cover
Contact Name
Nasaruddin
Contact Email
nasarhb@gmail.com
Phone
+6285242574293
Journal Mail Official
jtajdid@gmail.com
Editorial Address
LP2M Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima, Gedung Lantai III, Jln. Anggrek No. 16 Ranggo NaE Kota Bima NTB, Telp. 0374-44646, Fax. 0373-45267
Location
Kota bima,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan
Published by IAI Muhammadiyah Bima
ISSN : 25498983     EISSN : 26146630     DOI : https://doi.org/10.52266/tadjid
TAJDID merupakan jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Frekuensi penerbitan dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun setiap bulan April dan Oktober oleh LP2M IAI Muhammadiyah Bima. TAJDID akan menyajikan ide-ide yang up to date disertai dengan solusi-solusi yang relevan seputar pemikiran keislaman dan kemanusiaan. Terlepas dari itu, secara tehknisnya bahwa TADJID hadir untuk mempermudah penulis, peneliti, mahasiswa, guru bahkan stakeholder lainnya yang berkepentingan akan teori-teori yang relevan yang dapat dijadikan sebagai bahan rujukan/referensi secara luas. TAJDID berkomitmen kuat akan selalu hadir sebagai solusi dalam konteks pengembangan keilmuan dibidang keagamaan dan kemanusiaan (sosial).
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2025): April" : 32 Documents clear
Analisis Term Al-Qur’an Al-Khabar, Al-Naba’ dan Al-Hadîs dalam Perspektif Literasi Informasi Hisyam, Muhmmad; Rahman, Arif
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 9 No 1 (2025): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v9i1.5339

Abstract

Penelitian ini membahas tiga istilah penting dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan konsep informasi, yaitu an-naba’, al-khabar, dan al-ḥadīṡ. Ketiganya memiliki makna dan fungsi yang berbeda, namun saling melengkapi dalam membangun kerangka literasi informasi Islami. An-naba’ merujuk pada kabar besar yang bersumber dari Allah dan pasti benar, sehingga menjadi dasar otoritatif dalam ajaran Islam. Al-khabar bermakna berita yang dapat benar atau salah, sehingga menuntut sikap kritis dan verifikasi (tabayyun) sebelum diterima atau disebarkan. Adapun al-ḥadīṡ lebih menekankan pada kebaruan informasi, baik berupa wahyu, percakapan, maupun kisah, yang menuntut perhatian dan keseriusan dalam menyikapinya. Relevansi ketiganya di era digital sangat signifikan: an-naba’ mengajarkan pentingnya menjadikan wahyu sebagai sumber kebenaran, al-khabar menuntun umat agar selektif dan kritis terhadap informasi, dan al-ḥadīṡ menegaskan pentingnya aktualitas informasi yang tetap berpijak pada kebenaran. Dengan demikian, integrasi ketiga istilah ini dapat menjadi paradigma literasi digital Islami yang menuntun umat menghadapi banjir informasi secara bijak, kritis, dan berorientasi pada kebenaran ilahiah.
RELASI SUAMI–ISTRI DALAM PENAFSIRAN QS AL-NISĀ’ [4]:34 DAN [4]:128: STUDI KOMPARATIF TAFSIR KLASIK DAN TAFSIR KONTEMPORER Syafruddin, Ahmad; Ismail, Hidayatullah
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 9 No 1 (2025): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v9i1.6056

Abstract

Relasi suami–istri dalam keluarga Muslim merupakan salah satu isu sentral dalam tafsir al-Qur’an, khususnya terkait konsep qawwamah dan nusyuz dalam QS al-Nisā’ [4]:34 dan [4]:128. Secara historis, ayat-ayat tersebut kerap dipahami sebagai legitimasi normatif atas kepemimpinan laki-laki dan ketaatan perempuan dalam rumah tangga. Namun, dalam konteks masyarakat Muslim kontemporer, pembacaan literal terhadap tafsir klasik yang lahir dari lingkungan patriarkal memunculkan persoalan keadilan relasional serta berpotensi melegitimasi relasi hierarkis dan kekerasan domestik. Artikel ini bertujuan menganalisis secara komparatif tafsir klasik dan tafsir kontemporer mengenai relasi suami–istri dengan menyoroti perbedaan asumsi epistemologis, metode penafsiran, dan implikasi hermeneutiknya. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-komparatif, menggunakan tafsir al-Ṭabarī dan Fakhr al-Dīn al-Rāzī sebagai representasi tafsir klasik, serta Amina Wadud dan M. Quraish Shihab sebagai representasi tafsir kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa tafsir klasik cenderung memposisikan qawwamah sebagai otoritas kepemimpinan laki-laki dan nusyuz sebagai pembangkangan istri dalam kerangka hukum normatif. Sebaliknya, tafsir kontemporer menafsirkan qawwamah sebagai amanah fungsional berbasis tanggung jawab dan keadilan, serta memahami nusyuz sebagai pelanggaran relasi yang dapat dilakukan oleh kedua pihak. Temuan ini menegaskan adanya pergeseran paradigma tafsir menuju model etis-fungsional yang menekankan kemitraan dan keadilan dalam keluarga Muslim.

Page 4 of 4 | Total Record : 32