cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004" : 8 Documents clear
STABILITAS HASIL BEBERAPA GALUR WIJEN . SUPRIJONO; RUSIM MARDJONO; HADI SUDARMO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.577 KB) | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.127-130

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada musim tanam 2003 di 4 lokasi yaitu, Kabupaten Lumajang, Bojonegoro, Nganjuk dan Sragen. Penelitian ini betujuan untuk memperoleh galur-galur unggul yang dapat beradaptasi dengan lingkungan pengembangan wijen dengan produktivitas tinggi. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan tcrdiri dari 12 galur harapan yaitu SI.14, SI.16, SI.18, SI 20, SI.21, SI.24, SI.25, SI.26, S1.28, SI.31, SI.13, SI.40, dan sebagai pembanding digunakan 2 varietas komersial yaitu Sumberrejo 1 dan Sumberrejo 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 galur unggul yaitu galur SI.14, SI.16, SI.18, SI.24 potensi hasil sama dengan varietas Sbr. I mempunyai adaptasi luas (galur stabil). Empat galur lainnya dapat bcrproduksi tinggi apabila ditanam pada kondisi lingkungan sesuai (spesifik lokasi). Galur SI. 21 dan SI 25 sesuai untuk daerah Nganjuk dan Sragen, galur SI 20 untuk daerah Bojonegoro dan Nganjuk, dan SI 28 untuk daerah Lumajang.Kata kunci : Wijen, Sesamum indicum L., galur, hasil, spesifik lokasi ABSTRACT Yield Stabibity of Sesame LinesThe experiment was conducted at four locations of sesame development area, viz. Lumajang, Bojonegoro, Nganjuk and Sragen districts, in 2003 planting seasons. The aim of this experiment was to find out the sesame lines having high productictivity and suitable for the development areas. Twelve promising lines, namely SI.14, SI.16, SI.18, SI.20, SI.21, SI.24, SI.25, SI.26, SI.28, SI.3I, SI.13, SI.40, and two control varieties (Sumberrejo 1 and Sumbenejo 2) were evaluated in randomized block design with three replications. The result of this experimental found out 4 superior lines (SI 14, SI 16, SI 18, and SI 24) that have the same potential as Sbr I variety, gave broad adaption to all locations (stable lines). Nevertheless the other four lines evaluated showed as the specific location lines. Those lines arc SI 21 and SI 25 that are appropriate for nganjuk and Sragen; SI 20 that is appropriate for Bojonegoro and Nganjuk, and SI 28 that is appropriate for Lumajang.Key words : Sesame, Sesamum indicum L., line, yield, specific location
KERAGAMAN GENETIK BEBERAPA ISOLAT Phytophthora palmivora PENYEBAB PENYAKIT GUGUR BUAH PADA KELAPA BERDASARKAN PENANDA RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA (RAPD) HIASINTA F. J. MOTULO; MEITY S. SINAGA; SIENTJE MANDANG; ARIS TJAHJOLEKSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.154-158

Abstract

Profil pita DNA 16 isolat Phytoplhora palmivora yang dikoleksi dari pertanaman kelapa terserang penyakit gugur buah telah dikarakterisasi berdasarkan random amplfied polymorphic DNA (RAPD). Keragaman genetik di antara 16 isolat sangat tinggi yaitu 40.6%. Dengan mengguna¬ kan 9 jenis primer acak dari Operon Alameda pada tingkat kesamaan 80% didapatkan dua kelompok RAPD yang berbeda. Kelompok I terdiri atas isolate 94P20 dari Sumatera Barat, 93P26 dari Lampung, dan 93P104 dari Tumaluntung, Sulawesi Utara. Kelompok II terdiri atas 3 isolat yaitu 93P54 dari Aceh, PKW dan 99P01 dari Pakuwon, Jawa Barat, sedangkan sembilan isolate lainnya mcngelompok tcrpisah satu sama lainnya.Kata kunci: Kelapa, Cocos nucifera, Pylophlhora palmivora, keragaman genetik, RAPD ABSTRACT Genetic diversity of some Phytophthora palmivora isolates causes nutfall disease on coconut plantation based on the Random Amplied Polymorphic DNA (RAPD)A total of 16 isolates of Phytophthora palmivora obtained rom diseased coconut plants showing nutfall disease were characterized by Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). By using nine primers of Operon Alameda, two distinct RAPD groups with 80% similarity were obtained. Genetic diversity (using the distance matrix method) among 16 isolates of P. palmivora were highly different at 40.6%. Group 1 contained 3 isolates i.e. 94P20 from West Sumatera, 93P26 from Lampung, and 93P104 rom Tumaluntung, North Sulawesi. Group II contained 3 isolates i.e. 93P54 rom Aceh, PKW and 99P01 from Pakuwon, West Jawa, while other 9 isolates formed separated single group.Key words : Coconut, Cocos nucfera, Phytophthora palmivora, genetic diversity, RAPD
RESPON TEMBAKAU MADURA TERHADAP DUA TIPE PUPUK ORGANIK . MASTUR; A. S. A. MURDIYATI; . DJAJADI; . HERIISTIANA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.142-148

Abstract

Penelitian dilaksanakan untuk menclaah pengaruh dua tipe pupuk organik yaitu pupuk organik dari hasil samping industri yang diperkaya atau selanjutnya disebut Pupuk Organik Diperkaya (POD) dan pupuk kandang dari kotoran sapi terhadap sifat fisik tanah, serapan hara, keragaan tanaman, hasil dan mutu tembakau madura. Percobaan dilakukan dari bulan April sampai September 2002. Percobaan lapang pada tanah tegal di Desa Guluk-guluk, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep. Per¬ lakuan tcrdiri dari sembilan kombinasi dosis (0-7 000 kg/ha) dan tipe pupuk organik (POD dan pupuk kandang) dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POD lebih unggul dalam kandungan hara dan pengaruhnya pada tembakau dibanding pupuk kandang. POD dapat meningkatkan kadar air tanah pada kapasitas lapang dan konsentrasi K dalam tanaman. Perlakuan terbaik adalah POD dosis 5 000 kg/ha dengan bobot daun rajangan kering 1 156 kg/ha, indeks mutu 73.4 dan indeks tanaman 77.2. POD dosis 1 000 kg/ha menghasilkan daun rajangan kering 849 kg/ha, indeks mutu 76.8 dan indeks tanaman 60.0. Dosis POD tersebut lebih baik dibanding pupuk kandang yang sama. Respon tembakau terhadap dosis POD 7 000 kg/ha lebih jelek dibanding 5 000 kg/ha.Kata kunci : Tembakau, Nicotiana tabacum L., pupuk organik, pupuk kandang, hasil mutu ABSTRACT Responses of madura tobacco to two types of organic fetilizersThe research was conducted to find out the effect of the Enriched Organic Fertilizer (POD) of industrial by product and Farmyard Manure (FYM) on soil physical properties, nutrient uptake, plant performance, yield, and quality of madura tobacco. Field experiment was conducted from April to September 2002 in upland ield of Guluk-guluk village, Guluk-guluk sub district, Sumenep. The research used randomized completely block design (RCBD) with 9 combinations of organic fertilizer kinds and dosages and 4 replications. The results showed that the POD gave higher effect and nutrient contents than that of FYM. The POD could increase the field capacity soil moisture and K biomass concentration. The best treatment of the POD was 5 000 kg/ha, which gave yield I 156 kg, dried sliced leaves/ha, quality index 73.4 and crop index 77.2. The application of the POD 1 000 kg/ha produced 849 kg dried sliced leaves/ ha, quality index 76.8, and crop index 60.0, which was better than that of FYM 5 000 kg/ha. The application of POD 7 000 kg/ha caused worse response of tobacco compared to that of 5 000 kg/ha.Key words : Tobacco, Nicotiana tabacum L. organic fetilizers, farmyard manure, yield, quality
EVALUASI KETAHANAN BEBERAPA AKSESI JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) TERHADAP HAMA Helopeltis antonii SIGN. (HEMIPTERA: MIRIDAE) ANDI MUHAMMAD AMIR; ELNA KARMAWATI; HADAD E. A.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.149-153

