cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
PENYEDIAAN AIR MINUM DI DAERAH PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG MELALUI RAINWATER HARVESTING Ade Esti Rahmayanti; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.2

Abstract

Abstrak: Atap rumah merupakan komponen utama dalam sistem pemanenan air hujan, sehingga selain dari kondisi lingkungan yang mempengaruhi kualitas air hujan, atap rumah juga memberikan pengaruh terhadap kualitas air hujan yang dipanen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari waktu Panen Air Hujan, lokasi pemanenan air hujan, dan beberapa jenis atap (asbes, seng dan genting tanah liat) terhadap kualitas air hujan terpanen. Beberapa parameter uji kualitas air (pH, kekeruhan, suhu, TDS, Fluorida, Nitrit, Nitrat, Besi, Seng, Kadmium, Kromium, Kesadahan, Mangan, Sulfat, Klorida) dianalisa dan hasilnya dibandingkan dengan standard baku mutu untuk air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.Konsentrasi Kadmium (Cd) yang terkandung pada air hujan terpanen saat hujan kedua (0,0204 mg/L) lebih tinggi dibandingkan dengan hujan pertama (0,0123 mg/L). Atap genting merupakan jenis atap yang paling ideal untuk melakukan pemanenan air hujan dan kualitas air hujan yang jatuh di lokasi industri maupun lokasi yang jauh dari industri tidak jauh berbeda. Kuantitas air hujan dalam rangka penyediaan air minum melalui pemanenan air hujan ditunjukkan dengan tingkat keandalan atau reliabilitas (Re) melalui simulasi tampungan air hujan untuk kapasitas tangki 1 m3 menggunakan data hujan selama tiga tahun berturut-turut dan simulasi tersebut menunjukkan bahwa keandalan air hujan sebagai alternatif sumber air minum, sumber air untuk memasak pada saat musim penghujan berlangsung yang jatuh di lokasi studi bisa mencapai 79,84% dan 45,80%. Sedangkan tingkat keandalan air hujan sebagai alternatif sumber air minum sesuai dengan hasil survey bisa mencapai 91,97%. Survey sosial ekonomi menunjukkan bahwa tidak banyak masyarakat menyadari manfaat penggunaan air hujan dan beberapa dari mereka bahkan memiliki kesalahpahaman tentang kualitas air hujan. Persepsi negatif mengenai pemanenan air hujan adalah bahwa pemanenan air hujan bukan merupakan hal yang umum dilakukan terutama di daerah dekat dengan perkotaan. Kata kunci: Pemanenan air hujan, penyediaan air minum, kualitas air, kuantitas air hujan Abstract : Roof of the house is the main component in a rainwater harvesting system that gives direct impact towards the quality of the harvested rainwater regardless the environmental conditions. This study aims to determine the effect of time, location, and roofing material (asbestos, metal sheet and clay tiles)on the quality of rainwater harvested. Some water quality parameters (pH, turbidity, temperature, TDS, Fluoride, Nitrite, Nitrate, Iron, Zinc, Cadmium, Chromium) were analyzed and the results were compared to drinking water standard based on the Regulation of the Minister of Health No. 492 of 2010. Cadmium (Cd) concentration contained in harvested rainwater after several rain events (0.0204 mg/L) is higher than the first rains (0.0123 mg/L). Clay tile roof is the most ideal roofing material for harvesting rainwater and the quality of rainwater that falls on industrial area and the residential area is not very different. The quantity of rainwater as a supporting capacity in drinking water through rainwater harvesting is indicated by the level of reliability (Re) through simulated rainwater tank capacity of 1 m3 using daily rainfall data for three consecutive years and simulations showed that the reliability of rainwater as an alternative source of drinking water attained 91.97% and 45.80% for cooking purpose. While the level of reliability of rainwater as an alternative source of drinking water based on the socio-economic survey is 79.84%.Socio-economic survey shows that not manylocal people are aware of the benefits of utilizing rainwaterandsome of them even have a misunderstanding regardingthe quality of rainwater. Negative perceptions about rainwater harvesting is that rainwater harvesting is not a common thing to do, especially in areas close to urban. Key words: Rainwater Harvesting, Water Supply, Water Quality, Rainwater Quantity
PEMANFAATAN BIOMASSA DAUN PECAH BELING (Strobilanthes crispus) TERMODIFIKASI TANIN SEBAGAI SORBEN UNTUK LOGAM ORGANOLEAD Agung Budiraharjo; Sukandar Sukandar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.3

