cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
UJI TOKSISITAS AKUT PADA IPAL TERPADU KAWASAN INDUSTRI TEKSTIL TERHADAP Daphnia magna DI DAYEUHKOLOT Arnis Tiara; dwina Roosmini
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.2

Abstract

Abstrak: Terdapat sekitar 800  industri tekstil yang  berada di  Kabupaten Bandung dan membuang limbahnya langsung ke Sungai Citarum. Hal ini membuat kondisi Sungai Citarum berada pada status tercemar berat. Di Dayeuhkolot sendiri terdapat IPAL kawasan yang mengelola limbah dari 26 Industri tekstil di sekitarnya dan membuang efluennya ke Sungai Citarum. Pengawasan secara fisika dan kimia belum sepenuhnya dapat mewakili dampak limbah tersebut bagi lingkungan khususnya bagi makhluk hidup. Oleh karena itu diperlukan monitoring secara biologis yang berkaitan dengan makhluk hidup. Salah satu monitoring yang dapat dipakai adalah uji toksisitas akut (Whole Effluent Toxicity) untuk mengevaluasi kinerja IPAL agar efluennya dapat memenuhi baku mutu. Uji ini terdiri dari dua tahap yaitu yaitu uji pendahuluan (range finding test) dan uji definitif. Melalui uji ini didapatkan nilai LC50. Hewan uji yang digunakan adalah Daphnia magna. Sebelum uji toksisitas akut dilakukan uji karakterisasi terlebih dahulu. Dari uji karakterisasi didapatkan beberapa parameter berada di atas baku mutu dan dapat bersifat toksik. Nilai LC50 sementara yang didapat hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu adalah 16,8%,31,9%, 37,5%, 32%, 34,4%, dan 29,3%. Nilai LC50 sementara tidak terlalu berbeda atau tidak berfluktuatif dan masih dalam rentang konsentrasi yang sama. Lalu dilakukan uji definitif sehingga di dapat nilai LC50 aktual. . Nilai LC50 aktual dari hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu adalah13.73%, 52,24%, 28,55%, 56%, 47,06%, dan 21,99%. Dan nilai TUa dari keenam sampel >1 sehingga tergolong toksik dan belum aman dibuang ke lingkungan. Kata kunci: Daphnia magna, evaluasi IPAL, industri tekstil, LC50, uji toksisitas akut Abstract : There are about 800 textile industries that located in Bandung and discharge their wastewaste directly into the Citarum River. This made the condition of the Citarum River was in heavily polluted status. In Dayeuhkolot there is WWTP area that treated wastewater from 26 textile industry around it and discharge its effluent into the Citarum River. Physical and chemical monitoring can't fully represent the impact of waste on the environment, especially for living things. Therefore it's necessary to performed biological monitoring that related to living things. One of method of biological monitaring that we can use is acute toxicity test (Whole Effluent Toxicity) to evaluate the performance of the WWTP so its effluent meet quality standards. This test consists of two stages: the preliminary test (range finding test) and the definitive test. Through this test we could obtaine LC50 values. Test animals that be used is Daphnia magna. Before the acute toxicity tests, characterization test is conducted. From characterization test is obtained some parameters are above the standards and toxic. LC50 values that is obtained in Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday and Saturday were 16.8%, 31.9%, 37.5%, 32%, 34.4%, and 29.3%. LC50 values were not being too different or not fluctuated and still in the same concentration range. Then from definitive test we can obtained actual LC50 values. Actual LC50 values from Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday and Saturday were 13.73%, 52.24%, 28.55%, 56%, 47.06%, and 21.99%. And the TUa values from these six samples were >1 so  relatively toxic and is not yet safe discharged into the environment. Key words: acute toxicity test, Daphnia magna, LC50, textile industry, WWTP evaluation
ANALISA PENGUKURAN KANDUNGAN MERKURI PADA BERAS DAN SEDIMEN DI SEKITAR KEGIATAN PERTAMBANGAN EMAS SKALA KECIL (PESK) DI KASEPUHAN ADAT CISITU, KECAMATAN CIBEBER, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Delicia Aprianne; Indah Rachmatiah S. Salami
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.3

