cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 1,679 Documents
HUKUMAN KEBIRI BAGI PELAKU KEJAHATAN SEKSUAL Anisa Nur Solikhah
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2 No 2 (2018): 1 Juli - 31 Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.426 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1293

Abstract

AbstrakJudul dari riset ini adalah Hukuman Kebiri Bagi Pelaku Kejahatan Seksual. Hukuman kebiri merupakan suatu reaksi dari banyaknya kasus kejahatan seksual di Indonesia karena pidana penjara dianggap kurang efektif dalam mengurangi kasus kejahatan seksual. Permasalahan dalam riset ini adalah apakah hukuman kebiri sudah sesuai dengan tujuan dan sistem  pemidanaan  di  Indonesia atau  hanya sebagai pembalasan terhadap tindakan pelaku dan mengesampingkan Hak Asasi Manusia bagi pelaku karena tujuan pemidanaannya menekankan pada perbuatan terpidana di masa lalu atau sebaliknya, yakni tujuan pemidanaan tersebut berorientasi pada perbaikan kelakuan terpidana yang tujuan pemidanaannya menekankan pada kepentingan terpidana di masa depan. Hal ini dikarenakan hukuman kebiri tidak tercantum dalam Pasal 10 KUHP mengenai jenis-jenis pidana yang terdiri dari pidana pokok dan pidana tambahan. Maka hukum kebiri tidak sesuai dengan sistem pemidanaan di Indonesia.Kata Kunci: Hukuman Kebiri, Kejahatan Seksual, Tujuan Pemidanaan. AbstractThe title of this research is The Punishment of Castration for Perpetrators of Sexual Crimes. Castration punishment is a reaction to the number of sexual crimes in Indonesia because prison sentences are considered less effective in reducing sexual crimes. The problem in this research is whether the punishment of castration is in accordance with the purpose and system of criminalization in Indonesia or only in retaliation for the actions of the perpetrator and set aside human rights for the perpetrator because the purpose of criminalization emphasizes on the criminal acts in the past or vice versa, namely the purpose of criminalization is oriented towards improving the behavior of convicted criminals whose criminal purpose emphasizes on the interests of the convicted in the future. This is because castration punishment is not listed in Article 10 of the Criminal Code concerning the types of criminal acts consisting of principal and additional criminal. Therefore, the law of castration is not in accordance with the criminal system in Indonesia.Keywords: Castration Punishment, Sexual Crimes, Criminal Purposes.
PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS MELALUI PEMBIASAAN SHALAT BERJAMAAH Destiara Kusuma
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2 No 2 (2018): 1 Juli - 31 Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.587 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1294

Abstract

AbstrakSelama ini, pendidikan di Indonesia hanya terfokus pada kemampuan intelektual dan kurang mendalami pembentukan karakter. Karakter adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia sebagai salah satu ciri individu itu sendiri. Jika seorang ingin memiliki karakter yang baik,maka harus diasah sedini mungkin dengan cara pembiasaan. Pembiasaan merupakan sesuatu kegiatan yang dilakukan oleh individu secara berulang-ulang,sehingga menjadi kebiasaan. Pembiasaan shalat berjamaah mampu meningkatkan kesadaran indvidu sebagai seorang hamba yang patuh kepada penciptaNya. Nilai-nilai agama islam yang terkandung dalam shalat berjamaah sangat berpengaruh bagi pembentukan karakter individu terutama karakter religius. Tujuan penulisan ini adalah untuk megetahui apakah shalat berjamaah berpengaruh dalam pembentukan karakter religius seseorang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, dan kajian pustaka melalui internet. Hasil penelitian menunjukan pembiasaan shalat berjamaah mampu meningkatkan karakter religius seseorang jika dilakukan secara terus-menerus dan selalu mengambil nilai-nilai yang baik dari kegiatan shalat berjamaah. Hal ini bisa dilihat jika adzan berkumandang,maka seorang muslim akan segera ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah. Sehingga, melalui pembiasaan shalat berjamaah dapat membentuk karakter religius seseorang.Kata kunci: Karakter Religius, Pembiasaan, Shalat Berjamaah. AbstractSo far, education in Indonesia has only focused on intellectual ability and lack of character formation. Character is something that is possessed by man as one of the characteristics of the individual itself. If a person wants to have good character, then it must be honed as early as possible by habituation. Habituation is an activity that is carried out by individuals repeatedly, so it becomes a habit. The habituation of congregational prayer is able to increase individual awareness as a servant who obeys His creator. Islamic religious values contained in congregational prayer are very influential for the formation of individual characters, especially religious characters. The purpose of this writing is to find out if congregational prayer is influential in the formation of one's religious character. Data collection techniques used are observation, and review of libraries through the internet. The results showed that the habituation of congregational prayer is able to improve one's religious character if done continuously and always take good values from the activities of congregational prayer. This can be seen if the adhan berkumandang, then a Muslim will immediately go to the mosque to pray congregational prayers. Thus, through the habituation of congregational prayer can form one's religious character.Keywords: Religious Character, Habituation, Congregational Prayer
PEMULANGAN WNI EKS ISIS TERHADAP STABILITAS KEUTUHAN NKRI Fanny Nur Ramadhani
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2 No 2 (2018): 1 Juli - 31 Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.191 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1295

Abstract

AbstrakTujuan artikel ini adalah : (1) mengetahui keadaan stabilitas negara apabila terjadi pemulangan WNI yang merupakan eks anggota ISIS dari segi kemanusiaan dan segi pertahanan keamanan. (2) Pengaruh yang dibawa oleh WNI eks ISIS ke tanah air yang akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat sehingga perlu ada penanganan dan persiapan yang matang guna menghadapinya. (3) Upaya yang perlu dilakukan sebagai warga negara yang berdampingan secara langsung maupun tidak langsung terhadap WNI eks ISIS. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan sosial kualitatif. Desain penelitian ini bersifat umum, fleksibel, dinamis, eksploratif, dan mengalami perkembangan selama proses penelitian berlangsung. Dari aspek pengumpulan datanya mengadopsi teknik partisipatoris yang menyesuaikan fenomena dengan memilih analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) kebijakan pemulangan WNI eks ISIS melalui dua opsi yaitu dipulangkan dan tidak dipulangkan. (2) WNI dapat kehilangan status kewarganegaraannya karena telah masuk dinas tentara asing tanpa izin Presiden. Serta untuk (3) mencegah dan waspada terhadap ancaman terorisme, sebab keberadaannya berpotensi meresahkan bahkan dapat mengancam stabilitas negara.Kata kunci : pro kontra,  eks ISIS, pemulangan WNI AbstractThe purpose of this article is: (1) to know the state of stability of the country in case of repatriation of Indonesian citizens who are former members of ISIS in terms of humanity and security defense. (2) The influence brought by ex-ISIS citizens to the homeland will cause pros and cons in the community so that there needs to be careful handling and preparation to deal with it. (3) Efforts that need to be made as citizens who are directly or indirectly adjacent to ex-ISIS citizens. This research is research with qualitative social approach. The design of this research is general, flexible, dynamic, explorative, and developed during the research process. From the aspect of data collection adopts participatory techniques that adjust the phenomenon by choosing data analysis. The results showed that: (1) the policy of repatriation of ex-ISIS citizens through two options, namely repatriated and not repatriated. (2) Indonesian citizens may lose their citizenship status because they have entered the service of foreign soldiers without the Permission of the President. As well as to (3) prevent and alert to the threat of terrorism, because its existence is potentially troubling can even threaten the stability of the country. Keywords: pros cons, ex-ISIS, repatriation of Indonesian citizens
PENERAPAN SIKAP DISIPLIN PADA SANTRI DAN SANTRIWATI DI PONDOK PESANTREN Istikomah Nurkholifah
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2 No 2 (2018): 1 Juli - 31 Desember 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.123 KB) | DOI: 10.31316/jk.v2i2.1296

Abstract

AbstrakDisiplin adalah salah satu upaya dalam meningkatkan sebuah karakter yang dimiliki seorang anak, agar mereka mampu untuk lebih bertanggung jawab, hal ini tentunya bisa  membuat anak lebih teratur dan terarah serta dapat menjadikan anak lebih meningkatkan rasa tanggung jawab pada dirinya, serta diharapkan mampu tercapai dan diterapkan secara optimal. Dalam penelitian ini, permasalahan yang diteliti tentang bagaimana cara atau teknik dalam penerapan sikap disiplin agar santri atau santriwati mampu mengikuti aturan, faktor pendorong dan penghambat penerapan sikap disiplin, dan apakah santri atau santriwati lebih memiliki sikap disiplin dibandingkan dengan anak sekolah biasa. Dengan ini penelitian bertujuan untuk lebih mengetahui cara atau teknik dalam menerapkan sikap disiplin, faktor pendorong dan penghambat dalam penerapan, serta lebih disiplin manakah antara anak santri atau santriwati di pondok pesantren dengan anak sekolah biasa. Metode ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan melakukan Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan metode menganalisis. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa cara atau teknik dalam penerapan sikap disiplin adalah; dengan melakukan tindakan memberikan teguran apabila santri ataupun santriwati melakukan kesalahan. Faktor pendorong dan penghambat adalah faktor internal; kurangnya kesadaran dalam diri Pembina atau guru dan faktor eksternal; dukungan dari keluarga yang kurang. Penerapan sikap disiplin ini lebih menunjukan kedisiplinan manakah antara para santri atau santriwati dengan anak sekolah biasa; Sikap Disiplin dapat di terapkan kepada setiap individu apabila ia memiliki lingkungan yang memang mendukungnya, memiliki pembina yang memang  mengarahkan dan juga kesadaran dari dalam diri individu tersebut, jadi tidak ada jaminan bahwa para santri atau santriwati lebih displin daripada anak sekolah biasa begitu juga sebaliknya.Kata Kunci: Disiplin, Pesantren AbstractDiscipline is one of the efforts in improving a child's character, so that they are able to be more responsible, this can certainly make the child more organized and directed and can make the child further increase the sense of responsibility in him, and is expected to be achieved and applied optimally. In this study, the problems studied about how or techniques in the application of discipline attitudes so that students or students are able to follow the rules, driving factors and inhibitions of the application of disciplinary attitudes, and whether students or students have more discipline attitudes compared to ordinary school children. With this research aims to better know the ways or techniques in applying discipline attitudes, driving factors and inhibitions in the application, as well as more discipline which between students or students in boarding schools with ordinary school children. This method uses field research method by conducting data collection method using interview method, observation and analyzing method. The results of the analysis show that the way or technique in the application of discipline is; by taking the act of giving a reprimand if the students or students make mistakes. The driving and inhibitory factors are internal factors; lack of awareness in coaches or teachers and external factors; support from families who are lacking. The application of this discipline is more indicating which discipline between the students or students with ordinary school children; Discipline can be applied to each individual if he has an environment that does support him, has a coach who does direct and also awareness from within the individual, so there is no guarantee that the students or students are more disciplined than ordinary school children and vice versa.Keywords: Discipline, Pesantren
DAMPAK PENDIDIKAN TINGGI TERHADAP ETIKA SOPAN SANTUN DI KALANGAN PEJABAT Nailin Fauzia Qonita
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3 No 2 (2019): 1 Juli - 31 Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.532 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1302

Abstract

AbstrakPendidikan identik dengan sarana dan usaha dalam pembelajaran karakter yang didalamnya bertujuan untuk mengubah perilaku manusia sehingga tercipta manusia yang memiliki moral yang yang tertanam dalam dirinya sehingga akan tercipta etika sopan dan santun yang menjunjung tinggi nilai-nilai hormat menghormati antar sesama. Pembentukan kepribadian dan karakter dalam dunia pendidikan sangat penting dalam menghadapi krisis moral bangsa Indonesia. Untuk itulah pendidikan memiliki tanggung jawab yang tidak ringan untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki moral serta etika sopan santun yang baik, bermartabat dan berbudi pekerti, dan juga memiliki komitmen untuk bertindak secara konsisten.Kata kunci : Pendidikan, etika, sopan dan santun. AbstractEducation is synonymous with the means and efforts in character learning in which aims to change human behavior so as to create a human being who has a moral that is ingrained in him so that it will create ethics of manners and manners that uphold the values of respect for each other. The formation of personality and character in the world of education is very important in dealing with the moral crisis of the Indonesian nation. Therefore, education has a responsibility that is not light to create human resources that have good morals and ethics of good manners, dignity and ethics, and also have a commitment to act consistently.Keywords: Education, ethics, manners and manners.
DAMPAK PENGHAPUSAN UJIAN NASIONAL YANG AKAN DIGANTI DENGAN SISTEM ASASMEN KOMPETENSI DAN SURVEY KARAKTER Safitri Safitri
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3 No 2 (2019): 1 Juli - 31 Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.203 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1303

Abstract

AbstrakPerubahan ujian nasional yang akan diganti dengan sistem asesmen kompetensi dan survey karakter oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim tahun 2021 yang akan datang, dimana ujian nasional tidak lagi menjadi bahan tolak ukur peserta didik dan guru, untuk kedepannya diharapkan untuk peserta didik dapat menguasai sistem asesmen kompetensi dan survey karakter. Asesmen kompetensi kemampuan bernalar dalam memahami suatu bacaan (literasi), kemampuan mengaplikasikan suatu metode hitung meghitung atau matematika (numerasi), dan survey karakter adalah sebuah penilaian yang akan ditujukan pada peserta didik guna mengetahui keamanan, kerukunan, kondisi lingkungan rumah, kondidi lingkungan sekolah ( terdapat buliyeng dll), dan akhlak dari murid itu sendiri. Peserta didik akan ditanya mengenai gotong royong, Bhineka Tunggal Ika, tetapi bukan pertanyaan yang sesimpel itu melainkan esensi dari asas Pancasila. Dampak yang dirasakan adanya perubahan sistem tersebut dari kalangan guru, wali murid, dan peserta didik, serta pendapat dari perubahan sistem ujian nasional yang diganti menjadi asesmen kompetensi dan survey karakter.Kata kunci: dampak,asesmen kompetensi, dan survey karakter AbstractChanges in national exams that will be replaced with a system of competency assessment and character survey by the Minister of Education Nadiem Makarim in 2021, where the national exam is no longer a benchmark material for students and teachers, for the future it is expected that students can master the competency assessment system and character survey. Assessment of competency of reasoning ability in understanding a reading (literacy), the ability to apply a method of calculating math or math (numeration), and character survey is an assessment that will be aimed at students to know the safety, harmony, condition of the home environment, kondidi school environment ( there are buliyeng etc.), and the morality of the student itself. Students will be asked about gotong royong, Bhineka Tunggal Ika, but not a question that is as simple as that but rather the essence of the principle of Pancasila. The perceived impact of the system change from teachers, parents, and students, as well as opinions from changes in the national exam system that was changed to competency assessment and character survey. Keywords: impact, competency assessment, and character survey
FENOMENA KEMUNCULAN SUNDA EMPIRE KAITANNYA DENGAN KEBEBASAN BEREKSPRESI Garnis Fibria Dian Pertiwi
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3 No 2 (2019): 1 Juli - 31 Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.449 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1304

Abstract

AbstrakSunda Empire adalah organisasi atau perkumpulan orang yang percaya pada romantisisme sejarah pada zaman dahulu. Kemunculan Sunda Empire menggegerkan dunia, karena petinggi Sunda Empire mengklaim bahwa anggota Sunda Empire adalah kepala negara dari semua negara dan rakyatnya adalah semua penghuni bumi. Tidak hanya itu, Petinggi sunda empire, Rangga Sasana pernah menganggap kerajaannya dapat mengendalikan senjata nuklir dan beranggapan kerajaannyaa adalah kekaisaran matahari dan bumi, mengaku memiliki perdana menteri dan kaisar perempuan, mereka juga memiliki pemikiran dapat berkomunikasi dengan Jack Ma pendiri Alibaba dan berpikir tentang usaha-usaha terbaru yang mengarah pada masa depan, bahkan beranggapan sunda empire adalah pewaris harta benda bumi. Sunda Empire melakukan upaya secara berulang untuk meyakinkan masyarakat, sehingga menimbulkan kepercayaan yang sebenarnya sebuah kebohongan. Sunda Empire ini bisa dikatakan mengajarkan aliran sesat karena mereka mengiming-imingi masyarakat dengan hal-hal yang instan. Perkumpulan Sunda Empire ini juga bisa dikatakan mengandung unsur makar, Pengakuan-pengakuan yang dibuat oleh Sunda Empire ini hanyalah fiktif atau hanyalah halusinasi semata karena semua ide-idenya tidak masuk akal dan tidak akan terwujud. Tujuan dilakukan penelitian ini agar masyarakat Indonesia tidak terjerumus akan hal-hal seperti ini dan jangan pernah mengikuti aliran-aliran sesat yang ide-idenya tidak masuk akal bahkann tidak akan terwujud. Metode penelitian ini menggunkan metode kualitatif dan turun langsung ke lapangan dengan cara wawancara.Kata kunci : Unsur makar, Halusinasi, Ajaran sesat. AbstractSunda Empire is an organization or association of people who believe in historical romanticism in ancient times. The emergence of sunda empire stirred the world, because sunda empire officials claimed that sunda empire members are heads of state of all countries and their people are all inhabitants of the earth. Not only that, sunda empire official, Rangga Sasana once considered his kingdom can control nuclear weapons and assumed his kingdom is the empire of the sun and earth, claimed to have a prime minister and a female emperor, they also had the thought of being able to communicate with Jack Ma the founder of Alibaba and think about the latest efforts that lead to the future, even assume sunda empire is the heir of the earth's treasures. Sunda Empire made repeated attempts to convince the public, thus giving rise to the belief that it was actually a lie. Sunda Empire can be said to teach heresy because they lure people with instant things. Sunda Empire association can also be said to contain elements of makar, Confessions made by the Sunda Empire is only fictitious or just hallucinations simply because all the ideas are absurd and will not materialize. The purpose of this research is so that indonesians do not fall into things like this and never follow heretical traditions whose ideas do not make sense and will not even materialize. This method of research uses qualitative methods and goes directly to the field by interview.Keywords: Elements of makar, Hallucinations, Heresy.
PARTAI POLITIK SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN DEMOKRASI Estrika Isna Sahira
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3 No 2 (2019): 1 Juli - 31 Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.222 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1305

Abstract

Abstrak Partai politik adalah sebuah organisasi yang terorganisir yang anggotanya memiliki tujuan yang sama. Dalam sistem politik, partai politik adalah sebagai sarana yang memadahi dan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah, baik berupa dukungan, keluhan maupun tuntutan. Partai politik dipakai sengai sarana pendidikan demokrasi karena karena partai politik bisa sebagai sarana bagi masyarakat untuk berkumpul, mengeluarkan aspirasi, pendapat politik yang memungkinkan untuk membangun  negara, karena dalam sisitem politik di Indonesia partai politik telah ditempatkan sebgai salah satu pilar untuk menyangga demokrasi.Kata kunci : partai politik, pendidikan demokrasi AbstractA political party is an organized organization whose members have the same goal. In the political system, political parties are as a means of dissecting and conveying the aspirations of the community to the government, either in the form of support, complaints or demands. Political parties are used as a means of democratic education because political parties can be a means for people to gather, issue aspirations, political opinions that allow to build the country, because in the political system in Indonesia political parties have been placed as one of the pillars to support democracy. Keywords : political parties, democratic education 
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI Erisa Erisa
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3 No 2 (2019): 1 Juli - 31 Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.562 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1306

Abstract

AbstrakPendidikan kewarganegaraan adalah sebuah wahana studi untuk mengembangkan, melestarikan  nilai-nilai luhur serta moral yang berasal dari budaya para leluhur bangsa Indonesia. Pendidikan kewarganegaraan sebagai Pendidikan nilai berarti pendidikan kewarganegaraan memuat pendidikan nilai, agar masyarakat dapat memahami dan berperilaku sesuai dengan pedoman nilai yang ada. Pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan nilai akan mengantarkan warga negara  untuk menjadi warga negara yang baik dan cerdas yang ditandai dengan terwujudnya sebuah warga negara yang baik, cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab. Pendidikan nilai adalah suatu penanaman serta pengembangan nilai-nilai untuk dikembangkan dalam kehidupan. Tujuan adanya pendidikan nilai adalah membentuk karakter dengan materi yang berhubungan dengan moralitas, dan nilai-nilai dalam kehidupan. Pendidikan nilai yang dapat diajarkan oleh anak-anak adalah mengenai hal sopan-santun, disiplin, rajin dan lain sebagainya.Kata kunci : Pendidikan kewarganegaraan, pendidikan nilai, tujuan, contoh. AbstractCitizenship education is a vehicle for study to develop, preserve noble and moral values derived from the culture of the ancestors of the Indonesian nation. Citizenship education as value education means that citizenship education contains value education, so that the public can understand and behave in accordance with existing value guidelines. Citizenship education as a value education will lead citizens to become good and intelligent citizens characterized by the realization of a good, intelligent, participatory, and responsible citizen. Value education is an planting and development of values to be developed in life. The purpose of value education is to form characters with materials related to morality, and values in life. Value education that can be taught by children is about manners, discipline, diligentness and so on. Keywords: Citizenship education, value education, goals, examples.
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENDIDIKAN POLITIK Esti Mei Yahzinka
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3 No 2 (2019): 1 Juli - 31 Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.671 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1307

Abstract

AbstrakRiset ini disusun dengan tujuan mengetahui peran Pendidikan Kewarganegaraan apabila dikembangkan dengan ilmu Pendidikan Politik. Dasar dari Pendidikan Kewarganegaraan secara umum adalah untuk memberikan arahan dan petunjuk guna membuka wawasan seseorang dalam bernegara sesuai dengan hati nuraninya masing-masing, yang mana Pendidikan Kewarganegaraan tersebut sejalan dengan fungsi Pendidikan Politik yang erat kaitannya dengan proses pengendalian diri, mengambil keputusan, dan mengetahui konsekuensi atas dasar tujuan politik yang sudah diambil sebelumnya. Selain itu, Pendidikan Politik pun merupakan sesuatu yang krusial yang patut dilpelajari atas dalam rangka memperkokoh sikap demokratis waga negara, ikut andil dalam organisasi kemasyarakatan, serta menganalisis hambatan yang muncul dalam membangun sikap demokratis dalam masyarakat. Metode riset ini dilakukan dengan pengumpulan data menggunakan teknik metode kualitatif dimana lebih menjabarkan dari sudut pandang analisa, dimana dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan pendidikan kewarganegaraan merupakan sebagai pendidikan politik yang dimana segala landasan atau teori berpolitik terdapat didalam pendidikan kewarganegaraanKata kunci: Pendidikan politik, pendidikan kewarganegaraan, AbstractThis research was prepared with the aim of knowing the role of Citizenship Education when developed with the science of Political Education. The basis of Citizenship Education in general is to provide direction and guidance to open one's insights in the state in accordance with their own conscience, where citizenship education is in line with the function of Political Education that is closely related to the process of self-control, decision making, and knowing the consequences on the basis of political objectives that have been taken before. In addition, Political Education is also something crucial that should be studied in order to strengthen the democratic attitudes of the state, participate in community organizations, and analyze the obstacles that arise in building democratic attitudes in society. This research method is done by collecting data using qualitative method techniques which better describe from the point of view of analysis, where it can be concluded that the development of citizenship education is as a political education where all political foundations or theories are contained in citizenship educationKeywords: Political education, citizenship education,

Page 17 of 168 | Total Record : 1679