Abstract

Abstrak: Pb-organik atau senyawa organolead merupakan logam turunan dari Pb yang tingkatan toksisitasnya empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan senyawa logam Pb murni dan Pb ionik. Dalam penelitian ini, modifikasi tannin dari biomassa daun Strobilanthes cripus dimanfaatkan sebagai biosoben untuk mengurangi konsentrasi senyawa organolead. Biosorben yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga jenis: biosorben dari biomassa tanpa perlakuan (BTP), biosorben polimerisasi dari biomassa daun (BDP), dan biosorben polimerisasi ekstrak tannin dari biomassa (BEP). y Scanning Electron Microscopy (SEM), kadar air, kadar abu, kadar volatil, dan kadar karbon terikat dilakukan untuk menentukan karakteristik fisik dan kimia biosorben yang dibandingkan dengan SNI 06-3730 dan SII 0258-79. Untuk memperkirakan kapasitas penyerapan logam organolead, maka dilakukan percobaan secara sistem batch, dengan parameter yang mempengaruhi proses adsorpsi terdiri dari variasi ukuran biosorben, dosis biosorben, waktu kontak, serta konsentrasi awal limbah artifisial organolead. Mekanisme penyerapan organolead dianalisis melalui uji isoterm adsorpsi berdasarkan model Langmuir dan model Freundlich)  Kata kunci: organolead, biosorpsi, pecah beling (Strobilanthes cripus), polimerisasi tannin Abstract : Organic-Pb or organolead compound is a derivative of Pb metal which have toxicity levels four times higher than the pure metal Pb and Pb ionic. In this research, the modification of tannin from the Strobilanthes crispus  leaves biomass was utilized as an adsorbent material for the removal of organolead  from artificially contaminated solution. Biosorbent used in this study consists of three types: biosorbent from biomass without treatment (BTP), biosorbent treatment polymerization from the biomass (BDP), and biosorbent treatment polymerization from the tannin extract from biomass (BEP). The Scanning Electron Microscopy (SEM), moisture content, ash content, volatile content, and fixed carbon content was conducted to determine the physical and chemical characteristics of biosorbent compared to SNI 06-3730 and SII 0258-79. Batch experiments were used to predict the adsorption capacity of lead ion. Different parameters affecting the adsorption process were tested including initial adsorbent particle size, adsorbent dose, contact time and adsorbate dose.  The adsorption process of organolead was tested with Langmuir and Freundlich model. Key words: organolead, biosorption, pecah beling leaves, polymerization of tannin
ANALISIS MULTI KRITERIA TERHADAP PEMILIHAN KONSEP PENGELOLAAN SAMPAH (Studi Kasus : Daerah Perkampungan di Wilayah Danau Sentani) Alfred Benjamin Alfons; Tri Padmi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.4

Abstract

Abstrak: Penerapan sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Jayapura sampai saat ini masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat, karena belum bisa menjangkau masyarakat yang bermukim pada daerah perkampungan di pulau"“pulau di sekitar wilayah Danau Sentani. Akibatnya, 12.554,38 liter/hari sampah yang dihasilkan oleh masyarakat di wilayah ini menjadi tidak tertangani. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengembangkan dan kemudian memilih konsep pengelolaan sampah terbaik yang sesuai untuk diterapkan di Kampung Ifale, Kampung Yobeh, Kampung Putali, Kampung Atamali dan Kampung Asei Besar dengan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil perhitungan dengan metode AHP menunjukkan bahwa konsep pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang diawali pengolahan sampah skala rumah tangga terpilih sebagai alternatif konsep pengelolaan sampah yang paling sesuai dan dapat diterapkan pada lokasi penelitian. Hal ini disebabkan karena konsep ini memiliki bobot prioritas paling tinggi (2,05) jika dibandingkan dengan alternatif"“alternatif konsep pengelolaan sampah yang lainnya. Berdasarkan pada hasil perhitungan ini pula, aspek lingkungan, aspek sosial dan aspek teknis terpilih sebagai kriteria utama yang harus dipertimbangkan dengan masing"“masing bobot kriteria secara berurutan yaitu 0,534, 0,186 dan 0,147. Sub kriteria yang menjadi prioritas untuk dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan ini ialah pencemaran air dan tanah akibat lindi yang dihasilkan, potensi pencemaran udara yang dalam hal ini ialah bau dan emisi gas, penyebaran vektor penyakit, peran serta masyarakat dan kemudahan operasional.Kata kunci: pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pemilihan konsep pengelolaan sampah, metode AHP Abstract : The application of solid waste management system in Jayapura until now is still far from what people expected, because still not able to reach communities who live in the villages area on the islands around Sentani Lake region. As a result, 12.554.38 liters/day of solid waste generated by the community in this region is became dormant. This study aims to identify, develop and then selecting the best solid waste management concept that is suitable to be applied in Ifale Village, Yobeh Village, Putali Village, Atamali Village and Asei Besar Village using the Analytic Hierarchy Process (AHP) method. The AHP method calculations show that solid waste management concept in integrated solid waste treatment facility which starts with solid waste treatment on household scale has chosen as an alternative solid waste management concepts that can be applied and most suitable to the study site. This happens because this concept has the highest priority weight (2.05) compared to the other alternatives of solid waste management concept. Based on the results of this calculation, the environmental aspects, social aspects and technical aspects become the main criterias to be considered with each sequence weighting criteria are 0.534, 0.186 and 0.147. Sub-criteria with the highest priorities to be considered in making this decision are the air and soil pollution due produced lindi, air pollution potential in this case is the smell and gas emissions, vector disease deployment, public participation and ease of the operations. Key words: community based solid waste management, solid waste management concept selection, AHP method
ANALISIS POLA PENYEBARAN LOGAM BERAT PADA AIR TANAH DANGKAL AKIBAT LINDI DI SEKITAR TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) JATIBARANG, SEMARANG Deardo Chandra Vaskanus Purba; Idris Maxdoni Kamil
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.5

