cover
Contact Name
Luluk Ulfa Hanasah
Contact Email
jurnalmezurashii@untag-sby.ac.id
Phone
+6287712411600
Journal Mail Official
jurnalmezurashii@untag-sby.ac.id
Editorial Address
Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Jl. Semolowaru No. 45 Surabaya Phone 0315931800 (Ext 89)
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Mezurashii: Journal of Japanese Studies
ISSN : 27220567     EISSN : 27220567     DOI : https://doi.org/10.30996/mezurashii
Mezurashii: Journal of Japanese Studies is a biannual peer-reviewed, open-access journal published by the Faculty of Cultural Science, University of 17 Agustus 1945 Surabaya. The journal encourages original articles on various issues within Japanese Studies, which include but are not limited to linguistics, literature, and culture. Mezurashii: Journal of Japanese Studies accepts to publish a balanced composition of high-quality theoretical or empirical research articles, comparative studies, case studies, review papers, exploratory papers, and book reviews. All accepted manuscripts will be published either online and in printed journal.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2019)" : 6 Documents clear
ANALISIS IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM DORAMA DORAEMON THE MOVIE “STANDBY ME” (KAJIAN PRAGMATIK) Dewi Nur Rofi'ah; Endang Poerbowati
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v1i1.3225

Abstract

Abstrak: Dalam penelitian ini akan ditelaah tentang implikatur percakapan berdasarkan pada drama komik.  Hal ini dikarenakan bahasa yang digunakan dalam komik adalah bahasa yang dipakai sehari-hari. Oleh karena itu, penulis ingin menelaah implikatur percakapan berdasarkan pada dorSama Doraemon The Movie “Standby me”. Dalam penelitian ini penulis memfokuskan pada dua rumusan  masalah. Pertama, apa saja jenis-jenis implikatur percakapan yang terdapat dalam dorama Doraemon  The Movie ”Standby me”? kedua, bagaimanakah  pelanggaran maksim yang terdapat di dalam implikatur percakapan dorama Doraemon  The Movie ”Standby me”? Penelitian ini  menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini penulis menemukan 3 jenis implikatur percakapan diantaranya adalah implikatur percakapan umum, berskala dan khusus. Dan ada 4 pelanggaran maksim yaitu maksim cara, maksim kualitas, maksim relevansi dan  maksim kuantitas.Kata kunci: Implikatur, Percakapan, Doraemon, Pragmatik Abstract: In this research, we will examine the conversational implicature based on comic drama. This is because the language used in comics is the language used daily. Therefore, the author would like to examine the implications of conversations based on dorSama Doraemon The Movie "Standby me". In this study the authors focus on two problem formulations. First, what are the types of conversational implicature in Doraemon The Movie's drama "Standby me"? second, how is the maxim violation contained in Doraemon The Movie's speech implications "Standby me"? This study used descriptive qualitative method. The results of this study the authors found 3 types of conversational implicature include general, scale and special conversational implicature. And there are 4 violations of the maxim that is the maxim of the way, the quality of the maxim, the maxim of relevance and the maxim of the quantity.Keywords: Implicature, Conversation, Doraemon, Pragmatics
JURNAL MEZURASHII 1(1) JANUARI 2019 Jurnal Mezurashii
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v1i1.3233

Abstract

-
ANALISIS LOKUSI ILOKUSI PERLOKUSI DALAM DRAMA KOE KOI Steven Pramudita Putra; Cuk Yuana
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v1i1.3226

Abstract

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis lokusi, ilokusi, dan perlokusi dalam kehidupan sehari-hari melalui drama koe koi, dan mendeskripsikan dan menjelaskan fungsi dan jenis tindak tutur. Data diambil dari drama jepang Koe Koi episode 1,2,8,9,11,12 dari 12 episode. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu menentukan tokoh yang dijadikan subjek penelitian, mengambil dan memilah data berupa dialog dalam dorama, fungsi dan jenis tindak tutur.Drama serial tv berjudul “Koe Koi” ditayangkan berseri 8 Juli sampai 30 September 2016 oleh stasiun televisi Tokyo. Menceritakan tentang yoshioka yang jatuh cinta pada matsubara tanpa melihat wajahnya. Hasil analisis dari fungsi tindak tutur yaitu terdapat 9 fungsi diantaranya yaitu: a) fungsi referensial, fungsi metalinguitik kedua fungsi tersebut merupakan fungsi lokusi, b) fungsi kompetitif, fungsi konvivial, fungsi kolaboratif, dan fungsi konfliktif keempat fungsi tersebut merupakan fungsi ilokusi, c) fungsi emotif, fungsi konatif, dan fungsi fatik ketiga fungsi tersebut merupakan fungsi perlokusi. Sedangkan menurut jenisnya terdapat 3 jenis tindak tutur yaitu : lokusi, ilokusi, dan perlokusi.Kata kunci: Tindak Tutur, Jenis Tindak Tutur, Fungsi Tindak Tutur. Abstract: The purpose of this study is to describe and analyze locution, illocution, and percussion in daily life through the drama of Koe Koi, and to describe and explain the functions and types of speech acts. Data is taken from Japanese drama Koe Koi episodes 1,2,8,9,11,12 from 12 episodes. The research method used is a qualitative method. The steps taken in this research are determining the figures used as research subjects, taking and sorting data in the form of dialogue in drama, functions and types of speech acts. Tokyo. Tells about Yoshioka who fell in love with Matsubara without seeing his face. The results of the analysis of speech acts are 9 functions including: a) referential functions, metalinguitic functions of the two functions are locus functions, b) competitive functions, convivial functions, collaborative functions, and conflictive functions of the four functions are illocutionary functions, c) emotive function, conative function, and fatigue function of the three functions are functions of perlokusi. Whereas according to the type there are 3 types of speech acts namely: locution, illocution, and perlocution.Keywords: Speech Act, Type of Speech Act, Speech Act.
MAKNA KANYOUKU ME (MATA) DALAM NOVEL KOIZORA KARYA MIKA Okta Pratiwi Wijayanto Sujarwo; Umul Khasanah
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v1i1.3227

Abstract

Abstrak: Dalam berkomunikasi, masyarakat Jepang banyak menggunakan idiom. Idiom dalam bahasa Jepang disebut dengan Kanyouku. Menurut Sakata (1995:214) kanyouku adalah gabungan dua kata atau lebih yang maknanya dapat bermacam-macam, menerangkan arti masing-masing secara keseluruhan. Kurashina (2008: 3) menyatakan bahwa dalam Bahasa Jepang, idiom yang merujuk pada anggota badan ada banyak jumlahnya. Namun selain anggota badan, terdapat juga penggunaan idiom yang merujuk pada unsur hewan atau makanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kanyouku yang menggunakan kata me (mata) yang terdapat di dalam novel Koizora karya Mika. Metode yang digunakan untuk menganalisis data ialah metode deskriptif yang digunakan untuk menjelaskan makna leksikal dan makna idiom dari kanyouku yang menggunakan katame (mata) sehingga dapat diketahui makna darime (mata) dalam kanyouku tersebut. Dari 18 data kanyouku me (mata) yang dianalisis terdapat 6 kanyouku yang memiliki makna mata terbuka dan melihat, 1 kanyouku yang memiliki makna anggota tubuh yang mengecil mengekspresikan tersenyum, 2 kanyouku yang memiliki makna alat yang digunakan untuk menggambarkan suatu kejadian yang sudah diketahui atau sudah pernah terjadi, 1 kanyouku yang memiliki makna anggota tubuh yang digunakan untuk mengekspresikan kebahagiaan serta 8 kanyouku yang memiliki makna penglihatan atau pandangan.Kata kunci: Makna, Idiom (Kanyouku), Mata, Novel Abstract: In communicating, Japanese people use idioms a lot. Idioms in Japanese are called Kanyouku. According to Sakata (1995: 214) kanyouku is a combination of two or more words whose meanings can vary, explaining the meaning of each as a whole. Kurashina (2008: 3) states that in Japanese, there are many idioms that refer to limbs. But in addition to limbs, there is also the use of idioms that refer to elements of animals or food. This research uses a qualitative approach. The data used in this study is the kanyouku that uses the word me (eye) contained in Mika's Koizora novel. The method used to analyze the data is a descriptive method used to explain the lexical meaning and idiom meaning of kanyouku using katame (eyes) so that the meaning of darime (eyes) can be known in the kanyouku. From 18 data of kanyouku me (eyes) analyzed, there are 6 kanyouku that have the meaning of eyes open and seeing, 1 kanyouku which has a meaning of a shrinking body expressing a smile, 2 kanyouku which have meaning tools that are used to describe an event that is known or already ever happened, 1 kanyouku which has a meaning of a limb used to express happiness and 8 kanyouku which has a meaning of vision or sight.Keywords: Meaning, Idiom (Kanyouku), Eyes, Novels
PERBANDINGAN AOMORI NEBUTA MATSURI DENGAN PERAYAAN OGOH-OGOH DI BALI Sri Mistiana Dewi; Eva Amalijah
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v1i1.3228

Abstract

Abstrak: Setiap Negara memiliki bermacam-macam kebudayaan, diantaranya Jepang dan Indonesia.  Di Jepang memiliki perayaan yang bernama Aomori Nebuta Matsuri, dan perayaan tersebut memiliki kesamaan dengan perayaan yang ada di Indonesia yaitu perayaan Ogoh-Ogoh. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah perbandingan dari kedua perayaan tersebut, yaitu Aomori Nebuta Matsuri dan perayaan Ogoh-Ogoh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan Aomori Nebuta Matsuri dengan perayaan Ogoh-Ogoh. Dari perbandingan tersebut penulis akan membahas tentang perbedaan dan persamaan Aomori Nebuta Matsuri dengan perayaan Ogoh-Ogoh di Bali, baik dari segi boneka, sistem perayaan, dan makna kedua perayaan. Penelitian?ini menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah aomori nebuta matsuri ialah sebuah perayaan yang diselenggarakan untuk mengusir roh jahat dan membuat sebuah arak-arakan sambil membawa boneka raksasa. Boneka raksasa tersebut terbuat dari kertas dan berupa lampion. Kemudian, dihanyutkan ke sungai. Sedangkan ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang berbentuk Bhuta Kala, boneka tersebut juga terbuat dari kertas, yang akan diarak mengelilingi desa. Setelah itu, boneka raksasa tersebut dibakar. Kedua perayaan tersebut memiliki makna yang sama yaitu untuk menghalau nasib buruk.Kata kunci: Aomori Nebuta Matsuri, Ogoh-Ogoh, boneka raksasa, menghalau nasib buruk. Abstract: Every country has a variety of cultures, including Japan and Indonesia. In Japan there is a celebration called Aomori Nebuta Matsuri, and the celebration has similarities with celebrations in Indonesia, the Ogoh-Ogoh celebration. The formulation of the problem in this study is the comparison of the two celebrations, namely Aomori Nebuta Matsuri and Ogoh-Ogoh celebration. The purpose of this study was to determine the comparison of Aomori Nebuta Matsuri with the Ogoh-Ogoh celebration. From this comparison the writer will discuss the differences and similarities of Aomori Nebuta Matsuri with the Ogoh-Ogoh celebration in Bali, both in terms of puppets, a system of celebrations, and the significance of both celebrations. This research uses descriptive analysis method. The results of this study are aomori nebuta matsuri is a celebration held to ward off evil spirits and make a procession while carrying giant puppets. The giant doll is made of paper and in the form of lanterns. Then, washed into the river. While ogoh-ogoh is a giant doll in the form of Bhuta Kala, the doll is also made of paper, which will be paraded around the village. After that, the giant doll was burned. Both celebrations have the same meaning which is to dispel bad luck.Keywords: Aomori Nebuta Matsuri, Ogoh-Ogoh, giant puppet, dispel bad luck.
PERILAKU DANSOU PADA MEMBER FUDANJUKU NI DANSOU NO SEIKAKU Rachmah Anugerah Wati; Novi Andari
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v1i1.3229

Abstract

Abstrak: Budaya bagaikan sebuah keajaiban yang akan terus ada bersama dengan masyarakat. Di Jepang, budaya tradisional dan budaya modern berjalan beriringan. Salah satu fenomena budaya modern atau budaya populer di Jepang adalah Dansou. Dansou adalah istilah untuk perempuan yang mengenakan pakaian serta bertingkah laku seperti laki-laki. Saat ini fenomena tersebut sudah terlihat cukup lumrah di kalangan masyarakat. Apalagi ditambah dengan budaya populer yang terus mengikuti perkembangan jaman. Penelitian ini bertujuan untuk menambahkan wawasan mengenai dansou yang dilakukan oleh salah satu idol group bernama Fudanjuku. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk menganalisis perubahan perilaku dan faktor yang melatar belakangi Fudanjuku untuk ber-dansou. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dansou yang dilakukan oleh Fudanjuku. Sumber data adalah artikel berita baik tertulis maupun yang berbentuk video. Hasil penelitian ini adalah perubahan perilaku yang dilakukan oleh Fudanjuku merupakan perubahan yang disengaja guna untuk terus berada di dunia hiburan Jepang, dansou yang dilakukan oleh Fudanjuku merupakan terobosan terbaru dalam budaya populer yang ada di Jepang khususnya dalam bidang musik (idol group), dansou yang dilakukan dalam jangka waktu lama akan menimbulkan perubahan perilaku yang sedikit mencolok sehingga menyebabkan sisi maskulin pada perempuan akan bertambah. Kemudian faktor yang melatar belakangi Fudanjuku untuk ber-dansou disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Dimana kedua faktor tersebut dapat dibilang sama rata. Seperti faktor bakat, kepribadian, kebudayaan maupun sosial ekonomi.Kata kunci: budaya populer, psikologi kepribadian, dansou, idol group Abstract: Culture is like a miracle that will continue to exist with the community. In Japan, traditional culture and modern culture go hand in hand. One of the phenomena of modern culture or popular culture in Japan is Dansou. Dansou is a term for women who wear clothes and behave like men. At present this phenomenon is already quite common among the people. Moreover, coupled with popular culture that continues to follow the development of the era. This study aims to add insight into dansou conducted by one idol group named Fudanjuku. The research method used is descriptive qualitative to analyze changes in behavior and factors underlying Fudanjuku for dansou. The data used in this study are dansou conducted by Fudanjuku. Data sources are both written and video news articles. The results of this study are the behavioral changes made by Fudanjuku are intentional changes in order to continue to be in the Japanese entertainment world, dansou made by Fudanjuku is the latest breakthrough in popular culture in Japan, especially in the field of music (idol group), dansou made in the long run will lead to changes in behavior that are a bit striking, causing the masculine side in women will increase. Then the factors behind Fudanjuku's background for dansou are caused by internal and external factors. Where the two factors can be considered equally. Such as talent, personality, culture and socio-economic factors.Keywords: popular culture, personality psychology, dansou, idol group

Page 1 of 1 | Total Record : 6