cover
Contact Name
Yusuf Rahman
Contact Email
ushuluna@uinjkt.ac.id
Phone
+628128340778
Journal Mail Official
ushuluna@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Tangerang Selatan
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 24609692     EISSN : 2721754X     DOI : 10.15408
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin is a journal published by the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta. The journal is published twice annually (June and December) and consists of articles on Qur’anic studies and interpretation, hadith and Prophetic tradition, religious studies, and mysticism.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "vol. 8 no. 2 (2022)" : 7 Documents clear
IBARAT DURI DI TELAPAK KAKI “GERAKAN HIJRAH” DAN KEKERASAN BAGI KAUM PEREMPUAN Trie Yunita Sari; Lies Marcoes
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.24318

Abstract

Abstrak:Dalam beberapa tahun terakhir, muncul suatu gelombang gerakan keislaman kontemporer yang mengusung dakwah berhijrah. Gerakan hijrah ini tdumbuh subur seiring kecanggihan media sosial dalam mengamplifikasi konten dakwah dengan gaya pop culture.  Para sarjana ilmu sosial menilai fenomena ini tidak lepas dari kondisi global yang terjadi di banyak tempat seperti komodifikasi agama, kebangkitan konservatisme, hingga neo-radikalisme. Sorotan terhadap kondisi dan ketegangan isu-isu makro sebagai konteks yang melatarbelakangi gerakan hijrah meluputkan pembahasan mengenai praktik kekerasan yang secara nyata berlangsung dan mengancam keamanan perempuan. Dengan menggunakan pendekatan analisis gender, penulis mengelaborasi berbagai ancaman kekerasan terhadap perempuan termuat dalam berbagai konten dakwah oleh salah satu gerakan hijrah yang memiliki puluhan ribu anggota, yaitu gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan analisis konten sejak tahun April 2018 hingga Mei 2020. Sebagai penutup, penulis memberikan rekomendasi bagaimana peran otoritas keagamaan termasuk ulama perempuan dalam merespons fenomena kekerasan gender mengusung tema hijrah. Abstract:In recent years, plenty of scholarly works have denoted the raise of Islamic hijrah movements in Indonesia. These hijrah movements emerge massively using the advance of social media that facilitate the amplification of their da’wa content through popular culture trends. Few scholars have seen this phenomenon as tangled with the global context that happens in many countries e.g., religious commodification, conservative turn, and neo-radicalism. The sole focus on macro issues as the context behind the emergence of the hijrah movement implies the lack of attention to the human security threat that might be found in their activism. By using a gender analysis approach, I analyzed dozens of da’wa content by a hijrah movement named Indonesia without Dating, which is fraught with violent practices against women. The data in this study is obtained from April 2018 to May 2020 through field research, interview, and content analysis. This article also provides recommendations to the religious authorities including female clerics in responding to the threat against women using the hijrah campaign.
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA (DALAM PENDEKATAN TAFSIR MAQHASIDI) Istianah Istianah; Laili Noor Azizah
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.25012

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas tentang kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga dengan pendekatan tafsir maqaṣidi. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat untuk membina keluarga dengan saling mengasihi dan menyayangi. Namun faktanya ada perilaku kekerasan dan kerap tidak terdeteksi karena berada di ruang yang tertutup. Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga ibarat gunung es, yang kasusnya setiap tahun semakin bertambah. Riset ini menggunakan studi literatur dengan mengkaji dan menelaah teks al-Qur’an yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan. Pendekatan yang digunakan adalah tafsir maqaṣidi dengan mencoba menggali dari maksud dan tujuan di balik teks tersebut. Hasil temuannya memperlihatkan pandangan yang solid, dimana di dalam pendekatan tafsir maqaṣidi terdapat aspek-aspek maqaṣid tentang kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan dapat menghalangi terjaganya agama (hifẓ al-din). Kekerasan terhadap perempuan juga merupakan ancaman bagi terselamatkannya jiwa (hifẓ al-nafs). Kekerasan terhadap perempuan juga akan menghalangi terjaganya keturunan (hifẓ al-nasl). Ketiga aspek tersebut memiliki tujuan yaitu agar suami tidak sewenang-wenangnya bersikap terhadap istri dan terjaganya keutuhan rumah tangga di hadapan Allah Swt.Abstract: This article discusses violence against women in the household with a maqaṣidi interpretation approach. Home should be a place to raise a family by loving and caring for each other. But in fact there is violent behavior and often goes undetected because it is in a closed room. Violence against women in the household is like an iceberg, the cases of which are increasing every year. This research uses a literature study by examining and examining the text of the Qur'an related to violence against women. The approach used is maqaṣidi interpretation by trying to explore the intent and purpose behind the text. The findings show a solid view, where in the maqaṣidi interpretation approach there are maqaṣid aspects of domestic violence. Violence and persecution carried out can hinder the preservation of religion (hifẓ al-din). Violence against women is also a threat to saving lives (hifẓ al-nafs). Violence against women will also hinder the preservation of offspring (hifẓ al-nasl). These three aspects have a goal, namely so that the husband does not act arbitrarily towards his wife and maintains the integrity of the household before Allah Swt.
SILSILAH DAN PERKEMBANGAN TAREKAT DI SULAWESI BARAT: STUDI KASUS TAREKAT KHALWATIYAH SAMMAN DAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH (TQN) Muh. Ilham Usman; Muhlis Latif
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.25172

Abstract

Abstrak:Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan eksistensi dan jalur silsilah Tarekat Khalwatiyah Samman dan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang berkembang di Sulawesi Barat dan bertahan hingga detik ini. Tujuan penelitian ini untuk melengkapi penelitian-penelitian terdahulu tentang organisasi tarekat dalam mengembangkan ajaran Islam di Sulawesi Barat. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara para mursyid, khalifah dan juga dari unsur pengikut tarekat. Kemudian juga dilakukan pengumpulan data dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian telah menemukan bahwa genealogi Tarekat Khalwatiyah Samman yang berpusat di Campalagian, Sulawesi Barat berbeda dengan silsilah Tarekat Khalwatiyah Samman di Pattene’ dan Leppa Komae, Sulawesi Selatan. Sedangkan genealogi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang berpusat di Mapilli berasal dari silsilah Annangguru Adam yang diterima dari KH. Sutomo Syamsuddin al-Asrari (mursyid TQN di Makassar), yang juga diterima dari TQN di Suryalaya. Abstract:This article aims to describe the existence and lineage of the tarekat Khalwatiyah Samman and the tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN that developed in West Sulawesi and have survived to this day. The purpose of this study is to complement previous studies on tarekat organizations in developing Islamic teachings in West Sulawesi. This research is field research with a qualitative approach. Sources of data were obtained from interviews with murshids, caliphs, and also from followers. Then also carried out data collection by conducting focus group discussions (FGD). The results of the study have found that the genealogy of the tarekat Khalwatiyah Samman which is based in Campalagian, West Sulawesi is different from the genealogy of the Khalwatiyah Samman in Pattene' and Leppa Komae, South Sulawesi. While the genealogy of the tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) which is based in Mapilli comes from the genealogy of annangguru Adam received from KH. Sutomo Syamsuddin al-Asrari (murshid of TQN in Makassar), who was also received from TQN in Suryalaya.
PEREMPUAN DALAM BINGKAI AL-QUR’AN: MODEL PENAFSIRAN AMINA WADUD Reni Dian Anggraini; Desanta Azzuhara Amaliana Bayes
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.25860

Abstract

Abstrak: Perempuan di dalam al-Qur’an sesungguhnya memiliki kedudukan yang dimuliakan. Berbagai keyakinan yang umum di masyarakat muslim meyakini perempuan dianggap memiliki kedudukan satu tingkat di bawah laki-laki. Hal ini salah satunya muncul karena konstruksi tafsir klasik yang bias gender, sehingga seringkali penafsiran tersebut mengakibatkan perempuan tidak bisa berada dalam ruang publik. Maka dari itu, seringkali perempuan termarginalkan oleh laki-laki, hak-hak kebebasan perempuan terikat oleh laki-laki. Berbeda dengan metode penafsiran klasik, seorang mufasir perempuan progresif, Amina Wadud, menggunakan metode hermeneutika dalam menafsirkan perempuan di dalam bingkai al-Qur’an. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Amina Wadud mengkritik para mufasir klasik yang menyatakan bahwa perempuan tidak sebanding dengan laki-laki. Bagi Amina Wadud, perempuan dengan laki-laki itu adalah sama. Perempuan juga bisa seperti laki-laki, dia juga bisa berada di dalam ruang publik. Sehingga, saat ini perempuan juga bisa berperan, baik itu di dalam urusan politik, masyarakat bahkan hal lainnya. Abstract: Women in the Qur'an are very glorified and also equal to men. What distinguishes people before the Creator, Allah Swt.  is only the level of the piety. However, many people assume that women are one level below men. Such paradigm is mainly influenced by moslem classical interpreters, who often interpret that woman cannot be in the public sphere. Therefore, women are often marginalized by men, the rights of freedom to women are often bound by men. The results of this paper show that Amina Wadud used hermeneutic methods in interpreting women in the frame of the Qur'an. So she criticized the classical mufasir who said that women are not comparable to men. Therefore for Amina Wadud women with men it is the same, they can also be in a public space. So that at this time women must also be able to play a good role in political affairs, society and even other things. 
STRATEGI PREVENSI PAHAM RADIKAL DI MEDIA SOSIAL Wasil Wasil; Abd. Rasyid
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.27017

Abstract

Abstrak:Artikel ini menganalisis penyemaian paham radikal di media sosial serta strategi untuk mencegahnya. Metode yang digunakan untuk mencari jawaban atas persoalan radikal ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Umumnya, paham radikal di media sosial tersebar melalui platform-platform media sosial dan budaya populer, seperti Website, YouTube, Instagram, Majalah dan Telegram dengan sasaran utama kaum middle class dan anak muda yang telat mengalami pubertas religius. Artikel ini berusaha mencari jawaban preventif dalam upaya mencegah paham-paham radikal yang tersebar di media sosial. Hasilnya, strategi prevensi itu dapat efektif dengan menggunakan tiga cara. Pertama, penggunaan platform media yang sama. Kedua, pengembangan kreasi konten-konten media sosial dan budaya populer yang lebih masif. Ketiga, pemberdayaan dai-dai milenial yang melek teknologi.Abstract:This article tries to analyze the progress of radicalism on social media and strategies to prevent it. To find the answers to radical problems, this article used a qualitative-descriptive method. Generally, radical ideas in social media are spread through social media platforms and popular cultures, such as Websites, YouTube, Instagram, Magazines, and Telegrams with the main targets being the middle class and young people who are experiencing religious puberty late. This article tries to find preventive answers in an effort to prevent radical ideas from spreading on social media. As a result, the prevention strategy can be effective in three ways. First, the use of the same media platform. Second, the development of more massive social media and pop culture content creations. Third, empowering millennial preachers who are technology literate.
KONSEP KETUHANAN DALAM KEBEBASAN EKSISTENSIAL KARL JASPERS Muhamad Tamamul Iman; Lilik Riandita
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i1.27449

Abstract

Abstrak:Aspek penting yang dikaji dari artikel ini adalah pada tataran kebebasan yang merupakan titik tekan para eksistensialis dalam upaya penerangan eksistensi, yang hanya dapat dicapai dalam relasi dengan transendensi. Sehingga Karl Theodor Jaspers melihat ada dua fokus persoalan yaitu eksistensi dan transendensi, bahwa bereksistensi berarti berhadapan dengan transendensi. Transendensi menyembunyikan diri, dengan demikian transendensi merupakan dasar kebebasan manusia. Tujuan dari artikel ini adalah berusaha untuk menggambarkan pandangan Jaspers terhadap konsep ketuhanan dalam kebebasan eksistensial manusia. Untuk mengkaji lebih jauh pemikiran Jaspers, metode yang penulis gunakan adalah library research dengan pendekatan analisis-holistik. Hasil dari artikel ini adalah Jaspers telah menggambarkan adanya kebebasan sebagai eksistensi manusia, dan merupakan kemampuan manusia untuk memutuskan dengan bebas. Adanya kebebasan yang dihayati akan mempertemukan eksistensi dengan transendensi, bagaimana manusia dalam situasi konkret dapat menjangkau transendensi melalui eksplorasinya terhadap chiffer sebagai medium menuju transendensi. Sehingga keyakinan Jaspers akan adanya transendensi yang senantiasa melingkupi merupakan kenyataan dalam kehidupan manusia secara otentik.Abstract:The important aspect that is studied in this article is the level of freedom which is the pressure point for existentialists in the effort to enlighten existence, which only can be achieved in relation to transcendence. So, Karl Theodor Jaspers sees that two focus issues are existence and transcendence, that existence means dealing with transcendence. Transcendence hides itself, therefore transcendence is the basis of human freedom. The purpose of this article is to attempt to describe Jaspers’ view of the concept of divinity in human existential freedom. To further examine Jaspers’ thoughts, the method that the author uses is library research with an analytic-holistic content approach. The result of this article is that Jaspers has described there is freedom as human existence, and this is the human's ability to decide independently. There is a freedom that is lived that will bring together existence with transcendence, how humans are in a concrete situation can reach transcendence. Through their exploration of Chiffer as a medium toward transcendence. So that Jaspers’ belief in the existence of transcendence that always surrounds is an authentic reality in human life.
DOA PERNIKAHAN “MENGHIMPUN YANG TERSERAK” DALAM WEDDING INVITATION: ASAL-USULNYA DALAM KITAB HADIS SUNNI, SYIAH DAN KONTESTASI IDEOLOGI Muhamad Khoirul Huda; Misbahuddin Misbahuddin; Miqdad al-Farizi
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 8 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.28096

Abstract

Abstrak:Artikel ini berusaha melacak asal-usul terjemahan doa Nabi Muhammad yang diklaim pernah dibacakan pada pernikahan Ali dan Fatimah yang menggunakan redaksi “menghimpun yang terserak”. Doa ini populer di kalangan pelaku industri kartu undangan pernikahan. Klaim doa itu terhubung dengan Nabi, Ali dan Fatimah mendorong sebagian pihak menyimpulkan dan menstigmatisasi bahwa doa tersebut berasal dari kaum Syiah. Dengan melakukan penelusuran dan komparasi literatur hadis Sunni dan Syiah, sejauh yang dapat diakses, ditemukan bahwa terjemahan doa pernikahan populer itu memiliki unsur kesamaan dengan redaksi yang dimuat dalam kedua literatur Sunni maupun Syiah. Namun, ada pula detail yang berbeda antara doa yang populer di masyarakat dengan doa yang termuat dalam kedua korpus literatur. Terutama terkait detail manfaat dan bentuk berkah keturunan. Detail tersebut merupakan tambahan di luar hadis (tafsiran). Doa tersebut sejatinya boleh saja diamalkan. Tetapi, penisbatan pada Nabi saw. akan bermasalah jika ditinjau dari sudut pandang Ilmu Hadis. Dari sudut pandang konteks sosiologis, stigmatisasi terhadap doa “menghimpun yang terserak” tumbuh bersamaan dengan kemunculan gerakan anti-Syiah di Indonesia pada satu dekade terakhir sebagai akibat Arab Spring di Timur Tengah.Abstract:This article attempts to trace the origins of the translation of the Prophet Muhammad's prayer which is claimed to have been recited at Ali and Fatimah's wedding using the phrase "Gathering the scattered". This prayer is popular among the wedding invitation card industry players. The claim that the prayer is connected to the Prophet, Ali and Fatimah has prompted some to conclude and stigmatize that the prayer originates from the Shiites. By conducting a search and comparison of Sunni and Shia hadith literature, as far as is accessible, it is found that the translation of the popular wedding prayer has elements in common with the editorials contained in both Sunni and Shia literature. However, different details between prayers are popular in the community and prayers that are contained in both corpora of literature. Especially regarding the details of the benefits and forms of hereditary blessings. These details are additions outside the hadith (interpretation). This prayer can be practiced. However, attribution to the Prophet saw. will be problematic if viewed from the point of view of Hadith Science. From the point of view of the sociological context, the stigmatization of the prayer "Gathering the scattered" has grown together with the emergence of the anti-Shi'a movement in Indonesia in the last decade as a result of the Arab Spring in the Middle East.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2022 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 1 (2026) Vol. 11 No. 2 (2025) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 2 December 2025 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025 Vol. 11 No. 1 (2025) Vol 10, No 2 (2024): USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 10 NO. 2 DECEMBER 2024 Vol 10, No 1 (2024): USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 10 NO. 1 JUNE 2024 Vol. 10 No. 2 (2024) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 10 No. 2 December 2024 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 10 No. 1 June 2024 Vol. 10 No. 1 (2024) Vol. 9 No. 2 (2023) USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 9 NO. 2 DECEMBER 2023 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 9 NO. 1 JUNE 2023 Vol. 9 No. 1 (2023) USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 8 NO. 2 DECEMBER 2022 Vol. 8 No. 2 (2022) Vol. 8 No. 1 (2022) USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 8 NO. 1 JUNE 2022 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 7 NO. 2 DECEMBER 2021 Vol. 7 No. 2 (2021) USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 7 NO. 1 JUNE 2021 Vol. 7 No. 1 (2021) Vol. 6 No. 2 (2020) USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 6 NO. 2 DECEMBER 2020 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 6 NO. 1 JUNE 2020 Vol. 6 No. 1 (2020) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 2 December 2019 Vol. 5 No. 2 (2019) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 1 June 2019 Vol. 5 No. 1 (2019) Vol. 4 No. 2 (2018) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 4 No. 2 December 2018 Vol. 4 No. 1 (2018) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 4 No. 1 June 2018 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 2 December 2017 Vol. 3 No. 2 (2017) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 1 June 2017 Vol. 3 No. 1 (2017) Vol. 2 No. 2 (2016) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 2 No. 2 December 2016 Vol. 2 No. 1 (2016) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 2 No. 1 June 2016 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 2 December 2015 Vol. 1 No. 2 (2015) Vol. 1 No. 1 (2015) Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 1 June 2015 More Issue