Abstract

Abstrak: TPA Jatibarang yang terdapat di kota semarang memiliki daya tampung sebesar 4,15 juta m3. Tetapi pada tahun 2002, timbunan sampah yang berada di TPA telah mencapai ±5,2 juta m3 sampah. Bilamana sampah yang ditimbun pada TPA telah melebihi daya tampung yang diijinkan, maka dapat menyebabkan air lindi menjadi sulit untuk dikendalikan. Air lindi akan berinfiltrasi ke dalam air tanah dan mencemari sumur penduduk yang tinggal di sekitar TPA. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penyebaran kontaminan logam berat yang terkandung dalam lindi pada air tanah dangkal. Penelitian ini dilakukan di TPA Jatibarang, Kelurahan Kedungpane Kecamatan Mijen Kota Semarang. Metode yang dilakukan adalah dengan menggunakan pemodelan matematis analitik. Hasil studi menunjukkan bahwa konsentrasi kromium hexavalen, kadmium dan timbal telah melebihi baku mutu yang dianjurkan. Konsentrasi kromium Hexavalen (Cr6) dan Timbal (Pb) pada lindi masing-masing adalah sebesar 1,389 mg/l dan 0,131 mg/l. Kecepatan aliran air tanah sebesar 0,06 m/hari mengalir dari kontur yang lebih tinggi menuju kontur yang lebih rendah. Pengambilan sampel air tanah dilakukan pada permukiman terdekat yang berjarak 300 meter sampai pada jarak 600 meter. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa konsentrasi kromium hexavalen pada wilayah air tanah dangkal 0,0135-0,045 mg/l, konsentrasi Timbal 0,0005-0,0042 mg/l, Daya hantar listrik 0,49-0,85 mS/cm, dan pH 5,66-6,45. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa konsentrasi kromium hexavalen pada lindi masi dapat terdeteksi pada jarak ± 300 meter, sedangkan konsentrasi timbal pada lindi masi dapat terdeteksi pada jarak ± 200 meter. Berdasarkan simulasi model dalam memprediksi persebaran kontaminan pada air tanah, bila tanpa adanya pengelolaan yang baik maka 10 tahun mendatang, konsentrasi kromium hexavalen pada air tanah akan melebihi baku mutu yang ditetapkan, sedangkan pada parameter timbal, air tanah akan tercemar timbal setelah 50 tahun.Kata kunci: Air tanah, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), lindiAbstract : Jatibarang Landfill, is located in Semarang city, and has the capacity of 4.15 million m3. In 2002, the total solid waste disposed reached approximately 5.2 million m3. When the volume of solid waste disposed exceeds a landfill's capacity, it causes difficulties in the leachate management. Leachate will infiltrate to the soil surface and migrate to the groundwater table then penetrate to residents'wells. The aim of this study is to analyze the distribution of heavy metal contaminants in the leachate, in the unsaturated zone. This research was conducted in Jatibarang landfill, Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. The research uses analytical mathematic model. The study results show that Chromium Hexavalent (Cr6) and Lead (Pb) concentrations were above prescribed standards. Chromium Hexavalent and Lead concentrations are 1.389 mg/l dan 0.131 mg/l, respectively. Seepage velocity is observed at 0.06 m.day-1which flowed from higher contour to the lower contour. Groundwater sample was taken from the nearest settlement, 300-600 meters from Jatibarang Landfill. Laboratory analysis showed that Chromium hexavalent and lead concentrations in unsaturated zone ranged from 0.0135-0.045mg/l and 0.0005-0.0042 mg/l, respectively. Electric conductivity was in the range of 0.49-0.85 mS/cm and pH,5.66-6.4. Model simulations show that Chromium Hexavalent has reached wells located ± 300 meters from the Landfill, whereas Lead has reached wells located ± 200 meters from the Landfill. Model simulation in predicting contaminants spreading, shows that Chromium Hexavalent concentration in groundwater will reach above standard after 10 years, whereas Lead concentration will contaminate the groundwater after 50 years.Key words: Groundwater, Landfill, Leachate
AKUMULASI LOGAM TIMBAL (Pb) PADA KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir) Denalis Rohaningsih; Barti Setiani Muntalif
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.6

