cover
Contact Name
Dr. -Ing. Widodo S. Pranowo
Contact Email
widodo.pranowo@gmail.com
Phone
+6221-6413176
Journal Mail Official
widodo.pranowo@gmail.com
Editorial Address
JL. Pantai Kuta V No.1 Ancol Timur Jakarta Utara 14430
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Chart Datum
ISSN : 24604623     EISSN : 27164632     DOI : https://doi.org/10.37875/chartdatum
Core Subject : Science, Social,
Jurnal ilmiah CHART DATUM adalah jurnal yang diasuh oleh Prodi S1 Hidrografi STTAL yang bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dibidang hidrografi kelautan yang mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi dibidang hidrografi. Naskah yang dimuat pada jurnal ini sebagian berasal dari hasil penelitian maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan kelautan pada aspek hidro-oseanografi yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen, akademisi, peneliti maupun pemerhati permasalahan kelautan. Edisi volume 01 No. 04 ini adalah terbitan ketujuh setelah terbit pertama kali tahun 2015 dengan frekuensi terbit dua kali dalam satu tahun.
Articles 204 Documents
Sebaran dan Estimasi Ketebalan Sedimen Permukaan Dasar Laut Berdasarkan Nilai Koefisien Refleksi Sub Bottom Profiler (Studi Kasus Perairan Utara Serang, Banten): Distribution and Estimation of Seabed Surface Sediment Thickness Based on the Reflection Coefficient Value of Sub Bottom Profiler (Case Study of North Serang Waters, Banten) Bayu Ardiyarta; Joko Prihantono; Dikdik S. Mulyadi; Tasdik Mustika Alam
Jurnal Chart Datum Vol. 4 No. 2 (2018): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1961.153 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v4i2.132

Abstract

Peningkatan aktivitas di bidang reklamasi pesisir berupa penambangan pasir dan mineral, operasi pengerukan (dredging) serta pembangunan sarana pemukiman diwilayah pesisir membutuhkan peta-peta dasar laut yang akurat. Sub Bottom Profiler (SBP) merupakan salah satu instrument akustik bawah air yang mempunyai frekuensi yang rendah, sehingga mampu menggambarkan lapisan sedimen dibawah dasar laut. Informasi jenis sedimen dasar laut dapat dilakukan dengan menggunakan metode akustik bawah laut termasuk dengan menggunakan SBP. Keunggulan SBP dibandingkan instrument akustik bawah air lainnya adalah dapat digunakan untuk mengestimasi ketebalan sedimen permukaan tersebut. Pada penelitian ini telah dilakukan klasifikasi sedimen permukaan dasar laut di perairan utara Kabupaten Banten dengan cara menghitung nilai koefisien refleksi data SBP dengan membandingkan energi pantulan (ERx) dengan energi yang dipancarkan (ETx) yang kemudian dikalibrasi dengan data sampling sedimen yang juga diambil pada saat survei dilakukan. Sedangkan ketebalan sedimen permukaan dilakukan dengan melakukan picking horizon di penampang SBP antara lapisan dasar laut dengan reflector yang pertama. Selisih antara dua reflector tersebut merupakan nilai ketebalan. Area survei adalah perairan utara kabupaten Serang Banten karena lokasi ini merupakan area penambangan pasir, sehingga memiliki jenis sedimen yang homogen. Hasil dari penelitian ini adalah nilai koefisien refleksi dengan rata-rata 0.3076 sampai dengan 0.4501 yang kemudian diklasifikasikan sesuai dengan tabel Hamilton 1982 pasir kasar, pasir halus, pasir sangat halus dan pasir lembut. Nilai ketebalan sedimen berkisar antara 0 sampai dengan 6.3 meter dengan rata-rata 1.47 meter.
Studi Penentuan Dimensi dan Posisi Wreck Menggunakan Data Batimetri – Data Kolom Air Multibeam Echosounder (Studi Kasus di Perairan Teluk Jakarta): Wreck Dimension and Position Determination Study Using Bathymetric Data – Multibeam Echosounder Water Column Data (Case Study in Jakarta Bay Waters) Nuki W. Asmoro1; Danar Guruh Pratomo; Adi Kusuma Negara; Agus Iwan Santoso
Jurnal Chart Datum Vol. 4 No. 2 (2018): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.976 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v4i2.133

