cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 173 Documents
PARAMETER IKLIM SEBAGAI INDIKATOR PERINGATAN DINI SERANGAN HAMA PENYAKIT TANAMAN Susanti, Erni; Surmaini, Elza; Estiningtyas, Woro
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.788 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v12n1.2018.59-70

Abstract

Abstract. Efek negatif pemanasan global akan mempengaruhi sebagian besar organisme hidup termasuk hama penyakit tanaman. Variabel iklim seperti suhu, curah hujan, kelembaban, dan atmosfer gas akan berinteraksi dengan makhluk hidup/tanaman dengan berbagai cara dengan mekanisme yang beragam. Perubahan suhu dan konsentrasi CO2 mempengaruhi mahkluk hidup/tanaman secara langsung dalam hal jaringan dan alokasi fotosintesis organ spesifik dan secara tidak langsung melalui perubahan distribusi geografis dan dinamika populasi hama penyakit tanaman. Peningkatan suhu akan menyebabkan serangga/hama menjadi lebih berlimpah, ada kaitan kuat antara ledakan (outbreak) hama penyakit tanaman dengan variabiltas iklim. Model hubungan parameter iklim dengan serangan hama penyakit tanaman dapat digunakan sebagai teknologi adaptasi peringatan dini untuk mencegah terjadinya serangan hama penyakit tanaman, agar kehilangan hasil tanaman dapat ditekan. Konsep tulisan ini adalah pentingnya membangun peringatan dini serangan OPT berbasis model persamaan iklim dengan serangan OPT, sehingga data prediksi iklim dapat dimanfaatkan, dan kehilangan hasil akibat serangan OPT dapat ditekan. Selain itu agar sistem dapat berkembang dan berkisinambungan pembangunan sistem peringatan dini perlu integrasi beberapa instansi terkait, yaitu Kementerian Pertanian dan Universitas sebagai penyusun model prediksi dan BMKG sebagai penyedia data prediksi iklimnya.
FARM SCALE NITROGEN BALANCES FOR TERRACED PADDY FIELD SYSTEMS SUKRISTIYONUBOWO, .; LIANG, GIJS DU
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.752 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v4n02.2010.%p

Abstract

Nitrogen balance at farm scale is not only important to refine the site specific nitrogen fertiliser application rate, but also to estimate how much nitrogen fertiliser should be provided every planting season at district level. The nitrogen fertiliser stock for the district can be calculated by multiplying the total planting areas with nitrogen fertiliser rate per hectare. The aims were to evaluate the nitrogen balance of terraced paddy field systems under conventional farmer practices and improved technologies during the wet season 2003-04 and dry season 2004 and to predict how much nitrogen fertiliser should be provided in every planting season for wetland cultivation in the Semarang district. The nitrogen input-output assessments were carried out in terraced paddy fields for the conventional farmer practices (CFP), conventional farmer practices + rice straw (CFP+RS), improved technology (IT), and improved technology + rice straw (IT+RS) treatments. Balances were computed based on the differences between input and output. Nitrogen originating from fertiliser (IN-1), recycled rice straw (IN-2), irrigation (IN-3), and precipitation (IN-4) were grouped as input. Nitrogen removal by rice grains (OUT-1) and rice straw (OUT-2) was considered as output. The input-output analyses showed negative nitrogen balances for all the treatments, both in the wet season 2003-04 and the dry season 2004. The more nitrogen deficit was observed when the nitrogen volatilisation was considered. The nutrient inputs, particularly coming from inorganic fertilisers, were not sufficient to replace the nitrogen removed by rice grains and straw. The application of only 50 kg of urea/ha/season with and without returning rice straw was not enough to reach the optimal yield and should be left out. To balance the nitrogen deficit and to improve cultural practices in wetland rice farming especially terraced paddy field system, about 200 -250 kg urea/ha/season is recommended when the ammonia volatilisation is not considered, where as when the ammonia volatilisation is taken into account about 250-300 kg urea/ha should be added. When the rice yield of 5.73 t/ha is targeted as reached in the IT+RS treatment even higher and the planting areas in the Semarang district is about 24.833 ha for the wet season, the amount of urea should be provided will be about 4.97-6.21 million tons/season/district, meanwhile for the dry season when about 18,440 ha wetland rice is expected to be cultivated is about 4.61 to 5.53 million tons urea/season/district should be available.
AMELIORASI BERBASIS UNSUR HARA SILIKA DI LAHAN RAWA Siregar, Adha; Annisa, Wahida
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.039 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v14n1.2020.37-47

Abstract

Abstrak. Unsur hara Silika (Si) memiliki peranan penting pada pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi. Tanaman padi menyerap Si dalam jumlah yang besar yaitu sekitar 10 kali N, 20 kali P, 6 kali K dan 30 kali Ca. Budidaya padi di lahan rawa memiliki beberapa faktor pembatas yang mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas padi diantaranya keracunan unsur toksik seperti Fe dan Al. Kadar unsur toksik terutama Fe di lahan rawa menyebabkan tanah menjadi masam, sehingga banyak tanaman yang tidak dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut. Kondisi ini dapat diatasi diantaranya dengan aplikasi Si, yang berperan menurunkan serapan Fe dan Al yang berada dalam kondisi toksik. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Si berpengaruh dalam menurunkan tingkat toksisitas Al dan Fe di tanah. Aplikasi Si sebagai amelioran mengurangi kandungan Fe pada permukaan akar padi serta menurunkan serapan Fe pada tanaman padi sawah melalui peningkatan kekuatan oksidasi akar. Lebih lanjut, aplikasi Si pada budidaya tanaman padi dapat meningkatkan hasil gabah sebesar 50,8%. Abtract. Silicon (Si) has an important role on rice crops growth and productivity. Rice crops absorbs enormous amount of Si as much as ten times of N, twenty times of P, six times of K and thirty times of Ca. Rice cultivation in swampland has several limiting factors such as Fe and Al toxicity. Fe toxicity could increase soil acidity in swampland. However, most plants could not adapt to this condition. Si application as soil ameliorant could be an option to overcome this problem. Si could reduce the toxicity level of Fe and Mn in soil. Previous research proved that Si could decrease Fe and Al toxicity. Si application as ameliorant could reduce Fe concentration in root zone which lead to decreasing Fe uptake through increasing oxidation capability of the root. Moreover, Si application could increase rice yield up to 50.8%..
TEKNOLOGI PENINGKATAN EFISIENSI PEMUPUKAN K PADA TANAH-TANAH YANG DIDOMINASI SMEKTIT Nursyamsi, Dedi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.385 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air, yaitu lebih dari 2,12 juta ha (Vertisol sekitar 2,12 juta ditambah Inceptisol dan Alfisol yang bersubgrup vertik). Tanah ini umumnya mengandung K total tinggi tapi hanya sebagian kecil K tanah dapat segera tersedia untuk tanaman sehingga efisiensi pemupukan K masih rendah. Makalah ini membahas beberapa teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan K pada tanah tersebut. Salah satu aspek penting dalam upaya peningkatan efisiensi pemupukan K adalah pemanfaatan K yang terdapat dalam tanah untuk mengurangi kebutuhan pupuk K yang harus ditambahkan dari pupuk. Cara ini cukup efektif terutama untuk tanah-tanah yang didominasi oleh mineral liat smektit karena umumnya tanah ini mengandung K total tinggi tapi tanaman masih tetap mengahadapi masalah kekahatan K. Penggunaan tanaman yang akarnya banyak mengeluarkan eksudat asam organik dan pupuk yang mengandung kation NH4+, Na+, dan Fe3+ merupakan teknologi yang sesuai dan efektif meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk K untuk tanah-tanah tersebut. ABSTRACT. Distribution of smectitic soils in Indonesia is quite large, i.e. more than 2.12 million ha consisting of about 2.12 million ha of Vertisols and some vertic subgroup of Alfisols and Inceptisols. The soils commonly contain high amount of total K, however it?s availability is still low so that the efficiency of K fertilizer in the soils is low as well. The paper discuss several technologies which could increase the efficiency of K fertilizer in smectitic soils. The use of potential K occuring in soils is one alternative to increase the efficiency of K in order to reduce K requirement from fertilizer. This attempt is quite effective for smectitic soils because they already contain high amount of total K but the plants still suffer K deficiency problem. Use of plants with their roots can produce a lot of organic acid exudates as well as fertlizer containing NH4+, Na+, and Fe3+ cations are the suitable and effective technologies to increase the efficiency of K fertilizer in smectitic soils. 
PEMETAAN POTENSI AIR TANAH UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING Heryani, Nani; Kartiwa, Budi; Sosiawan, Hendri
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1291.487 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v8n2.2014.%p