Abstract

Penelitian evaluasi ketahanan beberapa aksesi jambu mete (Anacardium occidentale L.) terhadap hama Helopeltis antonii Sign. (Hemiptera: Miridae) telah dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) Bogor, mulai bulan April sampai Desember 2004, bertujuan untuk menguji ketahanan beberapa aksesi jambu mete terhadap H antonii. Perlakuan tcrdiri atas sembilan aksesi jambu mete, yaitu (1) Balakrisnan (B-02), (2) Madura (L3-3), (3) Jatiroto Jambon (III/4-5), (4) Gunung Gangsir 180, (5) Madura (M4-2), (6) Jogya Putih (XII/8), (7) Mojoketo (XIII/8), (8) Tegineneng (A3-2), dan (9) Wonogiri (C6-5). Penelitian terdiri atas (a) preferensi tanpa pilihan, disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) diulang 5 kali, dan (b) preferensi dengan pilihan, disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jambu mete aksesi Mojokerto (XIII-8) dan Balakrisnan (B-02) merupakan aksesi jambu mete tahan dan toleran terhadap hama //. antonii.Kata kunci: Anacardium occidentale L, ketahanan, hama, Helopeltis antonii ABSTRACT The evaluation of resistances of some cashew lines (Anacardium occidentale I,.) to Helopeltis Antonii Sign. (Hemiptera: Miridae)The research on the evaluation of resistances of some cashew lines (Anacardium occidentale L.) to Helopeltis antonii Sign. (Hemiptera: Miridae) was conducted in the Pest and Diseases Laboratory and Green House Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute Bogor, from April to December 2004, to test the resistances of some cashew lines to H. antonii. The treatment consisted of nine cashew lines that is, (1) Balakisnan (B-02), (2) Madura (L3-3), (3) Jatiroto Jambon (I1I/4-5), (4) Gunung Gangsir 180, (5) Madura (M4-2), (6) Jogya Putih (XII/8), (7) Mojokerto (XIII/8), (8) Tegineneng (A3-2), and (9) Wonogiri (C6-5). The research consisted of, (a) preferences without choice, compiled in a randomized completely block design (RCBD) replicated 5 times, and (b) preferences with choice, compiled in a randomized completely block design (RCBD) replicated 3 times. The result indicated that cashew lines of Mojoketo (XIII-8) and Balakrisnan (B-02) were resistant and tolerant to H. antonii.Key words: Cashew, Anacardium occidentale L., resistance, pest. Helopeltis antonii
PENGEMBANGAN USAHATANI TUMPANGSARI WIJEN DAN PALAWIJA PADA KAWASAN HUTAN . NURHERU; HADI SUDARMO; . YASIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.131-134

Abstract

Penelitian pengembangan usahatani tumpangsari wijen dan palawija pada kawasan hutan dilaksanakan di KPH Saradan, Madiun mulai bulan Maret sampai Desember 2001. Penelitian dilakukan dengan metode kasus, betujuan untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem usahatani tumpangsari wijen dan palawija di kawasan hutan jati seta meningkatkan pendapatan petani penggarap di lahan Perhutani. Penelitian menggunakan areal hutan jati muda yang baru berumur 3 tahun seluas 10 ha milik Perum Perhutani kcrjasama dengan petani penggarap. Jumlah petani binaan (kooperator) sebanyak 36 orang masing-masing memiliki luas garapan 0.25 - 0.5 ha. Lahan garapan petani dibagi menjadi 2 bagian, satu bagian ditanami wijen + ubi kayu, sedangkan sisanya ditanami ubi kayu t jagung. Paket tcknologi yang ditawarkan pada petani terdiri atas penggunaan varietas unggul wijen, benih bcrmutu, tanam tepat waktu, penjarangan disisakan 2 tanaman/lubang, pemberian pupuk tepat jenis, dosis dan saat pemberiannya, serta penyiangan dilakukan sesuai keadaan gulma. Parameter yang diamati meliputi jumlah penggunaan sarana produksi (benih, pupuk dan pestisida) beseta harganya, penggunaan (cnaga kerja keluarga dan luar keluarga beserta tingkat upah, produksi wijen dan palawija beserta harga jualnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : komponen tcknologi yang diterima dan dilaksanakan oleh petani adalah varietas unggul wijen Sumberrejo-1, benih wijen bcrmutu, waktu tanam wijen, dosis dan cara pemupukan serta penyiangan gulma. Teknologi anjuran yang belum diterima petani adalah pemupukan petama bersamaan tanam dan penjarangan tanaman wijen. Pada tumpangsari wijen + ubi kayu diperoleh rata-rata produksi wijen 657 kg dan ubi kayu basah 3 210 kg per ha. Pada tumpangsari jagung + ubi kayu diperoleh produksi jagung I 220 kg pipilan kering dan ubikayu basah 3 350 kg per ha. Pendapatan usahatani wijen + ubi kayu sebesar Rp 1 124 000 per ha dengan B/C ratio 1.40, sedangkan usahatani ubi kayu + jagung mengalami kerugian Rp 424 000 per ha dengan B/C ratio 0.88.Kata kunci: Wijen, Sesamum indicum L., pendapatan petani, usahatani ABSTRACT Development of intercropping sesame and palawija in forest areaDevelopment research of sesame intercropping was conducted in KPH Saradan forest area, Madiun from March to December 2001. The research used 10 ha of 3 years old hardwood tree forest area. There were 36 farmers involved, each of them had 0.25 - 0.5 ha (o work on. The land was divided in(o 2 pats, one pat was planted with sesame and cassava, while the other pat was planted with cassava and com. The technology offered to the farmer consisted of: the use of superior variety, good seed, on schedule plantation, thinning up to 2 plants/hole, proper fetilizer, proper dose and application, and weeding. Parameters observed consisted of production input (i.e. seeds, fetilizer and pesticide) with the price, use of family worker and outside family worker with the salary rate, sesame and palawija production with their selling prices. The result showed that the technology accepted by the farmer was Sumberrejo 1 superior sesame variety, superior sesame seed, schedule of seed planting, fetilizer dossage and application, and weeding. The recommended technology that was not accepted yet by (he farmers was first fertilizer application at planting time and thinning of sesame. Area of sesame intercropped with cassava produced 657 kg of sesame and 3 210 kg of cassava per ha. Area of cassava intercropped with com produced 3 350 kg of cassava and 1 220 kg of com per ha. There was a profit of Rp 1 124 000 per ha in sesame + cassava intercropping with B/C ratio 1.40, while there was a financial lost of Rp 424 000 every ha in cassava + com intercropping with B/C ratio 0.88.Key words : Sesame, Sesamum indicum L„ farmer's income, intercropping
PENGARUH KETERSEDIAAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI DUA KLON NILAM EMMYZAR, .
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.159-165

Abstract

Tanaman nilam tumbuh dan berproduksi dengan baik pada daerah dengan curah hujan relatif tinggi dan merata sepanjang tahun. Tanaman dalam kondisi kekurangan air terus menerus akan mengalami strcs air dan berpengaruh terhadap proses fisiologis, menurunkan permukaan trans- pirasi, luas daun menurun, dan mempercepat dcfiidrasi protoplasma. Penelitian pengaruh ketersediaan air terhadap petumbuhan dan produksi 2 (dua) klon nilam dilakukan di rumah kaca Instalasi Penelitian Cimanggu, Balittro Bogor mulai bulan Nopember 1999 sampai dengan Mei 2000. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui pengaruh ketersediaan air terhadap partumbuhan dan produksi dua klon nilam (klon Sidikalang dan klon Situak) sekaligus diamati pengaruhnya terhadap kadar dan kualitas minyak nilam (rendemen, warna dan kandungan patchouly alkohol). Percobaan dilakukan dalam polibag menggunakan tanah kering jenis latosol Cimanggu Bogor yang diaduk dengan pupuk kandang sapi (3:1) sebanyak 10 kg/polibag disusun menggunakan rancangan factorial (dua faktor) dalam rancangan acak lengkap (RAL), diulang 3 kali. Ukuran plot 8 polibag/ perlakuan. Faktor pertama : klon nilam terdiri dari 2 jenis (K) yaitu : Kl = klon Sidikalang dan K2 = klon Situak. Faktor kedua: tingkat ketersediaan air (A) 4 taraf yaitu Al = 25% kapasitas lapang, A2 = 50% kapasitas lapang, A3 = 75% kapasitas lapang, dan A4 = 100 % kapasitas lapang. Peubah yang diamati meliputi persentase tumbuh tunas, tinggi tanaman, luas daun, bobot daun basah dan bobot daun kering, kadar minyak digambarkan dari rendemen dan kualitas minyak (wana dan kandungan patchouly alkohol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk jumlah tunas tidak ada interaksi antara tingkat ketersediaan air dan klon yang diuji, tetapi untuk jumlah daun ada interaksi. Tingkat pemberian air 75% kapasitas lapang (KL) secara keseluruhan memberikan pertumbuhan optimum bagi kedua klon, kecuali untuk parameter jumlah daun. Pada klon Situak. tingkat pemberian air 100% KL yang memberikan jumlah daun terbanyak. Perlakuan ketersediaan air 100% KL pada klon Sidikalang memberikan bobot daun kering tetinggi dibanding perlakuan lainnya, sedang untuk klon Situak, ketersediaan air pada taraf 75% KL memberikan bobot daun kering tetinggi. Rendemen minyak klon Situak dengan tingkat ketersediaan air 25% KL tertinggi (4.0%) dengan wana minyak kuning muda tcrang, diikuti tingkat 50% KL (3.0%) dengan wana minyak kusam/kemh. Kandungan patchouly alkohol klon Situak rata-rata (30%) lebih baik daripada klon Sidikalang, diperoleh dari perlakuan ketersediaan air 25% KL. Dapat disimpulkan bahwa untuk memperoleh petumbuhan dan produksi yang tinggi, ketersediaan air dalam tanah diperlukan antara 75 - 100% KL. Namun, untuk mendapatkan kandungan patchouly alkohol tinggi ketersediaan air yang dibutuhkan lebih rendah yaitu 25 % - 50%) KL.Kata kunci: Nilam, Pogostemon cablin, ketersediaan air, petumbuhan, produksi ABSTRACTThe effect of water availability the growth and production of two patchouly clones Patchouly plant grows and produces very well in the area with high and everly rain fall through the year. Plants with continuous shortage of water would face water stress and affect physiologis process, transpiration surface, leaf area and protoplasmic dehydration. Several levels of water needs were tested in this experiment, which was carried out in a glass house of Cimanggu Installation, Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute, Bogor, rom November 1999 to May 2000. The objective was to find out the effect of water availability on two clones of patchouly growth, production and oil content (rendement, colour and patchouly alcohol). The experiment was conducted in polybags using Cimanggu Latosol soil mixed with cow dung (3:1), 10 kg/polybag, arranged in a factorially completely random design with 3 replications. Plot size was 8 polybag/treatment. The first factor was two clones of patchouly : K, = Sidikalang and K2 = Situak. The second factor was 4 levels of water availability: 2J% (A,), 50% (A2). 75% (A,), and 100% (A,) ield capacity (FC). Variables observed were percentage of shoot growth, plant height, leaf area, fresh weight and dry weight, oil content (rendement, colour and patchouly alcohol). The result showed that there was no interaction between the two factors for number of shoots. Clone of Sidikalang had higher plant height than that of Situak. The water availability of 75% (FC) gave optimum growth for the two clones, except the number of leaves. For Situak the water avaibility of 100% (FC) gave the highest number of leaves. For Sidikalang the water availability of 100% gave the highest dry weight of leaves. Oil rendement for Situak with 25% FC was the highest (4.0) with bright yellow colour. The content of patchouly alcohol for Situak was higher than that of Sidikalang (30%). Therefore, it can be concluded that to obtain the optimum growth and the higest production it needed 75 - 100% (FC) water availability, while for high patchouly alcohol content, it needed buzer the water availability, i.e. 25-50% (FC).Key words: Patchouli, Pogostemon cablin, water level, growth, production
EFEKTIVITAS TEKNIK KONSERVASI LAHAN DALAM MENEKAN EROSI DAN PENYAKIT LINCAT DJAJADI, .; MASTUR, .; DALMADIYO, GEMBONG; MURDIYATI, A. S.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.135-141

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada bulan Maret sampai Desember tahun 2001 untuk mcngcvaluasi pengaruh penerapan teknik konservasi lahan dalam pengendalian erosi dan penyakit lincat terhadap erosi, sifat fisik tanah, populasi patogen, kematian tanaman, serta hasil tembakau. Perlakuan yang diuji adalah teknik pengendalian erosi yang meliputi penanaman rumput Setaria pada bibir teras dan tanaman Elemingia congesta pada bidang tampingan, seta pembuatan rorak di dasar saluran teras dan pengolahan tanah minimum. Perlakuan tersebut dikombinasikan dengan teknologi pengendalian penyakit lincat, yaitu penanaman galur tembakau tahan (BC3-C51) dan pembcian/penyemprotan mikrobia antagonis Aspergillus fumigatus dan Bacillus cereus. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan dua perlakuan (konservasi dan kontrol) dan enam ulangan. Setiap satuan percobaan tersusun atas petak berukuran 22 m x 4 m dan masing-masing dipasang satu unit bak penampung erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik konservasi dapat menekan besanya erosi dari 30.2 ton/ha menjadi 16.7 ton/ha atau turun 44.8 %. Kombinasi teknik pengendalian penyakit lincat dapat menekan perkembangan patogen lincat dan mengurangi kematian tanaman tembakau sebesar 53.6%. Hasil daun tembakau basah dan rajangan kering pada perlakuan konservasi masing-masing 41.7% dan 42.1% dibanding kontrol.Kata kunci: Tembakau, Nicotiana tabacum, tembakau temanggung. konservasi tanah, erosi, patogen tanah ABSTRACTEffectiveness of land conservation technique in reducing soil erosion and lincat plant diseasesField trial was conducted in Glapansari Village, Parakan, Temang¬ gung District from March to December 2001 to evaluate the effect of land conservation by controlling soil erosion and plant disease on soil erosion, soil physical characteristics, soil pathogens population, dead tobacco plant, and tobacco yield. The treatments were soil conservation technique by planting of Setaria grass on Ihe terrace edge and planting Elemingia congesta on the riser, and digging of sediment trap on the base of terrace ditch. The treatments were planting tobacco line (BC3-C51) tolerant to lincat disease combined with the application of antagonistic microbes (Aspergillus fumigatus and Bacillus cereus). The research used complete randomized block design with two treatments and six replications. Each expeimental units composed of plot sized 22 m x 4 m and soil erosion collector. Results showed that the land conservation technique reduced soil erosion rom 30.2 to 16.7 tones/ha or 44.8%. This technique reduced soil pathogen population and dead tobacco plant 53.6%. The land conservation technique increased signiicantly tobacco fresh leaves yield 41.7% and dried sliced tobacco yield 42.1 % compared to that of control.Key words: Tobacco, Nicotiana tabacum, temanggung tobacco, soil conservation, erosion, soil pathogen
INDUCING GENETIC VARIABILITY OF BLACK PEPPER (Piper nigrum L.) by IRRADIATION NURLIANI BERMAWIE
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.166-172

