cover
Contact Name
Kuntoro
Contact Email
metafora@ump.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
metafora@ump.ac.id
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan, PO BOX 202, Purwokerto 53182 Kembaran, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra
ISSN : 24072400     EISSN : 27766020     DOI : http://dx.doi.org/10.30595/metafora
Core Subject : Education,
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra menyediakan forum untuk menerbitkan artikel dan laporan penelitian yang berfokus pada bidang: 1. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Kajian Linguistik Bahasa Indonesia 3. Kajian Sastra Indonesia
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2016): METAFORA" : 9 Documents clear
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERPENDEKATAN SAINTIFIK: KETERAMPILAN GURU MAPEL BAHASA INDONESIA Aryani Purnama; Markhamah Markhamah; Harun Joko Prayitno
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.164

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan keterampilan guru dalam pembelajaran berpendekatan saintifik. Karenanya, penelitian termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah guru bahasa Indonesia salah satu SMA di Kabupaten Semarang. Sumber data penelitian adalah perilaku guru dan peserta didik dalam pembelajaran. Data diperoleh melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dokumentasi dalam video dan gambar. Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data (data collection), reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan penarikan simpulan atau verifikasi (conclutions). Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam pembelajaran berpendekatan saintifik bervariasi. Variasi meliputi: (1) pelaksanaan pembelajaran dengan langkah 5M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan) yang diselingi penjelasan, (2) pembelajaran 5M yang diawali penjelasan, dan (3) pembelajaran 5M dengan dipandu tanya jawab. Dari ketiga variasi tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep penalaran induktif dan berbasis keilmuan yang merupakan dasar pendekatan saintifik belum sepenuhnya terimplementasi dalam pembelajaran. Kata kunci: keterampilan guru, pendekatan saintifik
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI PADA SISWA SEKOLAH DASAR Daryanto, Daryanto
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.160

Abstract

Abstrak: Pembelajaran kontekstual merupakan strategi yang diarahkan kepada upaya membantu atau menginspirasi siswa melalui proses pengaitan suatu standar kompetensi dengan situasi dunia nyata. Proses yang dapat dikembangkan adalah melalui dorongan kea rah perkembangan pengalaman baru dengan cara memadukan antara pengetahuan dengan penerapan di dalam kehidupan siswa. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui efektivitas penggunaan model kontekstual dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa kelas 5 SD Negeri I Kedungmenjangan Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan lokasi penelitian SD Negeri I Kedungmenjangan dengan jumlah sampel 32 siswa kelompok eksperimen dan 30 siswa kelompok kontrol. Analisis data penelitian menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kontekstual efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi (t hitung = 17,566 > t tabel 1,696). Model pembelajaran kontekstual lebih efektif dibandingkan dengan model konvensional dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi (t hitung = 9,528 > t tabel = 1,671). Rata-rata peningkatan nilai kelompok eksperimen yang menggunaan model pembelajaran kontekstual sebesar 22,66, sedangkan rata-rata kenaikan nilai kelompok kontrol dengan konvensional sebesar 7,13.Kesimpulan penelitian ini adalah model kontekstual efektif dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas 5 SD Negeri I Kedungmenjangan Purbalingga. Saran peneliti adalah guru sebaiknya menggunakan model kontekstual dalam kegiatan pembelajaran menulis puisi. Kata kunci: model kontekstual, kemampuan menulis puisi
PENGARUH IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS PESERTA DIDIK Soekristianti Edi Siswati
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.165

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh implementasi pembelajaran berbasis masalah terhadap keterampilan membaca dan menulis peserta didik. Populasi ini adalah peserta didik kelas XI Akuntansi SMK Negeri 1 Purwokerto berjumlah 110 orang. Penentuan sampel menggunakan teknik random sampling. Random sampling di sini digunakan untuk memilih kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, yang menghasilkan kelas XI Akuntansi 2 sebagai kelompok kontrol dan kelas XI Akuntansi 1 sebagai kelompok eksperimen. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu, dengan desain non-equivalent grup pre-test-post-test design. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes. Analisis data menggunakan metode statistik dengan uji normalitas, homogenitas dan uji paired t-test dan uji independen t test. Berdasarkan uji paired t tes analisis dengan taraf signifikasi ᾳ= 0,025, diketahui implementasi pembelajaran berbasis masalah memiliki efektivitas dalam peningkatan nilai rata-rata kelas pada keterampilan membaca, terbukti dari hasil t hitung (2,732) > t tabel (2,048) dan selisih nilai rata-rata post-test membaca kelompok eksperimen (81,89) dengan kelompok kontrol (81,03) sebesar 0,86. Sedangkan berdasarkan uji independent sampel t-test dengan taraf signifikasi α = 0,025, t hitung 0,147 < t tabel (2,048) memberi arti bahwa implementasi pembelajaran berbasis masalah tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar membaca. Berdasarkan uji paired t-test dengan taraf signifikasi α = 0,025, diketahui implementasi pembelajaran berbasis masalah memiliki efektivitas dalam peningkatan nilai rata-rata kelas pada keterampilan menulis, terbukti dari hasil uji paired t-test hitung (15,573) > t tabel (2,048) dan selisih nilai rata-rata post-test menulis kelompok eksperimen (87,069) dengan kelompok kontrol (84,8276) sebesar 2,2414. Sedangkan berdasarkan uji independent sampel t-test dengan taraf signifikasi α = 0,025,t hitung 1,346 < t tabel (2,048) memberi arti bahwa implementasi pembelajaran berbasis masalah tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan hasil belajar menulis. Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI PADA SISWA SEKOLAH DASAR Darsiyam Darsiyam
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.161

Abstract

Abstrak: Pembelajaran kontekstual merupakan strategi yang diarahkan kepada upaya membantu atau menginspirasi siswa melalui proses pengaitan suatu standar kompetensi dengan situasi dunia nyata. Proses yang dapat dikembangkan adalah melalui dorongan kea rah perkembangan pengalaman baru dengan cara memadukan antara pengetahuan dengan penerapan di dalam kehidupan siswa. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui efektivitas penggunaan model kontekstual dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa kelas 5 SD Negeri I Kedungmenjangan Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan lokasi penelitian SD Negeri I Kedungmenjangan dengan jumlah sampel 32 siswa kelompok eksperimen dan 30 siswa kelompok kontrol. Analisis data penelitian menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kontekstual efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi (t hitung = 17,566 > t tabel 1,696). Model pembelajaran kontekstual lebih efektif dibandingkan dengan model konvensional dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi (t hitung = 9,528 > t tabel = 1,671). Rata-rata peningkatan nilai kelompok eksperimen yang menggunaan model pembelajaran kontekstual sebesar 22,66, sedangkan rata-rata kenaikan nilai kelompok kontrol dengan konvensional sebesar 7,13.Kesimpulan penelitian ini adalah model kontekstual efektif dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas 5 SD Negeri I Kedungmenjangan Purbalingga. Saran peneliti adalah guru sebaiknya menggunakan model kontekstual dalam kegiatan pembelajaran menulis puisi. Kata kunci: model kontekstual, kemampuan menulis puisi
PEMARTABATAN DAN PEMBERADABAN BANGSA MELALUI BAHASA DAN SASTRA Suminto A. Sayuti
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.166

