cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 287 Documents
Misi Pasionis di Indonesia Dalam Terang Misi Propaganda Fide Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.181

Abstract

Karya misi keselamatan oleh Gereja Katolik di seluruh dunia merupakan kelanjutan dari karya misi penyelamatan dan penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, lalu diteruskan para rasul dan para muridNya. Sejalan dengan upaya konsolidasi dan koordinasi untuk semua aktivitas misi Gereja baik dari sudut doktrinal, organisasi dan karya karitatif maupun karya pewartaan dan pengajaran, maka didirikanlah sebuah lembaga oleh Paus Gregorius XV, yaitu Sacra Congregatio de Propaganda Fide – SCDF atau Propaganda Fide tgl 22 Juni 1622. Propaganda Fide tiada lain adalah departemen atau dikasteri yang bertugas untuk mewartakan doktrin iman Gereja Katolik Roma. Sejarah misi Kongregasi Pasionis (CP) atau Pasionis di Indonesia berada dalam konteks misi Propaganda Fide. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian tentang hal ini bersifat kualitatif dengan perspektif kajian historis atas bermacam dokumen yang tersedia.
Leadership for Mission to the World Sebastianus W. Buulolo, MTS
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.183

Abstract

Transformasi kepemimpinan di dalam Gereja diperlukan untuk mendialogkan Injil dengan konteks misi, seperti kemiskinan dan globalisasi. Transformasi kepemimpinan ini juga merupakan pilihan dalam menanggapi krisis moral dalam Gereja berkaitan dengan pelecehan seksual. Kontkes misi dan krisis moral ini telah berkontribusi pada kematian Gereja. Dengan menggunakan metode “see-judge-act,” artikel ini mengkaji kontribusi kepemimpinan di dalam karya misioner Gereja dengan mengkaji pemahaman dan implementasi kepemimpinan di dalam aktivitas misioner. Artikel ini berpendapat bahwa kepemimpinan buruk, baik dalam konsep dan prakteknya, di antara para pelayan pastoral merupakan virus bagi pertumbuhan Injil di hati umat; kepemimpinan semacam ini mungkin menghilangkan suara Gereja dalam mengubah dunia. Maka, artikel ini menggarisbawahi beberapa gagasan kepemimpinan berkaitan dengan karya pastoral untuk membantu para pelayan pastoral menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini.
Karya Misi Msf di Kalimantan Bagian Timur Strategi Misi Gereja Awal I Ketut Gegel
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.184

Abstract

Paham keselamatan pra Konsili Vat II dengan jargonnya “extra ecclesiam nulla salus” menjadi dorongan yang kuat bagi para misionaris untuk datang ke daerah misi mewartakan karya keselamatan Allah, tidak terkecuali bagi misionaris MSF yang datang ke daerah Kalimantan bagian Timur. Gereja mempunyai tanggungjawab untuk menyelamatkan manusia sebagai perwujudan dari amanat agung Tuhan Yesus: “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Mrk 16, 15-16a). Dalam arus pemikiran yang sama, Paus Leo XIII melalui ensikliknya Sancta Dei Civitas mendorong agar semakin banyak misionaris dikirm ke daerah misi. Tantangan direspon oleh MSF. Sebagai tarekat Rasuli berstatus Pontifical, MSF ikut bertanggungjawab dalam mewartakan kabar keselamatan agar semakin banyak orang diselamatkan dalam Kristus. Untuk memahami bagaimana MSF menjalankan misi itu, strategi apa saja yang digunakan dan siapa saja yang dilibatkan dalam karya misi tersebut sehingga “membuahkan” hasil yang menggembirakan dengan berdirinya 4 keuskupan: Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya dan Tanjung Selor, merupakan tujuan dari research ini. Untuk mencapai tujuan itu penulis menggunakan metodologi kualitatif. Sejumlah buku, khususnya Demarteau WJ. (1997). Mereka itu Datang dari Jauh dan Sinnema P. (1995). Sebiji Sesawi. Buku Kenangan MSF 100 tahun dan Karyanya di Kalimantan, 2 ensiklik yang berbicara tentang misi ad gentes: Sancta Dei Civitas dari Leo XIII dan Redemptoris Missio dari Johanes Paulus II dianalisa. Selain itu, sejumlah artikel terkait dipelajari, disintesakan dan pada akhirnya dinarasikan dalam research ini sehingga diperoleh suatu pemahaman yang lengkap tentang misi MSF di daerah Kalimantan bagian Timur. Hal ini sekaligus menjadi sumbangan dari reseach ini bagi peniliti lain yang hendak melakukan research lebih lanjut dalam bidang ini.
Spiritualitas: Sumber Kekuatan Bagi Hidup Dan Karya Misionaris Kristoforus Bala
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.185

