cover
Contact Name
Galih Wilatikta
Contact Email
galihwilatikta@gmail.com
Phone
+6281574155781
Journal Mail Official
jurnalilmubedahindonesia@yahoo.com
Editorial Address
Gedung Wisma Bhakti Mulya lantai 401-C Jalan Kramat Raya 160 Jakarta Pusat 10430
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Bedah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27237494     DOI : https://doi.org/10.46800/ilmbed
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Surgery (JIBI) is a peer-reviewed and open access journal focuses on publishing journals in the scope of surgery. JIBI accepts any kind of manuscript(s) related to surgery, i.e. original article, meta–analysis, systematic review, comprehensive review, case report, serial cases, and also idea and innovation (selected ideas and innovations) regarding surgical diseases and conditions, surgical procedure, and basic science. JIBI also accept letter to editor and comment / and or response to a published manuscript with an opinion included. JIBI accept subject in the following fields of surgery: Pediatric Vascular Digestive Orthopedic Urology Neurosurgery Plastic Surgery Oncology Cardiothoracic
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 101 Documents
COVID-19 Mengubah Kehidupan Kita Patrianef Darwis
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i1.52

Abstract

Sejawat sekalian, tahun 2020 adalah tahun yang berat bagi kita bersama. Bukan hanya bagi kita dibidang kesehatan, tetapi juga mengenai seluruh bidang kehidupan dan bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Tantangan yang berat itu diakibatkan kemunculan virus COVID-19 yang mewabah di seluruh dunia. Wabah COVID-19 ini di bidang kesehatan berpengaruh besar. Terjadi peningkatan kasus COVID-19 ini diseluruh dunia termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri ada kesan awalnya pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan sedikit gagap dan terkesan lambat dalam bertindak. Bahkan untuk proses diagnostik awalnya semua spesimen pemeriksaan swab tenggorokan dipusatkan di satu tempat sehingga untuk konfirmasi diagnosis memerlukan waktu yang lama sehingga proses konfirmasi diagnosis yang diperlukan untuk membatasi penyebaran penyakit dan proses pengobatan sedikit terhambat. Di sisi lain kita sebagai dokter spesialis bedah yang melakukan pelayanan pasien terjadi perubahan besar. Proses pelayanan pasien termasuk pembedahan menyebabkan kita berkontak erat dengan pasien yang selama proses pelayanan bisa saja menderita COVID-19 dengan gejala ringan bahkan tanpa gejala. Demikian juga dokter lain yang tidak melakukan pembedahan. Angka kesakitan dan kematian dokter dan tenaga kesehatan lain meningkat dengan cepat. Angka kesakitan tersebut tinggi selain akibat faktor kontak juga akibat kekurang-siapan kita dalam penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang diperlukan dalam perlindungan dokter dan tenaga kesehatan selama melayani pasien. Alhamdulillah, kekurangan APD tersebut pelan pelan dapat berkurang dan jumlah kesakitan dan kematian dokter serta tenaga kesehatan perlahan mulai menurun. Sebagai dokter, proses pelayanan pasien yang memerlukan kontak erat dengan pasien menyebabkan kita rentan terkena COVID-19. Selain berpotensi terkena kita sendiri juga berpotensi menyebarkan COVID-19 di lingkungan keluarga kita bahkan kepada pasien lain. Untuk itu kita perlu taat dan patuh serta konsisten menggunakan APD yang tepat serta protokol kesehatan lain selama pelayanan pasien. Kepada sejawat para dokter spesialis bedah, kita harus mengingat bahwa sebagai dokter, kita justru merupakan pihak yang rentan dan gampang tertular COVID-19. Untuk itu selama proses pelayanan pasien kita harus selalu menjaga jarak, mengenakan masker demikian juga selama di rumah kita harus menjaga keluarga kita dari penularan virus ini. Mudah mudahan wabah COVID-19 ini cepat berlalu bukan hanya di Indonesia, tetapi diseluruh dunia sehingga kehidupan kita sebagai tenaga medis dapat kembali seperti sedia kala. Insyaallah
Peran Fibrinogen Serum sebagai Prediktor Perforasi pada Pasien Apendisitis Akut di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung 2018 Joko Suprayitno; Reno Budiman; Tommy Ruchimat
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i1.53

Abstract

Latar Belakang. Insidensi apendisitis perforasi di dunia mencapai 2 per 10.000 kelahiran hidup, untuk proporsi apendisitis perforasi sekitar 25%. Kasus apendisitis di Indonesia berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2009 sebesar 596.132 kasus dengan persentase 3.36% dan meningkat pada tahun 2010 menjadi 621.435 kasus dengan persentase 3.53%. Sedangkan insidensi di RS Hasan Sadikin pada tahun 2017 mencapai 83% pasien yang datang dengan keluhan apendisitis telah mengalami perforasi. Pemeriksaan radiologik seperti computed tomography scan (CT), magnetic resonance imaging (MRI) ataupun ultrasonography (USG) memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi untuk mendiagnosis perforasi apendisitis, tetapi alat–alat ini tidak selalu tersedia di institusi–institusi kesehatan negara berkembang. Fibrinogen sebagai faktor koagulasi yang pertama kali ditemukan dalam beberapa penelitian berpotensi digunakan sebagai prediktor perforasi pada pasien apendisitis, pemeriksaan fibrinogen dapat dilakukan sewaktu-waktu, memberikan hasil yang lebih cepat dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemeriksaan penunjang lain. Metode. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek pasien apendisitis periode 1 April 2018 – 31 Desember 2018 yang datang ke Installasi Gawat Darurat RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan bersedia mengikuti penelitian. Pasien yang didiagnosis kerja awal sebagai apendisitis akut atau pasien dengan appendisits perforasi dengan gejala peritonitis lokal atau peritonitis difus setelah dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium. Pasien dilakukan pemeriksaan fibrinogen serum preoperatif, lalu dilakukan operasi dan dicatat hasil temuan operasi yaitu yang mengalami perforasi dan yang tidak mengalami perforasi. Dilakukan pengelompokkan data setelah jumlah subyek penelitian terpenuhi. Hasil. Sebanyak 40 pasien (25 laki-laki, 15 perempuan) terdiagnosis apendisitis berdasarkan Alvarado Score, yang terdiri dari 20 pasien apendisitis akut dan 20 pasien apendisitis perforasi. Akurasi kadar fibrinogen serum dalam memprediksi terjadinya perforasi sebesar 85%. Nilai sensitivitas 90%, nilai spesifisitas 80%. Berdasarkan analisis kurva ROC diperoleh nilai Area Under Curve (AUC) sebesar 0,865 (p = 0,001). Menunjukkan bahwa kadar fibrinogen serum memiliki kemampuan diskriminasi yang tinggi dalam memprediksi terjadinya perforasi pada pasien apendisitis. Kesimpulan. Kadar fibrinogen serum yang meningkat dapat digunakan sebagai prediktor terjadinya perforasi pada pasien apendisitis. Kata kunci. Apendisitis perforasi, fibrinogen, prediktor (ISSN 2723-7494 J Bedah Indonesia. 2020;48:3-14)
Peranan Sistem Penilaian CAVeA2T2 dalam Memprediksi Maturasi Fistula Radiosefalika Ratna Astri Andhini; Teguh Marfen Djajakusumah; Putie Hapsari; Rama Nusjirwan
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i1.54

Abstract

Latar Belakang. Berdasarkan panduan National Kidney Foundation-Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (NKF/KDOQI), fistula radiosefalika merupakan pilihan utama akses vaskular pada pasien yang menjalani hemodialisis. Fistula dikatakan matur apabila sesuai dengan rule of six (laju aliran >600mL/menit, diameter ?6mm dan berjarak sekitar ?6mm dari permukaan kulit). Sistem penilaian CAVeA2T2 (akses vena sentral ipsilateral, usia >73 tahun, vena <2,2mm, riwayat angioplasty pada tungkai bawah, dan tidak ditemukannya thrill intraoperatif) memiliki potensi dalam menilai maturasi fistula radiosefalika. Metode. Desain analitis menggunakan metode kohort prospektif dengan consecutive sampling untuk menilai perananan sistem penilaian CAVeA2T2 dalam memprediksi maturasi fistula radiosefalika. Populasi terjangkau adalah pasien gagal ginjal terminal (GGT) yang datang ke poliklinik Bedah Vaskular RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan RSKG Ny.R.A.Habibie yang akan menjalani operasi fistula radiosefalika. Uji statistik menggunakan uji univariat untuk dekskripsi data. Sampel dikelompokkan berdasarkan skor CAVeA2T2 (skor <2 dan ?2) dan status maturasi fistula (matur/non matur) kemudian dianalisis melalui perbandingan antar kelompok melalui model bivariat. Selanjutnya analisis untuk menguji hipotesis melalui analisis Chi-Square Fisher dengan batas kemaknaan 0,05. Hasil. Didapatkan 24 pasien (perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1:1) yang dilakukan analisis dengan rentang usia 21-76 tahun, rerata tekanan sistolik 149,2 (±28,4) mmHg. Didapatkan sitem penilaian CAVeA2T2 memiliki peranan dalam memprediksi maturasi fistula radiosefalika dengan probabilitas kesalahan statistik sebesar p<0,01 dan koefisien kontingensi sebesar C=0,674. Derajat peranan sistem penilaian CAVeA2T2 terhadap maturasi fistula radiosefalika tergolong sangat kuat berdasarkan klasifikasi Guilford. Kesimpulan. Sistem penilaian CAVeA2T2 memiliki peranan dalam memprediksi maturasi fistula radiosefalika. (ISSN 2723-7494 J Bedah Indonesia. 2020;48:15-37)
Hubungan Kadar Laktat dan Albumin dengan Mortalitas dan Morbiditas Pasien Perforasi Ulkus Peptikum Gisela Karina; Reno Rudiman; Tommy Ruchimat
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i1.55

Abstract

Latar Belakang. Perforasi ulkus peptikum merupakan kondisi emergensi di seluruh dunia, dengan tingkat mortalitas sampai dengan 30%. Penilaian kadar laktat dan albumin dalam darah diharapkan dapat menjadi suatu perangkat penilai untuk memperkirakan tingkat mortalitas dan morbiditas pasien perforasi ulkus peptikum.3,5 Metode. Desain analitis menggunakan metode kohort prospektif dengan analisis korelasi hubungan kadar albumin dan laktat terhadap kejadian mortalitas dan morbiditas pasien perforasi ulkus peptikum di RS. Hasan Sadikin. Subjek penelitian dilakukan dengan cara consecutive sampling. Populasi terjangkau adalah pasien dengan diagnosis klinis perforasi ulkus peptikum yang datang ke Unit Gawat Darurat RSHS pada periode 1 Februari 2018 – 28 Februari 2019. Uji statistik menggunakan uji analisis regresi logistik bivariat. Hasil. Didapatkan 40 pasien, mayoritas berjenis kelamin laki – laki (35 pasien), sisanya perempuan dengan rentang usia 22 – 80 tahun. Didapatkan 11 pasien meninggal (27.5% dari sampel). Pasien mati memiliki rata – rata kadar laktat 6,4 ± 3,7 mmol/L dan rata – rata kadar albumin 2,1 ± 0,4 mg/dL. Morbiditas pada penelitian ini ialah komplikasi hospital acquired pneumonia pasca operasi. Hasil uji Wald membuktikan bahwa kadar laktat berhubungan positif secara signifikan dengan mortalitas pasien perforasi ulkus peptikum dengan probabilitas kesalahan statistik sebesar p = 0,024 (p < 0,05) dan kadar albumin berhubungan negatif secara signifikan dengan mortalitas pasien perforasi ulkus peptikum dengan probabilitas kesalahan statistik sebesar p = 0,032 (p < 0,05). Kesimpulan: Kadar laktat berhubungan positif dengan mortalitas pasien namun tidak dengan morbiditas pasien, sedangkan kadar albumin berhubungan negatif dengan mortalitas pasien namun tidak dengan morbiditas pasien.. Semakin tinggi kadar laktat dan semakin rendah kadar albumin, semakin tinggi probabilitas pasien untuk mati.
Accuracy of D-Dimer Levels and C-reactive Protein in Predicting Perforation of Acute Appendicitis Gema Putra Lesmana; Reno Rudiman; Rani Septrina
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i1.57

