cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 1 (2018)" : 7 Documents clear
PERHITUNGAN NERACA AIR TAWAR DI PULAU PRAMUKA, JAKARTA Dzulfikar H, R Achmad; Sofyan, Asep
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau yang mengalami kekurangan air tawar saat musim kering. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah surplus/defisit lensa air tawar pada Pulau Pramuka berdasarkan neraca air alami, menentukan kekurangan ketersediaan air tawar, dan menentukan jumlah air yang harus di produksi oleh instalasi reverse osmosis yang akan dibuat. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Juni ? Desember 2017. Perhitungan neraca air alami dihitung per-tahun dari tahun 2012 sampai 2016 berdasarkan data karakteristik tanah dan data cuaca. Data cuaca yang digunakan adalah data curah hujan dan temperatur yang diambil dari stasiun terdekat, yaitu stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara. Berdasarkan perhitungan neraca air, pada tahun 2016 Pulau Pramuka memiliki nilai surplus sebesar 369 mm dan defisit sebesar 669 mm. Kemudian, berdasarkan perhitungan, diketahui bahwa nilai sustainable yields dari lensa air tawar lebih kecil dari kebutuhan air total. Pada tahun 2016 Pulau Pramuka mengalami defisit air rata-rata sejumlah 164 m3 per hari. Kapasitas produksi instalasi reverse osmosis yang harus dibangun adalah sebesar 226 m3/hari kata kunci: Pulau Pramuka, pulau kecil, air tanah, neraca air, Thornthwaite-Mather, sustainable yield. Abstract: Pramuka island is one of the small islands which located in Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pramuka island is one of the islands that encounter water scarcity when dry season.  The objective of the research are to determine the amount of freshwater lens surplus/deficit on Pramuka island based on natural water balance, to determine amount of freshwater deficit based on water consumption and to determine amount of freshwater that has to be provided by new reverse osmosis installation. The research was held in June - December 2017 period. Water balance measurement is counted per year from 2012 to 2016 based on rainfall and temperature data from the nearest station, which is Tanjung Priok station, Jakarta Utara. The calculation of water balance measured by using the Thornthwaite Mather method. Based on water balance measurement, in 2016 Pramuka Island has 369 mm surplus and 669 mm deficit. Later, it discovered from the calculation that the value of sustainable yields is lower than total water need each year. In 2016 Pramuka island experienced water deficit that equal to 164m3 per day. The rate of freshwater production that needed from new reverse osmosis instalation is 226 m3 per day Keywords: Pramuka island, small island, groundwater, water balance, Thornthwaite-Mather, sustainable yield.
ANALISA KINERJA FAKTOR KEBERHASILAN SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN KEGIATAN INDUSTRI MINYAK DENGAN PENDEKATAN INTEGRATED ENVIRONMENT PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM (IEPMS) – AHP Abrori, Reiza Fandrio; Oginawati, Katharina
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstrak: Sistem manajemen lingkungan menjadi fokus utama dalam upaya melindungi lingkungan saat ini. Untuk itu diperlukan analisa kinerja faktor keberhasilan dalam implementasi sistem manajemen lingkungan pada lingkup perusahaan agar dapat menjadi sebuah penilaian dan pengukuran terhadap faktor yang sudah baik atau terdapat faktor yang perlu dilakukan pembenahan. Daerah penelitian yang ditinjau adalah perusahaan Migas yang telah memiliki sistem manajemen lingkungan, atau bahkan telah mendapat sertifikasi ISO 14001. Ditetapkan beberapa faktor kinerja yang akan ditentukan dengan pendekatan Integrated Environment Performance Measurement System (IEPMS) dalam mengidentifikasi Key Enviromental Performance Indicator (KEPI). Untuk menyusun hierarki model dan mendapatkan bobot setiap KEPI digunakan Analytic hierarchy process (AHP) dalam mengolah data kuesioner perbandingan berpasangan sehingga dapat ditentunkan bobot kepentingan KEPI. Untuk selanjutnya dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan Objective Matrix (OMAX) dalam penilaian tingkat kinerja perusahaan dalam melakasanakan