Abstract

Abstrak: Bahasa dan sastra sebagai bagian kebudayaan merupakan faktor penting dalam upaya pemartabatan dan pemberadaban bangsa. Jalan kebudayaan adalah jalan untuk membangun sikap mental dan kesadaran. Hubungan antara individu dan masyarakatnya merupakan hubungan yang resiprokal sehingga secara historis dan sistemis tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam konteks yang berbasis mutualitas inilah persoalan nilai-nilai budaya dalam pendidikan bahasa dan sastra menjadi benar-benar tampak, dan penting untuk diimplementasikan karena kebudayaan merupakan lahan dan habitat utama bagi tumbuhnya identitas dan kepribadian. Kebudayaan memerlukan upaya “pelestarian” melalui pendidikan, yakni pendidikan yang memberikan pencerahan terhadap pentingnya nilai budaya, baik dalam sifatnya yang preservatif maupun progresif. Penyelenggaraan pendidikan tanpa wawasan budaya meniscayakan terasingnya individu yang terlibat di dalamnya dari nilai-nilai. Sementara itu, tanpa para pendukung yang sadar dan terdidik, fungsi kebudayaan sebagai sumber nilai lama kelamaan akan hilang. Itulah pentingnya hubungan (baca: kesadaran) resiprokal, yang tanpanya, pendidikan sangat mungkin dijadikan modal kuasa demi kepentingan tertentu secara hegemonik melalui pengaturan institusional. Hubungan antara pendidikan dan kebudayaan dapat diibaratkan sebagai hubungan antara akar dan pohonnya: akar pendidikan adalah nilai-nilai budaya, tetapi sumber-sumber eksternal yang relevan dan berguna untuk tumbuh keluar pun tetap diserap sebagai asupan. Pendidikan menjadi sebuah upaya mengidentifikasi, menyusun, memetakan, dan merefleksikan problem dan konflik kemanusiaan, yang kemudian diikuti oleh serangkaian proyek eksistensial untuk memecahkannya secara terus-menerus. Konseptualisasi wawasan budaya dalam pendidikan sebagai jalan menuju terbangunnya genre pendidikan bahasa dan sastra yang khas sekaligus mengisyaratkan pentingnya pendekatan multikultural dalam pelaksanaannya. Semua itu dapat terlaksana apabila materi bahasa dan sastra dalam proses pendidikan dan pembelajaran diperhitungkan sebagai “rumah” pengalaman kemanusiaan kita. Dalam dan melalui proses semacam itu, kita “merumahkan” pengalaman-pengalaman kita yang tidak pernah singular. Implikasi dan implementasi pendidikan seperti dikemukakan, hakikatnya merupakan upaya menyiapkan dan membentuk sebuah masyarakat yang keberlangsungannya didasarkan pada prinsip-prinsip etika dan moral. Dengan kata lain, pembelajaran bermakna harus diciptakan dan dirancang secara kreatif di berbagai tingkat satuan pendidikan, sehingga memungkinkan terjadi interaksi dan negosiasi untuk penciptaan arti dan konstruksi makna dalam diri setiap siswa dan guru. Wawasan budaya dalam praksis pendidikan adalah jalan pertama dan utama, apalagi jika kebudayaan disadari sebagai kerja perencanaan manusia berikut tindakan nyatanya demi kemakmuran bersama. Kata Kunci: pendidikan, bahasa, kebudayaan
JENIS DAN FUNGSI METAFORA DALAM NOVEL ANAK BAJANG MENGGIRING ANGIN KARYA SINDHUNATA: SEBUAH ANALISIS DEKONSTRUKSI PAUL DE MAN Sri Utorowati; Sukristanto Sukristanto
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.1097

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan jenis metafora yang terdapat dalam novel Anak Bajang Menggiring Angin, dan (2) mendeskripsikan fungsi metafora, Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan stilistika. Pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan dan pencatatan secara teliti dan cermat terhadap sumber data utama. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan segenap kemampuan dan pengetahuannya tentang stilistika. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis isi yang bersifat deskriptif, karena data pada penelitian ini adalah teks karya sastra. Pendeskripsian yang dilakukan lebih bersifat deskriptif interpretatif. Hasil penelitian ini adalah jenis metafora yang terdapat dalam novel ABMA meliputi (1) metafora kategori keadaan 40,74%, (2) kosmos 20,37%, (3) energi 9,26%, (4) substansi 1,85%, (5) terestrial 11,11%, (6) objek 3,71%, (7) kehidupan 1,85%, (8) bernyawa 9,26%, dan (9) manusia 1,85%. Metafora yang dominan adalah metafora kategori keadaan. Fungsi metafora meliputi: (1) fungsi puitik, mengandung pesan: tanggung jawab orang tua kepada anak, kerukunan hidup, jangan putus asa, jangan sombong, selalu waspada dan penuh keyakinan, menjaga ketenteraman lingkungan, nilai kesucian dan kesetian, cinta tanah air, jangan mengumbar hawa nafsu, dan kejahatan kalah oleh kebenaran. (2) fungsi emotif, menggunakan sarana retorika: repetisi, pertanyaan retoris, ironi, asindeton, polisindeton, dan antitesis.
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI MENYUNTING KARANGAN MELALUI MODEL KEPALA BERNOMOR STRUKTUR Harni Iswati
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.162

Abstract

Abstrak: Penelitian ini berjudul Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Menyunting Karangan Model Kepala Bernomor Struktur, Siswa Kelas IX-G SMP Negeri 3 Gombong, Kabupaten Kebumen Tahun Pelajaran 2015/2016. Adapun masalah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah (1) Apakah aktivitas belajar bahasa Indonesia materi menyunting karangan, siswa kelas IX-G SMP Negeri 3 Gombong dapat ditingkatkan melalui model kepala bernomor struktur?(2)Bagaimanakah peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia materi menyunting karangan, siswa kelas IX-G SMP Negeri 3 Gombong melalui model kepala bernomor struktur? Adapun penelitian ini bertujuan untuk (1) meningkatkan aktivitas belajar bahasa Indonesia materi menyunting karangan siswa kelas IX-G SMP Negeri 3 Gombong melalui model kepala bernomor struktur.(2) meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia materi menyunting karangan, siswa kelas IX-G SMP Negeri 3 Gombong, melalui model kepala bernomor struktur. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Gombong, Kabupaten Kebumen, pada bulan Agustus, September, dan Oktober 2015. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan dua siklus perbaikan pembelajaran. Subjek penelitian adalah siswa kelas IX-G SMP Negeri 3 Gombong yang berjumlah 32 orang siswa, dengan rincian 16 orang siswa laki-laki dan 16 orang siswa perempuan. Instrumen untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi keaktivan belajar siswa dan hasil belajar siswa berupa menyunting karangan. Hasil penelitian menunjukkkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa yang meliputi keaktifan belajar siswa dari siklus I sebanyak 53% menjadi 91% pada siklus II. Peningkatan tanggung jawab siswa pada siklus I sebanyak 53% menjadi 81%. Peningkatan antusiasme siswa pada siklus I sebanyak 63%, pada siklus II sebanyak 88%. Sedangkan untuk peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I sebanyak 75%, siklus II sebanyak 94%. Temuan ini mengandung implikasi bahwa guru diharapkan dapat menerapkan model yang tepat dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil dan kualitas pembelajaran. Kata kunci: aktivitas belajar, hasil belajar, menyunting karangan, Model Kepala Bernomor Struktur.
BAHASA, ETIKA, DAN PEMARTABATAN BANGSA Suratno, Pardi
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.167

