cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 44, No 2 (2020)" : 8 Documents clear
Bakteri Pengendali Cekaman Salinitas yang Menjanjikan untuk Peningkatan Produksi Padi Sawah Kawasan Pesisir Edi Husen; Selly Salma; Husnain Husnain
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.85-92

Abstract

Abstrak. Penurunan produksi padi karena salinitas tanah telah banyak dilaporkan. Beberapa teknologi alternatif yang menjanjikan untuk mengatasi masalah ini sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan bakteri pengurang cekaman kadar garam untuk meningkatkan hasil padi di kawasan pesisir yang terkena salinitas. Penelitian ini terdiri atas analisis laboratorium dan percobaan lapangan pada lahan petani yang terpapar salinitas di Indramayu, Jawa Barat yang dilakukan pada tahun 2018. Sebanyak delapan strain bakteri Pseudomonas dan Bacillus dari penelitian sebelumnya dipilih berdasarkan kemampuannya menghasilkan enzim ACC (1-aminocyclopropane-1-carboxylate) deaminase dan berbagai sifat fungsional bermanfaat lainnya. Bakteri ini selanjutnya diuji untuk pengurangan emisi etilen dan produksi senyawa eksopolisakarida (EPS) dan diformulasikan menjadi empat kelompok konsorsium bakteri pengurang cekaman salinitas (PC1, PC2, PC3 dan PC4) berdasarkan kombinasi sifat fungsionalnya. Setiap konsorsium mengandung tiga jenis bakteri yang diformulasikan ke dalam bahan pembawa gambut untuk percobaan lapangan. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor perlakuan, yaitu perlakuan inokuasi bakteri konsorsia (lima taraf) dan pupuk organik (dua taraf), masing-masing kombinasi perlakuan diulang tiga kali. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa selain mampu memproduksi enzim ACC deaminase, menambat N2, dan melarutkan fosfat, sebagian besar strain bakteri juga mampu menghasilkan EPS dan mengurangi emisi etilen. Eksperimen lapangan menunjukkan bahwa bakteri pengurang cekaman salinitas PC2 mampu meningkatkan hasil padi dengan atau tanpa pemberian bahan organik dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati tanah salin yang menjanjikan. Abstract. Decreased rice production due to soil salinity has been widely reported. Alternative promising technologies to overcome this problem is urgently needed. This study aimed to evaluate the ability of salt-stress reducing bacteria to increase rice yield in salt affected areas of low-lying coastal plain. The study consisted of laboratory analyses and field experiment on farmers' land affected by salinity in Indramayu, West Java, conducted in 2018. A total of eight strains of Pseudomonas and Bacillus from previous studies were selected based on their ability to produce ACC (1-aminocyclopropane-1-carboxylate) deaminase and other benefit functional traits. These bacteria were further tested for ethylene emission reduction and exopolysaccharide (EPS) production and formulated into four groups of consortia of salt-stress reducing bacteria (PC1, PC2, PC3 and PC4) based on functional trait combination. Each concortium contains three strains bacteria formulated into peat-based carriers for field experment. Randomized block design with two treatment factors were applied, namely group of concortia bacteria (five levels) and organic fertilizer (two levels), with three replications. Results of the laboratory analyses showed that besides producing ACC deaminase enzyme, fixing N2, and solubilizing fixed phosphates, most of bacterial strains were also able to produce EPS and reduce ethylene emission. Field experiment showed that salt-stress reducing bacteria of PC2 increased rice yield with or without organic fertilizer treatments and hence promising as a saline soil biofertilizer.
Prediksi Kemampuan Adaptasi Delapan Varietas Kelapa Sawit pada Cekaman Abiotik Akibat Perubahan Iklim Global Sujadi Sujadi; Iput Pradiko; Suroso Rahutomo; Rana Farrasati
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.129-139

Abstract

Abstrak. Perubahan iklim global di masa depan diperkirakan akan menyebabkan kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, tidak terkecuali pada wilayah Adolina, Marihat, dan Bah Birong Ulu, Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan iklim di masa depan terhadap perubahan kesesuaian lahan untuk kelapa sawit dan kemampuan adaptasi varietas kelapa sawit Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) serta merekomendasikan upaya-upaya yang menjadi bagian dari proses adaptasi dan mitigasi di perkebunan kelapa sawit. Obyek studi adalah delapan varietas kelapa sawit produksi PPKS yaitu Avros, Dumpy, LaMe, Langkat, PPKS 540, PPKS 718, Simalungun, dan Yangambi. Data durasi fase perkembangan buah dan karakteristik morfologi delapan varietas tersebut diperoleh dari penelitian sebelumnya. Data produksi bulanan bersumber dari hasil pengamatan selama 2016-2018 pada kelapa sawit berumur 15 tahun di Adolina (10 m dpl), Marihat (369 m dpl), dan Bah Birong Ulu (900 m dpl). Data iklim antara tahun 1989-2018 di ketiga lokasi tersebut digunakan sebagai baseline, sedangkan data skenario perubahan iklim bersumber dari kajian literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa varietas yang memiliki durasi fase perkembangan tandan lebih cepat (Dumpy, Avros, dan PPKS 540) diprediksi lebih mudah beradaptasi dengan kenaikan suhu udara. Varietas Dumpy diprediksi lebih sesuai ditanam di wilayah yang lebih basah, sebaliknya Lame, Langkat, PPKS 540, dan Simalungun diprediksi adaptif pada wilayah yang lebih kering. Sebagai langkah adaptasi dan mitigasi, diperlukan varietas baru yang memiliki karakter toleran terhadap suhu tinggi dan kekeringan, toleran hama/penyakit, dan high nutrient use efficiency. Selain itu, diperlukan juga penyesuaian kultur teknis yang utamanya terkait dengan konservasi tanah dan air serta antisipasi outbreak serangan hama/penyakit.Abstract. In the future, global climate change is predicted to cause an increase in air temperature and change in rainfall pattern in most Indonesian regions. This study was aimed to analyse the impacts of global climate change on alteration of land suitability for oil palm and adaptability of Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI) oil palm varieties, as well as to recommend efforts for adaptation and mitigation in oil palm plantation. Objects of the study were eight oil palm varieties released by IOPRI, those were Avros, Dumpy, LaMe, Langkat, PPKS 540, PPKS 718, Simalungun, and Yangambi. Data of fruit development phases and morphological characters for the eight varieties were obtained from the previous study. Data of monthly yield were observed in 2016-2018 for 15 years old oil palm planted in Adolina (10 m asl), Marihat (369 m asl), and Bah Birung Ulu (900 m asl). Climate data in the period of 1989-2018 in each location were employed as a baseline, while scenario data of global climate change were from literature review. The results showed that varieties with shorter duration of fruit development phases (Dumpy, Avros, and PPKS 540) were predicted to be easier to adapt with an increase in air temperature. Variety of Dumpy was predicted to be more suitable in the area with higher rainfall, on the other hand, varieties of Lame, Langkat, PPKS 540, and Simalungun were predicted to be more suitable for land with low rainfall. As a part of adaptation and mitigation process, it is necessary to assembly a new oil palm variety which has characters of tolerant to high temperature and drought, tolerant to pest and diseases, and high nutrient use efficiency. Furthermore, agronomic practices need to be adjusted mainly in the efforts to conserve soil and water as well as to anticipate the outbreak of pest and diseases.
Efisiensi Pemupukan N Tanaman Jagung Manis akibat Beberapa Dosis dan Waktu Aplikasi Urea Menggunakan Teknik Isotop 15N Flatian, Anggi Nico; Febrianda, Adinda Rachmadhani; Suryadi, Edy
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.93-100

Abstract

Abstrak. Pemberian pupuk N dapat secara efektif meningkatkan hasil tanaman. Namun cara pemupukan N yang tidak tepat, dapat menyebabkan tidak efisiennya pemupukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis dan waktu aplikasi urea terhadap hasil, serapan dan efisiensi pemupukan N (15N) pada tanaman jagung manis. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai November 2018 di rumah kaca dan laboratorium. Percobaan pot menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial. Faktor pertama adalah dosis pupuk nitrogen yang terdiri dari 3 taraf perlakuan: (1) urea sebesar 60 ppm N, (2) urea sebesar 70 ppm N, dan (3) urea sebesar 80 ppm N. Faktor kedua adalah waktu aplikasi: (1) dua kali, (2) tiga kali, dan (3) empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (50,7-54,4 %) N yang diserap tanaman jagung berasal dari pupuk urea (%Nbdp), sisanya (49,3-47,6 %) berasal dari tanah (%Nbdt). Pemupukan urea dosis 60 ppm N (ekivalen dengan 250 kg ha-1) menyebabkan efisiensi pemupukan N tertinggi (82,7%). Nilai efisiensi pemupukan secara signifikan menurun seiring peningkatan dosis urea, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot hasil. Dosis urea juga berpengaruh signifikan terhadap nilai %N tanaman berasal dari pupuk (%Nbdp) dan %N tanaman berasal dari tanah (%Nbdt). Sedangkan waktu pemupukan hanya berpengaruh terhadap %Nbdp dan %Nbdt. Efisiensi pemupukan N tanaman jagung pada penelitian ini adalah sebesar 55,6-82,7 %. Hal ini berarti sebagian besar pupuk urea (15N) yang diaplikasikan telah diserap oleh tanaman. Abstract. Application of N fertilizers can effectively increase crop yields. However, improper fertilization management, can cause inefficient fertilization. This study was conducted to evaluate the effect of rates and split application of urea on yield, N uptake and fertilizer N (15N) use efficiency  (FNUE) of sweet corn plants. The study was conducted from March to November 2018 at the greenhouse and laboratory. The pot experiment was designed using Factorial Randomize Block Design. The first factor was urea fertilizer dose: (1) 60 ppm N, (2) 70 ppm N, and (3) 80 ppm N. The second factor was split of application: (1) two times, (2) three times, and (3) four times. The results showed that most (50.7-54.4 %) of the N absorbed by corn plants came from urea fertilizer (%Ndff),  and the rest (49.3-47.6 %) came from soil (%Ndfs). The rate of 60 ppm N (uquivalent to 250 kg ha-1  urea) caused the highest (82.7%) FNUE. The FNUE value significantly decreased with increasing dose of urea, but did not significantly affect the dry weight yield. The rate of urea also has a significant effect on the value of %N derived from fertilizer (%Ndff) and %N derived from soil (%Ndfs). Meanwhile, splitting fertilization time only significantly affected %Ndff and %Ndfs. In general, fertilizer N use efficiency in this study was between 55.6% with 82.7%. This means that most of the urea (15N) fertilizer applied has been absorbed by plants.
Agronomic Performance and Economic Benefits of Sugarcane (Saccharum officinarum L.) Under Drip Irrigation for Sandy and Clay Soils in East Java, Indonesia Ranomahera, Muhammad Rasyid Ridla; Puspitasari, Arinta Rury; Putra, Rivandi Pranandita; Gustomo, Dias; Winarsih, Sri
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.141-153

