cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober" : 5 Documents clear
PENATALAYANAN GEREJA DI BIDANG MISI SEBAGAI KONTRIBUSI BAGI PELAKSANAAN MISI GEREJA Ramona Vera Amiman
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.85

Abstract

Di dalam seluruh isi Alkitab disaksikan bahwa Allah mengutus banyak orang “menjalankan misi dari Allah”. Misi itu muncul dari hati Allah sendiri, lalu dikomunikasikan kepada hati umat-Nya, dan karena Allah ingin menjangkau umat manusia secara global, maka Allah memanggil dan mengutus gereja-Nya untuk melaksanakan misi-Nya. Pelaksanaan misi Allah itu bukan hanya berupa misi penginjilan secara lintas budaya saja, tetapi segala sesuatu yang menjadi jatidiri, baik yang dikatakan maupun yang dilakukan seorang Kristen dan sebuah Jemaat Kristen, semestinya bersifat missioner. Karena misi gereja itu mengalir dari misi Allah, dan misi Allah ada demi seluruh dunia milik-Nya, maka gereja harus mulai dengan melihat bahwa dirinya berada dalam aliran besar misi Allah, gereja mesti memastikan bahwa sasaran-sasaran missionernya, baik yang jangka panjang maupun pendek, bersesuaian dengan sasaran Allah. Itulah sebabnya sangatlah penting bagi gereja untuk melaksanakan misi, karena apabila gereja tidak melakukan misi maka gereja akan sulit bertumbuh dan berkembang, yang pada akhirnya gereja mengalami kemunduran. Tujuan gereja adalah melakukan misi Allah, menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah-tengah dunia. Misi tersebut terkandung dalam tri tugas panggilan gereja, yakni: bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), dan melayani (diakonia). Agar gereja dapat melakukan pelayanan misi di tengah-tengah dunia ini, maka gereja harus melakukan penatalayanan bagi pelayanan gereja itu sendiri, karena penatalayanan merupakan tanggung jawab gereja. Karena penatalayanan berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab, maka dalam melakukan penatalayanannya, gereja melaksanakan pekerjaan Allah yang telah dimandatkan kepadanya dan sepenuhnya melayani atas nama Allah serta bertanggung jawab kepada Allah atas pelaksanaan semua pekerjaan yang ditanggung atasnya. Tanggung jawab dalam melakukan penatalayanan ini merupakan bagian penting dalam gereja. Penatalayanan juga adalah pokok yang penting dalam pelayanan gereja, karena penatalayanan berkenaan dengan pengelolaan semua sumber daya yang telah dipercayakan Allah kepada gereja. Segala sesuatu adalah milik-Nya, tetapi Dia telah menunjuk gereja sebagai penjaga milik-Nya, Maka gereja bebas mengatur semua sumber daya itu, tetapi pada akhirnya nanti harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya sesuai dengan garis-garis pedoman yang terdapat dalam Alkitab.
MODEL MISI PERKOTAAN RASUL PAULUS DI KORINTUS Jonar Situmorang
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.88

Abstract

Model Misi Perkotaan yang dilakukan oleh rasul Paulus di Korintus menjadi suatu bentuk pelayanan misi, yang kontekstual. Adapun bentuk model misi perkotaan yang dilakukan Paulus adalah “menjadi seperti”. Dengan menjadi seperti, memudahkan dalam pendekatan untuk menyampaikan kabar baik. Tetapi patut diperhatikan dan digaris-bawahi, bahwa dalam model pendekatan ini jangan sampai kebablasan, yaitu kehilangan kontrol diri. Ada rambu-rambu yang harus diperhatian, di mana firman Allah adalah sebagai tolok ukur. Dan tujuan dari pelaksanaan model misi ini adalah memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan. Untuk terwujudnya akan hal ini, maka makna dari “menjadi seperti” dapat pula berarti bahwa umat Krisrtus dapat menjadi teladan, sebagai kesaksian yang hidup bagi orang lain. Pelayanan misi perkotaan harus menjadi perhatian gereja. Karena di perkotaan itu terdapat multikompleks permasalahan. Yang paling menyolok adalah adanya kesenjangan sosial, yang membuat orang lain enggan dekat dengan gereja. Belum lagi keegosian, yang mementingkan kepentingan pribadi, membuat ketidak-pedulian dengan sesama. Tetapi dengan konsep yang dilakukan Paulus, yaitu “menjadi seperti”, dapat menciptakan keterbukaan dengan orang lain. Di sinilah kesempatan untuk dapat menjadi saksi. Yang tidak kalah penting dalam pendekatan secara kontekstualisasi ini adalah bahwa firman Allah menjadi barometernya. Jangan sampai firman Allah yang menyesuaikan diri dengan budaya. Dengan menjadi seperti, bisa saling memahami, dan berempati, yang tentunya dilandasi dalam kasih Kristus, sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain.
POLA PEMBINAAN BERDASARKAN EFESUS 5 : 22- 33 BAGI PERNIKAHAN DINI WARGA JEMAAT MASA KINI Rafles Rudi Laua
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.89

Abstract

Berdasarkan acuan pada kajian teoritik dan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sesuai fokus dan subfokus peneliti mengenai exegese Kitab Efesus 5:22-33 sebagai pola pembinaan bagi pernikahan, maka ditemukan sebab-sebab lemahnya penerapan pola pembinaan bagi pernikahan di Gereja Bala Keselamatan Desa Pani’i dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Pernikahan yang baik adalah komitmen total dari dua orang di hadapan Tuhan dan sesama. Pernikahan yang baik didasarkan pada kesadaran bahwa pernikahan ini adalah kemitraan yang mutual. Pernikahan yang baik juga melibatkan Tuhan secara proaktif di dalam setiap pengambilan keputusan, sebab pernikahan adalah sebuah rencana ilahi yang istimewa. Dengan demikian, pernikahan seharusnya tetap dijaga dan dipertahankan di dalam kekuatan Roh yang mempersatukan kedua insan. Kedua menurut penulis pola pembinaan dalam pernikahan merupakan suatu metode yang paling efektif dalam memberikan pembekalan kehidupan suami istri melalui konseling pranikah dimulai dari pengertian tentang hakekat pernikahan kristen, mengetahui pernikahan itu adalah rencana dan rancangan Allah dalam hidup manusia, dan pentingnya pola diterapkan pada setiap pelayanan diharapkan dapat membuat pelayanan menjadi berkualitas. Setiap gereja memiliki pola yang menjadi ciri dalam pelayanannya, bukan hanya sekedar untuk membuat pelayanan kelihatan aktivitasnya namun untuk dapat memaksimalkan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat. Ketiga, pola pembinaan pernikahan Kristen yang telah menjadi bagian dari pelayanan gereja ini sejak lama tidak diterapkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan ibadah yang mengedepankan pembinaan pemuda dalam menghadapi pergaulan dan perencanaan masa depan memlalui rencana penikahan yang ada pada dasarnya memiliki pola pengajaran yang sama. Hanya disebagian ibadah ketegorial yang memiliki sedikit perbedaan. Penyebabnya adalah hamba Tuhan tidak dapat melihat tanda-tanda perubahan zaman dan menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi jemaat yang juga berubah. Hasilnya jemaat menjadi kurang peduli pentingnya pembinaan pernikahan Keempat, pola pembinaan pernikahan tidak mendapat perhatian dari hamba Tuhan dan kurangnya pemahaman dari hamba Tuhan mengenai pola pembinaan disebabkan kurangnya pengalaman dalam pembinaan, dalam hal ini hamba Tuhan harus terus meningkatkan dan memperlengkapi diri melalui buku-buku serta perlunya berelasi dengan gereja lain atau hamba Tuhan baik dari denominasi yang sama maupun dari denominasi gereja yang berbeda. Kelima, pembinaan melalui koseling merupakan pembelajaran khusus yang bertujuan untuk membentuk pasangan suami istri sampai akhirnya mereka memahmi benar arti sebuah pernikahan Kristen dan menjalani hidup sebagai pasangan suami istri. Hamba Tuhan harus menerapkan pola yang dapat membuat pasangan suami istri merasa dewasa dalam menjalani kehidupan berumah tidak kehilangan esensi dari pembelajaran itu sendiri. Dalam penerapan pola ini, pemberitaa melalui firman Tuhan didaarkan pada kitab Efesus 5:22-33. Pola itu, sesungguhnya di zaman ini sangat diperlukan dikarenakan pengaruh-pengaruh sekuler yang begitu cepat mempengaruhi prilaku hidup dalam pernikahan yang dipengaruhi oleh: (1) Kekuatan Teknologi yang cepat sehingga antara kebutuhan dan keinginan tidak sesuai; (2) Komunikasi yang tidak harus dibangun ,justru membuat keretakan hidup suami istri dengan adanya perselingkuhan; dan (3) Tayangan-tayangan yang tidak lagi terbatas dapat disaksikan sehingga membentuk pola kehidupan yang tidak lagi mengutamakan kesucian hidup. Lemahnya pelayanan ini juga disebabkan: (a) Karena gereja kurang peduli akan pentingnya pembinaan sejak awal arti pernikahan Kristen (b) Gereja terlalu sibuk mengurusi hal-hal kegiatan gereja saja dan mulai meninggalkan perhatian kepada kehidupan keluarga. (c) Gereja tidak melaksanakan pola pembinaan sejak muda kepada pemuda-pemudi gereja untuk mempersiapkan hidup dalam berumah tangga (d) Karena kurang memperlengkapi diri, gereja tidak dapat menerapkan pola yang ada dalam Alkitab, sesungguhnya ada pola yang sangat ideal yang dapat diterapkan dalam pelayanan.
PEMULIHAN ALKITABIAH TERHADAP KONSEP DIRI IRASIONAL KAUM MUDA Triani Devita Sinaga
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.90