Abstract

Abstrak. Informasi potensi air tanah merupakan salah satu acuan yang sangat penting dalam pengelolaan air pada lahan kering baik untuk pemanfaatan aktivitas rumah tangga maupun untuk pengembangan pertanian. Sampai saat ini, metode atau survei geolistrik merupakan metode cepat dan penting untuk mempelajari dan menggambarkan kondisi akuifer di lahan kering. Teknik Vertical Electrical Sounding (VES) dipergunakan untuk menentukan potensi air tanah melalui dua elektroda arus yang diinjeksikan secara vertikal ke dalam bumi, dan sangat populer dalam studi air tanah karena tekniknya sederhana. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda tertentu, dapat ditentukan variasi nilai hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur (titik sounding). Perbedaan sifat kelistrikan batuan antara lain disebabkan oleh perbedaan karakteristik batuan (kerapatan, porositas, ukuran pori, bentuk), kandungan air, suhu, dan sebagainya. Hasil penelitian di beberapa agroekosistem lahan kering yang tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur memberikan informasi bahwa wilayah lahan kering tersebut memiliki air tanah dengan kategori sangat buruk sampai bagus dengan potensi debit antara <0,4 sampai 16,7 l detik-1. Peta potensi air tanah yang dihasilkan memberikan informasi tentang lokasi/titik pengamatan yang berpotensi untuk dilakukan pengeboran air tanah untuk digunakan sebagai sumber irigasi.Abstract. The information of groundwater potency is one of the most important reference in the water management on dry land for the utilization of household activities and agricultural development. Nowadays, the observation of geoelectrics has been utilized as quick and important exploring tool for studying and depicting the subsurface aquifer in arid areas. The Vertical Electrical Sounding (VES) technique was employed to determine the groundwater potential through two current electrodes vertically planted on the ground, and has proved very popular with groundwater studies due to simplicity of the technique. By measuring the resulting variations in electrical conductivity potential at other pairs of planted electrodes, it is possible to determine the variations in electrical conductivity of the layer at the VES?s point. It is based on measuring the contrast in electrical conductivity of the different rock units which is varying according to the rock nature (density, porosity, pore size and shape), water content and temperature. Result of the researches in several upland agroecosystem at Sumatera, Java, Bali, East and West Nusa Tenggara provided the information of groundwater potency. These upland areas have a groundwater potency between very poor to excellent categories, with potential discharge between <0,4 to 16,7 l sec-1. Groundwater potential maps provided the informations of the area which potential for groundwater drilling as a source of irrigation.
PELUANG DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI MODEL PERTANIAN KONSERVASI DI LAHAN KERING Rachman, Achmad
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.037 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.77-90