Abstract

Abstract. Sugarcane (Saccharum officinarum L.) growth and production are greatly affected by water availability. The lack of water availability in sugarcane cultivation can be surmounted by irrigation. In performing irrigation, it is essential to understand the sugarcane crop water requirement and soil texture as they influence the irrigation efficiency. To date, drip irrigation is considered as the most efficient type of irrigation. This study aimed to investigate both agronomic performance and economic benefits of different irrigation methods for sugarcane grown in sandy (in Kediri) and clay (in Pasuruan) soils. The irrigation treatments were surface drip irrigation, sub-surface drip irrigation, and conventional irrigation, while the conventional irrigation through drains was the control treatment. The experimental design was a Randomized Complete Block Design with three replications. In sandy soil, both surface and sub-surface drip irrigation led to better agronomical performance yet the conventional irrigation showed a contrasting result. Sugarcane productivity under surface drip irrigation, sub-surface drip irrigation, and conventional irrigation were 81.29, 110.33, and 69.25 tons ha-1, respectively. Meanwhile, in clay soil, there were no prominent differences of agronomic parameters between all irrigation treatments. Sugarcane productivity under surface drip irrigation, sub-surface drip irrigation, and conventional irrigation were 79.03, 60.58, and 78.16 tons ha-1,respectively. The water cost used to produce one kg of sugarcane biomass under conventional irrigation, surface drip irrigation, and sub-surface drip irrigation in sandy soil were IDR 169, IDR 103, and IDR 87, while the cost in clay soil were IDR 443, IDR 218, and IDR 293, respectively.Abstrak. Pertumbuhan dan produksi tebu (Saccharum officinarum L.) dipengaruhi oleh ketersediaan air. Kekurangan air dalam budidaya tebu dapat dipenuhi melalui irigasi. Dalam melakukan irigasi, penting untuk mengetahui kebutuhan air tebu dan tekstur tanah karena kedua faktor tersebut mempengaruhi efisiensi irigasi. Hingga saat ini, irigasi tetes merupakan salah satu jenis irigasi yang paling efisien dalam pertanian. Studi ini bertujuan untuk mengetahui performa agronomis serta keuntungan ekonomis berbagai metode irigasi pada tanaman tebu yang ditanam di tanah bertekstur pasir (di Kediri) dan lempung (di Pasuruan). Perlakuan irigasi pada penelitian ini yaitu irigasi tetes permukaan, irigasi tetes bawah permukaan, dan irigasi konvensional, dimana irigasi konvensional yang diberikan melalui parit menjadi perlakuan kontrol. Desain percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap, dengan tiga ulangan. Pada tanah pasir, performa agronomis tebu pada perlakuan irigasi tetes permukaan dan bawah permukaan lebih baik daripada irigasi konvensional. Produktivitas tebu pada irigasi tetes permukaan, irigasi tetes bawah permukaan, dan konvensional di tanah pasir masing-masing sebesar 81,29 ton ha-1, 110,33 ton ha-1 dan 69,25 ton ha-1. Pada lokasi percobaan di tanah lempung, tidak ada perbedaan agronomis tebu yang signifikan antar perlakuan irigasi. Produktivitas tebu pada irigasi tetes permukaan, irigasi tetes bawah permukaan, dan konvensional di tanah lempung masing-masing sebesar 79,03 ton ha-1, 60,58 ton ha-1, dan 78,16 ton ha-1. Biaya air yang digunakan untuk memproduksi satu kilogram tebu dengan perlakuan irigasi konvensional, irigasi tetes permukaan, dan irigasi tetes bawah permukaan di tanah pasir masing-masing sebesar IDR 169, IDR 103, dan IDR 87, sedangkan di tanah lempung masing-masing sebesar IDR 443, IDR 218, dan IDR 293.
Soil Quality Dynamic and Rice Production of Three Different Rice Farming Systems in Sragen District, Central Java Province Sukristiyonubowo, Sukristiyonubowo; Widodo, Sugeng; Anshori, Arif; Riyanto, Damasus
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.101-108

