cover
Contact Name
Asef Kurniyawan Hardjana
Contact Email
publikasidiptero@gmail.com
Phone
+62811582318
Journal Mail Official
publikasidiptero@gmail.com
Editorial Address
Jalan A. Wahab Syahrani No.68, Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
ISSN : 24605875     EISSN : 24605883     DOI : https://doi.org/10.20886/jped
Core Subject : Agriculture,
Silvikultur; Jasa Lingkungan (Nilai Hutan); Biometrik Hutan; Pengolahan Hasil Hutan; Keteknikan dan Pemanenan Hutan; Hasil Hutan Bukan Kayu; Perlindungan Hutan; Konservasi Sumberdaya Hutan; Perhutanan Sosial, Ekonomi dan Kebijakan; Ekologi Tumbuhan dan Biomassa Hutan; Mikrobiologi dan Bioteknologi; Hama dan Penyakit Hutan; Anatomi Kayu; Hidrologi dan Konservasi Tanah Hutan; Dendrologi, Fitogeografi dan Arsitektur Pohon; Fisiologi Tumbuhan
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 173 Documents
EVALUASI UJI COBA PENERAPAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM INDONESIA INTENSIF (TPTII/TPTJ INTENSIF) PADA IJIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU (IUPHHK) DI KALIMANTAN Karmilasanti Karmilasanti; Tien Wahyuni
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2018.4.2.83-94

Abstract

Sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dengan teknik silvikultur intensif (SILIN) diperkenalkan pada tahun 2005 untuk merehabilitasi dan meningkatkan produktivitas Logged Over Area (LOA) hutan hujan tropis dengan pola penanaman pengkayaan jenis-jenis tanamam hutan bernilai komersil pada jalur tanam. Tulisan ini akan memberikan gambaran uji coba penerapan sistem silvikultur TPTJ dengan teknik SILIN dengan mengevaluasi beberapa kegiatan diantaranya penyiapan lahan, pemanfaatan hasil tebangan dalam jalur tanam, kecenderungan penanaman jenis-jenis yang sama, kegiatan penyiapan bibit dan dampak sosial ekonomi. Metode pengambilan data dilakukan melalui pengamatan atau observasi lapangan, wawancara, studi pustaka dan telaah dokumen. Penelitian dilaksanakan pada dua lokasi Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA) Model Uji Coba Penerapan Sistem TPTJ yaitu di PT. Sarminto Parakantja Timber Kalimantan Tengah; PT. Intraca Wood Manufacturing dan PT. ITCI Kayan Hutani di Kalimantan Timur dan PT. Suka Jaya Makmur di Kalimantan Barat. Hasil evaluasi setelah beberapa tahun diterapkan sistem silvikultur TPTJ dengan teknik SILIN bahwa ada 2 (dua) tahapan kegiatan yang menjadi kunci awal keberhasilan kegiatan tersebut adalah pada tahapan penyiapan lahan yang berpengaruh pada efektifitas pemeliharaan serta tahapan penyiapan bibit mulai asal usul bibit, kualitas bibit, pengangkutan bibit sampai pada penanaman bibitnya. Pada tahapan-tahapan tersebut juga akan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja.
ANTARA AKSES DAN KONTROL: PEMANFAATAN HUTAN PENELITIAN DRAMAGA, BOGOR Yoppie Christian; Desmiwati Desmiwati; Irma Yeni
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2019.5.1.31-46

Abstract

Hutan Penelitian (HP) Dramaga merupakan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) seluas 60 Ha yang dikelola Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbang  Hutan). Pemanfaatnya tidak hanya negara melainkan juga masyarakat, NGO, pedagang dan individu dan atau lembaga penelitian. Studi ini bertujuan mengetahui kinerja pengelolaan sumber daya hutan oleh aktor utama, yakni BLI KLHK dalam melindungi aset hutan penelitian dan mengelola aktor-aktor yang turut memanfaatkan sumber daya hutan ini. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat dilema yang dialami aktor, karena negara tidak sepenuhnya mampu menjalankan kelembagaan dalam pengelolaan hutan yang karakternya seperti sebuah common-pool resource (CPR). Adanya “penumpang gelap” atau free rider tidak mampu dikontrol oleh kelembagaan formal yang melandasi kerja-kerja di HP Dramaga. Ada dua faktor yang mempengaruhi kinerja aktor utama pengelola HP Dramaga, yaitu struktur kelembagaan yang tidak sepenuhnya memenuhi tuntutan komponennya dan karakteristik sumber dayanya sendiri sebagai sebuah CPR membuatnya sulit untuk dikelola, karena tidak setiap aktor mau mengeluarkan biaya atas sumber daya yang telah digunakan. Meskipun begitu ada potensi untuk mempraktikkan co-management di level tapak dengan negara sebagai inisiatornya (state-led collaborative management) dalam pengelolaan hutanmilik negara.
ANALISIS FLUKTUASI MORTALITAS DAN INGROWTH DALAM UJI COBA TEKNIK PEMANENAN Amiril Saridan; Farida Herry Susanty
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2007.1.1.11-22

