cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2012)" : 8 Documents clear
Combination of ozonation and absorption through membrane contactor to remove ammonia from waste water Sutrasno Kartohardjono; Milasari Herdiana Putri; Setijo Bismo
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.3

Abstract

Ammonia in waste water is a major pollutant produced in industrial and agricultural waste water. Ammonia is often removed by conventional technologies such as pack tower aeration, biological treatment or adsorption as ammonium ion onto zeolites. In many cases, conventional methods are very costly and inefficient, and therefore, there is a need for an alternative separation technique for more efficient removal of ammonia from waste waters. The aim of this study is to investigate the performance of the combination of ozonation and absorption through membrane processes to remove ammonia from wastewater using natural hot spring water (NHSW) as absorbent. Experimental results show that operating variables such as time and pH of absorbent solution are found to remarkably influence the removal process efficiency. Based on experimental results ozonation can improve ammonia removal efficiency through the hollow fiber membrane contactor. Ammonia removal efficiencies and overall mass transfer coefficients increase with decreasing pH of absorbent solution. Keywords: ammonia, mass transfer, membrane, ozonation, removal efficiencyAbstrak Amonia di dalam air limbah merupakan polutan utama yang berasal dari air limbah industri dan pertanian. Amonia kebanyak disisihkan dengan teknologi konvensional seperti aerasi di menara isian, pengolahan secara biologi atau penyerapan sebagai ion amonium pada zeolit. Dalam banyak hal, metode konvensional sangat mahal dan kurang efisien, sehingga diperlukan teknik separasi alternatif untuk proses penyisihan amonia dari air limbah yang lebih efisien. Tujuan dari studi ini adalah untuk menyelidiki kinerja kombinasi proses ozonasi dan proses absorbsi melalui membran untuk menyisihkan amonia dari air limbah menggunakan absorben berbahan dasar air dari sumber air panas. Hasil eksperimen memperlihatkan bahwa variabel operasi, seperti waktu dan pH larutan penyerap, sangat mempengaruhi efisiensi proses penyisihan amonia. Berdasarkan hasil eksperimen, ozonasi dapat meningkatkan efisiensi penyisihan ammonia melalui kontaktor membran serat berlubang. Efisiensi penyisihan amonia dan koefisien perpindahan massa keseluruhan naik dengan turunnya pH larutan penyerap.Kata kunci: amonia, perpindahan massa, membran, ozonasi, efisiensi penyisihan
Pengembangan katalis Kalsium Oksida untuk sintesis biodiesel Widdy Andya Fanny; S Subagjo; Tirto Prakoso
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.1

Abstract

The Improvement of Calcium Oxide Catalyst for Biodiesel Synthesis The development of industrial’s sector resulted in increasing demand for fuel. Fuel used is obtained from fossil fuel which is limited, and it produces several harmful gases to environment. To overcome these obstacles, the research on alternative energy resources has begun. Biodiesel has become more attractive because of its environmental benefits and it is made from renewable resources. Biodiesel is produced from vegetable oil by transesterification reaction. The aim of this research is development of CaO become super base CaO as heterogeneous for biodiesel synthesis by transesterification. The activities of both catalysts were tested by transesterification reaction in batch reactor at 60–65 oC for 4 hours. Both of those catalysts were characterized; include crystallinity by XRD, strength of base and surface area by BET method. Those solids have the basic strength about 10–11, crystalline structures, and the surface area of super base CaO about 7.7 m2/g and CaO about 9.6 m2/g. The content of methyl ester in biodiesel produced reaches 98.8%. According to SNI (minimal 96.5 %-wt) and ASTM, biodiesel of this reaction can be used as renewable energy source. Keywords: CaO, super base CaO, transesterification, biodiesel Abstrak Berkembangnya industri di dunia mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan bahan bakar. Selama ini bahan bakar yang digunakan diperoleh dari bahan bakar fosil yang jumlahnya terbatas, terlebih lagi hasil pembakaran bahan bakar fosil cenderung tidak ramah lingkungan. Untuk mengatasi berbagai kendala yang ditimbulkan dari penggunaan bahan bakar fosil, penelitian terhadap sumber energi alternatif mulai dilakukan. Biodiesel menarik perhatian dunia karena hasil pembakarannya lebih ramah lingkungan dan berasal dari sumber yang terbarukan. Biodiesel dihasilkan dari minyak nabati melalui reaksi transesterifikasi.Penelitian ini mengembangkan katalis CaO menjadi katalis CaO super basa untuk reaksi transesterifikasi pembentukan biodiesel. Aktivitas katalis CaO dan katalis CaO super basa tersebut diuji melalui reaksi transesterifikasi di dalam reaktor partaian pada suhu 60–65 oC selama 4 jam. Karakterisasi padatan meliputi uji kristalinitas dengan metode XRD, uji kekuatan basa, dan uji luas permukaan dengan metode BET. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padatan memiliki kekuatan basa berkisar 10–11, bersifat kristalin, dan memiliki luas permukaan sebesar 7,7 m2/g untuk CaO super basa dan 9,6 m2/g untuk CaO. Kadar metil ester biodiesel yang dihasilkan mencapai 98,8%. Kadar metil ester menurut SNI (minimal 96,5 %-b) dan ASTM, biodiesel dari reaksi ini dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan. Kata Kunci: CaO, CaO super basa, transesterifikasi, biodiesel
Simulasi pengolahan limbah cair berwarna dengan foto fenton pada sistem kontinyu Lie Hwa; Lieke Riadi
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.4

Abstract

Simulation of Colored Waste Water Treatment Using Photo Fenton in Continuous System Waste water from coffee processing was treated by the Photo Fenton method. Experiments were carried out in a 2 liter batch reactor equipped with ultraviolet lamp for 4 hours. The synthetic waste water was made by dissolving 300 mg instant coffee in 1 liter water. Reagents used are 700 ppm H2O2 prepared from 30 % H2O2, and 15 ppm FeSO4.7H2O. The experiment was carried out at pH= 3. Prior to treatment, the color of the waste water was brownish yellow. After adding the fenton reagent under UV light exposure, the color of waste water changed to pale yellow, and finally became colorless. Absorbance and Total Organic Carbon (TOC) of the sample were measured periodically. The kinetics of organic carbon degradation followed first order reaction towards the TOC concentration. Based batch experiment data, organic degradation was simulated for a single CSTR and four CSTRs in series. The single CSTR with a residence time of 1100 minutes can reduce the organic content from 108 ppm to 10.8 ppm, whereas for the serial CSTR reactors, the residence time was only 100 minutes in each reactor to get the same reduction percentage. Keywords: photo fenton, colored waste water, continuous, residence timeAbstrakPengolahan limbah cair industri pengolahan kopi dilakukan dengan metode Foto Fenton. Kajian menggunakan limbah sintetis berwarna coklat, mengandung kopi 300 ppm. Percobaan dilakukan dalam sebuah reaktor gelas dua liter yang dilengkapi dengan lampu ultra violet. Reagen yang digunakan adalah hidrogen peroksida dengan konsentrasi 700 ppm yang dibuat dari H2O2 30%, dan besi sulfat 15 ppm. Pengolahan limbah dilakukan pada pH=3. Dengan penambahan reagen fenton dan bantuan lampu ultra violet, warna limbah cair berubah secara perlahan dari coklat menjadi kuning dan akhirnya tidak berwarna. Perubahan absorbansi relatif zat warna, kandungan bahan organik total diukur terhadap waktu. Berdasarkan data percobaan secara batch, kinetika degradasi karbon mengikuti orde satu terhadap konsentrasi bahan organik total. Aplikasi untuk sistem kontinyu dibuat menggunakan model simulasi penurunan kandungan organik dalam sebuah reaktor berpengaduk dan 4 buah reaktor berpengaduk yang dihubungkan secara seri. Dengan laju alir umpan tetap, peningkatan volume reaktor akan memperbesar waktu tinggal reaktan dalam reaktor. Hasil simulasi reaktor tunggal menunjukkan bahwa semakin lama waktu tinggal maka semakin tinggi persentase penurunan bahan organik total. Untuk mendegradasi 90% kandungan organik dalam limbah, sebuah reaktor kontinyu seharusnya dirancang dengan waktu tinggal 1100 menit sedangkan empat buah reaktor dirancang dengan waktu tinggal 100 menit.Kata kunci: foto fenton, limbah cair berwarna, kontinyu, waktu tinggal
Sintesis dan karakterisasi polimer superabsorban dari akrilamida A. Zainal Abidin; G Susanto; N.M.T. Sastra; T Puspasari
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.5

Abstract

Synthesis and Characterization of Superabsorbent from Acrylamide Superabsorbent polymer (SAP) is a material that can absorb water in a large amount in a short time. In this research, the polymer has been synthesized from acrylamide monomer (Am) using N,N methylene bisacrylamide (MBA)as a cross-linker and ammonium persulphate (APS) as an initiator. Effects of MBA and APS on the SAP characteristic were studied by varying composition of MBA and APS each of 0.1%-wt, 0.2 %-wt, 0.6 %-wt and 1.0 %-wt. SAP was characterized by measuring its absorption capacity to distilled water. Based on the experiment, the highest absorption capacity for 1 gram SAP is 14.5 gram water. The highest absorption is produced by SAP with APS 0.2 %-wt and MBA 0.6 %-wt. Further studies by using SEM showed that SAP which had high absorption capacity contained a lot of pores with the waving surface. Therefore, the surface contact area between SAP and water is high. Keywords: acrylamide, absorption capacity, superabsorbent polymerAbstrakSuperabsorbent Polymer (SAP) merupakan polimer yang dapat menyerap air dalam jumlah yang sangat banyak. Dalam penelitian ini, polimer tersebut disintesis dari monomer akrilamida menggunakan crosslinker N,N-metilene bisakrilamide (MBA) dan inisiator amonium persulfat (APS). Pengaruh crosslinker dan inisiator terhadap karakteristik SAP dipelajari dengan melakukan variasi komposisi APS dan (MBA) masing-masing sebesar 0,1 %-b, 0,2 %-b, 0,6 %-b, dan 1 %-b. Karakteristik produk SAP dipelajari dengan FTIR untuk menganalisis gugus fungsi yang terbentuk untuk menunjukkan bahwa polimerisasi betul terjadi dan produknya berupa SAP. Pengukuran kemampuan absorpsi SAP terhadap air destilasi menunjukkan bahwa kapasitas absorpsi terbesar yang dihasilkan oleh superabsorbent polymer dari penelitian ini sebesar 14,5 gram air dalam 1 gram produk SAP yang dibuat. Kapasitas terbesar ini dimiliki oleh SAP dengan 0,2 %-b APS dan 0,6 %-b MBA. Studi lebih lanjut dengan SEM menunjukkan bahwa SAP yang memiliki kapasitas absorpsi tertinggi itu mempunyai morfologi permukaan yang berombak dan jumlah pori yang tertinggi sehingga luas permukaan kontak antara SAP dan air juga tertinggi. Kata kunci: akrilamida, kapasitas absorpsi, superabsorbent polymer
Korosi Alumunim dalam larutan asam sitrat Andreas Yoppy Aprianto Prasetya; Isdiriayani Nurdin
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.8

Abstract

The corrosion of Allumunium in citric acid sollutionCitric acid is a carboxylic acid that is widely used as an additive in the beverage industry. Aluminum cans are often used as a beverage packaging due to its lightweight, space efficient, and low production costs. Contact between citric acid and the aluminum cans may cause corrosion reactions that lead contamination of beverages by corrosion products. This study aims to test the aluminum resistance against citric acid at the concentration of 1, 2, and 4 %-wt, and temperature of 40 °C, 50 °C, and 60 °C. The specimen used is a 1 cm2 aluminum plate with a purity of 99.07%. The experiment consists of aluminum corrosion rate measurements using the Tafel method and aluminum corrosion mechanism prediction using cyclic-voltammetry method. The research results show that aluminum is corroded into Al3+ by citric acid solution in a one-stage reaction with activation energy of 65.01 kJ/mol. The corrosion products are not stable, it forms amorphous aluminum salts. The aluminum corrosion rate increases with rising citric acid concentration and temperature that can be classified in "negligible" to "medium" category.Keywords: aluminum, citric acid concentration, corrosion, temperature AbstrakAsam sitrat merupakan asam karboksilat yang banyak digunakan sebagai aditif pada industri minuman. Kaleng aluminium sering dipakai sebagai kemasan minuman karena sifatnya yang ringan, efisien ruang, dan biaya produksinya rendah.  Kontak asam sitrat dengan kemasan berupa kaleng aluminium dapat menyebabkan reaksi korosi yang berujung kontaminasi produk korosi terhadap minuman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ketahanan aluminium terhadap korosivitas asam sitrat pada konsentrasi 1, 2, dan 4 %-b, serta temperatur 40 °C, 50 °C, dan 60 °C. Logam yang digunakan merupakan pelat aluminium dengan kemurnian 99,07% dan luas permukaan 1 cm2. Penelitian mencakup pengukuran laju korosi aluminium dengan metoda Tafel dan prediksi mekanisme korosi aluminium dengan metoda voltametri siklik. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa aluminium terkorosi dalam larutan asam sitrat menjadi Al3+ dengan satu tahap reaksi searah dan energi aktivasi sebesar 65,01 kJ/mol. Produknya bersifat tidak stabil, langsung membentuk garam aluminium amorf. Laju korosi aluminium meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi asam sitrat dan temperatur, termasuk golongan korosi “dapat diabaikan” hingga “sedang”.Kata kunci: aluminium, konsentrasi asam sitrat, korosi, temperatur
Physical characteristics of microwave assisted moulded foam from cassava starch-corn hominy Endang Warsiki; Evi Savitri Iriani; Randi Swandaru
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.2

Abstract

Biodegradable foam is a packaging material made from renewable resources which is very prospective to substitute synthetic polystyrene foam. Starch is now dominantly use as a promising material to produce this foam due to its superior characteristic and its availability. However, starch is preferable as food source thus it is important to looking for a material such as corn hominy to reduce its usage in biopolymer production. Corn hominy is a by-product of corn milling which has high content of starch and fiber. Its high fiber content could improve the strength of the foam. This research is aimed to formulate the composition of corn hominy and cassava starch to produce good quality of biodegradable foam. Polyvinyl alcohol (PVOH) is added for further better physical properties. The physical analysis showed that the composition of cassava starch and corn hominy feed has affected physical properties of biodegradable foam. Increasing the content of starch resulted on increasing of foam expansion. In contrast, the more starch content in the foam, the more brittle the foam will be. The best composition was given by ratio of 80 %-wt cassava starch and 20 %-wt corn hominy. The adding of PVOH affected the physical properties of less hardness and less brittle of the foam. Keywords: biodegradable foam, cassava starch, hominy feed, PVOH Abstrak Busa biodegradable merupakan bahan pengemas yang terbuat dari bahan nabati, ditujukan untuk subtitusi polistirena busa sintetik. Bio-polimer ini umumnya terbuat dari pati singkong karena ketersediaannya yang melimpah dan keunggulan sifat-sifat busa pati yang dihasilkan. Bagaimanapun, singkong adalah bahan pangan, sehingga bahan lain seperti ampok jagung perlu diujicobakan untuk mengurangi penggunaan singkong pada produksi bio-polymer ini. Ampok merupakan hasil samping dari penggilingan biji jagung. Kandungan serat ampok sangat tinggi dan diyakini dapat memperbaiki sifat fisis mekanis busa seperti meningkatkan kekuatan tarik dan mengurangi kerapuhan busa. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi komposisi pati singkong dan ampok jagung untuk memproduksi busa biodegradable berkualitas baik. Polivinil alkohol (PVOH) ditambahkan untuk membantu memperbaiki karakter fisik busa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio pati dan ampok mempengaruhi sifat fisik mekanis busa. Peningkatan kandungan pati dalam busa akan meningkatkan sifat rapuh bahan. Komposisi terbaik dihasilkan dari busa berbahan 80%-b pati dan 20 %-b ampok. Penambahan PVOH dapat memperbaiki sifat fisik busa dengan menurunkan kekerasan dan kerapuhan. Kata kunci: busa biodegradable, pati singkong, ampok jagung, PVOH
Pemanfaatan ampas tebu dan kulit pisang dalam pembuatan kertas serat campuran Yosephine Allita; Victor Gala; Aning Ayu Citra; Ery Susiany Retnoningtyas
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.6

Abstract

The utilization of sugarcane baggase and banana peel for mixed-fiber-paper production Mixed fiber paper, also known as composite paper, is a paper made of two different fibers that aims to strengthen the paper. In this study, mixed fiber paper for packaging purposes was made by utilizing bagasse pulp and used newsprint pulp. As a binder, banana peel may be used since it contains starch and fiber. The objectives of this research were to study the effect of bagasse pulp composition and newsprint pulp, as well as to determine the mass amount of binder used in producing mixed fiber paper which has both tear resistance and tensile strength suitable for packaging paper. Mixed fiber paper was made by varying the ratio of bagasse pulp and newsprint pulp as follows: 0:100, 10:90, 30:70, 50:50, 70:30, 90:10, and 100:0. The study also carried out variation in binder concentration from banana skin flour of 15, 25, 35, 45, and 55 g/4 L. As results, mixed fiber papers produced in this study have met the requirement of Indonesia National Standard (SNI) of base paper for wrapping (SNI 14-6519-2001). Mixed fiber paper with composition of 30% bagasse pulp and 35 g/4 L banana peel binder concentration has tear resistance of 4,018 kN/m and tensile strength of 20,5 N, although the grammage of all papers is above the standard. Keywords: mixed fiber paper, bagasse pulp, banana peel binder, packaging paperAbstrakKertas serat campuran (atau kertas komposit) merupakan kertas yang terbuat dari dua jenis serat berbeda yang bertujuan untuk memperkuat kertas tersebut. Dalam penelitian ini, pulp ampas tebu dan pulp kertas koran bekas digunakan untuk membuat kertas serat campuran dengan tujuan aplikasi kertas kemasan. Sebagai binder, digunakan kulit pisang yang mengandung pati dan serat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari komposisi pulp ampas tebu dan pulp kertas koran, serta untuk mengetahui massa binder yang digunakan agar dihasilkan kertas serat campuran dengan ketahanan sobek dan kekuatan tarik yang paling sesuai untuk aplikasi kertas kemasan. Proses yang digunakan untuk membuat pulp ampas tebu adalah proses acetosolv. Kertas serat campuran dibuat dengan variasi komposisi pulp ampas tebu dan pulp kertas koran dengan perbandingan 0:100, 10:90, 30:70, 50:50, dan 70:30. Selain itu, dilakukan juga variasi konsentrasi binder kulit pisang sebanyak 15, 25, 35, 45, dan 55 g/4 L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kertas serat campuran yang dihasilkan telah memenuhi standar kertas dasar kertas bungkus berlaminasi sesuai SNI 14-6519-2001. Kertas serat campuran yang dibuat dengan komposisi pulp ampas tebu 30% dan konsentrasi binder 35 g/4 L menghasilkan ketahanan sobek sebesar 4,018 KN/m dan kekuatan tarik sebesar 20,5 N walaupun gramatur kertas lebih besar dari standar yang ditetapkan.Kata kunci: kertas serat campuran, pulp ampas tebu, binder kulit pisang, kertas kemasan
Biodiesel production from Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) using reactive distillation Arief Budiman; Alita Lelyana; Daniar Rianawati; S Sutijan
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2012.11.2.7

Abstract

Palm fatty acid distillate (PFAD) is a lower-value by-product obtained during the refining of palm oil and contained high amount of free fatty acid (FFA). However, it’s a potentially valuable and low-cost raw material for the production of biodiesel through esterification process. Esterification of FFA using the conventional batch faces a challenge since it is low in productivity and requires high excess of reactant so that it is not efficient for large-scale production. To overcome this problem, reactive distillation (RD) is the best candidate. RD is one of the most attractive equipment which provides potential benefits for the esterification reaction. To obtain an optimal design of the RD, an accurate model and simulation of the process is needed. In this work, a simulation study of biodiesel production from PFAD as feedstock using RD is presented by using ASPEN Plus v7.1. Two case studies of total reflux (case A) and recycled distillate (case B) were demonstrated. Close relation was found among high separation and high energy consumption in RD. Two models of RD show the more economical heat duty of both condenser and reboiler. Effect of L/F ratio, number of stages in reaction zone, and model of RD to conversion of esterification reaction were discussed. Keywords: biodiesel, esterification, PFAD, reactive distillationAbstrakSuatu produk hasil samping yang memiliki nilai ekonomi rendah, biasa dikenal sebagai Palm Fatty Acid Distilate (PFAD), diperoleh dari proses pemurnian minyak kelapa sawit. PFAD mengandung asam lemak bebas (FFA) tinggi, cukup potensial, dapat digunakan sebagai bahan baku produksi biodiesel melalui proses esterifikasi. Esterifikasi FFA dengan proses batch konvensional menghadapi tantangan karena produktivitasnya cukup rendah dan membutuhkan excess reaktan yang tinggi sehingga tidak efisien jika diterapkan untuk produksi skala besar. Reactive distillation (RD) dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah ini. RD merupakan alat yang berpotensi memberikan keuntungan dalam reaksi esterifikasi. Untuk mendapatkan desain yang optimal dari suatu RD, pemodelan yang akurat dan simulasi dari proses ini diperlukan. Di sini, dilakukan simulasi produksi biodiesel dari PFAD menggunakan RD dilakukan dengan ASPEN Plus v7.1. Dua kasus dipelajari, yaitu refluks total (kasus A) dan recycle distillate (kasus B) yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh rasio antara cairan yang dikembalikan ke kolom dengan feed (L/ F), dan variable variable desain. Semakin tinggi kemurnian dari hasil pemisahan, konsumsi energi yang dibutuhkan juga menjadi semakin besar. Perbandingan antara dua model dari kolom distilasi reaktif menunjukkan beban panas kondensor dan reboiler menjadi lebih ekonomis. Pengaruh perbandingan L/F, jumlah stage dalam zona reaksi, dan model kolom distilasi reaktif terhadap konversi reaksi esterifikasi akan di bahas di sini.Kata kunci: biodiesel, esterifikasi, PFAD, menara distilasi

Page 1 of 1 | Total Record : 8