cover
Contact Name
aminin
Contact Email
m1n1n.a1924@umg.ac.id
Phone
+6281249562646
Journal Mail Official
m1n1n.a1924@umg.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gresik,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Perikanan Pantura
ISSN : 26151537     EISSN : 26152371     DOI : http://dx.doi.org/10.30587/jpp.v2i2
JPP diterbitkan oleh Program Studi Budidaya Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik. Artikel ini berisi tentang budidaya perairan, manajemen sumberdaya perairan, pemanfaatan sumberdaya perikanan, teknologi hasil perikanan, bioteknologi perikanan dan sosial ekonomi perikanan yang berkelanjutan.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020" : 6 Documents clear
JENIS SHELTER YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LOBSTER AIR TAWAR RED CLAW (Cherax quadricarinatus) Khoiru Achmad Zaky; Andi Rahmad Rahim; Aminin Aminin
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v3i1.1403

Abstract

Komoditas lobster air tawar mulai masuk Indonesia pada tahun 2000 dan dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pasar udang hias, pada tahun 2003, untuk memenuhi pasar udang hias mulai beralih trend menjadi salah satu jenis udang konsumsi. Jenis Red claw ini mampu bertahan pada kisaran suhu 23-37°C. Suhu diwilayah Indonesia yang berkisar 27-32°C menyebabkan pertumbuhan lobster air tawar yang lebih baik, sehingga lebih berpotensi untuk dibudidayakan. Sifat kanibal adalah penyebab utama mortalitas pada budidaya dan sering terjadi ketika lobster lain mengalami moulting. Pada habitat aslinya lobster menempati sela-sela bebatuan dan membuat lubang pada dasar perairan yang berlumpur untuk bersembunyi. Dalam budidaya diperlukan lubang atau liang persembunyian buatan dengan tujuan yang sama. Penempatan shelter atau liang perlindungan berguna sebagai tempat persembunyian. Pada awal segmen pembesaran, lobster air tawar memiliki frekuensi moulting yang masih tinggi sehingga perlu adanya shelter sebagai tempat berlindung setelah moulting. Ada beberapa liang perlindungan yang berasal dari bahan yang berbeda misalnya roster dari semen, roster dari tanah liat, tumpukan genteng, daun kelapa yang ditumpuk, serta potongan pipa paralon. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan menggunakan rancangan percobaan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Setiap wadah ditebar benih lobster ukuran 2 inch dengan kepadatan 10 ekor/wadah. Aplikasi shelter pada setiap perlakuan yaitu: A= eceng gondok, B= pipa paralon, C= batu roster, dan D= botol plastik. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perlakuan shelter yang berbeda hanya menunjukkan perbedaan nyata pada variabel pertumbuhan panjang total , dengan angka tertinggi 0,36 cm pada perlakuan C (Batu roster) dan terendah dengan angka 0,23 cm pada perlakuan D (Botol plastik). Sedangkan variabel bobot mutlak, laju pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup tidak memperlihatkan perbedaan nyata pada semua perlakuan.
PEMBUATAN FORMULASI PAKAN APUNG IKAN BERBAHAN BAKU LOKAL Nur Maulida Safitri; Aminin Aminin; Saidah Luthfiyah
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v3i1.1404

Abstract

Pakan merupakan salah satu komponen penting yang menentukan keberhasilan akuakultur, terutama sebagai penyedia energi dalam metabolisme ikan. Namun, hingga saat ini pakan menyita 60-70% dari keseluruhan total biaya produksi, terutama sistem budidaya intensif sehingga perlu dilakukan formulasi pakan menggunakan bahan baku lokal sebagai alternatif yang memiliki kandungan nutrisi tinggi dan harga lebih terjangkau dari pakan komersial. Penelitian menggunakan tepung tulang ikan sebagai bahan utama, dengan penambahan tepung lainnya dan terbagi menjadi 4 perlakuan (P1, P2, P3 dan P4) dengan penambahan pakan pabrik sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan dengan perlakuan P4 memiliki karakteristik fisis dan kimiawi terbaik, dengan daya rekat, daya apung dan daya tahan dalam air yang menyerupai ketahanan pakan pabrik. Keseluruhan perlakuan pakan memiliki total energi lebih dari 1 kkal / gram dengan konversi harga lebih murah >10% dibandingkan pakan buatan pabrik, sehingga dapat disimpulkan bahwa formulasi pakan lokal hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pakan buatan komersial.
ANALYSIS OF THE FEEDING OF FISH AND FISH SKIN WASTE TO THE GROWTH AND RETENTION OF PROTEIN IN DUMBO CATFISH (Clarias gariepinus) Muh. Tsabit Mubarok; Rahmad Jumadi; Andi Rahmad Rahim
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v3i1.1395

