cover
Contact Name
Galih Wilatikta
Contact Email
galihwilatikta@gmail.com
Phone
+6281574155781
Journal Mail Official
jurnalilmubedahindonesia@yahoo.com
Editorial Address
Gedung Wisma Bhakti Mulya lantai 401-C Jalan Kramat Raya 160 Jakarta Pusat 10430
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Bedah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27237494     DOI : https://doi.org/10.46800/ilmbed
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Surgery (JIBI) is a peer-reviewed and open access journal focuses on publishing journals in the scope of surgery. JIBI accepts any kind of manuscript(s) related to surgery, i.e. original article, meta–analysis, systematic review, comprehensive review, case report, serial cases, and also idea and innovation (selected ideas and innovations) regarding surgical diseases and conditions, surgical procedure, and basic science. JIBI also accept letter to editor and comment / and or response to a published manuscript with an opinion included. JIBI accept subject in the following fields of surgery: Pediatric Vascular Digestive Orthopedic Urology Neurosurgery Plastic Surgery Oncology Cardiothoracic
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 101 Documents
Experience in the Surgical Management of Two Cases with Acromegaly Eka J Wahjoepramono
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v35i2.131

Abstract

Acromegaly is a chronic disorder that usually develops over many years due to long term exposure to elevated levels of growth hormone (GH) most typically caused by a somatotrophic cell pituitary adenoma. It has an annual incidence of approximately 3-4 cases / million. A diagnosis of acromegaly is made based on the clinical presentation, biochemical and radiologic finding. The classical feature is the change in appearance and acral enlargement. No single therapy is comprehensively successful in controlling the disease. Surgical, medical and radiation treatments are available for lowering GH and insulin-like growth factor I (IGF-I) hypersecretion, controlling pituitary tumor mass effects, and lowering morbidity.
Penatalaksanaan Kanker Payudara pada Kehamilan Daniel Sampepajung
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v35i2.132

Abstract

Kanker payudara pada kehamilan atau pregnancy-associated breast cancer (PABC) merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada wanita hamil. Insiden kanker payudara akan meningkat seiring dengan peningkatan umur. Variasi jenis PABC sama dengan kanker payudara pada wanita yang tidak hamil. Pada umumnya PABC asimptomatis dan lebih dari 90% ditemukan oleh pasien pada saat melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Peningkatan ukuran, berat, vaskularisasi, dan densitas payudara selama kehamilan menyebabkan kesulitan dalam mendeteksi massa dalam payudara baik secara klinis maupun dengan mammografi. Keterlambatan diagnosis kanker payudara pada wanita hamil dapat terjadi 1 sampai 3 bulan atau lebih sehingga PABC sering ditemukan pada stadium lebih lanjut. Keterlambatan diagnosis kanker payudara ini dapat disebabkan oleh faktor pasien maupun dokter. Biopsi merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis kanker payudara pada kehamilan. Strategi penanganan PABC memerlukan pertimbangan dampaknya terhadap fetus dan kehamilan itu sendiri. Penanganan dilakukan secara multidisiplin dan operasi merupakan pilihan utama untuk PABC. Indikasi kemoterapi untuk PABC sama dengan indikasi untuk kanker payudara pada wanita tidak hamil, kecuali pada trimester pertama kemoterapi tidak dianjurkan. Radioterapi tidak diberikan selama kehamilan dan terminasi kehamilan tidak akan memperbaiki survival penderita tetapi perlu dipertimbangkan apabila prognosis penderita sangat buruk. Prognosis penderita PABC sama dengan kanker payudara pada wanita yang tidak hamil.
The Role of Catheter Directed Thrombolysis on Acute Limb Ischemia (an Evidence-Based Case Report) Ali Farhan Fathoni; Raden Suhartono
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 49 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v49i1.79