Abstract

Abstract. The farmers realize that green revolution technology with high inputs is no longer sustainable, expensive and the yield decrease. Some farmers move to organic rice farming, semi organic, and the rest remain doing conventional rice farming. The research aim was to monitor soil quality dynamic and rice productions under three rice farming systems. This study was conducted in Vertisols at Sambung Macan Sub District, Sragen Regency. The treatments were arranged in randomized complete block design with three replications. The treatments was organic, semi organic and conventional rice farming systems. The results indicated that in organic field, the soil quality in 2019 was more superior than in semi organic and conventional in 2018 and 2017 and soil qualities of semi organic system was better than conventional in terms of soil chemical, physical and biological including soil pH, organic C and total N, P and K total, soil bulk density, particle density, soil porosity and permeability. Similar finding was observed for rice biomass productions in 2019. In 2019 the rice grains yields were 12.68, 7.43 and 7.0, rice straw were 7.25, 6.55 and 6.25 and forrice residues were 4.15, 3.20 and 3.15 tons ha-1 season-1 in organic, semi organic and conventional systems, respectively. Compared to the conventional system, the organic increased about 81%, 16% and 32% for rice grains, rice straw and rice residues, respectively. Compared to conventional, semi organic improved about 6%, 5% and 2% for rice grains, rice straw and rice residues, respectively.Abstrak. Petani menyadari bahwa green revolution technology tidak lumintu, biaya produksi mahal dan hasil panen menurun. Sebagian petani beralih ke budidaya padi organik, semi organik dan sebagian bertahan pada sistem konvensional dengan perbaikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perkembangan kualitas tanah dan hasil brangkasan padi pada sistem padi organik, semi organik dan konvensional. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2017, 2018 dan 2019 pada tiga sistem budidaya padi di Kecamatan Sambung Macan, Sragen. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, dengan tiga ulangan dan sebagai perlakuan tiga budidaya padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas tanah pada budidaya organik pada tahun 2019 lebih unggul dibandingkan semi organik dan konvensional pada tahun 2018 dan 2017. Begitu juga kualitas tanah pada semi organik pada 2019 lebih baik dibandingkan budidaya konvensional. Hasil brangkasan padi pada budidaya organik tahun 2019 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018 dan 2017 baik pada budidaya padi semi organik maupun konvensional. Hasil gabah, jerami dan sisa panen dari ketiga sistem budidaya padi pada tahun 2019 masing masing sebesar 12,68; 7,43 dan 7,0; jerami 7,25; 6,55 dan 6,25 dan sisa panen 4,15; 3,20 dan 3,15 ton ha-1 musim-1 untuk budidaya padi organik, semi organik dan konvensional. Dibandingkan dengan konvensional sistem, budidaya organik meningkat sekitar 81%, 16% and 32% untuk gabah, jerami dan sisa panen. Dibandingkan dengan konvensional, budidaya semi organik meningkat 6%, 5% and 2% untuk gabah, jerami dan sisa panen.
Pengaruh Amelioran Partikel Nano Batuan Fosfat dan Jamur Pelarut Fosfat terhadap Sifat Kimia Inceptisols Cilembu, Jawa Barat Fajri Syahid Nurhakim; Pujawati Suryatmana; Muhammad Amir Solihin; Rina Devnita; Mahfud Arifin
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.155-162

Abstract

Abstrak. Inceptisols Cilembu memiliki potensi besar untuk pertanian khususnya untuk budidaya ubi jalar Cilembu. Rendahnya kandungan P-tersedia yang merupakan unsur hara esensial berdampak pada produktivitas tanah. Aplikasi amelioran partikel nano batuan fosfat dan Jamur Pelarut Fosfat (JPF) memiliki kemampuan dalam meningkatkan P-tersedia Inceptisols Cilembu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh amelioran partikel nano batuan fosfat dan JPF terhadap beberapa sifat kimia Inceptisols di sekitar Cilembu. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama yaitu amelioran partikel nano batuan fosfat yang terdiri atas empat taraf, yaitu b0 = 0% (0 g), b1 = 2% (20 g kg-1 tanah), b2 = 4% (40 g kg-1  tanah), dan b3 = 6% (60 g kg-1 tanah). Faktor kedua yaitu JPF yang terdiri atas dua taraf, yaitu h0 = (0 g) dan h1 = JPF (10 g per kg-1 tanah). Parameter yang diamati: pH, P-tersedia, Kapasitas Tukar Kation (KTK), dan populasi JPF. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varians pada taraf 5%, dilanjutkan dengan uji beda jarak Duncan pada taraf 5%. Hasil analisis varians menunjukkan tidak terdapat interaksi antara amelioran partikel nano batuan fosfat dan JPF terhadap parameter yang diamati. Aplikasi amelioran partikel nano batuan fosfat berpengaruh nyata dalam meningkatkan pH dan P-tersedia. Penggunaan JPF berpengaruh nyata meningkatkan nilai KTK.Abstract. Inceptisols in Cilembu have a great potential for agriculture, especially for sweet potato cultivation. The low available P content, which is an essential nutrient, has an impact on soil productivity. The application of nano particle phosphate rock ameliorant and Phosphate Solubilizing Fungi (PSF) may increasing available P of Inceptisols in Cilembu. The research aimed to find out the effects of nano particle phosphate rock ameliorant and PSF on selected chemical properties of Inceptisols in Cilembu area. The research method used Factorial Completely Randomized Design. The first factor was ameliorant nano particles of phosphate rock application consisted of four levels, namely b0 = 0% (0 g), b1 = 2% (20 g kg-1 of soil), b2 = 4% (40 g kg-1 of soil), b3 = 6 % (60 g kg-1 of soil). The second factor was PSF treatment consisted of two levels, namely h0 = without PSF and h1 = PSF 10 g kg-1 of soil. Parameters observed were pH, available P, Cation Exchange Capacity (CEC), and PSF population. The data were analyzed with analysis of variance at the significance level of 5%, and continued with Duncan multiple range test at the significance level of 5%. The results showed that there was no interaction between ameliorant nano particles of phosphate rock application and PSF inoculation on the observed parameters. The application of ameliorant nano particles of phosphate rock significantly increased soil acidity (pH) and available P. The inoculation of PSF significantly increased the CEC.
Respons Aplikasi Partikel Nano Abu Vulkanik dan Batuan Fosfat terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah Inceptisols Cilembu, Jawa Barat Pradhinto Dwi Nugroho; Mahfud Arifin; Rina Devnita
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.109-116

Abstract

Abstrak. Kandungan dan ketersediaan unsur P,  yang merupakan unsur esensial,  rendah pada Inceptisols Cilembu. Unsur P dalam bentuk partikel nano diharapkan dapat mudah diserap oleh tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh amelioran partikel nano (abu vulkanik dan batuan fosfat) terhadap P-tersedia dan kemasaman tanah (pH-H2O), serta kapasitas tukar kation (KTK) tanah Inceptisols Cilembu, Sumedang, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Juni 2019 di Laboratorium Fisika Tanah Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Penelitian dilakukan dengan inkubasi partikel nano abu vulkanik dan batuan fosfat dengan dosis masing-masing 0% (0 g), 2% (20 g per kg tanah), 4% (40 g per kg tanah) dan 6% (60 g per kg tanah). Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara partikel nano abu vulkanik dan batuan fosfat terhadap P-tersedia dan kemasaman tanah (pH-H2O) dan kapasitas tukar kation (KTK). Partikel nano abu vulkanik dan batuan fosfat terlihat nyata berpengaruh terhadap P tersedia setelah inkubasi bulan pertama dan bulan kedua. Penggunaan partikel nano abu vulkanik berpengaruh nyata terhadap meningkatnya pH setelah inkubasi bulan pertama. Interaksi partikel nano abu vulkanik dan partikel nano batuan fosfat tidak berpengaruh nyata terhadap nilai KTK.Abstract. The content and availability of P, which is an essential element in Cilembu Inceptisols. is low. P element in the form of nano particles is expected to increase P availability. The aim of the study was to evaluate the effect of Ameliorant nanoparticles (volcanic ash and phosphate rock) on P availability and soil acidity (pH-H2O) as well as cation exchange capacity (CEC) in Inceptisols Cilembu, Sumedang, West Java. This research conducted in January to June 2019 in the Soil Physics Laboratory of the Department of Land Science and Land Resources, Faculty of Agriculture, Padjadjaran University. The research used Factorial Completely Randomized Design. The study carried out by incubation of volcanic ash nano particles and phosphate rocks with doses of 0% (0 g), 2% (20 g per kilograms of soil), 4% (40 g per kilograms of soil) and 6% (60 g per kilograms of soil). The results showed no interaction between volcanic ash nano particles and phosphate rocks on available P, soil acidity (pH-H2O) and cation exchange capacity (CEC). The effect of nano particles of volcanic ash and phosphate rock was significantly affected by available P after incubation of the first and second months. The use of nano volcanic ash particles has a significant effect on increasing pH after the incubation of the first month. Interaction effect of volcanic ash nano particles and phosphate rock nano particles was not significant on CEC value.
Aplikasi Biochar Kulit Buah Kakao pada Tanah Lempung Liat Berpasir: Sifat Fisik Tanah dan Hasil Jagung Neneng Laela Nurida; Muchtar Muchtar
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v44n2.2020.117-127

Abstract

Abstrak. Biochar mempunyai struktur yang sangat porous, ketika diberikan ke dalam tanah mampu mempengaruhi sifat fisik tanah. Penelitian bertujuan untuk menguji aplikasi biochar kulit buah kakao, kapur dan abu biochar (hasil pembakaran lebih lanjut dari biochar) terhadap perbaikan sifat fisik tanah dan hasil jagung di lahan kering dengan tekstur lempung liat berpasir. Penelitian dilaksanakan selama tiga musim tanam dari bulan Pebruari 2016 hingga Pebruari 2017 dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) empat ulangan, dengan perlakuan: 1) kontrol; 2) biochar 15 t ha-1; 3) kapur 6 t ha-1; 4) abu setara biochar 15 t ha-1; 5) biochar 7,5 t ha-1 + kapur 3 t ha-1, dan 6) biochar 15 t ha-1 dicuci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama tiga musim tanam, Bulk Density (BD) tanah yang diberi biochar 15 t ha-1 baik dicuci maupun tidak, nyata lebih rendah (1,05-1,11 g cm-3) dibandingkan kontrol (1,10-1,21 g cm-3), sebaliknya BD tanah yang diberi abu konsisten meningkat hingga musim tanam ketiga. Pori air tersedia meningkat secara signifikan dengan pemberian biochar. Peningkatan kemampuan memegang air meningkat pada musim ketiga pada tanah yang diberi amelioran biochar. Selama tiga musim tanam, tanah yang diberi abu setara biochar 15 t ha-1 secara konsisten mempunyai ruang pori total yang rendah dan BD yang paling tinggi. Aplikasi biochar 15 t ha-1 dan abu setara biochar 15 t ha-1 mampu meningkatkan hasil pipilan jagung menjadi 7,24-11,43 t ha-1 dibandingkan kontrol (6,11-7,25 t ha-1) dan efek residunya mampu bertahan hingga tiga musim tanam.Abstract. Biochar has a very porous structure and it affects various soil physical properties. The objective of study was to evaluate the application of biochar, lime and ash to improve soil physical properties and maize yield in upland with sandy clay loam texture. The study was conducted at the research station of Indonesian Soil Research Institute, East Lampung for three seasons from February 2016 to February 2017. We used a randomized block design with four replication. Treatments are: 1) control, 2) biochar 15 t ha-1, 3) lime 6 t ha-1, 4) ash 15 t ha-1, 5) biochar 7.5 t ha-1+ lime 3 t ha-1, and 6) washed biochar 15 t ha-1. The results showed that during three seasons, application of biochar 15 t ha-1(with and without washed) significantly reduced BD (1.08-1.09 g cm-3) but the ash application consistently increased BD. During the three seasons, the water holding capacity increased by applying biochar in various forms (biochar, ash or washed biochar) but the same did not show in lime application. The ash addition 15 t ha-1 consistently had low total soil porosity and high BD. Both application of biochar of 15 t ha-1 and ash of 15 t ha-1 increased maize yield (7,24-11,43 t ha-1) compared to control (6,11-7,25 t ha-1) and the residual effects lasted for three cropping seasons.

Page 1 of 1 | Total Record : 8