Abstract

Abstrak: Kasepuhan Adat Cisitu merupakan salah satu desa yang terdapat kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) dengan memanfaatkan merkuri dalam proses amalgamasi yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakatnya. Penggunaan merkuri pada kegiatan ekstraksi emas dalam PESK merupakan salah satu sumber emisi merkuri terbesar yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan pengukuran dan analisa kandungan merkuri pada beras dan sedimen di sekitar kegiatan PESK serta analisa resiko berdasarkan konsumsi beras untuk mengetahui asosiasi antara kegiatan PESK dengan pencemaran merkuri pada sedimen dan beras di Kasepuhan Adat Cisitu. Metode pengukuran Hg yang dilakukan adalah dengan atomic absorption spectrophotometry dengan graphite furnace dan cold vapor. Hasil pengukuran Hg pada beras berada pada rentang 12,5-1186 μg/kg dengan konsentrasi rata-rata pada sampel beras dengan kulit 258 μg/kg±271,77 serta 161,76 μg/kg±329,78 untuk sampel beras tanpa kulit. Hasil pengukuran Hg pada sedimen berada pada rentang 2.393,75-106962,5 μg/kg  dengan  rata-rata 22076,56  μg/kg±35059,85. Berdasarkan baku  mutu  yang  berlaku,  terdapat beberapa hasil pengukuran Hg pada beras yang berada di atas dan di bawah baku mutu. Sedangkan hasil pengukuran Hg pada sedimen menunjukkan nilai yang berada dibawah baku mutu yang berlaku. Analisa resiko kesehatan didasari oleh perkiraan asupan merkuri harian dari konsumsi beras dan dibandingkan dengan nilai maximum acceptable daily exposure yang ditetapkan oleh US EPA yaitu sebesar 0,1 μg/kg BB per hari. Perkiraan paparan merkuri harian masyarakat Kasepuhan Adat Cisitu sebesar 0,07 μg/kg BB per hari dan masih berada di bawah batas maksimum paparan yang ditetapkan oleh US EPA. Kata kunci: beras, Kasepuhan Adat Cisitu, merkuri, pertambangan emas skala kecil, sedimen. Abstract : Kasepuhan Adat Cisitu is one of the villages that has Artisanal and Small-Scale Gold Mining (ASGM) activities using mercury for amalgamation process done by most of the villagers. The use of mercury in ASGM's gold extraction is one of the biggest emission source done by human or man-made. Therefore, in this research, measurement analysis of mercury in rice and sediments around the ASGM's activities and also the risk analysis based on the rice consumption are done in order to know the association between the ASGM's activities and the mercury contamination in rice and sediments in Kasepuhan Adat Cisitu. Atomic absorption spectrophotometry with graphite furnace and cold vapor is used to measure Hg concentration. The result of Hg measurement in rice are between the range from 12.5 up to 1,186 μg/kg with the average Hg concentration in rice samples with skin (hull) is 258 μg/kg±271.77 and for the rice samples without skin (hull) is 161.76 μg/kg±329.78. The result of Hg measurement in sediments are between the range from 2,393.75 up to 106,962.5 μg/kg with the average Hg concentration 22,076.56 μg/kg±35,059.85. Based on the quality standard value for allowable Hg concentration, there are some of the rice samples that is below and also above the allowable value. On the other hand, all of the sediment samples are above the quality standard value for allowable Hg concentration in sediment. The health risk analysis is based on the result of daily mercury exposure prediction from rice consumption compared to the maximum acceptable daily exposure value set by US EPA which is 0.1 μg/kg body weight per day. The exposure prediction value for the villagers of Kasepuhan Adat Cisitu is 0.07 μg/kg body weight per day and still under the maximum acceptable daily exposure value for mercury by US EPA. Key words: artisanal and small-scale gold mining, Kasepuhan Adat Cisitu, mercury, rice,sediment.
ANALISIS PAPARAN BTX TERHADAP PEKERJA DI PT. PERTAMINA RU IV CILACAP Dwito Indrawan; Katharina Oginawati
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.4

Abstract

Abstrak: Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PERTAMINA) merupakan suatu perusahaan milik Negara yang bergerak dalam bidang perminyakan. Produk yang dihasilkan oleh kilang ini antara lain paraxylene, LPG, rafinat, heavy aromatic, dan benzena. Beberapa senyawa kimia yang sering terdeteksi di kilang ini antara lain H2S, NH3, Metil Etil Keton (MEK), klorin, merkuri, dan Benzene Toluene Xylene (BTX). Efek kesehatan akut yang umum terjadi akibat paparan BTX adalah terganggunya sistem syaraf pusat (SSP). Gejala-gejala terganggunya sistem syaraf ini antara lain mual, muntah, pusing, dan sakit kepala. Bila terpapar dengan konsentrasi yang cukup tinggi maka dapat timbul gejala seperti gemetar, lemas, gangguan pada tekanan darah, sakit kepala pusing tiba-tiba, vertigo, muntah, dehidrasi hingga kematian. Efek kronis paparan BTX dapat merusak sistem organ tertentu. Pengambilan sampel dilakukan pada 40 orang pekerja yang dianggap terpapar. Data Primer yang akan diambil meliputi dosis kandungan BTX tertinggi yang terinhalasi pada pekerja, sampel urin, parameter fisika, penyebaran kuesioner, dan wawancara pada pekerja. Data sekunder yang akan digunakan adalah data monitoring dari PT. Pertamina RU IV Cilacap. Prosedur pengambilan dan analisis sampel udara dan breathing zone mengacu pada NIOSH 1501 (Hydrocarbons, Aromatic). Metode yang digunakan untuk menganalisis sampel urin mengacu pada NIOSH 8301. Paparan inhalasi pekerja masih berada di bawah ambang batas yang telah ditentukan pemerintah. Pada Unit KPC, intake benzene yang tertinggi adalah 0,1515 ppm, pada Laboratorium 0,2850 ppm, dan pada bagian Administrasi adalah 0,0230 ppm.  Nilai CDI  tertinggi ditemukan pada pekerja di bagian Laboratorium dengan nilai sebesar 0.0187 mg/kg.day. Terdapat korelasi antara CDI dengan konsenrasi fenol pada pekerja. Sebanyak 15 pekerja memiliki HI > 1, yang berarti bahwa paparan dosis benzene terhadap pekerja memiliki potensi untuk membahayakan kesehatan pekerja. Kata kunci: BTX, benzene, toluene, xylene, analisis paparan Abstract : Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) is a state-owned company engaged in the oil business. The products produced by this company include paraxylene, LPG, rafinat, heavy aromatics, and benzene. Some chemical compounds that are often detected at the refinery include H2S, NH3, Methyl Ethyl Ketone (MEK), chlorine, mercury, and Benzene Toluene Xylene (BTX). Acute effect caused by BTX exposure that usually happens to human is affected central nervous system (CNS). The symptoms are nausea, vomiting, dizziness, and headache. If human get exposed with high concentration, then they will experience shaking, limp, blood pressure disruption, headache, instant dizziness, vertigo, vomiting, dehydration, death. Chronic effect from BTX exposure can harm certain organ system. This research was conducted to 40 workers who were considered to be exposed by BTX. Primary data that was taken included the highest BTX compound dosage inhaled by workers, urine sample, physical parameters, questionnaire, and interview to workers. Secondary data that was used was environmental monitoring data from PT. Pertamina RU IV Cilacap. Sampling procedure and analysis for breathing zone refered to NIOSH 1501 (Hydrocarbons, Aromatic). Method that was used to analyze urine sample refered to NIOSH 8301. Inhalation exposured to workers were stiil below the threshold that was set by the govenrment. The highest benzene intake in KPC Unit was 0.1515 ppm, in Laboratory was 0.2850 ppm, and in Administration was 0.0230 ppm. The highest CDI value in workers was found in the Laboratory with the value of 0.0187 mg/kg.day. There was correlation between CDI and phenol concentration in workers. There were 15 workers who had HI > 1, that means the benzene dosage exposure to workers his potential to harmworkers' health. Key words: BTX, benzene, toluene, xylene, exposure analysis
PEMILIHAN PROGRAM PENGENDALIAN KEHILANGAN AIR SERTA PENGARUH IMPLEMENTASINYA TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN PDAM Imanullah Imsawan el-Ahmady; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.5