Abstract

Keamanan pelayaran navigasi merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang kelancaran transportasi laut serta mencegah terjadinya kecelakaan dilaut. Bahaya navigasi pelayaran seperti objek di bawah laut berasal dari kejadian alami atau akibat buatan manusia, salah satu objek bahaya navigasi buatan manusia berupa bangkai kapal (wreck). Penelitian ini menggunakan objek berupa wreck yang berada di perairan Kepulauan Seribu Teluk Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dimensi, least depth dan mengidentifikasi posisi wreck dengan menggunakan metode batimetri algoritma CUBE dan kolom air. Pengambilan data dilakukan oleh KRI Rigel 933 pada tanggal 30 Maret 2017 menggunakan Multibeam Echosounder EM 2040 single head. Hasil dari penelitian menggunakan data batimetri dan data kolom air yaitu interpretasi dari data kolom air lebih detail menggambarkan objek di zona kolom air sedangkan menggunakan data batimetri interpretasi yang dihasilkan hanya menangkap objek yang berada di dasar laut. Pengolahan data menggunakan CARIS HIPS and SIPS 9.0 menyatakan bahwa target wreck dapat diketahui lebih detail pencitraan dimensi, posisi dan least depth, dengan menggabungkan data batimetri dan data kolom air.
Identifikasi Objek Berdimensi Kecil Menggunakan Sapuan Multibeam Echosounder: Identify Small Dimensional Objects Using the Multibeam Echosounder Sweep Zainul Arif Akbar; Danar Guruh Pratomo; Adhi Kusuma Negara; Nur Riyadi
Jurnal Chart Datum Vol. 4 No. 2 (2018): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.612 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v4i2.134

Abstract

Survei Hidrografi adalah ilmu pengukuran dan pengambaran fitu-fitur yang mempengaruhi navigasi maritim, konstruksi kelautan, pengerukan, eksplorasi / pengeboran minyak lepas pantai dan kegiatan-kegiatan lain yang terkait. Pada saat pelaksanaan survei, keselamatan personel, alat, data dan lingkungan sangat diutamakan. Resiko yang sering terjadi pada saat survei yaitu terjatuhnya peralatan survei pada saat penggambilan data dilaut. Penelitian ini menggunakan objek berdimensi kecil dengan ukuran kurang dari 1 meter sebagai target untuk diteliti karena alat survei milik Pushidrosal rata-rata berukuran di bawah 1 meter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa MBES EM 2040 dual head milik SV KRI SPICA-934 dalam mengidentifikasi objek berdimensi kecil dengan cara memperbanyak jumlah sapuan. Pengambilan Data dilakukan pada tanggal 20 - 25 April 2018 di perairan dermaga pondok dayung baru, Teluk Jakarta Tanjung Priok, Jakarta Utara. Hasil pengolahan Data menggunakan CARIS HIPS and SIPS 9.0 menyatakan bahwatarget dengan dimensi kurang dari 1 meter pada kedalaman 10 meter dapat dideteksi mengunakan 3 kali sapuan MBES.
Purwarupa Dukungan Data Arus Laut Operasional Bersumber dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) dalam Format AML IWC Arus Laut untuk TNI ALl: Prototype of Operational Ocean Flow Data Support Sourced from Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) in AML Format IWC Ocean Currents for the Indonesian Navy Dodik Armansyah; N. B. Sukoco; Kamija Kamija; Dian Adrianto; L. Dewantono
Jurnal Chart Datum Vol. 5 No. 1 (2019): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.725 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v5i1.142

Abstract

Arus laut merupakan perpindahan massa air laut mendatar yang disebabkan oleh beberapa jenis gaya penggerak antara lain stres angin, gradien tekanan, gelombang laut dan pasang surut. Informasi tentang arus laut diperlukan untuk mendukung keselamatan bernavigasi dan operasi angkatan laut lainnya. Pushidrosal sebagai lembaga hidrografi nasional telah menyediakan produk prediksi arus pasang surut pada beberapa pelabuhan terpilih yang diterbitkan secara tahunan. Data arus laut yang disebabkan oleh selain pasang surut belum menjadi informasi yang diproduksi secara berkesinambungan dan belum didistribusikan sebagai data dukungan baik untuk operasional kapal sipil maupun militer. TNI AL telah menggunakan teknologi Warship Electronic Chart Display and Information System (WECDIS) terkini di dua kapal selam terbarunya pada tahun 2016 dan 2017. Salah satu kemampuan WECDIS tersebut adalah mampu menampilkan Additional Miitary Layer (AML) dinamis Integrated Water Column (IWC) komponen arus laut. Untuk memperoleh data arus laut yang mencakup seluruh wilayah Indonesia dapat digunakan dengan metode pengamatan langsung, pengamatan satelit atau pemodelan. Data pengamatan langsung dan pengamatan satelit memerlukan anggaran pengadaan dan operasional alat yang besar dan memerlukan perencanaan yang cukup lama, sedangkan pemodelan dapat dilaksanakan dengan biaya relatif murah. Sumber data arus non pasang surut di wilayah Indonesia, yang memiliki dimensi kedalaman, dapat diambil dari pemodelan global Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS). Data arus laut pemodelan global CMEMS memiliki resolusi horisontal yang cukup tinggi dengan resolusi temporal sampai dengan per jam. Pemodelan tersebut juga di-update setiap hari yang menghasilkan prediksi sepuluh hari ke depan. Hasil pemodelan CMEMS dapat diunduh secara gratis dengan melaksanakan registrasi terlebih dahulu. Data pemodelan CMEMS dapat diunduh secara berkala untuk dijadikan sebagai sumber data AML IWC komponen arus laut. Selanjutnya AML IWC dapat didistribusikan secara periodik, semisal mingguan, untuk digunakan sebagai informasi pendukung yang ditampilkan di dalam WECDIS.
Studi Kartografi Marine Protected Area (MPA) di Pulau Sangiang Menggunakan Model Marine Information Overlay (MIO): Marine Protected Area (MPA) Cartography Study on Sangiang Island Using Marine Information Overlay (MIO) Model I Wayan Rusdiana; Dyan Primana Sobarudin; M Qisthi Amarona; A. Lufti Ibrahim
Jurnal Chart Datum Vol. 5 No. 1 (2019): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.467 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v5i1.146

Abstract

MIO merupakan informasi non-wajib yang belum tercakup oleh IMO yang ada, IHO, atau IEC standar yang diperlukan oleh ECDIS untuk memastikan keamanan navigasi di laut. Informasi tambahan ini meliputi peliputan es, pasang / ketinggian air, aliran arus, habitat meteorologi, oseanografi dan laut. Area Konservasi yang juga dikenal dengan istilah MPA merupakan bagian dari MIO yang berguna untuk melindungi spesies ikan, habitat langka, atau seluruh ekosistem di laut. ENC sebagai alat navigasi wajib bagi para pelaut sudah mengakomodir unsur-unsur yang terkait dengan area konservasi, namun belum menyediakan informasi secara detail tipe dan jenis area konservasi tersebut. Pada penelitian ini, MPA yang merupakan bagian dari MIO yang nantinya akan dikembangkan sebagai Special publication S-122 MPA akan dibuat zonasi dengan informasi maupun batasan-batasan secara jelas dan detail dengan cara menerjemahkan dan menganalisa peraturan maupun perundang-undangan yang berlaku di Indonesia ke dalam bahasa peta selanjutnya disesuaikan sesuai dengan dengan standar internasional S-122 MPA sehingga mudah untuk dipahami oleh para pelaut. Hasil dari penelitian ini berupa hasil Analisa blok MPA dan MIO dalam format data vector, point, line dan area dengan struktur data, kodefikasi dan simbol tertentu wilayah Pulau Sangiang dan sekitarnya, sehingga dapat dipergunakan sebagai panduan bagi para pelaut untuk membantu dalam bernavigasi agar meminimalisir kesalahpahaman yang berdampak terhadap terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan.
Pemanfaatan Metode Fotogrametri Untuk Pengukuran Garis Pantai dan Identifikasi Objek-Objek Tematik dengan Menggunakan Wahana UAV (Unmanned Aerial Vehicle) (Studi Kasus Pengukuran Garis Pantai di Pangkalan TNI AL Pondok Dayung): Utilization of Photogrammetric Methods for Coastline Measurement and Identification of Thematic Objects by Using an Unmanned Aerial Vehicle (UAV) (Case Study of Coastline Measurement at the Indonesian Navy Base Pondok Dayung) Adhyta Harfan; Dipo Yudhatama; Imam Bachrodin
Jurnal Chart Datum Vol. 5 No. 1 (2019): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.286 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v5i1.147

Abstract

Metode Fotogrametri telah banyak digunakan dalam survei dan pemetaan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, metode fotogrametri saat ini berbasiskan pesawat tanpa awak atau yang lebih dikenal dengan UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Kelebihan metode fotogrametri berbasiskan UAV untuk pengukuran garis pantai adalah memiliki resolusi spasial yang sangat tinggi dan dapat menjagkau daerah-daerah yang sulit dan berbahaya. Di samping itu juga dapat memberikan data foto udara terkini dengan sekala detail. Dalam penelitian ini membandingkan ketelitian horisontal antara hasil pengukuran garis pantai menggunakan metode fotogrametri berbasiskan UAV secara rektifikasi dengan GCP (Ground Control Point) maupun secara PPK (Post Processed Kinematic) dengan pengukuran garis pantai metode GNSS RTK (Real Time Kinematic). Hasil perhitungan ketelitian horisontal mengacu pada standar publikasi IHO S-44 tentang pengukuran garis pantai. Pemotretan dilakukan dengan ketinggian terbang 180 m, dengan tampalan depan dan samping 80%. Hasil perhitungan ketelitian horisontal foto udara terektifikasi 5 GCP, foto udara PPK dan foto udara PPK terektifikasi 1 GCP terhadap pengukuran garis pantai dengan metode GNSS RTK diperoleh nilai standar deviasi (σ) dan 95% selang kepercayaan (CI95%) masing-masing sebagai berikut: σ5gcp=10,989 cm dengan CI95% 16.8 cm < μ < 21.2 cm , σppk=26,066 cm dengan CI95% 26.5 cm < μ < 37 cm dan σppk1gcp=10,378 cm dengan CI95% 15.6 cm < μ < 19.8 cm. Kemudian terdapat 10 objek tematik berdasarkan Peta Laut Nomor 1 yang dapat diinterpretasi pada hasil orthomosaic foto udara.
Kajian Peta Militer Digital untuk Duduk Kapal Selam (Studi Kasus Survei Area Latihan Kapal Selam Kangean): Digital Military Map Study for Submarine Seating (Case Study of Kangean Submarine Training Area Survey) Affan Fadhilah; Qisti Amarona; Imam Bahrodin
Jurnal Chart Datum Vol. 5 No. 1 (2019): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.705 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v5i1.148

Abstract

Additional Military Layer (AML) merupakan layer tambahan untuk peta laut yang berisikan data untuk memenuhi kebutuhan pertahanan di laut, di luar peta laut atau peta navigasi. AML memiliki 6 (enam) layer statis, diantaranya terdapat beberapa layer yang dapat digunakan pada saat pelaksanaan duduk kapal selam yaitu Contour Lines Bathimetry (CLB) dan Environment Seabed and Beach (ESB). Layer CLB merepresentasikan data kontur kedalaman dan area kedalaman sedangkan ESB merepresentasikan jenis dasar laut suatu area perairan. Pelaksanaan Duduk Kapal Selam memerlukan ketersedian data CLB dan ESB yang akurat dan sesuai kebutuhan sehingga perlu diadakan penelitian yang terkait dengan pelaksanaan operasi duduk kapal selam seperti kedalaman, gradien area dan jenis dasar laut. Peta Militer Digital seperti AML khususnya CLB dan ESB yang merupakan Vector Based Product memiliki kapasitas data yang sangat besar dibandingkan Peta Laut atau ENC oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui model spesifikasi produk yang efektif dan efesien agar AML bisa divisualisasikan secara optimal. Pada penelitian ini, Data batimetri dalam format Csar akan dijadikan data CLB dengan mengekstraksi menjadi kontur kedalaman dan area kedalaman dengan ketentuan standar performa ENC yang ukuran filenya kurang dari 5 (lima) megabytes (mb). Pada saat pembuatan layer CLB apabila ditemukan hasilnya melebihi 5 (lima) mb harus dilakukan proses taling untuk mendapatkan hasil ukuran kurang dari 5 (lima). Layer ESB di dapatkan dari ekstrasksi data batimetri untuk di analisa menjadi jenis dasar laut untuk lebih lanjut dibuat layer ESB. Dari hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa hasil pembuatan CLB dan ESB di area survei area latihan kapal kapal selam Kangean didapatkan 4 (empat) area yang direkomendasikan untuk tempat pelaksanaan duduk kapal selam. Dimana area tersebut merupakan kombinasi analisa dari CLB dan ESB yang memenuhi persyaratan untuk melaksanakan duduk kapal selam. Penelitian ini berada didaerah perairan Kangean Madura dengan menggunakan data dari survei diwilayah tersebut.
Studi Perbandingan Karakteristik Pasang Surut Hasil Perhitungan Data Lokal Dengan Model Pasang Surut Global di Perairan Indonesia: Comparative Study of Tidal Characteristics Calculation of Local Data Using Global Tidal Models in Indonesian Waters Choirul Umam; Widodo S. Pranowo; Khoirol Imam Fatoni
Jurnal Chart Datum Vol. 5 No. 2 (2019): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1128.27 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v5i2.149

