cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jsdlbbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jsdlbbsdlp@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Jln. Tentara Pelajar no 12, kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Ciwaringin, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16114
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau mengenai kebijakan. Ruang lingkup artikel tinjauan ini meliputi bidang: tanah, air, iklim, lingkungan pertanian, perpupukan dan sosial ekonomi sumberdaya lahan.
Articles 173 Documents
PROSPEK DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN BIOFERTILIZER UNTUK PERBAIKAN KESUBURAN TANAH Subowo, Subowo; Purwani, Jati; Rochayati, Sri
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.605 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v7n1.2013.%p

Abstract

Abstrak. Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia selayaknya memberdayakan sumberdaya hayati tanah untuk meningkatkan efisiensi pengolahan tanah dan produksi tanaman pangan yang berkelanjutan. Pemberdayaan hayati tanah dapat dilakukan dengan pengkayaan jenis dan populasi organisme tanah melalui aplikasi pupuk hayati berupa organisme fungsional tunggal ataupun konsorsia (majemuk). Sejalan dengan kondisi tanah pertanian yang memiliki heterogenitas tinggi, maka pengembangan produksi pupuk hayati hendaknya dilakukan secara spesifik lokasi dengan mempertimbangkan keberadaan organisme fungsional native yang telah tersedia di lapangan. Pilihan formulasi konsorsia biofertilizer adalah jenis organisme fungsional yang memiliki kompatibilitas tinggi dan jenis media pembawa/carrier yang mampu menjaga nilai fungsionalnya. Selain memiliki kemampuan meningkatkan ketersediaan hara N, P, dan K mikroba fungsional juga memiliki kemampuan dalam menyediakan hara mikro yang penting dalam mendukung produksi dalam hal kuantitas maupun kualitas. Tantangan dalam aplikasi pupuk hayati adalah penetapan kriteria kandungan C-organik, enzim nitrogenase, dan enzim fosfatase tanah. Penetapan ini perlu segera dilakukan sebagai acuan untuk pembuatan ?soil biotest kit? agar dalam implementasinya efektif dan bernilai guna.Abstract. As mega-biodiversity country, Indonesia should empower soil biological resources to improve soil tillage efficiency and sustainable crop production. The empowerment can be done by the enrichment of the soil with species and population of soil organisms through the application of biofertilizer in the form of a single organism or consortia. In line wih the heterogeneity of agricultural land, the development of biofertilizer production should be done taking into account the presence of specific functional native organisms that have been exist in the field. The selection of consortia biofertilizer formulation is the functional types of organisms that have a high compatibility and kinds of carriers that is able to maintain its functional value. In addition to having the ability to increase the availability of N, P and K, the functional microbes should have the ability to provide essential micronutrients to support of quantity and quality production. Challenges in biofertilizer application are the determination of criteria for C-organic content, nitrogenase and soil phosphatase enzymes. This determination needs to be made as a reference to the making of ?soil biotest kit" so that it is effective and valuable in the implementation.
COVER JSL VOL.9(2) 2015 Lahan, Jurnal Sumberdaya
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.898 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Cover JSDL
KARAKTERISTIK TANAH DAN STRATEGI REHABILITASI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Sutono, S.; Haryati, Umi; Agus, Fahmuddin
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.007 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v12n2.2018.99-116

Abstract

Abstrak. Pasca penambangan timah menyisakan sebagian berupa lahan pasir tailing yang mempunyai tekstur pasir dengan proporsi fraksi pasir >80%, debu dan liat keduanya <20%. Lahan ini merupakan lahan sangat miskin bahan organik dan hara, sukar menyimpan air, sulit merehabilitasinya karena memerlukan input tinggi. Tulisan ini membahas karakteristik dan dinamika hara tanah pada lahan bekas tambang timah serta teknik pendekatan rehabilitasi lahan tepat guna menanggulangi faktor pembatas lahan pasir tailing timah agar mampu menghasilkan produk berupa komoditas pertanian. Sampai saat ini tanah mineral liat dan bahan organik merupakan bahan yang secara ekonomis murah dan secara teknis mudah dilakukan. Memperbaiki kemampuannya menyimpan hara dan air merupakan kunci keberhasilan merehabilitasi lahan pasir tailing timah. Pendekatan inilah yang seharusnya menjadi pedoman umum dalam merehabilitasi lahan pasir tailing timah untuk dijadikan lahan pertanianAbstract. Post tin mining leaves a portion in the form of tailings sand which has a sand texture with a proportion of sand fraction >80%, both silt and clay <20%. This land is a very poor of organic matter and nutrients, it is difficult to store water. Therefore to rehabilitate it is very difficult and high input is needed. This paper examines the characteristic and dynamics of soil nutrients in abandoned tin-mining area and the appropriate land rehabilitation techniques to overcome the limiting factor for tin tailings sand to be ability and can produce agricultural commodity products. Clay soil mineral and organic material is a material that is economically inexpensive and technically easy to do. Improving its ability to store nutrients and water is the key to the success of rehabilitating tin tailings sand fields. This approach should be a general guideline in rehabilitating tin tailings sand land to be used as agricultural land.
EFFICIENCY STRATEGY OF ORGANIC MATTER USE FOR SOIL FERTILITY AND PRODUCTIVITY BY SOIL BIOLOGY RESOURCES EMPOWERMENT GITOSUWONDO, SUBOWO
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.224 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v4n01.2010.%p