Abstract

Abstrak: Tingkat air tak berekening (NRW) di Indonesia yang rata-rata sebesar 37% menunjukkan bahwa PDAM telah kehilangan 37% potensi pendapatan sehingga dapat menyebabkan buruknya kondisi keuangan dan pelayanan PDAM. NRW terdiri dari komponen kehilangan air dan konsumsi resmi tak berekening, di  mana  komponen  kehilangan air  lebih  mungkin  untuk  diintervensi untuk  diturunkan. Perlunya pengendalian kehilangan air disamping merupakan bentuk kepekaan terhadap menurunnya kuantitas air secara global, juga dapat memantapkan kinerja keuangan PDAM, mendukung peningkatan cakupan pelayanan, menunda investasi pembangunan sistem baru, penguatan manajemen dan SDM, serta peningkatan fokus  pelayanan pada  pelanggan dengan  menerapkan  prinsip  kepengusahaan. Dengan didasari keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh PDAM, maka perlu dipilih alternatif program yang dinilai paling efektif dan efisien dalam menurunkan tingkat kehilangan air dengan mempertimbangkan aspek keuangan, aspek pelayanan, aspek teknis operasional dan aspek SDM. Pemilihan alternatif program dilakukan dengan metode AHP, kemudian alternatif program yang terpilih disimulasikan dalam tiga skenario untuk mengetahui tingkat profitabilitasnya dengan  menggunakan metode  analisis finansial Skenario tersebut adalah penurunan hingga 20%, penurunan tingkat lanjut dan  penurunan hingga mendekati 0%. Seluruh skenario tersebut juga mensimulasikan pengendalian kehilangan air komersil, fisik dan kombinasi keduanya. Dari seluruh simulasi tersebut kemudian diberikan skor berdasarkan kriteria dalam analisis finansial sehingga diperoleh peringkat skenario program yang dipilih. Hasil dari AHP menunjukkan bahwa upaya pengendalian kehilangan air komersil lebih dipilih untuk menjadi prioritas karena dari empat program yang barada pada posisi teratas, tiga di antaranya adalah program pengendalian air komersil. Sedangkan dari analisis finansial dan pemeringkatan, program pengendalian kehilangan air komersil hingga 20% berada di urutan kedua setelah skenario kombinasi hingga 20%. Perbedaan hasil ini dikarenakan dalam AHP tidak ada skenario kombinasi. Sehingga secara umum kenario pengendalian kehilangan air komersil masih unggul dibandingkan skenario fisik. Dari hasil penelitian ini, disarankan bahwa  sebagai  langkah  awal  PDAM  setidaknya  harus  memiliki  program  pengendalian kehilangan air komersil.Kata kunci: PDAM, kehilangan air, AHP, analisis finansial, ranking Abstract : The average of Non-Revenue Water (NRW) in Indonesia is about 37% which means that PDAM has lost 37% of its potential revenues causing less efficiency in PDAM's service and financial health. NRW consists of water loss and unbilled authorized consumption, where the water loss component is more possible to be intervened and reduced. In addition to the water quantity degradation as one global issue, control of water loss is also important to improve the financial performance of PDAM, develop the coverage of service area, delay the investment of new system development, strengthen the management and human resources, and also increase the focus on consumer's service according to the principles of entrepreneurship. Based on the limitation of PDAM's resources, selection of the most effective and efficient program to decrease the water losses by considering the financial, service, technical and human resources aspects is needed. The selection of program is prioritized by AHP method, then the selected programs are simulated in three scenarios to define its profitability rate using financial analysis. The scenarios are the decreasing rate up to 20%, the advanced decreasing rate and the decreasing rate until close to 0%. All scenarios also simulate three conditions of water loss control; the first is about commercial water loss, the second is physical and the last one is the combination of both. From the entire simulations, then scores are given based on financial analysis criterias to obtain ranks of the scenarios. Based on AHP result, it is known that from the four high-prioritized programs, three of them are about commercial water loss control. From the financial analysis and ranking result, commercial water loss control up to 20% scenario is at the second rank after the combination of up to 20% scenario. This different result is because there is no combination scenario in the AHP. Generally, the commercial water loss control scenario is still superior than the physical. From this research it is recommended that as the first step PDAM at least must have a commercial water loss control program. Key words: PDAM, water loss, AHP, financial analysis, ranking
PERHITUNGAN PENURUNAN BEBAN EMISI PENCEMARAN UDARA DARI PEMBANGUNAN JALUR TOL JORR W2 DI DKI JAKARTA Lailatus Siami; Asep Sofyan; Russ Bona Frazila
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.6

Abstract

Abstrak: Sebagai pusat urbanisasi, mobilitas barang dan manusia di Kota Jakarta memiliki rutinitas transportasi yang padat setiap hari. Hal ini ditandai dengan adanya orientasi mobilitas manusia dari perumahan di sekeliling Jakarta (Jabodetabek) menuju tempat kerja di Kota Jakarta. Dengan pertumbuhan jumlah kendaraan sebesar ±8% per tahun, sektor transportasi memiliki dampak berupa kemacetan dan pencemaran udara. Dari penelitian sebelumnya (Darmanto, 2012) sektor dominan dalam penyumbang emisi CO dan PM10  adalah sektor transportasi sebesar 78,85% dan 99,94%. Sehingga, diperlukan penanganan khusus pada sektor transportasi. Pendekatan pada jaringan jalan yang kompleks di Jakarta dilakukan dengan menggunakan model jaringan jalan. Sehingga didapatkan volume kendaraan tiap ruas jalan untuk dihitung beban emisinya. Berdasarkan hasil representasi dari model jaringan jalan, ruas jalan dengan volume tertinggi berada di jalan tol Cawang dan jalan utama pada jalan Ciputat Raya. Hasil dari inventarisasi emisi pada ruas jalan berbeda "“ beda pada tiap jenis polutan. Hal ini dipengaruhi oleh proporsi jenis kendaraan yang ikut menentukan faktor emisi. 70,68% beban emisi didominasi oleh polutan CO sebesar 973.734,26 ton/tahun. Sistem transportasi di Jakarta disusun dalam pola transportasi makro (PTM). Dan pada RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah),   terdapat beberapa rencana prioritas untuk pembangunan transportasi. Salah satunya adalah pembangunan tol dalam kota maupun tol luar kota. Pada studi ini, skenario yang dipilih adalah pembangunan jalur tol JORR W2 (Jakarta Outer Ring Road West 2). Jalur tol ini Di daerah Kebon Jeruk "“ Ulujami yang juga dijadikan akses bus. Dari skenario ini, didapatkan penurunan beban emisi sebesar  2% untuk polutan NOx; 1,6% untuk polutan NO2; 0,4% untuk polutan CO; 0,8% untuk polutan PM10 dan 0,1% untuk polutan VOC.  Kata kunci: Sektor transportasi, model jaringan jalan, RPJMD, JORR W2, penurunan emisi Abstract : As the center of urbanitation for goods and human, Jakarta surely have a dense of mass transportation everyday. It is showed by the mobile of human from the surround (Jabodetabek) to workplace in Jakarta. By the 2011, the rate of vehicle number is ±8% each year. It is a common that transportation sector has a traffic congestion and traffic air pollution impact. Previous study (Darmanto, 2012) showed the dominant sector of highest emission of CO and PM10 from transportation sector as 78,8 % and 99,4%. So it will be necessary to take particular handling from transportation sector. The approach of complex road networking uses road networking model. So that, flow of vehicle in every road derived to be calculated in emission inventory. Based on emission inventory of road segmentation, Cawang road highway has the highest number for number of vehicle. And so does Ciputat Raya road. The result of emission inventory for each road is different for each parameter. Due to the proportion of vehicle which determine the factor emission. 70,68% CO as the highest emission is 973.734,26 ton/year. Transportation system in Jakarta conduct in Jakarta's macro transportation (JMT) master plan. And in RPJMD (Mid-term action), there are some specific priority of transportation action. It is highway road development inner and outside of Jakarta. In this study, scenario will be do in development of Jakarta Outer Ring Road West 2(JORR W2). And the suitable scenario highway development in Kebun Jeruk "“ Ulujami for bus ccesable. Based on the scenario, reduction of NOx emission is 2%; 1,6% for NO2 emission; 0,4% for CO emission; 0,8% for PM10 emission and 0,1% for VOC emission.  Key  words:  Transportation sector,  traffic  networking model,  Mid-term action,  JORR  W2,  emission reduction
PENGARUH KADAR AIR PADA PENGOLAHAN LUMPUR TINJA TANGKI SEPTIK BERBASIS TERRA PRETA SANITATION Lulu Destiana Purwita; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.7