Abstract

Pada hakekatnya spiritualitas adalah hidup yang terpusat dan berkar pada Allah Tritunggal. Allah adalah sumber dan tujuan seluruh hidup dan karya misi. Allah adalah Allah misioner. Allah Bapa mengutus Yesus dan Roh Kudus untuk menyelamatkan manusia dan dunia. Gereja atau para misionaris dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk mengambil bagian dalam misi Allah. Berakar dalam Allah Tritunggal adalah syarat utama untuk menghasilkan banyak buah dalam karya-karya misi. Spiritualitas misionaris ditumbuhkan dan dikuatkan melalui perayaan Ekaristi, meditasi Sabda Allah, doa dan kontemplasi, kesetiaan dalam kemartiran.
Konteks Historis Tujuh Gereja Dalam Kitab Wahyu 2-3 Gregorius Tri Wardoyo
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.186

Abstract

Artikel ini merupakan buah usaha penulis untuk menggali inspirasi dari tujuh Gereja dalam Kitab Wahyu bab 2 dan 3 bagi karya misi saat ini. Tantangan yang luar biasa dari ketujuh gereja sebagaimana diceritakan dalam surat Rasul Yohanes kepada para pengikut Kristus pada masa itu mendorong penulis untuk mendekati Why. 2-3 dari konteks historis. Dari penelusuran yang penulis lakukan ditemukan bahwa pemahaman yang baik mengenai konteks historis dari Kitab Wahyu membantu pembaca untuk mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para pengikut Kristus pada abad I M sekaligus menjawabi pertanyaan mengapa Kitab Wahyu ditulis dengan memakai bahasa-bahasa simbolis dan bersifat enigmatis sehingga kitab ini sulit untuk dimengerti.
Konteks Misi Katolik di Indonesia FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.187

Abstract

Artikel ini berfokus pada tonggak-tonggak sejarah misi dalam Gereja Katolik. Dengan metode historis-panoramik, penulis berusaha untuk mengajukan beberapa tonggak penting yang telah dilalui oleh para misionaris, sebagai salah satu bukti nyata penyebaran iman mereka, yang didorong oleh amanat Kristus untuk mewartakan Injil ke segala makhluk (Markus 16:15). Amanat ini terartikulasi dalam karya para rasul. Dari Kisah Para Rasul, kita ketahui ada beberapa pusat misi, dimana para Rasul mempersiapkan diri dengan pengajaran dan pembentukan komunitas. Diantaranya, yang paling jelas ialah Antiokhia. Paulus merupakan produk misionaris yang berasal dari “sekolah” Antiokhia. Semangat misi ini di kemudian hari diteruskan oleh Gereja Katolik hingga lahirlah Propaganda Fide (1622). Pendirian Propaganda Fide ini memiliki keterkaitan latar belakang cukup beragam. Yang barangkali harus dicatat bahwa tahun itu 1622 merupakan pasca-seratus tahun kurang satu dari Bulla Paus, Decet Romanum, yang menghukum dan mengekskomuniasi Martin Luther tahun 1521. Artinya, Protestantisme telah demikian menyebar ke banyak wilayah Eropa Utara. Tidak hanya itu, kaum Protestan juga telah mulai mengalahkan dan menggusur kekuasaan kolonial raja-raja Katolik di wilayah-wilayah baru, diantaranya di India dan Indonesia.
SVD Genius Dalam Karya Misi di Sunda Kecil Antonio Camnahas
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.188

Abstract

Setelah menerima wilayah misi Sunda Kecil dari Kongregasi Propaganda Fide tahun 1912, SVD bertekad untuk bekerja dengan sepenuh hati di wilayah misi ini. Kerja misi pun direncanakan dengan sebaik-baiknya. Namun dalam perjalanan, terjadilah Perang Dunia I yang mengubah seluruh rencana. Pertanyaan yang hendak diteliti adalah bagaimana SVD bisa survive dalam kesulitan karya misi yang terdampak perang? Metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan ini adalah metode kualitatif- induktif dan kualitatif deduktif lewat penelitian atas berbagai bahan arsip juga literatur yang mendukung tema yang diteliti. Pertanyaan di atas terjawab lewat ditemukannya berbagai usaha heroik yang dibuat oleh para misionaris SVD baik di tingkat lokal maupun di tingkat internasional. Usaha-usaha itu adalah kepiawaian menentukan langkah awal yang tepat sebelum memulai karya misi, usaha tanpa henti untuk mendatangkan tenaga misionaris ke Sunda Kecil di tengah kesulitan perang, membangun kerjasama dengan masyarakat pribumi dalam diri para katekis dalam karya misi, dan pengambilan keputusan yang tepat dan matang berkaitan dengan karya formasi para calon imam pribumi. Semua ini telah menjamin keberlangsungan karya misi SVD yang menghasilkan banyak buah baik di masa sekarang
Giat Gereja Kristus Tuhan (GKT) Mewartakan Injil Di Dalam Enam Periode Sejarahnya Di Indonesia Markus Dominggus
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.189

Abstract

Artikel ini berfokus pada usaha-usaha Gereja Kristus Tuhan (GKT) dalam melakukan pengabaran Injil di Indonesia, terlebih yang telah dilakukan oleh orang-orang Tionghoa Kristen, di tengah situasi politik saat itu. Dalam meneropong kegiatan pewartaan iman orang-orang Tionghoa Kristen tersebut, penulis mengikuti jalan pikiran sejumlah pengamat sejarah gereja di Indonesia dan Asia, yang berpendapat bahwa kegiatan pewartaan iman dipengaruhi oleh peran dan operasi kekuasaan negara terhadap Gereja dan orang Kristen serta faktor-faktor kebudayaan dari pewarta iman dan masyarakat di mana iman itu diberitakan. Oleh karena itu, artikel ini akan disajikan dengan mengikuti lima periode waktu kehidupan mereka di Indonesia selama ini, yaitu Periode Kolonial Belanda (1900-1942), Periode Pendudukan Jepang (1942-1945), Periode Revolusi Kemerdekaan (1945- 1949), Periode Orde Lama (1950-1965), Periode Orde Baru (1966-1998) dan Periode Pasca Reformasi (1998-kini). Studi ini menemukan bahwa, terlepas dari berbagai langkah yang diambilnya, orang-orang Tionghoa Kristen di GKT telah berusaha sebaik mungkin untuk memitigasi situasi dan dalam segala keadaan berjuang mewartakan Injil itu dengan sebaik-baiknya. Apakah situasi sosial dan politik yang diciptakan oleh berbagai kebijakan itu baik atau tidak baik baginya, mendatangkan kerugian atau keuntungan, orang-orang Tionghoa Kristen di GKT sadar betul bahwa Injil harus tetap diberitakan.
Mencermati Gereja Katolik Di Kepulauan Sunda Kecil Dalam Bingkai Propaganda Fide – Suatu Tinjauan Sosio-Historis Sermada Kelen Donatus
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.190

Abstract

Kepulauan Sunda Kecil dalam struktur pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dewasa ini meliputi Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Penulis mencermati situasi gereja Katolik di kawasan ini sebelum lahirnya Propaganda Fide 1622 hingga tahun 1949, ketika Belanda mengakui secara resmi kemerdekaan Indonesia. Beberapa fase historis kekuasaan asing membingkai situasi gereja katolik yang kekatolikannya dalam kurun waktu itu sudah dianuti juga oleh penduduk setempat. Fase-fase historis itu adalah fase kekuasaan Portugis; fase kekuasaan VOC Belanda yang dilanjutkan dengan kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda hingga tahun 1949 dengan disela oleh masa pendudukan Jepang. Di dalam fase-fase historis ini, orang-orang katolik hidup dan berkarya di bawah asuhan beberapa serikat religius.
Pengantar Singkat Injil Markus Henricus Pidyarto Gunawan
Seri Filsafat Teologi Vol. 32 No. 31 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v32i31.191

Abstract

Injil Markus adalah salah satu sumber bagi penulis Injil Sinoptik. Tulisan ini adalah pengantar singkat Injil Markus. Metode penelitian yang diaplikasikan adalah eksegese murni yang bersumber pada teks Kitab Suci, sehingga kepustakaan menjadi terbatas. Kerangka pembahasan dimulai dengan tempat dan waktu penulisan Injil Marksu dan umat yang dituju, yang akan mengungkapkan tujuan penulisan Injilnya. Isi Injil Markus adalah membuka rahasia Mesia yang tampak di dalam struktur keseluruhan Injil. Beberapa pokok isi Injil Markus adalah Yesus Kristus berhadapan dengan roh-roh jahat, mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah