cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "No. 5 (2009): IMAJI" : 6 Documents clear
Implementasi Ruang Kosmis Jawa dalam Mise-en-Scene Rembulan dan Matahari Karya Ki Slamet Rahardjo Djarot Gunawan, Eric
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tentu kita semua setuju bahwa film merupakan bagian dari budaya, dan keberadaan film tidak terpisahkan dari budaya. Namun, hanya sebagian yang akan mendukung apabila dikatakan bahwa sejarah menggema pada film. bahkan seluruh beban masa lalu dibenamkan pada teks film. Mereka yang mendukung adalah yang melihat bentuk-bentuk pada dirinya sendiri sudah mengandung sejarah, sedangkan yang tidak setuju adalah mereka yang mempersempit sejarah sebatas konteks dan materi sejarah yang berhubungan dengan style. Pendukung pendapat pertama memahami referential meaning yakni makna yang tersurat pada film, dalam ruang lingkup tidak dapat dipisahkan antara sejarah dan komunitas interpretasinya mengingat style, ideologi. filosofi dan sejarah adalah hubungan yang berbaur. Oleh sebab itu. explicit. implicit dan symptomatic dipahami sebagai lapisan yang saling berkaitan dalam proses pemaknaan. Sedangkan, bagi pendukung paham kedua. makna di luar referential tidak dianggap perlu keberadaannya, jika pun ternyata ada maknanya dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan sebab telah lepas dari apa yang tersurat pada teks. Maka, mereka melihat explicit, implicit, dan symptomatic hanya sebatas salah satu kemungkinan tipe pemaknaan, dan sama sekali tidak berkaitan.
Kritik Atas Konsep Film sebagai Bahasa Visual Ariansah, Mohamad
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat kecenderungan umum bahwa sebuah usaha untuk mengklaim film sebagai sebuah seni menuntut eksistensi dari cara bertutur yang khas dalam berekspresi. Dari sinilah maka konsep bahasa/film menjadi syarat mutlak untuk ditawarkan sebagai sesuatu yang unik hasil kontemplasi para senimannya. Tapi seandainya konsep berekspresi tersebut justru mempersempit potensi yang mungkin dicapai oleh mediumnya maka seni tersebut tidak akan berkembang. Malah menjadikan setiap tawaran estetik bam akan mandek, karena paradigma lama berubah menjadi doktrin yang tidak bisa dikritisi walaupun ia lahir dari kesalahan sejarah semata. Padahal bahasa film tidak harus melayani naratif dan mengikuti model seperti seni lukis yang berorientasi pada imaji semata.
Mencari Bentuk Estetika Film Nasional melalui Wayang dalam Relief Candi-candi di Jawa Prakosa, Gotot
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Asia the concept of projecting moving pictures has been understood for at least a thousand years. The shadow theater so popular in those cultures conjured up gods and heroes, animals from fables, and demons on a screen and porta,ved them in various adventures. The earliest remnants of shadow' play were discovered in China and in Indonesia and stem from the 11 century. Two dimensional filigree figures were cut from tanned animal skins and artistically painted in color. The shadow players manipulated the chosen figure’s movable limbs with rods right up against the back of a screen of paper or silk. The light from an oil lamp illuminated the figure in such a way that the viewers could even enjoy the moving shadows in color. Especially in Indonesia, the shadow play Wayang Kulit is still popular today, and utilizes black silhouette figures and three-dimensional dolls along with the traditional audiences, ever mindful of tradition, still envision engineering the actual spirits of their ancestors in the moving enterplay of light and dark. This article tries to connect wav say wayang in comparison study with story film.
Adakah Bahasa Visual 'Baru' dalam Sinema Indonesia? Kusumaryati, Veronika
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apakah teknologi baru menghasilkan bahasa visual baru? Apakah teknologi berpengaruh pada bentuk bahasa film yang diciptakan? Pertanyaan-pertanyaan ini banyak beredar dalam pembacaan terhadap kemunculan bahasa visual 'baru' di sinema Indonesia pasca-Kuldesak. Kehadiran bahasa visual baru, bagi banyak orang, dipercaya merupakan hasil dari perkembangan dan pengenalan teknologi baru dalam proses produksi sinema. Kepercayaan ini mendapat pembenaran dari teori teori klasik macam Andre Bazin dan Jean Mitry tetapi kemudian mendapat tantangan dari pembacaan fenomena baru dari ahli-ahli macam Guy Debord dan Jonathan L. Belief: Artikel ini berkehendak menghadirkan perdebatan teknologi dan produksi citraan dalam sinema Indonesia dengan mengacu pada perdebatan sejarah sinema dan teknologi.
Semi-Dokumenter Bukan Dokumenter? Ayawaila, Gerzon R.
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah pernyataan yang mungkin terlalu lemah jika Dinyatakan bahwa semi-dokumenter bukan dokumenter. Apa dasar argumentasinya untuk menyatakan bahwa dokumenter adalah dokumenter, tanpa menambahkan embel-embel 'semi'. Sebagian berpendapat bahwa apabila dokumenter ditambahi dengan kata 'semi', maka aspek validitas, orisinalitas atau autentisitas Jari peristiwa yang direkam bisa menjadi kabur. Argumentasinya aJalah film dokumenter yang ditambahi dengan kata 'semi', biasanya bertujuan propaganda, baik dengan tujuan positif maupun negatif. Kemurnian dokumenter ketika ditambah dengan kata 'semi' maka makna kata ini seakan memberi sebuah ruang tambahan yang abu-abu, dimana dengan leluasa ruang abu-abu ini dapat direkayasa atau manipulasi dengan memberi ilustrasi pada konteks, yang batasannya samar bagi penilaian normatif. Apakah hal ini masih perlu diperdebatkan atau dipermasalahkan?
Membaca Komik, Menonton Film Ajidarma, Seno Gumira
IMAJI No. 5 (2009): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adaptasi komik menjadi film semakin menggejala, dan melahirkan film-film box-office. Benarkah terhadap gambar-gambar komik lebih mudah dilakukan adaptasi daripada sumber-sumber gagasan dari medium lain? Instrumen bahasa komik dan film sebetulnya sangat berbeda, meski saling pengaruh ternyata memang ada. Peran pembaca penonton juga sangat menentukan-ketika para tokoh superhero komik telah menjadi bagian dari mitologi masa kini.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue