cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2018): April" : 5 Documents clear
SOROTAN YOHANES 17:20-23 TENTANG KESATUAN ALLAH DAN MANUSIA TERHADAP MISTIK TOENGGOEL WOELOENG Fredi Purwanto
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 1 (2018): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i1.79

Abstract

Bila kita tinjau mistik Toenggoel Woeloeng dalam terang firman Tuhan, secara khusus dari Yoh. 17:20-23, maka jelaslah bahwa konsep Toenggoel Woeloeng mengenai dirinya sebagai Kanjeng Rama Ana atau Kristus yang kelihatan adalah tidak alkitabiah sehingga tidak dapat dibenarkan karena hal itu merupakan sinkretisme. Hal ini dilatarbelakangi bahwa ia adalah seorang Jawa yang tidak mau meninggalkan kebiasaan nenek moyangnya yang telah berurat akar dalam masyarakatnya. Ia beranggapan bahwa pelajaran yang diberikannya sesudah ia menjadi seorang Kristen tidaklah jauh berbeda dengan apa yang diberikannya di lereng Gunung Kelud. Dengan menyebut dirinya sebagai Kanjeng Rama Ana sebenarnya dapatlah disimpulkan bahwa dia sedang memposisikan dirinya sebagai “manusia sempurna” dalam pengertian mistik Jawa. Itu berarti bahwa dia adalah representasi dari Allah Bapa, atau dengan kata lain ia sedang menyejajarkan dirinya dengan Kristus. Sehingga tidaklah mengherankan kalau dia mengajarkan bahwa setiap bangsa yang menjadi Kristen harus punya pemimpinnya sendiri yang dapat dilihat. Bahwa orang Jawa bergabung dengan penginjil Eropa adalah salah: mereka harus menjadi orang Kristen Jawa dan mencari Kristus-nya “sendiri”. Oleh sebab itu, para murid Toenggoel Woeloeng mengharapkan bahwa Ratu Adil akan datang di sekitar Bondo. Pengajarannya lebih mudah diterima oleh orang Jawa, sehingga pengikutnya banyak, bahkan ia dipuja-puja oleh pengikutnya sebagai kiai dan dianggap sakti serta punya kekuatan magis karena ia punya kesaktian dari pertapaanya di Gunung Kelud.
PERSEPULUHAN MENURUT MALEAKHI 3:7-12 Afgrita Fendy Christiawan
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 1 (2018): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i1.81

