cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 173 Documents
Peran Amelioran Tanah Mineral Terhadap Peningkatan Berbagai Unsur Kesuburan Tanah Gambut pada Perkebunan Kelapa Sawit Suratman, Suratman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.21-32

Abstract

Abstrak. Kesuburan tanah merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan tingkat produktivitas lahan yang mendukung keberhasilan dalam pengelolaan lahan gambut di perkebunan kelapa sawit. Penggunaan lahan gambut di Indonesia akhir-akhir ini berkembang sangat pesat, tidak terkecuali untuk perkebunan kelapa sawit. Hal tersebut dipicu oleh semakin terbatasnya lahan potensial tanah mineral dan cukup luasnya lahan gambut terlantar/terdegradasi. Pengelolaan lahan gambut yang tidak tepat sering menimbulkan permasalahan. Selain isu lingkungan, degradasi lahan gambut merupakan permasalahan yang serius, khususnya terhadap kesuburan tanah. Pengelolaan lahan dengan menggunakan amelioran merupakan salah satu upaya untuk meningkakan produktivitas lahan gambut. Penggunakan amelioran tanah mineral telah dilakukan pada lahan gambut di areal perkebunan kelapa sawit. Berbagai kajian penggunaan amelioran tanah mineral pada lahan gambut dengan cara dihamparkan di sekitar lingkar pohon kelapa sawit dengan jarak 3 m dari pohon menunjukkan bahwa pemberian amelioran dengan dosis 100 kg pohon-1 atau setara dengan 13.600 kg ha-1 dapat meningkatkan kesuburan secara nyata. Semakin dekat ke kanal pemberian bahan amelioran semakin efektif berdampak pada peningkatan kesuburan tanah, pertumbuhan tanaman dan produksinya.
Peran Analisis Neraca Air untuk Perencanaan Pertanian di Kabupaten Konawe Selatan fathnur, Fathnur; Kunta, Thamrin; Musyadik, Musyadik
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.46-56

Abstract

Abstract. Water is a natural resource that has various functions for both potable water and economic activities such as industry, agriculture and tourism. The availability of groundwater, which mostly comes from rainfall, is an important limiting factor for increasing plant production. The concept of the environmental hydrological cycle (for example in a watershed) states that the amount of water somewhere on the earth surface is influenced by the amount of water that enters / absorbs (input) and leaves (output) at a certain time. The balance of water input and output at a certain area is known as water balance. Water balance is a method that can be used to see the availability of groundwater for plant at a certain time. One of the procedures for calculating the water balance is based on the Thornthwaite and Mather (1957) method. Water balance calculation needs to be done in every agricultural planning in line with climate change. The purpose of this paper is to examine the use of a general water balance for agricultural planning in Konawe Selatan District, Southeast Sulawesi Province. Abstrak. Air merupakan sumberdaya alam yang memiliki beragam fungsi baik sebagai konsumsi air bersih maupun kegiatan perekonomian seperti industri, pertanian, dan pariwisata. Ketersediaan air tanah yang sebagian besar berasal dari curah hujan merupakan factor pembatas yang penting bagi peningkatan produksi suatu tanaman. Konsep siklus hidrologi lingkungan menyatakan bahwa jumlah air disuatu luasan tertentu di permukaan bumi dipengaruhi oleh besarnya air yang masuk/meresap (input) dan keluar (output) pada jangka waktut ertentu. Neraca  masukan dan keluaran air disuatu tempat dikenal sebagai neraca air (waterbalance). Neraca air merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk melihat ketersediaan air tanah bagi tanaman pada waktut ertentu. Salah satu prosedur perhitungan neraca air adalah berdasarkan metode Thorntwaite dan Mather (1957) dengan satuan tinggi air (mm). Tujuan dari penulisan makalah ini adalah menelaah penggunaan neraca air umum untuk perencanaan pertanian berdasarkan hasilpenelitian di Kecamatan Lamooso Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.   
Alternatif Teknik Konservasi Tanah untuk Kawasan Budidaya Sayuran di Lahan Kering Dataran Tinggi Beriklim Basah Haryati, Umi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.33-46

Abstract

Abstrak. Kawasan budidaya sayuran di lahan kering dataran tinggi beriklim basah terletak pada ketinggian diatas 700 m dpl, topografi datar-berombak sampai bergunung dengan kemiringan > 25%, curah hujan 2.000 – 4.500 mm tahun-1 dengan jenis tanah Andisol, Inceptisols, Ultisols, Oxisols, dan Entisols. Luas lahan kering beriklim basah ini mencapai 31.715.064 ha atau 21,95% dari luas lahan kering di Indonesia. Kawasan ini pada umumnya diusahakan secara intensif dengan tanaman sayuran bernilai ekonomi tinggi dalam pola tanam monokultur dan atau tumpangsari dengan berbagai macam tanaman sayuran. Pola tanam yang biasa dilakukan petani sangat bervariasi secara spasial maupun temporal. Areal ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra produksi sayuran dataran tinggi, namun usahatani sayuran di kawasan ini sangat rawan erosi, sehingga teknik konservasi tanah mutlak diperlukan. Di lain pihak, petani di kawasan ini belum sepenuhnya menerapkan kaidahkaidah konservasi tanah yang baik pada sistem usahataninya. Makalah ini mengemukakan alternatif teknik konservasi tanah dan air yang dapat diterapkan di kawasan budidaya sayuran dataran tinggi beriklim basah berdasarkan: efektivitas teknik pengendalian erosi, hasil tanaman, efisiensi usahatani serta persepsi dan preferensi petani terhadap teknik konservasi tanah di dataran tinggi beriklim basah. Berdasarkan hal tersebut, maka alternatif teknik konservasi tanah yang dapat diimplementasikan pada kawasan budidaya sayuran di lahan kering dataran tinggi beriklim basah adalah : 1) teras bangku, dilengkapi dengan tanaman penguat teras; 2) bedengan searah lereng pada teras bangku miring; 3) bedengan searah kontur pada teras bangku miring; 4) bedengan searah lereng, dipotong gulud per 5 m panjang lereng; 5) bedengan searah lereng, dipotong gulud dan rorak per 5 m panjang lereng; 6) bedengan searah kontur; dan 7) bedengan searah kontur + mulsa plastik/jerami.
Potensi Ketersediaan Lahan untuk Peningkatan Produksi Padi di Provinsi Riau Nurhayati Nurhayati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.%p

Abstract

Padi merupakan komoditas strategis, ekonomis, bahkan politis yang menjadi barometer kehidupan politik dan ekonomi bagi masyarakat. Kebutuhan beras di Provinsi Riau meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, di sisi lain penciutan luas lahan sawah, penurunan tingkat kesuburan tanah, penurunan kapasitas suplai air irigasi, dan peningkatan serangan OPT. Hingga saat ini Provinsi Riau baru mampu memenuhi sekitar 43% kebutuhan beras dari kebutuhan sebesar 670 ribu ton beras. Produksi padi yang rendah disebabkan pemanfaatan lahan yang belum optimal. Berkaitan dengan ketersediaan lahan, peningkatan produksi padi di provinsi ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan pasang surut, lahan irigasi, lahan kering dan lahan perkebunan kelapa sawit dan karet yang belum menghasilkan dan akan diremajakan melalui intensifikasi tanam dan ekstensifikasi tanam. Optimalisasi pemanfaatan lahan diperkirakan dapat meningkatkan produksi padi Provinsi Riau sebesar 2.514.756 ton gabah atau sekitar 1.559.149 ton beras. Tujuan dari makalah ini adalah memberikan informasi kepada pengambil kebijakan pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi padi di Provinsi Riau mengenai potensi lahan yang tersedia dan perkiraan peningkatan produksi padi.
Pengendalian Degradasi Lahan di DAS Citarum Hulu dan Tengah di Provinsi Jawa Barat Ishak Juarsah
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.47-57

Abstract

Abstrak. DAS Citarum hulu berawal dari hulu sungai pada lereng G. Wayang (Danau Cisanti), di wilayah Desa Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung sampai ujung waduk Saguling; dan DAS Citarum tengah meliputi wilayah tangkapan air waduk Saguling-Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur. Di kawasan DAS ini, area seluas 14.907 ha (2,6%) telah terdegradasi berat, 49.827 ha (8,6%) terdegradasi sedang, 307.743 ha (52,9%) terdegradasi ringan. Erosi tanah, pencemaran kimia dan residu limbah industri sebagai faktor pemicu terjadinya lahan terdegradasi di DAS Citarum yang akhirnyasebagian lahan berlereng menjadi kritis.Lahan terdegradasi dan lahan kritis bukan saja merupakan lahan yang tidak produktif, tetapi juga dapat menjadi sumber bencana, mulai dari banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Meluasnya lahan terdegradasi akan berakibat terhadap semakin parahnya kerusakan lingkungan, yang mendorong terjadinya bencana alam semakin tinggi dan lahan pertanian menjadi tidak produktif. Upaya perlindungan lahan yang mendesak untuk segera ditangani dalam usaha pemulihan lahan terdegradasi antara lain: pengendalian degradasi lahan di daerah tangkapan hujan (water catchment area); dan pengendalian konversi lahan terutama di kawasan lahan berhutan/tanaman tahunan menjadi lahan pertanian/non pertanian. Lahan pertanian juga perlu dilindungi terhadap pencemaran kimia dan limbah industri. Perlu mendorong dan membantu petani untuk pengendalian erosi tanah seperti pembuatan teras bangku, gulud, strip rumput, mulsa, dan pertanaman lorong. Selain itu perlu mengupayakan implementasi teknik panen hujan dan aliran permukaan secara optimal untuk konservasi tanah air dan meningkatkan kapasitas/daya tampung DAS, sehingga selama musim kemarau tampungan air tersebut dapat digunakan sebagai sumber irigasi ataupun berfungsi untuk mempertahankan kelembaban tanah. Pemulihan tanah yang telah terkena pencemaran bahan kimia dan limbah industri dapat dilakukan dengan aplikasi bahan organik yang bermanfaat untuk meng-imobiliasi logam berat di tanah. Seiring dengan mengemukanya isu lingkungan dan kesehatan, maka pembangunan pertanian berkelanjutan di kawasan DAS hulu dan tengah adalah pembangunan pertanian yang mengkombinasikan teknologi tradisional dengan teknologi modern, yaitu memacu kenaikan produksi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Cover JSDL No 15 Vol.1 2021 Laelatul Qodaryani, S. Kom
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover
Cover JSDL Edisi Khusus 2016 Laelatul Qodaryani, S. Kom
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.%p

Abstract

Cover JSDL Edisi Khusus 2016
Kerentanan Sub-Sektor Tanaman Pangan Terhadap Perubahan Iklim Woro Estiningtyas
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 3 (2016): (Edisi Khusus)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n3.2016.7-20

Abstract

Abstrak. Sub-sektor tanaman pangan sangat rentan dipengaruhi oleh perubahan iklim. Makalah ini menyajikan tinjauan tentang kerentanan sub sektor tanaman pangan terhadap perubahan iklim. Pembahasan meliputi konsep kerentanan, faktor-faktor penentu tingkat kerentanan, keragaan dan tingkat kerentanan pangan Nasional serta arah dan strategi mengurangi tingkat kerentanan pangan. Tingkat kerentanan dinilai berdasarkan tiga parameter yaitu sensitivitas, keterpaparan dan kapasitas adaptasi, sedangkan tren bencana dan iklim masuk sebagai ancaman dan risiko. Peta yang disusun terdiri atas peta kerentanan pangan dan peta risiko iklim. Penggabungan kedua komponen tersebut akan membentuk peta kerentanan pangan dan risiko iklim. Beberapa instansi telah menyusun peta kerentanan berdasarkan tujuan dan target yang ingin dicapai, seperti Badan Ketahanan Pangan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Peta kerentanan pangan dan risiko iklim yang disusun oleh Badan Litbang Pertanian telah memperhitungkan aspek sumberdaya lahan, iklim dan air. Berdasarkan keragaan dan tingkat kerentanan pangan Nasional, sebagian besar provinsi di Indonesia masih berada pada tingkat kerentanan sedang, tinggi, dan sangat tinggi, sementara untuk tingkat kerentanan rendah dan sangat rendah masih sangat terbatas. Tingkat kerentanan dapat diturunkan melalui upaya adaptasi. Faktor determinan yang dihasilkan dari setiap tingkat kerentanan akan menjadi titik tolak utama dalam menyusun rekomendasi adaptasi.
Membuat Peta Tanah dengan Teknik Disagregasi Spasial Yiyi Sulaeman; Husnain Husnain
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.59-73

Abstract

Peta tanah merupakan informasi spasial dasar untuk perencanaan dan praktek pengelolaan lahan dan lingkungan. Informasi spasial tanah yang detil, terkini, dan kontekstual diperlukan dalam waktu yang tepat yang dapat disediakan melalui penerapan pendekatan digital soil mapping (DSM) berdasarkan data tanah warisan.  Pemanfaatan teknologi DSM perlu disesaikan dengan kondisi infrastruktur data setempat. Tulisan ini membahas tentang teknik disagregasi spasial untuk membuat peta tanah dan mengevaluasi tantangan penerapannya di Indonesia. DSM merupakan subdisiplin ilmu tanah yang paling aktif menghasilkan produk riset. Salahsatu teknik DSM yang diterapkan diberbagai tempat adalah teknik Disagregasi Spasial. Teknik ini bekerja di wilayah yang mempunyai peta tanah baik meliputi seluruh wilayah atau sebagiannya dan memisahkan sub-sub poligon suatu satuan peta tanah menjadi bagian-bagian yang lebih detil. Aneka algoritma disagregasi spasial sudah banyak dikembangkan dan bemanfaat digunakan di wilayah Indonesia khususnya untuk pendetilan peta, penyelerasan batas peta, dan pembuatan peta di wilayah baru menggunakan hubungan tanah-lanskap dari wilayah lain. Aneka alat bantu dikembangkan yang dapat mempercepat dan mempermudah implementasi disagregasi spasial di lapangan. Kasus-kasus terpilih juga disajikan dan didiskusikan. Dengan meningkatkan kapasitas dan penelitian, implementasi teknik akan menyediakan algotiruma yang lebih jitu yang pada saat bersamaan menambah informasi spasial tanah.  
Polusi Tanah dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Manusia Amin, Mirawanty
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n1.2021.36-45

Abstract

Abstrak.  Polusi tanah merupakan masalah lingkungan yang sering dihadapi. Polusi tanah mengacu pada keberadaan bahan kimia atau zat yang hadir dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari batas normal serta memiliki dampak negatif pada makhluk hidup dan lingkungan. Sumber polusi tanah diantaranya berasal dari kegiatan pertambangan, limbah rumah tangga, kegiatan pertanian dan masih banyak lagi. Apabila tidak dilakukan tindakan pencegahan atau remediasi dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, terutama bagi kesehatan manusia. Berbagai macam metode remediasi dapat dilakukan dengan metode berbasis sains, seperti peningkatan aktivitas mikroba (bioremediasi) dan penggunaan vegetasi untuk menghilangkan kontaminan (fitoremediasi). Metode ini dianggap dapat menjadi teknik pengendalian tanah tercemar karena mudah dan ekonomis untuk dilakukan.  Tindakan pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pestisida nabati.  Arang aktif dapat juga digunakan untuk mengatasi masalah polusi tanah akibat residu pestisida. Arang aktif diketahui memiliki daya serap yang tinggi terhadap pencemar residu pestisida.  Diharapkan tulisan ini dapat memberikan informasi tentang polusi tanah dan dampaknya terhadap kesehatan manusia serta tindakan pencegahannya.