Abstract

Indonesia is an archipelago in wet tropical volcanic regions have high soil biodiversity, high rate of weathering and high of soil erosion, but low on soil fertility and soil organic matter content. Improvement of soil fertility to plant directly with the provision of organic materials requires a large amount and expensive. Problems faced by low organic matter production ability, high decomposition rate, bulky and is in the archipelago, making it difficult in the procurement and conservation of organic matter in soil and expensive transportation costs. Provision of organic materials with the aim of empowering the soil biology resources to enhance soil fertility potential pursued. In addition to the dose of organic matters required is relatively lower may also prevent the emergence of soil born diseases are also increasing of soil organic matter conservation. In determining land suitability evaluation in wet tropical volcanic region should consider the role of soil organism populations to support crop production and protected soil organic matter content.
VOL.6(2) 2012 Sumberdaya Lahan, Jurnal
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.353 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v6n2.2012.%p

Abstract

Desember 2012
KEBIJAKAN PEMANFAATAN LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK MENDUKUNG KEDAULATAN PANGAN NASIONAL H. Suwanda, Mamat; Noor, Muhammad
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 3 (2014): Edisi Khusus
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.839 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v8n3.2014.%p

Abstract

Abstrak. Lahan pasang surut merupakan sumberdaya yang sangat penting dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan nasionalsejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan laju alih fungsi lahan sawah terutama di Jawa. Potensi lahan rawa pasang surutsangat luas, diperkirakan 20,1 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. Dari luas lahan tersebut,diantaranya 9,53 juta ha sesuai untuk budidaya pertanian dan potensial menjadi sumber pertumbuhan baru produksi pertanian.Dari pengalaman di beberapa lokasi pasang surut, jika lahan tersebut dikelola dengan baik, mampu menghasilkan produksi padiyang cukup tinggi. Dalam pemanfaatan lahan rawa pasang surut, khususnya dalam mendukung kedaulatan pangan nasional perlubeberapa langkah strategi meliputi: penguatan inovasi teknologi melalui kegiatan penelitian dan pengembangan; penguatankerjasama secara harmonis, sinergis dan partisipatif antar pihak-pihak yang berkepentingan; regulasi pengembangan lahan rawapasang surut; zonasi wilayah pengembangan dan pewilayahan komoditas; pengembangan infrastruktur pendukung; penguatandistribusi dan pemasaran produk pertanian.Abstract. Tidal area is a very important resource in order to meet national food requirements in line with the increase inpopulation and the rate of conversion of paddy fields, especially in Java. The potential of tidal wetlands very widely predicted 20.1million ha, in Sumatra, Kalimantan, Papua, Sulawesi, including 9.53 million hectares suitable for agricultural cultivation andpotentially a source of new growth in agricultural production. From experience in several locations tidal, when managed properlyproduce rice production is quite high. In a tidal swamp land use, particularly in support of national food sovereignity, need somestrategy include: strengthening technological innovation through research and development activities; strengthening harmoniouscolaboration, synergistic and participatory between the parties concerned; regulation tidal swamp land development; zoningdevelopment of commodities; development of supporting infrastructure; strengthening the distribution and marketing ofagricultural products.
SISTEM ALLEY CROPPING: ANALISIS SWOT DAN STRATEGI IMPLEMENTASINYA DI LAHAN KERING DAS HULU Ariani, Ratri; Haryati, Umi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.258 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v12n1.2018.13-31

Abstract

Abstrak. Ditinjau dari segi luasan, lahan kering di Indonesia merupakan lahan yang cukup potensial, untuk dikembangkan sebagai areal pertanian. Namun usaha pertanian di areal ini dihadapkan pada beberapa kendala, diantaranya karena lahan ini banyak tersebar di daerah pegunungan dengan topografi yang curam sehingga rawan erosi. Untuk itu usahatani konservasi mutlak perlu dilakukan. Teknik konservasi mekanik berupa teras bangku, yang telah banyak dikenal dan diadopsi petani, diyakini dapat menurunkan erosi, namun teknik ini tidak selalu cocok diimplementasikan pada semua kondisi, selain memerlukan biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu, teknik konservasi vegetatif lebih disarankan untuk diapliksikan di areal ini. Sistem pertanaman lorong (alley cropping) merupakan teknik konservasi vegetatif yang telah terbukti efektif mengendalikan erosi dan aliran permukaan (runoff), kehilangan hara, meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman, efisien dari segi biaya, serta dapat diadopsi oleh petani berdasarkan hasil-hasil penelitian. Dengan demikian, sistem pertanaman lorong berpeluang untuk dikembangkan di areal lahan kering dengan memperhatikan keunggulan dan kelemahannya. Makalah ini mengemukakan tentang keunggulan dan kelemahan sistem pertanaman lorong serta peluang dan tantangan yang akan dihadapi di dalam implementasinya di lahan kering berdasarkan hasil analisis SWOT (strengths, weeknesses, opportunities, threats). Pengembangan strategi untuk implementasi sistem alley cropping meliputi strategi yang bersifat teknis dan non teknis.Abstract. In terms of area, upland in Indonesia is a potential land to be developed as an agricultural area. However, this agricultural bussines on this area is faced with several problem, some of them is because the agricultural land is spread in mountainouns area with a steep topography that is easy to erosion, therefore conservation agriculture system is absolutely needed. Mechanical soil conservation techniques such as bench terrace which have been widely known and farmer-friendly are believed to reduce erosion, but this technique is not always suitable to be implemented in all condition other than requiring high cost, therefore vegetative conservation vegetative conservation techniques are more suggested to control erosion in this area. Alley cropping system is a vegetative conservation technique that has been proven effective in controlling erosion and runoff, nutrient loss, increasing land and crop productivity, cost efficient and can be adopted by farmers based on the research results. Thus, the alley cropping system is likely to be developed in upland area with attention to its advantages and disadvantages. This paper presents the advantages and disadvantages of alley cropping system and the opportunities and challenges that will be faced in its implementation in upland based on SWOT (strengths, weeknesses, opportunities, threats) analysis. Development of strategy for implementation of alley cropping system includes technical and non technical strategy. 
ENVIRONMENT FRIENDLY OPEN PIT MINING SYSTEMS AND RECLAMATION POST-MINING EFFORTS TO IMPROVE THE QUALITY OF LAND RESOURCES AND SOIL BIODIVERSITY GITOSUWONDO, SUBOWO
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.758 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v5n02.2011.%p

Abstract

Conventional open pit mining systems can changing the landscape and soil surface ecosystem balance, reducing soil productivity and environmental quality. On the other hand the good mining activities can increase national income, reduce pollution, decrease land slope, improve the thickness of topsoil, decrease soil density, increase infiltration- percolation and reduce soil erosion. Good implementation control of the open pit mining with the preservation of land resources and soil biodiversity can be achieved by: (1) mining blocks done from the bottom area, (2) reclamation carried out directly after the completion of mining, (3) formation of land surface with a wide terrace bench >5 m, vertical-interval bench terraces <2 m, the percentage of slope ± 60%, (4) removing the top layer of soil (topsoil) was placed back on the top layer with a thickness >20 cm and enriched with lime, organic matter, fertilizer or biofertilizer (5) biorehabilitation with endogeic earthworms and planting of legume cover crops as pioneer plants to accelerate the natural succession, and (6) maintenance up to a climax ecosystem as expected
RAGAM KONTEKS SKALA DALAM PERSPEKTIF KAJIAN SUMBERDAYA LAHAN Cahyana, Destika; Barus, Baba; Darmawan, Darmawan; Mulyanto, Budi; Sulaeman, Yiyi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.042 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v13n2.2019.115-124

Abstract

Abstrak. Kini isu ?skala? menjadi penting kembali dibahas oleh komunitas sumberdaya lahan. Awalnya sumberdaya lahan terbatas dikaji oleh disiplin ilmu tanah, ilmu geografi, dan ilmu kartografi, tetapi sekarang berkembang dikaji oleh disiplin ilmu lingkungan, ilmu iklim, ilmu statistik, serta ilmu teknologi dan informasi. Kajian sumberdaya lahan yang awalnya untuk kepentingan ilmu pertanian kini menghadapi problem yang lebih luas seperti perubahan iklim, krisis energi, keanekaragaman hayati, keseimbangan ekosistem, hingga perkembangan kota. Pada era ini perjumpaan ilmu tanah dengan disiplin ilmu lain tidak dapat dihindarkan karena telah menjadi keniscayaan untuk melayani kepentingan umat manusia yang lebih luas. Berkaitan dengan itu istilah ?skala? yang digunakan pada disiplin ilmu tanah, ilmu geografi, dan ilmu kartografi seringkali membingungkan ketika berjumpa dengan istilah ?skala? pada kajian sumberdaya lahan kontemporer. Skala dapat dipahami dalam beragam konteks: 1) skala informasi pada peta, 2) skala level pada berbagai proses, dan 3) skala pada angka pengukuran. Tiga konteks skala tersebut belum termasuk skala pada dimensi lain yaitu skala waktu yang tidak akan dibahas pada artikel ini. Abstract. At present the issue of 'scale' becomes important to be rediscussed by scientists in land resources community. Initially, land resources were only studied by the limited disciplines, such as soil science, geography, and cartography, but now it is studied by the disciplines of environmental science, climate science, statistics, and technology and information science.  At the beginning, the study of land resources was to support agricultural science, but at the present the study is to addresss broader problems such as climate change, energy crises, biodiversity, ecosystem balance, and urban development. In this era, the encounter of soil science with other scientific disciplines is inevitable because it has become a necessity to serve the broader of humanity interest. Related to that issue, the term of 'scale' used in the disciplines of soil, geography and cartography is often confusing when meeting to other different disciplines. There are at least 3 different contexts that use the term 'scale' in contemporary land resource studies i.e : 1) scale of information on maps, 2) scale of levels in various processes, and 3) scale of measurement numbers. These three contexts of scale are not included  scale of time another dimensions that will not be discussed in this article.
PENGELOLAAN HARA DAN TEKNOLOGI PEMUPUKAN MENDUKUNG SWASEMBADA PANGAN DI INDONESIA Husnain, Husnain; Kasno, Antonius; Rochayati, Sri
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.752 KB) | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Peranan pupuk menjadi vital bagi perkembangan pertanian menuju swasembada pangan. Namun demikian aplikasi pupuk belum dilakukan secara efektif dan efisien dimana jenis pupuk, dosis yang diberikan, cara aplikasi dan timing saat pemupukan belum banyak diperhatikan. Rekomendasi pupuk juga seringkali berlaku secara umum tanpa mengindahkan status hara dalam tanah. Permasalahan di atas terlihat dari trend produktivitas tanaman pangan dibandingkan dengan trend konsumsi pupuk, dimana peningkatan konsumsi pupuk belum diikuti oleh peningkatan produktivitas tanaman pangan terutama padi dan kedelai. Pengelolaan hara makro N, P, dan K saja tanpa dibarengi dengan pengelolaan hara mikro dan benefisial seperti Silika menyebabkan stagnansi produktivitas tanaman pangan. Dalam artikel ini dibahas secara komprehensif informasi terkait unsur hara, klasifikasi pupuk, perkembangan produktivitas pangan dan konsumsi pupuk, penetapan kebutuhan pupuk hingga rekomendasi teknik aplikasi pupuk agar pemberian pupuk lebih efektif dan efisien.Abstract. Fertilizer is a major important factor for agricultural development towards food self-sufficiency. However, application of fertilizer has not been carried out effectively and efficiently. Factors affected efficiency use of fertilizer such as type of fertilizer, rate of fertilizer, application method and the timing has not received much attention. Fertilizer recommendations are also often applies in general regardless of the status of nutrients in the soil. Trend of food productivity and fertilizer consumption might explain the problem related to the fertilizer effectivity. An increase in fertilizer consumption has not been followed by an increase in productivity of food crops, especially for rice and soybeans. Application of N, P and K without consider micro nutrients and beneficial elements such as Silica cause stagnation of crop productivity at certain level and period. In this article, the information related to nutrients, classification of fertilizer, general condition of food productivity and fertilizer consumption, fertilizer recommendation and application technique are discussed.

Page 6 of 18 | Total Record : 173