cover
Contact Name
Isna Mutia
Contact Email
isnamutia23@gmail.com
Phone
+6282286585642
Journal Mail Official
jurnalmuashirah@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh, 23111
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif
ISSN : 16937562     EISSN : 25992619     DOI : 10.22373/jim
Publisher media for Koran and Hadis with multy perspective. Research with social perspective, psikological perspective, lingusistic perspective, antropology perspective
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2022)" : 10 Documents clear
Islah Dalam Pemahaman Qur’an Hadis Zainuddin Zainuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.14058

Abstract

Islah is a term found in the Qur'an and the hadith of the Prophet. Islah comes from the word Ashlaha-yushlihu-ishlahan, which means repair, safety and peace. Islah according to the Qur'an is a person who always reads the Qur'an, remembrance and prayer in the quiet night. Performing islah is doing good deeds in a calm manner and state that can benefit oneself and others. Like the state of a person doing night prayers, it is a reform that is very beneficial to himself and gives good to others, because it can prevent evil deeds and provide good for safety and peace. So something can be seen as reform if it serves to bring value and benefits. On the other hand, acts that cause harm are not called reforms. Thus, the measure of a good or bad charity lies in the value of the benefits or harms it contains. Islah adalah suatu term yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis rasulullah saw. Islah berasal dari kata Ashlaha-yushlihu-ishlahan, yang artinya perbaikan, keselamatan dan perdamaian. Islah menurut al-Qur’an adalah orang yang senatiasa membaca al-Qur’an, zikir dan shalat di waktu malam yang tenang. Melaksanakan islah adalah melakukan perbuatan yang baik dengan cara dan keadaan tenang yang dapat memberi manfaat pada dirinya dan orang lain. Seperti keadaan seseorang mengerjakan shalat malam, adalah suatu islah yang sangat bermanfaat kepada dirinya dan memberi kebaikan kepada orang lain, karena dapat mencegah perbuatan mungkar dan memberikan kebaikan untuk keselamatan dan perdamaian. Maka sesuatu dapat dipandang sebagai islah jika ia berfungsi mendatangkan nilai manfaat. Sebaliknya, perbuatan yang menimbulkan mudarat, tidak dinamakan islah. Dengan demikian, tolok ukur suatu amal baik atau tidak adalah terletak pada nilai manfaat atau mudarat yang dikandungnya.
Waliyullah Al-Dahlawi Muhadditsan Ikhsan Nur
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : South East Asia Regional Intellectual Forum of Qoran Hadith (SEARFIQH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.13322

Abstract

Allah swt expressly conveys that "and indeed We are the ones who guard it (the Qur'an)", but to protect the prophet's hadith from changes in the eyes, false reliance on the name of the prophet or the occurrence of errors in the chain of hadith narration, Allah assigns this task to Muslims more precisely. to hadith scholars. In a hadith narrated by Abu daud "the Prophet SAW said: "Verily Allah will send for this Ummah, at the end of every hundred years, people who will renew their religion". With their diligence, thoroughness and hard work, the traditions that came from the prophet to us today. In the course of Islamic history, various regions seem to share and change roles in reviving the sunnahs of the prophet Muhammad SAW. When the movement for the study of Sunnah in one area declines due to various factors, then other parts of the region will immediately rise to shine brightly in other areas. India or what is known as Al-Hindi has also been transformed into an influential center of Islamic studies, this situation has been going on since the 12th century Hijri. The study of Hadith became one of the most advanced fields in the Indies. These scholars had a major role in the study of hadith such as ahkam hadiths, sanad criticism, ilat hadith, syarah hadith and various other themes. Among the most famous hadith scholars from India is Shaykh Abdurrahim Ad-Dahlawi. Many important writings in the field of hadith that he produced during his life, such as his contribution to the development of hadith in India and other Islamic worlds. He was also a hadith reference in his time and also printed the names of several other great hadith scholars. Here the author will discuss his biography, scientific journey, hadith teachers, famous students in the field of hadith, as well as his work and methods in the field of hadith.ABSTRAKSecara tegas Allah swt menyampaikan bahwa “dan sesungguhnya Kami lah yang menjaganya (al-Quran)”, namun untuk menjaga hadis nabi dari perubahan matan, penyandaran yang palsu atas nama nabi atau terjadinya kesalahan pada sanad periwayatan hadis, Allah bebankan tugas ini kepada umat Islam lebih tepatnya kepada ulama hadis. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu daud, Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang akan memperbaharui  agamanya”. Dengan ketekunan, ketelitian dan kerja keras mereka hadis-hadis yang berasal dari Nabi sampai kepada kita saat ini. Dalam perjalanan sejarah Islam, berbagai wilayah seolah saling berbagi dan berganti peran dalam menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW. Ketika gerakan kajian sunnah di suatu wilayah menurun karena berbagai faktor, maka wilayah bagian yang lain akan segera bangkit bersinar menerangi wilayah lainnya. India atau yang disebut dengan Al-Hindi juga pernah menjelma menjadi pusat kajian Islam yang berpengaruh, keadaan ini berlangsung sejak abad ke-12 Hijriyah. Kajian hadis menjadi salah satu bidang yang paling maju di Hindia, para ulama ini memiliki peranan besar dalam kajian hadis seperti hadis-hadis ahkam, kritik sanad, ilat hadis, syarah hadis dan berbagai tema yang lain. Diantara ulama hadis yang paling terkenal dari India adalah Syaikh Waliyullah Abdurrahim Ad-Dahlawi. Banyak karya tulis penting di bidang hadis yang beliau hasilkan selama hidupnya, sebagai sumbangsih beliau untuk perkembangan hadis di India dan dunia Islam lainnya. beliau juga menjadi rujukan hadis pada masanya dan juga mencetak beberapa nama ulama besar hadis lainnya. Disini penulis akan membahas biografi, perjalanan ilmiah beliau, guru-guru hadis, murid-murid yang masyhur dalam bidang hadis, serta karya dan metode beliau dalam bidang hadis.  
Rahasia Keagungan Ilahi Dibalik Penafsiran Sastra Bint Asy-Syati’ Nasaiy Aziz; Mohd Kalam Daud
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.14061