Abstract

Abstrak: Bahasa diyakini sebagai media atau alat komunikasi sekaligus alat atau sarana berpikir dan perekat komunikasi antar suku dan atau antar negara. Selain itu bahasa juga merupakan identitas masyarakat/bangsa dan wadah kebudayaan sekaligus sebagai media pewarisan kebudayaan. Pada saat yang sama, bahasa merupakan produk budaya. Sejak lama bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa berkebudayaan tinggi. Karya sastra seperti La Galigo, Negerakertagama, Baratayuda, HangTuah, Sejarah Melayu, dan Serat Centhini membuktikan kemajuan pengetahuan dan kecerdasan bangsa Indonesia dan mewadahi peradaban sekaligus pemakaian bahasa yang lahir dari budaya tinggi. Bahasa selalu terkait dan harus dikaitkan dengan dinamika perubahan masyarakat dan bangsa. Representasi bahasa juga mengacu terhadap tinggi dan rendahnya budaya sebuah bangsa. Jadi, dari segi bahasa, tinggi-rendahnya budi bahasa suatu masyarakat dan bangsa menandai tinggi-rendahnya peradaban masyarakat dan bangsa. Dapat ditarik dalam lingkup yang sempit, tinggi-rendahnya bahasa seseorang menjadi bukti tinggi-rendahnya karakter seseorang tersebut. Terdapat gejala dinamika bahasa Indonesia yang semula berkembang dari bahasa berbudaya tinggi (salah satunya berbahasa santun) menuju bahasa berbudaya rendah (berbahasa kasar) yang terjadi di semua ranah kehidupan (politik, kuliner, kosmetika, busana, dll.). Kondisi seperti itu ditandai dengan pemakaian bahasa yang kasar dan kurang berbudaya. Tindak berbahasa harus dipandang sebagai ibadah. Bahasa cerminan seseorang dan masyarakat berbudaya sebagai manipestasi ibadah kepada Tuhan. Berbahasa seperti itu hanya dapat dilakukan oleh sosok yang mampu berpikir positif (berprasangka baik atau khusnudzan), sebaliknya berbahasa kasar dan rendah itu gambaran pikiran negatif (prasangka burukatau suudzan). Secara otomatis berpikir positif akan menuntun pikiran penutur atau penulis terhadap pemakaian bahasa yang cerdas, santun, berbudaya, dan intelek. Sebaiknya, berpikir negatif akan menyeret seseorang untuk bertutur yang mencerminkan sikap curiga, kasar, bicara menyakitkan, dan tidak berbudaya, sekaligus berbahasa yang jauh dari nilai intelektual. Dalam konteks masyarakat yang religius, meyakini hidup di dunia adalah ladang menuju kehidupan akhirat yang hakiki, terdapat orientasi semua orang untuk mendapatkan posisi mulia di hadapan Tuhannya. Memuliakan manusia atau orang lain diwujudkan dalam performansi bahasa atau parole. Kesadaran religius itu diharapkan menjadi penggerak hati dan tindakan untuk berbahasa secara memadai. Kata kunci: bahasa, kesadaran religius, tingkat budaya
EFEKTIVITAS METODE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) DAN JIGSAW DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA INTENSIF Miftakhul Jannah
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 2, No 2 (2016): METAFORA
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v2i2.163

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan metode CIRC dan Jigsaw untuk mencari informasi penting dalam sebuah bacaan pada pembelajaran membaca intensif siswa kelas VI SD Negeri Pakujati 01, Kecamatan District, Brebes Regency, Tahun Pelajaran 2013/2014. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen. Penelitian ini menggunakan desain Nonequivalent Control Group Design. Subject penelitian ini berasal dari tiga sekolah yaitu siswa kelas VI SD Negeri Pakujati 01 yang terdiri dari 56 siswa yang terbagi menjadi dua kelas yaitu VI A dan VI B sebagai kelompok eksperimen dan siswa kelas VI SDN 1 Taraban dan SD N Kretek 04 yang masing-masing terdiri dari 28 siswa sebagai kelompok kontrol. Dengan demikian total populasi dalam penelitian ini berjumlah 112 siswa. Semua populasi dijadikan sampel penelitian dengan menggunakan teknik non randomly assignment. Data dikumpulkan menggunakan tes tertulis dan dianalisis ,engguanakn uji-t untuk mengetahui keefektifan metode CIRC dan Jigsaw untuk pembelajaran membaca intensif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pada kemampuan membaca intensif siswa berdasarkan uji-t dimana t hitung (4,278) lebih tinggi dibandingkan t-table (2,052) dengan taraf signifikansi α = 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa metode CIRC efektif untuk meningkatan kemampuan membaca intensif siswa kelas VI A SDN Pakujati 01 Paguyangan. Metode Jigsaw juga efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca intensif siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian dimana t-hitung (3,759) lebih tinggi dibandingkan t-table (2,052). Kedua metode tersebut kemudian dibandingkan untuk mengetahui metode yang lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca intensif siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan karena berdasarkan paired sample test, t-hitung (0,225) lebih rendah dibandingkan t-table (2,005). Kata kunci : keefektifan, metode CIRC dan Jigsaw, kemampuan membaca intensif

Page 1 of 1 | Total Record : 9