Abstract

Abstrak: Ekskreta manusia (feces dan urin) berkontribusi kecil dalam volume tetapi merupakan penyebab utama dari pencemaran air. Pendekatan sanitasi berbasis ekologi (ecological sanitation) mempertimbangkan limbah (kotoran) manusia sebagai sumber daya dibandingkan dengan limbah. Salah satu konsep ecological sanitation yang sedang dikembangkan adalah Terra Preta Sanitation (TPS). Terra Preta Sanitation merupakan suatu konsep sanitasi dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesuburan tanah, tetapi mampu mengatasi masalah bau yang tidak enak dengan adanya proses laktofermentasi dan vermikompos. Saat  ini,  konsep  Terra  Preta  diadopsi  dan  dikembangkan menjadi  konsep  alternatif pengolahan limbah cair dan limbah padat domestik/rumah tangga. Tujuan utama dari penelitian ini adalah optimaisasi proses laktofermentasi pada pengolahan lumpur tinja tangki septic. Pada penelitian ini dilakukan pengolahan lumpur tinja yang berasal dari 3 tangki septik dengan variasi kadar air untuk mengetahui  pengaruh  kadar  air  pada  proses  laktofermentasi. Variasi  kadar  air  dilakukan  dengan pengurangan 10% air sampel dan penambahan 0%, 10% dan 20% air pencampur. Reaktor yang digunakan merupakan reaktor batch anaerob dengan kapasitas 2,5 liter. Bakteri yang digunakan berasal dari bakteri kultur campuran jenis EM4  (Effective Microorganism 4) sebanyak 20% dari volume efektif reaktor, sedangkan untuk co-substrat digunakan larutan glukosa dan air keran sebagai air pencampur. Penelitian ini dilakukan selama 21 hari pada suhu ruang. Parameter yang dianalisa seperti pH, kadar air, kadar volatile, Total Organic Carbon (TOC), Total Kjedahl Nitrogen (TKN), Total phosphate, Total Asam Volatile (TAV), amonium, dan H2S. Karakteristik awal sampel tinja memiliki nilai organik tinggi dengan angka TOC sekitar 25000 mg/L. Pada akhir pengolahan, hasil menunjukkan sampel dengan pengurangan10% air sampel memberikan degradasi organic yang lebih baik, konsentrasi H2S dan produksi asam laktat lebih besar. Efisiensi penyisihan karbon organik sekitar 50%, penyisihan NTK sekitar 60%, penyisihan posphat total sekitar 70% dan penyisihan indikator bau yaitu H2S mencapai 90%. Pembentukan asam laktat pada akhir reaksi mencapai 3,9%.  Kata kunci: terra preta sanitation, laktofermentasi, Effective Microorganism 4, tangki septik Abstract : Human excrement (faeces and urine) have small in volume of domestic wastewater but it is the main causes of water pollution. Ecological sanitation considers human wastes as resources rather than waste. A new emerging concept in ecological sanitation is Terra Preta Sanitation (TPS). Terra Preta Sanitation is sanitation concept with final purpose for improve soil fertility, but able to overcome odor problem with lactic acid fermentation and vermicomposting process. Today, TPS concept is adopted and developed to be alternative concept for domestic waste treatment. The main objective of this research is optimizing lactic acid fermentation process in sludge of septic tank treatment. This research conducted with black water treatment from three septic tanks with variation of water content. Water content variations are with 10% sample water reduction, 0%, 10%, and 20% mixing water addition Reactor that used is anaerobic reactor with 2.5 liter capacity. Effective Microorganism 4 (EM4) is used as source of lactic acid bacteria for treat sludge from septic tank. Glucose is used as co-substrate and tap water as mixing water. The study was conducted in 21 days at room temperature. pH, water content, volatile content, Total Organic Carbon (TOC), Total Kjedahl Nitrogen (TKN), Total phosphate, Total Volatile Acid (TVA), ammonium, and H2S are analyzed.  Characteristic of sample have organic content approximately 25000 mg/L. In the end of treatment, the result show, that the sample with 10% sample water reduction had better degradation, lower H2S and greater lactic acid production. Organic carbon removal efficiency about 50%, TKN removal efficiency about 60%, total phosphate efficiency about 70%, and H2S removal efficiency about 90%. Production of lactic acid in the end of reaction time about 3.9%  Key words: terra preta sanitation, lactic acid fermentation, Effective Microorganism 4, septic tank 
REDUKSI UKURAN ADSORBEN UNTUK MEMPERBESAR DIAMETER PORI DALAM UPAYA MENINGKATKAN EFISIENSI ADSORPSI MINYAK JELANTAH Marsen Alimano; Mindriany Syafila
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.8