Abstract

Abstrak: Timbal, salah satu logam berat yang berbahaya terhadap organisme dan lingkungan, ditemukan dalam limbah yang berasal dari kawasan industri textil Leuwigajah, Cimahi. Selain memiliki kelarutan yang baik dalam air dan dapat terakumulasi di dalam tanah, tanaman yang tumbuh di lahan tercemar dapat menyerap substansi yang berbahaya ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana logam timbal dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pada penelitian ini hanya dikaji pengaruh akumulasi timbal pada tanaman kangkung darat (Ipomoea retans Poir). Selain konsentrasi timbal, pengaruh kehadiran kromium dalam tanah ikut dikaji pada penelitian ini. Penelitian diawali dengan (1) karakterisasi awal sampel tanah dari lokasi studi, (2) rancangan penanaman, (3) penanaman kangkung darat, (4) panen/pengampilan sampel, dan (5) analisis logam. Konsentrasi timbal mulai dianalisis pada kangkung darat berumur satu minggu. Analisis logam timbal dilakukan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Dibuat empat variasi media tanam. Berdasarkan hasil pengukuran, logam timbal paling banyak terakumulasi di bagian akar kangkung darat kecuali kangkung darat variasi A dan variasi C yang mengakumulasi lebih banyak di bagian batang. Hingga hari ke-25, konsentrasi timbal dalam jaringan tanaman kangkung darat semua variasi belum melebihi baku mutu, yakni 0,5 mg kg-1. Kangkung darat variasi C memiliki kandungan timbal dengan jumlah tertinggi pada keseluruhan jaringan tanamannya (245,22 mg kg-1). Akumulasi timbal paling banyak terjadi pada bagian batang (89,18 mg kg-1). Adanya kromium di dalam media tanam variasi C dan variasi D menyebabkan akumulasi logam timbal menurun. Penambahan pupuk pada media tanam variasi B dan variasi D terbukti menurunkan akumulasi timbal dalam jaringan tanaman kangkung darat. Pengaruh logam pada pertumbuhan kangkung darat mulai terlihat pada hari ke-10. Terjadi klorosis pada beberapa daun kangkung darat variasi C. Semua variasi kangkung darat memiliki nilai faktor biokonsentrasi < 1 (variasi A = 0,32; variasi B = 0,33; variasi C = 0,34; variasi D = 0,36). Hanya kangkung darat variasi B yang memiliki nilai faktor translokasi < 1. Nilai ini dibuktikan dengan akumulasi timbal yang paling tinggi di bagian akar. Kata kunci: timbal, kromium, kangkung darat, Ipomoea reptans Poir, akumulasi Abstract : Lead, a heavy metal that harms different organisms, has been found in the waste of the garment industry in industrial area of Leuwigajah, Cimahi. As lead accumulated easily in water and soil via waste being discharged into the environment, plants in the contaminated area can absorb this hazardous substance. This situation calls into an assessment of "to which extent the toxicity of lead can impact the growth of plants". Within the research scope, only water spinach (Ipomoea reptans Poir) will be studied. Beside the dose of lead, the study also takes the presence of chromium into consideration. The sequences of research include: (1) An initial measurement of soil from sampling site, (2) planting design, (3) plantation of water spinach, (4) havest/sampling, and (5) analysis of metal. Lead concentration analysis begin with one-week-old water spinach. Analysis of lead performed by atomic absorption spectrophotometry method. Four variations of planting medium has been made. The result showed that lead mostly accumulated in root except variant A and variant C which accumulate more lead in stem. Until day 20th, lead concentration in water spinach plant tissues not yet exceed the regulation for maximum lead in vegetables (0.5 mg kg-1). Water spinach variant C has the highest amount of lead in its tissues (245.22 mg kg-1). Lead mostly accumulated in stem part (89.18 mg kg-1). The presence of chromium in planting medium variant C and variant D decreases the accumulation of lead. Addition of fertilizer in planting medium variant B and variant D proven decreases the accumulation of lead in plant tissues. Effect of metal presence on water spinach growth seen at day 10th. There is chlorosis in leaves of water spinach variant C. All of water spinach variations have bioconcentration value below 1 (variant A = 0.32; variant B = 0.33; variant C = 0.34; variant D = 0.36). Only water spinach variant B that has translocation value below 1. This value has proven by highest lead accumulation in its root. Key words: lead, chromium, water spinach, Ipomoea reptans Poir, accumulation
KANDUNGAN MERKURI PADA URIN DAN RAMBUT SEBAGAI INDIKASI PAPARAN MERKURI TERHADAP PEKERJA TAMBANG EMAS TANPA IZIN (PETI) DI DESA PASAR TERUSAN KECAMATAN MUARA BULIAN KABUPATEN BATANGHARI – JAMBI Fairuz Zaharani; Indah Rachmatiah S. Salami
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.7

