cover
Contact Name
meddyan heriadi
Contact Email
meddyanheriadi@gmail.com
Phone
+6281279687634
Journal Mail Official
meddyanheriadi@gmail.com
Editorial Address
Pascasarjana IAIN Bengkulu. Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Kota Bengkulu » Tel / fax : 081271987140 /
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/mtq.v5i1
Jurnal ini berfokus pada filsafat dan pemikiran islam. Jurnal ini diterbitkan oleh prodi Filsafat Agama S2 Pascasarjana IAIN Bengkulu. Tujuan dari pendirian jurnal ini adalah untuk menjadi sarana publikasi karya tuis ilmiah khususnya di bidang filsafat dan pemikiran islam.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2021): Mei" : 6 Documents clear
Sufisme dalam Perspektif Alexander Rossken Gibb Yoka Zulfiqor Zulfiqor
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5183

Abstract

Dari beberapa pendapat di atas dapatlah diambil suatu gambaran bahwa pemikiran atau hasil gerakan diperoleh dari sebagian pemikir Orientalis telah membuka jalan pengembangan ilmu-ilmu pengetahuan agama Islam yang sangat bermanfaat. Akan tetapi di sisi lain sebagian pemikir oreintali spemikirannya dapat menimbulkan keragu-raguan terhadapnilai-nilai ajaran Islam sekaligus dapat membawa perpecahan dalam Islam itu sendiri. Rumusan masalah dalam penelitian adalah : a) Apa pengertian tasawuf dalam perspektif  H.A.R. Gibb? b). Darimanakah sumber tasawuf dalam perspektif  H.A.R. Gibb? c) Apa pengertian tarekat dalam perspektif  H.A.R. Gibb? d) Apa saja macam-macam tarekat dan bagaimana ajaran-ajaran yang terdapat dalam tarekat-tarekat tersebut dalam perspektif  H.A.R. Gibb? Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah “Kualitatif Deskriptif”. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa, pertama: Istilah sufi dalam perspektif H.A.R. Gibb, pada umumnya bertalian dengan pemakaian pakaian dari bulu domba (suf) yang belum dicat, yang merupakan suatu tanda penebusan dosa perseorangan dalam pertapaan Kristen. Pakaian dari bulu domba ini telah menjadi lencana biasa bagi para sufi (sebutan bagi semua ahli mistik dalam Islam).. Kedua: Mengenai sumber sufisme, H.A.R. Gibb mengatakan bahwa dasar-dasar pertapaan dalam Quran sesuai dengan pertapaan kekristenan di Timur. Selain dari Kristen, sufisme juga bersumber dari ajaran-ajaran agama lain, diantaranya; aneka warna sumber dongeng Arab kuno, hikayat-hikayat Kristen, Majusi, dan Budha, bahan-bahan dari Injil dan Haggadah Yahudi, dan semua pelajaran lama dari Siria dan Babilonia.Ketiga: Tarekat dalam perspektif H.A.R. Gibb merupakan pergerakan populer pertama-tama karena pergerakan Sufi jemu akan doktrin kaku dari ahli kalam, dan memudahkan jalan bagi orang yang ingin masuk Islam (karena pendapat umum bahwa "kesederhanaan" Islam dengan sendirinya merupakan daya tarik untuk menyebarluaskan agama Islam)”. Keempat: Macam-macam tarekat dalam perspektif H.A.R. Gibb sangat banyak. Secara garis besar H.A.R Gibb membaginya ke dalam dua bagian, yakni tarekat desa dan tarekat kota. Diantara tarekat-tarekat yang ada, baik dari tarekat kota atau tarekat desa, ada beberapa tarekat yang berlebih-lebihan dalam melakukan ritual yang ada dalam tarekat terkait.  
Perkawinan Pada Masyarakat Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara). Sigit Susanto
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5179

Abstract

 Perkembangan sosial budaya di Kabupaten Bengkulu Utara khususnya di wilayah kecamatan Padang Jaya, secara tidak langsung berdampak pada pola fikir dan gaya hidup diantaranya munculnya masalah sosial seperti Mabuk  (minum), Maen (berjudi), Maling (mencuri), Madon (berzina) dan madat (minum candu/ obat-obat terlarang). Perilaku Molimo mendorong masyarakat untuk berbuat kurang baik, berakibat terjadinya perselisihan rumah tangga dan berujung kepada perceraian. Upaya memaknai nilai falsafah Molimo dan mengimplementasikan dalam bentuk penasehatan perkawinan guna mencegah perceraian. Teknik Penyusunan Tesis ini menggunakan penelitian lapangan (file research). Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dukementasi dan wawancara, dengan pendekatan analisis deskriptif kualitatif. Teknik analisis data mencakup tiga hal reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi. Makna falsafah molimo di Kecamatan Padang Jaya sebagai rambu-rambu dalam kehidupan dan sebagai media penyadar di pada masyarakat Padang Jaya. Perbuatan Molimo muncul di Padang Jaya dibagi tiga fase, pertama sejak tahun 1977 sampai tahun 1990 bahwa perbuatan Molimo di Kecamatan Padang Jaya didasari ekonomi masyarakat yang lemah, kedua fase pertengahan dari tahun 1990 sampai 2010 dijelaskan bahwa perbuata Molimo dilatarbelakangi oleh masuknya budaya baru dan mulai bangkitnya ekonomi masyarakat Padang Jaya. Fase ke tiga dari tahun 2010 sampai sekarang bahwa perbuatan Molimo di Kecamatan Padang Jaya di sebabkan oleh pengaruh media social, masukkanya pola fikir dan budaya baru dari perkotaan dan lembahnya pemahaman budaya serta nilai keagamanaan di masyarakat. Implementasi falsafah molimo pada masyarakat Padang Jaya dalam penasehatan perkawinan pra nikah dan pasca nikah dengan memasukkan nilai-nilai falsafah Molimo menjadi bagian materi yang diberikan kepada pasangan bermasalah rumah tangga disebabkan perbuatan Molimo dan dikonsultasikan ke KUA Kecamatan Padang Jaya. Hal ini bertujuan menjadikan pintu masuk dalam memberikan pemahaman kepada pasangan suami isteri yang bermasalah, untuk kembali memperbaiki rumah tangganya dan tercegah dari perceraian.  
Nilai-nilai Filosofis dalam Memperingati Upacara Hari Kematian dalam Tradisi Jawa Ditinjau dari Aspek Sosial (STUDI DI AIR BANAI KECAMATAN HULU PALIK KABUPATEN BENGKULU UTARA). Satimin Satimin
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5180

Abstract

 Nilai Filosofis yang terkandung dalam setiap tahapan ritual untuk memperingati hari kematian dalam tradisi jawa apabila dilihat dari aspek sosial, adat, kebudayan dan syari’at Islam di desa Air Banai kecamatan Hulu Palik Kabupaten Bengkulu Utara masih sangat kental, masyarakat saling berkontribusi untuk menjaga budaya dengan baik. rumusan masalah yang menjadi pokok pembahasan dalam karya tulis ini ialah, sebagai berikut:a). Bagaimana Kajian nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam upacara hari kematian pada tradisi jawa ditinjau dari aspek sosial? b). Bagaimana akulturasi nilai nilai filosofis budaya Jawa berkembang dalam upacara hari kematian ditinjau dari aspek sosial? Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a). Untuk mengetahui bagaimana nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam upacara hari kematian pada tradisi jawa ditinjau dari aspek sosial; b). Untuk mengetahui bagaimana proses akulturasi nilai nilai filosofis budaya Jawa berkembang dalam upacara hari kematian ditinjau dari aspek social. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan beberapa metode, yaitu: a). Observasi ). Metode dokumentasi c). Intervie. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam upacara hari kematian pada tradisi jawa ditinjau dari aspek sosial merupakan wujud terima kasiah kepada Tuhan Yang Maha Esa, perwujudan sikap hormat, perwujudan sikap keseimbangan sosial, Selain itu terdapat nilai filosofis yang terkandung dalam simbol yang dibutuhkan dalam ritual yaitu: Kembang tujuh rupa, bunga jutuh rupa melambangkan agar kehidupan manusia senantiasa mendapat pitulungan (pertolongan) dari Allah SWT. minyak wangi ialah melambangkan permohonan dari keharuman, filosofi minuman ini ialah bahwa air sebagai sumber kehidupan manusia, jadi manusia harus bisa irit dalam menggunakan air secara arif dan bijak, kinangan ialah menciptakan kehidupan yang bahagia, kemantapan dalam bertindak dan bubur merah dan bubur putih ialah jenang itu sebagai gambaran asal mulanya manusia. Sehingga Masyarakat dalam memperingati hari kematian, agar keluarga yang ditinggalkan hidup aman, bahagia dan tenteram.                
Teologi Haji Dan Umroh Di Era Pandemi (Studi Kasus di Desa Riak Siabun 1 Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. Makmur Makmur
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5181

Abstract

 Latar Belakang penelitian ini adalah Pelaksanaan haji yang dilakukan pada umumnya hanya berorientasi kepada kepentingan diri sendiri yaitu untuk mendapatkan pahala yang  lebih banyak. Padahal jika dilihat pada efek pelaksanaan haji secara teologis, ia  memiliki makna yang tidak kecil. Seseorang yang pernah melaksanakan haji akan menjadi lebih baik dan mengalami perubahan sosial yang sangat signifikan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis aspek-aspek teologi, selain itu untuk menganalisis Teologi haji dan umroh pada era pandemi di desa Riak Siabun I Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma, kemudian menganalisis hukum ibadah haji diera pandemi pendapat para ulama. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yaitu pengumpulan data secara langsung di lapangan untuk mendukung studi lapangan peneliti yang bersifat deskriptif kualitatif, dan teknik pengumpulan data menggunakan Teknik pengamatan, studi dokumentasi, wawancara. Temuannya adalah Kebutuhan masyarakat akan pelaksanaan ibadah haji dan umrah yang semakin meningkat,Sekaligus bergesernya gaya hidup umat muslim, seperti keinginan masyarakat muslim untuk melakukan traveling dan wisata religi berupa pemenuhan kewajiban ibadah haji dan umrah. Kesimpulan penelitian ini aspek-aspek teologi yaitu aspek sejarah, Aspek Perhatian Umat, Aspek Istitha’ah, Aspek Hikmah at-Tasyri’.  Selain itu hasil penelitian dari Teologi haji dan umroh pada era pandemi di desa Riak Siabun I diamana Pandemi COVID-19 memaksa pemerintah mengeluarkan Keputusan Kementerian Agama (KMA) Nomor 494 tahun 2020 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1441H/2020.  
Makna Simbol Ingkung dan Sego Wuduk dalam Tradisi Selamatan Kematian di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara Eka Sumardi
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5182

Abstract

Mayoritas masyarakat Jawa setiap ada peristiwa kelahiran, perkawinan, kematian mengadakan acara selamatan dalam bentuk doa bersama. Hal yang paling sering adalah selamatan kematian  oleh masyarakat Putri Hijau, terdiri dari: Geblag (selamatan setelah jenazah dimakamkan), Telung Dinan (setelah tiga hari ),Pitung Dinan (setelah tujuh hari ), Patang Puluh Dinan (setelah empat puluh hari), Nyatus Dinan (setelah seratus hari ), Pendak (setelah satu tahun ), Sewon (setelah seribu hari). Selamatan kematian terdapat sajian yang khusus dan wajib ada yakni sajian ingkung dan sego wuduk. Sajian ingkung dan sego wuduk, identik sebagai sajian yang wajib ada untuk memperingati meninggalnya seseorang. ). Rumusan masalah riset ini adalah a). Apa makna simbol Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) di desa Karang Pulau? b). Bagaimana makna simbol Ingkung dan sego wuduk dianalisis  menggunakan semiotika Roland Barthes? c). Bagaimanakah nuansa teologi dalam simbol Ingkung dan sego Wuduk  dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) ? Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut : a). Mendiskripsikan  makna simbol Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan) di desa Karang Pulau; c). Mendiskripsikan  makna simbol Ingkung dan sego wuduk dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes. c). Mendiskripsikan  nuansa teologi  pada Ingkung dan sego wuduk dalam tradisi selamatan kematian (tahlilan). Pada  metode  penelitian  ini, peneliti  melakukan  metode  penelitian  secara kualitatif. Hasil dari riset ini adalah masyarakat desa Karang Pulau dari golongan tua atau kelas menengah kebawah  masih  mempercayai    ingkung dan sego wuduk  sebagai simbol  dalam  selamatan  kematian (tahlilan)  sampai  sekarang.  Sedangkan  masyarakat  dari  golongan  muda atau golongan kelas menengah ke atas tidak langsung menerima simbol. Mereka melihat alasan dan kepentingan tentang adanya simbol  ingkung dan sego wuduk dalam selamatan kematian (tahlilan). Masyarakat desa Karang Pulau memaknai simbol ingkung dan sego wuduk sebagai lambang pengharapan pensucian dan pengampuan Allah maka setiap acara selamatan tahlilan wajib ada. Analisis  Barthes  pada  simbol  ingkung dan sego wuduk   dalam  selamatan  kematian(tahlilan) di desa Karang Pulau yakni analisis pertama secara denotatif   ingkung dan sego wuduk   merupakan   hidangan  tradisional  yang  berbentuk  ayam utuh dengan posisi seperti orang sedang duduk tawaru’  dan nasi  berwarna putih yang terasa khas.Analisis kedua secara konotatif dapat dikatakan  ingkung dan sego wuduk berarti  pengharapan pensucian ,ampunan kepada orang yang telah meninggal sehingga wajib ada   dalam  selamatan  kematian  (tahlilan
Pemberian Mahar dan Uang Hantaran pada Pernikahan Adat Suku Rejang Bengkulu Utara (PRESPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA) Siti Suroh
Manthiq Vol 6, No 1 (2021): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v6i1.5178

Abstract

Abstrak: Pemberian Mahar dan Uang Hantaran pada Pernikahan Adat Suku Rejang Bengkulu Utara (PRESPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA). Proses pemberian mahar dan uang hantaran yang terjadi pada masyarakat suku Rejang, di Bengkulu Utara, khususnya di Desa Perbo adalah mahar dipatok berdasarkan perbedaan suatu kelas atau starata tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep serta latar belakang dalam pemberian mahar dan uang hantaran pada pernikahan adat suku Rejang Bengkulu Utara (prespektif sosiologi agama). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori stratifikasi sosial Max Webber dan Ibnu Khaldun. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Selanjutnya analisis data menggunakan reduksi data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Konsep dasar mahar dan uang hantaran pada masyarakat suku Rejang Desa Perbo Bengkulu Utara adalah Setelah melalui proses mediak, dilanjutkan dengan musyawarah antara pria dan wanita tentang besaran mahar dan uang hanataran yang diinginkan pihak wanita, kemudian, dilanjutkan dengan acara basen (berasan) dan menentukan tanggal pernikahan. Adapun, latar belakang dan bentuk stratifikasi sosial dalam proses pemberian mahar dan uang hantaran Perbo adalah kekuasaan dan kedudukan keluarga dan faktor pendidikan dan pekerjaan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6