Abstract

Introduction: D-Dimer as the primary product of fibrin degradation, was found to be increased in appendicitis patients. CRP still gives different results in predicting perforated appendicitis. The purpose of this study is to find out the accuracy of D-Dimer and CRP in predicting appendicitis perforation at the Central General Hospital Dr. Hasan Sadikin Bandung 2019. Method: This study used prospective observational design with cross-sectional approach. The subject were taken from the Emergency Department (ED) patient between September 2018-September 2019 who met the inclusion criteria. Preoperative D-Dimer and CRP serum were measured and the results of the surgery were noted. Chi-Square test was conducted and the data were analyzed using SPSS Version 22.0 for windows at a 95% confidence level. The value is significant if p <0.05. Results: The sample included in this study were 41 patients, with 24 perforated appendicitis patients. The average age of patients was 34.8 ± 13.8. The majority of patients were male, 24 patients ( 58.5%). Area for ROC curve for D-Dimer is 0.929, with a cut-off point of 0.51 mg / l for sensitivity perforation appendicitis 95.8%, specificity 76.5%, positive predictive value (PPV) 85.2%, negative predictive value (NPV) 92.9% and accuracy 87.8%. For CRP with a cut-off point at 18.84 for sensitivity perforation appendicitis 58.3%, specificity 94.1%, positive predictive value (PPV) 93.3%, negative predictive value (NPV) 61.5% with an accuracy of 73.2%. Conclusion: D-dimer and CRP level can be used in predicting perforation of appendicitis. (ISSN 2723-7494 J Bedah Indonesia. 2020;48:3-14)
Pengaruh Kadar C-Reactive Protein Serum Preoperatif terhadap Maturasi Fistula Radiosefalika Dionisius Panji Wijanarko; Teguh Marfen Djajakusumah; Putie Hapsari; Rama Nusjirwan
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i1.58

Abstract

Latar Belakang. Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat global dengan prevalensi dan insidensi Gagal Ginjal Terminal (GGT) yang meningkat. Riset Kesehatan Dasar Indonesia menyatakan perawatan penyakit ginjal menjadi beban kedua tertinggi pembiayaan BPJS. Penganti fungsi ginjal yang umum dilakukan adalah hemodialisis (HD) sehingga akses vaskular menjadi hal penting dalam penanganan GGT. Fistula arteriovena (AVF) radiosefalika merupakan pilihan akses HD yang utama. Respon endotel merupakan aspek penting dari remodeling pembuluh darah yang diperlukan untuk keberhasilan AVF. C-Reactive Protein (CRP) yang bersirkulasi tinggi dapat menyebabkan disfungsi endotel sehingga diduga memiliki nilai prediksi terhadap maturasi AVF. Metode. Desain analitik menggunakan metode kohort prospektif dengan consecutive sampling untuk menilai bagaimana pengaruh kadar CRP serum preoperatif terhadap maturasi AVF. Sampel diambil dari pasien GGT yang datang ke poliklinik Bedah RSUP Hasan Sadikin dan RSKG Ny.R.A.Habibie Bandung yang akan menjalani operasi AVF radiosefalika. Tes statistik menggunakan uji univariat untuk dekskripsi data. Perbedaan kadar CRP serum preoperatif berdasarkan perbedaan status maturasi AVF dianalisis melalui perbandingan kadar CRP serum preoperatif antar kelompok maturasi AVF melalui model bivariat uji t independen. Selanjutnya analisis untuk menguji hipotesis melalui analisis regresi logistik dengan batas kemaknaan 0,05. Hasil. Didapatkan 24 pasien (12 laki-laki, 12 perempuan) yang dilakukan analisis dengan rerata usia 45 (±16) tahun, rerata tekanan sistolik 149,2 (±28,4)mmHg. Didapatkan kadar CRP serum preoperatif berpengaruh negatif secara signifikan terhadap maturasi AVF dengan probabilitas kesalahan statistik sebesar p = 0,0285 (<0,05) dengan koefisien determinasi Nagelkerke (Nagelkerke R Squared) sebesar 71,1%. Derajat kuatnya pengaruh kadar CRP serum preoperatif terhadap maturasi AVF tergolong kuat/tinggi berdasarkan klasifikasi Guilford yaitu 0,843 (0,70 – 0,90). Kesimpulan. Terdapat pengaruh kadar CRP serum preoperatif terhadap maturasi fistula radiosefalika. Semakin tinggi kadar CRP serum preoperatif, semakin rendah probabilitas maturasi fistula radiosefalika. (ISSN 2723-7494 J Bedah Indonesia. 2020;48:70-89)
Hubungan Antara Perubahan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Respon Kemoterapi Neoadjuvan Kombinasi Doksorubisin pada Penderita Kanker Payudara Lanjut Lokal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Kiki Budiani; Maman Abdurahman; Kiki A Rizki
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.61

Abstract

Latar Belakang : Kanker payudara merupakan kanker dengan insidensi tertinggi pada wanita di Indonesia. Kemoterapi saat ini merupakan salah satu modalitas terapi yang digunakan dalam penatalaksanaan kanker payudara. Salah satu regimen yang paling banyak digunakan adalah Doksorubisin. Perubahan berat badan selama kemoterapi dapat berhubungan dengan prognosis yang buruk pada pasien kanker baik itu kenaikan berat badan ataupun penurunan berat badan. Tujuan : Mengetahui hubungan antara perubahan indeks massa tubuh (IMT) dengan respon kemoterapi pada penderita kanker payudara lanjut lokal yang telah menjalani kemoterapi neoadjuvan kombinasi Doksorubisin 6 siklus. Metode : Rancangan penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik cross-sectional prospektif yaitu untuk mengetahui pengaruh perubahan indeks massa tubuh (IMT) terhadap respon kemoterapi neoadjuvan kombinasi Doksorubisin pada penderita kanker payudara lanjut lokal. Penelitian dilakukan di Poliklinik Bedah Onkologi dan ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung periode April 2019 sampai dengan Agustus 2019. Pasien kanker payudara yang akan menjalani kemoterapi dengan regimen Doksorubisin dilakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan, dan ukuran tumor di awal siklus, setelah follow up 6 siklus kemoterapi diukur kembali berat badan, tinggi badan, dan ukuran tumor kemudian dinilai respon kemoterapi. Hasil : Didapatkan hasil untuk kelompok dengan respon kemoterapi sebanyak 49 atau sebesar 81,7% dan kelompok tidak respon sebanyak 11 atau sebesar 18,3%. Rata-rata usia pasien adalah 47,9 ± 8,79 dengan stadium IIIA sebanyak 27 atau sebesar 45,0% dan IIIB sebanyak 33 atau sebesar 55,0%. Untuk IMT awal memiliki rata-rata sebesar 25,9±4,00, dengan kategori berat badan kurang sebanyak 3 atau sebesar 5,0%, kisaran normal sebanyak 13 atau sebesar 21,7%, berisiko sebanyak 14 atau sebesar 23,3%, obesitas tingkat I sebanyak 27 atau sebesar 45,0% dan obesitas tingkat II sebanyak 3 atau sebesar 5,0%. Untuk perubahan IMT memiliki rata-rata sebesar -1,04±1,719 kg/m2. Terdapat perubahan berat badan pada kedua kelompok yaitu pada kelompok respon, BB berkurang sebanyak 35 atau sebesar 71,.4%, BB tetap sebanyak 5 atau sebesar 10,2% dan BB bertambah sebanyak 9 atau sebesar 18,4%.Pada kelompok tidak respon, kategori BB berkurang sebanyak 5 atau sebesar 45,5%, BB tetap sebanyak 3 atau sebesar 27,3% dan BB bertambah sebanyak 3 atau sebesar 27,3%. Kesimpulan : Perubahan Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak menunjukkan kemaknaan terhadap respon kemoterapi maka dapat disimpulkan perubahan IMT tidak berpengaruh terhadap respon kemoterapi pada penderita kanker payudara lanjut lokal yang menjalani kemoterapi neoadjuvan kombinasi Doksorubisin
Perbandingan Efektivitas Pemberian Erythromycin dan Metoclopramide sebagai Prokinetik Pasca Operasi Laparotomi Digestif di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Syahmardani Ibnu; Ferry Erdani; Jufriady Ismy
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.62

Abstract

Latar Belakang. Gastroparesis atau ileus pasca operasi (IPO) merupakan kondisi yang normal, bersifat sementara, dan merupakan respon fisiologis pasca prosedur operasi abdominal. Jika berkepanjangan, IPO dapat meningkatkan morbiditas dan beban biaya kesehatan. Beberapa obat yang berperan sebagai prokinetik, seperti diantaranya metoclopramid dan erythromycin. Penggunaan kedua obat tersebut masih sangat minim khususnya di Indonesia dalam konteks mencegah terjadinya IPO. Tujuan. Menilai efektifitas erythromycin dan metocloprtamide sebagai prokinetik pada pasien yang menjalani prosedur pembedahan laparotomi. Metode. Penelitian uji klinis ketersamaran ganda dengan desain paralel. Subjek dibedakan menjadi dua kelompok perlakuan yaitu dengan pemberian erythromycin 250 mg dan metoclopramide 10 mg secara oral 60 menit sebelum operasi. Independent t test digunakan sebagai analisa utama dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil. 38 subjek terlibat dalam penelitian ini yang didominasi oleh jenis kelamin laki-laki dengan rerata usia 45,11 ± 15,38 dan 53,84 ± 10,73 pada kelompok erythromycin dan metoclopramide secara berurutan. Rerata residu volume cairan lambung kelompok erythromycin (33,26 ± 15,33 ml/24 jam) lebih minimal dibandingkan kelompok metoclopramide (49,95 ± 17,71 ml/24 jam) dengan nilai signifikansi p=0,004. Kesimpulan. Pemberian erythromycin lebih efektif dibandingkan metoclopramide sebagai agen prokinetik pasca pembedahan digestif.
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Pasca Trauma Kepala Sedang dan Berat dengan Lesi Intrakranial Menggunakan Parameter EUROQOL Group EQ-5D-5L di Departemen Bedah Saraf Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Eldy Muhammad Noor; M Zafrullah Arifin; Agung Budi Sutiyono
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.63

Abstract

Latar Belakang : Trauma kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian pada pengguna kendaraan bermotor di negara berkembang. Angka kematian pasien pasca trauma kepala saat perawatan di rumah sakit cukup tinggi. Literatur tentang kualitas hidup pasien pasca trauma kepala atau pasien neurologis di negara berkembang sangat terbatas. Tujuan: Menilai kualitas hidup pasien trauma kepala sedang dan berat dengan lesi intrakranial di bagian Bedah Saraf RS. Hasan Sadikin Bandung menggunakan kuisioner EQ-5D-5L. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional deksriptif prospektif, dengan subjek penelitian pasien bedah saraf yang masuk ke ruang gawat darurat RS. Hasan Sadikin dan memenuhi kriteria inklusi. Dilakukan pemeriksaan awal oleh dokter bedah saraf dan dilakukan pemeriksaan CT-Scan, kemudian dilanjutkan dengan mengisi kuisioner F1, selama perawatan akan mengisi F2, dan sebelum pulang mengisi F3, selanjutnya follow-up selama bulan 1, 2, dan 3 akan mengisi format F4.1, F4.2 dan F4.3. Sampel diambil dengan cara Consecutive Sampling. Hasil : Dari 721 pasien trauma kepala yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) bagian bedah saraf Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) selama periode 1 Agustus 2018 sampai dengan 31 Januari 2019, didapatkan 22 (3,05 %) orang meninggal di IGD, 23 orang (3,2 %) pulang paksa sebelum dilakukan interview, dan diperoleh 36 pasien (4,5 %) yang masuk kriteria inklusi dan ikut dalam penelitian ini. Berdasarkan skala dimensi Euroqol EQ-5D mobilisasi saat pulang tidak ada masalah sebanyak 35%, sedikit masalah 62 %, dan masalah sedang 3 %. Skala perawatan diri didapatkan pasien yang saat pulang tidak ada masalah sebanyak 10%, sedikit masalah 87 %, dan masalah sedang 3 %. Skala aktifitas biasa didapatkan pada saat pulang tidak ada masalah sebanyak 3%, sedikit masalah 87 %, dan masalah sedang 10 %. Skala nyeri didapatkan pada saat pulang tidak ada masalah sebanyak 10%, masalah sedikit 83%, dan masalah sedang 7%. Skala kecemasan / depresi didapatkan pada saat pulang tidak ada masalah sebanyak 52%, sedikit masalah 45%, dan masalah sedang 3%. Skala intelektual didapatkan pada saat pulang tidak ada masalah sebanyak 74%, sedikit masalah 23%, dan masalah sedang 3%. Kesimpulan : Kuesioner Euroqol EQ-5D merupakan instrumen yang mudah dimengerti, tidak membutuhkan biaya banyak serta dapat diterapkan di berbagai bidang ilmu. Terdapat perbaikan pada semua skala dimensi Euroqol EQ-5D pada akhir pemantauan.
Role of Autologous Fibrine Glue to Decrease Seroma Volume On 14th Post Operative Day in Carcinoma Mamae Patients that Underwent Simple Mastectomy Ahmad Iffa Maududy; Kiki Ahmad Rizki; Raden Yohana; Nadjwa Jamalek
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.64

Abstract

Background: Seroma is the most significant complication that occurred after mastectomy, happen in 25% until 60% cases. Seroma are not life threatening complications, but can lead to serious morbidity, prolonged hospital stay and delay adjuvant therapy. Autologous Fibrin Glue is a hemostatic agent that can accelerate fibrin thread formation, stop vascular oozing and decrease dead space. This research was performed to evaluate Autologous Fibrin Glue function in lowering seroma volume at 14th days after simple mastectomy. Methods: This research is a clinical trial to compare average seroma volume between advance stage locally breast carcinoma patients group which are given Autologous Fibrin Glue on the surface of surgical wound, 14 days after simple mastectomy (trial group) and control group (without special treatment) with ultrasonography. Result: From 42 patients who met the inclusion criteria, divided into 2 groups, 21 patients were given Autologous Fibrin Glue on the surgical wound surface in a simple mastectomy procedure, 21 patients as a control group. The number of seromas in the treatment group was measured using ultrasound on the 14th day, fewer meaningfully than the control group, the median seroma volume in the treatment group was 9,30 mL and median seroma volume in the control group was 20.90 mL. The P value in the variable number of seroma is smaller than 0.05 (P. < 0.05) which means significant, the number of seromas measured using ultrasonography (USG) on the 14th day, fewer meaningfully in the treatment group. Conclusion: Subjects that was given Autologous Fibrin Glue on the surface of surgical wound after simple mastectomy has a lower volume of seroma compared to control group.

Page 7 of 11 | Total Record : 101