Abstract

Introduction. Acute limb ischemia can be managed both with surgery and thrombolysis, especially catheter-directed thrombolysis. The risk, benefit and indication of thrombolysis is already well known. However, as a first line therapy, it is unclear which intervention is more beneficial; the catheter directed thrombolysis or surgery. This report aims to elucidate which technique is more effective and safer. Method. This is an Evidence-Based Case Report based on a case of a geriatric, diabetic patient whom suffered acute limb ischemia. The report systematically search for meta-analysis, systematic review, randomized controlled trial and cohort studies from Cochrane central and PubMed for all adult patient suffering from acute limb ischemia whose are treated with catheter-directed thrombolysis or surgery as first-line intervention and comparing the outcome in terms of efficacy (clinical outcome such as patency and amputation-free rates) and safety (mortality and morbidity). Results. Subjects’ characteristics should be placed first to draw the demography. Put the study finding(s) here with no interpretation. For all adult patient regardless of their diabetic status and age there is no statistically significant difference for limb salvage, amputation, and mortality between two technique, however catheter directed thrombolysis showed reduced need for additional intervention whilst increasing risk of bleeding events. Conclusion. Neither techniques are more superior than the other but catheter-directed thrombolysis can be considered given that it reduce the need for further intervention, less invasive and even though it has risks for bleeding complication it is still lower compared to systemic thrombolysis. The selection of which technique can be up to clinician’s discretion in consideration of risk and benefit for each patient.
Hubungan Intravesical Prostatic Protrusion (IPP) terhadap Perubahan International Prostate Symptoms Score (IPSS) pada Pasien Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) yang Diterapi dengan A1-Blocker di Kota Padang Muhammad Ishak; Etriyel MYH; Peri Eriad Yunir
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 49 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v49i1.108

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran jinak kelenjar prostat akibat proliferasi sel epitel dan stroma sehingga menimbulkan gejala Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS). Salah satu penanganan BPH adalah terapi medikamentosa dengan alpha-1 blocker. Keberhasilan terapi medikamentosa dipengaruhi banyak faktor salah satunya adalah Intravesical Prostatic Protrusion (IPP). Metode. Penelitian prospektif komparatif yang bertujuan untuk mencari pengaruh IPP terhadap respon terapi alpha-1-blocker  pada pasien BPH. IPSS dipakai sebagai alat ukur tersebut. IPP diperiksa dengan menggunakan USG transabdominal. Penelitian dilakukan dari Juli 2020 sampai Desember 2020. Data dianalisis dengan uji perbandingan rata-rata one way anova dan uji korelasi Pearson. Hasil. Dari sampel 30 orang, pasien dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan derajat IPP yaitu, derajat I (<5mm), derajat II (5-10mm) dan derajat III (>10mm). Tidak terdapat perbedaan bermakna skor rata-rata IPSS awal pada masing – masing kelompok, yaitu 19.6, 18.90, dan 21,30  (p=0.216). Terdapat penurunan bermakna rata-rata IPSS setalah 1 bulan terapi dengan alpha-1 blocker. Terdapat korelasi yang bermakna nilai IPP terhadap penurunan IPSS akhir dengan arah korelasi negatif. Kesimpulan. Terdapat hubungan bermakna antara derajat IPP terhadap penurunan IPSS pada pasien BPH setelah mendapatkan terapi aplha-1 blocker, semakin tinggi derajat IPP maka semakin rendah perbaikan IPSS akhir.  
Penatalaksanaan Malformasi Adenomatosa Kistik Kongenital: Sebuah Laporan Kasus Berbasis Bukti Maida Tanara; Dhama Sinta
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 49 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v49i1.120

Abstract

Latar Belakang. Malformasi Adenomatosa Kistik Kongenital (MAKK) merupakan kasus yang diketahui dengan baik, walaupun termasuk kasus jarang. MAKK dapat dikelola secara konservatif pada pasien tanpa gejala atau memerlukan tindakan pembedahan saat pasien menunjukkan gejala. Ilustrasi kasus. Seorang anak lelaki usia satu tahun masuk di unit gawat darurat RSCM karena takipnu hilang timbul sejak usia empat bulan. Didiagnosis dengan MAKK dua bulan sebelumnya di provinsi Bangka- Belitung, Indonesia. Lobektomi dilakukan dalam lima hari masa perawatan, ditemukan massa kistik dua pertiga paru kanan atas. Metode. Penelitian ini adalah laporan kasus berbasis bukti. Basis data yang digunakan untuk pencarian literatur adalah Pubmed, Proquest, dan ScienceDirect. Kriteria inklusi adalah studi dalam bahasa Inggris atau Indonesia, dengan anak-anak di bawah 18 tahun sebagai subjek, dan artikel teks lengkap tersedia. Penilaian dilakukan menurut Oxford Center for Evidence Based Medicine 2011. Kesimpulan. Lima studi kasus dianalisis. Tindakan bedah diindikasikan pada pasien simptomatik sesegera mungkin, dan pada beberapa pasien tanpa gejala sebelum usia satu tahun untuk perkembangan paru-paru yang lebih baik. Pasien yang menjalani torakoskopik adalah mereka dengan kasus yang tidak terlalu rumit dan karenanya tidak ada laporan mortalitas.
Komplikasi Tiroidektomi Endoskopik pada Nodul Tiroid Ganas: Sebuah Tinjauan Pustaka IGN Gunawan; Annisa Syafitri
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 49 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v49i1.137

Abstract

Latar Belakang. Tiroidektomi endoskopik merupakan teknik bedah tumor yang populer saat ini. Teknik ini dapat mengatasi salah satu kekurangan tiroidektomi terbuka konvensional yaitu parut operasi. Tiroidektomi endoskopik dikerjakan pada nodul tiroid jinak berukuran kurang dari 5-6 cm. Saat ini tiroidektomi endoskopik sudah mulai dilakukan pada nodul tiroid ganas. Hal ini menjadi landasan berpikir bagi peneliti untuk menulis sebuah tinjauan literatur komplikasi tiroidektomi endoskopik pada nodul tiroid ganas ditinjau dari cedera nervus laringeus, hipoparatiroid, dan nyeri pascabedah berdasarkan bukti ilmiah tertinggi. Metode. Suatu tinjauan literatur yang dilaksanakan di Departemen Ilmu Bedah FKUI-RSCM Divisi Bedah Onkologi pada November – Desember 2020. Metode penelitian dibuat dengan cara pencarian dan seleksi literatur pada situs-situs database Cochrane, PubMed, ScienceDirect, dan EbscoHost yang sesuai dengan ilustrasi kasus menggunakan kata kunci “endoscopic thyroidectomy”, AND “thyroid tumor” OR “thyroid cancer” OR “thyroid carcinoma” AND “laryngeal nerve injury” OR “hypoparathyroid” OR“postoperative pain” Kemudian dilakukan pemilihan studi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi literatur. Studi yang terpilih dilakukan penilaian terhadap studi, karakteristik subjek, tahun studi, dan outcome dari masing-masing studi. Hasil. Didapatkan 160 artikel yang kemudian dilanjutkan dengan telaan kritis sehingga didapatkan 10 studi dalam penelitian. Dari 10 studi, 8 studi menilai mengenai komplikasi cedera nervus laringeus dan didapatkan 1 studi yang memiliki perbedaan bermakna terkait komplikasi cedera nervus laringeus. Terdapat 4 studi yang menunjukkan angka hipoparatiroid tiroidektomi endoskopik lebih tinggi namun hanya 1 yang memiliki perbedaan bermakna. Nyeri pasca bedah diteliti pada 2 studi yang menunjukan VAS nyeri pascabedah di kedua kelompok tidak ada perbedaan. Kesimpulan. Pada nodul tiroid ganas, teknik ini memiliki durasi pembedahan yang lebih lama serta tidak memiliki perbedaan dari segi komplikasi baik berupa cedera nervus laringeus, hipoparatiroidisme dengan tiroidektomi terbuka. Tiroidektomi endoskopik dapat menjadi pilihan dalam menatalaksana pasien karsinoma tiroid dengan risiko rendah.
Hypercoagulable State pada Masa COVID-19 Patrianef Darwis
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 49 No. 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibiikabi.v49i1.141

Abstract

Internal Pudendal Artery Perforator Flap Reconstruction After Post-Radical Vulvectomy: A Case Report Anak Agung Ayu Anggreni; Agus Roy Rusly Hariantana Hamid; I Gusti Putu Hendra Sanjaya
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 49 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction. Reconstruction of vulvar defects following radical vulvectomy can be challenging. It is related to the functional and aesthetic aspects of the woman's body important part. In addition, the nature of the vulvar region also affects wound healing. This case report aims to share our experience in managing vulvar defects using the internal pudendal artery perforator (IPAP) flap. Case Description. We present a thirty-year-old woman with carcinoma of the vulva stage IB (tumor size 8×3 cm). The gynecologic oncologist performed radical vulvectomy and bilateral inguinal lymph nodes removal using separate groin incisions. Those procedures result in a 16×8 cm vulvar defect. We reconstructed the bilateral defects using right IPAP flap-type I-1 (propeller flap), left IPAP flap-type II (V-Y advancement flap), and a vaginoplasty in the lithotomy position. The flaps were designed based on Doppler signals. The vulvar defect was successfully recovered, and no complications were observed, including cellulitis, wound dehiscence, and flap necrosis of the reconstructed and donor sites. Conclusion. IPAP flap is a well-vascularized flap suitable for areas with the inherent risk of delayed wound healing, such as the vulvar region. IPAP flap might benefit vulvar reconstruction regarding the shape, volume, and function restoration.
Kualitas Hidup Penderita Adenokarsinoma Kolorektal Pascaoperasi di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Maida Tanara; Agi Satria Putranto
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 49 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. The risk of venous thromboembolism (VTE) associated with malignancy is 4.1-fold greater compared to patients without malignancy. Malignancy patient have greater risk of bleeding with the commonly used anticoagulant therapy. Inferior Vena Cava Filter (IVCF) have been recommended as an controversial alternative. This study aimed to find the highest evidence in the safety, benefit, and clinical outcome of the IVCF for managing VTE associated with malignancy. Metode. Studi dilakukan dengan desain deskriptif, populasi penderita adenokarsinoma kolorektal pascaoperasi sejak Januari 2017-Desember 2020 dan bersedia serta mampu menjawab kuesioner diinklusi dalam penelitian. Luaran yang dievaluasi adalah kualitas hidup dihubungkan dengan usia, jenis kelamin, familial, stadium dan jumlah terapi adjuvant. Hasil. Terdapat 304 subjek penderita adenokarsinoma kolorektal pasca operasi , 123 pasien dinyatakan meninggal, 98 subjek yang menjawab kuesioner dalam penelitian ini, dengan 56 laki-laki dan 42 perempuan. 83 subjek (84.69%) tidak memiliki riwayat familial. Mayoritas penderita stadium IV sebanyak 71 subjek (72,44%), stadium III 23 subjek (23.46%) dan stadium II hanya 4 subjek (4.08%). Kualitas hidup menunjukkan sebaran data yang tidak normal dengan median 70 (50-90) pada semua domain. Ditemukan dua subjek yang menunjukkan nilai kurang pada domain kesehatan fisik. Pada domain psikologis, hubungan sosial dan lingkungan didapatkan seluruh subjek mendapatkan skor kualitas hidup diatas dari 60 dengan median secara berturut-turut 70(70-90), 70(60-90), dan 70(60-92). Didapatkan asosiasi yang bermakna secara statistik antara kualitas hidup dengan jenis kelamin, usia, stadium, dan jumlah terapi adjuvan yang memiliki p sebesar 0,011; 0,015; 0,002; dan 0,005. Tidak ditemukan asosiasi yang bermakna secara statistik antara kualitas hidup dengan familial. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kualitas hidup penderita adenokarsinoma kolorektal di RSUPN dr. Cipto Mangukusumo apabila dihubungkan dengan usia, jenis kelamin, stadium kanker, dan jumlah terapi adjuvan.
Uji Diagnostik Venous Clinical Severity Score dengan Klasifikasi Clinical-Etiology-Anatomy-Pathophysiology pada Varises Vena Tungkai Bawah Perawat Ruang Operasi Dimas Putra Asmoro; Akhmadu Muradi
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 50 No. 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Venous clinical severity score (VCSS) merupakan alat bantu diagnosis varises vena tungkai bawah (VVTB) yang praktis dan dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan termasuk perawat. Saat ini belum ada peneliti yang melakukan validasi eksterna penilaian VCSS yang dikerjakan oleh perawat di Indonesia. Tujuan: Mengetahui tingkat ketepatan metode skor VCSS oleh perawat dibandingkan dengan komponen klinis (C) klasifikasi clinical-etiology-anatomy-pathophysiology (CEAP) oleh dokter spesialis bedah vaskular. Metode: Studi cross-sectional dengan 63 perawat instalasi bedah pusat RS Dr. Cipto Mangunkusumo tanpa varises sebelum menjadi perawat sebagai sampel yang diambil secara consecutive. Komponen klinis klasifikasi CEAP digunakan sebagai pembanding. Variabel dianalisis dengan uji Chi-square dan uji nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), nilai duga negatif (NDN), likelihood ratio dan akurasi skor diagnostik, dan analisis dengan indeks Youden. Hasil: Prevalensi VVTB pada studi ini berdasarkan skor VCSS adalah 9,5%. Korelasi antara klasifikasi CEAP dan VCSS ditemukan bermakna (p <0,05). Derajat VVTB antara klasifikasi CEAP dan VCSS berhubungan secara signifikan (p <0,05). Pada cut-off VCSS 2 didapatkan nilai sensitivitas 66,67%, spesifisitas 66,67 %, NDP 32,0%, NDN 89,47%, likelihood ratio (+) sebesar 2,00, likelihood ratio (-) sebesar 0,50, dan akurasi 66,67%. Kesimpulan: Skor VCSS memiliki akurasi lemah terhadap komponen klinis (C) klasifikasi CEAP untuk menegakkan diagnosis VVTB.

Page 10 of 11 | Total Record : 101