Abstract

Abstrak: Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang terdapat di Desa Pasar Terusan Kecamatan Muara Bulian diketahui telah berlangsung sejak tahun 1980-an. Kegiatan penambangan berlangsung di DAS Batanghari hingga berpotensi menyebabkan penurunan kualitas lingkungan serta gangguan kesehatan terhadap penambang maupun masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pajanan merkuri pada penambang. Desain studi yang digunakan adalah Cross Sectional dengan pendekatan obesrvasional analitik dan kuantitatif yang kemudian dideskripsikan untuk menggambarkan hubungan faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi kadar merkuri dalam urin dan rambut penambang. Wawancara dilakukan untuk mengetahui karateristik responden. Pengambilan sampel urin dan rambut dilakukan terhadap penambang yang kontak secara langsung maupun yang tidak kontak secara langsung dengan merkuri. Sampel urin dan rambut diuji Total Merkuri (T-Hg) dengan menggunakan metode CV-AAS dan kreatinin urin (U-Kreatinin) diuji dengan metode Jaffe Reaction. Pekerja tambang yang kontak langsung dengan merkuri diketahui memiliki rata-rata kadar merkuri pada rambut sebesar 3,57±4,134 µg/g dan urin 24,08±46,322 µgHg/g-kreatinin. Sedangkan kadar rambut pada pekerja non-amalgamasi diketahui 6,37±11,951 µg/g dan urin 19,72±38,542 µgHg/g-kreatinin. Berdasarkan hasil uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95% terdapat 1 faktor yang secara statistik memiliki hubungan signifikan dengan kadar merkuri pada rambut penambang yaitu jam kerja pekerja non-amalgamasi terhadap kadar merkuri rambut (p=0,0302) (OR=1,250). Sedangkan hasil uji Chi-Square terhadap faktor lainnya diketahui tidak ada yang menyatakan hubungan yang signifikan antar variabel uji dengan kadar merkuri pada urin dan rambut pekerja amalgamasi maupun pekerja non-amalgamasi. Kata kunci: DAS Batanghari; PETI; Paparan Merkuri; Urin; Rambut. Abstract : Artisanal Small-Scale Gold Mining (ASGM) in Desa Pasar Terusan, Kecamatan Muara Bulian has been ongoing since the 1980’s. The mining activities that took place in DAS Batanghari lead to environmental degradation and health problems for the workers and people residing the mining areas. This research aims to find out the factors influencing the mercury exposure in gold miners. Methode we conducted a Cross-Sectional study, with a quantitative and observational analytical approaches that aiming to determine the relationship the factors that influencing mercury levels in urin and hair of the miners. Interviews were conducted to determine the characteristics of respondents. Urine and hair sampling is conducted on miners who are directly and indirectly exposed to mercury. Total Mercury in urine and hair (T-Hg) is examined using CV-AAS method and Creatinine Urine (U-Creatinine) is analysed using Jaffe Reaction method. Mine workers with direct contact to the mercury found having average mercury levels in the hair of 3.57± 4.134 µg/g and urine 24.08± 46.322 μgHg /g-creatinine. While urine level in non-amalgamation workers known to 19.72± 38.542 μgHg/ g creatinine and hair 6.37±11.951 µg /g. Based on Chi-Square test with a confidence level of 95%, statistikally there is only work hour variable has a significant relationship with the mercury levels in the hair of non-amalgamation worker against to hair mercury levels with (p=0.0302) (OR=1.250) On the other hand Chi-Square test statically showed there is no significant relationship between variables with mercury levels in urine and hair of amalgamation workers as well as non-amalgamation workers. Key words: DAS Batanghari; PETI; Mercury Exposure; Urine-Mercury; Hair-Mercury.
REMEDIASI TUMPAHAN MINYAK MENGGUNAKAN METODE SOIL WASHING DENGAN OPTIMASI KONDISI REAKSI Agus Jatnika Effendi; Narita Indriati
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.8

