cover
Contact Name
Anang Setyo Budi
Contact Email
zooindonesia@gmail.com
Phone
+6282233362977
Journal Mail Official
zooindonesia@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Jalan Raya Jakarta-Bogor KM 46 Cibinong, Bogor, Jawa Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Zoo Indonesia
ISSN : 0215191x     EISSN : 25278703     DOI : -
Zoo Indonesia adalah sebuah jurnal ilmiah dibidang fauna tropika yang diterbitkan oleh organisasi profesi keilmiahan Masyarakat Zoologi Indonesia (MZI) sejak tahun 1983. Terbit satu tahun satu volume dengan dua nomor (Juli dan Desember). Memuat tulisan hasil penelitian yang berhubungan dengan aspek fauna, khususnya wilayah Indonesia dan Asia. Publikasi ilmiah lain adalah Monografi.
Articles 264 Documents
Keanekaragaman dan potensi musuh alami dari kumbang Elaeidobius kamerunicus Faust (Coleoptera: Curculionidae) di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur Erniwati Erniwati; Sih Kahono
ZOO INDONESIA Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v21i2.343

Abstract

Elaeidobius kamerunicus (kumbang sawit) adalah penyerbuk utama dari bunga kelapa sawit. Kondisi populasi kumbang sawit dalam suatu lingkungan perkebunan kelapa sawit sangat menentukan tingkat keberhasilan dari produksi buah. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi populasi kumbang sawit, selain dari faktor internal, juga dari varietas tanaman, pola cocok tanam, pemupukan, dan pengendalian hama terpadu serta kondisi lingkungan fisik dan biotik. Lingkungan fisik salah satunya adalah iklim, sedangkan lingkungan biotik adalah musuh alami yaitu predator dan parasitoid. Penelitian tentang peran lingkungan biotik terhadap populasi kumbang sawit dilakukan pada musim hujan dan musim kemarau di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Ditemukan sebanyak 7 jenis predator yang terdiri dari: 2 jenis burung, 5 jenis serangga (semut Odontoponera denticulata (Formicidae), cecopet Chelisoches morio (Chelisochidae), kepik Velinus nigrigenu (Reduviidae), dan tawon Vespa affinis, V. bellicosa (Vespidae)). Sebanyak 10 jenis tawon parasitoid juga ditemukan (Evaniidae 1 jenis, Braconidae 2, Scelionidae 2, Eulophidae 2, Chalcididae 1, Mymaridae 1, dan Ormyridae 1). Namun, potensi sebagai musuh alami penyerbuk kelapa sawit masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Dipertelakan ekologi perilaku dari setiap jenis musuh alam dari kumbang sawit sehingga diketahui tingkat potensinya sebagai pengontrol populasi kumbang sawit.
Identifikasi Molekuler Microhyla, Tschudi 1839 dari Sumatera Berdasarkan Gen 16S rRNA Tengku Gilang Pradana; Amir Hamidy; Achmad Farajallah; Eric N. Smith
ZOO INDONESIA Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v26i2.3717

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi posisi jenis Microhyla dari Sumatra berdasarkan sekuen data dari gen 16S rRNA di dalam pohon filogeni Microhyla secara umum. Pohon filogeni dihasilkan dengan menggunakan analisis Unweighted Pair Group Method with Aritmatic Means (UPGMA), Neighbor Joining (NJ), Maximum Likelihood (ML) dan Bayesian Inference (BI). Kami menggunakan Phrynella pulchra, Kaloula pulchra, Kalophrynus pleurostigma, Chalcorana chal-conota, dan Leptobrachium waysepuntiense sebagai anggota outgroup. Hasil pohon filogeni menunjukkan bahwa Micro-hyla terdiri dari sembilan kelompok utama, enam diantaranya merupakan Microhyla dari Sumatra. Microhyla dari Su-matra mengelompok dengan M. achatina, kelompok M. heymonsi, kelompok M. fissipes, kelompok M. palmipes, kelompok M. berdmorei dan kelompok M. superciliaris. Beberapa kelompok memiliki jarak genetik yang besar seperti pada M. achatina (3,1−3,4%), M. heymonsi (3,3−7,1%) dan M. palmipes (2,5−3,4%). Microhyla fissipes membentuk parafiletik dengan M. mukhlesuri, kemungkinan termasuk kedalam complex atau cryptic spesies. Hal ini membutuhkan kajian lebih lanjut secara morfologi dan suara guna menentukan status taksonomi dari masing masing populasi di dalam jenis-jenis tersebut.
KAJIAN ILMIAH IKAN GAR, FAMILI LEPISOSTEIDAE (Lepisosteus spp. & Atractosteus spp.): SPESIES ANCAMAN BAGI IKAN ASLI INDONESIA Renny Kurnia Hadiaty
ZOO INDONESIA Vol 16, No 2 (2007): November 2007
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v16i2.117

Abstract

Hadiaty, R.K. 2007. Scientific review of Gars, Family Lepisosteidae (Lepisosteusspp. & Atractosteus spp.): threat species for native Indonesian fish . ZooIndonesia 16 (2): 87-96. Indonesia is known as one of the countries with high fishdiversity. There are a lot of unexplore area which possibly have some undescribespecies. Damaging environment, poisoning and introduce species are very dangerousfor the sustainability of the native fish species in Indonesia. Gars are the alientpredator fish which prohibited to enter Indonesian waters since 1982, but the factsthere are many breeders of this species. This review paper is to discus the description,taxonomical history and the biology of gars. The aim of this paper is to build theawareness on the dangerous and destructive of this fish for Indonesian native species
DIMORFISME SEKSUAL PADA KEONG GONDANG PILA AMPULLACEA (LINNAEUS, 1758) Ristiyanti M Marwoto; M Djajasasmita
ZOO INDONESIA No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i24.2425