Abstract

Al-Qur'an in Islam is God's guidance to all humans at all times and throughout the world whose contents must be understood and practiced. To better understand the content and meaning of the Qur'an, a study of the interpretation of the Qur'an is very necessary in order to know the message of Allah behind the texts. The study of the Qur'an actually always experiences a fairly dynamic development, along with the development of socio-cultural conditions and human civilization. This is evidenced by the emergence of works of interpretation, ranging from classical to contemporary, with various styles, methods and approaches used. Bint ash-Syati' is the first female interpreter to live in contemporary times, through language interpretation with a philological and literary approach, which she initiated tries to apply examples of interpretation and apply them in people's lives. It is hoped that the study of the interpretation model will be able to provide a sharper and more specific picture of the method model in question. ABSTRAK Al-Qur’an dalam Islam merupakan petunjuk Allah kepada seluruh manusia di segala zaman dan seluruh dunia yang isinya harus dipahami dan diamalkan. Untuk lebih memahami isi dan makna Al-Qur’an, kajian tafsir Al-Qur’an sangat diperlukan guna mengetahui pesan Allah di balik teks-teksnya. Kajian Al-Qur’an sebenarnya selalu mengalami perkembangan yang cukup dinamis, seiring dengan perkembangan kondisi sosial-budaya dan peradaban manusia. Hal ini terbukti dengan munculnya karya-karya tafsir, mulai dari yang klasik sampai kontemporer, dengan berbagai corak, metode dan pendekatan yang digunakan. Bint asy-Syati’ adalah penafsir perempuan pertama yang hidup di zaman kontemporer, melalui penafsiran bahasa dengan pendekatan filologi dan sastra yang digagasnya mencoba mengaplikasikan contoh-contoh penafsiran dan mengaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Kajian model penafsiran tersebut diharapkan akan dapat memberikan gambaran yang lebih tajam dan spesifik yang dimiliki oleh model metode dimaksud
Analysis of Manhaj Dabt in Surah al-Baqarah: A Study of Manuscripts Al-Quran MSS 4322 by Pangeran Jimat Siti Azwanie Che Omar; Sedek Ariffin
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.13341

Abstract

Dabt is described by Muhammad Salim Muhaysin as a discipline related to the method of marking the letters of the Quran. This discipline of knowledge is based on law either in terms of tajwid or the form of recitation. The main focus of this study is to analyze the manhaj ilmu dabt found in surah al-Baqarah in the manuscript al-Quran MSS 4322 collection of the National Library of Malaysia. Manuscript al-Quran MSS 4322 is a handwritten al-Quran manuscript by Pangeran Jimat in Madura, Indonesia. Pangeran Jimat was a sultan who ruled Madura in the 17th century AD. This study was conducted through a philological approach. The method used during this study is the method of data collection through documentation method by analyzing the text of the Qur'an MSS 4322. The findings show that analysis of dabt knowledge in the manuscript of al-Quran MSS 4322 clearly shows the writing of dabt manuscript al- Quran MSS 4322 does not follow the actual method of dabt knowledge such as the complete harakat, tanwin, mad, sabdu, sukun and hamzah, but is more in line with the normal writing pattern. The findings show, the author submits a proposal so that this study can be done continuously on other surah especially aspect dabt Therefore, this manuscript of the Qur'an is a great manuscript that will enhance the dignity and writings of previous scholars academically and more authoritatively to the digital generation, especially in the field of the Qur'an.ABSTRAKDabt dijelaskan oleh Muhammad Salim Muhaysin sebagai suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan metode penandaan huruf-huruf Al-Qur'an. Disiplin ilmu ini berlandaskan hukum baik dari segi tajwid maupun bentuk tajwidnya. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis manhaj ilmu dabt yang terdapat dalam surah al-Baqarah dalam manuskrip al-Quran MSS 4322 koleksi Perpustakaan Negara Malaysia. Naskah Al-Quran MSS 4322 adalah naskah Al-Quran tulisan tangan oleh Pangeran Jimat di Madura, Indonesia. Pangeran Jimat adalah seorang sultan yang memerintah Madura pada abad ke-17 Masehi. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan filologis. Metode yang digunakan selama penelitian ini adalah metode pengumpulan data melalui metode dokumentasi dengan menganalisis teks Al-Qur'an MSS 4322. Hasil penelitian yang diperoleh pada analisis pengetahuan dabt dalam naskah al-Quran MSS 4322 jelas menunjukkan penulisan dabt mushaf al-Quran MSS 4322 tidak mengikuti metode pengetahuan dabt yang sebenarnya seperti harakat lengkap, tanwin, mad, sabdu, sukun dan hamzah, tetapi lebih sesuai dengan pola penulisan normal. Sebagai hasil dari temuan penelitian ini, penulis mengajukan proposal agar penelitian ini dapat dilakukan secara berkelanjutan pada surah-surah Al-Qur'an lainnya di Perpustakaan Negara Malaysia yang belum dikaji secara komprehensif yang berasal dari dunia Melayu. Oleh karena itu, naskah Al-Qur'an ini merupakan naskah besar yang akan meningkatkan harkat dan martabat tulisan para ulama terdahulu secara akademis dan lebih berwibawa kepada generasi digital khususnya di bidang Al-Qur'an.
Pengarusutamaan Gender dalam Penafsiran Al-Qur’an Menurut Amina Wadud Muhsin Samsul Bahri; Nushadiqah Fiqria
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.13522

Abstract

Islam is a just religion. Justice covers all levels and groups of people, whether male or female, young or old, everything has been regulated according to its portion. Islam has honored women and made them equal to men in terms of worship, work, and rituals to draw closer to Allah. But in reality, some of these things are not really found in the facts of life. In conducting this search, the researcher used the thematic-analytical method by focusing the search on Amina Wadud's hermeneutics. From this search, the researcher found that Amina Wadud's interpretation method was a form of adoption of Fazlurrahman's hermeneutics. The difference between the two lies in the focus of the study and the perspective of the interpreter in which in this case the focus of Amina Wadud's study is on gender verses with Amina Wadud's perspective as a woman. From the research, it can be understood that Amina Wadud hopes that efforts to interpret the verses of the Qur'an, especially those relating to women, must be understood holistically because from a holistic method an interpretation of the Qur'an will be obtained which has meaning and content in harmony with the context of modern life.ABSTRAKIslam merupakan agama yang adil. Keadilan tersebut mencakup segala tingkatan dan golongan manusia baik itu laki-laki atau perempuan, muda maupun tua, segalanya telah diatur sesuai porsinya. Islam telah memuliakan perempuan dan menjadikan posisinya sama dengan pria dalam hal beribadah, bekerja, dan ritual-ritual untuk mendekatkan diri pada Allah. Namun pada kenyataannya, beberapa hal tersebut tidak benar-benar ditemukan dalam fakta kehidupan. Dalam melakukan penelusuran ini, peneliti menggunakan metode tematik-analitis yaitu dengan memfokuskan penelusuran terhadap hermeneutika Amina Wadud. Dari penelusuran ini peneliti menemukan bahwa metode interpretasi Amina Wadud merupakan bentuk adopsi dari hermeneutika Fazlurrahman. Perbedaan antara keduanya terletak pada fokus kajian dan perspektif interpreter yang mana dalam hal ini fokus kajian Amina Wadud adalah ayat-ayat gender dengan perspektif Amina Wadud sebagai perempuan. Dari penelitian, dapat dipahami bahwa Amina Wadud mengharapkan upaya penafsiran terhadap ayat al-Qur`an terutama yang berkaitan dengan perempuan harus dipahami secara holistik karena dari metode holistik akan diperoleh interpretasi al-Qur`an yang mempunyai makna dan kandungan selaras dengan konteks kehidupan modern.
‘Ibadurrahman dalam Perpekstif Al-Qur’an: Studi Hermeneutics/Tafsir Maudhu’i Emi Suhemi
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.13546

Abstract

‘Ibadurrahman is an expression in Arabic which consists of 2 words, namely Ibad and arrahman. Ibad means servant, in the Qur'an it is usually indicated for those who believe, those who obey the commands of Allah and His Messenger. While arrahman means the most merciful. So, ‘Ibadurrahman is a servant of Allah who was given honor by Allah as a most merciful servant. This research is entitled ‘Ibadurrahman in the perspective of the Koran Al-Quran by using a hermeneutics approach (tafsir maudhu'i). The steps taken in this approach are collecting verses with the theme of ‘Ibadurrahman in the Al-Quran, then also collecting hadiths on the theme of ‘Ibadurrahman criteria, and also using several dictionaries which are used as tools to find an etymological understanding of Ibadurrahman's criteria. The purpose of this research is to know the criteria of Ibadurrahman in the Al-Quran. The result of this research is that it is found that there are ten criteria from ‘Ibadurrahman.ABSTRAK‘Ibadurrahman adalah ungkapan dalam bahasa Arab yang terdiri dari 2 kata yaitu Ibad dan ar-Rahman. Ibad artinya hamba, dalam al-Qur'an biasa ditunjukkan untuk orang-orang yang beriman, orang-orang yang ta'at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan ar-Rahman artinya yang maha pengasih. Jadi, ‘Ibadurrahman adalah hamba Allah yang diberi kemulian oleh Allah sebagai hamba yang maha penyayang. Penelitian ini berjudul ‘Ibadurrahman dalam Perspektif Al-Quran penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutics (tafsir maudhu’i). Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan ini yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang bertemakan ‘Ibadurrahman di dalam al-Qur’an, kemudian juga mengumpulkan hadist-hadist yang bertemakan kriteria ‘Ibadurrahman, dan juga menggunakan beberapa kamus yang dijadikan alat untuk menemukan pemahaman kriteria ‘Ibadurrahman secara etimologi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kriteria ‘Ibadurrahman dari sudut pandang penafsiran  al-Qur’an.  Hasil dari penelitian ini adalah  ditemukan pemahaman yang bervariasi tentang penafsiran dari kriteria  ‘Ibadurrahman.
Konstruksi Pemikiran Moderasi Beragama Perspektif Hermeneutika Hadis Muhammad Sabri
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.14421

Abstract

The conflict of religion is fundamentally caused by understanding and perception. This paper aims to build objectivity of thinking in understanding hadith, so as not to fall into a radical and liberal understanding. With this, the researcher explores the hermeneutics of hadith as construction in religious moderation thinking. This study uses a descriptive qualitative approach. By taking reference sources from books, and scientific articles related to hadith hermeneutics using Google Sholar and other websites. The data analysis technique is reading, critically analyzing and drawing conclusions. The findings in this study show that hadith hermeneutics can be positioned as a construct of religious moderation thinking because in hadith hermeneutics there is critical thinking, comprehensive thinking and comparative thinking. These three thoughts are the urgency in understanding the arguments in the midst of religious communities, between religions and nations. ABSTRAKKonflik suatu agama secara fundamental disebabkan oleh pemahaman dan persepsi. Tulisan ini bertujuan membangun objektivitas berpikir dalam memahami hadis, agar tidak terjerumus kepada pemahaman radikal dan liberal. Dengan ini, peneliti mengeksplorasi hermeneutika hadis sebagai konstruksi dalam pemikiran moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif deskriptif. Dengan mengambil sumber referensi dari buku, artikel ilmiah yang berkaitan dengan hermeneutika hadis dengan menggunakan Google Sholar dan web lainnya. Teknik analis data yakni, adalah membaca, menganalisis secara kritis dan menarik kesimpulan. Adapun hasil temuan pada penelitian ini, bahwa hermeneutika hadis bisa diposisikan sebagai konstruksi pemikiran moderasi beragama, karena dalam hermeneutika hadis terdapat berpikir kritis, berpikir secara komprehensif dan berpikir secara komparatif. Tiga pemikiran ini adalah urgensi dalam memahami dalil di tengah umat beragama, antar agama dan bangsa.
Pengaruh Hadis dan Kekuatan Spiritual terhadap Sultan Muhammad Al-Fatih dalam Penaklukan Konstantinopel Fauziah Nurdin
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.14285

Abstract

Constantinople is the most important city in the world, it was founded in 330 AD by the Byzantine emperor, Constantine I. The city has a number one position internationally. Since its founding, the Byzantines have made it the capital of their country. Therefore, Muhammad Al-fatih tried to be able to conquer Constantinople in order to realize the hadith of the Prophet Muhammad "Really, Constantinople will be conquered under the leadership of men, so the best leader is the leader (who conquers) it, and the best troops is the army (which conquered it). The efforts made by Muhammad Al-fatih in conquering the city have been designed in such a way. So that his political strategy in conquering Constantine could run well, until finally he succeeded in conquering the dream city. There are three things that gave rise to a great desire for the heroes of ancient Islam to conquer Constantinople. First, because of the encouragement of faith in Allah which was encouraged by the hadith of the Prophet SAW. Second, because for hundreds of years the city of Constantinople was the center of the splendor of the Romans. Third, because of the beauty of the country and its very strategic location, the connection between two major continents, Europe and Asia.ABSTRAKKonstantinopel merupakan kota terpenting di dunia, tempat ini didirikan pada tahun 330 M oleh kaisar Bizantium, Constantine I. Kota ini memiliki posisi nomor satu secara internasional. Sejak didirikan, orang-rang Bizantium telah menjadikannya sebagai ibu kota negara mereka. Oleh karena itu, Muhammad Al-fatih berusaha untuk dapat menaklukkan Konstantinopel dalam rangka merealisasikan hadist Rasulullah Saw “Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan di bawah kepemimpinan laki-laki, maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin (yang menaklukkannya), dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan (yang menaklukkannya) itu”. Usaha yang dilakukan Muhammad Al-fatih dalam menaklukkan kota tersebut telah ia rancang sedemikian rupa. Sehingga strategi politiknya dalam menaklukkan Konstantinopel dapat berjalan dengan baik, hingga akhirnya ia berhasil menaklukkan kota idaman tersebut. Ada tiga hal yang menimbulkan keinginan besar bagi pahlawan- pahlawan Islam zaman dahulu untuk menaklukkan Konstantinopel. Pertama, karena dorongan iman kepada Allah yang disemangatkan oleh hadist Nabi SAW. Kedua, karena beratus tahun lamanya Kota Konstantinopel menjadi pusat kemegahan Bangsa Romawi. Ketiga, karena keindahan negeri itu dan letaknya yang sangat strategis, perhubungan antara dua benua besar, Eropa dan Asia.
Studi Terhadap Makna Hadis-Hadis Moderasi Beragama Abd Wahid; Maizuddin Maizuddin; Tarmizi M Jakfar
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.17710