Abstract

Kitab Maleakhi menyatakan ketertinggalan bangsa Israel dalam mewujudkan ketaatannya kepada Allah. Meskipun demikian Allah tetap mengasihi mereka. Maleakhi mengajak bangsa ini untuk memulihkan hubungan mereka dengan Tuhan dengan cara memulihkan kerohanian mereka. Tidak hanya kepada seluruh suku, tetapi juga sampai kepada pelayan Tuhan yaitu Lewi dan Imam. Maleakhi berbicara dalam otoritas ucapan ilahi. Taurat adalah pemberian Tuhan untuk mengatur prilaku bangsa Israel sebagai umat kepunyaan Allah. Persepuluhan adalah bentuk peribadatan dan wujud keaktifan dalam mendukung kegiatan keimamatan dalam bait Allah. Pengabaian persepuluhan berdampak kepada terhambatnya pelayanan karena para imam bekerja bagi nafkah mereka masing-masing. Taurat itu sendiri tidak hanya berlaku kepada bangsa Israel, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain yang percaya kepada YHWH. Perbuatan baik adalah penting, tetapi persepuluhan juga penting. Tidak boleh mengabaikan salah satunya. Suku Lewi tidak menerima persepuluhan sebagai upah, tetapi sebagai warisan. Persepuluhan adalah wajib. Tidak memandang pekerjaan ataupun tingkat penghasilan. Suku Lewi hidup dari persepuluhan, namun mereka juga memberikan persepuluhan terbaik mereka kepada para imam. Bangsa Israel telah menghina Tuhan, khususnya para imam dengan tidak hormat dan tidak takut kepada Tuhan. Hidup mereka sudah jauh bertentangan dengan hukum Tuhan dengan mempersembahkan persembahan yang tidak layak, kawin-cerai dan kawin campur dengan bangsa kafir. Mereka juga berbicara dengan sembarangan memuji orang-orang gegabah dan fasik. Tuhan mengingatkan mereka bahwa ada hari penghakiman dan penghukuman bagi orang angkuh dan berbuat jahat, namun juga hari kemenangan bagi orang benar. Dalam menjalankan persepuluhan memerlukan kesungguhan seperti yang diteladani dari Abraham (dan Yakub). Persepuluhan Musa juga memandang kepada teladan Abraham. Persepuluhan harus jujur dan utuh. Sejak nenek moyang mereka, bangsa Israel sudah mengesampingkan ketetapan Tuhan. Masalah ini akan tetap berlangsung jika mereka tidak bertobat. Mereka juga sudah lama tidak menjalankan persembahan persepuluhan sehingga tempat perbendaharaan tidak terisi dan tidak ada makanan bagi orang Lewi. Tuhan kecewa kepada Lewi dan Imam yang mengabaikan tugas mereka dan bertindak dengan pandang bulu. Mereka gagal memberikan instruksi yang benar dalam Taurat. Mengakibatkan Bangsa Israel bertindak menyimpang dan tidak tahu bahwa itu salah. Bangsa ini hancur dalam ketidaktahuan. Mereka merampok Allah dengan terus menerus tidak memberikan persepuluhan dan persembahan. Tindakan itu sudah menjadi kebiasaan buruk (profesi). Maleakhi menyerukan pertobatan dan supaya bangsa Israel mengingat kembali akan kesetiaan Tuhan. Mereka dituduh telah merampok Tuhan karena lalai pada persepuluhan dan persembahan khusus yang adalah nafkah para imam. Persepuluhan adalah serius, sehingga dengan tidak memberikannya sama saja dengan merampok Tuhan. Cara untuk kembali kepada Tuhan di antaranya adalah dengan menghiraukan persepuluhan. Bangsa Israel tidak memberikan persepuluhan atau memberikan namun tidak sebagaimana seharusnya. Kesulitan ekonomi menjadi alasan bangsa Israel untuk tidak memberikan persepuluhan. Mereka merasa dirinya begitu susah sehingga layak jika bertindak tidak hormat kepada Tuhan. padahal justru pengabaiannya terhadap persepuluhan itulah yang membuat berkat mereka terhambat. Mereka tidak sadar bahwa tindakan mereka justru memperburuk keadaan karena mendatangkan pengadilan, peringatan dan kutuk dari Tuhan. “Dengan kutukan kamu terus menerus dikutuk, tetapi masih tetap terus menerus merampok Tuhan”. Kutuk itu mengikat dan membatasi berkat. Bangsa Israel menjadi bangsa yang besar karena Tuhan, namun mereka tetap merampok Tuhan. Orang yang tidak tahu bagaimana memberi, maka mereka akan menerima makin lama makin sedikit. Tuhan meminta mereka menguji Dia dengan persepuluhan karena Ia pasti memulihkan perekonomian mereka. Berkat akan dicurahkan berlimpah sampai tidak lagi diperlukan. Tuhan adalah sumber penghidupan mereka, karena itu memberikan persepuluhan tidak mengurangi penghasilan mereka, justru lebih. Allah memerintahkan agar kembali melakukan persepuluhan yang lama diabaikan ke Bait Allah yang adalah rumah perbendaharaan. Ketaatan mereka memenuhinya adalah wujud ketaatan kepada Allah. Ada jaminan bagi yang taat. “Ujilah Aku” perintah Tuhan sebagai bukti kesetiaan-Nya. Bangsa Israel meragukan pemeliharaan Tuhan dalam ketidaktahuan mereka, karena itu tantangan dari Tuhan ini muncul. Mereka bertanggungjawab jika Imam dan Lewi kelaparan karena absen nya persepuluhan. Karena memberi persepuluhan semata-mata karena menghormati Tuhan. Kegagalan persepuluhan sebenarnya berakar kepada kekikiran karena tidak percaya/ meragukan Allah. Memberikan Persepuluhan merupakan bentuk ketaatan. Allah adalah sumber berkat dan hanya dirasakan oleh orang yang takut kepada-Nya. Berkat adalah Kekuatan dari Allah yang datang dari Allah yang mendatangkan keberuntungan dan kekayaan bagi manusia. Tuhan menjaga sumber penghasilan umat-Nya. Tuhan akan menghardik belalang pelahap tidak hanya saat ini tetapi seterusnya. Allah mengusir binatang pelahap agar tidak merusak hasil panen mereka. Negeri itu menjadi negeri kesukaan karena tanah tersebut menjadi berkat bagi setiap orang dan setiap orang menjadi kesukaan atas negeri.
PELAYANAN PASTORAL KONSELING BERDASARKAN 1 PETRUS 5 : 1 – 11 Hanok Tuhumury
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 1 (2018): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i1.82

Abstract

Pergantian sistem pemerintahan di Israel dalam 1 Samuel 8:1-22 yang menyoroti suasana transisi dari pemerintahan hakim ke pemerintahan raja menuntut agar kita tidak menghayati iman secara naif, dalam arti hitam-putih saja, tetapi secara mendalam, secara dialektis. Di dalam ayat 7 barulah jelas bahwa persoalan dalam perikop ini bukanlah sekadar masalah sekular mengenai pergantian sistem, tetapi persoalan iman. Sebab dengan mengajukan tuntutan meminta raja, bukannya Israel menolak Samuel, tetapi menolak Tuhan sendiri. Kesetiaan iman terhadap Tuhan ternyata tidak menuntut agar kita mengidentikkan iman dengan zaman apa saja, entah itu masa lalu, masa kini atau masa depan. Kerajaan Allah melampaui gambaran apa pun yang dapat digambarkan oleh manusia. Maka yang dituntut dari orang beriman dalam rangka menghadapi perubahan zaman sehingga dapat setia kepada imannya maupun kepada konteks, adalah sikap dialektis. Tetapi yang ditekankan adalah kesetiaan iman saja, dan tidak peduli pada perubahan konteks yang terjadi di sekitarnya. Penulis melihat bahwa hal tersebut yang membuat bebarapa anggota gereja Bala Keselamatan Jember, akhirnya kalah dalam peperangan rohani karena tidak peduli dengan konteks, imannya “terjual” karena menikah dengan orang yang tidak seiman dan akhir terjadi perceraian karena tidak adanya kesesuaian dalam hidup rumah tangga. Bagaimana supaya kita dapat terhindar dari kesalahan ini, sehingga bisa membangun sikap dialektis yang dapat memampukan kita untuk setia pada iman sekaligus setia pada konteks?. Emanuel Gerrit Singgih mengemukakan tiga hal, sebagai berikut: Pertama, kita perlu kembali kepada Alkitab. Harus bertolak dari teks Alkitab sehingga dapat menuntun kita untuk mengambil sikap yang tepat sesuai dengan suasana perubahan sehingga bisa menghayati imannya sesuai dengan konteks yang ada. Kedua, kita perlu kembali kepada reformator-reformator, yang adalah para pembaru gereja dengan prinsip reformasi: yaitu “Ecclesia Reformata, semper roformanda” (gereja reformasi selalu bereformasi). Para reformator telah berhasil memecahkan kebekuan teologis yang ada dengan memprotes konteks, “penggunaan bahasa Latin sebagai bahasa ibadah dan menggantikan dengan bahasa setempat (konteks). Ketiga, beralih dari managemen top-down, kepada managemen bottom-up, sehingga jemaat yang ada dalam segala pergumulan hidupnya tetap dihargai karena mereka adalah domba dari Kristus, jemaat dan gembala/majelis semuanya adalah kawan sekerja Allah.
PASTORAL KONSELING BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI YANG TIDAK SEIMAN BERDASARKAN 1 KORINTUS 7:12-16 Mansyukur Waruwu
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 1 (2018): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i1.83

Abstract

Dari bentuk-bentuk Pastoral Konseling yang sudah diuraikan di atas, maka dari 1 Korintus 7:12-16, ada 4 nasehat Pastoral Konseling yang dilakukan Paulus kepada jemaat Korintus bagi pasangan yang tidak seiman, nasehat tersebut diberikan untuk memberikan solusi atas pertanyaan dan persoalan yang dihadapi, dialami jemaat Korintus. Nasehat tersebut adalah model pastoral konseling bagi pasangan yang tidak seiman yaitu; Model Pastoral Konseling Edukatif, Supportif, Model Spiritual, dan Model konfrontatif.
PASTORAL KONSELING KEPADA REMAJA KRISTEN INDONESIA DALAM MENGHADAPI PERGAULAN BEBAS Agus Sanjaya
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 1 (2018): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i1.84

Abstract

Berdasarkan acuan pada kajian teoritik, hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian sesuai dengan fokus dan sub fokus, maka peneliti memberikan kesimpulan sebagai berikut: Pertama, ditemukannya kelemahan model pelayanan pastoral konseling terhadap remaja Kristen Indonesia. Hamba Tuhan / pendeta sebagai gembala yang bertanggung jawab atas jemaatnya, tidak konsen terhadap pelayanan pastoral konseling, ini ditandai kurang dipersiapkannya pemimpin komsel yang ditugaskannya untuk memimpin dan membimbing remaja dengan ilmu-ilmu konseling sedangkan remaja sangat membutuhkan bimbingan atau pendampingan agar mereka tidak terpengaruh oleh pergaulan bebas. Oleh karena itu pemimpin komsel kurang memahami tentang pengertian konseling, khususnya konseling Kristen sehingga pemimpin komsel tidak memberikan pemahaman yang benar dan membimbing dengan maksimal remaja Kristen. Kedua, keterbatasan waktu yang dimiliki oleh pemimpin komsel atau konselor dalam memberikan pembimbingan dan perhatian kepada remaja, mengakibatkan remaja terpengaruh oleh ajakan teman dan lingkungan sekitar sehingga mereka pergi dan menikmati pergaulan bebas. Ketiga, konselor atau pemimpin komsel belum mempersiapkan model pastoral konseling dan bahan-bahan pembimbingan yang cocok dan sesuai untuk digunakan dalam pembimbingan agar dapat dipahami dan diterima oleh remaja sehingga mereka mampu dalam menghadapi pergaulan bebas.

Page 1 of 1 | Total Record : 5