cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2009)" : 5 Documents clear
Peningkatan produksi biomassa Chlorella vuldaris melalui perlakuan teknik pemerangkapan sel dalam aliran sirkulasi media kultur D Dianursanti; Rachma Nuzulliany; Anondho Wijanarko; M Nasikin
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.3

Abstract

Recently, Chlorella vulgaris is widely studied by experts for its ability as a food supplement and health.  Cultivation of Chlorella vulgaris can be used as a tool to reduce global warming. Chlorella vulgaris can efficiently reduce CO2 because they can grow quickly and easily adapted into the photobioreactor system engineering. This research uses continuous illumination of 5000 lux. However, this lighting condition has limitations because of the intensity given is always constant while the number of Chlorella vulgaris in culture increased. Therefore, one solution to solve it is by using the entrapment of cell or filtration process. Chlorella vulgaris cultivation process carried out in bubble column photobioreactor medium flowed by air containing 5% CO2 with a flow rate of 15.66 m / hr. The process of Chlorella vulgaris cultivation with filtration technique has successfully increased production of biomass up to 1.03 times compared with continuous lighting without filtration with the same amount of inoculum. The final result of dry weight biomass obtained was 0.00756 g/dm3 with shorter cultivation period, 200 hours.  Keywords: filtration, Chlorella vulgaris., constant lighting intensity, bubble column photobioreactor, CO2 fixation.AbstrakBelakangan ini, Chlorella vulgaris diminati oleh para ahli untuk diteliti karena kemampuannya sebagai penghasil biomassa yang bermanfaat sebagai suplemen makanan dan kesehatan. Dalam proses pembudidayaannya, Chlorella vulgaris ini dapat dimanfaatkan sebagai pereduksi pemanasan global. Chlorella vulgaris dapat dengan efisien mereduksi CO2 karena mereka dapat tumbuh dengan cepat dan mudah diadaptasikan ke dalam rekayasa sistem fotobioreaktor. Pencahayaan yang diberlakukan pada penelitian ini adalah pencahayaan kontinu dengan intensitas 5000 lux. Namun, pencahayaan ini memiliki keterbatasan karena intensitas yang diberikan selalu konstan padahal jumlah Chlorella vulgaris dalam kultur semakin meningkat. Oleh sebab itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan proses pemerangkapan sel atau  filtrasi. Proses Kultivasi Chlorella vulgaris dilakukan dalam fotobioreaktor kolom gelembung skala menengah yang dialiri oleh udara yang mengandung 5% CO2 dengan laju alir sebesar 15,66 m/jam. Proses filtrasi untuk kultivasi Chlorella vulgaris berhasil meningkatkan produksi biomassanya hingga 1,03 kali lipat dibandingkan dengan pencahayaan kontinu tanpa filtrasi dengan jumlah inokulum yang sama. Hasil akhir produksi biomassa adalah 0,00756 g/dm3 dengan masa kultivasi yang lebih singkat yaitu selama 200 jam.Keywords: filtrasi, Chlorella vulgaris., pencahayaan kontinu, fotobioreaktor kolom gelembung, fiksasi CO2.
Metode operasi reverse flow reactor dengan umpan fluktuatif dalam pengolahan emisi gas metana di stasiun kompresor M. Effendy; Yogi Wibisono Budhi; Yazid Bindar; S Subagjo
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.1

Abstract

Operation method of reverse flow reactor with fluctuating feed for methane gas emmision processing in compressor station.The leak of CH4 from the compressor stations can not be avoided and it may cause the global warming. The impact of the global warming can be reduced by oxidizing CH4 into CO2. The CH4 capture strategy using the exhaust mounted on the top of the building causes (1) CH4 levels detected in the gas mixture is very small (±1% volume), (2) the feed gas temperature is near the ambient temperature (±30 oC), (3) the CH4 concentration fluctuates over time. The reverse flow reactor (RFR) is a fixed bed reactor, which has the ability to abate the leak of CH4 and has the ability to act as an autothermal reactor. The purpose of this research is to find a proper operation procedure of the fixed bed reactor for the oxidation of lean methane emission via modeling and simulation. The reactor model is based on the continuity equation and the heat balance, while the concentration of the feed gas behavior dynamic and modeled as a step function. The model was solved numerically using the software package FlexPDE version 6. At ST (switching time) 50 seconds, the RFR operates autothermally with heat accumulation in the inert section fluctuating between 12.4 to 14.2 kJ. At ST 100 seconds, the heat trap inside the reactor increases monotonically. The use of ST 100 seconds requires an additional operation procedure to keep the reactor safe.Keywords: Global warming, concentration dynamic, autothermal operation, modeling and simulation, reverse flow reactor. AbstrakKebocoran gas CH4 dari stasiun kompresor tidak dapat dihindarkan dan ini merupakan salah satu sumber penyebab pemanasan global. Dampak pemanasan global ini dapat dikurangi dengan mengoksidasi gas CH4 menjadi gas CO2. Strategi penangkapan gas CH4 menggunakan exhaust yang terpasang pada bagian atas gedung menyebabkan (1) kadar CH4 yang terdeteksi dalam campuran gas cukup kecil (±1% volume), (2) temperatur gas umpan mendekati temperatur ruangan (± 30 oC), (3) konsentrasi gas CH4 akan berperilaku dinamik. Reverse flow reactor (RFR) mempunyai kemampuan untuk mengatasi akibat yang ditimbulkan oleh proses penangkapan gas CH4 di stasiun kompresor dan mempunyai kemampuan secara ototermal. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan metode operasi yang tepat untuk mengatasi gas umpan yang berperilaku dinamik. Model yang dikembangkan mengacu pada persamaan kontinuitas dan konsentrasi gas umpan yang berperilaku dinamik dimodelkan sebagai fungsi step. Model diselesaikan menggunakan software FlexPDE versi 6. Penggunaan switching time (ST) yang tepat dapat mengatasi permasalahan konsentrasi gas umpan yang berperilaku dinamik. Pada ST 50 detik, RFR mampu bekerja secara ototermal dengan nilai akumulasi panas di bagian inert yang berfluktuasi antara 12,4–14,2 kJ. Pada ST 100 detik, panas yang terjebak di dalam reaktor semakin lama semakin meningkat. Penggunaan ST 100 detik memerlukan prosedur operasi tambahan untuk menjaga reaktor agar tidak meleleh dan menjaga reaktor tetap beroperasi secara ototermal. Kata Kunci: Pemanasan global, dinamika konsentrasi, operasi ototermal, pemodelan dan simulasi, reaktor aliran bolak-balik.
Pembuatan bioetanol dari rumput gajah dengan distilasi batch Ni Ketut Sari
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.4

Abstract

Elephant grass is available continuously and in abundance, but has only been utilized as animal feed, and is sometimes regarded as a nuisance. However, elephant grass contains cellulose, glucose and starch that can be utilized as raw materials for ethanol production. The concentration of ethanol obtained from a study on the production of bioethanol from elephant grass was between 7-11%. To improve the purity of the ethanol, a batch distillation separation process was performed.  In the study of bioethanol production from elephant grass, a hydrolysis process was performed at the following fixed condition 30 oC temperature, 7 liter of water, 1 hour of hydrolysis time, while the following variables were changed fermentation period of 4, 5, 6, 7, and 8 days, and starter concentration of 8, 10, and 12%. From the bioethanol production study, the following best condition was obtained: 200 gram of grass, 10% Saccharomyces cerevisiae starter for 6 days. This condition produced 27.71% ethanol, with a 8.09% residual glucose. To obtain a higher purity ethanol product, a subsequent separation using batch distillation was performed, resulting in 90-95% ethanol. Therefore, elephant grass can be used as an alternative raw material for bioethanol production.Keywords: bioethanol, fermentation, hydrolysis, elephant grass Abstrak Ketersediaan rumput gajah dapat diperoleh secara kontinu dan melimpah, seringkali hanya digunakan sebagai makanan ternak, dan terkadang rumput gajah juga dianggap sebagai tanaman pengganggu. Rumput gajah mempunyai kadar selulosa, glukosa, pati yang dapat digunakan sebagai salah satu bahan penghasil etanol. Kadar etanol yang diperoleh dari kajian produksi bioetanol dari rumput gajah antara 7-11%. Untuk meningkatkan kemurnian kadar etanol dilakukan pemisahan menggunakan distilasi batch. Dalam penelitian kajian produksi bioetanol dari rumput gajah dilakukan proses hidrolisis pada kondisi tetap suhu 30 oC, air 7 liter, waktu hidrolisis 1 jam, dan kondisi berubah yaitu berat rumput gajah 50, 100, 150, 200, 250, dan 300 gram, volume larutan HCl 10, 20, 30, 40, 50 mL. Kemudian dilanjutkan proses fermentasi pada kondisi tetap suhu 30 oC, pH 4,5, volume fermentasi 500 mL dan kondisi berubah yaitu waktu fermentasi 4, 5, 6, 7, 8 hari, dan starter 8, 10, dan 12%. Dari penelitian kajian produksi bioetanol dari rumput gajah diperoleh hasil terbaik  yaitu: berat rumput gajah 200 gram, starter Saccharomyces cerevisiae 10% selama 6 hari, menghasilkan etanol sebesar 27,71% dan kadar glukosa sisa 8,09%. Untuk memperoleh produk etanol yang lebih murni dilakukan proses pemisahan lanjutan dengan distilasi batch, setelah dilakukan pemisahan lanjut diperoleh kadar etanol 90–95%, sehingga  rumput gajah dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan bioetanol.Kata Kunci: bioetanol, fermentasi, hidrolisis, rumput gajah.
Simulasi pengeringan batu bara muda dengan metode rangkaian pori pada kondisi isotermal Anton Irawan; Indar Kustiningsih
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.2

Abstract

Simulation of low rank coal drying with pore network method in isothermal condition.Indonesia has large coal reserve with most of them are low rank coal. Low rank coal has low energy content (< 4,800 kcal/kg) and high moisture content (> 25%). High moisture content of coal will make a problem for coal conversion processing to be a main energy source such as power plant  so that the moisture of coal must be removed from inside of coal. The moisture content in the coal can be removed by drying based on drying kinetic (drying rate). Drying kinetic is influenced by several variables such as hot fluid velocity and temperature, size and pore structure of material. In this model, sample of low rank coal are analyzed to obtain the data of pore size distribution. The size of pore were used 40 and 100 nm, the pore length was 100 nm. Four different pore structures were simulated by pore network modelling. From pore network simulation, the structure with large pore had long time for drying constant period, but the structure with small pore had short time for drying constant period.Keywords: coal, drying, pore network, moisture, vapour diffusion. AbstrakIndonesia merupakan negara yang memiliki cadangan  batubara yang besar yang dapat digunakan sebagai sumber energi utama untuk industri, tetapi batubara yang dimiliki oleh Indonesia sebagian besar merupakan batubara muda yang memiliki kandungan energi yang rendah (< 4.800 kcal/kg) serta kandungan air yang tinggi (> 25%). Kandungan air batubara yang tinggi menyulitkan dalam proses konversi batubara untuk dijadikan sebagai sumber energi utama seperti pada sistem tenaga. Kandungan air dalam batubara dapat dikurangi dengan pengeringan dengan mengamati data kinetika pengeringan berupa laju pengeringan. Laju pengeringan batubara dipengaruhi oleh beberapa variabel antara lain kecepatan fluida panas, temperatur fluida panas, ukuran partikel yang dikeringkan serta struktur pori-pori dari partikel yang dikeringkan. Beberapa sampel batubara muda dianalisis strukturnya untuk mendapatkan data distribusi pori. Ukuran pori yang digunakan terdiri atas 2 macam yaitu 40 dan 100 nm serta panjang pori 500 nm.  Empat macam struktur pori disimulasikan dengan metode rangkaian pori. Dari simulasi rangkaian pori memperlihatkan bahwa ukuran pori yang besar akan memberikan waktu yang lebih lama untuk laju pengeringan tetap sedangkan struktur pori dengan  ukuran pori  kecil akan memberikan laju pengeringan tetap yang lebih pendek waktunya.Kata Kunci: batubara, pengeringan, rangkaian pori, kandungan air, difusi uap.
Penggunaan limbah tempe dalam biodegradasi zat warna azo menggunakan bioreaktor membran aerob-anaerob Putri Sri Komala; Agus Jatnika Effendi; IG Wenten; W Wisjnuprapto
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 8, No 3 (2009)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2009.8.3.5

Abstract

Tempeh waste is a form of waste that still has an economic value, due to its relatively high organic and nutrient content compared to yeast extract. In this research, tempeh waste was used as a co-substrate for the removal of azo dye from textile industry effluent using an aerobic-anaerobic membrane bioreactor. The bioreactor consists of a modified activated sludge process, i.e. a contact-stabilization process coupled with anoxic reactor and combined with an external ultrafiltration membrane to replace the sedimentation process in conventional activated sludge process. The feed consists of Remazol Black-5 azo dye at a concentration of 110-120 mg/L, and tempeh waste as an organic and nutrient source at 8-10% v/v concentration. An experiment was done to measure the effect of hydraulic retention time on dye removal, by varying the HRT in the contact tank at 1, 1.5, 2, 2.5, and 3 hours, and that of  stabilization- and anoxic tanks kept constant at 4 and 3 hours. From the experiment a 41-51% removal of the dye and 46-65% removal of organic compounds were obtained. The highest dye and organic compound removal was obtained at a contact HRT of 2 hours, namely 51% of dye removal and 65% of organic removal efficiencies. An auto-oxidation process occurs in the contact tank, resulting in an increase in the dye concentration.Keywords: tempeh waste, membrane bioreactor, Hydraulic Retention Time (HRT), contact tank, azo dye. Abstrak Limbah tempe merupakan salah satu limbah yang masih memiliki nilai ekonomis, karena kandungan senyawa organik dan nutrien yang terdapat didalamnya masih relatif tinggi jika dibandingkan dengan yeast extract. Dalam penelitian ini limbah tempe digunakan sebagai ko-substrat untuk penyisihan zat warna azo dari industri tekstil dengan menggunakan bioreaktor membran aerob-anaerob. Bioreaktor terdiri dari modifikasi proses lumpur aktif yaitu proses kontak-stabilisasi yang dihubungkan dengan reaktor anoksik dan dikombinasikan dengan membran ultrafiltrasi secara eksternal. Umpan terdiri dari zat warna azo Remazol Black-5 pada konsentrasi 110-120 mg/L dan limbah tempe sebagai sumber organik dan nutrien dengan konsentrasi 8-10% v/v. Percobaan dilakukan untuk mengamati pengaruh waktu retensi hidrolik (hydraulic retention time, HRT) tangki kontak terhadap penyisihan warna dengan variasi HRT tangki kontak antara 1, 1½, 2, 2½ dan 3 jam, sedangkan tangki stabilisasi dan anoksik pada HRT konstan 4 dan 3 jam. Dari percobaan dihasilkan penyisihan warna berkisar antara 41-51% dan penyisihan senyawa organik antara 46-65%. Baik penyisihan warna maupun senyawa organik terbesar dihasilkan pada HRT kontak 2 jam yaitu 51% untuk penyisihan warna dan 65% untuk penyisihan senyawa organik. Pada tangki kontak terjadi autoksidasi yang menyebabkan kenaikan konsentrasi warna.Kata Kunci: limbah tempe, bioreaktor membran, waktu retensi hidrolik (HRT), tangki kontak, zat warna azo.

Page 1 of 1 | Total Record : 5