cover
Contact Name
Zainuddin Nasution
Contact Email
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Phone
+6287877488487
Journal Mail Official
zainuddin.nasution@kemdikbud.go.id
Editorial Address
Pusdatin, Kemendikbud. Jl. R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Telepon (021) 7418808; Faksimilie (7401727; Tromol Pos 7/CPA Ciputat 15411
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Teknodik
ISSN : 20883978     EISSN : 25794833     DOI : 10.32550
Core Subject : Science, Education,
Scope: The scope of TEKNODIK Journal is about Educational Technology (Learning), as a discipline, subject material, or profession. The process of activities includes Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation (ADDIE). The scope of TEKNODIK Journal is not only in the form of study, research, or development, but also book review on education technology. Focus: 1. Distant and Open Learning; 2. Information and Communication Technology (ICT) for Education; 3. Learning Strategy; 4. Learning Media; 5. Innovative Learning System or Model; 6. Development of Digital Learning Content; 7. Utilization of ICT and other media for Education (Learning)
Articles 399 Documents
Search results for , issue "Jurnal Teknodik" : 399 Documents clear
PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN: KEBUTUHAN PELUANG DAN TANTANGAN DI INDONESIA purwanto purwanto
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.19 No. 2 Agustus 2015
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.678 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v19i2.157

Abstract

Abstrak:Tulisan ini menyajikan hasil analisis penulis mengenai kebutuhan akan peluang dan tantangan bagi pengembang teknologi pembelajaran, suatu jabatan fungsional baru yang dibina oleh Kemendikbud pada saat ini. Permasalahan yang diajukan adalah: (1) mengapa diperlukan pengembang teknologi pembelajaran; (2) bagaimana peluang untuk menduduki jabatan pengembang teknologi pembelajaran di lembaga pendidikan; dan (3) apakah tantangan yang dihadapi oleh pengembang teknologi pembelajaran saat ini. Hasil kajian literatur dan pengamatan terhadap perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terkini menunjukkan bahwa PTP diperlukan karena beberapa hal berikut ini: (1) berkembangnya budaya kerja secara kolaboratif; 2) perlunya pembagian kerja karena disebabkan berkembangnya kawasan pekerjaan; (3) perubahan paradigma pembelajaran; dan 4) perkembangan pesat teknologi pembelajaran. PTP lahir sebagai akibat dari terjadinya hyperspesialisasi, yaitu pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh satu orang menjadi dikerjakan oleh beberapa orang profesional yang berbeda untuk bagian-bagian yang lebih khusus. Penulis menyimpulkan bahwa jabatan PTP terbuka bagi yang memiliki kompetensi, karena: (1) telah menjadi kebijakan pemerintah; (2) kebutuhan yang terus meningkat akan aneka sumber belajar, media, dan digital learning object; dan (3) banyak lembaga pendidikan saat ini yang memanfaatkan teknologi pembelajaran. Selain itu, tantangan yang dihadapi PTP saat ini yaitu: (1) PTP harus kreatif dan inovatif mengembangkan model pembelajaran yang sesuai paradigma belajar abad 21; (2) PTP perlu meningkatkan kompetensi di bidang pembelajaran dan teknologi, khususnya mengenai media terbaru; dan (3) PTP perlu menunjukkan karya nyata dan menawarkan solusi atas permasalahan dalam pembelajaran.Kata Kunci: pengembang teknologi pembelajaran, perubahan paradigma, kompetensiAbstract:This paper presents the author’s analysis about the need for opportunity and challenges for Instructional Designers, a new functional position nurtured by the Ministry of Education and Culture recently. The proposed questions are: (1) why Instructional Designers are required; (2) how the oportunities for the people to hold an Instructional Designer post in an educational institution are; and (3) what challenges Instructional Designers face are. The result of literature review and observation towards the latest ICT development shows that Instructional Designers are required because of: (1) developing collaborative working culture; (2) the need for specification of jobs; (3) learning paradigm changes; and (4) fast ICT development. Instructional Designers were born as a result of Hyperspecialization. It is a job which is done by one person, which should then be done by some different professional persons to hold different more specific parts of the job. The author concludes that Instructional Designer post is open for those who has right competences, because: (1) it has become a government policy; (2) the need for various learning sources, media, and digital learning object is continuously increasing; (3) many educational institutions has been applying learning technology. Beside that, the challenges Instructional Designer face are: (1) Instructional Designers must be creative and innovative in developing learning models in accordance with the 21st learning paradigm; (2) Instructional Designers need to enhance their competency in the field of education and technology, especially the newest media; and (3) Instructional Deisgners should show their real work and offer the solutions for the whole problems in learning.Key Words: Instructional Designers; paradigm changes; competence
Guru Dan Portal Rumah Belajar Supandri - Supandri
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 1, Juni 2018
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.961 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v21i3.325