Abstract

African catfish is the leading commodity in Indonesia, which has a speed of growth andis resistant to adverse environmental conditions. Trash fish is a small-sized fish such as fish,stingrays, rebon, turmeric fish and the like, Trash fish is also a fish that has a very loweconomic value. Trash fish has a protein content of 28.28%. Fish skin is the result of samplingfrom slaughtering animals in the form of body organs during the process of difficulty. Waste offish skins in the place of fish milling usually consists of several types of fish including grouper,payus, cob, catfish, catfish, white fish and brass fish. Fish skin waste has 26.9% protein. Thepurpose of this study was to determine the effect of trash fish feeding and fish skin wastefeeding on the growth and protein retention of African catfish (Clarias gariepinus). Knowingthe effect of feeding combined trash fish and fish skin waste on FCR of African catfish (Clariasgariepinus). This study used a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatmentsand 3 replications with the following measurements: (A - trash fish feed 5.3%), (B - fish skinwaste 5.77%), (C - (fish trash (50%) + fish skin waste (50%) with 5.55% administration, (K -Pellet 100% Control 5%). Main parameters include Absolute weight growth (grams), Specificgrowth rate (%), Length Absolute (cm), protein retention, survival and feed conversion ratio(FCR), while supporting parameters include temperature, pH, DO, ammonia, salinity.Researchresults were analyzed using SPSS version 17. Each data in the form of growth, survival andfeed conversion ratio (FCR) was analyzed using ANOVA (Analysis of Variance) with aconfidence level of 95%, if significance (P <0.05) continued with the Tukey test (HSD) to seedifferences between treatments Water quality data and protein retention (% ) analyzeddescriptively based on literature The results of research with pe feed of trash fish and fish skinas well as combination of trash fish (50%) + fish skin waste (50%), for the best absolute weightis the treatment K (Control) with a value of 21.03 g. The best daily growth rate is in thetreatment K (Control) with a value of 1.96% / day. The absolute length rate is in the K (Control)treatment with a value of 3.20cm. The best retention value is the treatment K (Control) with avalue of 36.32%. The lowest feed conversion ratio / FCR is control K at 1.78 g, while for thebest survival (%) is treatment B (fish skin waste) with 90% survival.
KESESUAIAN KUALITAS AIR TAMBAK BANDENG DAN VANAMEI DESA MANYAR SIDOMUKTI, GRESIK Nur Maulida Safitri; Muhammad Fikri Murtadlo; Achmad Ja’far Shodiq; Badriyatus Shofiyah
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v3i1.1405

Abstract

Kondisi geografis lokasi akuakultur memegang pengaruh yang besar dalam keberhasilan usaha budidaya. Lokasi tambak bandeng dan vanemei di Desa Manyar Sidomukti berdekatan dengan zona industri mengakibatkan suhu sumber aliran air menjadi hangat. Disamping itu, substrat tanah berkapur mengakibatkan pH air terlalu basah menjadi salah satu faktor penhambat pertumbuhan baik bandeng maupun vanamei. Beberapa upaya diterapkan untuk menguatkan produksi tambak. Aplikasi kincir air mampu menguatkan oksigen terlarut hingga 10.3 mg/L. Pengurangan padat tebar benih dan memperpanjang waktu panen menjadi alternatif solusi untuk menurunkan resiko gagal panen.
ANALISIS PENGGUNAAN LIMBAH ORGANIK YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BELUT SAWAH (Monopterus albus) Khusain Nuryadin; Andi Rahmad Rahim; Aminin Aminin
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v3i1.1396

Abstract

sawah (monopterus albus) merupakan jenis ikan air tawar dari anggota Synbranchidae yang sangat potensial untuk dikembangkan di masa yang akan datang. Dalam usaha budidaya khususnya pada proses pembesaran bibit, media memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan media terhadap pertumbuhan belut sawah (monopterus albus) dan juga untuk mengetahui kelangsungan hidupnya. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Universitas Muhammadyah Gresik dari bulan Mei – Juni 2018. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 3 ulangan yaitu (A) : Media lumpur (kontrol) 100% , (B) Media lumpur 50% + jerami 50%, (C) Media lumpur 50% + pelepah pisang 50%, (D) Media lumpur 50% + ampas tahu 50%, (E) Media lumpur 25% + jerami 25% + pelepah pisang 25%+ ampas tahu 25%. Data pertumbuhan di analisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) dilanjutkan dengan uji BNT dengan taraf kepercayaan 95% (p<0,05). Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan media yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan belut. Perlakuan yang memberikan nilai tertinggi yaitu pada perlakuan E dengan penambahan media jerami, pelepah pisang, dan ampas tahu, sebesar 16,87gr. perlakuan dengan pertumbuhan terendah yaitu pada perlakuan A dengan media lumpur sawah dan air yaitu 8,20 gr.
MINA PADI PLUS DI LAHAN TADAH HUJAN KABUPATEN GRESIK DI DESA DAHANREJO KABUPATEN GRESIK Suhaili Suhaili; Rohmatin Agustina; Aminin Aminin
Jurnal Perikanan Pantura (JPP) Vol 3 No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/jpp.v3i1.1397

Abstract

Lahan tadah hujan berpotensi digunakan sebagai areal peningkatan produksi padi. Provinsi Jawa Timur memiliki lahan tadah hujan seluas 240.273 ha. Khususnya di Kabupaten Gresik lahan sawah didominasi oleh lahan tadah hujan, dengan luasan mencapai 29.609 ha, lebih luas dari lahan irigasi yang hanya seluas 8.177 Ha (Badan Pusat Statistik Provinsi, 2014).Kendala utama pada lahan tadah hujan adalah produktivitas lahan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan lahan irigasi, Rata-rata hasil bobot gabah kering panen padi di lahan tadah hujan Kabupaten Gresik hanya mencapai 4 ton/ha,. Oleh sebab itu perlu penerapan inovasi pertanian guna meningkatkan produksi padi. Hasil penelitian Khumairoh (2012) menunjukkan bahwa model integrasi padi, bebek, ikan, kompos dan azolla dapat menngkatkan hasil padi mencapai 10,5 ton/ha gabah kering panen. Dalam penelitian Nafisah, Suhaili dan Agustina (2017) menunjukkan bahwa kenaikan rata-rata berat GKG dengan model budidaya integrasi padi-bebek mencapai 20%, dibanding dengan budidaya monokultur. Model pertanian terpadu mina padi plus dapat meningkatkan produktivitas lahan, melalui pengelolaam aneka ragam agro-ekosistem sawah. Dalam pengabdian ini diterapkan model pertanian integrasi padi, bebek, ikan, udang vaname, kompos dan azolla dengan pembanding model pertanian monokultur yang biasa diterapkan petani.

Page 1 of 1 | Total Record : 6