Abstract

Abstrak: Pengembangan proses fisika-kimia, Soil Washing, masih jarang diaplikasikan pada setiap perusahaanperusahaan di Indonesia. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan proses biologi. Proses leaching merupakan salah satu metode alternative yang dapat diaplikasikan secara ekonomi karena tidak membutuhkan tambahan energy. Proses tersebut menggunakan surfaktan tween80 sebagai leaching agent untuk penyisihan TPH (Total Petroleum Hydrocarbon). Reaktor yang yang digunakan adalah leaching column berbahan dasar plexy glass yang memiliki ketinggian 100cm dan berdiameter 6cm. Pengukuran dilakukan dengan memvariasi konsentrasi surfaktan dan menentuan nilai koefisien distribusi. Diketahui kandungan TPH awal pada karakteristik, yaitu light oil (sand) 2,34%, heavy oil (loam) 1,61% dan light oil (sandy loam) 4,48%. Konsentrasi surfaktan optimum untuk tanah light oil (sand), heavy oil (loam), light oil (sandy loam) adalah 1,5%; 0% dan 0,5%. Berdasarkan hasil pengukuran Kd setelah proses Soil Washing diketahui bahwa nilai Kd optimum pada adalah tanah sand, yaitu sekitar 110,382 sedangkan untuk tanah light oil (sandy loam) dan heavy oil (loam), adalah dan 10,230 dan 27,183. Persentase COD tanah yang terleaching pada light oil (sand) sementara heavy oil (loam), light oil (sandy loam) adalah 74,8%; 63% dan 45%. TPH tanah yang tersisa adalah heavy oil (loam) 5009.2 mg/kg, light oil (sandy loam) 24490 mg/kg dan light oil (sand) 8704,4 mg/kg.  Kata kunci: Leaching Column, Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), Tween 80 Abstract : The development of physicochemical process, Soil Washing, is still seldom applicated in everycompany especially in Indonesia. Usually they still use biological process. Leaching process is one of alternative treatment that can be applicated economically because it doesn't need additional energy. This process used a surfactant Tween80 as Leaching Agent for TPH removal. The used reactor, leaching column based on plexyglass which had a height of 100 cm and a diameter of 6cm. Measurements were performed by varying the concentration of surfactant and Distribution Coefficient (Kd). It was known that the content of the initial TPH in soil characteristics, namely light oil (sand) 2.34%, heavy oil (loam) 1.61% and light oil (sandy loam) 4.48%. The optimum of concentrations for light oil (sand), heavy oil (loam), light oil (sandy loam) are 1.5%; 0% dan 0.5%. Based on the result of Distribution Coefficient (Kd) after Soil Washing process was known that the optimum Kd was Sand (light oil) 110,382, loam (heavy oil) 27,183 and sandy loam (light oil) 10.230. Percentage of leached Soil COD in light oil (sand), heavy oil (loam), light oil (sandy loam) were 74.8%; 63% and 45%. Then, TPH measurement result left in the soil are heavy oil (loam) 5009.2 mg/Kg, light oil (sandy loam) 24,490 mg/Kg and light oil (sand) 8704.4 mg/Kg. Key words: Leaching Column, Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), Tween 80
PEMODELAN KUALITAS AIR MENGGUNAKAN MODEL QUAL2K (Studi Kasus: DAS Ciliwung) Desy Triane; Suharyanto Suharyanto
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.9

Abstract

Abstrak: Pengelolaan DAS Ciliwung termasuk salah satu program kebijakan Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia (Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Masyarakat) yang terdapat pada salah satu target Millenium Development Goals (MGD) dengan prioritas utama adalah pengelolaan dan perbaikan fungsi dan kualitas air Sungai Ciliwung.  Sungai ini berhulu di Atta'wun Puncak (Kabupaten Bogor) dan mengalir sampai Teluk Jakarta (Jakarta Utara) dengan panjang sungai kurang lebih 129 km, dengan luas DAS sekitar 347 km2. Debit rata-rata sungai Ciliwung berfluktuatif pada setiap segmennya. Fluktuasi debit terbesar terdapat pada segmen 6 (Pintu Manggarai) dengan adanya pengurangan debit dari 31 m3/s menjadi 1,8 m3/s. Berdasarkan profil DO Sungai Ciliwung segmen 1-6 rentang nilai berfluktuasi antara  0,3 mg/L sampai dengan 8 mg/L. Beberapa titik di Segmen 5 dan 6 telah mencapai  kondisi anoxic hal tersebut ditandai dengan rendahnya nilai DO (0,5 mg/L) yaitu di titik KM 96.1 s.d KM 126.5 (Waduk Pluit). Baku mutu yang ditetapkan untuk nilai DO sebagai kelas III yaitu sebesar 3 mg/L.  Hampir semua titik pengamatan di segmen 1- 6 untuk parameter BOD telah melebihi baku mutu yang ditetapkan yaitu untuk kelas III yaitu 6 mg/L, nilai BOD yang berfluktuasi dengan rentang antara 0.1 mg/L hingga mencapai titik tertinggi sebesar 14,5 mg/L di titik KM 126,5. Beban pencemar untuk BOD terbesar dihasilkan pada segmen 4 dan 5 sungai yaitu sebesar 13577.5 kg/hr dan 28180.9kg/hr. Simulasi penyebaran pencemar dilakukan dengan menggunakan software model QUAL2k dengan penyelesaian menggunakan rumus numerik dan  jenis model steady state. Hasil kalibrasi untuk nilai K1 dan K2 pada segmen 1 adalah 0,3 L/hr dan 0,4 L/hr, segmen 2,3 dan 4 adalah 0,35 L/hr dan 0,4 L/hr, dan segmen 5 dan 6 adalah 0,12 L/hr dan 0,45 L/hr. Pemodelan ini berfungsi untuk mengetahui pola penyebaran pencemar pada air Sungai Ciliwung dari hulu sampai hilir dan merekomendasikan kebijakan dan langkah pengelolaan sesuai dengan hasil grafik model dan besar beban pencemar. Kata kunci:  Sungai Ciliwung dan DAS, beban pencemar, Qual2K, kalibrasi model Abstract: Ciliwung River Watershed management is one of the policies program belong to Ministry of Human and Cultural Development that is included in one of Millenium Development Goals (MDG) with its priority is to manage and recover Ciliwung river functions and water quality. Ciliwung River is one of the river that has social and economic function. The river headwaters is in Atta'wun Puncak (Kab. Bogor) and downstream is in North Jakarta with length 129 km, and 347 km2 for watershed. Average discharge Ciliwung river is fluctuative in each segment. The highest rate fluctuations present is in 6 segments (Pintu Manggarai) with a reduction in discharge of 31 m3 / s become to 1.8 m3 / s. Based on Ciliwung's DO profile for segments 1-6, range of values fluctuate between 0.3 mg / L up to 8 mg / L. Some points in Segments 5 and 6 have reached an anoxic condition that is characterized by the low value of DO (0.5 mg / L), that is at KM 96.1 to KM 126.5 (Waduk Pluit). Quality standards established for the value of DO as class III in the amount of 3 mg / L. Almost all points observation in segment 1- 6 for BOD parameter has exceeded the quality standards established for Class III which is 6 mg / L, BOD values that fluctuate in range between 0.1 mg / L to reach the highest point of 14.5 mg / L at KM 126.5. The biggest pollutant load for BOD generated in segments 4 and 5 rivers in amount of 13577.5 kg/d and 28180.9 kg/d. Dispersion simulation of pollutants carried out using QUAL2k to completion using a numerical formula and steady state models. Calibration results for value of K1 and K2 in segment 1 are 0.3 L /d and 0.4 L / d, segments 2,3, and 4 are 0.35 L / d and 0.4 L / d, and segment 5 and 6 are 0.12 L / d and 0.45 L / d. This modeling is used to determine the dispersion of pollutants in water Ciliwung River from upstream to downstream and recommend policies and management measures in accordance with the results of graph models and large pollutant loads. Key words: Ciliwung River and Watersheed, pollutant load capacity, Qual2K, model calibration
LOW BACK PAIN (LBP) PADA PEKERJA DI DIVISI MINUMAN TRADISIONAL (Studi Kasus CV. Cihanjuang Inti Teknik) Yulia Azizah Sulaeman; Tresna Dermawan Kunaefi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.10

