cover
Contact Name
ricky Irawan
Contact Email
rickyirawan@isi-dps.ac.id
Phone
+6285694109326
Journal Mail Official
jomsti@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Program Studi Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar. Jalan Nusa Indah, Denpasar 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Journal of Music Science, Technology, and Industry (JOMSTI)
ISSN : -     EISSN : 26228211     DOI : https://doi.org/10.31091
Journal of Music Science, Technology, and Industry is a scientific media disseminating science, technology, aesthetic, and industry of music in relation to its uses in the society. JOMSTI is published with a focus on philosophy, aesthetic, concept, and theory of music; music analysis and genre; music education and learning; specific and/or common, traditional and/or modern, local and/or global music history and entity; music application, practice, show or performance, and technology; production, distribution, and consumption in music industrialization; anthropology, sociology, and psychology of music.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2019)" : 8 Documents clear
MUSIC IN INDONESIA ON THE IDEOLOGICAL DEBATES IN THE SOEKARNOIAN ERA Ali, Arhamuddin
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.052 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.602

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk menjelaskan tentang posisi musik pada perdebatan ideologi di Indonesia era Soekarno. Debat ideologi yang maksud yaitu antara konsep Soekarno tentang Nasakom (akronim Nasionalisme, Agama, Komunis atau Nasionalisme, Agama, Komunis) dan ideologi pasar (hiburan). Masing-masing ideologi ini mempengaruhi realitas musik pada waktu itu, baik kreasi maupun presentasinya. Berdasarkan hal tersebut, data tulisan ini berasal dari berbagai sumber daya, seperti observasi, wawancara, dokumen, dan rekaman audio dan video. Data tersebut dianalisis menggunakan konsep seni dan ideologi Davis dan konsep seni dan identitas Navits. Ada tiga kesimpulan yang dibuat, yaitu, pertama, Indonesia di era Soekarno dilakukan untuk mencari identitas dengan menginventarisasi musik lokal di Indonesia dan memperkenalkan ke arena internasional; kedua, Soekarno melepaskan diri dari budaya Nekolim dengan mengkategorikan musik yang baik dan yang buruk untuk Indonesia; dan ketiga, terjadi perdebatan ideologi antara musisi dan pemerintah dalam politik kebudayaan Indonesia era Soekarno. Perdebatan ini telah menempatkan musik sebagai bidang yang tidak netral dan pada kenyataannya sebagai bahasa traumatik yang muncul dari keinginan personal pencipta.  
COLIN MCPHEE AND BALINESE MUSIC: A SHORT BIBLIOGRAPHY Sudirana, I Wayan
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.917 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.603

Abstract

  Colin McPhee adalah seorang pianis dan komposer berbakat yang memiliki minat musik yang mendalam dalam mengeksplorasi bahasa musik lainnya. Hanya beberapa komposer di dunia barat yang akan memberi kesempatan untuk melakukan hal yang persis sama seperti yang dilakukan McPhee. Hidupnya benar-benar berubah oleh pengaruh musik Bali. Dia menerbitkan buku-buku tentang musik dan budaya Bali serta aspek kehidupan manusia dalam masyarakat Bali. Bahkan, karya McPhee yang terlibat dan berfokus pada budaya Bali merupakan kontribusi besar bagi orang Bali, dan cara yang baik untuk memperkenalkan budaya Bali kepada dunia. Untuk generasi sekarang dan generasi mendatang musisi Bali, karya-karya musik Mcphee akan berdiri sebagai bagian penting dari warisan budaya untuk Bali dan dunia. Makalah ini adalah biografi singkat Colin McPhee, yang utamanya berfokus pada karyanya sebagai seorang etnomusikolog. Sebagai seorang musisi dan komposer Bali, saya terutama tertarik pada karya-karyanya karena mereka berhubungan dengan budaya Bali. Saya juga akan memperkenalkan beberapa komposisi musik baratnya yang terinspirasi oleh musik gamelan Bali. Saya berharap bahwa dengan penulisan paper ini, saya akan mendapatkan pemahaman dan wawasan yang lebih baik tentang apa yang telah dilakukan Colin McPhee untuk musik saya sendiri, serta untuk bidang etnomusikologi pada umumnya.    
ANALISIS KOMPOSISI MUSIK “KUASA TANAH” Putra, I Putu Adi Septa Suweca
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.681 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.604