Abstract

TPXO 7.1 adalah model pasang surut yang berasal dari asimilasi data altimetri dengan model hidrodinamika. Dalam penelitian ini model TPXO 7.1 dijalankan menggunakan perangkat lunak Tidal Model Driver (TMD) untuk memprediksi. Penelitian dilakukan di 11 lokasi yaitu Sabang, Natuna, Marina Ancol, Sendang Biru, Sebatik, Lembar, Makassar, Maritain NTT, Ternate, Jayapura dan Merauke. Lokasi tersebut mewakili beberapa jenis geomorfologi perairan pesisir. Pengamatan data telemetri pasut diperoleh dari Pushidrosal dan BIG. T-tide matlab toolbox digunakan untuk menganalisis komponen harmonik pasang surut. Analisis data pengamatan dan prediksi telah dilakukan dan memberikan nilai RMSE (Root Mean Square Error). Hasil penelitian menunjukkan, nilai korelasi tertinggi terjadi di perairan Sebatik (R=0,9822), dan nilai korelasi terendah terjadi di perairan Marina Ancol (R=0,7689). Berdasarkan analisis tipe pasang surut antara data pengamatan dan prediksi, tipe pasang surut di perairan Marina Ancol mempunyai perbedaan. Tipe pasang surut Marina Ancol adalah harian tunggal (Formzahl= 4,53) berdasarka data pengamatan, sedangkan berdasarkan data prediksi campuran condong harian tunggal (Formzahl=2,69).
Studi Pengaruh Parameter Meteorologi Terhadap Variasi Pasang Surut di Perairan Perbatasan Sebatik Kalimantan Utara: Study of the Effect of Meteorological Parameters on Tidal Variations in the Sebatik Border Waters of North Kalimantan Muhammad Aziz; Kamija Kamija; Khoirol Imam Fatoni
Jurnal Chart Datum Vol. 5 No. 2 (2019): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.723 KB) | DOI: 10.37875/chartdatum.v5i2.150

Abstract

Secara teori, variasi pasang surut utamanya disebabkan oleh gaya gravitasi bumi terhadap bulan dan bumi terhadap matahari. Namun, terdapat juga beberapa pengaruh eksternal lain selain dari faktor astronomis tersebut, salah satunya adalah pengaruh parameter meteorologi yang mengakibatkan terjadinya variasi pasang surut. Pada penelitian ini, penulis memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh parameter meteorologi terhadap variasi pasang surut di perairan Sebatik, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan data pasang surut prediksi dari Pushidrosal, data pasang surut realtime dan data meteorologi realtime dari stasiun telemetri Sebatik. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, penulis akan membandingkan data pasang surut realtime dengan pasang surut hasil prediksi di wilayah Sebatik, selanjutnya hasil perbandingan pasang surut tersebut akan dikorelasikan dengan data meteorologi realtime (angin dan curah hujan) di wilayah Sebatik. Adapun jenis korelasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan formulasi korelasi Pearson. Melalui penelitian ini, penulis memiliki tujuan untuk menghitung besarnya nilai korelasi variasi pasang surut terhadap angin dan nilai korelasi variasi pasang surut terhadap curah hujan. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk mengetahui parameter meteorologi yang dominan terhadap variasi pasang surut di perairan Sebatik.
Identifikasi Perubahan Kontur Kedalaman Laut Diperairan Sekitar Anak Gunung Krakatau Pasca Erupsi Tahun 2018: Identification of Changes in Sea Depth Contours in the Waters Around the Anak Krakatau Volcano after the 2018 Eruption Dedy Wirasetiyawan; Nawanto Budi Sukoco; Nur Riyadi; Dikdik Satria Mulyadi
Jurnal Chart Datum Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37875/chartdatum.v6i2.184

Abstract

Krakatau (Rakata) adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif yang terletak di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatera. Pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Penyebab semakin tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Pada penelitian ini dititik beratkan pada identifikasi perbandingan perubahan kontur kedalaman perairan disekitar Anak Gunung Krakatau sebelum dan pasca erupsi tahun 2018. Data penelitian ini berupa data sekunder Multibeam Echosounder (MBES) yang diperoleh dari hasil survei KRI Spica-934 di Perairan Selat Sunda atau di sekitar Anak Gunung Krakatau pasca erupsi tahun 2018 menggunakan MBES EM 2040 dan EM 302. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan software Charis Hips and Sips selanjutnya dioverlay dengan Lembar Lukis Teliti (LLT) tahun 2016. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa terjadi perubahan kontur kedalaman laut di area sekitar Anak Gunung Krakatau pasca erupsi tahun 2018 yang mengakibatkan pendangkalan hampir diseluruh area Anak Gunung Krakatau, terutama di bagian selatan dan barat dimana terdapat garis pantai yang menyempit akibat longsoran, selain itu berdasar data hasil olahan terdapat pola garis kontur kedalaman laut yang mendekati garis pantai.

Page 2 of 21 | Total Record : 204