Abstract

Abstrak. Pertanian konservasi adalah salah satu alternatif model pada praktek pertanian di lahan kering yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas tanaman, efisiensi usahatani, dan kualitas lingkungan melalui perbaikan kualitas tanah. Tulisan ini membahas prospek penerapan pertanian konservasi untuk meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas lahan kering. Model pertanian konservasi lebih menekankan pada perbaikan kandungan bahan organik tanah melalui kombinasi 3 pendekatan yaitu olah tanah minimum, pemulsaan, dan pengaturan pola tanam. Introduksi model pertanian konservasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang umumnya lahan pertaniannya berskala sempit (<1 ha) dihadapkan pada masalah perkembangan gulma dan penurunan produktivitas pada fase awal implementasi, dan lahan yang tidak bersih sehingga berpotensi memicu munculnya hama dan penyakit tertentu. Namun demikian, model pertanian konservasi ini berpotensi untuk mengubah lahan kering terdegradasi atau tidak produktif menjadi lahan pertanian produktif dengan efisiensi usahatani yang tinggi. Dengan manfaat jangka panjang tersebut, maka implementasi pertanian konservasi di lahan kering, yang potensinya mencapai 29,4 juta ha, akan meningkatkan secara signifikan kontribusi lahan kering terhadap upaya mempertahankan swasembada pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani lahan kering. Diperlukan proses dan modifikasi untuk mengadaptasikan teknologi ini yang disesuaikan dengan karakteristik agroekosistem, konidisi sosial, dan ekonomi lokal setempat, sehingga berbagai kendala adopsi dapat diminimalisir dan manfaat dapat dioptimalkan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, diperlukan dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan, advokasi, dan bantuan input usahatani untuk meminimalisir resiko kerugian petani terutama pada tahap awal implementasi teknologi.Abstract. Conservation agriculture is an alternative model to agricultural practices in dryland which in the long term provides a number of benefits including an increase in crop productivity, farm input efficiency and environmental quality through the improvement of soil quality. This paper discusses the prospect for implementing conservation agricultural to improve soil quality and productivity of dryland. The conservation agriculture model emphasizes the improvement of soil organic matter content through a combination of 3 approaches, namely minimum tillage, mulching, and cropping pattern. Introduction of conservation agriculture into developing countries like Indonesia, which are generally small-scale farming (<1 ha), will face a number of obstacles caused by short-term and immediate shortcomings of the technology. These shortcomings include weed development and productivity decline in the early phase of implementation, and the potential to trigger the emergence of certain pests and diseases due to unclean land. However, the practice has the potential to transform degraded or unproductive drylands into more efficient and productive agricultural land. With those long-term benefits of conservation agriculture, its implementation to 29.4 million ha of dryland of Indonesia will boost significantly the contribution of dryland agriculture in sustaining national food self sufficiency and improving the welfare of dryland farmers. Processes and modifications are needed to adapt this practice to suit local agroecosystem, social and local economic characteristics so that various adoption constraints can be minimized and short-term and long-term benefits can be optimized. In addition, government supports are needed in the form of training, advocacy and farm inputs subsidies to minimize the risk of loss of farmers especially in the early stages of technology implementation.
PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING IKLIM KERING MELALUI IMPLEMENTASI PANCA KELOLA LAHAN Heryani, Nani; Rejekiningrum, Popi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.287 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v13n2.2019.63-71

Abstract

Abstrak. Wilayah lahan kering beriklim kering pada umumnya memiliki curah hujan rendah kurang dari 2000 mm/tahun. Keterbatasan air dan kesuburan tanah yang rendah menjadi kendala dalam pengembangan lahan jenis ini. Selain itu kondisi lahan pada umumnya berbukit dan bergunung dengan solum tanah dangkal dan berbatu. Salah satu upaya peningkatan produktivitas lahan ini adalah melalui aplikasi panca kelola lahan kering iklim kering guna mendukung swasembada pangan, meliputi: pengelolaan air; pemupukan berimbang; pengelolaan bahan organik, ameliorasi dan konservasi tanah; integrasi tanaman ternak; dan penguatan kelembagaan tani. Produktivitas lahan dan indeks pertanaman yang rendah di lahan kering iklim kering memungkinkan untuk ditingkatkan melalui pemberian irigasi suplemen. Sumber irigasi suplemen dapat berasal dari bangunan panen air berupa embung, dam parit, long storage, pemanfaatan air sungai, air tanah dangkal dan dalam. Aplikasi irigasi hemat air bagi tanaman sangat diperlukan pada kondisi air terbatas. Pemupukan berimbang dengan teknologi nano; pengelolaan hara terpadu yang mengkombinasikan pupuk anorganik dengan pupuk organik dan pupuk hayati; pemanfaatan limbah tanaman untuk pakan ternak dan sebaliknya kotoran ternak untuk bahan organik bagi tanaman; serta pendampingan dan pembinaan kelembagaan secara intensif perlu dilakukan untuk keberlanjutan pertanian lahan kering iklim kering. Abstract. Dryland with dry climate areas generally characterized by low rainfall of less than 2000 mm/year. Water limitations and low soil fertility become obstacles in the development of this type of land. In addition, land conditions are generally have a hilly and mountainous area, shallow solum and rocky soil. One of the efforts to increase land productivity is through the application of five land management of dry land with dry climate area to support food self-sufficiency, such as: water management; balanced fertilization; organic matter management, amelioration and soil conservation; livestock crop integration; and strengthening farmer institutions. Low land productivity and cropping index in dry land with dry climate area makes it possible to increase through the aplication of supplementary irrigation. Sources of supplement irrigation were come from water harvesting infrastructures such as water reservoir, channel reservoir, long storage, river water utilization, shallow and deep ground water. Water saving irrigation are very necessary in limited water conditions. Balanced fertilization with nano technology; integrated nutrient management that combines inorganic fertilizers with organic fertilizers and biological fertilizers; utilization of crop waste for animal feed and vice versa livestock manure for organic material for plants; and intensive institutional assistance and guidance, needs to be carried out for the sustainability of dry land with dry climate agriculture.
SISTEM INFORMASI KALENDER TANAM TERPADU: STATUS TERKINI DAN TANTANGAN KEDEPAN Runtunuwu, Eleonora; Syahbuddin, Haris; Ramadhani, Fadhlullah; Pramudia, Aris; Setyorini, Diah; Sari, Kharmila; Apriyana, Yayan; Susanti, Erni; Haryono, Haryono; Setyanto, Prihasto; Las, Irsal; Sarwani, Muhrizal
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (922.175 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v6n2.2012.%p

Abstract

Abstrak. Penetapan waktu tanam yang tepat merupakan salah satu penentu keberhasilan panen dan peningatan produktifitas tanaman pangan. Kearifan lokal dan cara konvensional yang digunakan untuk menerapkan pola tanam telah mengalami bias akibat pergeseran awal musim tanam. Untuk memandu penyuluh dalam menyesuaikan waktu dan pola tanam, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mengembangkan Sistem Kalender Tanam Terpadu untuk menjawab permasalahan mendasar terkait dengan pengamanan dan peningkatan produksi beras nasional menghadapi varibilitas dan perubahan iklim. Makalah ini bertujuan untuk memaparkan perkembangan sistem informasi kalender tanam terpadu berbasis web pada level kecamatan untuk seluruh Indonesia. Sistem ini dibangun dengan mengintegrasikan tiga sub-sistem, yaitu sub-sistem data, model dan pencarian, yang dapat diakses melalui alamat litbang.deptan.go.id. Informasi utama yang diperoleh dari sistem ini adalah estimasi awal waktu tanam tanaman padi untuk musim tanam yang akan datang. Selain itu, pengguna dapat memperoleh informasi wilayah yang rawan terkena bencana seperti kekeringan, banjir dan serangan organisme pengganggu tanaman. Informasi lain adalah rekomendasi teknologi berupa pupuk, varietas, dan kebutuhan benih yang perlu disiapkan pengguna sebelum masuk periode musim tanam tersebut. Oleh karena itu, sistem ini perlu diperbaiki minimal tiga kali setahun pada setiap awal musim tanam untuk seluruh kecamatan di Indonesia. Tantangan pengembangan sistem kalender tanam terpadu ke depan adalah: (1) pemanasan global mengakibatkan iklim yang sulit diprediksi dan mempengaruhi akurasi estimasi awal waktu tanam, (2) penurunan produktivitas dan produksi yang tentunya membutuhkan informasi inovasi teknologi yang makin kompleks, serta (3) alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian yang mengakibatkan pengurangan luas baku sawah. Pemeliharaan dan pengembangan sistem ini tetap diperlukan, untuk meningkatkan kualitas data maupun informasi agar semakin memenuhi kebutuhan pengguna.Abstract. The accuracy in determining time of planting is one of determining factors in securing good harvest and increasing yield of food crop. Local wisdom and other conventional ways applied previously in determining cropping pattern are no longer appropriate because of shifting seasons. As a guideline for extension workers in determining cropping pattern and time of planting, Indonesian Agency for Agricultural Research and Development has published information system of integrated cropping calendar to secure national rice production in coping with climate variability and climate change. This paper aims to describe the development of web-based Information System of Integrated Cropping Calendar at a sub-district level. The system is constructed by integrating three sub-systems, namely sub-system data, model and query and can be accessed through the website address at www.litbang.deptan.go.id. The main information that can be obtained from this system is initial estimate of paddy planting time for the upcoming planting season. In addition, the users can obtain information on disaster prone areas such as droughts, floods and pests attack. Other informations are recommended technology for varieties, seed requirement and fertilizers, that be prepared by users prior to growing season period. Therefore, this system needs to be improved for all sub-districts in Indonesia at least three times a year of the beginning of each growing season. The challenges of developing integrated cropping calendar system for the future are: (1) global warming increases unpredictable weather that impacts on the accuracy of planting time estimate, (2) decreases in productivity and yield production which would require an increasingly technological innovation informations, and (3)land conversion and fragmentation of agricultural land resulting in reduction of paddy field area. Maintenance and development of this system are still needed, to improve the quality of data and information in order to meet the user needs.
COVER JSL VOL.8(1) 2014 Lahan, Jurnal Sumberdaya
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.265 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Cover JSL Vol.8(1) 2014
TEKNOLOGI PENGELOLAAN LAHAN RAWA UNTUK TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA DALAM KONTEKS ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM Maftu?ah, Eni; Annisa, Wahida; Noor, Muhammad
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.49 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n2.2016.%p

Abstract

Abstrak. Perubahan iklim di lahan rawa memberikan dampak berbeda tergantung tipologi lahan. Dampak perubahan iklim di lahan rawa mempengaruhi luas areal tanam, proses biofisik pada tanah dan tanaman, dan meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pada lahan rawa lebak tengahan dan lahan rawa lebak dalam, El Niño menyebabkan permukaan air menurun sehingga mengurangi areal yang terendam dan meningkatkan luas areal tanam. Pengaruh El-Niño di lahan gambut dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan selain meningkatkan emisi karbon dari dekomposisi gambut, sedangkan di lahan sulfat masam dapat meningkatkan oksidasi pirit dan salinitas. Pada tahun La Niña, terjadi penurunan luas areal tanam pada lahan rawa lebak, sedangkan pada lahan pasang surut terjadi perubahan pola tanam. Kekhasan ekosistem rawa memerlukan penanganan khusus agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal. Pengelolaan lahan rawa harus memperhatikan aspek adaptasi agar terwujud pertanian berkelanjutan. Jangka menengah arah pengembangan teknologi pertanian di lahan rawa untuk meningkatkan kemampuan sektor pertanian dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim antara lain merakit, mendiseminasi dan menerapkan teknologi adaptasi tepat guna; meningkatkan kinerja penelitian dan pengembangan di bidang adaptasi perubahan iklim. Teknologi inovatif untuk optimalisasi lahan rawa dalam adaptasi terhadap perubahan iklim antara lain; pemanfaatan kalender tanam, optimalisasi pemanfaatan lahan melalui sistem surjan, pengaturan tata air, penggunaan varietas unggul spesifik lahan rawa, ameliorasi dan pemupukan.Abstract. The impacts of climate change on wetlands are different depending on the land typology. Climate change in wetlands affect the planting area, biophysical processes, soil properties, plant pests and diseases and greenhouse gases (GHG) emissions. In the swampy wetlands, El-Niño decreases inundation, thereby increases the areas that can be cultivated, especially for lowland rice. El Niño in peatland could increase carbon emissions both due to peat decomposition and to fires, whereas in acid sulfate soil it can increase oxidation of pyrite. During La Niña a decline in area planted occurs in swampy wetlands, whereas in tidal land it causes a change cropping patterns. The specificity of swampland requires special handling technique so that existing potentials can be optimally utilized. Management of wetlands should take into account the adaptation aspects for the realization of sustainable agriculture in wetlands. The medium term strategies of adaptive agricultural technology on wetlands to climate change include: development, dissemination and implementation of appropriate adaptive technologies; and enhancing research and development of adaptive technologies. Innovative technologies for the optimization of wetlands to adapt to climate change, among others; utilization of cropping calendar, optimization of land use through surjan system, water management, the use of swampland-specific improved varieties, soil amelioration and fertilization.

Page 8 of 18 | Total Record : 173