Abstract

Adapun tujuan membahas dalam judul tulisan  ini adalah  membahas Guru  dan Portal Rumah Belajar. Berikut  kutipan dari Himpunan Peraturan Tentang Guru Kemdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Dasar, 2013 bahwa  Guru adalah predikat pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sedangkan Portal Rumah Belajar  merupakan pintu besar layanan pembelajaran yang telah menyediakan  sistem manajemen pembelajaran atau lebih dikenal dengan Learning Management Syistem (LMS) adalah suatu perangkat lunak atau software untuk keperluan  administrasi,dokumentasi, laporan sebuah kegiatan, kegiatan belajar mengajar dan kegiatan secara online yang terhubung secara langsung ke internet dan materi pelatihan yang semuanya dilakukan secara  online.(Rumah Belajar Pustekkom Kemdikbud 2014).
Kumpulan Abstrak Redaksi Teknodik
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.536 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.61

Abstract

PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASIDALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013ROLE OF INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGYIN IMPLEMENTATION OF CURRICULUM 2013Oos M. AnwasPusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, KemdikbudJalan R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten(oos.anwas@kemdikbud.go.id) STUDI TENTANG KONTRIBUSI PUSTEKKOM TERHADAPPROGRAM “BERMUTU”STUDY OF THE CONTRIBUTION OF PUSTEKKOMTO THE “BERMUTU” PROGRAMWaldopoPusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, KemdikbudJalan R.E. Martadinata, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten(waldopo@kemdikbud.go.id/waldopo@gmail.com)
PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENGEMBANGAN BANK SOAL DAERAH Rogers Pakpahan
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 2, Desember 2016
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.75 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v20i2.240

Abstract

ABSTRAK: Masalah yang menjadi fokus kajian adalah mengenai peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi(TIK) dalam pengembangan Bank Soal Daerah sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di suatu wilayah.Tujuan kajian ini adalah untuk mendeskripsikan peranan TIK dalam pengembangan Bank Soal Daerah untukmeningkatkan mutu pendidikan. Proses pengembangan instrumen penilaian (soal standar) menggunakan internetdan komputer serta perangkatnya. Pengelolaan Bank Soal Daerah dapat dilakukan secara bersama antara satuanpendidikan dengan dinas pendidikan provinsi atau kabupaten/kota. Bank Soal Daerah dengan soal standar membantupara pendidik dalam pelaksanaan penilaian. Hasil penilaian digunakan untuk perbaikan dalam pembelajaransehingga terjadi peningkatan mutu pendidikan. Permintaan soal oleh satuan pendidikan dilakukan denganmemanfaatkan jaringan teknologi informasi atau melalui internet sehingga kerahasiaan soal terjamin. Kajian inimenyimpulkan bahwa pemanfaatan TIK berperan untuk mewujudkan Bank Soal Daerah dan pengembangan soalstandar yang digunakan oleh pendidik pada penilaian internal. Penggunaan soal standar oleh sekolah diharapkandapat meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya sekolah menelusuri dan membandingkan hasil penilaianantarsekolah.Kata kunci: penilaian, bank soal daerah, mutu pendidikan, soal standar.ABSTRACT: The problem that is focused on in this study is about the role of Information and CommunicationTechnology (ICT) in the development of Regional Question-Bank in order to improve educational quality in theregion. The objective of this study is to describe the role of ICT in the Regional Question-Bank development toimprove educational quality. Regional Question-Bank management is carried out by educational units with provincial/district/city educational office. Regional Question-Bank with standardized questions supports teachers performingassessment. The assessment result is used to improve their teaching process so that the educational quality willimprove too. Question inquiry from the educational units is served through the internet that keeps its confidentiality.Thisstudy concludes that ICT plays roles in Regional Question-Bank development as well as its standardized contentthat will be used by teachers for their internal assessment. The usage of standardized questions by schools isexpected to be able to improve educational quality through inter-school assessment comparison.Keywords: assessment, regional question-bank, educational quality,standardized questions.
Mengapa Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh (PTJJ)? Rahmi Rivalina Rahmi Rivalina
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XV No.1 Juli 2011
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.257 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.93

Abstract

Abstrak: Untuk dapat memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan, berbagai upaya telah dilakukan seperti: optimalisasi layanan pendidikan oleh berbagai lembaga pendidikan yang ada melalui penyelenggaraan pendidikan pada pagi dan siang hari (double shift), penyelenggaraan Paket A, Paket B, dan Paket C, penyelenggaraan ujian persamaan setingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), dan penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh (PTJJ). Dari berbagai upaya pemenuhan tuntutan kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan, maka topik yang akan dibahas di dalam tulisan ini adalah khusus mengenai pendidikan terbuka dan jarak jauh. Pertimbangannya adalah karena model pendidikan terbuka dan jarak jauh ini (1) belum banyak diketahui masyarakat luas, belum dipahami secara benar, atau masih “dipandang sebelah mata” oleh sebagian masyarakat, dan (2) sangat lentur (fleksibel) dalam kegiatan pembelajarannya. Pendidikan terbuka dan jarak jauh tidak hanya dibutuhkan oleh masyarakat di negara-negara maju tetapi juga di negara-negara berkembang. Oleh karena itu, cakupan materi yang akan dibahas di dalam tulisan ini adalah mengenai konsep pendidikan terbuka dan jarak jauh, komponen dan karakteristik, rasional penyelenggaraan dan profil peserta didik, dan berbagai bentuk/model penerapan pendidikan terbuka dan jarak jauh di berbagai negara termasuk Indonesia. Tujuan penulis melalui tulisan ini adalah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam rangka pengembangan pemahaman yang sama mengenai peranan pendidikan terbuka dan jarak jauh yang berfungsi saling melengkapi dengan pendidikan reguler/konvensional. Kata kunci: pendidikan formal (persekolahan), pendidikan terbuka dan jarak jauh, belajar mandiri, pendidikan yang fleksibel (luwes)Abstract: In fulfilling the community needs for education services, various programs have been implemented, such as: optimalization of various educational institutions in offering education services by implementing a double-shift schooling system, conducting Package A, Package B, and Package C Equivalent Programs, executing Primary and Secondary Equivalence Examinations, and managing the open and distance learning program. In accordance with the above programs, the proposed issue to discuss in this writing is particulaly limited on the rationale or reasoning for conducting open and distance education program. Among some reasonings for implementing the open and distance learning mode are (1) the potentials of distance learning mode isn’t widely known, (2) the distance learning mode isn’t properly comprehended, or the distance learning mode is not fully acknowledged by some of the communities, and (2) the flexibility of conducting learning activities in the distance learning mode. Not only the community in the developed countries but also in the developing countries need the distance learning services. Therefore, this writing discusses the definition, components and characteristics of open and distance education, rationale of implementing and students profile, and various open and distance education models implemented in some countries including Indonesia. The aim of writing this article is to share knowledge and experiences for developing mutual understanding about the role of open and distance education, and its functions as a mutual complementary with the regular or conventional school system. Keywords: Formal education (schooling system), open and distance education, independent study, flexible education.
HUBUNGAN PENGETAHAN GIZI DENGAN KEBIASAAN MAKAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR Yati Setiati
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 15, Desember 2004
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.133 KB)

Abstract

The reseach was conducted in SDN Mekar Jaya, East Depok. The purpose of this reseach is to find out the correlation between nutritional knowledge and food habit. Data were collected from one Primary School, 150 SD students and parents were selected randomly. Data were analyzed by Pearson correlation and Distribution Freuency. The result of this study shows that there is a positive Correlation between nutrition knowledge and food habits.
Perkembangan Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh Di Indonesia Sudirman Siahaan dan Rahmi Rivalina
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.1 Maret 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.385 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.8

Abstract

Perkembangan Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ) dapat dilihat dari 2 segi, yaitu (1) kelembagaan atau organisasi yang berkiprah di bidang PTJJ, dan (2) program PTJJ yang diterapkan/ diselenggarakan oleh lembaga/organisasi pendidikan. Dari segi kelembagaan/organisasi, semakin bertambah jumlah lembaga/organisasi yang berkiprah di bidang PTJJ, seperti antara lain: Sekolah Menengah Pertama Terbuka (SMP Terbuka), Sekolah Menengah Atas Terbuka (SMA Terbuka), Universitas Terbuka (UT), perguruan tinggi negeri konvensional yang sekaligus juga menyelenggarakan PTJJ ( dual modes), Jaringan Sistem Belajar Jarak Jauh Indonesia (Jaringan Sistem BJJI) atau Indonesian Distance Learning Network (IDLN), dan SEAMEO Regional Open Learning Center (SEAMOLEC). Dari segi program PTJJ yang diterapkan/diselenggarakan, PTJJ diawali dari pemanfaatan bahan belajar mandiri tercetak (modul) dengan menggunakan jasa layanan pos sampai dengan pemanfaatan kemajuan teknologi Informasi dan komunikasi (TIK), seperti pemanfaatan media siaran (radio/televisi), media rekaman (audio, CD, VCD), media proyeksi (film bingkai suara, film 16mm, powerpoint), dan media jaringan (internet). Penyelenggaraan kegiatan belajar tutorial PTJJ juga mengalami perkembangan, dimulai dari yang bersifat tatap muka sampai dengan tutorial yang menggunakan TIK. Pengelolaan PTJJ juga terus mengalami perkembangan, dimulai dari inisiatif lembaga atau organisasi yang bersifat individual sampai dengan pengelolaan yang dilakukan secara kemitraan melalui konsorsium.
MODEL PEMBELAJARAN PARTISIPATIF FAKIR MISKIN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MENUJU KEMANDIRIAN Hamzah Hamzah; Sumardjo Sumardjo; Prabowo Tjitropranoto; Siti Amanah
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.19 No. 1 April 2015
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.091 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v19i1.148

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) peran pembelajaran partsipasi dalam pengembangan usaha fakir miskin menuju kemandirian; dan (2) tingkat partisipasi fakir miskin dalam meningkatkan pengembangan usaha; serta (3) merumuskan model pembelajaran bagi fakir miskin untuk mengembangkan kemandirian usahanya. Penelitian dilaksanakan di tiga kecamatan di Kabupaten Bogor dengan responden sebanyak 254 fakir miskin, yang diambil secara total sampling/sensus. Data di analisis dengan statistik deskriptif. Data yang berskala ordinal ditransformasi menjadi skala interval dan analisis data dilakukan dengan analisis korelasi Pearson. Pembelajaran partisipatif telah berhasil menumbuhkembangkan kemauan dan kemampuan untuk berusaha. Ikrar yang diucapkan pada setiap awal pertemuan pekanan menjadi penggugah kesadaran fakir untuk mengembangkan usahanya. tetapi masih berfokus pada pengembangan usaha secara individu. Tingkat partisipasi dalam memanfaatkan modal pinjaman untuk mengembangkan usahanya tergolong tinggi dalam kehadiran pada pertemuan kelompok, pengembalian pinjaman, dan kegiatan menabung. Model pembelajaran partisipatif bagi fakir miskin yang efektif dilakukan dalam dua tahapan. Tahap yang pertama ialah pemberdayaan masyarakat miskin dengan pembelajaran partisipatif yang diikuti oleh pemanfaatan zakat sebagai modal produktif untuk pengembangan usaha fakir miskin, disertai pendampingan, seperti yang telah dilakukan. Tahap yang kedua adalah penguatan usaha yang dilakukan dengan mendinamiskan kelompok sehingga mereka dapat melaksanakan usaha bersama menuju kemandirian.Kata Kunci : Pembelajaran partisipatif, usaha kelompok, kemandirianAbstract:The objetives of the study are to analyse: (1) the results of participative learning of the participant, and (2) the level of participation in the development of home industry, and (3) formulate effective participatory learning model. The respondents of the study were 254 poor people gathered through total/cencus sampling, in three subdistricts of Bogor. Data were analyzed with descriptive statistics. Data on ordinal scale were transformed into an interval scale, and its analysis was conducted by Pearson correlation analysis. Participatory learning was successful in developing willingness and capability of poor people to establish efforts in developing business. The pledge (consensus/sworn agreement) made at the beginning of the weekly meeting had become a trigger to raise awareness to expand business but still limited to the development of individual businesses. High level of participation was shown by the respondents through the attendance in group meeting and repayment of credit and saving. The effective model for participatory learning is conducted through two steps activities. The first step was to establish willingness and capability of poor people to develop business based on his/her own interest through participatory learning followed by the utilization of zakat (obligatory alms-giving and religious tax in Islam) as productive capital for business development for poor with assistance, as it has done. The second step is strengthening the business by building a dybamic group/community in order to carry out joint efforts toward self independence.Keyword: Participatory learning, group efforts, self-reliance.
IMPLEMENTASI PENDEKATAN SAINS-TEKNOLOGI-MASYARAKAT (STM) DALAM PEMBELAJARAN MOTOR BAKAR PADA MAHASISWA JURUSAN TEKNIK MESIN POLITEKNIK NEGERI BALI I Putu Darmawa
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol. 14 No. 1, Juni 2010
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.909 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v14i1.447

Abstract

an penelitian ini untuk mengetahui: perbedaan hasil belajar motor bakar mahasiswa yang mengikuti pendekatan STM dengan hasil belajar motor bakar mahasiswa yang mengikuti pendekatan konvensional. Tujuan lainnya adalah ingin mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar motor bakar pada mahasiswa yang diajar menggunakan pendekatan STM dengan mahasiswa yang diajar menggunakan pendekatan konvensional setelah diadakan pengendalian terhadap variabel bakat mekanik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan rancangan The Posttest-Only Control Group Design dengan melibatkan sample sebanyak 46 orang mahamahasiswa Politeknik Negeri Bali dan diambil secara random sampling. Data dikumpulkan menggunakan tes hasil belajar dan tes bakat mekanik. Data dianalisis secara statistik deskriptif dan statistik inferensial yaitu analisis kovariansi (anakova) Hasil analisis data menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar motor bakar yang diajar dengan menggunakan pendekatan STM dengan pendekatan konvensional. Setelah bakat mekanik dikendalikan, ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar motor bakar yang diajar menggunakan pendekatan STM dengan pendekatan konvensional. Bakat mekanik tidak memberikan kontribusi terhadap efektivitas penerapan pendekatan STM dalam pembelajaran motor bakar
HUBUNGAN PERSEPSI KOMPETENSI INSTRUKTUR DALAM PENGGUNAAN MEDIA BELAJAR DALAM PRESTASI BELAJAR Asep Saepudin
Jurnal TEKNODIK Jurnal Teknodik Vol.XVI No.4 Desember 2012
Publisher : Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1614.659 KB) | DOI: 10.32550/teknodik.v0i0.40

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh tingginya prestasi belajar warga belajar pada lembaga kursus menjahit di wilayah Jatinangor, sehingga beradasarkan hasil observasi dan informasi yang diperoleh ditemukan data bahwa hamper 70% lulusan dari lembaga tersebut yang bisa diterima di tempat kerja dan 30% berwirausaha membuka usaha sendiri. Dugaan sementara atas kondisi tersebut diatas banyak dipengaruhi oleh kompetensi instruktur khususnya dalam penggunaan media belajar. Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kompetensi instruktur dalam penggunaan media belajar terhadap prestasi belajar warga belajar pada lembaga kursus menjahit di wilayah Jatinangor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 41 responden yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian dilakukan dengan menggunakan korelasi product moment untuk mengetahui pengaruh variabel bebas dengan variabel terikat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi instruktur khususnya dalam penggunaan media belajar memiliki hubungan yang positif terhadap prestasi belajar warga belajar pada lembaga kursus menjahit di wilayah Jatinangor, teruji dan diterima kebenarannya pada taraf kepercayaan 95%. Hal ini dibuktikan dengan nilai korelasi sebesar 0,416 serta koefisien determinasi sebesar 17,3% dan sisanya sebesar 82,7% dipengaruhi oleh faktor lain.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Jurnal Teknodik Vol. 29 No. 1, Juni 2025 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 2, Desember 2024 Jurnal Teknodik Vol. 28 No. 1, Juni 2024 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 2, Desember 2023 Jurnal Teknodik Vol. 27 No. 1, Juni 2023 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 2, Desember 2022 Jurnal Teknodik Vol. 26 No. 1, Juni 2022 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.4 Desember 2012 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.3 September 2012 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 2, Desember 2021 Jurnal Teknodik Vol. 25 No. 1, Juni 2021 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 2, Desember 2020 Jurnal Teknodik Vol. 24 No. 1, Juni 2020 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 2, Desember 2019 Jurnal Teknodik Vol. 23 No. 1, Juni 2019 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 18, Juni 2006 Jurnal Teknodik Vol. 09 No. 16, Juni 2005 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 14, Juni 2004 Jurnal Teknodik Vol. 17 No. 4, Desember 2013 Jurnal Teknodik Vol,17 No. 3, September 2013 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 2, Desember 2008 Jurnal Teknodik Vol. 10 No. 19, Desember 2006 Jurnal Teknodik Vol. 8 No. 15, Desember 2004 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 2, Desember 2018 Jurnal Teknodik Vol. 22 No. 1, Juni 2018 Jurnal Teknodik Vol. 14 No. 1, Juni 2010 Jurnal Teknodik Vol. 13 No. 1, Juni 2009 Jurnal Teknodik Vol. 12 No. 1, Juni 2008 Jurnal Teknodik Vol. 11 No. 3, Agustus 2007 Jurnal Teknodik Vol. 21 No. 2, Desember 2017 Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 2, Desember 2016 Juni Jurnal Teknodik Vol. 20 No. 1 Juni 2016 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 2 Agustus 2015 Jurnal Teknodik Vol.19 No. 1 April 2015 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 3 Desember 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No. 2 Agustus 2014 Jurnal Teknodik Vol.18 No.1 April 2014 Jurnal Teknodik Jurnal Teknodik Vol.XVII No.2 Juni 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVII No.1 Maret 2013 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.2 Juni 2012 Jurnal Teknodik Vol. XV No.2 Desember 2011 Jurnal Teknodik Vol.XVI No.1 Maret 2012 Jurnal Teknodik Vol.XV No.1 Juli 2011 More Issue