Abstract

  This paper aims to explore and understand more deeply about the music of ?Kuasa Tanah? (or the power of land) composed by a Balinese musician named Dewa Ketut Alit which covertly instills intellectual value in the process of its manifestation. Broadly speaking, each composer certainly has his own method for realizing his work. The difference in methods and forms of the work produced can also provide distinctive characteristics for each composer. This article is more referring to musicality problems that occur in ?Kuasa Tanah? The issue of musicality is very important to understand and peel to see music in a textual manner. Through this issue, in the next turn, it can be used as knowledge and scientific foundation in making another new work, and is expected to open a society?s perspective so that music is not only regarded as merely entertainment. Using qualitative method through interview and transcription done, in the analysis is fount that in ?Kuasa Tanah?, there is a renewal of the packaging system that is reflected in the way the composer works in processing the selected musical elements. The entire work uses several types of local instruments found in Balinese gamelan. Although it uses several instruments from Balinese gamelan, but the music produced is sounded universal. This shows that the gamelan will elegantly coexist above equality and surge as independent music amidst the infinite dynamics of global music. Keywords: musical work, ?Kuasa Tanah?, newness, local, global.
THE IMPACT OF MUSIC IN INCREASING INTELLIGENCE: A "GENDHING LANCARAN" EXPERIMENT ON SPATIAL-TEMPORAL ABILITY Nainggolan, Oriana Tio Parahita
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.885 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.606

Abstract

  Tujuan penelitian ini adalah menginvestigasi pengaruh tetembangan gamelan Jawa, yaitu gendhing lancaran terhadap peningkatan kemampuan spasial-temporal. Subjek penelitian ini adalah 60 murid sekolah dasar di kelas empat. Dengan menggunakan metode acak, subjek-subjek tersebut dijadikan ke dalam dua kelompok, yaitu 30 dalam kelompok eksperimen dan 30 lainnya dalam kelompok pengawasan. Mereka dikaitkan dengan salah satu dari dua kondisi: mendengar gendhing lancaran (untuk kelompok eksperimen) atau tidak mendengar musik tersebut (untuk kelompok pengawasan). Sebagai tugas spasial-temporal, CFIT (culture fair intelligence test) dicatat sebelum dan sesudah mendengar gendhing lancaran. Kelompok eksperimen secara signifikan bernilai lebih tinggi dibandingkan kelompok pengawasan melalui CFIT. Data ini mendukung penelitian ini di mana elemen-elemen bunyi yang dihasilkan berbagai alat musik dapat memberikan stimulus atau pengaruh pada kemampuan spasial-temporal.
PSYCHOPHYSIOLOGICAL RESPONSES TO “YOGYAKARTA NYAMAN” MUSIC COMPOSITION Sumerjana, Ketut
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.251 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.608

Abstract

  Manusia selalu berusaha sehat. Ketika sakit, mereka akan mencari serta menemukan pengobatan dan metode yang sesuai untuk kondisi fisiologis dan psikologis. Salah satu pengobatan dan metode yang unik dalam proses pengobatan adalah menggunakan musik untuk memberikan campur tangan terhadap kondisi psychophysiologicalnya. Beberapa studi lain menggunakan frekuensi tinggi modulasi (HFC) dalam merangsang kondisi peserta dan telah mendapatkan hasil yang baik. Tetapi penggunaan benda-benda ini hanya berupa satu suara yang dipilih dari lebar kisaran frekuensi musik dan bahkan tidak diarahkan ke musik. Salah satu jenis musik yang begitu menarik adalah MIDI sebagai musik yang berasal dari sampel suara komposisi yang ternyata memiliki wilayah frekuensi cukup lebar, salah satunya adalah wilayah ultrasonik dalam proyek musikal penulis yang berjudul ?Yogyakarta Nyaman?. Secara fisik, dalam dunia medis, frekuensi suara ultrasonik digunakan dalam intervensi kondisi fisiologis. Berdasarkan uraian di atas, fokus dari studi ini adalah untuk menggunakan ?Yogyakarta Nyaman? untuk mendapatkan tanggapan psikofisiologis para peserta. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan responden 18 yang dibagi menjadi sembilan laki dan sembilan perempuan. Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara di mana hasilnya dikonversi ke dalam angka untuk memberikan gambaran numerikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ?Yogyakarta Nyaman? mampu memberikan campur tangan bagi kondisi fisiologis dan psikologis responden dengan fhitung > ftabel. Nilai fhitung  adalah 5.179 lebih besar dari ftabel sekitar 3.86.
HISTORICAL ASPECTS OF KETUT SUMERJANA’S “YOGYAKARTA NYAMAN” (FROM ENTERTAINMENT TO PRE-THERAPY MEDIA) Putra, I Putu Lukita Wiweka Nugraha
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.189 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.609

Abstract

Dalam komposisi musik, sejarah seringkali terlupakan padahal setiap musik pasti didahului dengan peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya. Terkait hal tersebut, salah satu musik yang cukup menarik perhatian bagi penulis adalah ?Yogyakarta Nyaman? (2011) yang merupakan salah satu musik karya musisi sekaligus akademisi Ketut Sumerjana. Ini merupakan sebuah komposisi MIDI yang kemudian fungsinya sebagai media pra-terapi. Berdasarkan hal tersebut, maka fokus penelitian ini adalah mengenai aspek sejarah atau latar belakang musik ?Yogyakarta Nyaman? baik dalam proses penciptaannya dan pergeseran fungsinya dari profan (hiburan) menuju pra-terapi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif naratif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara terhadap narasumber primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik ?Yogyakarta Nyaman? secara aspek sejarah atau latar belakang proses penciptaannya merupakan deskripsi interpretasi mengenai perubahan sosio-kultur Yogyakarta tahun 1990-an menuju 2000-an sedangkan komponen frekuensi subsonik dan ultrasonik yang menjadi latar belakang karya ini mengalami transformasi fungsi menjadi media pra-terapi.
ART, MUSIC, AND IDENTITY IN THE GLOBAL ERA Ondrusek, Tomas
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.116 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.610

Abstract

Tulisan ini meneliti keterkaitan antara seni sebagai fenomena budaya dan identitas sebagai fenomena sosial. Berfokus pada perubahan seni dan identitas yang terjadi di era global, tulisan ini dibagi menjadi dua bagian: pengalaman budaya dan pengalaman antarbudaya. Memahami kedua kekuatan ini, kita menyelidiki tantangan yang datang dengan era global. Era global membuat koneksi berkecepatan tinggi terjangkau dengan biaya rendah: Manusia memiliki akses ke informasi, tetapi juga akses ke pergerakan fisik di dunia melalui keterjangkauan transportasi internasional. Globalisasi membawa perubahan luar biasa dalam kehidupan manusia. Ini memberikan kemungkinan pengalaman tangan pertama dari keragaman di dunia dan membuat pengalaman antarbudaya dapat diakses. Warga global adalah warga negara yang bergerak, seseorang yang memiliki pengalaman berbagai negara dan budaya. Tetapi: apakah warga global ini juga di masa depan akan memiliki "budaya global" di sana. Kita berhadapan dengan paradoks besar: di satu sisi kita memiliki era globalisasi yang telah menghasilkan warga global pertama. Di sisi lain kita memiliki seni dan kreativitas, yang tidak mungkin ada tanpa identitas budaya (lokal) dan bahkan tidak disadari oleh kebudayaan di luar kebudayaan dirinya karena sering tampak lucu atau menggelikan. Seni berakar dalam - dan terhubung dengan - budaya lokal atau lingkaran budaya: seperti bunga, kreativitas seni tumbuh di tanah budaya lokal: ia menggunakan tanda, tata bahasa, semantik, emosi, dan asosiasi intelektual yang hanya dipahami oleh anggota yang disosialisasikan di lingkungan budaya bersama.
“BELENGGU BENALU”: KOMPOSISI KOLABORASI-INTERPRETATIF MENGENAI PENGARUH AKULTURASI BUDAYA BARAT PADA MUSIK BATAK TOBA “UNING-UNINGAN” Matanari, Oang Gabriel; Darmayuda, I Komang; Ardini, Ni Wayan
Journal of Music Science, Technology, and Industry Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.375 KB) | DOI: 10.31091/jomsti.v2i1.612

Abstract

  Foreign culture that enters Batak land in North Sumatera, Indonesia, has a great influence on the development of the Batak Toba music or Uning-uningan (an ensemble transformed between Gondang Hasapi consisting of Sarune Etek, Hasapi Doal, Hasapi Ende, Garantung, as well as Hesek and Gondang Sabangunan/Bolon (Taganing, Ogung (Gong), Odap, Hesek and Sarune Bolon). Nowadays, most of the traditional Batak Toba ceremonials present the concept of Uning-uningan music with keyboard accompaniment, especially in the situations that there is a budget limitation which gives a large space for single organ players (keyboardist) to apply Uning-uningan musical repertoires only with an instrument (i.e. the keyboard). This certainly gives negative influence on the existence of the Batak Toba traditional music. As a result the influence that happened because of the western culture makes the people of Batak Toba prefers the musical concept of Uning-uningan with keyboard accompaniment. Therefore, the concern of the author and composer in responding to the influence of acculturation on the existence of Batak Toba traditional music is outlined in musical composition entitled ?Belenggu Benalu?. Through this music composition hopefully the people of Batak Toba, especially Batak musicians are aware and participate in preserving and maintaining Uning-uningan and other traditional Batak music as one of the identities of the Indonesian art and culture diversity.

Page 1 of 1 | Total Record : 8