objective of this study is how to read the image using a camera, a program of computational image processing to determine the quality of betel nut. The betel nut sorting machine can help to reduce workload of employee where before this is done manually by human hand. Betel nut sorting process based on the color can be done using a machine that works automatically which can increase the result capacity with high level of accuracy and consistency. This study discusses approaches and theoretical frameworks as well as image processing, statistical analysis of color to create a prototype of betel nut sorting machine through several stages, both in image processing, mechanics, computing, interfacing and pneumatic. The results of this study found that the good or bad quality of betel nut can be distinguished  by chromasity analysis, good quality has higher value chromasity than the bad one with an accuracy of 94%, the maximum conveyor speed of 18 cm/sec at 20 fps camera working mode, assuming that there is one nut available on each 6 cm range, computational time on the working mode of 20 fps, the maximum tolerable time of 50 ms, so that when it is made for 6 channel, the computing time becomes large. ABSTRAKPada penelitian ini yang menjadi sasaran adalah bagaimana membaca citra menggunakan kamera, melakukan program komputasi pengolahan citra untuk menentukan kualitas biji pinang. Mesin pemilah biji pinang ini dapat mengurangi beban kerja yang selama ini pemilahan dilakukan secara manual dengan tangan manusia, proses pemilahan biji pinang berdasarkan warna dapat dilakukan menggunakan mesin yang bekerja secara otomatis yang dapat meningkatkan kapasitas hasilnya, tingkat keakurasian yang tinggi dan juga konsisten. Penelitian ini membahas tentang pendekatan dan kerangka teoritis serta image processing, statistik analisis warna biji pinang untuk membuat prototipe mesin pemilah biji pinang melalui beberapa tahapan, baik secara image processing, mekanik, komputasi, interfacing dan pneumatik. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa biji pinang yang kualitas baik dan jelek dapat dibedakan melalui analisis chromasity, pinang yang kualitas baik memiliki nilai chromasity yang lebih tinggi dibandingkan pinang kualitas jelek dengan akurasi 94%, kecepatan konveyor maksimal 18cm/detik pada mode kerja kamera 20 fps, dengan asumsi bahwa tiap 6 cm ada 1 buah pinang  yang tersedia di tiap jalurnya, waktu komputasi pada mode kerja 20 fps, maksimal waktu yang ditolerir sebesar 50ms, sehingga ketika dibuat untuk 6 jalur, waktu komputasi menjadi besar. Kata kunci : Mesin pemilah, biji pinang, image processing, komputasi, analisis chromasity
Pemanfaatan Limbah Padat Abu Cangkang dan Serat Kelapa Sawit dari Boiler untuk Pembuatan Bata Beton Ringan Haspiadi Haspiadi; Kurniawaty Kurniawaty
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9441.382 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1710

