cover
Contact Name
Hanevi Djasri
Contact Email
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Phone
+628161913332
Journal Mail Official
hanevi.djasri@ugm.ac.id
Editorial Address
Gedung Epicentrum Walk Unit 716B Jl. Boulevard, Jl. Epicentrum Sel., RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12960, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
The Journal of Hospital Accreditation (JHA)
ISSN : 26567237     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.35727/jha.v1i1
Core Subject : Health,
Jurnal ini diperuntukan untuk sosialisasi artikel ilmiah terkait dengan pengembangan, penerapan dan evaluasi sistem akreditasi rumah sakit, termasuk didalamnya artikel ilmiah tentang regulasi akreditasi, standar akreditasi, manajemen lembaga akreditasi, surveior akreditasi, dan berbagai hal lain yang terkait.
Articles 81 Documents
Partisipasi Pasien di Rumah Sakit Ditinjau dari Perspektif Pasien: Studi Grounded Theory M. Muska Nataliansyah; Trisasi Lestari; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol 5 No 01 (2023): Pengalaman dan Kepuasan Pasien
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i01.165

Abstract

Latar Belakang: Partisipasi aktif pasien dalam pengobatan medis telah diakui secara internasional sebagai elemen kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Studi menunjukkan bahwa memberikan pilihan perawatan akan memberikan kendali yang lebih baik kepada pasien atas kondisi medisnya, serta biaya perawatan yang lebih efisien. Namun, hubungan dokter-pasien di sebagian besar penyedia layanan kesehatan di Indonesia masih menerapkan model paternalistik, dengan partisipasi pasien yang terbatas.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi bentuk partisipasi pasien dan faktor yang mempengaruhinya di rumah sakit (RS) dalam konteks untuk mengusulkan rekomendasi dalam kebijakan peningkatan pemberdayaan pasien.Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan desain grounded theory. Informan terdiri dari delapan pasien rawat inap dan tujuh pasien rawat jalan dari departemen jantung di Eka Hospital. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam untuk mengeksplorasi karakteristik pasien, pengetahuan dan pengalaman, riwayat penyakit dan penanganan, proses perawatan kesehatan, peran pasien dalam perawatan kesehatan, peran rumah sakit, dan peran tenaga kesehatan dalam partisipasi pasien. Analisis data menggunakan open coding, axial coding, dan selective coding.Hasil: Dari 15 informan yang diwawancara, didapatkan konsep ”Piramida Partisipasi Pasien” yang menggambarkan hubungan empat komponen utama partisipasi pasien di RS. Dasar piramida dibentuk oleh tiga segitiga yang saling berhubungan yaitu, peran RS, motivasi pasien, dan peran tenaga medis. Posisi atas piramida ditempati oleh bentuk keterlibatan pasien, sebagai puncak dari ketiga komponen yang mendukung.Kesimpulan: Partisipasi muncul apabila motivasi pasien didukung oleh peran serta tenaga medis dan rumah sakit. Motivasi utama dalam partisipasi adalah keinginan untuk sehat, sehingga keterlibatan pasien cenderung lebih terfokus pada penanganan medisnya atau pada tingkat individu. Pasien pada umumnya telah memiliki motivasi untuk berpartisipasi sehingga kemampuan komunikasi para profesional di RS menjadi kunci pengembangan partisipasi pasien.Kata kunci: Partisipasi pasien, grounded theory, manajemen rumah sakit, penelitian kualitatif.
Perbaikan Layanan Pneumonia Anak Di Fasilitas Kesehatan: Tindak Lanjut Deklarasi Global Untuk Pneumonia Anak Muhammad Hardhantyo; Hanevi Djasri
The Journal of Hospital Accreditation Vol 5 No 01 (2023): Pengalaman dan Kepuasan Pasien
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i01.166

