cover
Contact Name
Pantjar Simatupang
Contact Email
jae.psekp@gmail.com
Phone
+62251-8333964
Journal Mail Official
jae.psekp@gmail.com
Editorial Address
Lt. III Gedung A. Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : http://dx.doi.org/10.21082/
Core Subject : Agriculture,
Ruang lingkup dari Jurnal Agro Ekonomi adalah sosial ekonomi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan
Articles 391 Documents
Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia Rohayati Suprihatini
Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v23n1.2005.1-29

Abstract

EnglishThe purposes of this study was to analyze competitive position of Indonesian tea in the world market using Constant Market Share (CMS) approach. The result show that export growth of Indonesian tea was lower than world tea export growth due to (1) product composition problem; (2) distribution aspect problem; and (3) low competitiveness of Indonesian tea. To increase the growth of Indonesian tea export, exporters should increase tea export in form of down-stream products as well as bulk green tea. Competitive position of Indonesian tea is lower than  that other  tea producing countries, except Bangladesh.       IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi daya saing teh Indonesia di pasar teh dunia dengan menggunakan pendekatan Constant Market Share (CMS).  Data statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor teh Indonesia jauh di bawah pertumbuhan ekspor teh dunia. Masalah tersebut disebabkan karena (1) komposisi produk teh yang diekspor Indonesia kurang mengikuti kebutuhan pasar; (2) negara-negara tujuan ekspor teh Indonesia kurang ditujukan ke negara-negara pengimpor teh yang memiliki pertumbuhan impor teh tinggi; dan (3) daya saing teh Indonesia di pasar teh dunia yang masih lemah. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekspor teh Indonesia, diperlukan upaya untuk meningkatkan komposisi produk teh melalui peningkatan ekspor teh Indonesia dalam bentuk produk-produk hilir dan teh hijau curah.  Selain itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengaruh distribusi pasar. Pada aspek daya saing, posisi daya saing teh Indonesia lebih lemah dibandingkan negara-negara produsen teh lainnya, kecuali Bangladesh.
Dampak Kebijakan Cukai Rokok terhadap Distribusi Surplus Ekonomi Industri Rokok di Indonesia Antik Suprihanti; nFN Harianto; Bonar Marulitua Sinaga; Reni Kustiari
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v37n1.2019.1-23

Abstract

EnglishIndonesian government has applied cigarette excise tax policy on clove cigarette which impacts on the rise of cigarette price and cigarette production. Because of tobacco and clove demand are derived demand of cigarette supply, so the change on cigarette production impacts on demand of cigarettes input (tobacco and clove) and it eventually impact on the price of these commodities. The rise of cigarette excise not only impacts on economic surplus of producer and consumer of cigarettes, but also on tobacco and clove farmers. Clove cigarette encompasses hand-rolled clove cigarettes (SKT), machine-rolled clove cigarettes (SKM) and klobot cigarettes (SKB). The aim of this research was to analyze the impact of the rise of cigarette excise tax policy toward economic surplus distribution among the economic agents on Indonesian cigarette industries. This research accomodated the data series of 1990-2016 with simultaneous equation system which consisting of 36 structural equations and 25 identity equations. This model was estimated by using 2 SLS (Two-Staged Least Squares) method. The results showed that cigarette excise tax impacted on the rise of government revenue and total economic surplus negatively. The rise of excise tax impacted on negative surplus of cigarette producer decreased, negative surplus of cigarette consumer increased, and farmer surplus decreased (negative). In order to keep positive economic surplus of the farmer, the rise of SKT cigarette tax maximum should be constituted no more than 5,8%. To anticipate the loss of farmer surplus and the decrease of tobacco and clove demand ini the future, the government can use the tax revenue to develop alternative crops besides tobacco such as vegetables, intensification of tobacco as import subtitution and develop diversification of clove products for essential oil, preservatives and others.IndonesianPemerintah Indonesia telah menerapkan kenaikan tarif cukai rokok kretek yang berdampak pada kenaikan harga rokok dan produksi rokok. Oleh karena permintaan tembakau dan cengkeh merupakan permintaan turunan dari penawaran rokok, maka perubahan produksi rokok akan berdampak pada permintaan input (tembakau dan cengkeh) dan berdampak pada harga kedua komoditas tersebut. Kenaikan cukai tidak hanya berdampak pada surplus ekonomi produsen dan konsumen rokok, tetapi juga petani tembakau dan cengkeh. Industri sigaret kretek meliputi sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM) dan rokok klobot (SKB). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak kenaikan cukai rokok terhadap distribusi surplus ekonomi di antara pelaku ekonomi pada industri rokok di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data deret waktu tahun 1990-2016 dengan sistem persamaan simultan yang terdiri dari 36 persamaan struktural dan 25 persamaan identitas, yang diestimasi menggunakan metode 2SLS (Two-Staged Least Squares). Hasil penelitian menunjukkan adanya tarif cukai rokok akan menambah penerimaan pemerintah namun berdampak negatif terhadap total surplus ekonomi. Kenaikan cukai rokok berdampak pada negatif surplus produsen rokok makin menurun, negatif surplus konsumen rokok makin meningkat dan surplus petani menjadi turun (negatif). Agar surplus ekonomi petani tetap positif, maka kenaikan tarif cukai khususnya SKT ditetapkan tidak lebih dari 5,8%. Pemerintah dapat memanfaatkan sebagian penerimaan cukai rokok untuk melakukan upaya pengembangkan alternatif tanaman lain selain tembakau seperti sayuran, intensifikasi tanaman tembakau subtitusi impor dan melakukan diversifikasi produk cengkeh sebagai minyak esensial, pengawet dan lainnya untuk mengatasi kerugian petani dan mengantisipasi turunnya permintaan tembakau dan cengkeh pada masa depan.
Pengaruh Belanja Pemerintah Pusat Terhadap Peningkatan Produksi Padi di Provinsi Jawa Barat Atang Trisnanto; Arief Daryanto; Agung Hendriadi
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v33n1.2015.1-15

Abstract

EnglishWell allocated government budget is a requirement for increasing rice production as well as avoiding underinvestment or disinvestment. This study aims to analyze impacts of government expenditures on rice production increase. Secondary data consisting of 7-year time series data (2007–2013) and 20 cross section data of West Java Province were used in this study. The results of GLS (generalized least square) with a dummy-variables estimation method showed that in the short run the government expenditures on fertilizer subsidy and improved seed assistance had significant impact on rice production in West Java Province at 5 percent level of significance with marginal elasticities each of 0.0056 and 0.038, while tertiary irrigation rehabilitation had significant impact at 15 percent level of significance with marginal elasticity of 0.0206. Fertilizers and seeds were direct inputs in rice farming that had significant impact on rice production. On the other hand, tertiary irrigation rehabilitation needed time lag in influencing rice production. In the short run, capital assistance and field school had no impact on rice production. IndonesianKetepatan dalam alokasi anggaran belanja pemerintah diperlukan untuk meningkatkan produksi padi dan menghindari adanya alokasi yang tidak memadai (underinvestment) atau alokasi yang tidak tepat (disinvestment). Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh belanja pemerintah terhadap peningkatan produksi padi. Penelitian ini menggunakan data sekunder dalam bentuk data panel dengan 7 tahun time series (2007–2013)  dan 20 data cross section di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Metode analisis menggunakan model estimasi data panel statis. Berdasarkan metode estimasi GLS (generalized least square) dengan variabel dummy tahun, dalam jangka pendek subsidi pupuk dan bantuan benih unggul memberikan pengaruh yang signifikan terhadap produksi padi di Provinsi Jawa Barat pada taraf nyata 5% dengan elastisitas marjinal sebesar 0,0056 dan 0,038, sedangkan rehabilitasi irigasi tersier berpengaruh nyata pada taraf 15% dengan  elastisitas marjinal 0,0206. Pupuk dan benih merupakan input langsung dalam budi daya usaha padi sehingga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap produksi.  Di sisi lain, rehabilitasi irigasi tersier memerlukan waktu jeda dalam memengaruhi produksi padi. Dalam jangka pendek, bantuan permodalan dan sekolah lapang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi.
Gejala Perubahan Penguasaan Kebun Plasma dan Berkembangnya Ketidakmerataan Pendapatan pada Komunitas Petani PIR-BUN Undang Fadjar; Bambang Dradjat; Melani A. Sunito
Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v20n2.2002.40-63

Abstract

EnglishOne of the programs for the village development that fulfill the goal for the growth and equality distribution of income is the partnership program for the Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-BUN). The objective of this program, beside to increase the productivity and the efficiency of public plantation effort is also to grant the opportunity for managing a business for the poverty stratum that do not possess plantation and fund but have the human resources capability. Then, all participants of the program are given a plasma plantation with the same width. Therefore, in support of the PIR-BUN program, the plasma plantation is the bridging for a farmer to attain the chance to increase their financial income. This research is done as a study case toward the four locations of PURBUN rubber plants that was chosen by purposive sampling. The four locations are consist of Rimbo Bujang (RB), Jambi, (Talang Jaya) Sumatera Selatan, Monterado-Kinande (MD) Kalimantan Barat, and Danau Salak (DS), Kalimantan Selatan. Data and the information was gathered and analyzed using quantitative analysis (t-test), Gini index, and descriptive statistic). The result of this research shows that in all locations there has been a change of authorized foundation of the plasma plantation, which causes not only the permanent ownership of the foundation but also the temporary ownership of the foundation. Beside that, the changes of the ownership, the width of the foundation, and the changes of the position of the ownership from being the "owner of the foundation" becoming the "owner of the non-foundation" has made a community of the PIR-BUN farmers posses the social layers more than one. Along with that, the result of t-test of the two average values of the income between the layers of the income of the PIR-BUN shows that the average of income between each layers of PIR-BUN farmers are different. The analysis of the "Gini Index" and the analysis of the "Society group income based on the World Bank concept" shows that on the PIR-BUN community in all research location there has been an inequality in the category of "medium" or low.IndonesianSalah satu program pembangunan pedesaan yang berupaya memenuhi tujuan pertumbuhan dan pemerataan diantaranya adalah program kemitraan Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-BUN). Sasaran program ini, selain untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha perkebunan rakyat juga untuk memberikan peluang usaha seluas-luasnya bagi lapisan masyarakat miskin yang tidak memiliki kebun dan modal tetapi memiliki sumberdaya tenaga kerja. Berkaitan dengan itu, penelitian ini dilakukan untuk menjawab apakah setelah 10 tahun lebih terjadi perubahan penguasaan kebun plasma serta ketidakmerataan pendapatan pada petani. Penelitian ini dilaksanakan pada empat lokasi PIR-BUN tanaman karet yang dipilih secara purposif, yaitu Rimbo Bujang (RB) Jambi, Talang Jaya (TJ) Sumatera Selatan, Monterado-Kinande (MD) Kalimantan Barat, dan Danau Salak (DS) Kalimantan Selatan. Analisis data dilakukan secara kuantitatif (uji beda nyata/uji-t, indeks gini, dan statistik deskriptif) dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di seluruh lokasi penelitian telah terjadi perubahan kelembagaan penguasaan kebun plasma, sehingga selain terdapat kelembagaan pemilikan tetap terdapat pula kelembagaan pemilikan sementara terutama melalui kelembagaan bagi hasil. Selain itu, perubahan-perubahan luas pemilikan, luas penggarapan, dan perubahan posisi pemilik tetap dari "pemilik penggarap" menjadi "pemilik bukan penggarap" telah membuat komunitas petani PIR-BUN memiliki lapisan sosial lebih dari satu. Bersamaan dengan itu, hasil uji beda dua nilai rataan pada taraf nyata 20 persen terhadap pendapatan komunitas petani PIR-BUN menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan antar lapisan petani PIR-BUN berbeda. Demikian halnya, analisis "lndeks Gini" dan analisis "pendapatan kelompok masyarakat berdasarkan konsep Bank Dunia", bahwa pada komunitas petani PIR-BUN di semua lokasi penelitian telah terjadi ketidakmerataan dengan kategori "sedang" atau rendah.
Analisa Permintaan Waktu Luang Keluarga Petani PIR-Karet NES I Talang Jaya Sumatera Selatan Pantjar Simatupang; Mewa Ariani
Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v6n1-2.1987.83-93

Abstract

EnglishAccording to economic theory, the ultimate objective of consumers is to maximize their utility. The utility is obtained from consumption of goods and leisure. Labor supply then is merely a mean to get income which later will be used to buy goods. Hence, family labor supply should be analyzed with the utility maximizing framework. This study analyzes family labor supply of rubber nuclear estate participants using Stone-Geary utility function. The analysis is emphasized on the roles of the family characteristics. This study shows that labor supply is determined by family income, age of the head of the family, total number of family member, and number of family member under 5 years.IndonesianAnalisa curahan tenaga kerja dapat dilakukan dengan menganalisa permintaan waktu luang keluarga. Secara teoritis yang berguna langsung bagi seseorang adalah waktu luang dan barang yang dikonsumsi. Pencurahan tenaga kerja hanyalah untuk memperoleh pendapatan yang selanjutnya dipergunakan untuk membeli barang-barang konsumsi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perilaku permintaan waktu luang keluarga petani PIR, yang analisisnya dititik-beratkan pada peranan karakteristik keluarga berdasarkan teori perilaku konsumen. Metode yang digunakan adalah fungsi kepuasan Stone-Geary. Hasil analisis menunjukkan bahwa seseorang yang berpendapatan tinggi, cenderung menggunakan waktu luang besar (curahan tenaga kerja rendah). Curahan tenaga kerja juga dipengaruhi oleh umur kepala keluarga, jumlah anggota keluarga dan jumlah anak berumur dibawah lima tahun. Salah satu usaha yang dapat ditempuh untuk merangsang petani muda lebih giat bekerja adalah dengan meningkatkan ketrampilan berusahatani melalui pendidikan umum dan penyuluhan usahatani.
Analisis Daya Saing Manggis Indonesia di Pasar Dunia (Studi Kasus di Sumatera Barat) Reni Kustiari; Helena J. Purba; nFN Hermanto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v30n1.2012.81-107

Abstract

EnglishThe study aims to analyze Indonesian mangosteen export performance and its competiveness. Primary data were collected from the mangosteen production center in Bukit Barisan District, Limapuluh Kota Regency, West Sumatera Barat Province, on July 2011. The respondents consisted of farmers, traders, exporters and stakeholders. Secondary data were gathered from CBS and UN. A Constant Market Shares (CMS) analysis of period 2000-2009 was utilized to identify Indonesian export performance, while competitiveness was measured using Policy Analysis Matrix (PAM). The results show that the competitiveness of Indonesian mangosteen in the world market tends to decline indicated by the decrease of market share in several export markets. The competitiveness analysis shows that mangosteen farms in West Sumatra have both comparative and competitive advantages. To increase mangostene export performance, Indonesia should find the market with the growth rate higher than that of world demand and improve on-farm technology to produce better quality of mangosteen.   IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja ekspor manggis Indonesia di tatanan pasar internasional dan daya saing komoditas manggis. Data primer untuk studi kasus dikumpulkan dari daerah sentra produksi manggis di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, pada bulan Juli 2011. Responden penelitian terdiri dari petani, pedagang, eksportir, dan instansi terkait. Disamping itu, untuk analisis CMS digunakan data sekunder yang bersumber dari BPS dan UN. Untuk menganalisis kinerja manggis Indonesia di pasar dunia digunakan analisis Constant Market Share (CMS) untuk periode 2000-2009. Sementara untuk mengukur daya saing dilakukan dengan Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya saing manggis Indonesia di pasar internasional cenderung menurun. Hal ini diindikasikan oleh penurunan pangsa ekspor Indonesia di beberapa pasar tujuan ekspor. Hasil analisis PAM menunjukkan bahwa usahatani manggis di Sumatera Barat memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Untuk meningkatkan kinerja ekspor manggis Indonesia diperlukan upaya pencarian pasar dengan volume permintaan impor yang besar dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan permintaan dunia, serta memperbaiki pengelolaan usahatani manggis agar dapat dihasilkan buah manggis dengan kualitas yang lebih baik.
Transformasi Struktural Wanita Transmigran dan Kontribusinya terhadap Pendapatan Rumah Tangga: Kasus di Daerah Transmigrasi Sekitar Kotamadya Bengkulu Ketut Sukiyono; nFN Sriyoto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v16n1-2.1997.76-87

Abstract

This research was aimed at identifying motivation influencing off-farm economic activities of transmigrant women and studying their decision making pattern, investigating influencing factors of their structural transformation, and analyzing their contribution on family income. This research was conducted in ex-transmigration area around Kotamadya Bengkulu by interviewing 48 transmigrant women. The results showed that due to high family needs, looking for additional income, low farm income, leissure time utilizing, looking for experience, marginal farm land, small farm land, easeful transportation, transmigrant women are motivated to work out offarm. Women dominated in decision making in all aspects of off-farm woman activities. The results also showed that transmigrant women contribute 45.44 percent to the total family income.
Urea dan TSP di Indonesia dalam Analisis Permintaan Kuantitatif Johan Dharmawan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v1n2.1982.1-27

Abstract

IndonesianPola permintaan pupuk Urea dan TSP didekati dengan model-model ekonometrik yang mencari hubungan antara jumlah konsumsi pupuk Urea dan TSP dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pengetahuan yang baik mengenai faktor-faktor yang dapat memacu perluasan penggunaan pupuk beserta kendala-kendalanya akan berguna untuk mewujudkan pengembangan pemasaran pupuk yang efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa irigasi merupakan faktor yang dominan dalam menerangkan keragaman permintaan pupuk Urea dan juga pupuk TSP. Di samping itu, faktor irigasi memiliki elastisitas permintaan yang tinggi, yang memungkinkannya menjadi peubah (variabel) kebijaksanaan yang efektif. Untuk permintaan pupuk Urea, kontribusi keragaman faktor irigasi tercatat 56.47 persen dengan nilai elastisitas permintaan 63 persen (model 3). Untuk permintaan pupuk TSP, kontribusi faktor irigasi tercatat 39.62 persen dengan nilai elastisitas permintaan 54 persen (model 2). Perbaikan dan perluasan areal irigasi akan memungkinkan peningkatan areal intensifikasi Bimas dan lnmas yang nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea dan TSP. Faktor rasio harga pupuk terhadap harga padi, nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea dan TSP; demikian pula faktor tingkat pengetahuan teknis petani. Curah hujan musiman tidak nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea maupun pupuk TSP. Penelitian yang bersifat mikro dengan data primer disarankan dilakukan untuk melengkapi gambaran permintaan pupuk Urea dan TSP di Indonesia.
Abstrak Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris nFN nLN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Peran Jaringan Komunikasi Petani dalam Adopsi Inovasi Traktor Tangan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat Parlaungan Adil Rangkuti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v27n1.2009.45-60

Abstract

EnglishHand tractor utilization in Indonesia keeps growing as a result of a more limited time available for farming and shortage of animal and human resources for soil tillage. One of the farmers’ problems is that the process of innovation adoption of hand tractor remains low due to static role of farmers’ communication network. Carried out in Neglasari village (Bojongpicung Sub-district, Cianjur Regency of West Java province) this study shows that in the sociometric communication network, the interaction in innovation adoption of hand tractor tend to form open-shape, star-shape or circle-shape networks. Generally, communication is a two-way connection and dominated by public figures with a star role. Farmers’ communication network in relation to connectedness, diversity, integration, and openness value may be classified into middle and low category. Times needed by farmers to adopt technology innovation of hand tractor are as follows: innovators 31.4%, early adopters 23.7%, early majority 22.5%, late majority 11.2%, and laggards 11.2%. Regression analysis indicates that farm productivity has a positive influence on diversity value (0.017) and integration value (0.213), but has a negative influence on connectedness value (-0.472) and openness level (-0.642). Cost of land preparation has a positive effect on diversity level (0.162) and cosmopolitanism level (0.173) and has the highest contribution on communication network at the connectedness (0.204). Farm gate price of paddy has a negative effect on connectedness level (-0.067), but a positive influence on communication network at diversity level (0.087), connectedness level (0.040) and openness level (0.080). IndonesianPenggunaan traktor tangan di Indonesia terus meningkat karena makin terbatasnya waktu, serta tenaga kerja manusia dan ternak untuk mengolah lahan sawah. Salah satu permasalahannya adalah bahwa proses adopsi inovasi traktor tangan masih rendah karena peran jaringan komunikasi petani yang belum dinamis. Hasil penelitian yang dilakukan di Desa Neglasari (Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) ini menunjukkan bahwa dalam sosiometri jaringan komunikasi, interaksi komunikasi dalam adopsi inovasi traktor tangan membentuk jaringan yang cenderung terbuka, berbentuk bintang, atau roda. Pada umumnya hubungan komunikasi dilakukan dua arah dan sangat didominasi oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berperan sebagai star. Jaringan komunikasi petani dalam kaitannya dengan nilai keterkaitan, keragaman, kekompakan dan keterbukaan kelompok tani, secara umum masih tergolong sedang dan rendah. Waktu yang dibutuhkan petani untuk mengadopsi inovasi teknologi traktor tangan dengan kategori perintis mencapai 31,4 persen, pelopor 23,7 persen, mayoritas dini 22,5 persen, mayoritas lambat 11,2 persen, dan kolot 11,2 persen. Produktivitas lahan berpengaruh positif terhadap tingkat keragaman (0,017) dan tingkat kekompakan (0,213), tetapi berpengaruh negatif terhadap tingkat keterkaitan (-0,472) dan tingkat keterbukaan (-0,642). Biaya pengolahan lahan hingga siap tanam berpengaruh positif terhadap tingkat keragaman (0,162) dan tingkat kekosmopolitanan (0,173), dan mempunyai kontribusi terbesar terhadap jaringan komunikasi pada tingkat kekompakan dengan nilai nyata 0,204. Harga gabah di tingkat petani berpengaruh negatif terhadap keterikatan (-0,067), tetapi berpengaruh positif terhadap jaringan komunikasi dengan tingkat keragaman (0,087), kekompakan (0,040) dan tingkat keterbukaan (0,080).

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue