cover
Contact Name
Ristiawan Muji Laksono
Contact Email
anestpain@ub.ac.id
Phone
+6281336172271
Journal Mail Official
anestpain@ub.ac.id
Editorial Address
Anesthesiology and Intensive Therapy Program, Medicine FacultyBrawijaya University, Malang Indonesia Jl. Jaksa Agung Suprapto no.2, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Anaesthesia and Pain
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 27223167     EISSN : 27223205     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jap
Core Subject : Health,
Journal of Anaesthesia and Pain is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on anesthesia and pain. Journal of Anaesthesia and Pain, published by Anesthesiology and Intensive Therapy Specialist Program of Medicine Faculty, Brawijaya University. This journal publishes original articles, case reports, and reviews. The Journal s mission is to offer the latest scientific information on anesthesiology and pain management by providing a forum for clinical researchers, scientists, clinicians, and other health professionals. This journal publishes three times a year. Subjects suitable for the Journal of Anaesthesia and Pain are all subjects related to anesthesiology and pain management.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2021): January" : 7 Documents clear
Anestesi Epidural Thorakal pada Operasi Thorakotomi Dekortisasi pada Pasien dengan Tuberkulosis Pyopneumothorax Dendy Dwi Ramadhani; Taufiq Agus Siswagama
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.07

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis pyopneumothorax adalah kejadian yang mengarah pada komplikasi parah dan serangkaian tantangan pengobatan terutama dalam manajemen anestesi. Penggunaan teknik epidural thorakal telah mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan operasi abdomen, thorakal dan kardiovaskuler. Tujuan dari penggunaan anestesi epidural thorakal tidak semata untuk menghalangi rangsangan nyeri melalui serabut saraf afferent luka operasi tetapi juga simpatektomi yang selektif pada daerah thorakal. Kombinasi dengan teknik anestesi umum akan mengurangi kedalaman anestesi, kondisi hemodinamik yang lebih stabil dan pemulihan lebih cepat. Kasus: Seorang laki-laki usia 52 tahun, dengan diagnosis pyopneumothorax spontan dan tuberculosis paru, menjalani operasi thorakotomi dekortikasi dengan anestesi umum dikombinasi epidural thorakal. Anestesi epidural dilakukan dengan cara pendekatan median setinggi vertebra T7-T8 dengan target blok T2-T6, dan insersi dengan cara loss of resistancepada kedalaman 3,5 cm dan kateter sedalam 6 cm. Setelah dilakukan test dose negatif, dilanjutkan dengan intubasi endotrakeal menggunakan double lumen tube. Ropivacaine 0,375 % 6 ml+ fentanil 50 µg diberikan ke dalam kateter epidural. Selama operasi ditemukan kondisi yang stabil dengan tingkat sedasi cukup dalam. Kesimpulan: Teknik anestesi epidural thorakal memiliki efek yang menguntungkan seperti analgesia, kejadian perubahan hemodinamik yang minimal dan risiko komplikasi pascaoperasi yang lebih rendah. Hal tersebut bermanfaat dalam tindakan bedah thoraks dan tatalaksana nyeri pascaoperasi.
Anestesi Low-Dose Spinal dan Epidural pada Pasien Syok Hemoragik yang akan Dilakukan Histerektomi dengan Suspek COVID-19 Aulia Nailufar Rizki; Isngadi Isngadi
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.06

Abstract

Latar belakang: Syok hemoragik atau kondisi hipovolemia berat merupakan kontraindikasi anestesi neuraxial. Anestesi regional baik spinal maupun epidural merupakan pilihan utama untuk operasi obstetri ginekologi dengan COVID-19, untuk menghindari manipulasi jalan napas dan meminimalkan tindakan aerosol serta mengurangi risiko transmisi virus antara pasien dan tenaga kesehatan. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi pada pasien yang mengalami syok hemoragik dengan kecurigaan COVID-19 yang dilakukan histerektomi darurat, menggunakan kombinasi anestesi spinal dosis rendah dan epidural.Kasus: Perempuan 38 tahun dengan keluhan utama pendarahan aktif pervaginam, dengan riwayat demam datang ke IGD reguler dalam keadaan syok hemoragik dan dilakukan resusitasi cairan, transfusi darah, dan vasopressor. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia, trombositopenia, neutrofilia, limpofenia, peningkatan NLR, hipoalbuminemia; peningkatan CRP dan procalcitonin. X-Ray thorax menunjukkan pneumonia tipikal kesan viral. Penapisan pre-hospital dan intra-hospital menunjukkan kecurigaan infeksi COVID-19. Pasien direncanakan histerektomi darurat dengan anestesi spinal dosis rendah dan epidural di kamar operasi incovit. Paska operasi pasien dirawat di ruang IGD dikarenakan ruang rawat dan ICU incovit penuh. Hemodinamik paska operasi stabil, vasopressor dihentikan. Setelah swab 2 hari berturut-turut didapatkan hasil negatif dan pasien dipindahkan ke ruang rawat reguler.Kesimpulan: Pasien syok hemoragik disertai kecurigaan COVID-19 dengan tindakan histerektomi dapat dilakukan anestesi kombinasi spinal dosis rendah dan epidural, serta memberikan outcome yang baik.   
Manajemen Anestesi Torakotomi Ligasi Fistel Pasien Tracheoesophageal Fistle Tipe C dengan Atrial Septal Defect (ASD) Sinus Venosus Besar dan Patent Ductus Arteriosus (PDA) Muhamad Akbar Sidiq; Karmini Yupono
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.03

Abstract

Latar Belakang: Insiden tracheoesophageal fistula (TEF) dan esophageal atresia (EA) berkisar antara 1:3000 dan 1:4500 kelahiran. Antara 20% sampai 50% bayi dengan TEF/EA memiliki defek kongenital lainnya yang biasa disebut VACTERL (vertebral, anal, cardiac, tracheoesophageal, renal, limb).Kasus: Bayi usia 30 hari berat badan 2600 gram dengan diagnosis TEF tipe C dengan komplikasi pneumonia neonatal dan penyakit jantung bawaan ASD sinus venosus besar dan PDA sedang direncanakan tindakan thorakotomi ligasi fistel. Pasien sudah dilakukan gastrostomi dan esofagostomi sebelum tindakan ligasi.  Pasien dilakukan manajemen anestesi dengan general anestesi intubasi dengan kontrol ventilasi. Selama operasi terjadi beberapa kali desaturasi akibat retraksi paru yang dimanajemen dengan ventilasi manual dengan pemberian PEEP dan pengurangan retraksi oleh operator. Dua hari post operasi pasien dilakukan ekstubasi dan diganti dengan CPAP.Kesimpulan: Manajemen anestesi dengan TEF/EA memerlukan evaluasi dan perencanaan mulai preoperatif, intraoperatif, dan postoperatif. Evaluasi preoperatif berupa investigasi VACTERL, masalah kardiak dan respirasi berkaitan perencanaan manajemen anestesi yang akan dilakukan. Manajemen intraoperatif termasuk teknik intubasi, pemilihan teknik awake atau apnea bergantung kondisi dan komorbid dari pasien. Manajemen postoperatif berupa perawatan ventilator, kontrol nyeri optimal serta pengawasan kardiorespirasi.
Manajemen Pasien Dekstroskoliosis Berat dengan Kegagalan Napas yang disebabkan oleh Syok Septik dan Pneumonia Aulia Martyana Achsar; Arie Zainul Fatoni
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.05

Abstract

Latar belakang: Dekstroskoliosis adalah jenis skoliosis dengan deformitas kurva tulang belakang ke kanan. Dekstroskoliosis berat dengan Cobbs Angle > 70o mengakibatkan berkurangnya kapasitas paru, Functional Residual Capacity (FRC), volume tidal, dan mempunyai kondisi seperti penyakit paru restriktif. Pada kondisi berat dapat menyebabkan hipoksemia, hiperkapnia dan gagal napas. Penyebab tersering gagal napas pada pasien dekstroskoliosis berat ialah sepsis/syok septik yang disebabkan oleh pneumonia. Sampai saat ini belum ada tatalaksana khusus yang menjelaskan tentang manajemen pasien dekstroskoliosis berat dengan gagal napas yang disebabkan syok septik dan pneumonia.Kasus: Pria berusia 46 tahun dengan berat badan 40 kg dan tinggi badan 165 cm rujukan dari Rumah Sakit luar dengan riwayat sesak napas dan kehilangan kesadaran sejak satu minggu sebelumnya, masuk ke Instalasi Gawat Darurat dengan laju pernapasan 40 x/menit, dengan menggunakan Nonrebreathing Mask 15 lpm saturasi oksigen terukur hanya 90% dengan tekanan darah 60/40 mmHg dan laju nadi 120 x/menit. Pasien memiliki riwayat batuk dengan dahak kuning dan demam sekitar 1 bulan. Pasien dinilai sebagai gagal napas dengan dekstroskoliosis berat dan penyulit syok septik dan Community Acquired Pneumonia, kami lakukan tindakan intubasi dan resusitasi sesuai sepsis bundle terbaru, pasien kemudian kami rawat di Intensive Care Unit (ICU) selama 10 hari dengan bantuan ventilasi mekanik invasif dengan menggunakan prinsip Lung protective strategy dan Survival Sepsis Campaign Bundle terbaru, hari ke 11 pasien stabil bisa lepas dari ventilator dan dipindahkan ke bangsal.Kesimpulan: Lung protective strategy dan Survival Sepsis Campaign Bundle dapat digunakan untuk manajemen pasien dekstroskoliosis berat dengan gagal napas yang disebabkan syok septik dan pneumonia. 
Peranan C-Reactive Protein (CRP) pada Pasien Sepsis di Intensive Care Unit (ICU) Harri Kurnia Chandra; Arie Zainul Fatoni
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.01

Abstract

Sepsis adalah suatu keadaan gawat darurat yang merupakan respons imunologis sistemik tubuh terhadap proses infeksi yang dapat berujung pada kerusakan organ dan kematian. Sepsis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Tatalaksana sepsis juga terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. C-reactive protein (CRP) merupakan salah satu marker inflamasi sederhana yang mudah dilakukan, memiliki sensitivitas yang cukup baik terhadap diagnosis sepsis.Kadar CRP yang tinggi telah dipelajari dalam kaitannya dengan prognosis dan mortalitas pada pasien sepsis di intensive care unit (ICU)
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) pada Pneumonia COVID-19 Arie Zainul Fatoni; Ramacandra Rakhmatullah
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.02

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit pernafasan akut yang ditandai dengan pneumonia dan gagal paru-paru. Agen penyebab COVID-19 telah dikonfirmasi sebagai virus korona baru, yang sekarang dikenal sebagai severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Acute respiratory distress syndrome (ARDS) adalah salah satu komplikasi COVID-19 yang paling sering dengan angka kematian yang cukup tinggi. ARDS muncul sebagai salah satu gambaran disfungsi organ pada fase hiperinflamasi COVID-19. Patofisiologi dan manifestasi klinis ARDS yang disebabkan COVID-19 memiliki perbedaan dengan ARDS pada umumnya. Oleh sebab itu, kami merekomendasikan manajemen ARDS pada COVID-19 disesuaikan dengan tipe ARDS yang terjadi sehingga dapat memperoleh luaran yang baik
Kombinasi Blok Pleksus Servikal Superfisial – Interskalenus untuk Operasi Fiksasi Klavikula pada Pasien dengan Pneumothoraks Ismail Hari Wahyu; Dwi Pantja Wibowo
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 2, No 1 (2021): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2021.002.01.04

Abstract

Latar belakang: Operasi klavikula lebih sering dilakukan dalam anestesi umum. Fraktur klavikula dengan cedera penyerta pneumothoraks yang berukuran kecil dan tidak bergejala dapat menjadi tension pneumothoraks ketika mendapat ventilasi tekanan positif pada paru-paru setelah induksi anestesi umum. Kombinasi blok pleksus servikal superfisial–interskalenus diharapkan dapat memberi analgesia yang cukup dan menghindarkan pasien dari komplikasi paru yang lebih berat akibat anestesi umum. Kasus : Pasien pria 54 tahun mengalami nyeri dan bengkak pada bahu kiri akibat terjatuh. Pemeriksaan rontgen menunjukan adanya fraktur sepertiga tengah klavikula kiri. Pemeriksaan computed tomography (CT) scan dada menunjukan adanya kontusio paru, fraktur iga VIII-IX dan pneumothoraks minimal pada paru kiri. Dokter spesialis paru menatalaksana pneumothoraks secara konservatif karena berukuran kecil dan tidak bergejala. Pasien direncanakan menjalani operasi reduksi terbuka dan fiksasi internal klavikula kiri. Kami melakukan kombinasi blok pleksus servikal superfisial - interskalenus dengan panduan ultrasound untuk mendapatkan analgesia intra dan pasca operasi yang adekuat. Kesimpulan : Kombinasi blok pleksus servikal superfisial – interskalenus dengan panduan ultrasound dapat menjadi anestesi tunggal pada operasi fraktur klavikula. Metode ini menjadi alternatif anestesi umum terutama bagi pasien yang berisiko tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 7