Abstract

Abstrak: Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum terjadi di masyarakat industri dan menjadi alasan utama untuk tidak bekerja. LBP adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung bawah dan biasanya merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikular atau keduanya. Nyeri tersebut dapat disebabkan oleh postur yang buruk baik ketika berdiri maupun duduk, membungkuk/memutar, mengangkat beban dengan salah dan lain-lain. Penyebab LBP tersebut sering terjadi di industri makanan dan minuman Penelitian ini berlokasi di CV. Cihanjuang Inti Teknik, Cimahi, Jawa Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran LBP dan hubungan antara faktor individu dan faktor pekerjaan dengan terjadinya keluhan LBP pada pekerja di divisi minuman tradisional. Metode yang digunakan yaitu kuesioner untuk mengetahui faktor individu, pemeriksaan fisik berupa tes Lasegue dan tes Patrick untuk mengetahui apakah terdapat keluhan LBP atau tidak, dan metode Quick Exposure Checklist (QEC) untuk penilaian risiko ergonomi. Penelitian dilakukan terhadap 30 pekerja bagian produksi. Berdasarkan hasil pememeriksaan tes  Lasegue dan tes Patrick's diketahui 23,3% pekerja mengalami LBP. Hubungan yang signifikan terhadap kejadian LBP ditunjukkan oleh faktor umur (p = 0,043), masa kerja (p = 0,014) dan tingkat risiko punggung (p = 0,042). Tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, pengalaman kerja, Indeks Massa Tubuh (IMT), perilaku merokok dan kebiasaan olahraga dengan kejadian LBP. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian LBP adalah tingkat risiko pajanan pada punggung kategori sangat tinggi dengan nilai exp (B) = 45,090 Kata kunci: ergonomi, Low Back Pain (LBP), Quick Exposure Checklist (QEC). Abstract : Low Back Pain (LBP) is one of common health problem in industrial workers and being main reason for missing work. LBP is soreness on lower back area and usually contributed a local and radicular pain or both. Occupational LBP can be triggered by bad posture while sitting or standing, bending/twisting, lifting incorrectly and etc. The causes of LBP may take place at food and beverage industry The research was conducted in CV. Cihanjuang Inti Teknik, Cimahi, Jawa Barat. The research aims to describe the LBP and relationship between individual/occupational risk factors and LBP on workers in traditional drinks division. Methods that was use are questionnaire to determine individual factors, physical examination such as Lasegue test and Patrick's test to determine if workers have LBP or not and Quick Exposure Checklist (QEC) for ergonomic risk assessment. Based on Lasegue and Patrick's test result was found that 23.3% workers suffered LBP. There was significant relationship between age (p  = 0.043), working period (p = 0.014) and risk exposure level for back (p = 0.042). There was no significant relationship between gender, work experience, body mass index, smoking activity, exercise habits with LBP occurrence. The most influential factor on LBP occurrence is risk exposure level for back with very high category (exp(B)=45.09). Key words: ergonomic, low back pain (LBP), quick exposure checklist (QEC)
KETERLINDIAN LOGAM BERAT DARI PEMANFAATAN LIMBAH SLAG BESI DAN BAJA SEBAGAI AGREGAT CAMPURAN LAPIS PERMUKAAN JALAN Airine Luhnira Luhnira Perdana; Sukandar Sukandar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.1.1