Abstract

Abstrak
STRUKTUR KOMUNITAS EKHINODERMATA (HOLOTHUROIDEA, ECHINOIDEA DAN OPHIUROIDEA) DI DAERAH PADANG LAMUN DI PANTAI GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA Eddy Yusron
ZOO INDONESIA Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i2.2334

Abstract

Penelitian ekhinodermata di perairan pantai Gunung Kidul dilakukan pada bulan Maret 2012 di lima lokasi yaitu : Pantai Kukup, Pantai Krakal, Pantai Drini, Pantai Sepanjang dan Pantai Sundak. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi struktur komunitas ekhinodermata di perairan pantai Gunung Kidul. Pengambilan contoh biota dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat ukuran 1m x 1m. Dari hasil penelitian diperoleh 12 jenis fauna ekhinodermata yang mewakili empat jenis Holothuroidea, empat jenis Echinoidea, dan empat jenis Ophiuroidea. Kelompok bintang mengular atau Ophiuroidea merupakan kelompok yang paling menonjol untuk daerah karang mati. Berdasarkan hasil transek yang dilakukan di lima lokasi yang diamati, ternyata bahwa kelompok bulu babi (Echinoidea) menempati tingkat kekayaan jenis relatif tinggi. Dari analisa kuantitatif diperoleh nilai indeks keanekaragaman dan indeks kemerataan tertinggi ditemukan di Pantai Kukup (H = 0,996; J = 0,896) dan nilai indeks kekayaan jenis tertinggi didapatkan pada Pantai Sundak (D = 0,185). Terlihat umumnya kelompok biota menyukai mikrohabitat lamun (10 jenis), tujuh jenis menempati mikrohabitat pasir dan lima jenis menempati mikrohabitat karang mati. Analisis hierarki dilakukan untuk mengetahui pola pengelompokan jenis di setiap lokasi disarikan pada indeks kemiripan.
DAILY ACTIVITY OF JUVENILE JAVAN GIBBON (Hylobates moloch AUDEBERT 1798) IN GUNUNG HALIMUN SALAK NATIONAL PARK Ivanna Febrissa; Dones Rinaldi
ZOO INDONESIA Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v29i1.3979

Abstract

Javan gibbon (Hylobates moloch) is one of endemic primates in Java Island, which listed as endangered and facing the high risk of extinction. Conservation efforts need to be taken immediately in regard to the decrease of this species population. One of aspects that support conservation effort is data on daily activity of this species. The aim of this study was to determine the daily activities of Javan gibbon juvenile at Citalahab Forest Gunung Halimun Salak National Park. We used focal sampling method to collect behavioral data and recording the activity of each individual Javan gibbon by continuous recording. Average time the daily activities of the three groups is 9 hours 56 minutes. Percentage of daily activity from the highest to the lowest is the resting (36.21%), feeding (33.33%), moving (23.05%), socializing (4.94%) and undetected (2.47%). Mostly social activities that do by javan gibbon is play with most frequently performed is wrestling. Javan gibbon in Cikaniki – Citalahab used 11 species as food resource. There are four types of trees used as sleeping tree over the research. The dominant tree strata for sleeping tree is strata A (over 30 m).
Biodiversitas fauna ekhinodermata (Holothuroidea, Echinoidea, Asteroidea dan Ophiuroidea) di perairan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat Eddy Yusron
ZOO INDONESIA Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v22i1.315

Abstract

Penelitian Ekhinodermata di perairan Lombok telah dilakukan pada bulan Juli 2010 di tiga lokasi yaitu: Tanjung Kayangan, Medana dan Penyabuan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi kehadiran ekhinodermata di perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pengambilan contoh biota dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat ukuran 1m x 1m. Dari hasil penelitian di peroleh 16 jenis fauna ekhinodermata yang mewakili empat jenis Holothuroidea, lima jenis Echinoidea, tiga jenis Asteroidea dan empat jenis Ophiuroidea. Kelompok bulu babi atau Echinoidea merupakan kelompok yang paling menonjol untuk daerah lamun. Berdasarkan hasil transek yang dilakukan di empat lokasi yang diamati, ternyata bahwa kelompok bulu babi (Echinoidea) menempati tingkat kekayaan jenis relatif tinggi. Dari analisa kuantitatif diperoleh nilai indeks diversitas tertinggi ditemukan di lokasi Medana (H = 1,02), nilai indeks kemerataan tertinggi terdapat pada lokasi Penyabuan (J = 0,99) dan nilai indeks kekayaan jenis tertinggi didapatkan pada Penyabuan (D = 0,21). Secara umum baik dalam jumlah jenis ataupun jumlah individu, fauna Ekhinodermata di perairan Lombok, Nusa Tenggara Barat lebih miskin bila dibandingkan dengan di perairan Derawan, Kalimatan Timur.
Zoo Indonesia Desember 2016 Zoo Indonesia
ZOO INDONESIA Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v25i2.3363

Abstract

TINGKAT PERKEMBANGAN TELUR PADA TABANUS RUBIDUS (DIPTERA : TABANIDAE) DARI LAPANGAN Sri Hartini; Janita Aziz
ZOO INDONESIA No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v9i9.2406

Abstract

Abstrak
BIODIVERSITAS IKAN DI KAWASAN REHABILITASI BAKAU PAOJEPE, KABUPATEN WAJO, SULAWESI SELATAN Haryono Haryono
ZOO INDONESIA No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i28.2369

Abstract

A study

Filter by Year

1983 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue