cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 173 Documents
Implementasi Teknologi Mendukung Peningkatan Indeks Pertanaman Jagung di Kabupaten Muaro Jambi Primilestari, Suci; Purnama, Hendri; Purnamayani, Rima; Estiningtyas, Woro
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.75-88

Abstract

Kabupaten Muaro Jambi memiliki potensi lahan dan air untuk peningkatan IP (Indeks Pertanaman) khususnya komoditas jagung dengan potensi lahan kering seluas 85.540 ha.  Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan inovasi teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan indeks pertanaman pada lahan kering.  Tulisan ini bertujuan mengkaji potensi, ketersediaan teknologi, serta tantangan dan solusi dalam upaya meningkatkan IP jagung di lahan kering Kabupaten Muaro Jambi.  Potensi di Muaro Jambi untuk meningkatkan IP yaitu potensi iklim dengan curah hujan yang cukup rendah, potensi  sumberdaya lahan yang sesuai untuk tanaman jagung berdasarkan arahan peta pewilayahan komoditas dan potensi tanam berdasarkan Kalender Tanam (Katam).  Untuk mendukung potensi dan tujuan peningkatan IP Jagung di Kabupaten Muaro Jambi, telah diidentifikasi ketersediaan teknologi diantaranya Varietas Unggul Baru Jagung Hibrida, pengaturan pola dan waktu tanam berdasarkan Sistem Informasi Katam dan teknologi pengelolaan air yang membutuhkan introduksi infrastruktur panen dan hemat air.  Tingkat adopsi teknologi petani merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi upaya peningkatan IP di Kabupaten Muaro Jambi. Kendala tingkat adopsi oleh petani dalam penerapan teknologi untuk meningkatkan IP, dapat diatasi dengan sosialisasi inovasi teknologi pendukung peningkatan IP, pendekatan sosial budaya kepada petani, penyuluhan dengan berbagai media dan metode diseminasi yang sesuai membangun kelembagaan serta pendampingan implementasi teknologi. Implementasi peningkatan indeks pertanaman harus dilihat secara komprehensif, dengan mempelajari permasalahan yang ada, melihat potensi dan peluang serta  kemudian menyampaikan solusi dan manfaat kepada petani.
BIOCHAR-KOMPOS BERBASIS LIMBAH KELAPA SAWIT: Bahan Amandemen untuk Memperbaiki Kesuburan dan Produktivitas Tanah Di Lahan Rawa Wahida Annisa
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.103-116

Abstract

Umumnya untuk mengurangi toksisitad baik Al3+dan Fe2+ di lahan rawa dengan pengapuran, namun ini bukan solusi yang tepat karena tidak untuk jangka Panjang, karena pengapuran hanya menyembuhkan gejalanya saja.  Penambahan bahan amandemen tanah seperti bahan organic dan kompos merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan di lahan rawa.  Pesatnya perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia, mengakibatkan semakin besar juga limbah biomassa yang di hasilkan.  Tandan buah kosong kelapa sawit merupakan limbah terbesar yang dihasilkan dari perkebunan sawit dibandingkan dengan limbah kelapa sawit lainnya seperti cangkang sawit.  Pengelolaan biomassa tandan buah kosong kelapa sawit dalam jumlah besar dengan metode konvensional seperti penimbunan lahan dan pembakaran di pabrik akan menimbulkan masalah dampak lingkungan yang serius.  Pengomposan dan mengubah menjadi biochar menjadi salah satu alternatif untuk pengelolaan limbah yang menghasilkan amandemen tanah untuk memperbaiki kesuburan tanah rawa dan produktivitas serta memulihkan daerah yang terkontaminasi dengan logam yang berpotensi beracun.  Paper ini menggunakan metode sistematik review yang merangkum hasil-hasil penelitian primer.  Tujuan penulisan paper ini adalah: mensintesis seluruh hasil penelitian secara kualitatif untuk menggali potensi biochar dan kompos sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan kesuburan dan produktivitas tanah di lahan rawa. Kata Kunci: biomassa kelapa sawit, unsur toksik, dekomposisi, pirolisis, sifat kimia
Pengembangan Teknologi Panen Air untuk Memenuhi Kebutuhan Domestik Nani Heryani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.117-129

Abstract

Kelangkaan air secara global terjadi antara lain karena pertumbuhan penduduk yang tinggi, persaingan penggunaan air, dan perubahan iklim global. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini antara lain pemanfaatan sumber air alami berupa air hujan. Teknologi yang sudah ada sejak masa lalu sudah diaplikasikan secara luas di berbagai negara, namun di Indonesia belum diaplikasikan secara luas. Teknologi sederhana ini dapat dilakukan pada wilayah dengan curah hujan rendah sampai tinggi, baik di perkotaan maupun pedesaan. Aplikasi teknologi panen air hujan untuk keperluan domestik semakin bermanfaat jika terjadi anomali iklim (El-Nino) dan pada saat defisit air. Rancangan panen air untuk keperluan domestik harus memperhitungkan kebutuhan dan ketersediaan air serta kemampuan teknis dan keuangan. Peran aktif masyarakat dalam perancangan dan pemeliharaan sangat penting untuk keberlanjutan pengembangan teknologinya.
Cover JSDL No 15 Vol.2 2021 Qodaryani, S. Kom, Laelatul
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover JSDL No 15 Vol.2 2021
Environmentally Friendly Agricultural Development Sutriadi, Mas Teddy; Wihardjaka, A.; Harsanti, E. Srihayu; Pramono, Ali
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v15n2.2021.89-102

Abstract

Abstract.  Environmentally friendly agriculture is an agricultural system that manages all resources and inputs of the agricultural system to achieve optimal productivity and economic benefits, but has a low risk of resource and environmental sustainability, as well as global warming/climate change. Environmentally friendly implementation strategies lead to synergy and integration between technologies, optimization of resources and production inputs which are carried out through three approaches, namely: (1) Anticipation, adaptation, and mitigation approaches in the context of global warming and climate change, (2) Mitigation approach, countermeasures, and remediation in the context of edhapik and biological environments, and (3) Land remediation approach in the context of degradation and pollution of land, air and ecosystem resources due to excessive use of agrochemicals. Support for research activities and development of adaptation, mitigation and remediation strategies for the restoration of polluted land is expected to increase the economy while producing healthy agricultural products and environment. Various regulations and policies for implementing a sustainable agricultural environment, socialization and implementation in the field must be supported by an agricultural environment information system that is easily accessed by users.
Strategi Peningkatan Produktivitas Padi melalui Sistem Salibu Marpaung, David Septian Sumanto
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 16, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi Pada Bulan Juli
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v16n1.2022.1-7

Abstract

Beras merupakan makanan utama bagi masyarakat Indonesia. Kebutuhan akan beras, melalui tanaman padi meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia. Namun, ketersediaan lahan untuk bercocok tanam, terus berkurang dari tahun ke tahun. Sistem salibu merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan untuk peningkatan produktivitas padi yang efektif dan ramah lingkungan. Berbagai macam strategi untuk mendukung sistem salibu dalam peningkatan nilai produksi tanaman padi telah diterapkan, diantaranya perlakuan waktu pemotongan tunggul, perlakuan tinggi pemotongan tunggul, manajemen air, penggunaan pupuk, dan penggunaan varietas unggul. Melalui tulisan  ini diharapkan  dapat  memberikan  informasi  tentang  sistem salibu padi  dan strategi peningkatan produktivitasnya.
Best Practices Pengelolaan Air Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut Rima Purnamayani; Ai Dariah; Haris Syahbuddin; Suria Darma Tarigan; Sudradjat Sudradjat
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 16, No 1 (2022): Akan Terbit Resmi Pada Bulan Juli
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v16n1.2022.9-21

Abstract

Alih fungsi hutan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit seringkali menimbulkan isu lingkungan.  Budidaya kelapa sawit di lahan gambut membutuhkan drainase untuk menurunkan kedalaman muka air tanah sampai batas tertentu. Tulisan ini ditujukan untuk memberikan informasi dan menelaah best practices pengelolaan air pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut untuk mencapai pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.  Pengelolaan air merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan lahan gambut sehingga diperoleh produktivitas lahan yang optimal, namun mampu mempertahankan kelestarian sumber daya lahan gambut.  Produktivitas kelapa sawit di lahan gambut bervariasi tergantung umur tanaman, kesuburan lahan, dan kedalaman muka air tanah. Best practices pengelolaan air berbasis kearifan lokal menjadi dasar pengelolaan air pada skala lebih luas.  Best practices pengelolaan air di perusahaan perkebunan besar sudah memperhitungkan rancangan drainase secara lebih presisi, menggunakan metode pembendungan menggunakan pagar kayu, tiang pancang, karung berisi pasir dan dinding batu.  Pengelolaan air yang harus diimplementasikan pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut adalah pengelolaan air yang berfungsi ganda, yaitu untuk membuang kelebihan air pada musim hujan dan konservasi air pada musim kemarau. Best practices pengelolaan air pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut harus memperhitungkan aspek berkelanjutan, yaitu dengan memperhatikan aspek ekologi, sosial dan ekonomi.  
Reclamation of Ex-Mining Land for Agricultural Extensification AI DARIAH; A. ABDURACHMAN; DJADJA SUBARDJA
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v4n1.2010.%p

Abstract

Utilization of ex-mining land for agricultural extensification is an opportunity to solve the problem of food and environment. This paper discusses prospective utilization of ex-mining land for agricultural extensification. Mining area equipped with a business license for mining in Indonesia is around 2.2 million ha under Coal Concession Agreement, and 2.9 million ha under the Contract of Effort. A part of land is already finished being mined, and be managed properly in order to benefit the community and not damage the environment. The initial steps that need to be done is mapping of mined lands, included a status of ownership (land tenure), so that subsequent use of both for agriculture and other businesses can be sustainable. Land reclamation is necessary to increase capacity and efficiency for biomass production. Determination of land use types, should be based on land tenure, bio-physical conditions of land, and the needs of the community or local government. In the future, mining land management requirements is not enough simply by opening a feasibility study for mining operations, but need to be accompanied also with itsclosure plan (planning of closures), which includes environmental protection and mitigation of socio-economic problems. This needs to be one of the terms of the granting of mining permits.
Peranan Bahan Organik dalam Sistem Integrasi Sawit-Sapi Husnain Husnain; Dedi Nursyamsi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Sistem integrasi sawit-sapi merupakan salah satu program diversitas usaha tani. Dengan total luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 10,46 juta ha, sistem integrasi sawit-sapi merupakan alternatif terbaik untuk mencapai target swasembaga pangan terutama daging sapi melalui optimalisasi penggunaan lahan dengan memanfaatkan limbah tanaman sawit dan industri sebagai sumber pakan ternak. Sumber pakan ternak untuk usaha penggemukan, pembibitan dan sapi potong dapat berasal dari cover crop bila tersedia, sekitar 30-65% dari pelepah sawit, 10-70% bungkil inti sawit, dan 20-35% bahan non sawit. Sementara itu limbah ternak sapi, biogas, limbah tanaman kelapa sawit (pelepah, daun sawit, dan sisa pohon) dan limbah industri kelapa sawit (tandan buah kosong, dried decanted sludge, palm oil mill effluent dan fly ash) dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik yang dapat meningkatkan kesuburan dan kualitas tanah. Bahan organik sangat diperlukan dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Disamping itu sistem integrasi sawit-sapi merupakan teknologi adaptif dan mitigatif terhadap perubahan iklim dengan aplikasi sistem biogas maka diperoleh energi gas untuk keperluan rumah tangga dan industri sekaligus mampu menurunkan emisi gas methane. Paper ini merupakan review hasil-hasil penelitian integrasi tanaman-ternak berbasis kelapa sawit terutama informasi potensi sumber bahan organik yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.Abstract. Integrated crop-livestock based oil palm is an example of diversity in agricultural system. With a total area of oil palm plantations reached 10.46 million ha, very potential to support integrated crop-livestock farming systems. The main target in developing this systems is to achieved food i.e beef self sufficiency through land optimalization and by using plant residue and oil palm industry waste for cattle feed. The cattle feed sources for beef meat production and breeding could be from cover crop if available, 30-65% fronds, 10-70% palm kernel cake and 20-35% non palm sources. In other side, various waste material such as manure, biogas sludge, plant residue (fronds, palm leaves and trunk) and industrial waste (empty fruit bunches, solid waste, dried decanted sludge, palm oil mill effluent and fly ash) are potential source of organic matter. Organic matter is important in improving soil fertility and quality. Besides, integrated crop-livestock based oil palm farming system is also found as an adaptive technology to cope climate change. Biogas installation as a component in this systems able to reduce methane emission. The energy produce through biogas installation in this system can be used for household and industry and able to reduce methane emissions. This paper reviews the results of research of integration crop-livestock based oil palm aims to provide information focused on potential sources of organic matter produced which useful to improve the biological, physical and chemical properties of soil. 
Reklamasi Lahan Bekas Tambang Timah Berpotensi sebagai Lahan Pertanian di Kepulauan Bangka Belitung asmarhansyah asmarhansyah; Rahmat Hasan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v12n2.2018.73-82

Abstract

Abstrak. Lahan bekas tambang timah berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai areal pertanian dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan dan mengatasi persoalan lingkungan pasca penambangan. Tujuan makalah ini adalah untuk mengkaji upaya reklamasi lahan bekas tambang timah untuk dijadikan areal pertanian di Kepulauan Bangka Belitung. Luas seluruh izin usaha penambangan (IUP) yang telah diterbitkan oleh pemerintah pusat dan daerah dan dimiliki oleh perseroan di darat sebesar 327.524 ha, sedangkan luas IUP di laut 183.837 ha. Aspek biofisik lahan sangat menentukan keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang timah. Pemanfaatan lahan bekas tambang timah sebagai areal pertanian menemui sejumlah kendala biofisik lahan, seperti bentang lahan (lanskap) yang tidak beraturan, hilangnya lapisan atas tanah (top soil), rendahnya status kesuburan tanah, dan terganggunya kualitas air kolong. Selain aspek biofisik, upaya reklamasi juga patut mempertimbangkan aspek sosial ekonomi, seperti status kepemilikan lahan, pengetahuan dan keterampilan petani, dan kelayakan biaya usaha tani. Penyimpanan tanah pucuk, penataan lahan, penggunaan amelioran, pengembangan Legume Cover Crops, implementasi Integrated Farming Systems, dan perbaikan kualitas air kolong di lahan bekas tambang timah diyakini mampu meningkatkan kualitas dan daya dukung lahan bekas tambang timah untuk areal pertanian. Reklamasi lahan bekas tambang timah juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, pemerintah daerah, dan perusahaan tambang timah. Kegiatan reklamasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat setempat untuk berusaha tani di lahan bekas tambang timah dapat dijadikan sebagai salah satu indikator keberhasilan reklamasi pasca penambangan.Abstract. Abandoned tin-mining lands have the potential to be used as agricultural areas in order to fulfill food demand and solve the environmental problems derived from mining activities. The purpose of this paper is to assess the reclamation measures on abandoned-tin mining areas which could be used as agricultural areas in Bangka Belitung Islands. The total areas of the mining business license (IUP) issued by the central and local government and owned by the company are 327,524 ha in inland and 183,837 ha in the sea. Biophysical aspects largely determines the success of reclamation of abandoned tin-mining areas. Utilization of abandoned-tin mining areas as agricultural areas is facing land biophysical constraints, such as undulating landscape, losses of top soil, low soil fertility status, and disruption of water quality of tin-mining pond. In addition to the biophysical aspects, reclamation efforts should also consider the socio-economic aspects, including land ownership status, knowledge and skills of farmers, and the feasibility of the cost of farming systems. Conservation of top soil, arrangement of land, development of legume cover crops, implementation of Integrated Farming Systems, and improvement of water quality in the area under the former tin mine are believed to improve the quality and carrying capacity of abandoned tin-mining areas to be used as agricultural areas. Reclamation of abandoned tin-mining areas also requires the active participation of the community, local government, and tin mining company. Reclamation activities that can provide benefits to local communities for farming in tin mined land can be used as one indicator of the success of the post-mining reclamation.