Abstract

Abstrak: Pada penelitian yang telah dilakukan, dengan reduksi ukuran partikel hingga dibawah 2 μm dapat menghasilkan diameter pori yang masuk klasifikasi mesopori (2 "“ 50 nm). Uji kemampuan bentonit dan  zeolit  mesopori  sebagai  penjerap  untuk  meningkatkan  kualitas  minyak  jelantah  agar  dapat digunakan kembali telah dilakukan dengan metode batch. Konsep batch dipilih karena tujuan penelitian adalah untuk mengetahui secara pasti parameter yang paling berpengaruh terhadap proses penjerapan dari variabel yang telah ditentukan. Penelitian dilakukan dengan variasi waktu 40, 55, dan 70 menit. Dosis penjerap sebagai variabel utama ditentukan 5, 15, dan 25%. Kecepatan pengadukan merupakan parameter yang berpengaruh terhadap tingkat kesempurnaan perlekatan ditentukan pada skala 3 dan 6 (225 dan 450 RPM). Dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa kemampuan penjerapan bentonit dan zeolit mesopori dapat secara sempurna menghasilkan kualitas minyak goreng yang baik dari parameter warna, dimana kondisi optimum tercapai pada waktu proses 70 menit, dosis penjerap sebesar 25%, dan kecepatan pengadukan pada skala 6 (450 RPM) dengan nilai absorbansi sebesar 0,0117 Abs untuk bentonit (efisiensi 88,26%) dan 0,0100 Abs (efisiensi 89,97%) untuk zeolit dengan blanko minyak goreng baru sebesar 0,0000 Abs dan minyak jelantah sebesar 0,0997 Abs yang diukur pada panjang gelombang489,2 nm. Selain itu, hasil percobaan mendapatkan efisiensi penurunan nilai asam lemak bebas optimum mencapai 68,75% (bentonit) dan 62,50% (zeolit), jauh diatas hasil percobaan dengan penetralan basa dan menggunakan adsorben bentonit teraktivasi (31,28%) dan tanah diatomit (43,36%). Dari hasil tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa reduksi ukuran adsorben yang akan meningkatkan luas permukaan, volume pori, dan radius pori dapat meningkatkan efisiensi adsorpsi minyak jelantah pada parameter warna dan asam lemak bebas secara signifikan Kata kunci: bentonit, zeolit, mesopori, minyak jelantah, penjerapan Abstract : In the research result, by using particle size reduction to less than 2 μm, it can produce pore diameter were into mesoporous classification (2-50 nm). The ability testing for bentonite and zeolite mesopores as an adsorbent to improve the quality of used cooking oil so it can reuse, has been conducted by using a batch method. The batch concept selected because of research purpose was to determine the proper parameters that most influenced on the adsorbency process from predetermined variables. The research was conducted with the variation of time of 40, 55, and 70 minutes. The adsorbent dose as the main variable determined at 5, 15, and 25%. Stirring speed was a parameter affected the level of adhesion perfection that is determined on a scale of 3 and 6 (225 and 450 RPM). From the study results, indicated that the adsorbent ability of bentonite and zeolite mesopores could produce a good quality of cooking oil perfectly from color parameters, where the optimum condition reached during 70 minutes in process, adsorbent dose by 25%, and stirring speed on a scale of 6 (450 RPM) with the absorbency values of 0.0117 Abs(efficiency 88.26%) for bentonite and 0.0100 Abs (efficiency 89.97%) for zeolite, with a new form of cooking oil at 0.0000 Abs and used cooking oil at 0.0997 Abs. The form used was origin cooking oil before it used for frying, and its wavelength spectrophotometer used at 489.2 nm. In addition, the results of the experiment to get the efficiency of free fatty acid impairment optimum reach 68.75% (bentonite) and 62.50% (zeolite), well above the results of experiments with alkaline neutralization and use of activated bentonite adsorbent (31.28%) and soil diatomite (43.36%). From these results it can be concluded that the reduction in the size of the adsorbent will increase the surface area,  pore  volume  and  pore  radius  can  enhance  the  adsorption  efficiency  of  cooking  oil  on  the parameters of color and free fatty acids significantly. Key words: bentonite, zeolites, mesoporous, used cooking oil, adsorption 
KAJIAN REZIM HIDROLOGI DAN SALINITAS DAS LANDAK- KAPUAS DALAM RANGKA PENGEMBANGAN SUMBER AIR BAKU SPAM REGIONAL PONTIANAK - ZONA HUJAN EQUATORIAL Ricka Aprillia; Arwin Sabar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.9

Abstract

Abstrak: Adanya rencana pembangunan berkelanjutan di kawasan pesisir kapuas menuju Kota Metropolitan Pontianak, memerlukan sumber air baku yang layak dari segi kualitas, kuantitas dan kontinuitas sesuai standar nasional. Dari segi kuantitas, ketersediaan air baku cukup berlimpah, namun dari segi kualitas, sumber air baku Kota Pontianak terancam interusi air laut pada tahun normal dan tahun kering di musim kemarau. Saat ini, cakupan layanan PDAM di wilayah Regional Pontianak baru mencapai 45% dari total   penduduk 1.022.269 jiwa (2010). Kualitas air hasil produksi PDAM juga kurang stabil dampak dari kualitas air baku tidak memadai (warna tinggi dan kadar klorida diatas ambang  batas  saat  kemarau)  sehingga  kualitas  air  yang  diterima  pelanggan  tidak  layak  minum. Penelitian ini membahas mengenai rezim hidrologi untuk keandalan sumber air baku (kualitas dan kuantitas) dari Sungai Ambawang interbasin Sungai Landak (Biyung) yang terpilih dijadikan sumber air baku yang barudalam pengembangan infrastruktur air minum Regional Pontianak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Ambawang secara periodik terpengaruh pasang surut yang  berpoten si terinterusi air laut, sehingga dibangun bendungan untuk memutus salinitas. Sedangkan Sungai Landak (Biyung) memiliki debit yang acak dan dipengaruhi oleh curah hujan. Hasil pembagian debit Discrit Markov terhadap nilai salinitas menunjukkan bahwa, salinitas tertinggi terjadi pada iklim kering, bulan kering dan debit harian kering dimana amplitudo pasut di muara sungai maksimum. Debit harian minimum Sungai Landak tercatat pada tahun 1997 sebesar 21 m3/detik analog dengan debit rencana R20 1 harian sebesar 23,38 m3/detik.  Kebutuhan air baku Regional Pontianak sampai dengan tahun 2030 sebesar 4,6 m3/det sedangkan debit untuk alokasi air minum enggunakan debit 20 tahun kering, R20 kering pada Sungai Ambawang sebesar 12,05 m3/det, sehingga sampai dengan tahun 2030 kebutuhan air baku Regional Pontianak dapat terpenuhi. Kata kunci: air baku, air minum, Regional Pontianak, salinitas, Sungai Ambawang, Sungai Landak. Abstract :  The  existence of  sustainable development plan  inkapuas coastal areas  towardPontianak Metropolitan Cities, requires a decent source of raw water in terms of quality, quantity and continuity according to national standards. In terms of quantity, availability of raw water is quite abundant, but in terms of quality, raw water source is threatened sea water interution in normal and dry years in the dry season. Currently, the services coverageof PDAM in the area of Regional Pontianak only reached 45% of the total population of 1,022,269soul (2010). Water quality output PDAM is also unstable, impact of inadequate water quality (high color and chloride levels above the threshold when dry) so that customers receive quality water unfit to drink. This study discusses the hydrological regime for the reliability of raw water source (quality and quantity) of interbasin Ambawang River Landak River (Biyung) were selected as new raw water source for drinking water infrastructure development Regional Pontianak. The results showed that Ambawang River periodically affected by tidal and seawater interution, so the dam was built to break salinity. While the Landak River (Biyung) has a random discharge and is influenced by rainfall. The result of the division of discharge Discrit Markov against salinity values showed that, the highest salinity occurs in dry climates, dry month and daily discharge dry where the amplitude tidal estuary maximum. The minimum daily discharge Landak River recorded in 1997 at 21 m3 / sec analog with R20 daily discharge plan of 23.38 m3/ sec. Pontianak Regional raw water needs of 4.6 m3 / sec in the 2030, while the used discharge for the allocation of drinking water a debit 20 years of dry, dry R20 on the River Ambawang of 12.05 m3/sec, so the 2030 needs raw water Regional Pontianak can be met. Key words: raw water, drinking water, Regional Pontianak, salinity, Ambawang River, Landak River
DISTRIBUSI FITOPLANKTON BERDASARKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAN STATUS TROFIK PERAIRAN WADUK CIRATA, JAWA BARAT Shofia Shofia; Barti Setiani Muntalif
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.10

Abstract

Abstrak: Waduk Cirata memiliki peruntukkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), perikanan, dan pariwisata. Saat ini kondisi waduk telah mengalami degradasi. Hal ini disebabkan karena banyaknya unsur hara yang berasal dari limbah domestik, limbah industri, dan keramba jaring apung (KJA) yang masuk ke perairan. Indikasi pencemaran organik ini dapat dideteksi dengan fitoplankton. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan status trofik Waduk Cirata dan mengetahui distribusi kelimpahan fitoplankton berdasarkan Sistem Informasi Geografis (SIG) serta menentukan jenis fitoplankton yang dapat digunakan sebagai bioindikator pencemaran waduk. Pada penelitian ini pengambilan sampel air dilakukan sebanyak tiga kali setiap dua minggu sekali di tujuh lokasi waduk dan pada kedalaman 0,2 m. Parameter utama yang diukur yaitu klorofil-a, kelimpahan individu fitoplankton, kecerahan, dan total fosfat. Selain itu, penentuan Trophic State Index (TSI) juga dilakukan. Distribusi dari tiap parameter dan TSI divisualisasikan dalam bentuk peta menggunakan interpolasi raster pada software ArcGIS 10.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar area Waduk Cirata telah berada pada kondisi eutrofik dengan kecenderungan hipereutrofik pada area pusat KJA. Konsentrasi klorofil-a diketahui berkisar 2,57 "“ 15,80 µg/l, kelimpahan fitoplankton berkisar 459 "“ 132.085 individu/ml, kecerahan berkisar 0,78 "“ 1,26 m, total fosfat berkisar2,41 "“ 859,04 µg/l, dan nilai TSI berkisar 46,34 "“ 74,74. Secara umum, spesies fitoplankton yang dominan dan dapat dijadikan sebagai bioindikator pencemaran Waduk Cirata adalah Synedra ulna dari Kelas Bacillariophyceae dan Microsystis sp. dari Kelas Cyanophyceae. Kata kunci: Waduk Cirata, fitoplankton, status trofik, SIG Abstract : Cirata Reservoir has many functions, such as generating hydroelectricity, fish farming, and tourism. Nowadays the condition in Cirata Reservoir has become severely degraded due to nutrients from domestic sewage, industrial sewage, and fish cages that enter to the reservoir. The indication of this organic pollution can be detected by phytoplankton. The aims of this research are to determine trophic state in Cirata Reservoir and to know the distribution of phytoplankton abundance based on Geographic Information System (GIS) and also to determine the species of phytoplankton that can be used as pollution bioindicator. In this research, water samples were taken three times every two weeks in seven locations and in 0.2 m water depth. Main parameters such as chlorophyll-a, phytoplankton abundance, clarity, and total phosphate were measured. Trophic State Index (TSI) was also accounted. The distribution from every parameter was visualized as a map using raster interpolation in ArcGIS 10.1. The results show that almost the entire area of Cirata Reservoir is already eutrophic and it is hypereutrophic in the centre of fish cages area. Chlorophyll-a concentration is about 2,57 "“ 15,80 µg/l, phytoplankton abundance is about 459 "“ 132,085 organisms/ml, clarity is about 0,78 "“ 1,26 m, total phosphate concentration is about 2,41 "“ 859,04 µg/l, and TSI value is about 46,34 "“ 74,74. In general, Cirata Reservoir is dominated by Synedra ulna from Class Bacillariophyceae and Microsystis sp. from Class Cyanophyceae, hence it can be used as pollutant bioindicators. Key words: Cirata Reservoir, phytoplankton, trophic state, GIS
DEGRADASI SURFAKTAN SODIUM LAURYL SULFAT DENGAN PROSES FOTOKATALISIS MENGGUNAKAN NANO PARTIKEL ZNO Aldila Maretta; Qomarudin Helmy
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.1

Abstract

Abstrak: Sodium lauryl sulfat (SLS) merupakan salah satu surfaktan anionik yang terkandung di dalam sabun, shampo, deterjen, dan bahan pembersih lainnya. Penggunaan surfaktan SLS dalam aktivitas sehari "“ hari menghasilkan limbah yang mengandung surfaktan SLS yang selanjutnya akan masuk ke dalam lingkungan. Keberadaan SLS pada lingkungan perairan dapat menggangu ekosistem seperti busa yang ditimbulkan dapat menurunkan konsentrasi oksigen terlarut dan dapat mengganggu perkembangbiakan organisme perairan. Diperlukan suatu teknologi pengolahan limbah yang mengandung surfaktan untuk mencegah efek buruk terhadap lingkungan. Fotokatalisis merupakan salah satu solusi dalam mengolah limbah yang mengandung surfaktan khususnya SLS. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan kondisi optimum pada proses fotokatalisis dalam mendegradasi senyawa SLS. Proses fotokatalisis dilakukan menggunakan sinar UV-C dengan panjang gelombang 200 "“ 280 nm dan fotokatalis nano partikel ZnO. Fotokatalis nano partikel ZnO dibuat melalui proses presipitasi dan dilakukan analisis SEM yang menunjukan bahwa fotokatalis ZnO memiliki ukuran partikel yang termasuk dalam skala nano partikel. Kondisi optimum proses fotokatalisis didapat melalui percobaan menggunakan sebuah reaktor batch. Percobaan dilakukan dengan melakukan tiga jenis variasi percobaan yaitu variasi konsentrasi nano partikel ZnO sebesar 0,05, 0,1, 0,2, 0,4, dan 0,8 g. l−1, variasi pH sebesar 3, 5, 7, 9, dan 11, dan variasi proses yaitu menggunakan nano partikel ZnO saja, nano partikel ZnO dan sinar UV, sinar UV saja, dan tanpa menggunakan fotokatalis nano partikel ZnO maupun sinar UV. Hasil percobaan yang didapat menunjukkan bahwa kondisi optimum proses fotokatalisis yaitu menggunakan fotokatalisis nano partikel ZnO dan sinar UV dengan konsentrasi nano partikel ZnO sebesar 0,4 g. l−1, dan pada pH 9. Kata kunci: surfaktan, sodium lauryl sulfat (SLS), fotokatalisis, sinar UV, nano partikel ZnO, pH. Abstract: Sodium Lauryl Sulfat (SLS) is one of anionic surfactant which is contained in soap, shampoo, detergent, and other cleansers. Using SLS surfactant in daily activities produces wastewater which contains SLS surfactant that will be go into the environment. The presence of SLS surfactant in the water environment can disupt ecosystems such as reducing the dissolved oxygen by the presence of foam and can disrupt organisms breeding. A SLS surfactant wastewater treatment technology is needed to avoid the bad effect to the enviroment. Photocatalytic is one of solution to treat wastewater which contains surfactant especially SLS. The objective of this research is to determine the optimum conditions of photocatalytic process for SLS surfactant degradation. Photocatalytic process has done using UV-C ray with wavelength in range 200 "“ 280 nm and ZnO nano particle as the photocatalyst. ZnO nano particle photocatalyst was made by precipitation process and the SEM anaysis has been done to show that the ZnO photocatalyst has particle size in nano particle scale. The optimum condition of photocatalytic process was obtained by experiment using a batch reactor. The experiment has been done by doing three kind of variations, that are Zno nano particle concentration variations as 0,05, 0,1, 0,2, 0,4, and 0,8 g. −1, pH variations as 3, 5, 7, 9, amd 11, and process variations as just using ZnO nano particle, using ZnO nano particle and UV ray at the same time, just using UV ray, and without ZnO nano particle photocatalyst and UV ray. The result of the experiments show that the optimum condition of photocatalytic process is using ZnO nano particle photocatalysist and UV ray at the same time with ZnO nano particle concentration as 0,4 g. −1at pH 9. Keywords: surfactant, sodium lauryl sulfate (SLS), Photocatalytic, UV ray, ZnO nano particle, pH.