cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011" : 5 Documents clear
Karakterologi dan Identitas Nasional: Membangun Perdamaian Melalui Pendidikan Karakter Bangsa' Dr. Yasraf Amir Piliang MA
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.121

Abstract

Hanya dalam kondisi damai, Bangsa Indonesia dapat membangun masyarakat, ekonomi, politik dan budaya yang kuat. Namun, kondisi damai dapat tercipta bila terbentuk karakter bangsa. Karenanya, pendidikan karakter bangsa menjadi penting artinya dalam rangka membangun ruang-ruang pergaulan konstruktif di antara anak bangsa yang dilandasi oleh prinsip kebersamaan saling penghargaan dan kesatuan. Dalam keanekaragaman, perdamaian hanya bisa dibangun bila berhasil dirumuskan identitas dan karakter bangsa. Akan tetapi, karakter bangsa merupakan sesuatu yang harus dirumus ulang secara terus menerus di dalam konstruksi perubahan zaman. Karakter bangsa harus bergerak ke dua arah, yaitu ke arah masa lalu, dengan menggali dan mempertahankan nilai fundamental (baca: tradisi) dan ke masa depan, dengan membuka diri terhadap nilai-nilai fundamental. Karakter bangsa juga harus dibangun dengan semangat multikulturaisme, yaitu spirit penghargaan, empati, dialogisme, negoisasi dan pertukaran aktif di antara elemen-elemen budaya yang plural. Karakter bangsa ditentukan pula oleh pemerintahnya dan karakter para pemimpinnya-meninggalkan jejak-jejak pada karakter bangsa beberapa generasi berikutnya.
Pendidikan Toleransi Bagian dari Karakter Bangsa Paulus Wiratama
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.131

Abstract

Pancasila diformulasikan untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang memang secara historis dan geografis terdiri dari beberapa agama, keyakinan bahkan ribuan etnis. Karena itu, ketika bangsa ini mulai tak takdir terhadap perbedaan, kunci paling penting untuk menanamkan toleransi adalah menghargai oranglain, konsep yang sudah ada dalam Pancasila. Dalam konsep ini, semua orang Memiliki hak dan kewajiban yang sama. Setiap warga negara harus dihargai dan dihormati termasuk ketika terhadap perbedaan yang memang sudah ada dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak dulu. Pancasila yang merupakan elaborasi alias penggarapan secara cermat nilai-nilai kebijakan lokal etika dan agama yang berlaku universal dan sangat khas Indonesia, hanya bisa diterapkan mulai pendidikan sejak dini, dalam keluarga sampai ke ruang-ruang kelas.Pancasila dan Pendidikan Karakter Bangsa merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan karakter bangsa menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olahraga, seni serta keterampilan).
Pendidikan Karakter, untuk Indonesia Yang Lebih Baik Yanuar Jatnika
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.132

Abstract

Permasalahan mendasar bagi pendidikan ialah bagaimana menyiapkan generasi yang cerdas dan memiliki karakter yang kuat untuk membangun bangsanya ke arah yang lebih baik. Untuk itu, maka pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk menghadapi masa depan yang penuh kompetisi.Pendidikan karakter harus dilakukan oleh segenap masyarakat, mulai dari orang tua di rumah, masyarakat, organisasi kemasyarakatan dan politik, dan juga pemerintah. Bagi orang tua, pendidikan karakter bagi anaknya dimulai saat sepanjang suami istri berhubungan untuk berniat memiliki anak. Saat itulah, semua ajaran agama menganjurkan agar suami istri tersebut memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Mahaesa agar diberikan anak yang Sholeh, beriman, bertaqwa, cerdas, bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara. Itulah pendidikan karakter yang pertama diterima seorang anak manusia.Pendidikan karakter berikutnya adalah saat seorang anak bergaul dengan anggota keluarga, masyarakat dan sekolah. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadaapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sekolah pada umumnya tidak memberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja, sehingga ada survey yang mengatakan, rata-rata setelah sekolah, seorang anak perlu 5-7 tahun untuk beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter tidak hanya membentuk manusia yang bermoral baik, bertaqwa pada Tuhan, dan beretika baik, tapi juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sistematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia.
Pendidikan Karakter Bagi Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum (Studi Kasus di Kabupaten Kebumen, Kabupaten Grobogan, Kota Salatiga dan Kabupaten Klaten) Siany I Listyasari,
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.133

Abstract

Persoalan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) tidak pernah selesai, bahkan jumlah ABH terus meningkat. Persoalan lainnya yang lebih penting, seorang anak berada di bawah tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan negara. Masuknya seorang anak ke dalam lembaga permasyarakatan kerap membuat si anak belajar tindak kriminal sehingga saat dewasa, bukannya kembali ke masyarakat, ABH menjadi residivis.Mereka menghadapi proses persidangan dan dimasukan dalam penjara. Hal ini mempengaruhi kondisi kejiwaan anak karena mereka dipaksa berhadapan dengan realitas hukum berupa penjara yang sarat dengan unsur kekerasan dan jauh dari keluarga. Padahal anak haruslah mendapatkan perlindungan dan pembinaan yang mempu menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik mental maupun sosialnya. Undang-Undang Nommor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak yang bertujuan melindungi anak-anak dan membina ABH agar kembali menjalani hidup normal, dalam penerapannya belum maksimal.Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan model restorative justice, penyediaan Lapas anak dan pengadilan ramah anak. Namun dalam praktek di lapangan, Lapas yang menampung ABH kurang memperhatikan kebutuhan khusus yang harus diberikan kepada ABH sehingga mereka tidak bisa hidup seperti anak pada umumnya. Agar ABH memiliki masa depan dan kembali melayani hidup normal, maka perlu ada upaya-upaya untuk melakukan pendidikan karakter yang dilakukan melalui pendekatan informal di keluarga dan lingkungan sekitarnya, serta secara non formal melaui lembaga/organisasi kemasyarakatan. Untuk itu anak yang berhadapan dengan hukum perlu ditumbuhkan semangat untuk meyakini bahwa manusia dapat berubah menuju keadaan yang lebih baik dan untuk itu perlu dilakukan modifikasi lingkungan, pemberian informasi dan modifikasi emosional.
Pertisipasi Perempuan Dalam Rehabilitasi Lahan Ismi Dwi Astuti Nurhaeni
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.134

Abstract

Partisipasi perempuan dalam pengelolaan lingkungan hidup masih sangat terbatas, termasuk dalam rehabilitasi hutan, karma adanya anggapan balnaa permasalahan lingkungan hidup merupakan tangggungjawab laki-laki. Keterlibatan perempuan masih sebatas pada kegiatan teknis operasional dan belum sampai pada tataran strategis. sampai saat ini belum terdapat kelompok khusus perempuan yang menangani masalah rehabilitas hutan dan lahan. Rendahnya partisipasi perempuan dalam rehabilitasi lahan mengakibatkan perempuan tidak mempunyai posisi tawar dalam berhadapan dengan pihak pemerintahan dan swasta serta tidak bisa melakukan kontrol terbadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan merugikan mereka. Untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas kaum perempuan dalam rehabilitasi hutan dan lahan perlu adanya peningkatan kapasitas dan kapabilitas perempuan melalui proses belajar yang terus menerus. Selain itu juga perlu dibangun solidaritas antar perempuan agar dapat tumbuh bersama-sama menjadi kelompok yang kuat dan solid. Di samping itu juga perlu dibangun opini publik tentang persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan pinggir hutan agar suara mereka terdengar oleh pejabat pemerintah. Pentingnya membangun opini pubik merupakan salah satu komponen dari pemberdyaan perempuan. Untuk menghadapi berbagai persoalan kebijakan, ada baiknya perempuan yang tinggal di desa hutan atau di pinggir hutan diberikan pendidikan politik. Yang tak kalah penting, perempuan perlu diberdayakan secara ekonomi agar terlepas dari persoalan kemiskinan dan dapat hidup mandiri.

Page 1 of 1 | Total Record : 5