cover
Contact Name
Galih Wilatikta
Contact Email
galihwilatikta@gmail.com
Phone
+6281574155781
Journal Mail Official
jurnalilmubedahindonesia@yahoo.com
Editorial Address
Gedung Wisma Bhakti Mulya lantai 401-C Jalan Kramat Raya 160 Jakarta Pusat 10430
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Bedah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27237494     DOI : https://doi.org/10.46800/ilmbed
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Surgery (JIBI) is a peer-reviewed and open access journal focuses on publishing journals in the scope of surgery. JIBI accepts any kind of manuscript(s) related to surgery, i.e. original article, meta–analysis, systematic review, comprehensive review, case report, serial cases, and also idea and innovation (selected ideas and innovations) regarding surgical diseases and conditions, surgical procedure, and basic science. JIBI also accept letter to editor and comment / and or response to a published manuscript with an opinion included. JIBI accept subject in the following fields of surgery: Pediatric Vascular Digestive Orthopedic Urology Neurosurgery Plastic Surgery Oncology Cardiothoracic
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 101 Documents
Laparoscopic Transperitoneal Approach for Vesicovaginal Repair : The First Experience in Hasan Sadikin Hospital Jumadi Santoso; Sawkar Vijay Pramod
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 43 No. 1 (2014): September 2014
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v43i1.75

Abstract

Background. Obstetric fistula is a severe and debilitating condition occurring throughout the developing world. Although there are no accurate data on the incidence and prevalence of the condition, the majority of vesicovaginal fistulas develop after obstetric procedure, with delayed labour accounting for 90% of cases. Several techniques are available for repairing the fistulas. Transperitoneal approaches give good results even for difficult posterior located fistulas, but are associated with increased morbidity compared with the transvaginal approach. We performed a laparoscopic repair and omentum interposition. The objective of this article is to report our first experience in transperitoneal laparoscopic repair of vesicovaginal fistula in Hasan Sadikin Hospital. Method. A 31–year–old female presented with vesicovaginal fistula after sectio caersaeran because of de- layed labour. After a failed trial of conservative treatment with catheter drainage, a transperitoneal laparoscopic repair was performed. Cystoscopy was performed initially to confirm the fistula location and for bilat- eral ureteric catheterization. A 4–port technique was performed with the patient in the position with her legs in lithotomy position. Without opening the bladder, the fistula tract was excised with separation of the bladder from the anterior vagina wall. Both the bladder and vagina walls were then closed separately using intracorporeal suturing with an interpositional omentum. Results. Total operative time was 270 min. Normal diet was resumed on day 1, drain was removed on post operative day 1 and patient was discharged on the second day with an indwelling catheter. Food cosmetic result on wound operation and no leakage under cystogram after 2 weeks. The catheter was removed after 2 weeks. Conclusion. Laparoscopic transperitoneal repair of vesicovaginal fistula with omentum inteposition is feasible in Hasan Sadikin Hospital with good outcomes, short hospital days, and good cosmetics result. Still need more same cases before a final conclusion
Transperitoneal Laparoscopic Ureterolithotomy for Large Distal Ureteric Stone: The first Experience in Hasan Sadikin Hospital, Bandung Bacilius Agung Priyosantoso; Sawkar Vijay Pramod
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 43 No. 1 (2014): September 2014
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v43i1.76

Abstract

Background. Laparoscopic ureterolithotomy has become an alternative to open surgery for removing large stones that is not amenable to endoscopic treatment. In most of the published literature, laparoscopic ap- proach for lower ureteric stone is described to be less successful than middle and upper ureter. Identifica- tion in anatomical landmarks and exposing the distal ureter has been the major boundaries in establishing laparoscopic distal ureteral stone. We hope to provide clarity and feasibility that may increase our knowledge in laparoscopic ureterolithotomy for large distal ureteral stone. Aim. The obbjective is to share our experience in laparoscopic ureterolithotomy for large distal ureteric stone with transperitoneal approach Methods. A 37 years old male has been diagnosed with a right hydronephrosis due to proximal ureterolithiasis and stone at left calyx inferior, first and stone migrated to right distal ureter on 12 hours prior surgery. He underwent laparoscopic ureterolithotomy with transperitoneal approach. Results. We successfully perform laparoscopic ureterolithotomy with transperitoneal approach on a 37 y.o male patient who diagnosed with a a right hydronephrosis due to distal ureterolithiasis and stone at left calyx inferior. Duration of operation was 45 minutes. Patient was discharged at 2nd postoperative day without any complications. Conclusion. A Transperitoneal laparoscopic ureterolithotomy for distal ureteric stone is a safe and feasible technique that should be an options on every patients who plan to undergo distal ureterolithotomy especially large stone
Reimplantasi Ureter Per Laparoskopik Pada Ureter Ektopik Christiano Tansol; Jupiter Sibarani
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 43 No. 1 (2014): September 2014
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v43i1.77

Abstract

Efektivitas Revaskularisasi Endovaskuler pada Pasien Penyakit Arteri Perifer Berdasarkan Nilai Ankle Brachial Index Ariefa Adha Putra; Alexander Jayadi
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 43 No. 1 (2014): September 2014
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v43i1.78

Abstract

Pendahuluan. Efektivitas Revaskularisasi dapat dievaluasi melalui penilaian ABI sebelum dan sesudah Revaskularisasi endovaskuler. Tujuan. Menilai efektivitas Revaskularisasi en- dovaskuler berdasarkan nilai ABI. Metode. Dilakukan pencarian penelitian yang dipublikasikan di MEDLINE (pubmed) menggunakan kata kunci Revaskularisasi endovaskuler, efektivitas Revaskularisasi, evaluasi setelah Revaskularisasi. Penelitian yang diambil memiliki kriteria inklusi, penelitian dengan bahasa Inggris dengan nilai ABI sebelum dan sesudah tindakan Revaskularisasi endovaskuler. Kemudian dilakukan analisis sistematik dengan pendekatan kual- itatif untuk merangkum hasil penelitian yang bersifat deskriptif. Tindakan Revaskularisasi yang dilakukan pada seluruh artikel berupa PTA dan stenting. Hasil: Terdapat 11 artikel yang memenuhi kriteria untuk dilakukan analisis sistematik. Didapatkan peningkatan nilai ABI diatas 0,1 pada keseluruhan artikel setelah dilakukan Revaskularisasi endovaskuler. Peningkatan nilai ABI tertinggi 0,47 dan terendah 0,13. Kesimpulan. Peningkatan ABI di atas 0,1 setelah Revaskularisasi merupakan dasar penilaian keberhasilan Revaskularisasi. Tindakan Revaskularisasi endovaskuler efektif untuk tatalaksana penyakit arteri perifer.
Parafrasa: re-word everything into your own words! Teddy O.H Prasetyono
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v35i2.122

Abstract

Hubungan Angiogenesis dengan Gambaran Morfologi dan Klinis Kanker Payudara pada Kultur Jaringan Darwito; Sonar S Panigoro; Muchlis Ramli
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v35i2.123

Abstract

Pendahuluan : Seperti tumor padat lainnya kanker payudara dapat tumbuh dan bermetastasis bila memperoleh oksigen dan nutrisi yang cukup. Tanpa adanya suplai darah yang menyediakan oksigen dan nutrisi maka tumor akan diam atau bahkan mati. Suplai darah bisa terjadi apabila sel tumor mampu membentuk pembuluh darah baru, yang disebut angiogenesis, yang merupakan faktor terpenting agar sel kanker itu dapat tumbuh dan melakukan metastasis. Metode : Penelitian ini menggunakan studi prospektif cross sectional dengan melakukan kultur jaringan kanker payudara sebanyak 14 kasus. Eksplan diambil dari spesimen hasil operasi dan ditanam dalam medium kultur 3 dimensi yang telah diberi endhotelial cell line. Aktifitas angiogenesis dinilai secara semikuantitatif invitro. Pengamatan aktifitas angiogenesis dilakukan setiap 24 jam dengan menilai migrasi sel endotel selama 96 jam. Pengamatan didokumentasikan dengan memakai skoring 0-4. Hasil : Berdasarkan evaluasi terhadap 14 kasus yang dilakukan kultur, didapatkan korelasi antara skor angiogenesis dengan TNM (tumor lymnode metastase), grading, dan tipe histopatologi. Kanker dengan grade III, tipe scirous mempunyai nilai skoring (+4), tanpa memandang TNM. Diskusi : Angiogenesis dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu melaui proses tunas atau bukan tunas. Pembentukan angiogenesis meliputi pembentukan jaringan kapiler baru yang merupakan awal pembuluh darah, sedangkan yang bukan melalui tunas angiogenesis meliputi proses menjadi besar, pemisahan, dan penggabungan calon pembuluh darah. Proses bukan tunas memerlukan proliferasi sel endotel untuk membentuk dinding pembuluh darah. Pada penelitian ini tidak ada korelasi antara umur, status menopaus, dan status masa tumor dengan derajat angiogenesis. Hanya pada tipe histopatologi dan yang mempunyai korelasi dengan derajat angiogenesis dengan korelasi koefisien p=0,019 (
Pengaruh Asam Traneksamat Pra-operasi Terhadap Pendarahan Perioperatif Tumor Otak Glioma yang Sedang Mendapat Deksametason Julius July
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v35i2.126

Abstract

Akurasi Pemeriksaan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH) dalam Diagnosis Keganasan Kelenjar Getah Bening Leher Wiganda; Dimyati Achmad; Maman Abdurahman
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v35i2.128

Abstract

Pendahuluan : Teknik pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) bersifat cepat, aman, dan kurang invasif untuk mendiagnosis keganasan pada kelenjar getah bening. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai akurasi, sensitivitas, spesifisitas, nilai ramal positif, dan nilai ramal negatif pemeriksaan BAJAH pada penderita limfadenopati koli yang berobat ke Subbagian Bedah Onkologi Kepala dan Leher Bagian Bedah RS Hasan Sadikin, Bandung (RSHS). Metode : Penelitian ini merupakan uji diagnosis pemeriksaan BAJAH pada penderita dengan diagnosis klinis limfadenopati koli. Hasil pemeriksaan BAJAH dibandingkan dengan baku emas pemeriksaan histopatologis. Subjek penelitian adalah penderita yang berobat di Subbagian Bedah Onkologi Kepala dan Leher Bagian Bedah RSHS, dengan keluhan pembesaran kelenjar getah bening di leher. Penelitian ini telah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FKUNPAD)/RS Hasan Sadikin, Bandung. Selama penelitian yang dilakukan pada bulan Januari 2008 hingga April 2008 didapatkan 36 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi, terdiri dari 16 orang laki-laki dan 20 orang perempuan, dengan rentang usia antara 14 tahun sampai dengan 87 tahun. Hasil : Pada pemeriksaaan histopatologis didapatkan 12 orang menderita limfadenopati ganas, dan 24 orang dengan limfadenopati jinak. Pada pemeriksaan BAJAH didapatkan positif palsu 1 penderita, dan negatif palsu 1 penderita. Akurasi diagnosis pemeriksaan BAJAH adalah 94,4%, sensitifitas 91,7%, spesifisitas 95,8%. Nilai ramal positif dan negatif dari metode pemeriksaan ini adalah 91,7% dan 95,8%. Diskusi : Uji diagnosis BAJAH terhadap adanya keganasan pada limfadenopati koli memiliki akurasi 94,4%, sensitivitas 91,7%, spesifisitas 95,8%, nilai ramal positif 91,7% dan nilai ramal negatif 95,8%. Pemeriksaan BAJAH dapat digunakan secara rutin untuk mendiagnosis keganasan limfadenopati koli pada penderita yang menolak dilakukan biopsi terbuka.
Dekompresi Mikrovaskular pada Neuralgia Trigeminalis dan Spasme Hemifasialis Sri Maliawan; Tjokorda G.B. Mahadewa; Nyoman Golden; Wayan Niryana
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v35i2.129

Abstract

Pendahuluan : Menurut konsesus spesialis bedah saraf pada The 5th International Meeting of The Society for Microvascular Decompression Surgery, 2002, di Matsumoto, Jepang, terapi terpilih untuk neuralgia trigeminalis dan spasme hemifasialis adalah melakukan operasi dekompresi mikrovaskular (DMV). Tujuan penulisan ini untuk mengetahui hasil operasi DMV pada penderita dengan neuralgia trigeminalis (NT) dan spasme hemifasialis (SHF) di RS Sanglah (RSS), Denpasar. Metode : Studi kohort tanpa kelompok kontrol dilakukan terhadap data rekam medis penderita NT dan SHF di RS Sanglah (RSS), Denpasar, yang menjalani DMV selama periode tahun 1991-2006. Prosedur DMV terdiri atas tindakan memperbaiki posisi pembuluh darah yang menekan dan membebaskan sumbu nervus trigeminus dengan meletakkan teflon di antara nervus dan pembuluh darah. Subjek dievaluasi dalam kurun waktu antara 1 sampai 12 tahun pascoperasi. Data dianalisis untuk memperoleh angka kesembuhan segera, tingkat kepuasan pasien, angka kesembuhan tidak sempurna, angka kekambuhan, dan komplikasi operasi. Hasil : Dari 37 orang subjek terdapat 30 orang dengan NT dan 7 orang dengan SHF. Kesembuhan segera setelah operasi 93,3% pada NT dan 85,7% pada SHF. Subjek merasa puas dengan tindakan yang dilakukan sebanyak 83,3% pada NT dan 71,4% pada SHF. Kesembuhan tidak total 10% pada NT dan 14% pada SHF. Gangguan pendengaran pascaoperasi 13,3% pada NT dan 14% pada SHF. Diskusi : Teknik reposisi pembuluh darah yang menekan nervus trigeminus atau nervus fasialis sebagai prosedur DMV dapat memberikan hasil yang memuaskan untuk mengobati NT dan SHF.
Nomogram Uroflowmetri pada Anak-anak Usia 6-14 Tahun di Wilayah Jakarta dan Sekitarnya Hani A Hendarto; Arry Rodjani; Chaidir A Mochtar
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v35i2.130

Abstract

Page 9 of 11 | Total Record : 101