Abstract

Pemantauan uji coba teknik pemanenan dilaksanakan pada petak ukur permanen yang dibangun sejak tahun 1990/1991 hasil kerjasama lembaga CIRAD- forêt, PT Inhutani I dan Departemen Kehutanan.  Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui fluktuasi tingkat mortalitas dan ingrowth tegakan tinggal umur 14 tahun setelah tebangan dengan perbedaan teknik pemanenan yang diterapkan dalam skala operasional.  Petak penelitian dibangun di areal HPH PT Hutan Sanggam Labanan Lestari (eks PT Inhutani I) Kalimantan Timur, jumlah petak adalah 12 buah (masing-masing seluas 4 ha).  Pengukuran dilakukan setiap 2 tahun meliputi data jenis, jumlah pohon, diameter, kematian (mortalitas), pohon baru yang masuk kelas diameter 10 cm (ingrowth), untuk semua pohon dengan diameter ≥10 cm.  Desain penelitian sebagai berikut : (a) Pemanenan Ramah Lingkungan (RIL 50) dengan limit diameter ≥50 cm (petak 2, 3 dan 12); (b) Pemanenan Ramah Lingkungan (RIL 60) dengan limit diameter ≥60 cm (petak 5, 6 dan 7); (c) Pemanenan secara Konvensional (CNV) dengan limit diameter ≥60 cm (petak 8, 9 dan 11); dan (d) Hutan primer sebagai kontrol (petak 1, 4 dan 10).  Umumnya, tegakan tinggal umur 14 tahun setelah tebangan mempunyai tingkat pemulihan yang baik berdasarkan pada kondisi kerapatan tegakan yang mencapai lebih dari 85% dibandingkan sebelum tebangan.  Tingkat mortalitas tertinggi terjadi pada umur 2 – 4 tahun setelah tebangan, sedangkan tingkat ingrowth tertinggi terjadi pada umur 4 – 8 tahun setelah tebangan.  Mortalitas yang diakibatkan pemanenan memberikan pengaruh yang positif terhadap tingkat ingrowth yang lebih tinggi dibandingkan pada petak kontrol.  Hutan primer mempunyai fluktuasi yang rendah pada tingkat mortalitas dan ingrowth sepanjang tahun.  Perbedaan tipe pemanenan memberikan variasi fluktuasi tingkat mortalitas dan ingrowth, tetapi tidak signifikan.
Rantai Pasokan Kayu Hutan Alam di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah Serta Permasalahannya Catur Budi Wiati; Susana Yuni Indriyanti
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2014.8.1.25-34

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kondisi pasokan kayu hutan alam di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, pola distribusi dan permasalahannya. Hasil penelitian menyatakan bahwa pasokan kayu bulat di Kalimantan Selatan sebagian besar berasal dari Hutan Tanaman/Hutan Tanaman Industri (HT/HTI) dan hanya sebagian kecil yang berasal dari hutan alam, sedangkan di Kalimantan Tengah adalah sebaliknya. Pasokan kayu bulat dari Kalimantan Tengah selain untuk kebutuhan wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan juga dipasarkan ke Kalimantan Barat dan Jawa. Permasalahan yang dihadapi pihak perusahaan dalam rantai pasokan kayu hutan alam tersebut adalah besarnya biaya administrasi penerimaan kayu bulat serta pengangkutan kayu dari areal konsesi hutan ke industri karena adanya biaya tidak resmi yang harus ditanggung oleh perusahaan.
KARAKTERISTIK TANAH DI BAWAH TEGAKAN SHOREA LEPROSULA MIQ DI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGA PULUH, PROVINSI RIAU Nilam Sari; Rini Handayani; Karmilasanti Karmilasanti
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2019.5.1.1-10

Abstract

Penurunan luas hutan alam berimplikasi negatif terhadap penurunan potensi dan sebaran Shorea leprosula Miq di hutan alam. Upaya meningkatkan potensi tegakan jenis tersebut perlu pembangunan hutan tanaman S. leprosula Miq dengan cara terlebih dahulu mengetahui karakteristik habitat alami jenis tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan kimia tanah tempat tumbuh S. leprosula Miq di habitat alami guna menunjang pembangunan hutan tanaman. Plot pengamatan dibuat seluas 1 ha dengan penentuan plot menggunakan metode purposive sampling dan pengambilan contoh tanah setiap titik lokasi diambil 2 (dua) kedalaman menggunakan ring sampel untuk sifat fisik dengan kedalaman 0-10 cm dan 10-20 cm, kemudian menggunakan bor tanah untuk sifat kimia, yaitu kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm dari permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisik tanah dengan tekstur tanah lempung, lempung berdebu dan lempung berliat, permeabilitas tanah 3,58 – 7,15 cm/jam (tinggi), bulk density 0,98 – 1,62 g/cm3 (rendah) dan ruang pori total berkisar 58,98 – 63,83% (tinggi). Karakteristik kimia tanahnya yaitu keasaman tanah  dari masam sampai sangat masam (4,10 - 5,12), Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang sangat rendah (5,4-9,8 me/100g), rasio C/N sedang sampai tinggi (14 – 16), unsur hara N sangat rendah sampai rendah (0,08-0,13 %), P sangat rendah (2,48-3,71 ppm) dan K rendah sampai sedang (28,2-57,9 mg/100), dan kejenuhan basa rendah (10-16). Unsur hara mikro yang tersedia tidak melebihi batas tingkat toksisitas dalam tanah.
PENGARUH PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN TUNAS JUVENILE Shorea platyclados v. Slooten ex Foxw Cica Ali; Darmawan Edy
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2007.1.1.65-72

Abstract

Pengaruh pupuk daun terhadap pertumbuhan tunas bibit Shorea platyclados v. Slooten ex Foxw telah diamati. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penyemprotan pupuk daun dalam memproduksi tunas juvenile sebagai bahan stek pucuk jenis Shorea platyclados.  Penyemprotan pupuk dilakukan pada empat taraf konsentrasi pupuk yaitu 0%, 0,1%, 0,2%, dan 0,4% dengan dua interval waktu penyemprotan yaitu setiap 7 hari dan setiap 14 hari.  Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial 4x2.  Pengamatan meliputi jumlah tunas, panjang tunas, dan jumlah daun yang tumbuh.  Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 0,4% meningkatkan jumlah tunas dan jumlah daun dan nilai ini berbeda sangat nyata dengan kontrol.  Konsentrasi pupuk 0,2% memberikan hasil yang terbaik dan berbeda nyata dangan kontrol dalam meningkatkan panjang tunas.  Perlakuan setiap 7 hari lebih baik dibandingkan perlakuan setiap 14 hari dalam meningkatkan jumlah tunas dan panjang tunas tapi tidak berbeda secara nyata.  Dalam meningkatkan jumlah daun, perlakuan setiap 7 hari juga memberikan hasil yang lebih baik dan berbeda secara nyata dibandingkan 14 hari.  Perlakuan setiap 7 hari dengan konsentrasi pupuk 0,4% meningkatkan jumlah daun dan tunas, sedangkan perlakuan setiap 7 hari dengan pupuk 0,2% memberikan hasil terbaik, namun nilai-nilai ini tidak berbeda nyata dengan lainnya.
Ciri Morfologi dan Mikroskopis Vatica Sarawakensis Heim Amiril Saridan; andrian Fernandes
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2014.8.2.73-80

Abstract

Sebagian besar jenis dipterokarpa tumbuh di hutan campuran dataran rendah dan bernilai ekonomi tinggi. Salah satu jenis tersebut adalah Vatica sarawakensis Heim yang tumbuh secara tersebar pada tanah berlempung di daerah perbukitan, termasuk jenis yang terancam punah (endangered) pada Red List IUCN tahun 2013, sehingga tidak diizinkan untuk ditebang. Kesalahan penebangan pohon dapat dihindari dengan mengetahui ciri morfologi pohon, sedangkan kesalahan dalam penggunaan kayu dapat dicegah dengan mengamati ciri makroskopis dan mikroskopis kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ciri morfologi dan makroskopis serta mikroskopis V. sarawakensis Heim. Pohon uji berasal dari IUPHHK-HA PT Gunung Gajah Abadi, Muara Wahau, Kalimantan Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa V. sarawakensis Heim merupakan pohon berukuran sedang, kulit memiliki gelang dengan diameter pangkal batang mencapai 30 cm, tidak berbanir, tinggi total mencapai 17 meter, tinggi bebas cabang 12 meter, lebar tajuk 6 meter. Dari pohon yang ditemukan, diambil contoh material herbariumnya selanjutnya diidentifikasi di Herbarium Wanariset Samboja. Ciri makroskopis V. sarawakensis Heim, saat segar kayu teras berwarna kuning kecoklatan dan kayu gubalnya berwarna putih kekuningan. Saat kering, bagian kayu gubal dan teras tidak dapat dibedakan karena keduanya berwarna putih kekuningan. Kesan raba halus. Arah serat lurus. Secara mikrokopis V. sarawakensis tidak memiliki batas lingkaran tumbuh yang jelas. Berpori tata lingkar baur dengan pembuluh tersusun secara radial dan diagonal, pembuluh ada yang tunggal dan ada yang bergerombol hingga empat buah pembuluh. Perforasi sederhana. Ceruk antar pembuluh seperti tangga. Jari-jari monoseriate dan multiseriate (2-8). Parenkim aksial vasisentrik dan kadang menghubungkan 2 hingga 3 pembuluh. Dinding serat sangat tebal.
Perubahan Serangan Rayap Coptotermes sp. Pada Tanaman Shorea leprosula Miq Ngatiman Ngatiman
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2019.5.2.87-96

Abstract

Pengendalian hama terpadu merupakan salah satu elemen yang menentukan tingkat keberhasilan teknik silvikultur intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan data perubahan serangan rayap pada berberapa  periode waktu pengamatan dengan cara menghitung frekuensi dan intensitas serangan serta penambahan pohon yang mati. Lokasi penelitian dilakukan di KHDTK, Sebulu, Kalimantan Timur, dengan melakukan metode pengamatan frekuensi serangan rayap dan pengamatan intensitas serangan rayap pada tanaman S. leprosula. Analisa data menggunakan analisis frekuensi dan intensitas serangan, selanjutnya data ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi serangan rayap berkisar 5,41-6,49% dan intensitas serangan berkisar  2,32-4,76%.  Ada kecendrungan  serangan rayap meningkat selama periode pengamatan berdasarkan penambahan jumlah pohon yang mati diakibatkan kurang intensifnya pemeliharaan tanaman. Pada pengamatan pertama tahun 2009 jumlah pohon yang mati sebanyak 12 pohon, kemudian meningkat menjadi 15 pohon pada pengamatan kedua tahun 2011. Selanjutnya pada pengamatan ketiga  tahun 2013 jumlah pohon yang mati sebanyak 4 pohon dan meningkat menjadi 7 pohon pada pengamatan keempat pada tahun 2014.  Dari hasil pengamatan perubahan serangan rayap ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan  dalam penanaman S. leprosula untuk meminimalisir serangan rayap yang dapat mengakibatkan kerugian.
PERTUMBUHAN BIBIT TENGKAWANG (Shorea spp) ASAL BIJI DARI POPULASI HUTAN ALAM KALIMANTAN DI PERSEMAIAN B2PD SAMARINDA Asef K Hardjana; Rayan Rayan
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2011.5.2.61-72

Abstract

Tengkawang (Shorea spp) adalah salah satu jenis Dipterocarpaceae yang menghasilkan hasil hutan bukan kayu untuk produk makanan, obat-obatan atau kosmetik (HHBK FEM (Food, Energi and Medicine). Untuk meningkatkan produksi dan kualitas buah tengkawang yang dihasilkan dan agar pengelolaan dan pengusahaan HHBK FEM untuk makanan, obat-obatan dan kosmetik dapat berkelanjutan, diperlukan penanganan yang serius. Pengumpulan materi genetik jenis tengkawang telah dilakukan dipopulasi hutan alam di Kalimantan Barat (Gunung Bunga-Bekinci dan Sungai Runtin) dan KalimantanTengah ( Bukit Baka ). Penyemaian dilakukan di persemaian B2PD Samarinda. Pertsentase biji yang berkecambah di persemaian berurutan sebanyak 84,09% dan 70,68% untuk populasi dari Gunung Bunga-Bekinci, Sungai Runtin dan Bukit Baka. Dari tiga populasi hutan alam tersebut telah teridentifikasi untuk sementara sebanyak 3 jenis tengkawang, yaitu : Shorea macrophyla, S. pinanga dan S. gysberstiana. Pertumbuhan rataan diameter terbesar adalah S. gyberstiana dan S. macrophyla dari populasi hutan alam Gunung Bunga-Bekinci.
Serangan Kumbang Pemakan Daun Tanaman Jenis Dipterokarpa di PT Inhutani II, Pulau Laut, Kalimantan Selatan Ngatiman Ngatiman; Armansah Armansah
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jped.2014.8.2.117-122

Abstract

Tanaman jenis dipterokarpa (Shorea leprosula dan S. ovalis) di areal hutan PT Inhutani II, Pulau Laut, Kalimantan Selatan diserang kumbang (Scarabaeidae, Coleoptera) yang mengakibatkan tajuk tanaman menjadi gundul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi dan intensitas serangan kumbang pada tanaman S. leprosula dan S. ovalis. Untuk maksud tersebut dibuat jalur pengamatan pada beberapa petak tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi serangan kumbang berkisar 97,5 – 100,0% dengan intensitas serangan berkisar 28,9 – 62,8%. Selain kumbang menyerang tanaman S. leprosula dan S. ovalis, juga ditemukan menyerang daun S. johorensis, Duabanga molluccana dan Arthocarpus anysophyllus yang tumbuh secara alami.

Filter by Year

2007 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 8, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 5, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 4, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 3, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 2, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Dipterokarpa Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Dipterokarpa More Issue