Abstract

Pertama konsep diri adalah pandangan manusia tentang diri sendiri yang meliputi dimensi pengetahuan tentang diri sendiri, pengharapan mengenai diri sendiri dan penilaian tentang diri sendiri baik secara fisik, psikis, sosial, intelektual, moral maupun spiritual dalam seluruh kehidupannya. Setiap pribadi manusia bisa mengalami konsep diri irasional termasuk kaum muda baik; laki-laki maupun perempuan namun konsep diri irasional bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Sebab konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia, namun bisa kembali normal setelah menemukan konsep diri yang tepat sesuai persfektif Allah. Konsep diri irasional muncul dalam diri seseorang karena faktor pembentukan yang mempengaruhi; bisa melalui pola asuh orang tua, lingkungan, dan pengalaman yang dinilai dalam dirinya dan menentukan itulah penilaiannya terhadap dirinya. Dampak yang diperlihatkan oleh priibadi yang mengalami konsep diri irasional tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab dan bisa membahayakan dirinya karena itu mempengaruhi spritual – gangguan mental dalam dirinya. Oleh sebab itu setiap pribadi yang mengalami konsep diri irasional perlu ditangani dan dilayani. Kedua, konsep diri pada manusia bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan ini dalam pandangan Alkitab sangat jelas. Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, manusia sangat dikasihi, dihargai dan berharga dalam pandangan Tuhan. Seperti apapun kehadiran pribadi dalam dunia, Allah mengetahui dan sudah memiliki rancangan yang indah. Karena itu seharusnya manusia memiliki penilaian terhadap konsep dirinya sesuai persfektif Allah. Tidak dapat dipungkiri akibat dosa manusia salah dan cenderung untuk melakukan kesalahan dalam menilai Tuhan dan dirinya yang berakibat manusia memiliki konsep diri irasional. Namun Allah terus mencari dan menawarkan keselamatan (Yohanes 3:16) supaya manusia tidak binasa dan dipulihkan Tuhan untuk keberadaannya. Tujuan Allah pada setiap pribadi ialah semakin bertumbuh menyerupai Kristus (Efesus 4:13-15) karena manusia dikasihi dan berharga (Yesaya 43:4). Ketiga, dalam penelitian didapati bahwa kaum muda di GPIN Bandar Lampung ada yang mengalami konsep diri irasional. Kondisi yang diperlihatkan dan teraktualisasi sangat memprihatinkan. Karena itulah peneliti mencoba menawarkan pelayanan untuk menangani pribadi-pribadi yang mengalami konsep diri irasional dengan Model Pemulihan Alkitabiah sebagai langkah-langkah untuk memulihkan kehidupan pribadi yang mengalami konsep diri irasional. Keempat, oleh sebab itu setelah mengadakan penelitian melalui wawancara kepada informan yang terkait baik kepada kaum muda yang mengalami konsep diri irasional, orang tua, gereja atau gembala jemaat, dan psikolog. penulis menyimpulkan bahwa, 1) Penanganan kepada kaum muda yang mengalami konsep diri irasional tidaklah mudah sebab pribadi ini tertutup dan tidak bersedia untuk siapa pun masuk dalam kehidupan pribadinya karena mengganggap dirinya benar dan bertindak benar meskipun secara sadar mengakui bahwa tidak nyaman dengan kehidupannya saat ini. 2) Tidak dapat dipungkiri keterbatasan dan kelemahan dalam penangan kepada pribadi yang mengalami konsep diri irasional sudah dilakukan oleh gereja dan orang tua. 3) Model Pemulihan Alkitabiah memang dipakai dalam melayani namun cenderung kepada konseling pribadi atau konseling Kristen (memecahkan masalah) bukan pemulihan (dari dosa – masa lalu – mempersiapkan untuk berani menghadapi kenyataan dan keyakinan bahwa Tuhan bersama dengan dirinya).
PASTORAL KONSELING PSIKOLOGI ALKITABIAH BAGI PEREMPUAN YANG TELAH MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS SEBELUM MENIKAH Junius Halawa
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.91

Abstract

Pertama, Pelayanan pastoral konseling merupakan pelayanan yang efektif untuk memahami dan menolong jemaat dalam setiap persoalan mereka. Secara khusus para hamba Tuhan harus memberikan pelayanan pastoral konseling bagi jemaat yang memiliki pergumulan khusus salah satunya bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah, supaya jemaat dikuatkan, jiwanya diselamatkan dan mengalami pemulihan di dalam Tuhan. Dalam melakasankan pastoral konseling bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah perlu menggunakan pendekatan psikologis Alkitabiah. Psikologi Alkitabiah dapat diterapkan para konselor Kristen untuk memudahkan memahami pikiran, perasaan dan keadaan yang sedang dialami konseli. Maka, psikologi berguna sebagai prinsip pendekatan supaya konseli dapat lebih terbuka, sehingga tujuan pastoral konseling itu sendiri dapat tercapai. Kedua, Perempuan merupakan ciptaan Tuhan yang mulia, berharga dan istimewa di hadapan Allah. Perempuan juga memiliki natur segambar dan serupa dengan Allah sehingga perempuan sehakikat dengan laki-laki. Tuhan menciptakan perempuan memiliki peranan sebagai penolong bagi suami, mengajarkan kebenaran kepada anak dan memberikan hidup untuk melayani Tuhan. Kemudian seks adalah merupakan ciptaan Tuhan yang baik bagi manusia. Tuhan punya tujuan menciptakan seks bagi manusia agar manusia memiliki keintiman, satu keastuan dan kenikmatan. Seks yang berkenan kepada Allah ialah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan suami-istri yang sudah diberkati dalam pernikahan kudus. Seks menurut Alkitab memiliki dimensi prokreasi, dimensi relasi, dimensi rekreasi dan dimensi refleksi. Namun, fakta membuktikan bahwa seks seringkali dipahami secara salah oleh sebagian manusia. Kosekuensi logis dari pemahaman seks yang salah akan menimbulkan hubungan seksual yang terlarang misalnya hubungan seks sebelum menikah. Secara khusus perempuan melakukan hubungan seks sebelum menikah, memiliki beberapa faktor diantaranya pertumbuhan biologis, pacaran, pelecehan seksual, teknologi dan sebagainya. Perilaku hubungan seks sebelum menikah akan berdapak terhadap spritual, psikologi, fisik dan sosial. Ketiga, Kasus perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah adalah dosa yang sangat serius di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menginzikan hubungan seksual di luar penikahan kudus. Dosa seks sebelum menikah mengakibatkan seseorang berstatus manusia berdosa di hadapan Allah. Perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah permasalahannya bisa diselesain dengan metode pastoral konseling yang tepat. Berdasarkan hasil temuan penelitian di lapangan mengenai faktor dan dampak hubungan seks sebelum memikan, maka cara untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan menerapkan model pastoral konseling psikologi Alkitabiah bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah

Page 1 of 1 | Total Record : 5