cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1: Juli 2024" : 10 Documents clear
Kasih yang Benar: Sebuah Analisis Roma 13: 8-14 di Tengah Kehidupan Orang Percaya Iwan Setiawan; Alfa Chrisen Hillasterion; Christian Marlen Firuli Simarmata; Juldistriani Amisha Diana Maelite; Marni Katue
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.249

Abstract

Jesus was a great teacher who set an example of humility, especially in teaching love to His students in various ways or methods. Love is very easy to say, it is easy to explain good theories about love, but in reality, good theories are not balanced with good life practices. The research method that the author uses is a qualitative approach with a descriptive method, explaining it in a hermeneutic way, namely a method that expresses, translates, and interprets. The source material is the biblical text to gain an understanding of the biblical text. The research aims to discover the principles of love contained in Romans 13: 8-14, to provide a deep understanding of this text so that believers can implement love correctly. The result of his research is Jesus as the Foundation of Love. Jesus Christ is the armor of light, wearing the Lord Jesus. The correct attitude of love is don’t owe anything, love each other, love your neighbor as yourself, don't commit adultery, don't kill, don't steal, don't covet and any other word, love doesn't do evil to fellow human beings because love is the fulfillment of the law. The action is to continue living in Love because time is getting shorter by having to wake up from sleep, put off the deeds of darkness put on the armor of light, and live according to God's will. Yesus adalah guru agung yang memberikan teladan kerendahan hati terkhusus dalam mengajarkan tentang kasih kepada murid-murid-Nya dengan berbagai cara atau metode. Kasih sangat mudah untuk diucapkan, mudah untuk menjelaskan teori-teori yang baik mengenai kasih, tetapi pada kenyataanya teori yang baik itu tidak diimbangi dengan praktek hidup yang baik pula. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, menguraikannya dengan cara hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan. Sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks alkitab. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan prinsip-prinsip kasih yang terdapat dalam Roma 13: 8-14, supaya memberikan pemahaman yang mendalam mengenai teks ini sehingga orang percaya dapat mengimplementasikan kasih secara benar. Hasil penelitiannya adalah Yesus sebagai Dasar Kasih. Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang, mengenakan Tuhan Yesus. Sikap Kasih yang benar yaitu jangan berhutang apa-apa, saling mengasihi, mengasihi sesama seperti diri sendiri, jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia karena kasih adalah kegenapan hukum taurat. Tindakan untuk terus hidup dalam Kasih karena waktu yang semakin singkat dengan harus bangun dari tidur, menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang dan hidup sesuai kehendak Tuhan.
Menilik Kriteria “liyan”: Mewujudkan Kerukunan Umat Beragama di Yogyakarta Magdalena Pura Adiputra Artarini
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.251

Abstract

This paper discusses the importance of religious harmony in Yogyakarta, a city with a significant number of newcomers, making it rich in diversity, one of which is religion. This diversity makes Yogyakarta also vulnerable to conflict. Through qualitative research methods with a literature study approach, the author looks at and explores the factors that influence the occurrence of intolerance. It was found that intolerance in Yogyakarta was strongly influenced by factors such as narrow-minded religious thinking, religious fanaticism, and exclusive interpretations of the concept of "the Other.” Therefore, a more inclusive introduction to the concept of “the Other” can help people appreciate religious differences, diversity in Yogyakarta and achieve religious harmony. This can be achieved through recognition of differences, interfaith dialogue, and an ethic of hospitality. It is hoped that the people of Yogyakarta will not only be able to overcome religious conflict, but also strengthen religious harmony and build sustainable communication among different religious communities.  Makalah ini membahas pentingnya kerukunan umat beragama di Yogyakarta, sebagai kota dengan jumlah pendatang yang cukup banyak, menjadikan kota Yogyakarta kaya akan keragaman salah satunya agama. Tentunya keberagaman ini menjadikan Yogyakarta juga rentan terjadi konflik. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur, penulis melihat dan menggali faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya intoleransi. Ditemukan bahwa intoleransi di Yogyakarta kuat dipengaruhi oleh faktor seperti pemikiran sempit mengenai keagamaan, fanatisme beragama, dan interpretasi eksklusif tentang "liyan." Maka pengenalan secara lebih inklusif pada konsep "liyan" dapat membantu masyarakat menghargai perbedaan dan keberagaman umat beragama di Yogyakarta serta mencapai harmoni agama. Hal ini dapat dilakukan melalui pengakuan pada perbedaan, dialog lintas iman, dan etika keramahan. Diharapkan masyarakat Yogyakarta tidak hanya dapat mengatasi konflik keagamaan, namun juga memperkuat harmoni agama, dan membangun komunikasi yang berkelanjutan di antara komunitas agama yang berbeda.
Teladan Yesus Dalam Kisah Perempuan Yang Berzina (Analisis Teks Yohanes 7:53-8:11 Sebagai Landasan Pastoral) Harold Walfried Pardede
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.252

Abstract

Adultery is an offense or sin that harms oneself and others. Culprits of adultery will ordinarily get lawful and social sanctions from the encompassing community. This was too the case for the woman caught in adultery in John 8:1-11. The woman was judged unreasonably agreeing to the law by the religious leaders. But Jesus was there to give love and forgiveness to the adulterous woman. This article method uses a qualitative method through literature review to interpret content of John 8:1-11. The reason of this think about, the creator needs to supply cases and ways that Jesus gave as enlightening for the Church and workers of God in conducting pastoral services to assemblies or Christians who battle within the sin of adultery. Through this study, Christians, particularly hirelings of God, are able to mimic the state of mind of Jesus who excuses and goes with each Christian who falls into the sin of adultery. Perzinaan merupakan pelanggaran atau dosa yang merusak diri sendiri dan juga orang lain. Pelaku perzinaan biasanya akan mendapat sanksi hukum dan sosial dari masyarakat sekitarnya. Begitu juga yang dialami oleh perempuan yang kedapatan berzina dalam teks Yohanes 8:1-11. Perempuan tersebut dihakimi secara tidak adil sesuai hukum taurat oleh para pemuka agama. Tetapi Yesus hadir disitu memberikan kasih dan pengampunan bagi perempuan yang berzina tersebut. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui kajian pustaka dan studi eksposisi untuk menafsir teks Yohanes 8:1-11. Tujuan dari penelitian ini, penulis ingin memberikan bagaimana teladan dan cara yang Yesus berikan sebagai petunjuk bagi Gereja dan hamba Tuhan dalam melakukan pelayanan pastoral kepada jemaat atau orang Kristen yang bergumul dalam dosa perzinaan. Melalui penelitian ini, sekiranya orang orang Kristen terkhusus para hamba Tuhan mampu meneladani sikap Yesus yang mengampuni dan mendampingi setiap orang Kristen yang jatuh dalam dosa perzinaan.
Analisis Multidimensi Narasi Matius 8 Theophylus Doxa Ziraluo
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.253

Abstract

The background of the research is, First, Jesus is considered as a pro-Jewish person. Secondly, this text is considered within the framework of religious moderation. Thirdly, it emphasises Roman culture when explaining the term ‘pais’ (child). Fourthly, it doubts the healing that Jesus did - it was just a pretence. Considering this, the method used in this research is qualitative hermeneutic with Grant R. Osborne's narrative criticism steps. Based on the literature review, this research is important because previous studies did not discuss narrative texts based on Grant R. Osborne's aspects. Therefore, this study serves as an evaluation and contribution to other studies. In addition, this article aims to show the importance of examining narrative texts based on the aspects of narrative criticism. Analysing the dimensions can help the reader to follow the storyline so as to characterise the psychology, ideology, conflicts, strengths and weaknesses of a characterisation, as well as provide an accurate interpretation. Yang melatarbelakangi penelitian yaitu, Pertama, Yesus dinilai sebagai orang yang pro dengan non Yahudi. Kedua, teks ini dinilai dalam kerangka moderasi beragama. Ketiga, menekankan kebudayaan Romawi ketika menjelaskan istilah “pais” (anak). Keempat, meragukan penyembuhan yang Yesus lakukan – hanya berpura-pura. Mencermati hal tersebut, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif hermeneutik dengan langkah-langkah kritik narasi Grant R. Osborne. Berdasarkan studi literatur, penelitian ini penting dikarenakan penelitian-penelitian sebelumnya tidak membahas teks narasi berdasarkan berdasarkan aspek-aspek yang digunakan Grant R. Osborne. Oleh karena itu, penelitian ini berfungsi sebagai evaluasi dan kontribusi bagi penelitian lainnya. Selain itu, artikel ini bertujuan untuk menunjukkan akan pentingnya meneliti teks-teks narasi berdasarkan spek-aspek kritik narasi. Analisis terhadap dimensi-dimensi mampu menolong pembaca untuk mengikuti alur cerita sehingga memberikan karakteristik psikologi, ideologi, konflik, kekuatan dan kelemahan dalam sebuah penokohan, serta memberikan penafsiran dengan tepat.
Strategi Komsel yang Misioner dalam Rangka Menuntaskan Amanat Agung Yesus Abraham Geraldi Napitupulu; Muryati Muryati Muryati
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.266

Abstract

The initial problem which is revealed in this research is inequality of the implementation of cell groups which only focus on the fellowship (koinonia) task. Basically, the cell group is the medium to implement God’s mission, for instance to do the evangelism task (marturia). The term “cell group” genuinely is taken from the cell philosophy which split (multiply), similarly “cell group” should multiply in quantity because the marturia’s aspect is done maximally. The inequality which happened in the practice of cell groups now is to be the urgency of this research. Finding the strategy of a missionary cell group to complete Jesus' Great Commision. The researcher uses the descriptive qualitative method with library research’s type. Next, the data analyzed with a content analysis method. The data resources are Bible, books, journals and other literature which connect to the research material. The techniques of the data collection are purposive sampling and snowball sampling. The result of this research is the staretgy of the missionary cell group must contain two things that are the essence of cell group namely fellowship (koinoni), teaching (didaskalia) and evangelism (marturia) and the essence of The Great Commision that are outward discipleship, inward discipleship and baptism. Landasan masalah yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah adanya ketimpangan dalam pelaksanaan komunitas sel yang hanya difokuskan pada tugas persekutuan (koinonia) saja. Pada dasarnya, komunitas sel adalah sarana pelaksanaan misi Allah, salah satunya adalah untuk mengerjakan tugas pemberitaan Injil (marturia). Komsel sejatinya diambil dari filosofi sel yang aktif membelah (multiplikasi) demikian juga komsel sejatinya harus bermultiplikasi dalam segi kuantitas karena aspek marturianya dikerjakan secara maksimal. Ketimpangan yang terjadi dalam praktik komsel di masa kini menjadi urgensi penelitian ini untuk menemukan strategi komsel yang misioner dalam rangka menuntaskan Amanat Agung Yesus. Peneliti menggunakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian library research dan selanjutnya data dianalisis dengan metode analisis isi (content analysis). Sumber data diperoleh dari Alkitab, buku-buku, jurnal-jurnal dan literatur lainnya yang berkaitan dengan materi penelitian. Data diambil dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Adapun hasil penelitian dalam artikel ini adalah strategi dari komsel yang misioner dalam rangka menuntaskan Amanat Agung Yesus memuat unsur esensial dari komunitas sel yaitu persekutuan (koinonia), pengajaran (didaskalia), pemberitaan Injil (marturia) dan juga unsur esensial dari Amanat Agung Yesus yaitu pemuridan ke luar berupa penginjilan dan ke dalam berupa pengajaran serta pembaptisan.
Menjadi Ibu Bahagia Dan Bebas Burnout berdasarkan Amsal 31:10-31 Novie Santoso; Yanto Paulus Hermanto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.267

Abstract

The role of a housewife with endless routines and activities makes a mother unhappy and can experience burnout. The purpose of this study is to find the secret in Proverbs 31:10-31 and find practical ways that can be applied by today's mothers to be happy and free from burnout. The research method used by the author is a qualitative approach through literature review and exposition of Proverbs 31:10-31. The results of the study indicate that a mother is happy and free from burnout if her life is in accordance with the principles and practical ways contained in Proverbs 31:10-31. The results of this study are very important and will help housewives have a meaningful, happy and burnout-free life.Peran seorang ibu rumah tangga dengan rutinitas dan kesibukan yang tidak habis-habisnya menjadikan seorang ibu tidak bahagia dan bisa mengalami burnout. Tujuan penelitian ini untuk menemukan rahasia dalam Amsal 31:10-31 dan menemukan cara praktis yang dapat diterapkan oleh ibu masa kini agar menjadi bahagia dan bebas burnout. Metode penelitian yang dilakukan oleh penulis yakni pendekatan kualitatif melalui kajian pustaka dan eksposisi Amsal 31:10-31. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang ibu yang berbahagia dan bebas burnout jika hidupnya sesuai dengan prinsip-prinsip dan cara-cara praktis yang termuat dalam Amsal 31:10-31.  Hasil penelitian ini sangat penting dan akan menolong para ibu rumah tangga memiliki hidup yang bermakna, bahagia dan bebas dari burnout.
Kesetaraan dan Keadilan: Prinsip Diakonia berdasar Kajian Teologis 2 Korintus 8:1-15 Mae H Dawir; Marciano A Waani; Roberth R Marini
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.268

Abstract

The concept of giving in Christianity, understood as a manifestation of love, can, in practice, lead to selfish attitudes and a lack of attention to surrounding needs due to incorrect motivations and misunderstandings, which are still evident in modern Christian communities, including in Indonesia. This study employs an interpretative method on 2 Corinthians 8:1-15 to explore the historical and theological context of Paul's teachings on generosity and equality. The analysis reveals that Paul emphasizes the importance of equality and justice in giving, as well as the encouragement to give voluntarily with a sincere heart. The discussion highlights the relevance of these principles in addressing modern socio-economic challenges and how the church can become an agent of change through just diaconal practices. In conclusion, only through acts of sincere sharing can believers emulate Christ's love and realize equality in an eschatological community reflecting the Kingdom of God Konsep pemberian dalam Kekristenan, yang dipahami sebagai manifestasi dari kasih merupakan ajaran yang sentral. Namun, dalam praktiknya, motivasi dan pemahaman yang salah dapat mengakibatkan sikap egois dan kurangnya perhatian terhadap kebutuhan sekitar, yang masih terlihat di komunitas Kristen modern, termasuk di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode interpretatif terhadap 2 Korintus 8:1-15, untuk menggali konteks historis dan teologis dari ajaran Paulus tentang kedermawanan dan kesetaraan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Paulus menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan dalam pemberian, serta dorongan untuk memberi secara sukarela dengan hati yang tulus. Pembahasan menyoroti relevansi prinsip-prinsip ini dalam menghadapi tantangan sosial ekonomi modern, dan bagaimana gereja dapat menjadi agen perubahan melalui praktik diakonia yang adil. Kesimpulannya, hanya melalui tindakan berbagi yang tulus, orang percaya dapat meneladani kasih Kristus dan mewujudkan kesetaraan dalam komunitas eskatologis yang mencerminkan Kerajaan Allah.
Memaknai Istilah Antikristus dalam Surat-surat Yohanes dan Penerapannya dalam Menghadapi Ajaran Palsu pada Masa Kini Arnolis Ratupaira
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.271

Abstract

The letters of John are significant in understanding the concept of the antichrist, as they reveal how the antichrist refers to false teachers, including liars and deceivers. These individuals have separated themselves from the original group of believers and have embraced false teachings. This study addresses the challenge believers face in interpreting the term "antichrist" in the letters of John and the lack of understanding among believers regarding how to apply biblical steps in confronting false teachers and teachings today. The purpose of this research is to provide an understanding of the term "antichrist" in the letters of John and to outline the steps believers can take in confronting false teachings today. The method used in this research is a library study with contextual Biblical analysis to produce a comprehensive and systematic scientific study. The conclusion of this research is that the term "antichrist" refers to false teachers and teachings or anything that seeks to replace Christ. Therefore, it is crucial for believers to cultivate a strong spiritual life, engage in dialogue, and practice apologetics to confront false teachers and teachings in today's context. The conclusion of the research indicates that the term “antichrist” refers to individuals who do not truly believe in Christ, as well as to liars and deceivers. Steps necessary for confronting false teachers and their doctrines—such as maintaining a high-quality spiritual life, engaging in dialogue, and applying apologetics—are deemed essential for the church today. Pentingnya memaknai istilah “antikristus” dalam surat-surat Yohanes, karena antikristus yang dimaksud Yohanes adalah merujuk kepada para guru palsu. Para guru palsu ini meliputi antikristus, Pendusta, dan Penyesat. Mereka adalah orang-orang yang mengundurkan diri dari kelompok jemaat mula-mula dan mengajarkan ajaran palsu. Masalah yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah kesulitan orang percaya dalam memaknai istilah antikristus dalam surat-surat Yohanes dan minimnya orang percaya memahami dan menerapkan Langkah-langkah berdasarkan Alkitab untuk menghadapi para guru palsu dan ajaran palsu masa kini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan memberikan pemahaman tentang pemaknaan istilah antikristus dalam surat-surat Yohanes dan Langkah-langkah orang percaya dalam menghadapi ajaran palsu masa kini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi Pustaka dengan pendekatan Biblikal kontekstual guna mendapatkan hasil kajian secara ilmiah yang komprehensif dan sistematis. Kesimpulan dari penelitian tentang pemaknaan istilah antikristus yaitu orang yang tidak sungguh-sungguh percaya Kristus, pendusta, dan penyesat. Dan langkah-langkah yang perlu dipahami untuk menghadapi para guru palsu dan ajaran-ajarannya, yaitu memiliki kehidupan rohani yang berkualitas, berdialog dan berapologetika, penting diterapkan pada gereja masa kini. 
Partikularitas dan Universalitas: Soteriologi Paulus di Roma 3 Aser Airey; Doni Heryanto; Oral Oko
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.273

Abstract

This research discusses the theological understanding of how salvation works particularly for God’s chosen people, as well as the universality of the offer of salvation for all humanity. Romans 3 serves as a significant foundation for this understanding, where Paul explains that all humans have fallen into sin and need God’s grace through faith in Jesus Christ. The purpose of this study is to deeply analyze the role of grace in salvation and how the theological views of particular and universal salvation can be understood in light of Paul’s soteriology. By referring to Romans 3:22-23, this research also seeks to explain the connection between justification by faith and the universality of sin, which necessitates salvation through Christ. The method used in this research is a descriptive qualitative method with an expository approach to the biblical text, particularly the letter to the Romans. Textual analysis is carried out to explore the theological meaning of the concept of salvation in the context of Paul’s teachings. The results of the study show that while Paul speaks about the election of the chosen people, he still affirms that salvation is offered to all humanity through faith. Thus, Paul’s understanding of salvation unites both particular and universal aspects in the redemptive work of Christ. Penelitian ini membahas latar belakang pemahaman teologis tentang bagaimana keselamatan bekerja secara partikular bagi umat pilihan Allah, serta universalitas tawaran keselamatan bagi semua manusia. Roma 3 menjadi landasan penting dalam pemahaman ini, di mana Paulus menjelaskan bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan membutuhkan anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam peran kasih karunia dalam keselamatan dan bagaimana pandangan teologi partikular dan universal dapat dipahami dalam terang soteriologi Paulus. Dengan mengacu pada Roma 3:22-23, penelitian ini juga berusaha menjelaskan keterkaitan antara pembenaran oleh iman dan universalitas dosa yang menuntut keselamatan melalui Kristus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksposisi teks Alkitab, khususnya surat Roma. Analisis teks dilakukan untuk mengeksplorasi makna teologis dari konsep keselamatan dalam konteks ajaran Paulus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus, meskipun berbicara tentang pemilihan umat pilihan, tetap menegaskan bahwa keselamatan ditawarkan kepada semua manusia melalui iman. Dengan demikian, pemahaman keselamatan Paulus menyatukan aspek partikular dan universal dalam karya penebusan Kristus.
Pokok Anggur Sejati: Teologi Kesatuan, Ketaatan, dan Kasih dalam Yohanes 15:1-17 de Fretes Hanoch; Marciano Antaricksawan Waani; Sutikto Sutikto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/gfyd1506

Abstract

This study focuses on the analysis of the theology of unity, obedience, and love in John 15:1-17, which uses the metaphor of the true vine to describe the relationship between Christ and believers. The background of this research is the need to understand the integration of these three elements in the life of the church and individual Christians. The purpose of this research is to explore in greater depth the meaning of the theology of unity, obedience, and love, and their relevance in the context of contemporary Christianity. The research method used is a literature review with a systematic theological approach and biblical exegesis. The results of the study show that unity with Christ as the true vine, obedience to His commandments, and self-sacrificial love are foundational and interconnected in the life of believers. The discussion emphasizes the importance of maintaining a relationship with Christ to produce abundant spiritual fruit in the life of the church and society.   Penelitian ini berfokus pada analisis teologi kesatuan, ketaatan, dan kasih dalam Yohanes 15:1-17, yang menggunakan metafora pokok anggur sejati untuk menggambarkan hubungan Kristus dan orang percaya. Latar belakang masalah penelitian ini adalah kebutuhan untuk memahami integrasi ketiga elemen tersebut dalam kehidupan gereja dan individu Kristen. Tujuan dari penelitian ini adalah menggali lebih dalam makna teologi kesatuan, ketaatan, dan kasih, serta relevansinya dalam konteks kekristenan kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan teologi sistematis dan eksegesis Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesatuan dengan Kristus sebagai pokok anggur, ketaatan kepada perintah-Nya, dan kasih yang mengorbankan diri merupakan fondasi yang saling terikat dalam kehidupan orang percaya. Pembahasan ini menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Kristus untuk menghasilkan buah rohani yang berlimpah dalam kehidupan gereja dan masyarakat.

Page 1 of 1 | Total Record : 10