cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol. 25 No. 24 (2015)" : 22 Documents clear
Kristiani Purba Indonesia (Pancur – Barus) Edison R.L. Tinambunan
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat Ratus Lima Puluh Tahun Gereja Katolik Indonesia (1534- 1984), inilah judul Buku Acara Perayaan yang dilaksanakan secara besar- besaran di Jakarta dari 8—12 Juli 1984 yang diakhiri dengan perayaan ekaristi di Stadion Senayan.1 Di setiap keuskupan di Indonesia merayakan peringatan yang sama dengan caranya masing-masing.2 Alasan yang diberikan oleh Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI)3 adalah karena sejak tahun 1534, Gereja hadir secara tidak terputus di bumi Nusantara, yang diambil dari buku tulisan Mgr. B. Visser, MSC, dengan judul “Onder Portugeesche Vlag” yang menceritakan seorang saudagar Portugis bernama Gonsales Veloso yang menetap di Moro, Halmahera Utara. Dengan bantuan pemerintah Portugis, dia mem- permandikan raja Mamoya, kampung utama di pulau Moro. Bersamaan dengan raja, juga dipermandikan para pengikutnya.4
Panorama Gereja Katolik Indonesia [1] Menyimak Kontribusi Muskens Dan Steenbrink FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melukiskan panorama sejarah Gereja Katolik Indonesia dalam beberapa halaman dapat terjebak dalam “ketidakadilan”, karena begitu luas rentangan waktu dan cakupan aneka peristiwanya. Karena itu, saya mengajukan terlebih dahulu dua kontribusi dari dua penulis buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia (SGKI), Martinus Muskens (seorang imam diosesan) dan Karel Steenbrink (seorang awam Katolik). Muskens berasal dari tahun-tahun tujuhpuluhan; sementara Steenbrink berasal dari kurun saat ini. Dua kontribusi penulis ini saya pandang representatif untuk maksud agar kita mengerti perspektif sekaligus “pesona” perjalanan panoramik Gereja Katolik Indonesia. Dari kedua penulis kita belajar bahwa penulisan sejarah meminta keketatan dan keakuratan riset sumber-sumber (asli) sekaligus pentingnya perspektif yang benar. Misi Katolik di Hindia Belanda Timur (Indonesia) dihidupkan kembali sejak tahun 1808 dengan susah payah1, sebab selama kurun dua ratus tahun sejak tahun 16022, Gereja Katolik telah dihancurkan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Nyaris tidak ada lagi kegiatan misi Gereja Katolik di tahun-tahun itu. Pusat-pusat Katolik peninggalan Portugis telah dipadamkan oleh VOC atau kaum Protestan (imbas suasana perang agama di Eropa). Orang-orang Katolik “diregristrasi” ke dalam komunitas- komunitas Protestan.
Panorama Gereja Katolik Indonesia [2]: Pendudukan Jepang Dan Pemulihannya (Konteks Misi Surabaya) FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Panorama sejarah Gereja Katolik di Indonesia dalam ruang yang terbatas pasti tak mungkin menjangkau secara adil seluruh momen perjalanannya. Pilihan periode pendudukan Jepang dan pemulihannya menjadi aksentuasi tulisan ini. Tetapi, beberapa panorama tahun-tahun sebelum periode pendudukan Jepang kiranya perlu disimak sepintas1, agar posisi aksentuasi tulisan ini (Sejarah Gereja Katolik periode hancurnya karya misi konteks Misi Surabaya) dapat lebih dimengerti. Konteks misi Surabaya dipilih karena alasan praktis, i.e., selama ini menjadi tema wilayah riset penulis hampir lima belasan tahun.
St. Maria Ratu Rosario Sebagai Bintang Misi - Evangelisasi Di Nusa Tenggara Kristoforus Bala
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya keselamatan tidak bisa dipisahkan dari inisiatif Allah Tritunggal dan jawaban “ya” St. Maria terhadap tawaran Allah. Kabar Gembira (euangelion) yang diwahyukan Allah kepada umat manusia selama berabad- abad melalui para nabi telah mencapai pemenuhannya dalam diri Yesus. Oleh kuasa Roh Kudus, Sabda Allah menjadi manusia. Dia dikandung dan dilahirkan oleh St. Perawan Maria. Dia membesarkan dan menyertai Yesus dalam karya misiNya sampai Dia wafat pada salib. St. Maria layak disebut adalah tokoh evangelisasi pertama karena dia yang menghadirkan dan mewartakan Yesus, Sang Sabda ke dalam dunia. Setelah kematian Yesus, St. Maria hidup bersama para Rasul dan berdoa bersama Gereja Perdana menantikan pencurahan Roh Kudus. Maria menyertai Gereja Perdana dan menyaksikan dimulainya karya misi-evangelisasi ke seluruh dunia. Karena itu Paus Paulus VI1 dan Paus Fransiskus 2 menyebut St. Maria Bintang Evangelisasi. Paus Yohanes Paulus II juga mengatakan bahwa sejak dikandung tanpa noda dosa, St. Maria adalah “Stella Matutina”3 (Bintang Fajar atau Bintang Timur) yang selalu terbit mendahului terbitnya matahari. Maria lebih dahulu mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus dalam sejarah umat manusia dan terus menyertai Gereja Puteranya.
Umat Terpilih Hidup Dari Belaskasih Dan Kegembiraan Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema besar hari studi ke-40 STFT Widya Sasana ini adalah “Menjadi Gereja Indonesia yang Gembira dan Berbelaskasih: Dulu, Kini dan Esok”. Dalam sesi ini kita diajak untuk melihat dialektika Gereja dan kebudayaan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (aspek eklesiologi PL), sebagai inspirasi untuk membaca dinamika hidup Gereja paska Vatikan II.1 Menanggapi tema ini, seorang pasien di sebuah rumah sakit menulis catatan kepada saya: “Orang akan berbelaskasih jika Allah ada di dalam hatinya. Belaskasih seseorang hanya dapat dikenali dari tindakannya. Kalau Gereja mau berbelaskasih maka harus ditunjukkan dalam tindakannya, tindakan klerus dan tindakan awam. Dengan tindakan konkret, para klerus mengorbankan diri menjadi sarana penyalur berkat rohani dan jasmani bagi siapa saja yang membutuhkan; awam mengorbankan dana, tenaga, talenta dan apa saja yang dibutuhkan sesamanya. Hanya lewat tindakan konkret itu, baru boleh dikatakan ada belaskasih. Makna belaskasih Gereja menjadi nyata bila ada tindakan konkret untuk menciptakan suasana damai dan solidaritas antar umat manusia.”
Mewartakan Injil Dengan Gembira Dan Berbelas Kasih Belajar Dari Gereja Para Rasul Didik Bagiyowinadi
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam anjuran apostolik Evangelii Gaudium Paus Fransiskus mendorong Gereja agar lebih berani dan berkomitmen untuk keluar menjumpai yang menjauh dan menyambut yang tersingkir (EG 14). Beliau tegaskan “Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena keluar di jalan-jalan daripada Gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri” (EG 49). Maka Gereja diajak sungguh-sungguh membagikan kabar gembira Injil dengan penuh sukacita. Sementara dalam bula Misericordiae Vultus untuk menyambut Tahun Yubileum Kerahiman sebagai kenangan 50 tahun penutupan Konsili Vatikan II yang akan dimulai pada Hari Raya Maria Immakulata, 8 Desember 2015, Paus Fransiskus menekankan sifat belas kasih Allah yang terpancar dalam diri Yesus. Maka para pengikut Kristus pun diundang untuk menjadi saksi belas kasih Allah, “Hendaklah kamu berbelas kasih (oiktirmones), sama seperti Bapamu adalah berbelas kasih (oiktirmôn)” (Luk 6:36). Sebagai- mana orang Samaria yang tergerak hati oleh belas kasihan (splagkhnizomai, Luk 10:33),1 kita diajak untuk menyembuhkan mereka yang terluka dengan siraman minyak penghiburan, membalutnya dengan belas kasih dan mengobatinya dengan solidaritas dan merawatnya dengan penuh kesiagaan. Selama tahun Kerahiman ini kita diajak untuk merefleksikan dan mengembangkan karya-karya belas kasih yang membantu kebutuhan sesama baik dalam bidang jasmani maupun rohani.
Israel Bercerita Tentang Masa Lampaunya Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tema hari studi ini ialah tentang Gereja Katolik Indonesia, masa lalu, sekarang dan masa depan. Kita mau menengok ke masa lampau, merenungkan yang sekarang ini dan mau menatap ke depan. Tiga dimensi waktu ini merupakan hal yang tidak terpisahkan satu sama lain dan memang demikian. Hidup manusia itu punya masa lalu sebagai akarnya, masa sekarang sebagai waktu yang sedang dihayati dan masa depan sebagai arah. Tema ini menarik dan saya mau mendekatinya dari sudut Perjanjian Lama. Perjanjian Lama sendiri mempunyai ciri-ciri seperti itu yakni menengok ke masa lampau, merefleksikan kehidupan yang sekarang ini dan menatap ke masa depan. Itulah pembagian pokok dari Perjanjian Lama yang terdiri atas Pentateukh dan Kitab-Kitab Sejarah (lampau), Kitab-kitab Kebijaksanaan dan Nyanyian (sekarang) dan Kitab-kitab Para Nabi (masa depan). Perjanjian Lama adalah bagian yang hakiki dari Kitab Suci kita. Teologi tentang Gereja Katolik Indonesia (lampau, sekarang dan masa depan) tidak dapat mengabaikan Perjanjian Lama sebagai sumber ilhamnya, karena Perjanjian Lama selalu digunakan Gereja dalam Liturginya. Perjanjian Lama harus menjadi jiwa dari teologi. Persoalannya ialah apakah Perjanjian Lama dapat menolong kita untuk merefleksikan tema ini dan melihatnya dengan lebih jelas? Bagaimana kita harus kembali ke masa lalu Gereja Katolik Indonesia sebagai orang beriman? Apakah Perjanjian Lama dapat menjadi ilham bagi kita untuk berteologi? Menurut 2 Tim 3:16, “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Marilah sekarang kita melihat apa yang dilihat Israel dari masa lalunya, mengapa dan bagaimana dia melihatnya.
Berdoa Bagi Gereja Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di mana tempat doa dalam pembangunan Gereja masa depan yang gembira dan berbelaskasihan? Apa yang dapat dilakukan doa? Apakah berdoa bagi Gereja itu penting? Menurut hemat saya bukan saja penting, melainkan amat mendasar. Hal ini sudah menjadi keyakinan para nabi Perjanjian Lama dalam doa mereka bagi keselamatan Israel dan selalu diteruskan dalam perjalanan sejarah. Tulisan ini mau menunjukkan hal tersebut. Tanpa doa Gereja masa depan tidak bisa dibangun. Hal ini sudah diyakini oleh para rasul (bdk Kis 6:2-4). Injil selalu menekankan hal yang kelihatannya tidak berarti, yang kecil dalam pandangan manusia. Doa termasuk salah satunya. Untuk itu kita perlu mendalami persoalan ini.
Gereja Dalam Pusaran Ideologi Global: Sebuah Diagnosis Dan Prognosis Seturut Evangelii Gaudium Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi massa menafikan kebudayaan dan pengetahuan. Tidak ada persoalan tentang realitas simbolis atau proses didaktif yang berperanserta, karena hal itu akan mengkompromikan partisipasi kolektif yang menjadi makna perayaan, suatu partisipasi yang bisa dijalani melalui sebuah liturgi semata, kode resmi tanda-tanda yang secara teliti telah mengosongkan muatan makna.1
Menghadirkan Wajah Gereja Berparas Kemanusiaan: Potret Gereja Menjadi Pius Pandor
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran agama (Gereja Katolik) memainkan salah satu peran kunci untuk ikut merasa dan terlibat dalam “duka dan kecemasan, harapan dan kegembiraan” dunia dan masyarakat. Namun kehadirannya berwajah ganda seperti wajah dewa Janus dari mitologi Romawi kuno yang darinyalah kata Januari berasal. “Satu sisi melihat ke masa depan, siap menyongsong yang tak terduga dan yang sedang datang tetapi di sisi lain memandang ke belakang yaitu ke masa lalu, seakan tak mau meninggalkan yang silam.”2 Persis seperti bulan Januari kita sadar bahwa hari-hari baru sudah tiba, tapi kenangan pada yang silam tetap enggan beranjak. Seperti dewa Janus itu pula wajah gereja dalam dunia dan masyarakat dewasa ini. Pada satu sisi dalam gambaran ideal, Gereja menampilkan sinar pembebasannya, karena ia merupakan tempat di mana orang menemukan kedamaian, kedalaman hidup, harapan yang kokoh, dan kehidupan yang dipenuhi semangat kasih dan kerendahan hati. Namun di sisi lain, dalam wajah aktualnya, struktur dan regulasi Gereja, seringkali dipakai untuk melakukan diskriminasi, sarang korupsi, dan dijadikan sebagai justifikasi untuk melanggengkan status quo. Kita sendiri menyaksikan dan sejarah mencatat betapa besar andil agama (Gereja Katolik) dalam membakar kebencian, menimbulkan skandal, meniupkan kecurigaan, membangkitkan salah pengertian dan mengundang konflik.

Page 1 of 3 | Total Record : 22