Abstract

Forum Global Pneumonia Anak ke-2 baru saja terlaksana pada April 2023 di Kota Madrid, menghasilkan sebuah deklarasi yang menjadi arahan dan protokol untuk manajemen pneumonia anak global secara komprehensif. Indonesia sendiri telah mencapai target dari Sustainable Development Goals (SDG) 3.2 untuk menurunkan angka kematian bayi baru lahir setidaknya hingga 12 per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian anak usia di bawah lima tahun dibawah 25 per 1.000 kelahiran hidup1,2. Meskipun sudah memenuhi target, pemerintah Indonesia dalam forum tersebut menunjukkan komitmen kuat untuk terus menurunkan angka kematian anak dengan meningkatkan sistem informasi kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan anak yang terintegrasi secara komprehensif di berbagai fasilitas kesehatan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk mengatasi pneumonia anak dan menurunkan angka kematian balita. Pemerintah terus mempercepat cakupan dari vaksinasi Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) di seluruh Indonesia1,3. Komitmen ini tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan yang kemudian diperdalam dalam Rencana Aksi Nasional untuk Pneumonia dan Diare di tahun 2023. Rencana ini menekankan tentang pentingnya peningkatan cakupan vaksinasi PCV, DTP, dan campak hingga di atas 90% di setiap provinsi
Dampak Identifikasi Penyebab Rendahnya Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul: Sebuah Studi Kasus Sely Aprianda Syah Putri; Betha Candra Sari; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.173

Abstract

Background: Patient safety is a serious problem that occurs globally, which affects the quality of health services. Reporting patient safety incidents is at the heart of service quality, but those who carry it out are still lacking, health workers' awareness of this is still quite low. Based on initial observations, as of June 2022 there were 24 reports. This condition is far below the IOM estimate which states that the IKP rate is around ± 10% of the number of hospitalized patients. One of the efforts to improve the quality of IKP is the contribution of the District Health Authority in monitoring and evaluation. Objective: Identifying the causes of low reporting of patient safety incidents at RSUD Panembahan Senopati. Methods: This type of research is a case study conducted by in-depth interviews and document review. The subjects of this study consisted of the chairman of the Hospital Patient Safety Sub-Committee, the secretary of the Hospital Patient Safety Sub-Committee, the coordinator and officers in the emergency room unit, nakula sadewa pediatric room, arjuna bisma room, setyaki surgical room and the District Health Authority Bantul. The sampling method in this study used purposive sampling technique with technical analysis using pattern matching. Results: RSUD Panembahan Senopati is trying to establish a learning culture dimension in building a patient safety culture. The inhibiting factors in IKP reporting at this hospital are individual understanding, fear of blame, reporting process, organization/system and work environment. Meanwhile, the supporting factors are interpersonal relationships, motivation and rewards. The District Health Authority Bantul has not optimized its role in carrying out guidance and supervision according to the Indonesian Ministry of Health Circular Letter Number HK.02.02/I/4254/2021. Conclusion: The low reporting of patient safety incidents at Panembahan Senopati Hospital is caused by several factors, namely the lack of individual understanding, the fear of being blamed, the reporting process, the organization and the hospital work environment, even though this hospital has an internal policy in the form of Director Regulation Number 12 of 2022 and formed a PIC / Champion as an effort to cultivate IKP reporting. Keywords: Patient safety incident reporting, Patient Safety, Berwick's Theory, The role of District Health Authorities
Optimalisasi Utilisasi Laboratorium Kateterisasi Pediatrik: Studi Kasus di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Ardyles
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.176

Abstract

Latar belakang: Laboratorium kateterisasi merupakan salah satu sarana penting sebagai diagnostik dan intervensi, khususnya untuk Penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak. Tingginya kebutuhan pelayanan unit ini menuntut utilisasi yang optimal. Utilisasi yang tidak efisien akan memperlama waktu tunggu tindakan, memperboros sumber daya, dan berpotensi pada perburukan klinis pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis utilisasi laboratorium kateterisasi pediatrik di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) serta faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi tersebut. Metode: Studi ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis menggunakan uji chi-square dan Mann Whitney. Data diperoleh melalui catatan register unit, rekam medis, regulasi, dan dokumen objek penelitian lainnya berdasarkan variabel mulai prosedur pertama, jeda waktu antar tindakan, waktu selesai prosedur terakhir, dan jumlah pasien harian. Variabel tersebut juga dianalisis dari sisi Standar Prosedur Operasional (SPO), Sumber Daya Manusia (SDM), dan fasilitas. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa utilisasi laboratorium kateterisasi pediatrik mencapai 81,21%, melebihi target indikator mutu RSJPDHK. Faktor-faktor yang berhubungan dengan utilisasi meliputi jumlah prosedur harian, jenis prosedur, dan waktu selesai prosedur terakhir, dengan nilai p-value < 0,05. Kesimpulan: Utilisasi laboratorium kateterisasi pediatrik masih perlu ditingkatkan, dan target utilisasi sebesar 70% atau tujuh jam per hari perlu ditinjau ulang agar dapat menampung lebih banyak prosedur dan mengurangi waktu tunggu pasien. Kata Kunci: Utilisasi, laboratorium kateterisasi, pediatrik, efisiensi
Beban Kerja Perawat Ruang Rawat Inap Di Rs Mata Rujukan Tersier Dewanti Widya Astari
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang rawat inap lantai 1 di Rumah Sakit X meliputi pelayanan perawatan bedah mata dan infeksi pada pasien dewasa dan anak. Parameter yang digunakan untuk memantau efisiensi penggunaan tempat tidur di unit telah dirumuskan dan terdiri dari 4 parameter, yaitu Bed Occupancy Ratio (BOR), Length Of Stay (LOS), Turn Over Interval (TOI) dan Bed Turn Over (BTO). Belum pernah dilakukan analisis dan pembuatan grafik Barber Johnson di ruang rawat inap lantai 1. Penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif yaitu memberikan gambaran mengenai efisiensi pelayanan rawat inap berdasarkan parameter Barber Johnson yaitu Bed Occupancy Rate (BOR), Lenght Of Stay (LOS), Turn Over Interval (TOI), dan Bed Turn Over (BTO), membuat grafik Barber Johnson, beban kerja perawat dan analisis faktor efisiensi pelayanan rawat inap. Penelitian dilakukan dari bulan Maret sampai dengan Mei 2023 dengan 25 responden perawat ruang rawat inap lantai 1 dan data indikator pelayanan unit ruang rawat inap lantai 1. Penelitian sudah mendapatkan persetujuan etik dengan nomor : LB.02.01/2.3/5440/2023 Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai BOR adalah 90,64 %. Nilai LOS adalah 1,921 hari. Nilai TOI adalah 0,315 hari dan nilai BTO adalah 9,515 kali. Efisiensi pelayanan rawat inap lantai 1 berdasarkan gambar grafik Barber Johnson didapatkan hasil belum optimal. Beban kerja perawat pada aspek fisik di dapatkan hasil tinggi yaitu 76 % dan beban kerja perawat aspek psikologis didapatkan hasil tinggi yaitu 96 %. Beberapa faktor belum optimalnya efisiensi pelayanan rawat inap diantaranya adalah karena tingginya jumlah pasien yang akan masuk ke ruang rawat inap, sistem manajemen pengaturan bed yang belum optimal, tingginya beban kerja perawat dan ruang perawatan terbatas namun penggunaan tempat tidur berlangsung terus menerus. Keyword : Hospital Service, Indikator Pelayanan, Nurse Workload
Peresepan Elektronik Sebagai Kendali Mutu Dan Kendali Biaya: Studi di IGD Rumah Sakit Umum Daerah Kelas D di Jakarta Diah Lestari; Erna Kristin; Rina Kusumaratna
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.182

Abstract

Latar Belakang: Penyelenggaraan pelayanan kesehatan di rumah sakit pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memerlukan kendali mutu dan kendali biaya. Kendali mutu artinya pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit efisien, efektif, dan berkualitas sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasien, sementara kendali biaya adalah biaya pelayanan kesehatan yang dikeluarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan medis pasien. Salah satu proses pelayanan kesehatan yang dapat menjadi fokus kendali mutu dan kendali biaya adalah dalam hal pemberian obat rasional. Dalam pemberian obat rasional, pasien akan menerima obat yang tepat untuk kebutuhan klinisnya, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan untuk jangka waktu yang cukup dan dengan biaya yang terjangkau. Untuk mendukung keberhasilan pemberian obat yang rasional dalam rangka kendali mutu dan kendali biaya diperlukan suatu intervensi dalam peresepan yaitu dengan menggunakan peresepan elektronik, Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan resep elektronik terhadap kendali mutu dan kendali biaya. Metode: Desain penelitian ini adalah quasi eksperimental dengan rancangan satu kelompok dengan pengukuran sebelum dan sesudah penggunaan resep elektronik. Penelitian dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) salah satu RSUD Kelas D (RSD) di Jakarta dengan menggunakan seluruh sampel resep untuk 5 diagnosis terbanyak di IGD tersebut yaitu Demam, Dispepsia, Gastroenteritis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan Hipertensi. Pengukuran menggunakan uji statistik independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95% (p = 0,05). Resep elektronik yang belum pernah sama sekali digunakan di rumah sakit ini dibuat dan dilengkapi dengan fitur-fitur pendukung keputusan sehingga dokter penulis resep dapat dengan cepat dan tepat memberikan obat yang rasional kepada pasien dengan biaya dan waktu pelayanan yang lebih efisien. Hasil: Hasil pengukuran menunjukan adanya perbaikan dalam mutu dan penurunan dalam biaya obat. Resep elektronik berhasil menjadi kendali mutu dalam menurunkan kesalahan peresepan, menurunkan polifarmasi, meningkatkan kepatuhan persepan sesuai dengan formularium, serta menurunkan waktu tunggu obat. Rerata biaya obat juga turun setelah menggunakan resep elektronik. Kesimpulan: Kendali mutu dan kendali biaya dapat dilaksanakan di rumah sakit menggunakan peresepan elektronik.
Implementasi Point of Care Quality Improvement (POCQI) Untuk Meningkatkan Tata Laksana Bayi Baru Lahir Pada Persalinan Seksio Sesarea Ribkhi Amalia Putri; Rukmono Siswihanto; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.185

Abstract

Latar Belakang: Setiap bayi baru lahir mendapatkan perawatan neonatal esensial sebagai perawatan rutin untuk meminimalkan komplikasi yang dapat berakibat sampai kematian. Pemisahan antara ibu dan bayi baru lahir terutama pada persalinan seksio sesarea masih cukup tinggi jika dibandingkan persalinan normal. Angka seksio sesarea yang tinggi menghambat penundaan penjepitan tali pusat mminimal 30 detik, Inisiasi Menyusu Dini, dan rawat gabung segera. Model Point of Care Quality Improvement (POCQI) adalah pendekatan manajemen yang dapat digunakan petugas kesehatan untuk mengelola pasien di tingkat unit pelayanan untuk memastikan pasien menerima perawatan kesehatan yang berkualitas. POCQI memiliki kelebihan mampu memetakan permasalahan riil di unit pelayanan, mudah dikerjakan, melibatkan petugas di unit tersebut, serta menerapkan siklus Plan Do Study Act (PDSA) yang terus-menerus. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode POCQI dalam meningkatkan kualitas pelayanan bayi baru lahir dan IMD pada persalinan seksio sesarea. Metode: Penelitian ini merupakan action research yang dilakukan di RS Islam Jakarta Cempaka Putih pada Bulan Juni 2023. Tim melakukan langkah POCQI, termasuk di dalamnya dua siklus PDSA, dengan tim seksio sesarea sebagai subjek. Semua persalinan seksio sesarea dengan bayi aterm dimasukkan dalam pengamatan. Kriteria eksklusi ibu adalah kondisi hemodinamik tidak stabil atau ibu dalam anestesi umum. Sedangkan kriteria eksklusi bayi adalah kurang bulan, tidak bugar, kembar, dan terdapat kelainan kongenital. Hasil: Setelah siklus PDSA I, terdapat kenaikan capaian IMD minimal 15 menit pada persalinan seksio sesarea dari 0% menjadi 53.85%, penundaan penjepitan tali pusat 30 detik dari 36.84% menjadi 76.92%, serta jarak rawat gabung ≤4 jam dari 0% menjadi 53.33%. Setelah siklus PDSA II, kenaikan capaian IMD minimal 15 menit naik menjadi 81.82%%, penundaan penjepitan tali pusat 30 detik menjadi 81.82%, serta jarak rawat gabung ≤4 jam menjadi 60.87%. Pada observasi sampai dengan minggu kelima, peningkatan mencapai >90% untuk ketiga indikator. Selama dilakukan perubahan tersebut, tidak ada bayi yang dilaporkan hipotermia. Kesimpulan: Metode POCQI efektif untuk meningkatkan pelayanan bayi baru baru lahir seksio sesarea di RS Islam Jakarta Cempaka Putih. Perlu PDSA berkelanjutan serta langkah untuk mempertahankan perubahan tersebut.
Utilizing Teledentistry for Managing Patients: A Systematic Review of Dentist Satisfaction Jeanette Widjaja; Martina Sinta Kristanti; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.211

Abstract

Background: The global COVID-19 epidemic has hastened the digital disruption period, resulting in significant technical advancement in dental information and communication via teledentistry. Dentist satisfaction is one of the indicators that is able to reflect the level of technology acceptance, willingness to use, attitude, and confidence of utilizing teledentistry in their daily practices. Dentist satisfaction is crucial to be assessed in conjunction with patient satisfaction. Objective: The aim of the current study was to review dentist satisfaction in using teledentistry. Methods: The current review followed the guideline of JBI Manual for Evidence Synthesis (2021). Four databases were used for searching the articles: PubMed, Medline, Scopus, and ScienceDirect. The last date of search was March, 29th 2023. The Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) flowchart was used to record the selection process and the Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT) 2018 was applied to assess quality of the articles. Results: Eleven articles were included in this current review. Four studies were conducted in high income, three studies in middle income, three studies in middle-low income and one study was conducted in multi countries with various level of income. Dentist satisfaction scores ranged from satisfied to very satisfied. Factors influencing satisfaction were classified into five aspects: safety and convenience, quality and access, cost, infrastructure, and referral priorities. Included articles also provided information on challenges in implementing teledentistry, namely: access and infrastructure, financing, user awareness and knowledge, examination and diagnostic processes, and government support. We also identified some recommendations for enhance the implementation: improving audio-visual devices and access, maintaining data privacy, increasing remuneration, increasing training time and implementing formal curriculum of teledentistry, conducting case selections, and enforcing the use of evidence-based policies. Conclusions: Implementation of teledentistry is promising as most dentists were satisfied and received benefits from it. Feasibility studies prior to the implementations of teledentistry must be planned collaboratively amongst dentists, policymakers and insurance agencies to ensure proper implementation. Future studies should explore the use of teledentistry in lower income or developing countries to add information related to cost and infrastructural structure.
Hubungan Persepsi Kolaborasi Interprofesi Dengan Budaya Keselamatan Pasien Bagi Dokter – Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Di Kabupaten Kudus Rachmadian Akmal; Betha Candra Sari; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.228

Abstract

Latar belakang: Adverse events (AEs) menjadi hal yang sangat substantial di rumah sakit. Salah satu rekomendasi untuk menurunkan angka adverse events adalah dengan mengimplementasikan budaya keselamatan pasien (patient safety culture). Banyak kejadian medical error yang diakibatkan komunikasi dan koordinasi antar tenaga kesehatan profesional yang kurang baik. Kolaborasi dokter-perawat sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien, serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Budaya keselamatan pasien dan kolaborasi interprofesi antara dokter dan perawat masih menjadi permasalahan di rumah sakit. Jenis profesi, lama masa kerja, dan pengalaman kerja, memiliki dampak terhadap persepsi kerjasama interprofesi dan keselamatan pasien. Tujuan: Menilai perbedaan persepsi kolaborasi dokter-perawat dan budaya keselamatan pasien berdasarkan profesi, masa kerja, dan antar rumah sakit serta mengukur hubungan antara persepsi kolaborasi dokter-perawat dengan budaya keselamatan pasien. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional survei yang dilakukan di tiga rumah sakit di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Populasi penelitian adalah dokter dan perawat di rumah sakit, dengan besar sampel 281 yang diambil secara stratified random sampling. Instrumen menggunakan kuesioner Jefferson Scale of Attitudes Toward Physician-Nurse Collaboration dan Hospital Survey on Patient Safety Culture HSOPSC 2.0 dari AHRQ versi Bahasa Indonesia. Analisis data dengan analisis univariat untuk mendeskripsikan persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, dan analisis bivariat untuk menilai perbedaan rerata menggunakan uji Mann Whitney dan Kruskal Wallis serta menilai korelasi dengan uji Spearman. Hasil: Perawat memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding dokter (p<0,05). Masa kerja ≥11 tahun juga memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding ≤11 tahun (p<0,05). Pada dimensi budaya keselamatan pasien, nilai terendah dan membutuhkan perbaikan di ketiga RS terdapat pada dimensi Pengelolaan staf dan ritme kerja, Respon terhadap kesalahan yang terjadi, dan Melaporkan insiden keselamatan pasien. RS A (RS pemerintah) memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding RS B dan C (RS Swasta) (p<0,05). Terdapat hubungan antara kolaborasi interprofesi dokter-perawat dengan budaya keselamatan pasien (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat perbedaan persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien menurut profesi, masa kerja dan Rumah Sakit. Kolaborasi interprofesi antara dokter dan perawat berdampak positif pada budaya keselamatan pasien. Rumah Sakit di Kabupaten Kudus perlu meningkatkan budaya keselamatan pasien, dengan dukungan manajemen rumah sakit untuk pengembangan kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien secara berkelanjutan. Kata Kunci: Kolaborasi Interprofesional, Budaya Keselamatan Pasien, Rumah Sakit
Exploring the factor explaining the continuity of hospital accreditation standard adoption in Indonesia Viera Wardhani; Sutoto; Tjahjono Kuntjoro; Adi Utarini
The Journal of Hospital Accreditation Vol. 5 No. 02 (2023)
Publisher : Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35727/jha.v5i02.258

Abstract

Background: Hospital accreditation has been widely adopted to stimulate continuous quality improvement. Hence, understanding the factors that determine hospital capability to continuously maintain its accreditation status is critical.. Objective: This study aimed to explore the continuity of hospital accreditation status and its association with hospital characteristics and geographical disparities Methods: A three-year cohort of accredited hospitals in the year 2012-2014 was used. Hospital accreditation status, reaccreditation status at three years post accreditation (2015-2017) and their timeliness and improvement of accreditation status were recorded from the hospital accreditation report managed by the Indonesian Commission on Accreditation of Hospitals. Cross-tabulation of the outcome variables with hospitals characteristics (classification, ownership, specialty) and geographical area was performed, followed by a multiple logistic regression analysis to investigate determinants of the reaccreditation Results: Of the 461 hospitals accredited in the year 2012-2014, only 73% undertook the reaccreditation survey. At reaccreditation, 27% of the hospitals were reaccredited timely and 65% showed improved accreditation status. Higher hospital class, general hospitals, public hospitals, and their location in Java-Bali islands tended to have higher proportion of timely accreditation and improved accreditation status at reaccreditation. The logistic regression analysis confirmed that hospital class and those located in Java-Bali were significant determinants for continuity of hospital accreditation status. Conclusions: The low proportion of hospitals with continuous accreditation status within three years reaccreditation cycle is influenced by the hospital classification and provincial gap. This study suggested a step-wise quality regulation strategy focusing on developing a continuous quality improvement culture.