cover
Contact Name
Jurnal Psikiatri Surabaya
Contact Email
jps@journal.unair.ac.id
Phone
+6281936840455
Journal Mail Official
jps@journal.unair.ac.id
Editorial Address
Departemen/Staf Medis Fungsional Ilmu Kedokteran Jiwa/ Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga - RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Jl. Mayjen. Prof. Dr. Moestopo 6–8 Surabaya 60286
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Psikiatri Surabaya (Surabaya Psychiatry Journal)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 23552409     EISSN : 2716358X     DOI : http://dx.doi.org/10.20473/jps.v9i1.16026
Core Subject : Health,
Jurnal Psikiatri Surabaya (JPS) is a scientific publication every 6 months (semester). JPS accepts submissions in the form of original manuscripts, literature review, case reports, and editorials in Indonesian in the format of Enhanced Spelling or English in accordance with the scope of Psychology, Mental Health, and Psychology.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2017): Desember" : 5 Documents clear
Efek Probiotik Terhadap Interleukin-6 Serum dan Skor Depresi pada Pasien Luka Bakar Nur Aida; Azimatul Karimah; Iswinarno Doso Saputro
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1440.63 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i2.19433

Abstract

Latar Belakang: Luka bakarmerupakan respon lokal suatu jaringan dengan atau tanpa respon sistemik terhadap suatu perpindahan energi dari sumber fisik atau kimia. Perawatan luka bakar memerlukan waktu yang lama. Dampak pada individu karena luka bakar dirasakan sejak awal cedera dan meluas di seluruh kehidupan seseorang. Pada luka bakar tejadi pelepasan mediator inflamasi khususnya interleukin-6 dan terganggunya berbagai faal tubuh, salah satunya homeostasis mikrobiota usus. Komorbiditas psikiatrik yang terjadi berkisar 45,5 %, dimana depresi yang hadir akan memperberat kondisi pasien. Probiotik dapat menurunkan kadar interleukin-6 dan mencegah gejala depresi secara langsung maupun tidak langsung. Studi ini untuk menilai efek suplementasi probiotik pada gejala depresi, parameter menggunakan biomarker IL-6 serum.Tujuan: Membuktikan efek probiotik terhadap interleukin-6 serum dan skor depresi pada pasien luka bakar.Metode: Desain penelitian adalah non randomized control trial. Sampel diambil dengan consequtive sampling. Pemberian probiotik pada hari ke 4 sampai hari ke 19 perawatan, kadar interleukin-6 serum diukur pada hari ke-4 (sebelum pemberian probiotik) dan hari ke 19 (setelah pemberian probiotik) dengan ELISA. Kelompok kontrol tidak menerima probiotik. Kriteria depresi diukur dengan Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). Kedua alat ukur tersebut telah melalui uji validitas dan reliabilitasnya dari penelitian sebelumnya dan HDRS telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan uji komparatif.Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kontrol.Kesimpulan: Pemberian probiotik tidak berpengaruh terhadap kadar interleukin-6 serum dan derajat depresi dibandingkan kontrol.
Interaksi Faktor Genetik dan Lingkungan pada Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Frida Ayu N.H; Yunias Setiawati
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1375.63 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i2.19434

Abstract

Attention Deficit /Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan neurodevelopmental yang ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian disertai hiperaktivitas dan impulsivitas, yang terjadi . Prevalensi global cukup tinggi diantara anak-anak, dan lebih dari setengahnya berlanjut hingga dewasa. Faktor genetik memegang peranan penting pada ADHD. Polimorfisme sejumlah gen ditengarai berperan pada sintesa molekuler bermasalah pada ADHD. Faktor lingkungan juga berhubungan dengan risiko ADHD. Paparan faktor lingkungan dapat memoderasi faktor genetik pada ADHD, dan demikian juga faktor genetik menyumbang kerentanan pada individu ADHD saat terpapar faktor risiko dari lingkungan. Interaksi faktor genetik dan lingkungan juga berkontribusi terhadap risiko ADHD, meski mekanisme interaksi kedua faktor ini belum diketahui secara pasti.
Efek Penggunaan Obat Antikolinergik Pada Pasien Skizofrenia Andi Zulkifli; Nining Febriyana
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.727 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i2.19428

Abstract

Skizofrenia merupakan penyakit dengan gejala klinis psikopatologi yang melibatkan kognitif, emosi, persepsi dan perilaku dengan perjalanan penyakit yang bervariasi dan berlangsung lama, diterapi dengan menggunakan obat antipsikotik. Obat ini menyembuhkan gejala akan tetapi tidak menyembuhkan penyakit skizofrenia. Selain itu obat tersebut mempunyai efek samping berupa ekstrapiramidal (EPS), misalnya parkinsonisme, diskinesia, akatisia, dan distonia yang sangat mengganggu sehingga pasien sering tidak melanjutkan pengobatan. EPS dapat muncul sejak awal pemberian obat antipsikotik tergantung dari besarnya dosis. Untuk mengatasi EPS dapat diberikan obat antikolinergik, misalnya sulfas atropin, triheksifenidil, dan difenhidramin. Selain bermamfaat untuk mengatasi EPS obat antikolinergik juga mempunyai efek yang merugikan seperti penurunan fungsi kognitif, perubahan perilaku, dan penurunan fungsi memori. Oleh karena itu perlu kehati-hatian terhadap pemberian obat tersebut terhadap pasien.
Neuroleptisasi Cepat, Masih Relevankah Saat Ini ? Maya Indrawati; Azimatul Karimah
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1322.103 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i2.19430

Abstract

Kegawatdaruratan di bidang psikiatri terutama agitasi menimbulkan cara baru untuk mengatasi gangguan perilaku. Agitasi adalah kumpulan ketidaksesuaian perilaku yang beresiko pada keamanan pasien dan orang yang merawat. Neuroleptisasi cepat adalah terapi yang segera dapat menenangkan pasien dengan menggunakan neuroleptik dosis tinggi dan berulang. Pemberian intramuskular dan pemberian oral sama efektifnya. Haloperidol lebih efektif dengan efek merugikan yang rendah. Antipsikotik generasi kedua mampu mengatasi gejala dengan baik meskipun perlu perhatian pada efek samping. Golongan benzodiazepin mampu menurunkan agitasi dan mengurangi penggunaan antipsikotik pada terapi kombinasi. Penggunaan antipsikotik generasi kedua mempunyai kemampuan yang kurang lebih sama dengan antipsikotik generasi pertama dalam mengatasi agitasi pada pasien dengan demensia.
Korelasi Antara Kadar Testosteron Total dengan Kepribadian Antisosial dan Jenis Kriminalitas pada Penghuni Lapas Jember Dewi Prisca Sembiring; dr. Soetjipto
Jurnal Psikiatri Surabaya Vol. 6 No. 2 (2017): Desember
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.803 KB) | DOI: 10.20473/jps.v6i2.19431

Abstract

Latarbelakang. Hormon testosterone telah lama diasosiasikan dengan berbagai macam sifat pria pada umumnya dan berhubungan dengan perilaku agresif, dominasi dan kepribadian antisocial dalam berbagai kondisi masyarakat, bahkan dalam beberapa kasus disebutkan tin dakan criminal menjadi salah satu efek dari tingginya kadar hormonini.Tujuan. Korelasi antara kadar hormone testosteron total pada penghuni Lapas Jember, dengan kepribadian antisosial yang dimiliki dan jenis kriminal yang dilakukan.Metode. Studi kuantitatif cross sectional.  Menggunakan form MCMI-IV dan uji kadar terstosteron total pada pukul 8 – 10 Pagi. Uji statistic dengan metode chi square.Hasil. Mayoritasresponden (82 %) memiliki kadar testosteron total normal (antara 3,0-10,6 ng/ml), 13% kadar testosteron yang rendah, dan 5 % kadar testosterone tinggi. 29 % kepribadian anti sosial, dan 71 % kepribadian bukan anti sosial. 82 % melakukan tindak kriminalitas non seksual dan 18 % terpidana tindak kriminalitas seksual.Simpulan. Tidak diperoleh hubungan antara kadar testosteron total dengan kepribadian dan jenis kriminalitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 5