Sistem Manajemen Lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa perusahaan memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan sistem manajemen lingkungan ISO 14001 dengan faktor yang paling berpengaruh adalah kebijakan lingkungan perusahaan serta keuntungan yang paling dirasakan adalah meningkatkan kepercayaan pelanggan. Kata kunci: Sistem Manajemen Lingkungan, Integrated Environment Performance Measurement System, ISO, ISO 14001, AHP, Lingkungan berkelanjutan Abstract: Environmental management systems are the main focus of efforts to protect the environment today. It is necessary to analyze the performance of success factors in the implementation of environmental management system on the scope of the company in order to become an assessment and measurement of factors that are good or there are factors that need improvement. The research areas reviewed are oil and gas companies that already have an environmental management system, or even have received ISO 14001 certification. Several performance factors will be determined by the Integrated Environment Performance Measurement System (IEPMS) approach in identifying Key Enviromental Performance Indicator (KEPI). To compile the model hierarchy and get the weight of each KEPI used Analytic hierarchy process (AHP) in processing the data paired comparison questionnaire so that it can be weighted the importance of KEPI. For further measurement using Objective Matrix (OMAX) in the assessment of company performance level in carrying out Environmental Management System. Company has a good performance in implementing the environmental management system ISO 14001 with the most influential factor is the company's environmental policy and the most perceived advantage is to increase customer confidence. Keywords: Environmental Management System, Integrated Environment Performance Measurement System , ISO, ISO 14001, AHP,Sustainable environments
KINETIKA PERTUMBUHAN BAKTERI PADA BIOREMEDIASI TANAH TERCEMAR LIMBAH TEKSTIL DENGAN TEKNIK FORCED-AERATED STATIC PILE (STUDI KASUS: LAHAN SAWAH RANCAEKEK) Primanandi, Dendy; Effendi, Agus Jatnika
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak : Perkembangan industri tekstil setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Dimana limbah warna yang dihasilkan pun tentunya juga akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Studi kasus yang diambil pada penelitian bioremediasi tanah tercemar limbah tekstil ini dilakukan pertama kali dengan menggunakan sampel tanah yang berada di area persawahan di daerah Rancaekek denga menerapkan teknologi forced-aerated static pile. Bakteri indigenous diperbanyak dan diinokulasikan pada media SBS yang sudah yang ditambahkan zat warna sebagai adaptasi dan perolehan parameter kinetika pertumbuhan bakteri. Parameter kinetika bakteri yang diperoleh yaitu nilai laju pertumbuhan spesifik (µ), laju pertumbuhan sepsifik maksimum (µmax), konstanta setengah jenuh (KS), koefisien sintesa sel (Y), laju pemanfaatan substrat spesifik (q), laju pemanfaatan substrat spesifik maksimum (qmax), dan koefisien kematian endegenous (Kd), berturut-turut adalah sebesar 0,01111-0,1326/jam; 0,1979/jam; 189 TCU mg/l; 0,0028; 39,7-47,4/jam; 70,69/jam; 0,0033/jam. Dari hasil pengukuran karakteristik awal yang dilakukan, struktur tanah tergolong lempung berlanau dengan porositas 83%. Konsentrasi warna awal yang terkandung adalah sebesar 1.846 TCU mg/l. Populasi bakteri heterotrof yang didapatkan saat awal sebanyak 210.104 CFU/g tanah dan autotrof sebanyak 217.103 CFU/g tanah. Variasi laju udara dan pH diujikan pada skala reaktor sederhana sistem batch menggunakan reaktor sederhana. Variasi laju udara yang diinjeksikan ke dalam pile tanah  sebanyak empat perlakuan yaitu (0,6; 1,05; 1,35; dan 1,8) LPM, disertai dengan kontrol. Laju penurunan warna tertinggi yang dicapai selama 74 hari penelitian adalah pada laju udara 1,05 LPM, dengan efisiensi sebesar 49%. Laju udara optimum yang didapatkan pada hasil penelitian dilanjutkan sebagai acuan pada empat variasi pH yaitu 4-5; 6-7; 7-8; 8-9; disertai dengan kontrol. Penurunan warna  tertinggi yang dicapai adalah pada variasi pH 7-8 dengan konsentrasi akhir yang dicapai adalah 783 TCU mg/l. Kata kunci: bioremediasi, biopile forced-aerated static pile, zat warna, limbah tekstil Abstract : The development of the textile industry continues to increase every year. Where dy-containing wastewater will certainly also have a negative impact on the surrounding environment. Bioremediation soil contaminated with textile effluent this research was first conducted by using soil samples located in paddy fields in Rancaekek area. Forced-aerated static pile technology can improve the biodecolorization process of textile effluent. Indigenous bacteria are reproduced and inoculated on SBS media that have been added to the dye as an adaptation and acquisition of bacterial growth parameters. Parameters of bacterial kinetics obtained were the value of specific growth rate (µ), maximum septic growth rate (µmax), half saturated constant (KS), cell synthesis coefficient (Y), specific substrate utilization rate (q), maximum specific substrate utilization rate (qmax), and endegenous mortality coefficient (Kd), respectively 0,01111-0,1326/hour; 0,1979/hour; 189 TCU mg/l; 0,0028; 39,7-47,4/hour; 70,69/hour; 0,0033/hour. From the results of the measurement of the initial characteristics carried out, the soil structure is classified as dusty and slightly clayy clay. The initial color concentration contained was 1.846 TCU mg / l. The population of heterotrophic bacteria obtained at the beginning was 210.104 CFU / g of soil and autotrophs of 217.103 CFU/g of soil. Variations in air rate and pH were tested on a simple reactor batch system using a simple reactor. Variations in the rate of air injected into the soil pile were four treatments, namely (0,6; 1,05; 1,35; and 1,8) LPM, and control. The highest color decolorization rate that was able to be achieved during 74 days of research was at an air rate of 1,05 LPM, with a final color concentration reaching 941 TCU mg/l. The optimum air rate obtained in the results of the study was continued as a reference on four pH variations of 4-5; 6-7; 7-8; 8-9; and control. The highest decolorization achieved was the variation of pH 7-8 with the final concentration achieved was 783 TCU mg/l. Keywords: bioremediation, biopile forced-aerated static pile, dye stuff, textile effluent
PENYISIHAN ZAT WARNA NAPHTHOL PADA LIMBAH CAIR BATIK DENGAN METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN ADSORBEN TANAH LIAT DAN REGENERASINYA Atirza, Valerie; Soewondo, Prayatni
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abtrak: Industri Kecil Menengah (IKM) batik merupakan salah satu penghasil limbah cair yang berasal dari proses pewarnaan dengan kandungan zat warna yang tinggi juga mengandung bahan-bahan kimia sintetis yang cukup stabil dan sukar untuk diuraikan/didegradasi secara alami, sehingga dapat membahayakan lingkungan sekitar. Apabila konsentrasi yang dibuang ke lingkungan cukup tinggi maka dapat menaikkan nilai COD (Chemical Oxygen Demand). Salah satu metode pengolahan limbah cair khususnya hasil proses pewarnaan batik, saat ini yang banyak dilakukan penelitian dan pengembangan adalah adsorpsi dengan menggunakan berbagai jenis adsorben yang berbeda beda. Alternatif lain jenis adsorben yang digunakan adalah tanah liat (clay), hal ini dilakukan mengingat keberadaan tanah liat melimpah di alam dan merupakan bahan alami yang dapat ditemukan hampir di semua wilayah Indonesia khususnya di Bandung, Jawa Barat. Zat warna naphthol merupakan salah satu pewarna sintetis yang digunakan dalam pembuatan batik. Pada penelitian ini dilakukan proses adsorpsi menggunakan limbah cair yang mengandung zat warna naphthol dari hasil proses pembuatan batik dengan adsorben tanah liat dan regenerasinya. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi terbesar untuk adsorben tanpa modifikasi adalah 65,648% dengan dosis 1,5 gr dan waktu kontak 30 menit, sedangkan adsorben dengan modifikasi didapat efisiensi sebesar 82,809% untuk dosis 2 gr dan waktu kontak 60 menit. Kinetika yang menggambarkan proses adsorpsi adalah kinetika pseudo orde 2 untuk kedua adsorben dan isoterm adsorpsi adalah isotherm Freundlich. Kata kunci: adsorpsi, tanah liat, napthol, isoterm Abstract: Small and medium industry (IKM) batik is one of the producers of liquid waste that comes from the process of staining with substances of high color also contains synthetic chemicals that are fairly stable and difficult to untangle/degradation in naturally, so that can harm the environment. When the concentration of dumped into the environment high enough then it can raise the value of COD (Chemical Oxygen Demand). One of the liquid waste processing methods in particular results of batik coloring process, which is currently much research and development is carried out adsorption using various types of different adsorbents. Other alternative types of adsorbents used is clay, this is done considering the existence of clay abundant in nature and are the natural ingredients that can be found in almost all regions of Indonesia especially in Bandung, West Java. Naphthol color substances is one of the synthetic dyes are used in the making of Batik. On the research of the adsorption process was carried out using liquid waste containing the substance the color results from naphthol batik processing with adsorbent clay and its regeneration. The results showed the greatest efficiency for adsorbents without modification was 65.648% with a dose of 1.5 grams and a contact time of 30 minutes, while the adsorbent with modification obtained efficiency of 82.809% for a dose of 2 grams and 60 minutes contact time. Kinetics that describes the process of adsorption is a pseudo second-order kinetics for both the adsorbent and adsorption isotherm is Freundlich.Keywords: adsorption, clay, naphthol dyes, isotherm
APLIKASI CONTINGEN VALUATION METHOD DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PERAIRAN KAWASAN PEMUKIMAN DI SEKITAR PESISIR Magfira, Nurul; Sudradjat, Arief
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Banyaknya sampah yang ditemukan di sekitar perairan Kota Ternate pada hunian rumah panggung menunjukkan buruknya pengelolaan limbah sampah. Untuk mengurangi gangguan yang timbul maka diperlukan tindakan dalam mengurangi kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari menurunnya kualitas lingkungan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi dan kekhawatiran masyarakat yang mempengaruhi besarnya kesediaan masyarakat untuk membayar (WTP) untuk peningkatan kualitas perairan kota Ternate melalui metode valuasi kontingen (CVM). Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi dengan total 257 respondent dari dua administrasi area berbeda yaitu pusat kota yang sudah direklamasi dan jauh dari pusat kota yang belum direklamasi. Analisis WTP dalam upaya peningkatan kualitas perairan pesisir Kota Ternate dengan CVM menunjukkan bahwa tingkat kesediaan membayar masyarakat sebesar Rp. 20.000/KK/bulan. Besarnya WTP masyarakat dipengaruhi oleh frekuensi limbah buangan sampah, persepsi pencemaran laut, persepsi bau, persepsi warna, kuantitas buangan sampah di laut, frekuensi pembersihan laut, estetika laut, kekhawatiran terhadap sumber pencemar, dan kesediaan partisipasi dalam upaya peningkatan kualitas perairan Kota Ternate. Besarnya nilai manfaat ekonomi peningkatan kualitas perairan laut Kota Ternate adalah sebesar Rp. 141.120.000/tahun yang menunjukkan adanya potensi masyarakat untuk mendukung kebersihan lingkungan perairan laut Kota Ternate. Kata kunci: sampah, ekosistem pesisir, rumah panggung, Willingness to Pay (WTP), dan Contingen Valuation Method (CVM)    Abstract : The amount of garbage found around the waters of Ternate City on the shelter of houses on stilts shows the management of waste is poorly managed. To reduce the disruption that arises it will require action in reducing the economic losses resulting from the declining quality of the coastal environment. This study aims to identify people's perceptions and concerns that affect the amount of people's willingness to pay (WTP) to improve the quality of Ternate city waters through contingent valuation method (CVM). Data analysis used is regression analysis with total 257 respondents from two with different administration locations is downtown already reclaimed and far from the citizen who are reclaimed. Analysis of WTP in efforts to increase quality of coastal waters city of Ternate with CVM suggests that the public?s willingness to pay (WTP) is Rp. 20.000/KK/month. WTP amount is influenced by frequency of waste gabbage, perception of sea pollution, perception of odor, perception of color, quantity garbage at sea, frequency of cleaning the sea, aesthetics of the sea, concern of pollutant sources and the willingness to contribute to programme. The value of the economic benefits increasing water quality coastal of Ternate city waters is Rp. 141.120.000/year which indicates good potensial from the community to support cleanliness environment of the Ternate city coastal waters..Keywords: garbage, coastal ecosystem, houses on stilts, Willingness to Pay (WTP), Contingen Valuation Method (CVM)
IDENTIFIKASI SEBARAN LOGAM BERAT ARSEN (AS) DARI SISTEM PANAS BUMI PADA AIR TANAH DANGKAL DENGAN METODE KRIGING Afifah, Nuha Amiratul; Notodarmojo, Suprihanto
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Arsen adalah elemen jejak bersifat toksik dan dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Salah satu sumber paparan arsen untuk manusia adalah melalui air tanah. Air tanah yang terindikasi memiliki kandungan arsen tinggi salah satunya adalah air tanah yang berada pada lokasi yang terpengaruh oleh sistem panas bumi. Kontaminasi arsen pada air tanah merupakan suatu permasalahan global yang cukup serius dan  telah didapati kontaminasi arsen pada air tanah terjadi di Taiwan, Chile, Bangladesh, Argentina, Meksiko, China, dan India. Sub-DAS Ciwidey merupakan area di salah satu lereng Gunung Patuha yang terletak di selatan Cekungan Bandung memiliki banyak manifestasi panas bumi yang merupakan salah satu sumber polutan alami yang merupakan polutan vulkanogenik. Penelitian yang dilakukan pada sampel air tanah dangkal di Sub-DAS Ciwidey menunjukkan bahwa konsentrasi arsen berkisar 0.001 mg/l sampai dengan 3.25 mg/l, melebihi batas aman yang telah ditetapkan oleh WHO dan Indonesia yaitu 0.01 mg/l. Metode geostatistik dengan Simple Kriging tanpa transformasi memberikan hasil prediksi yang paling akurat. Interpretasi kehadiran arsen berdasarkan analisa geokimia air tanah menggunakan Diagram Schoeller menunjukkan hasil bahwa air tanah di lokasi studi berasal dari sumber yang sama, dan terpengaruh oleh sistem panas bumi. Dengan demikian, maka diperkirakan sebanyak 430,600 jiwa berisiko terpapar oleh kontaminasi arsen di air tanah dangkal yang melebihi batas aman yang telah ditetapkan WHO. Kata kunci: arsen, panas bumi, air tanah dangkal, Sub-DAS Ciwidey, metode kriging Abstract: Arsenic is a toxic trace element that can cause various negative impacts on human health. One of arsenic exposure source for humans is through groundwater. One of groundwater indicated with high arsenic content, is groundwater in a location affected by geothermal systems. Arsenic contamination in groundwater is a serious global problem and arsenic contamination in groundwater has occurred in Taiwan, Chile, Bangladesh, Argentina, Mexico, China and India. Ciwidey Sub-watershed is an area on Mount Patuha slope located in the south of Bandung Basin has many geothermal manifestations which is one source of volcanogenic pollutant, including arsenic. A study conducted on shallow groundwater samples in Ciwidey Sub-watershed showed that arsenic concentrations ranged from 0.001 mg/L to 3.25 mg/L, exceeded the safe limits established by WHO and Indonesia. Geostatistical methods with Simple Kriging without transformation provide the most accurate prediction results. Interpretation of arsenic presence based on groundwater geochemical analysis using Schoeller Diagram shows the result that groundwater at the study site comes from the same source, which is influenced by geothermal system. Thus, an estimated 430,600 people are at risk of exposure to arsenic contamination in shallow groundwater beyond the safe limits established by WHO. Keywords: arsenic, geothermal, shallow groundwater, Ciwidey Sub-watershed, kriging method
KAJIAN SISA UMUR PAKAI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SUMUR BATU KOTA BEKASI DENGAN OPTIMALISASI SISTEM PENGOLAHAN Tuzzahra, Najmi Nafisa; Ainun, Siti
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Timbulan sampah dari Kota Bekasi yang terangkut ke TPA Sumur Batu baru sebesar 40% dari timbulan sampah Kota Bekasi yaitu sebanyak 400-800 ton/hari dan terus meningkat dengan laju peningkatan timbulan sampah 0,12% setiap tahunnya. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi untuk mengurangi jumlah timbulan sampah yang masuk ke zona aktif adalah melalui pengadaan teknologi Waste to Energy (WTE). Teknologi Waste to Energy (WTE) berupa sampah yang dijadikan briket/pellet Refuse Derived Fuel (RDF) yang kemudian briket/pellet tersebut dijadikan bahan bakar dalam proses pembangkit listrik di TPA Sumur Batu. Karakteristik sampah Kota Bekasi seperti kadar air, kadar volatil, kadar abu dan nilai kalor sudah memenuhi standar karaktersitik sampah yang dapat dijadikan Refuse Derived Fuel (RDF), sehingga dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE) dapat mengurangi volume sampah hingga 90%. Berdasarkan hasil observasi, pengoperasian landfill di TPA Sumur Batu belum sesuai dengan kriteria desain sehingga terjadi penumpukan sampah yang menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan,untuk itu dilakukan pengoperasian landfill yang sesuai dengan kriteria desain dengan adanya pengaturan kemiringan dan ketinggian sampah. Melalui pemodelan pengoperasian landfill sesuai dengan kriteria desain pada seluruh zona dengan menggunakan AutoCAD Land Desktop dapat diketahui total sisa volume TPA Sumur Batu sebesar 581.397 m3, yang kemudian akan diproyeksikan dengan timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu untuk mengetahui sisa umur pakai.  Pada penelitian ini dilakukan kajian sisa umur pakai TPA Sumur Batu tanpa mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE) dan dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE), sehingga dapat menjadi bahan rekomendasi untuk pihak pengelola terkait pengoperasian Waste to Energy (WTE). Sisa umur pakai tanpa upaya mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE) adalah 183 hari dan sisa umur pakai dengan mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE)  adalah 1424 hari.Kata kunci: Sisa Umur Pakai, Karakteristik Sampah, Waste to Energy (WTE) Abstract: Waste generation from Bekasi City which is transported to Sumur Batu Solid Waste Disposal Site is only 40% of the garbage generation in Bekasi City, which is 400-800 tons / day and continues to increase with the rate of increase in waste generation 0.12% annually. Efforts made by the Bekasi City Government to reduce the amount of waste generation entering the active zone are through the procurement of Waste to Energy (WTE) technology. Waste to Energy (WTE) technology in the form of waste is used as a briquette / pellet Refuse Derived Fuel (RDF) which is then used as a fuel in the process of generating electricity at the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site. The characteristics of Bekasi City waste such as water content, volatile content, ash content and calorific value have met the waste characteristics standards that can be used as Refuse Derived Fuel (RDF), so that by operating Waste to Energy (WTE) can reduce waste volume up to 90%. Based on observations, landfill operation in the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site has not been in accordance with the design criteria, so there is a buildup of waste that has a negative impact on the environment. For this reason, the operation of the landfill is in accordance with the design criteria by setting the slope and height of the waste. Through the modeling of landfill operations in accordance with the design criteria for all zones using the AutoCAD Land Desktop, the total remaining volume of the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site is 581,397 m3, which will then be projected with waste generation entering the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site to find out the useful life. A study of the useful life of the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site without operating Waste to Energy (WTE) technology and by operating Waste to Energy (WTE) so that it can be used as a recommendation for management regarding the operation of Waste to Energy (WTE). The useful life without attempts to operate Waste to Energy (WTE) technology is 183 days and the useful life by operating Waste to Energy (WTE) technology is 1424 days.Keywords: Useful life, Characteristics of Waste, Waste to Energy (WTE)

Page 1 of 1 | Total Record : 7