Abstract

Research of  the utilization solid waste of palm oil fuel ash from boiler as row materials  for manufacturing light concrete brick has been conducted. The main objective of this study is to investigate the potential use solid waste of palm oil fuel ash from palm oil mill boilers as row materials for manufacturing light concrete brick has recently attracted for an alternative environmentally sustainable application. In this study, light concrete brick made with various proportions of palm oil fuel ash from palm oil mill boilers and sand were fabricated and studied under laboratory scales. Percentage of palm oil fuel ash of 0% as a control,  10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, replacement  sand, wheras others materials such as Portland cement, lime, gypsum, foaming agent and aluminium with the numbers constant. The quality of light concreate brick   were applied followed by the compressive strength test, density and water absorption capacity. The study discovered that the compressive strength for all composition meet the recommended value to light structural of 6.89 MPa as prescribed in SNI 03-3449-2002. In the same manner density of light concrete brick for all proportion under the maximum density recommended value of 1400 Kg/m3 according to SNI 03-3449-2002. While water absorption capacity of increased by the increasing use of ashes. Therefore, palm oil fuel ash from boiler can be used as raw material for the light concrete brick which is  environmental friendly because using solid waste and also an alternative handling solid waste.ABSTRAKPenelitian pemanfaatan limbah padat abu cangkang dan serat kelapa sawit dari boiler sebagai bahan baku pembuatan bata beton ringan telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah pemanfaatan limbah padat abu boiler berbahan bakar cangkang dan serat sebagai bahan pembuatan bata beton ringan sebagai salah satu alternatif pengelolaan lingkungan yang bekelanjutan. Dalam penelitian ini, bata beton ringan dibuat dengan berbagai komposisi abu boiler dan pasir yang diproduksi dalam  skala laboratorium. Persentase dari abu berturut-turut 0% sebagai kontrol, 10%, 20%, 30%, 40%, 50% dan 60% mensubtitusi pasir, sedangkan bahan lain yaitu semen, kapur, gypsum,  foaming  agent serta aluminium pasta dengan jumlah tetap. Mutu bata beton ringan yang diujikan adalah kuat tekan, bobot jenis dan daya serap air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan untuk semua komposisi memenuhi batas minimum yang dipersyaratkan untuk stuktural ringan yaitu 6,89 MPa sesuai SNI 03-3449-2002. Demikian pula bobot jenis dari bata ringan yang dihasilkan masih dibawah dari batas maksimum yang direkomendasikan SNI 03-3449-2002 yaitu maksimal 1400 Kg/m3. Sedangkan daya serap air mengalami kenaikan dengan naiknya jumlah abu yang digunakan . Limbah padat abu boiler berbahan bakar cangkang dan serat sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bata beton ringan yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah dan menjadi salah satu alternatif pengelolaan limbah. Kata kunci :  Abu cangkang kelapa sawit,  bata beton ringan, bobot jenis,  daya serap air,  limbah,  kuat tekan
Perbandingan Karakteristik Surfaktan Metil Ester Sulfonat dan Sodium Lauril Sulfonat sebagai Bahan Emulsifier Eldha Sampepana; Paluphy Eka Yustini; Aditya Rinaldi; Amiroh Amiroh
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9853.188 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1715

Abstract

Surfactant which is used as raw emulsifier in an industry activity such as Sodium Lauryl Sulfonate is a raw material import, it is petroleum derivative which is not renewable and may cause pollution to the environment, because it is not degraded and are carcinogenic. The purpose of the research is to compare the characteristics of the Quaternary methyl ester sulfonat (MES) and Sodium Lauryl Sulfonat (SLS) as emulsifier. First, make the MES by filtering and eliminating fatty acids of palm oil, then process the MES with enzymatic method become methyl ester, then react it in sulfonation and metanolization process, and also neutralized with NaOH. Next, the MES experiment is compared with SLS and existing MES in the market. The results show that surfactants MES experiment has value hidrofil lipofil balance (HLB) interfacial tension and emulsion stability greater than MES in the market and SLS. And the surface tension of MES experiment is larger than MES in the market, but smaller compared to SLS.ABSTRAKSurfaktan yang digunakan sebagai bahan baku emulsifer dalam aktivitas suatu industri pada saat ini seperti Sodium Lauril Sulfonat  merupakan bahan baku import yang merupakan turunan dari minyak bumi, dengan sifat tidak dapat diperbaharui dan dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan karena tidak mudah terdegradasi serta bersifat karsinogenik. Metil ester sulfonat dari bahan minyak sawit merupakan surfaktan dengan sifat mudah terdegradasi yang perlu diketahui karakteristiknya. Penelitian bertujuan untuk membandingkan karakteristik surfaktan metil ester sulfonat (MES) dan Sodium Lauril Sulfonat (SLS) sebagai bahan emulsifier. Mula-mula dilakukan pembuatan MES dengan cara menyaring dan menghilangkan asam lemak minyak sawit terlebih dahulu, kemudian diolah menjadi metil ester secara enzimatis, lalu direaksikan secara sulfonasi dan metanolisis, serta dinetralkan dengan NaOH. Selanjutnya MES hasil percobaan dibandingkan dengan SLS dan MES yang ada dipasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surfaktan MES memiliki nilai hidrofil lipofil balance (HLB) tegangan antar muka dan stabilitas emulsi lebih besar apabila dibandingkan dengan MES di pasaran dan SLS, kecuali nilai stabilitas emulsi antara MES dan SLS sama. Dan tegangan permukaan MES hasil percobaan, lebih besar dibandingkan dengan MES dipasaran, dan lebih kecil dibandingkan dengan SLS. Kata kunci :   Metil  ester sulfonat, hidrofil lipofil balance, emulsifier, sodium lauril sulfonat , stabilitas emulsi 
Pengaruh Konsentrasi Serat Sagu dan Lama Penyimpanan terhadap Karakteristik Paving Blok Petrus Patandung; Suroto Hadi Saputra
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9519.688 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1711

Abstract

Sago fiber is a byproduct of processing sago potential as mixing ingredients paving blocks. The aim of research to determine the effect of dose and concentration  of storage of corn fiber paving blocks that can be used as building materials for the home page, offices, parking lots and sidewalks. Research using design factorial arranged in a completely randomized design with a number of fiber sago A1 = 125 g, A2 = 250 g, A3 = 375 g, A4 = 500 g, A5 = 625 g and storage time B1 = 28 days and B2 = 56 days with cement and sand ratio of 1.250 : 6.250 (w/w). Results storage 28 days compressive strength of 8,52-24,83MPa and storage of 56 days from 8,85-25,65MPa. Absorption of water storage of 28 days is 3,18–18,38% and 56 days is hari 3,93-18,63%. While the weight of the storage block paving 28 days is 2,29-3,71 kg, 56 days of storage is 2,05-2,64 kg, as well as other parameters that nature seems there are no cracks and defects, the shape and the size is perfect and deviation ± 2 mm thick and good resistance to Na2SO4 weighing difference of 0.5%. The best results obtained in the treatment of 24.83 MPa A1B1, A1B2 25.65 Mpa, 20.08 Mpa, A2B1, A2B2 A3B1 25.23 MPa and 15.61 MPa and 16,37 MPa A3B2 and A1B1 provide 3.18% water absorption, A1B2 3.93%, 5.47% A2B1, A2B2 A3B1 6.22% and 7.12% and 7.71% A3B2 meet the quality requirements Quality paving blocks B and C, and can be used as the home page, parking and pedestrian SNI 03-0691-1996.ABSTRAKSerat sagu merupakan hasil ikutan dari pengolahan sagu berpotensi sebagai bahan pencampur paving blok. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh konsentrasi serat sagu dan lama penyimpanan paving blok yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan untuk halaman rumah, kantor, tempat parkir dan trotoar. Penelitian menggunakan rancangan faktorial yang disusun dalam rancangan acak lengkap dengan jumlah serat sagu A1=125g, A2=250g, A3=375 g, A4=500g, A5=625g dan lama penyimpanan B1=28 hari dan B2=56 hari dengan perbandingan semen dan pasir 1.250:6.250 (b/b). Hasil kuat tekan penyimpanan 28 hari sebesar 8,52-24,83MPa dan penyimpanan 56 hari sebesar 8,85-25,65MPa. Penyerapan air penyimpanan 28 hari  3,18–18,38% dan 56 hari 3,93-18,63%. Sedangkan berat paving blok penyimpanan 28 hari 2,29-3,71 kgdan  penyimpanan 56 hari 2,05-2,64 kg, serta parameter–parameter yang lain yaitu sifat tampak tidak terdapat retak-retak dan cacat, bentuk dan ukuran sempurna dan penyimpangan tebal ± 2 mm serta ketahanan terhadap Na2SO4baik selisih penimbangan 0,5%. Hasil  yang terbaik diperoleh pada perlakuan A1B1 24,83MPa, A1B225,65MPa, A2B120,08 MPa, A2B2 25,23MPa serta A3B1 15,61MPa dan A3B2 16,37MPa serta memberikan penyerapan air A1B1 3,18%, A1B2 3,93%, A2B1 5,47%, A2B2 6,22% dan A3B1 7,12% dan A3B2 7,71% memenuhi syarat mutu paving blok Mutu B dan C, dan dapat dimanfaatkan sebagai halaman rumah, perparkiran dan pejalan kaki, SNI 03-0691-1996. Katakunci : Konsentrasi, serat sagu ,kuat tekan, penyerapan air
Asap Cair dari Cangkang Sawit sebagai Bahan Baku Industri Fauziati Fauziati; Haspiadi Haspiadi
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9532.938 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1716

Abstract

Oil Palm shells , which are agricultural by-products from palm oil processing that contain many chemical compounds has potential to developed into industrial materials. Research has been done show that oil palm shells can be used to produce liquid smoke by pyrolysis method. The main composition of oil palm shell is hemicelluloses, cellulose and lignin. Pyrolysis process of oil palm shells can produced more than 400 active compounds that can be used as an industrial material. In the pyrolysis process hemicelluloses will be degraded into acids, cellulose. Whereas, lignin degraded into phenol. The compound is the role as an antibacterial and antioxidant and  beneficial to a preservative food, wood, latex and fertilizer. To get the liquid smoke with good quality needed refining because  there are also carcinogenic compounds such as benzoperen /tar. Liquid smoke produced by the process of purifying having the quality of different namely grade 1 as a food preservative , grade 2 as a food preservative raw materials such as raw meat and raw fish and grade 3 as preservative or coagulant latex and wood. Liquid smoke grade 1 and grade 2 obtained from the furification by filtration, destilation and the addition of adsorbents such as zeolites and activative charcoal. Ekpecially for the liquid smoke as an anticeptic in addition to the necessary compounds containing the active components is also required pungent aroma and color of the clear liquid smoke.ABSTRAKCangkang sawit merupakan sisa pengolahan kelapa sawit yang banyak mengandung senyawa kimia dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan industri. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa cangkang  kelapa sawit dapat digunakan untuk menghasilkan asap cair. Komposisi utama cangkang kelapa sawit adalah hemiselulosa, selulosa dan lignin. Proses pirolisis dari cangkang kelapa sawit dapat menghasilkan lebih dari 400 senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai bahan industri. Dari proses pirolisi hemiselulosa akan terdegrdasi menjadi asam, selulosa, karbonil, sedangkan lignin terdegradasi menjadi phenol. Senyawa tersebut mempunyai peranan sebagai bahan antibakteri, antioksidan dan bermanfaat untuk pengawetan bahan pangan, lateks, kayu, pupuk. Untuk mendapatkan asap cair dengan mutu yang baik diperlukan pemurnian karena masih mengandung  senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik seperti benzoperen/tar. Asap cair yang dihasilkan dengan proses pemurnian memiliki mutu berbeda-beda yaitu grade 1 sebagai bahan pengawet makanan siap saji, grade 2 sebagai bahan pengawet bahan makanan mentah dan grade 3 sebagai bahan pengawet atau penggumpal lateks dan kayu. Asap cair grade 1 dan grade 2 diperoleh dari hasil pemurnian dengan penyaringan, destilasi dan penambahan adsorben seperti zeolit dan arang aktif. Sedangkan asap cair grade 3 diperoleh dari hasil pirolisis  cangkang sawit  kemudian disaring tanpa dilakukan redistilasi dan penambahan adsorben seperti zeolit dan arang aktif. Khusus untuk asap cair sebagai bahan antiseptik selain diperlukan senyawa yang mengandung komponen aktif juga diperlukan aroma yang tidak menyengat dan warna asap cair yang jernih.  Kata Kunci : Asap cair, cangkang  kelapa sawit, pirolisis, senyawa aktif 
Analisis Nilai Gizi, Komponen Asam Amino dan Asam Lemak Ikan Terbang (Cypselurus hexazona) Presto Sugeng Hadinoto
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9992.866 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1712

Abstract

Presto is a method of development processing of fishery products. Products from presto cooked using high temperature and pressure so that the precocious without destroying the texture and can soften the bone. The aim of this study was to determine the effect of cooking presto on the nutritional, amino acids and fatty acids flying fish value. The resulted product then analyzed the nutritional value and analysis amino acid components using HPLC and the fatty acid component analysis using GCMS respectively. Results of the analysis flying fish presto contains 60.30% moisture content, 1.70% ash content, 26.95% protein and 1.95% fat. In addition, known flying fish presto contains 15 amino acids which composed of 9 essential amino acids and 6 non-essential amino acids percentage. All of the amino acids increased after presto processing. The highest essential amino acid lysine (2.43%) and the highest non-essential amino acid is glutamic (4.10%). From the results of the study also note that flying fishpresto contains 20 types of fatty acids which consists of 10 types of Saturated Fatty Acis (SFA), 4 types of Monounsaturated Fatty Acid (MUFA) and 6 types of Pollyunsaturated Fatty Acid (PUFA). SFA is highest in palmitic acid (15.66%), the highest MUFA is oleic acid (9.98%) and the highest PUFA is DHA (9.58%). In general, fatty acids decreased after processed into fish presto only linoleic and linolenic fatty acids are increased.ABSTRAKPresto merupakan suatu metode pengembangan pengolahan hasil perikanan. Produk dari presto dimasak menggunakan suhu dan tekanan tinggi sehingga cepat matang tanpa merusak tekstur dan dapat melunakkan tulang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemasakan presto terhadap nilai gizi, kandungan asam amino dan asam lemak ikan terbang. Produk yang dihasilkan kemudian dilakukan analisis nilai gizi, analisis komponen asam amino menggunakan HPLC dan analisis komponen asam lemak menggunakan GCMS. Hasil analisis diperoleh ikan terbang presto mengandung kadar air 60,30%, kadar abu 1,70%, protein 26,95%, lemak 1,95%. Disamping itu diketahui ikan terbang presto mengandung 15 asam amino yang terdiri dari 9 asam amino esensial dan 6 asam amino non esensial, semua asam amino mengalami peningkatan presentase setelah dipresto, dimana asam amino esensial tertinggi adalah lisin (2,43%) dan asam amino non esensial tertinggi adalah asam glutamat (4,10%). Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa ikan terbang presto mengandung 20 jenis asam lemak yang terdiri dari 10 jenis SFA (Asam Lemak Jenuh),  4 jenis MUFA (Asam Lemak Tidak Jenuh Tunggal) dan 6 jenis PUFA (Asam Lemak Tidak Jenuh Majemuk). SFA tertinggi terdapat pada asam palmitat (15,66%), MUFA tertinggi asam lemak oleat (9,98%) sedangkan PUFA tertinggi adalah DHA (9,58%). Secara umum asam lemak mengalami penurunan setelah diolah menjadi ikan presto hanya asam lemak linoleat dan linolenat yang mengalami peningkatan. Kata Kunci : Ikan terbang, asam amino, asam lemak, presto
Aplikasi Pendayagunaan Asam In-Situ pada Kulit Pikel Terbuang untuk Pembuatan Gelatin Pangan Sugihartono Sugihartono
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11458.486 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1717

Abstract

Skinswaste at pre-tanning operations can be processed into food grade gelatin. The degradation of collagen using acid, base, or enzymes produced gelatin. Pickle skins is skins that acidified, the results of the final phase of the pre-tanning operations. The addition of salt on the skin makes the skins pickle not swollen, produced a wide space between collagen fibers and collagen can not be degraded. Thereby directly extract pickle skins or waste will not be obtained gelatin.This study discussed the processing of food gelatin type A pickle skins through the utilization of waste acid it contains. The discussion includes the components of animal skins, pre-tanning waste, acidification of skins, processing gelatin and gelatin from skins picklewaste and usefulness for the food industry. Salt hydrate collagen fibers in the skin pickle including waste can be separated by washing, to a certain extent still acidic skins waste. The remaining acid on the skins pickle waste can be utilized to hydrolyze collagen into gelatin. The resulting gelatin is gelatin type A, that can be used for food industry.ABSTRAKKulit limbah pada operasi pra-penyamakan dapat diolah menjadi gelatin pangan. Pemecahan kolagen menggunakan asam, basa, atau enzim dihasilkan gelatin. Kulit pikel merupakan kulit yang diasamkan, hasil dari tahap akhir operasi pra-penyamakan. Penambahan garam pada kulit pikel menjadikan kulit tidak bengkak, menghasilkan ruang lebar diantara serat kolagen dan menjadikan kolagen tidak dapat terdegradasi. Hal ini berarti ekstrak secara langsung kulit pikel atau limbahnya tidak akan diperoleh gelatin. Dalam kajian ini dibahas pengolahan gelatin pangan tipe A dari kulit pikel limbah melalui pendayagunaan asam yang dikandungnya. Bahasan mencakup komponen kulit hewan, limbah pra-penyamakan, pengasaman kulit, pengolahan gelatin, dan pengolahan gelatin dari kulit pikel limbah melalui pendayagunaan asam yang dikandungnya serta kegunaannya untuk industri pangan. Garam yang menghidrasi serat kolagen pada kulit pikel termasuk limbahnya dapat dipisahkan dengan cara pencucian, sampai batas tertentu kulit limbah masih bersifat asam. Asam yang tersisa pada kulit pikel limbah tersebut dapat didayagunakan untuk menghidrolisis kolagen menjadi gelatin. Gelatin yang dihasilkan adalah gelatin tipe A, dapat digunakan untuk keperluan industri pangan. Kata kunci : Kulit pikel limbah, gelatin, pengasaman, pangan.
Karakterisasi Sifat Fisik Kimia dan Deskriptif Nori dari Rumput Laut Jenis Eucheuma cottoni Ageng Priatni; Fauziati Fauziati
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8541.962 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1708

Abstract

Eucheuma cottoni seaweed production increasing and the large consumption of nori to be the background to make nori with the aim  knowing the physical chemical characteristics of nori and descriptive. Nori is made by soaking the seaweed with NaOH solution and grind. Seaweed which has been refined and then treated P1 (100% unfiltered), P2 (100% filtered), P3 (20% unfiltered and 80% screened), P4 (40% unfiltered and 60% screened) and P5 (60% unfiltered and filtered 40%) and heated. Furthermore seaweed given Sodium metabisulphite by weight variation 0 mg/kg of seaweed (W0), 10 mg/kg of seaweed (W1), 20 mg/kg of seaweed (W2) and 30 mg/kg of seaweed (W3). Nori obtained by printing and drying it and subsequently tested. From the experiments, we concluded that nori has a moisture content of between 13.72% up to 20.88%,  ash content between 14.20% up to 15.07%, crude fiber content between 4.96% up to 10, 71%, protein content between 4.24% up to 6.84% and  carbohydrate levels between 74.31% up to 80.48% and has characteristics of color between 1.2 (very different from the control/clear) up to 2.8 (much different from control), odor between 1.6 (very different from kontrol) up to 2.9 (preferably different from the control) and texture between 1.1 (very different from the control/very loud) up to 3, 4 (quite different from the control/somewhat hard).ABSTRAKProduksi rumput laut jenis Eucheuma cottoni yang terus meningkat serta kebutuhan konsumsi akan nori  yang cukup besar menjadi latar belakang untuk membuat rumput laut menjadi olahan nori dengan tujuan mengetahui karakteristik nori secara fisik kimia dan deskriptif. Nori dibuat dengan cara merendam rumput laut dengan larutan NaOH dan menghaluskannya. Rumput laut yang telah halus kemudian diberi perlakuan  P1 (100% tidak disaring), P2 (100% disaring), P3 (20% tidak disaring & 80% disaring), P4 (40% tidak disaring & 60% disaring) dan P5 (60% tidak disaring & 40% disaring) dan dipanaskan. Selanjutnya rumput laut diberi Natrium Metabisulfit dengan variasi berat 0 mg/kg rumput laut (W0), 10 mg/kg rumput laut  (W1), 20 mg/kg rumput laut  (W2) dan 30 mg/kg rumput laut  (W3). Nori diperoleh dengan mencetak serta mengeringkannya dan selanjutnya diuji. Dari pengujian diperoleh kesimpulan bahwa Nori  yang bersumber dari rumput  laut  E. Cotonii memiliki karakteristik fisik kimia: kadar air antara 13,72% s/d 20,88%, kadar abu antara 14,20% s/d 15,07%, kadar serat kasar antara 4,96% s/d 10,71%, kadar protein antara 4,24% s/d 6,84% dan kadar karbohidrat antara 74,31% s/d 80,48% serta memiliki karakteristik secara deskriftif: warna antara 1,2  (sangat berbeda dengan kontrol /bening) sampai dengan 2,8 (lebih berbeda dengan kontrol), aroma antara 1,6  (sangat berbeda dengan kontrol 0 sampai dengan 2,9 (lebih berbeda dengan kontrol) dan tekstur antara 1,1 (sangat berbeda dengan kontrol/sangat keras) sampai dengan 3,4 (cukup berbeda dengan kontrol/agak keras). Kata Kunci : Deskriptif, Eucheuma cottoni, karakteristik, Nori, rumput laut
Karakterisasi Mutu Gelatin Ikan Tenggiri (SCOMBEROMORUS COMMERSONII) dengan Perendaman Menggunakan Asam Sitrat dan Asam Sulfat Yuni Adiningsih; Tatik Purwanti
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 2 Desember 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7193.716 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i2.1713

Abstract

Utilization of fish bones for this is still limited to the production of flour for fish feed and organic fertilizer. Another function of fish bones as a source of collagen which is the raw material for making gelatin is still untapped. The current widespread use of gelatin both for food and non-food products. The purpose of this study was to determine the characteristics of gelatin extracted fish bones waste mackerel (Scomberomorus commersonii) using citric acid and sulfuric acid separately in the concentration range of 3-9%. The use of citric acid concentration of 6% for the immersion process produced fish bone gelatin eligible SNI 06-3735-1995 with test results obtained : 13.66% moisture content, ash content of 2.3%, a heavy metal content of less than 0,005 kg / mg and arsenic content of less than 0.003 mg / kg. The yield of gelatin 4% protein content of 58.83%, 1.47% fat content, pH 5 and contains the amino acid L-glycine highest 28.9%.ABSTRAKPemanfaatan tulang ikan selama ini masih terbatas pada produksi tepung untuk pakan ikan dan pupuk organik. Fungsi lain tulang ikan sebagai sumber kolagen yang merupakan bahan baku pembuatan gelatin masih belum dimanfaatkan. Saat ini penggunaan gelatin semakin meluas baik untuk produk pangan maupun non pangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik gelatin hasil ekstraksi  limbah tulang ikan Tenggiri (Scomberomorus commersonii) menggunakan asam sitrat dan asam sulfat secara terpisah pada kisaran konsentrasi 3-9%. Penggunaan asam sitrat konsentrasi 6% untuk proses perendaman tulang ikan dihasilkan gelatin yang memenuhi syarat SNI 06-3735-1995 dengan hasil uji diperoleh : kadar air 13,66%, kadar abu 2,3%, kandungan logam berat kurang dari 0,005 kg/mg dan kandungan arsen kurang dari 0,003 mg/kg. Rendemen gelatin sebanyak 4% dengan kadar protein 58,83%, kadar lemak 1,47%, pH 5 dan kandungan asam amino terbanyak L-glycine 28,9%. Kata kunci : Asam sitrat, asam sulfat, gelatin, tulang ikan

Page 1 of 1 | Total Record : 10