cover
Contact Name
Muhamad Shoheh
Contact Email
tsaqofah@uinbanten.ac.id
Phone
+6287774201904
Journal Mail Official
tsaqofah@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jl. Jenderal Sudirman No. 30 Kota Serang
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Tsaqofah: Jurnal Agama dan Budaya
ISSN : 14126478     EISSN : 26227657     DOI : https://doi.org/10.32678/tsaqofah
Core Subject : Humanities, Social,
Tsaqôfah published twice a year since 2001 (June and December), is a multilingual (Indonesian, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Islamic History and Culture. This journal is published by the Islamic History and Civilization Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, “Sultan Maulana Hasanuddin” State Islamic University of Banten. This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Islamic History Islamic Culture Islamic Civilization Islamic Tradition Islamic Literature Islamic Philology and Literature Islamic Archeology Local Islam and Culture Islamic Arts and Architecture
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 2 (2015): December 2015" : 5 Documents clear
Sejarah Masjid Al-Falah Kiai Modjo Tondano-Sulawesi Utara Masmedia Pinem
Tsaqofah Vol 13 No 2 (2015): December 2015
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v13i2.3398

Abstract

Tulisan singkat ini difokuskan pada upaya mengungkap asal-usul berdirinya Masjid Kiai Modjo, untuk mengetahui aristektur bangunan dan makna filosofisnya, serta untuk mengetahui sejarah perkembangan Masjid Kiai Modjo baik dari sisi bangunan fisik maupun dari sisi kegiatan ke­agamaannya. Salah satu peninggalan kesejarahan yang masih bisa disaksikan dari Kiai Modjo adalah bangunan masjid yang megah di Tondano. Masjid ini merupakan masjid yang memiliki nilai kesajarahan yang sangat tinggi di Sulawesi Utara. Meskipun pada awalnya keberadaan mereka di wilayah ini bukan untuk menyebarkan Islam, tetapi secara kasat mata mereka telah memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di ujung timur Indonesia. Dari perspektif arkeologi keagamaan, masjid ini di samping masih memiliki elemen-elemen asli darimasanya, juga menjadi bukti sejarah penting dalam mempertahankan dan memperjuangkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia.
Mulud Fatimah di Banten (Gender dalam Upacara Keagamaan) Siti Fauziyah
Tsaqofah Vol 13 No 2 (2015): December 2015
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v13i2.3393

Abstract

Terdapat pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam upacara keagamaan. Laki-laki biasanya berada di depan atau dalam wilayah publik, artinya laki-laki bertugas dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu ritual keagamaan. Adapun perempuan biasanya berada di belakang atau dalam wilayah domestik, artinya perempuan bertugas menyediakan perlengkapan yang berkaitan dengan konsumsi atau jamuan atau berkat pada upacara keagamaan. Pembagian peran ini sebenarnya tidak menjadi masalah selama tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Mengingat dalam setiap upacara keagamaan selalu ada makanan atau minuman, maka sebenarnya posisi perempuan dalam ritual keagamaan sangatlah penting. Namun keadaan demikian juga bisa menjadi masalah jika pembagian peran domestik ini dianggap tidak penting oleh masyarakat. Akibatnya perempuan akan tetap menjadi masyarakat kelas dua. Meskipun masyarakat Banten mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek, namun dalam prakteknya perempuan di Banten hanya bisa eksis di kelompok sesama perempuan dalam upacara keagamaan, tetapi tidak bisa eksis di kelompok laki-laki atau campuran. Salah satu bentuk ritual yang yang bertajuk perempuan dan sampai sekarang masih dilakukan oleh kaum perempuan Banten adalah Mulud Fatimah
Anakronisme dalam kurikulum Matapelajaran sejarah Weny Widyawati Bastaman
Tsaqofah Vol 13 No 2 (2015): December 2015
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v13i2.3405

Abstract

Hal yang melatar belakangi tulisan ini adalah menganalisis anakronisme yang terjadi pada matapelajaran sejarah, agar kita mampu melihat beberapa hal yang berbeda pada setiap pergantian kurikulum yang terjadi, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap matapelajaran sejarah. Pada setiap perubahan kurikulum yang terjadi dalam pendidikan Indonesia memiliki tujuan atau bahkan muatan tertentu, hal tersebut berdasarkan pada situasi politik dan pada masa itu, sehingga tujuan dan maksud yang sesungguhnya dalam pelajaran sejarah atau dalam pendidikan sejarah di sekolah sering kali tidak sesuai dengan materi atau muatan pelajaran sejarah, hal tersebut disebabkan karena ketentuan yang diterapkan dalam kurikulum pada masa tertentu terhantung kepada siapa yang berkuasa dan kepentingan penguasa. Hal tersebut dianggapp menyimpang dan tidak sesuai dengan tujuan dan standarbased matapelajaran sejarah
Tinjauan Kritis Fenomena Habaib Dalam Pandangan Masyarakat Betawi faizfikri AlFahmi
Tsaqofah Vol 13 No 2 (2015): December 2015
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v13i2.3395

Abstract

Masyarakat Betawi Batu ceper Kota Tangerang memiliki perbedaan dan keunikan dalam menghormati para habib dan kiai, Dimana status habib bagi seseorang dipandangnya mulia, melebihi kemuliaan seorang kiai yang tidak berstatus habib. Masyarakat Betawi Batu Ceper seakan-akan menilai bahwa habib lebih tinggi dari seorang ustadz walau secara keilmuan lebih matang seorang kiai dari pada habib.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah habib di Betawi, mengetahui peran habib dalam penyebaran Islam di Betawi, mengetahui pola kehidupan beragama masyarakat Betawi, mengetahui pandangan, sikap dan kecenderungan orang Betawi terhadap habaib, dan mengetahui apa penyebab ketokohan habib di kalangan masyarakat Betawi..Penulis menyimpulkan bahwa kedatangan orang Arab di Betawi awalnya bertujuan untuk mencari kemakmuran dengan cara berdagang. Selanjutnya mereka menyebarkan Islam di kalangan masyarakat Betawi. Peran habaib sangat besar pengaruhnya dalam proses Islamisasi di Betawi. Masyarakat Betawi sangat kental akan ajaran Islamnya, mereka umumnya mencintai dan menaru sikap penghormatan yang tinggi terhadap para tokoh agama. mereka mempunyai nilai penghargaan yang tinggi kepada ulama karena kapasitas keilmuannya sangat mumpuni. terlebih ulama yang hadir dari kalangan habib. Karena dianggapnya sebagai tali keturunan yang murni dari sang pembawa ajaran Islam yaitu Nabi Muhammad SAW.
PANTUN SISINDIRAN DI BANTEN: Fungsi dan Nilai-nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya Eva Syarifah Wardah
Tsaqofah Vol 13 No 2 (2015): December 2015
Publisher : Departement of History and Islamic Civilization, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/tsaqofah.v13i2.3409

Abstract

Pantun sisindiran.adalah suatu bentuk karya sastra berupa seni tutur yang popular dalam masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Banten. Pantun sisindiran dibentuk oleh pola yang sudah baku, yaitu oleh sejumlah suku kata yang membentuk larik-larik berupa sampiran dan isi. Larik-larik pada sampiran memberikan gambaran keadaan alam, masyarakat, budaya, seperti yang berkaitan dengan nasib, jodoh, penyesalan, dsb. Sedangkan larik-larik pada isi menyampaikan tentang nilai-nilai, norma, nasehat, ajaran secara tidak langsung, agar sasaran yang dituju tidak tersinggung perasaannya. Pemberian ajaran itu biasanya berupa anjuran, ajakan, perintah, sindiran, larangan dalam rangka mewujudkan masyarakat yang baik dan sejahtera. Persoalan-persoalan yang biasanya dibawakan melalui sisindiran secara halus dan menyentuh, sehingga penikmat tidak merasa dipaksa untuk memahaminya. Persoalan politik, budaya, social, ekonomi, dsb digubah dalam sisindiran, melalui sindiran, kritikan, dan sentuhan-sentuhan yang manusiawi Dari segi isi dan tema, pantun sisindiran dikelompokan menjadi: pantun anak-anak, muda-mudi, dan orang tua. Pantun anak-anak yaitu untuk menggambarkan dunia anak-anak, sangat sederhana tidak terlepas dari pemikiran anak-anak, tema-temanya berkisar, permainan, makanan, pakaian, dan kehidupan sehari hari. Pantun muda-mudi, terdiri dari pantun dagang atau pantun nasib, pantun jenaka, pantun berkenalan, pantun berkasih-kasihan, dan pantun beriba hati. Pantun orang tua biasanya berisi nasehat, kias, ibarat, adat, dan ajaran agama. Pantun orang tua ini terdiri dari pantun adat, pantun agama, pantun budi, pantun nasehat, pantun kepahlawanan, pantun kias dan pantun peribahasa Dari segi fungsi, pantun sisindiran tidak dipandang sebagai sarana hiburan (rekreatif) atau alat komunikasi saja, melainkan religious, edukatif, ekonomi, social, budaya, politik dsb. Adapun nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pantun sisindiran, antara lain nilai-nilai pendidikan, moral, social, keagamaan, dan humor (jenaka).

Page 1 of 1 | Total Record : 5