Abstract

Abstrak: Pencemaran lindi slag menjadi fokus utama lingkungan akibat tingginya produksi limbah slag dari industri pengolahan besi dan baja. Slag terpapar hujan asam berpotensi meningkatkan keterlindian logam berat ke badan air permukaan dan air tanah. Pemanfaatan slag sebagai agregat campuran lapis permukaan jalan merupakan upaya meminimasi pencemaran dengan membatasi pergerakkan logam berat. Permen LH No.2 Tahun 2008 menuntut pemanfaatan limbah slag dengan kriteria aman bagi lingkungan dan layak secara teknis. Penelitian bertujuan untuk mengkaji keterlindian logam berat dari limbah slag besi dan baja sebelum dan setelah dimanfaatkan sebagai subtitusi bahan baku campuran lapis permukaan jalan (AC-WC) melalui solidifikasi. Jenis slag yang diteliti adalah BF dan BOF. Keterlindian logam berat limbah slag serta produk solidifikasi dianalisis melalui pengujian ANC, TCLP standar dan modifikasi, uji pelindian statis dan dinamis. Uji karakteristik fisik dan kimia menunjukkan slag BF dan BOF berpotensi untuk dimanfaatkan melalui metode solidifikasi. Secara teknis, slag BF dan BOF layak digunakan sebagai bahan baku lapis permukaan jalan karena memenuhi spesifikasi Dep. PU melalui uji mutu agregat dan kinerja. Jenis logam berat yang berkontribusi sebagai pencemar utama untuk slag BF dan BOF yaitu Fe (641,5; 692,25 mg/kg), Ba (17,25; 17,75 mg/kg), Zn (17,25; 17,75 mg/kg), Cr (7,75; 9,75 mg/kg) dan Cd (5,25; 5,75 mg/kg). Uji TCLP standar dan modifikasi mengindikasikan slag besi dan baja tidak memiliki karakteristik toksik karena konsentrasi logam berat dalam lindi tidak melampaui baku mutu TCLP mengacu PP No.101 Tahun 2014. Urutan laju pelindian logam berat statis Ba>Fe>Zn>Cd>Cr, dinamis Zn>Ba>Cr>Fe>Cd. Kandungan Cd dalam lindi statis AC-WC berpotensi menimbulkan efek karsinogen, sedangkan efek non-karsinogen ditimbulkan oleh lindi statis AC-WC berbahan baku slag BOF. Kata kunci: slag, agregat, keterlindian logam berat, solidifikasi, lapis permukaan jalan. Abstract: Slag leachate pollution can be a great environmental concern due to generation of slag in numerous amounts of iron and steel-making industries. During periods of acid rain, these exposed slags release heavy metals into surface and groundwater. Slag utilization as asphalt concrete-wearing course (AC-WC) is a minimization effort to limit heavy metals migration. Ministry Regulation No.2/2008 requires two criteria of slag utilization that are safety for environmental and technical feasibility. The aim of research is investigating heavy metals leachability from iron and steel slag, before and after utilizing as AC-WC aggregate through solidification. Leachability of heavy metals produced from slag and solidification products were analyzed by ANC test, standard and modified TCLP test, static and dynamic leaching test. Materials that used in this research are BF and BOF slag. Physical and chemical characterization test show BF and BOF slags potentially utilize through solidification method. Technically, BF and BOF slags feasible used as raw materials of AC-WC, aggregate quality and performance test result show both of slag meet the Dep. of Public Works specifications. Fe (641.5; 692.25 mg/kg), Ba (17.25; 17.75 mg/kg), Zn (17.25; 17.75 mg/kg), Cr (7.75; 9.75 mg/kg), and Cd (5.25; 5.75 mg/kg) are the major pollutants that contain in both type of slags. Standard and modified TCLP test show BF, BOF slag, and solidification products are have no toxic character, heavy metals concentration in leachate not exceed the quality standards refer to GR No.101/2014. Static leaching rate of metals show Ba>Fe>Zn>Cd>Cr and Zn>Ba>Cr>Fe>Cd for dynamic. Cd in static AC-WC leachate has carcinogenic effect potential, while non-carcinogenic effects caused by static BOF AC-WC leachate. Keywords: slag, aggregate, heavy metals leachability, solidification, asphalt concrete "“ wearing course.