Abstract

Prophet Muhammad SAW is a source of information and guidance for people in carrying out the complete Islamic law. However, the understanding of this information does not always result in a unanimous agreement among the Muslim community, except in some aspects that are clearly defined in the Quran and authenticated Hadiths. In some cases, there may be opportunities for different practices based on the context of the situation. During the Prophet's lifetime, his companions could easily confirm the correctness of their actions by seeking his guidance. In certain cases, the Prophet's guidance was clear and unambiguous, and his companions were obliged to follow it. In other cases, the Prophet provided alternatives, allowing them to choose according to the situation they faced. In the context of religious moderation, which requires alternatives in some matters, there is a need for in-depth research into some Hadiths that contain messages on the importance of practicing religious moderation. This is necessary to avoid misunderstandings among the Muslim community and to create a harmonious religious social life, both within and outside the Muslim community.ABSTRAKNabi Muhammad Saw merupakan sumber informasi dan panutan bagi manusia dalam melaksanakan syariat Islam secara kaffah. Pemahaman terhadap berbagai informasi tersebut tidak secara tegas menghasilkan satu kata sepakat bagi umatnya, kecuali dalam beberapa aspek yang ditetapkan dengan ayat Alquran yang muhkam dan hadis-hadis mutawatir. Bahkan dalam beberapa kasus, dianggap memiliki peluang untuk dipraktikkan dengan beberapa alternatif, sesuai dengan konteks yang mengitari umat manusia.  Dalam praktiknya, para sahabat dengan mudah dapat mengkonfirmasi setiap amalan yang mereka lakukan karena masih hidupnya Nabi Saw.  Dalam kasus tertentu, para sahabat mendapati titah Nabi jelas dan tegas, sehingga tidak boleh bagi mereka mempraktikkan dengan cara yang tidak diizinkan oleh Nabi mereka. Sedangkan dalam beberapa aspek lainnya, Nabi memberikan alternatif kepada mereka untuk memilih sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Dalam konteks moderasi beragama, yang menuntut adanya alternatif-alternatif dalam suatu perkara, dibutuhkan penelitian secara mendalam terhadap beberapa hadis yang mengandung pesan-pesan terhadap pentingnya praktik moderasi beragama tersebut, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan umat Islam, dan juga dapat menciptakan kehidupan sosial keagamaan secara harmonis khusus di internal umat Islam itu sendiri, dan secara umum terkait pihak eksternal umat Islam.
Menelisik Kualitas dan Pemahaman Hadis tentang Faktor yang Mendorong Rasulullah SAW Menikahi Aisyah Riri Fitria; Erizal Ilyas
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.17816

Abstract

The marriage practice of Prophet Muhammad (SAW) with Aisha RA has generated various perspectives among Islamic law experts. Starting from Aisha RA's young age, which is considered too young, and the figure of Prophet Muhammad who is made as a role model by Muslims. This research will attempt to find the quality as well as the understanding of hadiths about the factors that led to the marriage. This is important to refute some views that claim that Prophet Muhammad deliberately married an underage child and even took away Aisha RA's childhood. Likewise, the view that Prophet Muhammad tended to marry underage girls. The method used to study the quality of related hadiths is the method of Takhrij Al-Hadith. This is because the hadith that explains this was narrated by Imam Ahmad bin Hanbal, whose authenticity cannot be confirmed yet. As for finding the understanding of hadith scholars about the hadith, the method of understanding the hadith is used so that the comprehension can be known comprehensively. Of the two hadiths that tell about the factors of Aisha RA's marriage to Prophet Muhammad, it was found to be of high quality (shahih), so it can be concluded that the marriage was driven by the command of revelation and the initiative of his companion named Khawlah. This finding refutes the biased view of some people regarding the marriage of Prophet Muhammad with a young girl and even "labeling" him as a pedophile. ABSTRAKPraktik pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah RA melahirkan berbagai sudut pandang di kalangan pakar hukum Islam. Dimulai dari umur Aisyah ra yang dianggap masih terlalu kecil serta sosok Rasulullah yang dijadikan panutan oleh umat Islam. Penelitian ini akan berusaha mencari kualitas sekaligus pemahaman hadis tentang faktor yang mendorong terjadinya pernikahan tersebut. Hal ini penting untuk membantah beberapa pandangan yang mengatakan bahwa Rasulullah telah sengaja menikahi anak di bawah umur bahkan merampas masa kanak-kanak Aisyah ra. Begitu pula pandangan bahwa Rasulullah cenderung menikah dengan gadis di bawah umur. Metode yang digunakan untuk meneliti kualitas hadis terkait adalah dengan metode Takhrij Al-Hadits. Hal ini dikarenakan bahwa hadis yang menerangkan hal tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang belum bisa diyakini ke-shahih-annya. Adapun untuk menemukan pemahaman ulama hadis terhadap hadis tersebut digunakan metode pemahaman hadis sehingga dapat diketahui pemahamannya secara komprehensif. Dari 2 hadis yang menceritakan tentang faktor pernikahan ‘Aisyah ra dengan Rasulullah ditemukan berkualitas shahih, sehingga dapat disimpulkan bahwa pernikahan tersebut didorong oleh perintah wahyu serta inisiatif dari sahabat beliau yang bernama Khawlah. Temuan ini membantah pandangan miring sebagian masyarakat terkait pernikahan Rasulullah dengan gadis kecil bahkan men”cap” beliau dengan phedouphil.

Page 1 of 1 | Total Record : 10