Abstract

Genetic variability of black pepper germplasm in Indonesia is low. To broaden genetic variability, newly growth shoot tips from in vitro culture of black pepper var. LDL were y irradiated with doses 0, 0.3 0.6, 0.9, 1.2 and 1.5 krad. The treatments were designed in a complete block with five replications. The irradiaed plantlets were grown on MS medium. Response of the variety is described by recording an increase in leaves, shoots and node, numbers, plantlet height, and morphological abnormality in the irst vegetative mutation generation (MVI) and the second vegetative mutation generation (MV2). Ater 6 weeks, the plantlets were sub cultured and the leaves of MV2 were used for RAPD analysis. Six random primers were used for the study, i.e. OPC-01 (TTCGAGC- CAG), OPC-02 (GTGAGGCGTC), OPC-04 (CCGCATCTAC), OPC-05 (GATGACCGCC), OPC-06 (GAACGGACTC) and Abi 117.17 (GCTC- GTCAAC). The results showed that the lowest averages value on the increase of leaves, shoots, nodes and plantlets height al MVI are resulted at dose 1.5 krad, whereas dose 0.3 krad increases averages value on shoots and plantlet height. The highest percentage of abnormal leaves is resulted at dose 1.2 krad. Ater subculture, the MV2 plantlets showed higher averages value for almost all parameters observed than the untreated plantlets. The number of score able bands varied from 2-5 bands with molecular weight 0.4-12 kb. Thirty three bands were detected from the six primers, with OPC-01, OPC-04 and OPC-06 showed polymorphisms with 8 (24%) polymorphic bands. In OPC-01 one band with DNA size 1 -1.5 kb was absence rom the treated plants at dose 0.9-1.5 krad, while with OPC- 04, one band size 1 5 kb present only at 1.2 krad and with OPC-06 one band size 12 kb absence from 0.6 and 0.9 krad, and 3-5 bands size 1.5, 1.8 and bands with size 3-12 kb disappeared at dose 1.2 and 1.5 krad. The appearance and disappearance of bands may be related to the genetic changes due to y irradiation, and further exploration may be needed to ind how much genetic variation induced by irradiation in ield and the relationships with the changes in plant characters.Key words: Piper nigrum L., mutation, irradiation, RAPD, genetic variation ABSTRAK Peningkatan keragaman genetik tanaman lada (Piper nigrum L.) dengan iradiasi sinar gammaKeragaman genetik plasma nutfah lada sempit, untuk meningkatkan keragaman genetik, mata tunas yang tumbuh dari biakan lada varietas LDL diradiasi dengan sinar y dengan dosis 0, 0.3 0.6, 0.9, 1.2, dan 1.5 krad. Perlakuan menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Tunas hasil radiasi ditanam pada media MS. Respon tanaman terhadap perlakuan iradiasi dilakukan dengan mengamati peningkatan jumlah daun, tunas, buku, tinggi tanaman dan morfologi pada planlet hasil perbanyakan vegetatif generasi pertama (MVI) dan kedua setelah iradiasi (MV2). Tunas hasil perbanyakan sub-kultur setelah iradiasi (MV2) dianaltsa keragaman genetiknya dengan RAPD (Randomly Ampliied Polymorphic DNA) menggunakan enam primer acak, yaitu OPC-01 (TTCGAGCCAG), OPC-02 (GTGAGGCGTC), OPC-04 (CCGCATCTAC), OPC-05 (GATGACCGCC), OPC-06 (GAACGGACTC) dan Abi 117.17 (GCTCGTCAAC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi menyebabkan perubahan yang nyata pada planlet generasi pertama setelah perbanyakan vegetatif (MVI) terutama pada jumlah buku dan tinggi tanaman. tetapi tidak berbeda nyata untuk penambahan jumlah daun dan166 tunas. Nilai rata-rata penambahan jumlah daun, tunas, buku dan tinggi planlet terendah ditunjukkan oleh perlakuan iradiasi pada dosis 1.5 krad, sedangkan pada iradiasi 0.3 krad meningkatkan nilai rata-rata jumlah tunas dan tinggi planlet. Persentase daun abnormal diperoleh pada perlakuan 1.2 krad. Setelah sub-kultur, planlet generasi kedua setelah perbanyakan vegetatif (MV2) yang tumbuh menunjukkan nilai rata-rata yang lebih tinggi dari normal pada semua parameter. Persentase daun variegata pada MVI diperoleh dari perlakuan 1.2 krad tetapi pada MV2 diperoleh dari perlakuan 0.6 krad. Jumlah pita DNA yang terampliikasi berkisar antara 2-5 dengan berat molekul 0.4-12 kb. Tiga puluh tiga pita tcrdetcksi, 8 (24 %) pita diantaranya polimorfik, yang berasal dari primer OPC-01, OPC-04 dan OPC-06. Pada OPC-01 satu pita dengan ukuran 1-1.5 kb hilang dari perlakuan 0.9-1.5 krad, sementara pada OPC-04, satu pita dengan ukuran 1.5 kb muncul hanya pada perlakuan 1.2 krad dan pada OPC-06 satu pita 12 kb hilang dari perlakuan 0-6 dan 0.9 krad, 3-5 pita dengan ukuran 1.5 kb, 1.8 kb dan antara 3-12 kb hilang dari perlakuan 1.2 dan 1.5 krad. Hilang dan munculnya pita kemungkinan berhubungan dengan perubahan genetik akibat radiasi sinar y dan penelitian lanjut perlu dilakukan untuk menge¬ tahui tingkat keragaman yang ditimbulkan akibat iradiasi di lapang dan hubungannya dengan perubahan sifat terutama sifat yang mengunlungkanKara kunci: Piper nigrum L„ Lada, mutasi, radiasi, RAPD, variasi genetik

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2004 2004


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue